Category: Tribunnews.com Kesehatan

  • Cegah Penularan HIV Dokter Sarankan Hindari Seks Bebas dan Penggunaan Jarum Suntik Bekas – Halaman all

    Cegah Penularan HIV Dokter Sarankan Hindari Seks Bebas dan Penggunaan Jarum Suntik Bekas – Halaman all

    Mencegah penularan HIV dengan tidak menggunakan jarum suntik bersama-sama dengan orang lain.

    Tayang: Selasa, 3 Desember 2024 22:26 WIB

    iStockphoto

    Kenali gejala hiv 

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –  Dokter spesialis penyakit dalam dr. Ahmad Akbar, Sp. PD mengimbau masyarakat menghindari aktivitas seks bebas guna mencegah penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Ia mengajak masyarakat untuk melakukan aktivitas seksual yang aman.

    Selanjutnya mencegah penularan HIV dengan tidak menggunakan jarum suntik bersama-sama dengan orang lain.  Penyebaran HIV juga bisa terjadi pada pengguna narkoba yang menggunakan jarum secara bergantian.

    Keempat, mengedukasi para ibu hamil untuk melakukan skrining status HIV.​ Sehingga sebelum melahirkan, ibu yang telah diketahui positif HIV bisa melakukan upaya pencegahan penularan pada bayi.

    “Jadi itu menjadi langkah penjagaan juga untuk ibu-ibu dan ke anaknya,” ujar dr Ahmad dalam pernyataannya, Selasa(3/12/2024).

    Terakhir, dr Ahmad juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup yang sehat.

    “Pola hidup sehat dan juga hindari aktivitas seksual yang bebas. Begitu juga dengan pergantian jarum suntik secara bebas,” tutupnya.

    “);
    $(“#latestul”).append(“”);
    $(“.loading”).show();
    var newlast = getLast;
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest_section/?callback=?”, {start: newlast,section:’61’,img:’thumb2′}, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast + 1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;
    if(val.c_url) cat = “”+val.c_title+””;
    else cat=””;

    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }
    else{
    $(“#latestul”).append(‘Tampilkan lainnya’);
    $(“#test3”).val(“Done”);
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    else if (getLast > 150) {
    if ($(“#ltldmr”).length == 0){
    $(“#latestul”).append(‘Tampilkan lainnya’);
    }
    }
    }
    });
    });

    function loadmore(){
    if ($(“#ltldmr”).length > 0) $(“#ltldmr”).remove();
    var getLast = parseInt($(“#latestul > li:last-child”).attr(“data-sort”));
    $(“#latestul”).append(“”);
    $(“.loading”).show();
    var newlast = getLast ;
    if($(“#test3”).val() == ‘Done’){
    newlast=0;
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest”, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast + 1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;
    if(val.c_url) cat = “”+val.c_title+””;
    else cat=””;
    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }else{
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    else{
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest_section/?callback=?”, {start: newlast,section:sectionid,img:’thumb2′,total:’40’}, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast+1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;

    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }else{
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    }

    Berita Terkini

  • Dokter Sarankan Lakukan Tes HIV Bagi Pasangan yang Ingin Menikah – Halaman all

    Dokter Sarankan Lakukan Tes HIV Bagi Pasangan yang Ingin Menikah – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-  Untuk mencegah penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada kelompok keluarga, dokter spesialis penyakit dalam dr. Ahmad Akbar, Sp. PD sarankan pada pasangan yang akan menikah lakukan tes HIV. 

    “Jadi memang penting sekali kita melakukan skrining pernikahan. Skrining pernikahan memang untuk baik untuk kesehatan aktivitas seksual pasangan. Dan juga bagus untuk kesehatan nanti keturunannya,” ungkapnya pada siaran sehat yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan secara virtual, Selasa (3/12/2024).

    Salah satu skrining yang dianjurkan sebelum melangsung pernikahan, kata dr Ahmad adalah deteksi HIV. 

