Eks Dirjen Ibaratkan Program Pendidikan Era Nadiem Bak Segelas Kopi Hitam, Apa Maksudnya?

Eks Dirjen Ibaratkan Program Pendidikan Era Nadiem Bak Segelas Kopi Hitam, Apa Maksudnya?

Bisnis.com, JAKARTA Mantan Dirjen PAUD Dasmen Kemedibudristek, Jumeri mengibaratkan kebijakan digitalisasi pendidikan eks Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim sebagai segelas kopi hitam. 

Hal tersebut disampaikan Jumeri saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan Nadiem Makarim terkait kasus Chromebook di PN Tipikor Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).

Mulanya, jaksa menanyakan soal pernyataan Jumeri dalam berita acara pemeriksaan alias BAP soal kebijakan digitalisasi pendidikan dibuat oleh orang dekat Nadiem.

Orang dekat Nadiem yang dimaksud adalah eks Stafsusnya mulai dari Fiona Handayani, Jurist Tan, dan Tenaga Konsultan Ibrahim Arief alias Ibam.

“Ini ada keterangan Saudara, Saudara jelaskan di poin 8 ya, ‘dapat saya jelaskan bahwa semua kebijakan digitalisasi pendidikan persiapan AKM [Asesmen Kompetensi Minimum] dibuat oleh Nadiem Anwar Makarim dengan orang dekatnya seperti Jurist Tan, Fiona, Ibrahim Arief alias Ibam. Kalau saya bisa mengibaratkan seperti segelas kopi hitam yang sudah dibuat dan sudah diramu mereka, Nadiem Anwar Makarim, Jurist Tan, Fiona, Ibrahim Arief alias Ibam’,” ujar jaksa.

Dalam hal ini, Jumeri pun menjelaskan bahwa pernyataan kebijakan digitalisasi pendidikan seperti segelas kopi hitam itu karena pejabat di Kemendikbudristek hanya menerima ‘barang jadi’.

Artinya, Jumeri menjelaskan pejabat eselon I dan II lebih banyak menerima kebijakan yang sudah jadi, khususnya pada program digitalisasi pendidikan.

“Jadi kami eselon I dan II lebih banyak menerima kebijakan, menerima kebijakan-kebijakan dari menteri dan staf khusus,” tutur Jumeri.

Bahkan, Jumeri merasa bahwa Nadiem Makarim lebih mempercayai orang dekatnya dibandingkan dengan pejabat seperti Dirjen maupun Direktur di Kemendikbudristek.

“Apakah artinya ini mereka lebih dipakai? Sedangkan tadi Saudara katakan berdasarkan chat tadi pada faktanya memang seorang dirjen seorang direktur tidak dipercaya gitu?” tanya jaksa.

“Yang dirasakan seperti itu,” jawab Jumeri.