Harga Emas Diramal Tembus Rp 2,7 Juta/Gram Pekan Depan

Harga Emas Diramal Tembus Rp 2,7 Juta/Gram Pekan Depan

Jakarta

Harga emas diperkirakan bakal menguat selama sepekan ke depan. Harga emas diperkirakan akan menyentuh level Rp 2,7 juta per gram pekan depan.

Hal ini merupakan analisis yang diungkapkan oleh Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi. Dia memaparkan terakhir harga emas Logam Mulia Antam ditutup pada level Rp 2,6 jutaan per gram.

Secara teknis bila mengalami penguatan, dia memprediksi harga emas akan berada di level Rp 2,63 juta hingga maksimal Rp 2,7 juta per gram.

“Logam Mulianya kemungkinan akan tembus di Rp Rp 2.700.000 ya kemungkinan di akhir pekan. Kemungkinan besar di hari Senin ya sampai sore itu harga emas tembus di Rp 2.630.000,” kata Ibrahim dalam analisisnya kepada awak media, Minggu (11/1/2026).

Bila tiba-tiba turun, dia memperkirakan harga emas Logam Mulia hanya turun mencapai level Rp 2,57 juta saja paling mentok.

Lantas apa saja faktor yang membuat harga emas melonjak? Dari bacaan Ibrahim, sejauh ini faktor geopolitik mempengaruhi sangat besar pergerakan harga emas. Utamanya beberapa konflik yang memanas di berbagai belahan dunia.

Peran pergerakan politik Amerika Serikat (AS) masih sangat besar mempengaruhi harga emas. Di Amerika Latin, konflik dengan Venezuela memang mulai mereda, hanya saja perhatian kini tertuju ke Timur Tengah dan Eropa.

Di Timur Tengah iklim politik Iran sedang berkecamuk. Demo besar-besaran terjadi disebabkan oleh mata uang Iran yang terjun bebas, kemudian inflasi tinggi membuat para demonstran terjun ke jalan memprotes rezim Khomeini.

Pemerintah Khomeini pun merespons keras demonstran dengan kekuatan militer dan pada akhirnya menyebabkan korban jiwa karena penembakan kepada para demonstran. AS dan sekutunya Israel, mulai memata-matai konflik ini dan menimbulkan kekhawatiran perang bisa terjadi di Iran.

Emas akan menjadi instrumen safe haven yang biasa dipegang oleh para investor bila ketidakpastian, macam perang besar terjadi. Otomatis harga emas akan terkerek pada akhirnya.

“Amerika mengancam apabila Iran ya melakukan apa penembakan terhadap para demonstran tapi kita lihat bahwa sudah terjadi penembakan dan ini yang membuat kemungkinan besar akan terjadi perang besar ya di Iran,” ujar Ibrahim.

Selanjutnya, di Eropa hasil proposal perdamaian yang diajukan AS untuk perang Ukraina dan Rusia nampaknya akan gagal setelah Ukraina menyerang kembali Rusia. Ini dinilai menjadi titik balik konflik antara kedua negara kembali memanas.

“Ada kemungkinan besar perang di Eropa akan meluas dan ini yang ditakutkan menjadi perang dunia ketiga karena negara-negara tetangga pun juga sudah siap,” jelas Ibrahim.

Rupiah Diprediksi Melemah

Ibrahim juga memprediksi nilai tukar rupiah akan melemah kepada dolar Amerika Serikat (AS) minggu depan. Dia melihat hal ini terjadi karena gonjang-ganjing global tidak banyak diintervensi langsung oleh Bank Indonesia.

Menurutnya kondisi geopolitik sudah memicu banyaknya capital outflow dari negara berkembang. Di sisi lain, cadangan devisa saat gonjang-ganjing terjadi dan justru mengalami kenaikan. Maka tak heran rupiah melemah.

Ibrahim menilai hal ini menjadi indikasi Bank Indonesia kurang melakukan intervensi di pasar keuangan baik di ranah DNDF maupun NDF. Bila hal ini terus terjadi, Ibrahim memperkirakan pelemahan nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp 16.900.

“Saya melihat bahwa pelemahan harga rupiah kemungkinan akan menuju mendekati level di Rp 16.900,” ujar Ibrahim.

Belum lagi, Ibrahim mengatakan ada dorongan kuat dari Kementerian Keuangan yang menginginkan pasar modal atau IHSG bisa menyentuh 10.000 secara kumulatif. Menurutnya hal ini bisa berpengaruh juga ke nilai tukar.

“Ya kalau 10.000 ada kemungkinan besar untuk untuk rupiah sendiri dalam kuartal pertama, ya kemungkinan besar akan menuju level Rp 17.000,” sebut Ibrahim.

Menurutnya Kementeri Keuangan dan Bank Indonesia harus memperkuat kerja sama bagaimana caranya untuk menanggulangi agar rupiah kembali mengalami penguatan.

“Tetapi lagi-lagi permasalahan geopolitik, ya masalah ekonomi global yang begitu kuat, ya kemungkinan besar akan berdampak pada kelemahan mata uang rupiah, dan rupiah di kuartal pertama, kemungkinan besar masih akan terus mengalami pelemahan,” papar Ibrahim.

(acd/acd)