    Walau pun begitu, masyarakat tetap disarankan untuk tetap melakukan skrining meski belum menikah. 

    Dengan melakukan skrining, penularan dapat dicegah. 

    Khususnya pada tim medis yang kerap kali alami kontak erat dengan pasien saat melakukan penanganan pengobatan. 

    “Mungkin pada tim medis sering beresiko tinggi tertular, karena resiko kecelakaan medis. Misalnya (terkena) jarum suntik pada pasien,” imbuhnya. 

    Selain itu, ia pun mengingatkan pada kelompok berisiko untuk melakukan skrining HIV. 

    Misalnya, pada orang yang melakukan aktivitas seksual yang tidak aman atau bergonta-ganti pasangan. 

    “Sebaiknya untuk berkala, mengecek status HIV. Misalnya bisa 4 – 6 bulan sekali untuk mengetahui status HIV kita,” imbaunya. 
     

  • Kepala BPOM Taruna Ikrar: Ingat! Antibiotik Bukan Obat Segala Penyakit – Halaman all

    Kepala BPOM Taruna Ikrar: Ingat! Antibiotik Bukan Obat Segala Penyakit – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA– Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ingatkan jika antibiotik bukan obat segala penyakit. 

    “Ingat! Antibiotik bukan obat segala penyakit,” tegasnya dilansir dari website resmi BPOM, Selasa (3/12/2024). 

    Kalimat tersebut disampaikan oleh  Kepala BPOM Taruna Ikrar pada acara Semarak Aksi Nyata Pengendalian Resistensi Antimikroba.

    Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari momen World AMR Awareness Week (WAAW) tahun 2024.

    Taruna Ikrar menjelaskan bahwa AMR (antimicrobial resistance/resistensi antimikroba) telah menjadi isu kesehatan global. 

    Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengidentifikasi AMR sebagai salah satu dari 10 ancaman terbesar kesehatan masyarakat. 

    Bahkan data WHO menunjukkan bahwa AMR secara langsung bertanggung jawab atas 1,27 juta kematian dan berkontribusi terhadap 4,95 juta angka kematian pada tahun 2019. 

    “Ini adalah silent pandemic jika terus dibiarkan, 10 juta kematian akibat AMR diprediksi akan terjadi pada 2050,” jelas Taruna Ikrar.

    Hasil pengawasan BPOM menunjukkan masih cukup tingginya penyerahan antibiotik di sarana pelayanan kefarmasian (apotek) secara bebas kepada masyarakat dan pihak lain. 

    Apotek yang melakukan penyerahan antimikroba, khususnya antibiotik, tanpa resep dokter berturut-turut dari 2021 hingga 2023 adalah 79,57 persen, 75,49 persen dan 70,75 persen. 

    Meskipun data menunjukkan tren penurunan, pihaknya tetap perlu waspada karena rata-rata nasional penyerahan antibiotik tanpa resep dokter masih terbilang tinggi. 

    Taruna Ikrar juga memaparkan beberapa faktor penyebabnya.

    Seperti masih tingginya demand masyarakat dan rendahnya kewaspadaan masyarakat mengenai antibiotik dan risiko kesehatan dari AMR. 

    Kondisi ini diperparah dengan masih rendahnya kepatuhan tenaga kesehatan.

    Baik dalam pemberian resep antibiotik secara rasional maupun pengelolaan antibiotik yang sesuai dengan ketentuan. 

    Selain itu, tingkat kehadiran apoteker di apotek bervariasi di setiap daerah.

    Rata-rata nasional, hanya 52,32 persen apoteker hadir di apotek

  • Cegah Penularan HIV Dokter Sarankan Hindari Seks Bebas dan Penggunaan Jarum Suntik Bekas – Halaman all

    HIV Masih Dianggap Aib, Dokter: Hindari Penyakitnya, Bukan Orangnya  – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Masyarakat Indonesia masih menganggap terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah aib yang harus dirahasiakan rapat-rapat. 

    Sebagian masyarakat juga memandang orang yang terkena penyakit HIV pantas dikutuk. Sehingga tidak jarang pasien HIV kerap mengalami diskriminasi.

    Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis penyakit dalam dr Ahmad Akbar Sp PD.

    “Beberapa masyarakat masih menganggap ini adalah suatu aib yang besar. Bahkan beberapa daerah mungkin membuat ini jadi sebuah kutukan. Mendiskriminasi dan membuat pasien-pasien HIV semakin tertekan,” ungkapnya pada siaran sehat yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan secara virtual, Selasa (3/12/2024).

    Padahal stigma ini lah, kata dr Ahmad yang dapat membuat pasien HIV sulit mendapatkan pengobatan yang tepat. 

    Belum lagi risiko depresi yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien. 

    Oleh karena itu, dr Ahmad mengimbau pada masyarakat untuk menaruh empati dan melakukan pendekatan secara hak asasi manusia kepada pasien HIV. 

    Mereka yang terinfeksi HIV ini juga memiliki hak asasi manusia untuk hidup bersama.

    “Jadi kesetaraan bersama, sehat bersama, walaupun dia dengan status HIV yang positif. Hal-hal ini yang harus kita terus edukasi terhadap pasien, keluarga pasien ataupun masyarakat luas,” imbaunya. 

    Dr Ahmad mengajak setiap warga untuk tidak menghakimi atau mendiskriminasikan pasien HIV. 

    Selain itu, penting juga bagi masyarakat untuk mengerti tentang HIV.

    Seperti bagaimana cara penularan penyakit ini dan upaya bersosialisasi terhadap pasien HIV sehingga orang dengan HIV bisa hidup berdampingan bersama masyarakat tanpa rasa takut. 

    Dengan begitu, kualitas hidup pasien bisa terjaga, dan dapat hidup normal dan beraktivitas seperti orang sehat. 

    “Yang perlu kita hindari adalah penyakitnya, bukan orangnya,” tutupnya. 

  • Radang Sendi Pada Lutut Bikin Ngilu, Nyeri Tak Kunjung Hilang, Apa Solusinya? – Halaman all

    Radang Sendi Pada Lutut Bikin Ngilu, Nyeri Tak Kunjung Hilang, Apa Solusinya? – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Osteoartritis (OA) atau radang sendi yang dirasakan pada lutut merupakan salah satu kondisi yang sering menganggu aktivitas sehari-hari, terutama pada pasien lanjut usia. 

    Saat gejala seperti nyeri kronis, keterbatasan gerakan, dan penurunan kualitas hidup tidak dapat lagi diatasi dengan pengobatan konservatif.

    Total Knee Replacement (TKR) atau penggantian sendi lutut total dapat menjadi solusi yang efektif. 

    Prof. Dr. dr. Andri Lubis, Sp.OT (K), dokter spesialis ortopedi RS Siloam Mampang, menguraikan secara mendalam tentang prosedur ini serta berbagai hal yang perlu diperhatikan oleh pasien yang akan menjalani operasi TKR.

    Apa Itu Total Knee Replacement (TKR)?

    Total Knee Replacement (TKR) adalah prosedur bedah di mana sendi lutut yang rusak akibat osteoartritis digantikan dengan protesa atau implan buatan. 

    Tujuan utama dari prosedur ini adalah untuk mengurangi rasa sakit akibat kerusakan sendi dan meningkatkan fungsi lutut, sehingga pasien dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari. 

    Prosedur ini sering direkomendasikan ketika pengobatan konservatif seperti obat-obatan, fisioterapi, atau injeksi, sudah tidak lagi memberikan hasil yang efektif.

    Prof. Dr. dr. Andri Lubis, Sp.OT (K), dokter spesialis ortopedi RS Siloam Mampang, menguraikan secara mendalam tentang prosedur ini serta berbagai hal yang perlu diperhatikan oleh pasien yang akan menjalani operasi TKR.

    Prof. Andri Lubis menjelaskan, TKR merupakan opsi terakhir bagi pasien osteoartritis yang gejalanya sudah parah dan tidak dapat lagi diatasi dengan obat-obatan atau terapi fisik.

