HNW Dorong Perguruan Tinggi Islam Cetak Cendekiawan Berwawasan Global

HNW Dorong Perguruan Tinggi Islam Cetak Cendekiawan Berwawasan Global

Jakarta

Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid menyampaikan potensi besar perguruan tinggi Islam dalam melahirkan cendekiawan religius unggul, cinta bangsa, berwawasan global, berlandaskan nilai kebangsaan dan keislaman, serta berkontribusi pada pencapaian SDGs yang dicanangkan PBB sejak 2015.

“Ruang bagi pendidikan tinggi Islam untuk berkontribusi mempersiapkan hadirnya generasi Milenial atau Gen Z yang cendekia, unggul, modern, dan berwawasan global, tapi tetap berbasis pada prinsip-prinsip ajaran Islam, cinta bangsa dan negara, agar dalam rangka melaksanakan target-target SDGs tetaplah juga tidak tercerabut dari budaya nasional dan religius/Islam, sangat terbuka dan tanpa hambatan. Karena itu, pendidikan tinggi Islam harusnya tidak memubadzirkannya bahkan harus memaksimalkan potensi dan peluang yang dimilikinya,” kata Hidayat Nur Wahid atau HNW, dalam keterangan tertulis, Senin (19/01/2026).

HNW menyampaikan hal tersebut dalam kuliah umum dengan tema ‘Pendidikan Tinggi Islam dan Kenegaraan Berbasis SDGs: Membangun Cendekia yang Unggul, Modern, dan Berwawasan Global’ di Institut Asy-Syukriyyah, Tangerang, Kamis (15/01/2025).

Kuliah umum ini dihadiri Sekretaris Yayasan Asy-Syukriyyah Ahmad Zarkasih, Rektor Institut Asy-Syukriyyah Dr. Evan Hamzah Muchtar, para Wakil Rektor, Dekan, Kaprodi, serta ratusan mahasiswa-mahasiswi Institut Asy-Syukriyyah Tangerang.

HNW mengungkapkan dalam konteks keindonesiaan, hadir dan terealisasinya program-program pendidikan tinggi Islam, visi kenegaraan, nilai-nilai keislaman, dan SDGs tidak bisa dilepaskan dari landasan konstitusional UUD 1945 hasil amandemen sebagaimana tuntutan reformasi, yaitu dalam Pasal 31 ayat 3, ayat 4, dan ayat 5.

Pasal 31 ayat 3 menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Nilai keagamaan dan kenegaraan menyatu dalam pasal tersebut.

Ditambah dengan Pasal 31 ayat 5, ditegaskan bahwa dalam hal negara memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetap dengan menjunjung tinggi agama dan persatuan nasional.

“Indonesia sering disebut sebagai negara yang jumlah umat Islamnya terbesar di dunia dari sisi jumlah penduduknya, tapi sesungguhnya juga terbesar dari sisi jumlah masjid, pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam. Perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, jumlahnya 2.970 perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang berada di bawah Kementerian Agama, jumlahnya 907 perguruan tinggi. Kalau dijumlah ada sekitar 3.877 perguruan tinggi. Perguruan tinggi (Islam) berkembang luar biasa,” ujarnya.

Apalagi terbukti bahwa Indonesia telah menjadi bagian efektif dari upaya mewujudkan dan mensukseskan tercapainya 17 target SDGs.

“Indonesia termasuk paling progresif dalam merealisasikan target SDGs. Dalam annual report PBB, angka Indonesia mencapai 62,5% atau di atas rata2 capaian negara-negara anggota PBB lainnya,” tegasnya.

Bila ditarik dari sejarah kebangkitan Indonesia dan umat Islam memang dimulai dari keberpihakan pada pendidikan yang berkeunggulan.

“Dalam konteks Islam, firman atau wahyu pertama justru tentang membaca/belajar tapi yang religius maka perintah pertamanya adalah ‘Iqra bismi Rabbika’. Artinya, pendidikan lah yang dijadikan Islam sebagai asas dasar kebangkitan umat, bangsa dan peradaban umat. Hal ini bisa dilihat dari jejak sejarah nama-nama cendekiawan atau intelektual muslim, seperti Al-Khawarizmy (bidang matematika), Ibnu Sina (kedokteran) dan lain-lain. Karena itu, hadirnya para cendekiawan muslim unggulan/kelas dunia seperti itu, perlu menjadi spirit dan inspirasi bangsa bagi pendidikan tinggi Islam, seperti Institut Asy-Syukriyyah,” jelasnya.

Selain itu, pendidikan tinggi Islam sesuai jati diri dan juga bagian dari target SDGs, juga perlu berkolaborasi dengan masyarakat global, seperti pendidikan tinggi Islam di Timur Tengah atau lainnya.

Sebab itu, HNW menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing seperti Inggris, bahasa Arab, dan lainnya. Kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi tentang ‘Kampus Berdampak’ juga memberi ruang visioner dan mendorong perguruan tinggi untuk berdampak positif, aktif, kampus yang berkualitas.

“Kondisi seperti ini patut disyukuri, sebagaimana nama Institut Asy-Syukriyyah, dengan semakin memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk dapat berkontribusi mempersiapkan cendekiawan muda yang unggul, modern, dan berwawasan global, cinta umat, bangsa dan negara,” tutupnya.

(prf/ega)