Dolar AS Diramal Tembus Rp 17.000 Akhir 2026, Ini Biang Keroknya

Dolar AS Diramal Tembus Rp 17.000 Akhir 2026, Ini Biang Keroknya

Jakarta

Tekanan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026. Tekanan ini dipengaruhi lemahnya arus masuk modal asing kendati kinerja perdagangan Indonesia tercatat baik hingga akhir 2025.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, menyebut nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berpotensi tembus Rp 17.000. Sementara saat ini, spot mata uang Garuda itu berada di level Rp 16.846 berdasarkan data Bloomberg pukul 14.16 WIB.

“Kami memperkirakan hingga akhir 2026, nilai tukar rupiah berpotensi berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS,” ungkap Pranjul dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026 secara virtual, Senin (12/1/2025).

Arus Modal Asing Lemah

Ia melanjutkan, arus modal asing yang masuk ke pasar saham, obligasi, dan Foreign Direct Investment (FDI) jangka panjang masih cenderung lemah. Di sisi lain, ia juga menyebut neraca pembayaran Indonesia masih belum menunjukkan hasil yang signifikan.

“Menurut saya, kita mungkin akan terus melihat tekanan depresiasi pada IDR akibat neraca pembayaran,” ungkapnya.

Meski begitu, Pranjul mengakui kinerja perdagangan Indonesia terpantau kuat sepanjang 2025. Namun menurutnya, surplus perdagangan Indonesia tidak cukup kuat menopang kinerja rupiah jika arus modal asing masih terbatas.

“Sekarang, menurut saya, yang terjadi di Indonesia adalah bahwa bagian perdagangan saat ini tidak menjadi masalah yang mencolok. Saya pikir surplus perdagangan telah cukup kuat pada tahun 2025, dan neraca berjalan juga berada dalam kondisi positif. Saya pikir masalah di Indonesia adalah arus modal masuk,” pungkasnya.

(ahi/ara)