Lumajang (beritajatim.com) – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, secara resmi memberikan stempel hoaks terhadap unggahan media sosial mengenai helikopter jatuh. Informasi menyesatkan tersebut mengklaim adanya kecelakaan udara saat agenda kunjungan penanganan bencana Gunung Semeru pada Senin (19/1/2026).
Klarifikasi ini diterbitkan setelah sebuah video melalui akun TikTok @liamin1605 viral hingga ditonton lebih dari 630 ribu kali. Dalam narasi unggahannya, pemilik akun menyebutkan bahwa helikopter yang ditumpangi oleh Sahroni jatuh saat meninjau lokasi bencana di wilayah Lumajang.
Unggahan yang tidak didukung data faktual tersebut memicu kebingungan masif bagi warganet di berbagai platform digital. Kolom komentar pada postingan tersebut dipenuhi beragam respons, mulai dari kekhawatiran hingga pertanyaan mengenai validitas informasi tersebut.
Beberapa warganet yang kritis bahkan langsung memberikan keterangan bahwa video kecelakaan tersebut bukan terjadi di Kabupaten Lumajang. Berdasarkan penelusuran jejak digital, peristiwa dalam rekaman video itu faktanya merupakan insiden yang terjadi di negara India.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Lumajang, Mustaqim, menegaskan bahwa informasi mengenai jatuhnya helikopter tersebut sama sekali tidak benar. Pihaknya bergerak cepat melakukan verifikasi lapangan guna mencegah penyebaran disinformasi yang dapat meresahkan masyarakat luas.
Mustaqim juga memastikan bahwa selama periode tanggap darurat berlangsung, tidak pernah ada laporan mengenai insiden penerbangan di wilayahnya. Seluruh mobilitas udara untuk kepentingan penanganan bencana Gunung Semeru terpantau berjalan dengan aman dan sesuai prosedur.
“Kami pastikan tidak ada kejadian helikopter jatuh di Kabupaten Lumajang, khususnya yang dikaitkan dengan kunjungan penanganan bencana Gunung Semeru,” jelas Mustaqim saat dikonfirmasi, Senin (19/1/2026).
Sejauh ini, otoritas terkait tidak menerima laporan resmi apa pun mengenai adanya kecelakaan moda transportasi udara di kawasan lereng Semeru. Mustaqim pun meminta masyarakat untuk lebih selektif dan tidak mudah memercayai konten yang beredar tanpa verifikasi sumber.
Publik diingatkan agar waspada terhadap postingan media sosial yang tidak mencantumkan keterangan waktu, lokasi, maupun sumber informasi yang jelas. Hal ini sangat penting guna menjaga kondusivitas informasi, terutama bagi warga yang sedang fokus pada pemulihan pascabencana.
Diskominfo Lumajang menekankan bahwa setiap aktivitas kunjungan ke zona bencana selalu melalui protokol pengamanan yang sangat ketat dan terkoordinasi. Standar operasional prosedur (SOP) tersebut diterapkan demi menjamin keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam misi kemanusiaan.
“Jadi, komentar di media sosial bukan sumber informasi resmi. Jika ragu, sebaiknya cek dulu ke kanal resmi pemerintah atau media terpercaya,” ungkap Mustaqim dalam pernyataan tertulisnya.
Langkah tegas pelabelan hoaks ini diharapkan menjadi pelajaran bagi pengguna internet, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam mendistribusikan informasi. Pemerintah terus berkomitmen menyediakan data akurat melalui saluran komunikasi resmi untuk melawan peredaran berita palsu di ruang digital. [has/beq]