    Prosedur ini terutama disarankan bagi pasien di atas usia 65 tahun, karena mereka sering kali mengalami penurunan kualitas hidup yang signifikan akibat nyeri lutut kronis. 

    Pada pasien yang lebih muda, TKR sering dianggap sebagai pilihan terakhir mengingat risiko kegagalan implan dalam jangka panjang, yang dapat mengharuskan prosedur penggantian ulang.

    Kapan TKR Menjadi Pilihan Bagi Pasien

    Meskipun TKR terbukti sangat efektif, prosedur ini umumnya dilakukan hanya pada pasien dengan gejala osteoartritis yang sudah sangat parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. 

    Biasanya, pasien yang mengalami nyeri kronis yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan serta gangguan gerakan yang signifikan menjadi kandidat utama untuk menjalani prosedur ini. 

    TKR juga sangat direkomendasikan bagi pasien yang kualitas hidupnya telah menurun drastis, dan berbagai terapi konservatif tidak lagi memberikan hasil yang memadai.

    Namun, Prof. Andri Lubis menekankan bahwa pada pasien yang lebih muda, yakni di bawah 65 tahun, TKR bukanlah pilihan pertama. 

    ”Pada pasien di bawah usia 65 tahun, TKR adalah pilihan terakhir, mengingat risiko jangka panjang dan kemungkinan perlu dilakukan prosedur ulang setelah beberapa tahun,” jelasnya. 

    Pasien yang lebih muda memiliki harapan hidup yang lebih panjang, sehingga implan lutut yang dipasang melalui TKR mungkin perlu diganti lebih awal.

     Oleh karena itu, pendekatan non-bedah atau prosedur alternatif seringkali dicoba terlebih dahulu pada kelompok usia ini.

    Keuntungan dari TKR 

    Salah satu keuntungan utama dari Total Knee Replacement adalah peningkatan kualitas hidup pasien setelah prosedur ini. 

    Pasien yang sebelumnya kesulitan berjalan, beraktivitas, bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga, sering kali melaporkan perbaikan signifikan setelah operasi. TKR membantu mengurangi rasa sakit yang hebat dan memberi pasien kesempatan untuk bergerak lebih bebas, bahkan kembali berolahraga atau menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

    Prof. Andri Lubis menjelaskan, setelah operasi, sebagian besar pasien melaporkan penurunan rasa sakit, serta kemampuan untuk kembali melakukan aktivitas yang sebelumnya tidak bisa dilakukan karena rasa sakit.

    Keuntungan lainnya adalah peningkatan fungsi lutut, yang memungkinkan pasien kembali bekerja dan berinteraksi sosial tanpa rasa sakit yang menganggu. Meskipun pemulihan membutuhkan waktu dan fisioterapi intensif, sebagian besar pasien merasa puas dengan hasilnya dalam jangka panjang.

     

    Anestesi dalam Prosedur TKR

    Salah satu elemen penting yang harus dipertimbangkan dalam prosedur TKR adalah jenis anestesi yang digunakan. 

    Anestesi spinal atau epidural sering dipilih karena kemampuannya untuk memberikan kenyamanan lebih bagi pasien selama dan setelah operasi. 

    Jenis anestesi ini memungkinkan pasien tetap sadar selama prosedur namun tanpa merasakan nyeri, sementara obat-obatan penghilang rasa sakit terus disalurkan ke tubuh secara berkelanjutan.

    ”Anestesi spinal epidural memastikan obat-obatan dapat terus masuk ke tubuh secara berkelanjutan, yang membantu mengurangi rasa sakit pascaoperasi dan meningkatkan kenyamanan pasien,” jelas Prof. Andri Lubis. 

    Pendekatan anestesi ini sangat menguntungkan bagi pasien yang khawatir dengan rasa sakit setelah operasi. Selain itu, menggunakan anestesi jenis ini mengurangi risiko komplikasi terkait anestesi umum, seperti gangguan pernapasan.

