Merangkum Semua Peristiwa
Indeks

Fleksibilitas Tadarus Al-Qur’an di Bulan Ramadan

Fleksibilitas Tadarus Al-Qur’an di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan pahala, sehingga penting untuk mempersiapkan diri secara fisik, mental, dan spiritual. Persiapan bisa dimulai dengan melatih diri melalui puasa sunnah di bulan Syakban, memperbanyak doa dan zikir, serta memperkuat iman melalui tadarus dan kajian agama. 

Selain itu, menyelesaikan utang puasa dari tahun sebelumnya dan menjaga diri dari perbuatan maksiat juga sangat dianjurkan. Memahami ilmu agama dan mempersiapkan fisik dengan menjaga kesehatan serta konsumsi makanan bergizi akan membantu menjalani puasa dengan optimal. Persiapan mental juga penting untuk menghadapi tantangan puasa dan meningkatkan ketahanan diri. 

Menyiapkan peralatan ibadah, seperti sajadah dan Al-Qur’an, serta memastikan makanan sahur dan berbuka yang bergizi menjadi bagian dari persiapan yang baik. Terakhir, menyucikan niat untuk berpuasa karena Allah Swt merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan pahala dan keberkahan. 

Sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. [Al Baqarah:183]

Pada bulan Ramadan, banyak kegiatan amaliyah yang dilakukan untuk mengisi waktu, dan yang paling utama adalah meningkatkan keimanan serta ketakwaan, yang dipupuk pada bulan penuh berkah ini untuk satu tahun ke depan. Salah satu kegiatan tersebut adalah membaca Al-Qur’an atau bertadarus, yang biasanya dilaksanakan setelah salat tarawih dan witir. 

Beragam pendapat muncul di setiap musala dan masjid terkait jumlah rakaat tarawih, ada yang melaksanakan 20 rakaat dan 3 witir, ada juga yang mencapai 36 rakaat, dan sebagian memilih 8 rakaat dengan 3 witir untuk efisiensi waktu. Meskipun terdapat perbedaan, kedua bentuk pelaksanaan tersebut tetap memiliki ganjaran pahala di hadapan ridha Allah Swt.

Sejumlah santri membaca Al Quran saat tadarus massal awal Ramadan 1445 H di Pondok Pesantren Modern Daarut Tarqiyah Primago, Depok Jawa Barat, Kamis, 14 Maret 2024. – (B Universe Photo/Joanito de Saojoao)

Mengapa tadarus Al-Qur’an? Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur dalam bahasa Arab. Al-Qur’an dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah al-Nas.

Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mendatangkan pahala, baik dilakukan saat salat maupun di luar waktu salat. Al-Qur’an juga menjadi petunjuk hidup bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan mereka. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

Artinya; “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)”. [Al-Baqarah: 185]

Quraish Shihab dalam karyanya, Tafsir al-Misbah, menjelaskan bahwa selama bulan Ramadan, yang merupakan waktu awal turunnya Al-Qur’an, beberapa ayat diturunkan sebagai petunjuk awal bagi umat manusia. Petunjuk tersebut mencakup tuntutan yang berkaitan dengan akidah dan rincian hukum-hukum syariat. Kegiatan tadarus tidak hanya dilakukan hanya pada satu waktu saja, juga bisa dilaksanakan pada setelah 5 waktu salat fardu. Berbagai macam cara kaum muslim untuk tetap antusias dalam mengikuti kegiatan tadarus yang diadakan di tiap-tiap masjid dan musala.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kita kini dapat mengakses berbagai hal hanya dengan genggaman tangan. Tentu, dampak dari hal ini bisa bersifat positif maupun negatif, tergantung pada cara kita menggunakannya. Dalam beberapa kesempatan, sebagian umat Muslim, baik yang berada di masjid maupun jamaah tetap, mungkin mengalami kendala untuk hadir dan melaksanakan salat Isya’ serta tarawih berjemaah. 

Kendala ini bisa berupa halangan tertentu yang membuat mereka tidak dapat hadir di masjid. Namun, berkat adanya kemajuan teknologi, kini ada kemudahan dalam melaksanakan kegiatan tadarus. Dengan adanya fleksibilitas dalam tadarus, jemaah yang berhalangan tetap dapat mengikuti pengajian dan mendapatkan manfaat meski tidak dapat hadir secara langsung.

Pemanfaatan teknologi untuk kegiatan tadarus sangat berdampak positif, melihat bahwasannya masyarakat saat ini tidak lepas dari gawai nya. Maka dari itu, momen tersebut harus digunakan sebaik-baiknya, terlebih pada saat di bulan Ramadhan. Bagaimana pelaksanaanya? Tidak perlu rumit. 

Sejumlah santri membaca Al Quran saat tadarus massal awal Ramadan 1445 H di Pondok Pesantren Modern Daarut Tarqiyah Primago, Depok Jawa Barat, Kamis, 14 Maret 2024. – (B Universe Photo/Joanito de Saojoao)

Hal ini bisa dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Kemudian bisa dibuatkan grup untuk tadarus pada masjid yang ditempatinya. Penentuan bacaan, dan pergantian penyimak bisa dikomunikasikan lewat grup tadarus tersebut. Sehingga memudahkan jamaah untuk tetap selalu bersama dengan para jamaah lain yang sedang bertadarus di masjid. 

Sebagaimana hadis yang dimuat pada permulaan arbain an-Nawawi, riwayat Imam Bukhari dan Muslim, mengenai hadis niat, 

Diriwayatkan oleh Umar bin Khatab, Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: “Sesungguhnya amal perbuatan itu diiringi dengan niat, dan sesungguhnya bagi setiap insan akan memperoleh menurut apa yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dibenarkan hijrahnya itu oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya untuk dunia yang hendak diperoleh atau wanita yang hendak dipersunting, maka ia akan mendapatkan apa yang diingini itu saja.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka dari itu, fleksibilitas tadarus ramadhan yang dilakukan dengan mengupayakan perkembangan teknologi, tetap akan bernilai baik dan bermanfaat bagi pelaksananya jika niat para pegiat tadarus mengharapkan ridha dan keberkahan dari apa yang dibaca pada Al-Qur’an. Wallahu a’lam bisshawaab

Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI)

Merangkum Semua Peristiwa