Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga telur ayam ras dan daging ayam ras masih berada di atas harga acuan penjualan (HAP) secara rerata nasional hingga pekan kedua Januari 2026.
BPS mencatat harga telur ayam tertinggi mencapai Rp120.000 per kilogram, sedangkan harga daging ayam ras menyentuh Rp100.000 per kilogram.
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian menilai tingginya harga kedua komoditas tersebut disebabkan oleh kombinasi tekanan dari sisi biaya produksi dan lonjakan permintaan, termasuk dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Sebenarnya alasan kenapa harga tetap tinggi melampaui HAP karena ada kombinasi cost push inflation atau kenaikan biaya produksi dan demand pull inflation atau lonjakan permintaan, misalnya dari program makan bergizi gratis [MBG],” kata Eliza kepada Bisnis, Selasa (13/1/2026).
Dari sisi biaya produksi, Eliza menjelaskan bahwa pakan menyumbang sekitar 60% dari total biaya produksi unggas, dengan jagung sebagai komponen vital yang porsinya hampir 50%.
Di sisi lain, harga jagung melonjak hingga Rp6.400 per kilogram akibat kebijakan penghentian impor jagung yang memicu kelangkaan stok, terutama bagi peternak mandiri. Bahkan, Eliza menyebut biaya produksi jagung domestik dua kali lipat lebih tinggi dari Amerika Serikat (AS).
“Peternak menggunakan jagung dalam negeri yang relatif lebih mahal karena biaya produksi jagung dalam negeri memang lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat dan Brasil,” ujarnya.
Eliza menuturkan kenaikan harga jagung tersebut tercermin dari peningkatan nilai tukar petani (NTP) tanaman pangan yang terus membaik. Namun, tekanan biaya produksi itu diperparah oleh struktur pasar yang cenderung oligopolistik.
Menurut Eliza, pemain besar atau pabrik pakan skala raksasa mendominasi penyerapan jagung lokal, sehingga peternak mandiri skala kecil kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga terjangkau.
“Peternak mandiri akhirnya harus membeli melalui rantai distribusi yang panjang dengan harga lebih mahal, sehingga tidak efisien bagi mereka,” terangnya.
Dari sisi permintaan, Eliza menyoroti masifnya operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG, terutama di Pulau Jawa yang juga menjadi sentra utama peternakan unggas. Dia menilai kondisi tersebut mendorong distributor memprioritaskan pasokan ke SPPG.
Menurutnya, para distributor cenderung memprioritaskan penyaluran pasokan ke SPPG karena skema pembayarannya bersifat tunai dan cepat, berbeda dengan pedagang pasar tradisional yang umumnya menggunakan sistem tempo.
Imbasnya, sambung dia, kondisi tersebut membuat ketersediaan stok di pasar menjadi terbatas dan mendorong kenaikan harga. “Ini menjadi alasan juga kenapa harga di level peternak naiknya tidak setinggi kenaikan harga di level konsumen,” ungkapnya
Ke depan, Core memperkirakan tekanan harga telur ayam masih akan berlanjut pada awal 2026, seiring rencana pemerintah menambah jumlah SPPG serta datangnya momentum Ramadan yang jatuh lebih awal pada Februari—Maret 2026.
Meski begitu, Eliza menilai pemerintah perlu memperkuat peran Perum Bulog dalam menjaga stabilitas pangan. Menurutnya, Bulog perlu menyerap jagung petani dan menyalurkannya kepada peternak mandiri melalui skema subsidi agar harga pakan bisa ditekan.
Selain itu, Bulog juga dinilai perlu menyerap telur dan ayam dari peternak mandiri sehingga memiliki cadangan untuk stabilisasi harga saat harga pasaran naik.
“Setidaknya kalau Bulog operasi pasar secara masif ke masyarakat kalangan menengah bawah, ini akan sangat membantu menjaga daya beli mereka, karena bagi kalangan atas kenaikan harga pangan tidak menjadi masalah,” tandasnya.
