Duduk Perkara 261 Siswa Keracunan Usai Santap Menu Soto Ayam MBG, Wali Murid Trauma

Duduk Perkara 261 Siswa Keracunan Usai Santap Menu Soto Ayam MBG, Wali Murid Trauma

GELORA.CO  – Sebanyak 7 lembaga pendidikan di Mojokerto terdampak keracunan massal diduga dari Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menu soto ayam. 

Ketujuh lembaga pendidikan tersebut berada di kawasan distribusi MBG yang dipasok dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Jumat (9/1/2026). 

Teguh Gunarko Sekretaris Daerah (Sekdakab) Mojokerto, mengatakan, korban dari tujuh lembaga pendidikan terdampak keracunan massal menu MBG itu total mencapai 261 orang. 

“Data terbaru di posko saat ini tercatat masih 121 orang (dirawat), sehingga 140 orang sudah diperbolehkan pulang,” ujar Teguh di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, Minggu (11/1/2026). 

Menurut Teguh, pemda melibatkan hampir seluruh Fasyankes (Fasilitas layanan kesehatan) di wilayah Kabupaten Mojokerto yang meliputi puskesmas dan RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) maupun rumah sakit swasta. 

Penanganan korban keracunan massal dilakukan di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari.  “Hampir semua rumah sakit di Mojokerto Raya kita libatkan, namun penanganan terbesar memang di RSUD Soekandar totalnya yang kini masih dirawat sekitar 49 pasien (keracunan MBG),” jelasnya. 

Ia menjelaskan, lembaga pendidikan yang berada di sekitar SPPG Wonodadi terdampak kejadian tersebut.  

SPPG Wonodadi

Yang terdampak keracunan menu MBG meliputi siswa, santri, tenaga pendidikan hingga wali murid.  “Sesuai laporan dari pihak SPPG, ada 7 sekolah yang terdampak,” kata Teguh. 

Lembaga pendidikan terdampak di antaranya SMP Negeri 2 Kutorejo dengan jumlah 40 murid, dengan rincian 19 dirawat di RS/PKM Mojokerto dan Sidoarjo dan 1 perawatan infus di rumah. Sedangkan sebanyak 20 murid telah menjalani pemeriksaan bidan/dokter. 

SD Negeri Singowangi, Kutorejo yang mengalami gejala keracunan (diare, mual, demam dan panas)  yaitu 5 sebanyak 15 murid dan 1 wali murid, kelas 1 sebanyak 4 murid dan kelas 6 sebanyak 2 murid. 

SDN Wonodadi 1 yang mengalami gejala keracunan (diare, mual, demam dan panas) adalah kelas 2 sebanyak 3 murid, kelas 3 ada 3 murid, kelas 5 sebanyak 2 murid dan kelas 6 sebanyak 5 murid. 

Kemudian keracunan juga dialami para anak didik di TK Dharma Wanita Wonodadi, SMP TI Al Hidayah Wonodadi, MTS/ MA Ponpes Mahaad AnNur Desa Singowangi dan lainnya. 

Penyebab Keracunan Menu MBG

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak meninjau korban keracunan massal yang dirawat di RSUD Prof dr Soekandar, Minggu (11/1/2026). 

Para korban mengeluh gejala keracunan dan dirujuk ke Fasyankes pada Sabtu (10/1/2026).

Emil mengungkapkan, pihaknya menelusuri penyebab keracunan massal ini, terutama dari keterangan siswa maupun santri hingga pihak pengelola SPPG yang memasok MBG berupa menu soto ayam dan telur.

Petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto telah mengambilnya sampel sisa makanan MBG yang dikonsumsi para korban, maupun dari dapur SPPG yang bersangkutan.

“Sudah beberapa diambil sampel (makanan MBG) dan paling cepat hasilnya kemungkinan besok Senin (12/1/2026). Namun kami tidak terburu-buru, terpenting data bisa akurat dan valid untuk dijadikan bahan evaluasi bersama,” papar Teguh

Pemkab Mojokerto memastikan, seluruh biaya pengobatan hingga perawatan siswa/santri terdampak keracunan menu soto ayam MBG, akan ditanggung penuh oleh pemerintah. 

Seluruh biaya tersebut ditanggung pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN), selaku stakeholder yang menangani program MBG (Makan Bergizi Gratis). 

Sekretaris Daerah (Sekdakab) Mojokerto, Teguh Gunarko menegaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan BGN maupun pengelola SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk menanggung seluruh biaya korban terdampak musibah keracunan massal dari pengobatan maupun perawatan di seluruh Fasyankes Mojokerto Raya. 

“Terkait biaya (RS/ Puskesmas) kemarin kami sudah sepakat dengan BGN yang semuanya akan ditanggung BGN dan masyarakat (terdampak) gratis tidak mengeluarkan serupiah pun. Termasuk rumah sakit, semuanya ditanggung negara,” kata Teguh di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Minggu (11/1/2026). 

Kiti Fatmalasari (29), salah satu wali murid menceritakan pengalaman putrinya yang mengalami keracunan.

Anaknya bernama Putri Candra Kirana (13), kelas 7 SMP IT Al Hidayah, kini masih terbaring lemah di ruangan perawatan Puskesmas Kutorejo, Minggu (1/11/2026).

Putri merupakan siswi sekolah reguler yang tidak mondok di tempat tersebut, dan mengalami gejala keracunan seperti diare selama dua hari.

“Anak saya sudah mengalami gejala, Jumat (9/1) malam, seperti diare dan besoknya badannya panas dan sore sudah gemetar dari rumah langsung saya bawa ke sini (Puskesmas),” ujar Kiti saat dijumpai di Puskesmas Kutorejo.

Wanita asal Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo ini mengungkapkan, kondisi putrinya kini telah berangsur membaik dalam penanganan intensif oleh dokter puskesmas.

“Diare sudah tidak, cuma perutnya masih sakit dan kalau minum obat masih terasa mual mau muntah. Badannya sudah tidak panas dan mau makan,” jelasnya.

Wali Murid Merasa Trauma

Kiti mengatakan, sebagai orangtua ia trauma dengan kejadian yang menimpa anak kesayangannya.

Ia berharap pemerintah bisa melakukan percepatan untuk menyempurnakan program MBG agar tidak lagi terjadi kasus yang merugikan siswa maupun wali murid.

Program MBG bagus jika dijalankan sesuai aturan ketat, dengan memprioritaskan bahan baku dan makanan serta higienis dalam pengolahannya.

“Kalau saya kan jujur saja trauma sedikit, kalau bisa ya (MBG) untuk anak-anak lebih diperhatikan lagi yang higienis,” terangnya.

Ia mengaku, setelah peristiwa ini akan lebih ketat lagi dalam mengawasi makanan yang dikonsumsi anaknya terutama di sekolahan.

Ia berencana akan membawakan bekal makanan untuk anaknya. “Tetap saya bekali makanan kalau dapat MBG dibawa pulang saja,” tandasnya.

Menurut Kiti, anaknya sudah sering menikmati makanan dari menu program MBG yang sudah berjalan sekitar 3-4 bulan.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi BGN khususnya pengelola SPPG, agar lebih berhati-hati dalam mengolah dan menyajikan makanan untuk anak-anak sekolah. “Putri saya bilang itu makan Soto ayam (MBG) terus pulang bawa kacang sama roti pia,” bebernya.

Ia menambahkan, seluruh biaya perawatan putrinya di Puskesmas Kutorejo gratis sudah ditangani oleh pihak sekolah yang bersangkutan. “Untuk biaya (Puskesmas) sudah ditangani oleh pihak sekolah, Alhamdulillah gratis,” tukasnya