    Risiko dan Pencegahan

    Setiap prosedur bedah, termasuk TKR, tentu membawa risiko. Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah infeksi dan masalah terkait pembekuan darah, seperti Deep Vein Thrombosis (DVT) dan emboli paru. 

    Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa ruang operasi dalam kondisi steril dan bahwa pasien mengikuti protokol pencegahan yang ketat.

    Untuk meminimalkan risiko infeksi dan komplikasi lainnya, pasien harus menjaga kebersihan dengan seksama sebelum operasi. Selain itu, pemantauan pascaoperasi yang ketat juga diperlukan untuk mengurangi kemungkinan pembekuan darah. 

    ”Kami berupaya meminimalkan risiko tersebut dengan berbagai langkah pencegahan yang ketat, baik selama prosedur maupun setelahnya,” tambah Prof. Andri Lubis.

    Peran Fisioterapi dalam Pemulihan

    Pemulihan setelah TKR sangat bergantung pada fisioterapi yang dilakukan selama beberapa bulan pertamapasca operasi.

    Fisioterapi bertujuan untuk mengembalikan kekuatan otot dan mobilitas lutut yang telah terganggu akibat osteoartritis atau prosedur itu sendiri. Pemulihan yang cepat dan efektif sangat bergantung pada komitmen pasien untuk mengikuti program rehabilitasi.

    Menurut Prof. Andri Lubis, fisioterapi pada bulan pertama sangat penting untuk mempercepat pemulihan. Rata-rata, pasien membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk kembali ke aktivitas normal.

    “Fisioterapi pascaoperasi juga mencakup latihan untuk memperkuat otot-otot sekitar lutut dan meningkatkan kelenturan sendi, sehingga pasien dapat kembali bergerak dengan lebih lancar dan tanpa rasa sakit” katanya.

    Pengaruh Berat Badan dan Aktivitas Fisik

    Kerusakan sendi lutut akibat osteoartritis dapat diperburuk oleh faktor eksternal seperti kelebihan berat badan dan aktivitas fisik yang memberikan dampak tinggi pada lutut. 

    Oleh karena itu, menjaga berat badan yang sehat sangat penting untuk memperlambat perkembangan osteoartritis serta mencegah kerusakan lebih lanjut pada sendi lutut. Aktivitas fisik yang berisiko tinggi, seperti olahraga dengan dampak tinggi, juga dapat memperburuk kondisi lutut.

    ”Kerusakan pada sendi lutut sering kali dipercepat oleh kelebihan berat badan  atau aktivitas yang memberikan tekanan  tinggi pada lutut. Oleh karena itu, pengelolaan berat badan sangat penting dalam pencegahan osteoartritis,” jelas Prof. Andri Lubis. Menghindari kegiatan yang memberi beban berlebih pada lutut, serta menjaga berat badan ideal, adalah langkah-langkah preventif yang sangat disarankan bagi pasien yang ingin mengurangi risiko osteoartritis.

    Total Knee Replacement (TKR) adalah solusi yang efektif untuk pasien dengan osteoartritis lutut yang gejalanya sudah mengganggu kualitas hidup secara signifikan. Meskipun prosedur ini membawa risiko, dengan persiapan yang matang, pemantauan pascaoperasi yang hati-hati, dan rehabilitasi yang tepat, TKR dapat memberikan perbaikan yang signifikan dalam kualitas hidup pasien. 

    ”Keberhasilan TKR tidak hanya tergantung pada prosedur bedah itu sendiri, tetapi juga pada pemulihan dan komitmen pasien untuk menjaga kebersihan, berat badan yang sehat, serta menjalani fisioterapi,” tutup Prof. Andri Lubis.

    Dengan pemahaman yang baik tentang proses, manfaat, dan risiko dari TKR, pasien dapat membuat keputusan yang lebih informasional untuk menjalani prosedur ini sebagai langkah terakhir untuk mengatasi osteoartritis lutut.

