Ekonomi Sulit, Mahasiswa dan Pedagang di Iran Turun ke Jalan

Ekonomi Sulit, Mahasiswa dan Pedagang di Iran Turun ke Jalan

Teheran

Aksi demonstrasi terkait kenaikan biaya hidup di Iran meluas ke beberapa universitas. Massa yang merupakan gabungan mahasiswa, pedagang, dan pengusaha turun ke jalan untuk menyampaikan ketidakpuasannya terhadap devaluasi mata uang hingga dampaknya terhadap harga barang.

Menurut kantor media yang sepenuhnya belum resmi, aksi unjuk rasa itu terjadi pada Selasa (30/12) waktu setempat. Berdasarkan informasi dari agen berita Fars, ratusan mahasiswa berunjuk rasa di empat universitas di Teheran. Selain itu, ada juga media yang melaporkan aksi serupa terjadi di tujuh lokasi berbeda.

Demonstrasi juga meletus di universitas teknologi di kota Isfahan dan di lembaga-lembaga lain di kota Yazd dan Zanjan, seperti dilaporkan oleh Ilna dan kantor berita milik negara IRNA.

Presiden Iran janjikan dialog dengan pengunjuk rasa

Setelah unjuk rasa besar-besaran pada Senin (29/12) malam waktu setempat, Presiden Masoud Pezeshkian melalui media sosialnya mengumumkan bahwa para menteri telah diarahkan untuk mengatur pembicaraan demi membahas “tuntutan nyata” para pengunjuk rasa. Selain itu dia menyebut bahwa pemerintah tengah merumuskan respons terkait aksi tersebut.

“Kami memiliki langkah-langkah fundamental dalam agenda mereformasi sistem moneter dan perbankan serta menjaga daya beli masyarakat,” kata Masoud Pezeshkian, setelah mata uang rial Iran kehilangan hampir setengah nilainya terhadap dolar AS sepanjang tahun 2025.

Pada Desember 2025 inflasi di Iran mencapai 42,5%, Ini terjadi di tengah tekanan sanksi AS dan Eropa, hingga ancaman serangan lanjutan dari Israel pascakonflik singkat yang terjadi pada Juni 2025.

Sementara itu, media Iran mengutip pernyataan juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, pada Selasa (30/12), yang menyampaikan bahwa otoritas “mengakui” para demonstran.

Di sisi lain, pemerintah juga mengumpulkan massa pendukungnya yang membawa bendera di ibu kota pada Selasa (30/12). Kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda rutin untuk mendukung rezim.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Aksi protes pertama sejak konflik dengan Israel

Demonstrasi ini merupakan aksi protes publik dalam skala besar pertama sejak perang singkat Iran dengan Israel pada Juni 2025, yang saat itu memicu ekspresi solidaritas patriotik yang luas di tengah masyarakat.

Ekonomi Iran telah mengalami kesulitan selama bertahun-tahun sejak diberlakukannya kembali sanksi AS pada 2018. Kemudian, tekanan berlanjut ketika sanksi PBB kembali berlaku pada September 2025, setelah kegagalan upaya untuk memulai kembali pembicaraan pelucutan senjata nuklir.

Berdasarkan data dari platform valuta asing swasta, pada Selasa (30/12) mata uang rial Iran anjlok menjadi sekitar 1,4 juta rial per dolar AS, padahal nilai tukar di awal tahun 2025 berada di level 817.500 rial per dolar.

Pada Senin (29/12), gubernur bank sentral mengundurkan diri. Media Iran melaporkan bahwa kebijakan liberalisasi ekonomi pemerintah baru-baru ini telah memberikan tekanan pada pasar rial terbuka, yang memungkinkan warga biasa di Iran membeli mata uang asing.

Rangkaian demo terbesar di Iran

Iran punya sejarah aksi demonstrasi massal yang meluas dalam beberapa tahun terakhir, meskipun biasanya diredam oleh pemerintah dan pasukan keamanan. Contoh terbaru pada Mei 2022, ketika terjadi unjuk rasa atas kenaikan harga barang-barang pokok, termasuk roti.

Pada akhir 2022 hingga awal 2023, gelombang kerusuhan juga melanda Iran. Pemicunya saat itu adalah pembunuhan Jina Mahsa Amini, seorang perempuan muda Kurdi Iran, ketika ditahan oleh “kepolisian moral” Iran yang dikenal keras dalam menegakkan aturan berpakaian.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi

Editor: Tezar Aditya Rahman

(nvc/nvc)