Damaskus –
Inggris dan Prancis mengatakan pada Minggu (4/1) bahwa militer mereka telah melancarkan serangan gabungan terhadap target kelompok radikal Islamic State (ISIS) di Suriah. Serangan ini bertujuan mencegah kebangkitan kembali kelompok ekstremis tersebut.
Militer Prancis dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Senin (5/1/2026), menyebut serangan gabungan itu merupakan bagian dari Operation Inherent Resolve, operasi internasional yang dipimpin Amerika Serikat (AS) terhadap ISIS di wilayah Irak, Suriah dan juga Libya.
Kementerian Pertahanan Inggris, dalam pernyataan terpisah, pihaknya bekerja sama dengan Prancis pada Sabtu (3/1) malam untuk membombardir fasilitas bawah tanah di Suriah, yang kemungkinan besar digunakan oleh ISIS untuk menyimpan persenjataan.
“Pesawat-pesawat Angkatan Udara Kerajaan (Inggris) telah menyelesaikan serangan yang sukses terhadap Daesh (nama Arab untuk ISIS-red) dalam operasi gabungan dengan Prancis,” kata Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataannya.
“Fasilitas ini telah diduduki oleh Daesh, kemungkinan besar untuk menyimpan senjata dan peledak. Area di sekitar fasilitas tersebut tidak dihuni oleh warga sipil,” imbuh pernyataan tersebut.
Disebutkan juga oleh Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataannya bahwa tidak ada indikasi jika pengeboman di area sebelah utara situs kuno Palmyra itu menimbulkan risiko bagi warga sipil.
Angkatan Bersenjata Prancis, dalam pernyataannya via media sosial X, mengatakan bahwa sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve, kedua negara yang merupakan sekutu NATO tersebut “melancarkan serangan-serangan terhadap posisi kelompok teroris Islamic State”.
“Mencegah kebangkitan kembali Daesh merupakan isu utama bagi keamanan kawasan,” sebut Angkatan Bersenjata Prancis dalam pernyataannya.
ISIS dikalahkan secara teritorial di Suriah pada tahun 2019, tetapi kelompok radikal itu masih mempertahankan kehadirannya, terutama di area gurun yang luas di negara tersebut.
Mencegah ISIS mendapatkan kembali kekuatannya merupakan prioritas utama bagi komunitas internasional, saat Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, yang juga mantan jihadis, berupaya memperkuat keamanan di Suriah setelah menggulingkan mantan Presiden Bashar al-Assad lebih dari setahun lalu.
Palmyra, yang menjadi rumah bagi reruntuhan kuno yang terdaftar di UNESCO, pernah dikuasai oleh para petempur jihadis. Bulan lalu, AS mengatakan seorang pria bersenjata ISIS di Palmyra menyerang para personel Amerika, menewaskan dua tentara AS dan seorang warga sipil AS.
Sebagai balasan, pasukan militer Washington menyerang puluhan target ISIS di wilayah Suriah.
Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)