  • Pemberian Nutrisi Optimal Jadi  Solusi Masalah Imunitas, Alergi, dan Pertumbuhan Anak – Halaman all

    Pemberian Nutrisi Optimal Jadi  Solusi Masalah Imunitas, Alergi, dan Pertumbuhan Anak – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com Eko Sutriyanto 

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –  Riset kesehatan dasar 2018 dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan prevalensi persalinan dengan metode c-section (operasi cesar) dalam skala nasional meningkat dari 17,6 persen tahun 2018 menjadi 25,9 persen pada tahun 2023.

    Persalinan caesar dikaitkan memberikan pengaruh gangguan komposisi mikrobiota usus pada bayi yang berpotensi memengaruhi kesehatan jangka panjang.

    Pasalnya,  bayi yang lahir secara normal (vaginal) akan memiliki paparan mikroorganisme yang berbeda dengan bayi yang lahir melalui operasi caesar.

    Mikrobiota usus bayi yang lahir caesar cenderung kurang beragam dan didominasi oleh bakteri yang kurang menguntungkan yang berisiko mengganggu keseimbangan bakteri di dalam usus (disbiosis) pada anak dan kesehatan anak di kemudian hari.

    Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Prof. Dr. dr. Anang Endaryanto, Sp.A(K) mengatakan, kondisi disbiosis dapat meningkatkan risiko bayi mengalami berbagai masalah alergi (seperti pilek, batuk kronik berulang, dan asma) dan gangguan imunitas tubuh (seperti infeksi, autoimun, dan penyakit inflamasi).

    “Sementara saat bayi lahir secara normal, akan terpapar mikroorganisme yang ada di jalan lahir dan saluran cerna ibunya dan paparan bakteri ini membantu membentuk mikrobiota usus bayi yang sehat dan beragam, didominasi oleh bakteri baik seperti Bifidobacterium dan Bacteroides,” kata Anang saat dalam sesi pertemuan ilmiah Expert Scientific Lecture yang diadakan di Pusat Riset dan Inovasi Global Danone, beberapa hari lalu di Utrecht, Belanda.

    Dikatakannya, mikrobiota usus yang sehat ini akan mendukung perkembangan sistem kekebalan tubuh bayi yang protektif dan seimbang, sehingga tubuh lebih tahan terhadap penyakit infeksi, kanker, alergi, dan autoimun, serta mendukung pertumbuhan yang optimal.

    “Dampak penting pasca operasi cesar adalah tantangan kesehatan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak seperti alergi. Alergi makanan berpotensi mempengaruhi status nutrisi dan pertumbuhan,” katanya.

    Salah satu contohnya adalah isu alergi susu sapi pada anak, yang mana kasus ini mencapai 0,5-7,5 persen per tahun dari jumlah kelahiran bayi di Indonesia. Alergi susu sapi (ASS) yang dimediasi IgE sering terjadi pada masa anak, mempengaruhi sekitar 1,9-4,9 persen anak di seluruh dunia.

    “Alergi protein susu sapi yang dimediasi IgE merupakan salah satu alergi makanan yang paling umum terjadi pada anak usia dini dan penatalaksaan anak dengan alergi protein susu sapi yang terpenting adalah dengan menghindari alergen yaitu protein susu sapi dan memberikan penggantinya,” katanya.

    Para ibu yang menyusui juga disarankan menghindari konsumsi protein susu sapi dan turunannya.

    Faktor risiko terjadinya alergi protein susu sapi meliputi kelahiran prematur, alergi makanan pada ibu, pemberian antibiotik selama kehamilan, dan pengenalan makanan pendamping saat anak berusia kurang dari 4 bulan serta kelahiran melalui operasi caesar.

    Sebagian besar dokter anak di Indonesia sudah cukup memahami alergi susu sapi dan rekomendasi yang disusun IDAI. Namun, upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keakuratan dalam diagnosis alergi susu sapi akan terus dilakukan.

