Liputan6.com, Jakarta – Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengungkapkan bahwa dirinya tengah menjadi subjek penyelidikan kriminal oleh jaksa federal Amerika Serikat (AS), terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral di Washington DC senilai USD 2,5 miliar serta kesaksiannya di hadapan Kongres.
Dalam pernyataan video yang diunggah di akun resmi X Federal Reserve, Powell menegaskan bahwa ia tidak akan tunduk pada tekanan maupun intimidasi politik, termasuk dari Presiden AS Donald Trump.
Dikutip dari CNBC, Senin (12/1/2026), Powell menyebut penyelidikan ini tidak bisa dilepaskan dari ketegangan yang telah lama terjadi antara Gedung Putih dan The Fed, khususnya terkait kebijakan suku bunga. Trump berulang kali mendesak bank sentral memangkas suku bunga lebih cepat dan agresif sejak kembali menjabat pada Januari 2025.
“Ancaman tuntutan pidana ini merupakan konsekuensi dari kebijakan Federal Reserve yang menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami demi kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi Presiden,” kata Powell.
Soroti Independensi Bank Sentral
Menurut Powell, inti dari kasus ini bukan sekadar renovasi gedung atau kesaksiannya di Kongres, melainkan masa depan independensi kebijakan moneter AS.
“Ini tentang apakah The Fed masih bisa menetapkan suku bunga berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi, atau justru dipengaruhi tekanan politik,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS telah mengirimkan surat panggilan pengadilan pada Jumat lalu, yang berisi ancaman dakwaan pidana terkait kesaksiannya di Komite Perbankan Senat pada Juni lalu.
Powell menegaskan bahwa The Fed telah secara transparan melaporkan proyek renovasi tersebut kepada Kongres, sehingga tudingan tersebut dinilainya sebagai dalih semata.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353799/original/001546500_1758181680-AP25260711812553.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)