Fenomena Sapon Rugikan Petani Ikan di Ranu Grati, Pemkab Pasuruan Turun Tangan

Fenomena Sapon Rugikan Petani Ikan di Ranu Grati, Pemkab Pasuruan Turun Tangan

Pasuruan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Pasuruan tengah memberikan perhatian serius terhadap fenomena alam tahunan “Sapon” yang kembali melanda perairan Ranu Grati. Peristiwa pengadukan dasar danau ini menyebabkan ribuan ikan nila milik petani keramba mati akibat keracunan gas amonia.

Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan menjelaskan bahwa fenomena yang dikenal secara ilmiah sebagai upwelling ini terjadi akibat faktor cuaca. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian Kabupaten Pasuruan, Ainur Alfiah, menyebutkan bahwa gas beracun dari dasar danau naik ke permukaan secara mendadak.

“Bahan yang keluar itu beracun seperti amonia, ikan nila ini kayak mabuk lalu kemudian mati,” ujar Fia, sapaannya. Fia menambahkan bahwa kondisi ini diperparah dengan menipisnya kadar oksigen yang sangat dibutuhkan ikan siap panen.

Pihak pemerintah daerah saat ini sedang melakukan pendataan intensif terhadap jumlah kerugian yang dialami oleh para petani ikan. Meskipun belum ada angka pasti, dampak paling parah dilaporkan terjadi di wilayah Ranu Klindungan dan sebagian kecil di Dawesari.

Terkait upaya pencegahan, Pemkab Pasuruan telah melakukan langkah-langkah teknis untuk memperbaiki ekosistem di dasar danau. Salah satu langkah yang ditempuh adalah bekerja sama dengan pihak swasta melalui program CSR untuk memulihkan kualitas air.

“Dulu sudah ada perbaikan di Ranu, termasuk memasukkan ekoenzim untuk membantu penguraian bahan organik di dalam danau,” jelas Fia. Penggunaan cairan ekoenzim ini diharapkan mampu menetralkan limbah organik yang memicu keracunan saat terjadi pengadukan air.

Mengenai kompensasi kerugian, Pemkab Pasuruan mengonfirmasi bahwa tidak ada anggaran khusus untuk ganti rugi uang tunai bagi ikan yang mati. Namun, pemerintah telah menyiapkan skema bantuan alternatif agar para petani tetap bisa melanjutkan usaha budi daya mereka.

Para petani yang terdampak diarahkan untuk segera mengajukan proposal bantuan benih ikan nila melalui kelompok tani masing-masing. “Kalau ganti rugi langsung tidak ada anggarannya, tapi nanti bisa mengusulkan bantuan benih untuk tahun berikutnya,” tambah Ainur.

Pergeseran pola cuaca diakui membuat fenomena Sapon ini menjadi semakin sulit diprediksi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya peristiwa ini terjadi saat mendekati perayaan Imlek, namun tahun ini muncul lebih awal mengikuti arah angin yang tidak menentu.

Dinas terkait mengimbau para petani untuk tetap waspada dan segera melakukan panen dini jika melihat tanda-tanda perubahan warna air. Koordinasi antara ketua kelompok tani dan penyuluh perikanan terus diperketat guna meminimalisir dampak kerugian di masa mendatang. (ada/kun)