    Untuk meminimalisir dampak alergi ini, pedoman European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN) merekomendasikan eHF berbasis protein susu sapi sebagai pengobatan lini pertama untuk anak-anak dengan kondisi alergi protein susu sapi.

    Bagi anak yang memiliki alergi susu sapi seperti ini, direkomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter dalam memberikan formula pengganti berupa formula protein susu sapi yang terhidrolisis ekstensif (eHF), formula asam amino (AAF), atau formula isolat protein soya atau kedelai (SIF).

    Masalah yang tidak optimal juga merupakan isu penting karena dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang. Masalah pertumbuhan terbanyak di Indonesia adalah stunting, yaitu panjang/tinggi badan kurang dari -2 SD (Standar Deviasi) grafik WHO14 yang disebabkan oleh malnutrisi kronik.

    Masalah gizi lainnya adalah weight faltering, gizi kurang, dan gizi buruk. Semua masalah gizi tersebut akan menyebabkan dampak jangka pendek, yatu menurunnya imunitas dan dampak jangka panjang, yaitu risiko sindrom metabolik dan gangguan perkembangan kognitif.

    “Oleh karena itu penting untuk mencegah stunting dengan cara mendeteksi weight faltering/berat badan kurang dan tata laksana segera,” kata Anang.

    Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/1928/2022 Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Stunting, maka pencegahan stunting dimulai dari tingkat Posyandu, yaitu dengan pemberian makanan yang mengandung protein hewani yang cukup.

    Penelitian di 54 negara berkembang pada tahun 2001 menunjukkan bahwa weight faltering dan length deceleration (kenaikan panjang yang tidak adekuat) banyak terjadi pada masa pemberian MPASI.

    Anak  yang telah mengalami weight faltering, berat badan kurang, atau gizi kurang harus ditangani di Puskesmas oleh dokter umum. 

    “Pada anak tersebut, dibutuhkan pemberian makanan terapeutik, misalnya susu formula pertumbuhan. Anak yang telah mengalami stunting harus dirujuk ke Rumah Sakit untuk ditangani dokter anak segera, karena penatalaksanaan stunting memberikan hasil terbaik bila dilakukan sebelum usia 2 tahun,” katanya.

    Terapi untuk anak yang mengalami stunting meliputi pemberian makanan yang mengandung kalori, protein hewani, dan mikroutrien cukup serta pangan keperluan medis khusus (PKMK). Namun, penting untuk diperhatikan bahwa pemberian PKMK harus diresepkan oleh dokter anak karena dosis harus dihitung sesuai dengan kondisi klinis pasien.

    Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik, dr. Klara Yuliarti, Sp.A(K) mengatakan, tata laksana stunting yang dilakukan dokter spesialis anak berupa asuhan nutrisi pediatrik, yang terdiri dari 5 langkah, yaitu penilaian adakah penyakit medis dan status gizi, penentuan kebutuhan /kalori dan protein, penentuan rute pemberian nutrisi, pemilihan jenis nutrisi (makanan padat dan PKMK), serta pemantauan dan evaluasi.

    Terapi stunting membutuhkan asupan kalori yang cukup dengan protein energy ratio (PER) 10-15 persen. Pemilihan PKMK didasarkan pada kebutuhan pasien, densitas energi, protein-energy ratio, persyaratan kandungan sukrosa, dan palatabilitas.

    Persayaratan komposisi PKMK diatur dalam Perka BPOM No. 24 tahun 2020 tentang perbaikan ke-2 Perka No.1 tahun 2018 tentang PKMK. Densitas energi pada PKMK untuk dukungan nutrisi (disebut juga oral nutrition supplement, ONS) minimal 0,9 kkal/mL.

    “Berdasarkan densitas energi, ONS dikategorikan menjadi ONS energi tinggi (1.5 kkal/mL atau lebih) dan ONS energi standar,” kata Klara.

    Healthcare Nutrition Director Danone SN Indonesia, dr. Ashari Fitriyansyah mengatakan, pihaknya mengajak Healthcare Professional Tanah Air untuk bertukar pikiran dan berdiskusi secara aktif melalui forum scientific yang membahas berbagai topik terkait isu kesehatan serta nutrisi anak.

