Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa migas Amerika Serikat, Exxon Mobil, menilai Venezuela saat ini tidak layak untuk investasi. Namun, tetap mengkaji kemungkinan kembali beroperasi di Venezuela, usai asetnya dinasionalisasi oleh negara Amerika Selatan tersebut hampir 20 tahun yang lalu.
Melansir Reuters, Minggu (11/1/2026), CEO Exxon Mobil Darren Woods mengatakan, Venezuela memerlukan perubahan regulasi terkait minyak dan gas (migas) yang signifikan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan di Gedung Putih dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang diatur secara mendadak kurang dari sepekan setelah pasukan AS menangkap dan menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaan.
“Dalam jangka pendek, sangat penting bagi kami untuk segera menempatkan tim teknis guna menilai kondisi terkini industri dan aset-asetnya, memahami apa saja yang dibutuhkan untuk membantu rakyat Venezuela mengembalikan produksi ke pasar,” ujar Woods.
Woods juga mengatakan kepada Trump bahwa Exxon membutuhkan perlindungan investasi jangka panjang, serta reformasi terhadap undang-undang migas Venezuela.
“Kami sudah dua kali mengalami penyitaan aset di sana. Jadi, bisa dibayangkan bahwa untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya, diperlukan perubahan yang sangat besar dibandingkan dengan pengalaman kami di masa lalu dan kondisi saat ini,” kata Woods.
Sementara itu, Vice Chairman Chevron Mark Nelson menyoroti sejarah 100 tahun Chevron di Venezuela serta posisinya saat ini sebagai satu-satunya perusahaan minyak besar asal AS yang masih beroperasi di negara tersebut. Dia mengatakan, Chevron siap meningkatkan lifting minyak dari perusahaan patungannya dengan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, hingga 100% secepatnya.
“Kami juga mampu meningkatkan produksi kami dalam skema investasi yang terencana dengan baik sebesar sekitar 50% hanya dalam 18 hingga 24 bulan ke depan,” kata Nelson.
Selama puluhan tahun, Exxon, ConocoPhillips, dan Chevron merupakan mitra utama dari PDVSA, berkontribusi pada pengembangan produksi di Orinoco Belt, yang kini menjadi wilayah minyak utama Venezuela.
Namun, pemerintahan mendiang Presiden Hugo Chavez menasionalisasi aset-aset raksasa migas AS tersebut antara 2004 hingga 2007. Sementara Chevron berhasil menegosiasikan kesepakatan kemitraan dengan PDVSA, ConocoPhillips dan Exxon meninggalkan Venezuela dan segera mengajukan gugatan arbitrase besar.
Saat ini, Venezuela secara kolektif berutang lebih dari US$13 miliar kepada ConocoPhillips dan Exxon atas pengambilalihan aset tersebut. Conoco telah berupaya menyita aset-aset PDVSA di luar negeri dan turut serta dalam lelang di Delaware atas induk perusahaan Citgo Petroleum milik Venezuela guna memulihkan sebagian dana tersebut.
CEO ConocoPhillips Ryan Lance, yang juga menghadiri pertemuan di Gedung Putih, mengatakan bahwa PDVSA mungkin perlu direstrukturisasi jika perusahaannya mempertimbangkan kemungkinan kembali ke Venezuela.
Ia menambahkan bahwa bank-bank, termasuk Exim Bank, perlu dilibatkan dalam setiap pembahasan untuk menyediakan pembiayaan serta miliaran dolar yang dibutuhkan guna memperbaiki infrastruktur energi.
Lance juga menyampaikan kepada Trump bahwa ConocoPhillips merupakan salah satu kreditur non-negara terbesar Venezuela.
“Anda akan mendapatkan kembali banyak uang Anda,” kata Trump kepada Lance, seraya menambahkan bahwa ia membayangkan untuk memulai dengan “titik awal yang seimbang” tanpa melihat kerugian yang dialami di masa lalu.
