Bisnis.com, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkap pengusaha tengah berupaya mencari alternatif bahan baku/penolong lokal untuk mengurang ketergantungan impor.
Hal ini tercerminkan dari tren penurunan impor bahan baku/penolong secara kumulatif Januari-November 2025 turun 1,46% menjadi senilai US$153,29 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$155,46 miliar.
Secara tahunan, impor bahan baku pada November 2025 senilai US$13,6 miliar juga turun 3,56% dibandingkan November 2024 yang mencapai US$14,10 miliar. Secara bulanan, penurunan makin mendalam yakni 10,51% dibandingkan dengan Oktober 2025 sebesar US$15,19 miliar.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, tren penurunan impor bahan baku yang terjadi pada akhir tahun lalu dikarenakan industri menghadapi gangguan rantai pasok akibat bencana alam dan tekanan geopolitik yang memicu volatilitas energi dan biaya logistik.
“Manufaktur pada 2026 harus melakukan penguatan rantai pasok lokal dan substitusi impor untuk mengurangi dampak volatilitas global,” kata Saleh kepada Bisnis, dikutip Selasa (6/1/2026).
Meski begitu, dalam kondisi ini, Saleh menyebut, sentimen pelaku industri manufaktur di Indonesia tetap menunjukkan optimisme pada awal tahun ini. Hal ini tecerminkan dari peluncuran produk baru, perbaikan permintaan domestik, dan strategi pasokan yang lebih adaptif.
Di sisi lain, pelaku industri juga diarahkan untuk melakukan pengembangan kapasitas produksi yang lebih tangguh terhadap gangguan, serta diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi risiko ketergantungan pada rute perdagangan tertentu.
“Selain itu, integrasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan adaptasi terhadap perubahan permintaan akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan momentum ekspansi di tengah tantangan tarif dagang, bencana domestik, dan gejolak geopolitik global,” tuturnya.
Di samping itu, dia juga menyoroti laporan S&P Global, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Desember 2025 turun ke level 51,2 dari sebelumnya 53,3. Kondisi ini menunjukkan ekspansi masih terjadi. Namun, melambat akibat tekanan biaya produksi, termasuk kenaikan harga bahan baku, biaya energi, serta tantangan logistik.
Sementara itu, di tingkat domestik, bencana banjir dan longsor besar di Sumatra pada akhir 2025 telah menimbulkan kerusakan infrastruktur dan gangguan distribusi barang yang berdampak pada rantai pasok regional, termasuk pasokan material dan kapasitas transit di beberapa jalur distribusi industri.
“Kerugian ekonomi akibat bencana di Sumatra diperkirakan sangat besar dan Bank Indonesia memproyeksikan dampaknya akan sedikit menekan pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.
Lebih lanjut, tren ekspansi PMI selama 5 bulan terakhir mencerminkan ketahanan dasar sektor manufaktur Indonesia, terutama ditopang oleh permintaan domestik. Namun, memasuki 2026, risiko eksternal dan internal meningkat.
Secara internal, gangguan produktivitas dan distribusi akibat bencana di Sumatra dapat menekan momentum permintaan dan pasokan, setidaknya dalam jangka pendek
Sementara itu, dari sisi eksternal, ketidakpastian geopolitik, seperti ketegangan AS-Venezuela yang berpotensi menekan stabilitas harga energi dan biaya logistik global, dapat memperlemah pemulihan permintaan ekspor dan memperburuk tekanan biaya input.
“Dalam konteks ini, PMI diperkirakan masih berpotensi berada di zona ekspansi tetapi dengan laju pertumbuhan yang lebih moderat atau berfluktuasi jika risiko-risiko tersebut terus berlanjut,” pungkasnya.
