Diklat PPIH Arab Saudi 2026 Dimulai, 1.458 Petugas Digembleng Semi-Militer 20 Hari

Diklat PPIH Arab Saudi 2026 Dimulai, 1.458 Petugas Digembleng Semi-Militer 20 Hari

Jakarta (beritajatim.com) – Sebanyak 1.458 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun 1447 H/2026 M mulai menjalani Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) intensif selama 20 hari di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, mulai 10 hingga 30 Januari 2026. Pelatihan berskema semi-militer ini dirancang untuk mencetak petugas yang memiliki ketahanan fisik prima dan mental tangguh guna melayani jemaah haji Indonesia di tanah suci.

Proses hari pertama diawali dengan registrasi peserta yang mencakup verifikasi dokumen vital seperti paspor, visa bio, hingga penandatanganan pakta integritas. Setelah urusan administrasi rampung, ribuan peserta langsung mengikuti tes kemampuan bahasa Arab dan gladi bersih persiapan pembukaan resmi.

Seluruh peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk perwakilan dari Jawa Timur, yang terbagi dalam beragam fungsi layanan. Mulai dari layanan umum, akomodasi, konsumsi, transportasi, perlindungan jemaah, layanan khusus lansia, hingga tim Media Center Haji (MCH).

Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RI, Mayjend TNI Purn. Dendi Suryadi, SH. MH, menegaskan bahwa penerapan metode semi-militer ini adalah upaya pemerintah untuk menghadirkan transformasi layanan haji yang lebih profesional. Terdapat empat sasaran utama dalam gemblengan tahun ini: fisik yang bugar, mental pelayan yang tangguh, keterampilan yang mumpuni sesuai fungsi (tusi), serta ikatan kebersamaan (bonding).

“Minta dimaklum aja, karena kita akan menghadirkan, ini bagian dari ikhtiar kita untuk menghadirkan petugas haji yang lebih profesional dan berintegritas melalui empat sasaran. Yang pertama, fisiknya kuat, fisiknya bugar, karena memang ibadah haji itu kan 90% ibadah fisik, sehingga petugasnya juga harus lebih kuat daripada jemaah lalu. Kemudian yang kedua, mentalnya memang mental yang tangguh sebagai pelayan, mentalnya memang siap untuk jadi pelayan,” ujar Dendi Suryadi saat memimpin apel gladi di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Dendi menjelaskan bahwa kurikulum pelatihan sengaja mengadopsi nilai-nilai disiplin dari TNI dan Polri. Pada minggu pertama, peserta akan difokuskan pada Peraturan Baris-Berbaris (PBB) sebagai metode dasar melatih kepatuhan terhadap instruksi. Memasuki minggu kedua, pelatihan akan bergeser ke pendalaman tugas dan fungsi teknis di titik-titik krusial seperti Bandara, Madinah, Makkah, hingga puncak haji di Arafah dan Mina.

“PBB itu metode yang bagus untuk melatih orang terbiasa mendengarkan instruksi. Mendengarkan instruksi, dan melaksanakan. Siap gerak, tuh diem. Nanti dideskripsikan oleh para pelatih. Hadap kiri, gerak. Hadap kanan, gerak,” jelasnya mengenai urgensi kedisiplinan lapangan.

Guna memastikan kualitas pelatihan, Kemenhaj melibatkan 179 personel pelatih dari Mabes TNI dan Mabes Polri. Kolaborasi lintas instansi ini dilakukan karena penyelenggaraan haji dianggap sebagai tugas nasional besar yang membutuhkan manajemen operasional setingkat operasi kemanusiaan masif.

Salah satu poin penting yang ditekankan bagi petugas adalah komitmen prioritas layanan. Petugas yang belum berhaji diberikan kesempatan menunaikan rukun Islam kelima tersebut, namun dengan syarat tetap mengenakan seragam dinas (tidak mengenakan ihram) saat bertugas di Arafah guna menjaga kesiagaan layanan.

“Kalau petugas haji kita sudah komitmen silahkan yang belum berhaji tapi kemudian pada saat di Arafah jangan pakai melepaskan seragamnya. Dia harus tidak boleh pakai ikhram. Berarti kan melanggar sunnah bukan rukun. Nah itu nanti bisa ditebus dengan puasa, itu bayar dam. Ini cukup fair ya, harusnya harus mau ya. Kalau Anda mau jadi petugas ya begini. Ada 5,4 juta jemaah yang sudah mengantre sementara Anda dapat bonus tambahan untuk bisa berhaji,” tegas Dendi.

Melalui masa pelatihan yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pemerintah berharap tercipta “jiwa korsa” yang kuat di antara petugas sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi. Hal ini dianggap vital untuk menghadapi otoritas keamanan Arab Saudi (Askar) yang dikenal sangat tegas dalam mengatur jutaan orang dari seluruh dunia.

Dendi Suryadi menutup arahan dengan menekankan pentingnya kepatuhan pada pimpinan selama operasional haji berlangsung. “Di Islam itu ada sami’na wa ta’na, dengarkan umara, dengarkan ulama. Ikuti, ya kan?” pungkasnya di hadapan para peserta yang siap mengikuti pembukaan resmi diklat pada Minggu (11/1/2026). [ian]