Cegah Penularan Campak, Kemenkes Gencarkan Imunisasi Anak di Pengungsian Sumatera

Cegah Penularan Campak, Kemenkes Gencarkan Imunisasi Anak di Pengungsian Sumatera

SUMATERA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat pelaksanaan imunisasi campak di sejumlah wilayah terdampak bencana di Pulau Sumatera sejak awal pekan ini. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan penyakit menular, khususnya pada anak-anak yang tinggal di lokasi pengungsian.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Rabu, 7 Januari menjelaskan hasil pemantauan kesehatan di lapangan menunjukkan sejumlah penyakit yang paling banyak dialami pengungsi, di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare. Untuk menangani kondisi tersebut, Kemenkes telah menyalurkan obat-obatan sesuai kebutuhan daerah terdampak.

“Penyakit menular yang kami awasi secara ketat adalah campak. Penyakit ini memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan COVID-19 dari sisi reproduction rate, campak termasuk yang paling mudah menular,” ujar Budi.

Ia menambahkan, potensi penularan campak teridentifikasi di lima kabupaten. Menindaklanjuti temuan tersebut, Kemenkes langsung menjalankan program imunisasi khusus bagi anak-anak di wilayah tersebut sejak Senin (6/1). “Program imunisasi ini sudah berjalan di daerah-daerah yang kami identifikasi memiliki risiko atau kasus campak,” katanya.

Selain campak, Kemenkes juga mencermati potensi munculnya penyakit menular lain seperti tuberkulosis (TBC) dan leptospirosis di kawasan pengungsian. Menurut Budi, pemberian imunisasi menjadi langkah penting untuk melindungi anak-anak dari risiko penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.

Dalam kesempatan yang sama, Menkes menyampaikan bahwa sekitar 4.000 relawan telah dikerahkan ke berbagai daerah terdampak bencana di Sumatera. Para relawan tersebut terdiri dari tenaga kesehatan yang bertugas menangani tidak hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental para penyintas.

Budi mencontohkan, sejumlah tenaga kesehatan dan psikolog mengadakan aktivitas bermain bersama anak-anak di pengungsian. “Setiap kali pengiriman, kami sertakan sekitar 30 hingga 35 psikolog klinis. Tugas mereka adalah mendampingi, bercerita, menghibur, dan membantu anak-anak agar tetap ceria, karena dampak bencana tidak selalu terlihat secara fisik,” ujarnya.