    “Diantaranya mengenai dampak kelahiran pasca c-section, hubungan imunitas serta alergi dan gangguan pertumbuhan, stunting dan malnutrisi serta anemia defisiensi besi,” katanya.

  • Bayi Prematur Berisiko Terkena Infeksi Virus RSV, Penyebab Bronkiolitis dan Pneumonia – Halaman all

    Bayi Prematur Berisiko Terkena Infeksi Virus RSV, Penyebab Bronkiolitis dan Pneumonia – Halaman all

    Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

    TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA –– Dokter spesialis anak Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, SpA(K), Konsultan Neonatologi menekankan pentingnya perawatan khusus bagi bayi prematur.

    Bayi prematur sangat berisiko tinggi terkena berbagai infeksi.

    “Perawatan bayi prematur harus dilakukan dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan orang tua dan tim medis untuk mengurangi risiko komplikasi serius,” kata Prof. Dr. dr. Rinawati dalam peringatan Hari Prematur Sedunia  2024 yang ditulis Rabu (4/12/2024).

    Infeksti tersebut diantaranya adalah RSV (respiratory syncytial virus).

    RSV adalah virus pernapasan umum yang dapat menyebabkan bronkiolitis dan pneumonia, dua kondisi serius yang sering terjadi pada bayi dengan risiko tinggi terutama di bawah usia satu tahun.

    RSV menyebabkan berbagai gejala mulai dari gejala ringan seperti flu hingga gangguan pernafasan yang lebih parah, terutama pada populasi rentan seperti bayi, anak kecil, dan orang dewasa lanjut usia.

    Infeksi RSV dapat mengakibatkan gejala yang parah dan bahkan berpotensi fatal, terutama pada bayi prematur yang lahir sebelum minggu ke-29 kehamilan.

    Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan tenaga kesehatan untuk waspada terhadap tanda-tanda infeksi RSV dan segera mencari perawatan medis jika diperlukan.

    Bayi prematur juga memiliki kemungkinan dua kali lebih tinggi untuk mengalami rawat inap terkait RSV dalam tahun pertama kehidupan dibandingkan dengan bayi berisiko rendah.

    Bayi prematur  cenderung mengalami masa rawat inap yang lebih lama, membutuhkan oksigen tambahan, membutuhkan perawatan intensif (ICU), memerlukan pemasangan ventilasi mekanik hingga terapi cairan parenteral (cairan langsung melalui infus)

    “Konsekuensi infeksi RSV pada bayi prematur terjadi karena belum optimalnya antibodi IgG yang dialirkan ibu ke janin pada bulan-bulan terakhir kehamilan,” tuturnya.

    Sehingga bayi prematur memiliki tingkat antibodi yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang lahir aterm atau cukup bulan.

    Selain itu infeksi RSV juga dapat mengakibatkan berkurangnya transfer oksigen.

    Hal tersebut dapat memperburuk kemampuan difusi dan perfusi oksigen yang sudah terganggu pada bayi dengan Bronkopulmoner displasia yang berhubungan dengan kelahiran prematur  (BPD) atau penyakit jantung bawaan (Congenital Heart Disease).

    Prof Rina mengingatkan, minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat Indonesia tentang bahaya penyakit yang disebabkan oleh RSV.

    Termasuk orang tua dengan anak yang berisiko tinggi terhadap RSV dimana infeksi RSV dan Pneumonia.

    “Penting bagi kita untuk memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur, memantau kesehatannya, termasuk menjaga mereka dari infeksi. Kedepannya, mereka harus bisa bersaing dengan anak lainnya sehingga kita perlu menjaga kualitas hidupnya, baik saat kini maupun nanti,” ujar dia.

    Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi kelahiran prematur di Indonesia mencapai 29,5 per 1.000 kelahiran hidup.

    Indonesia menduduki peringkat kelima tertinggi di dunia dengan sekitar 657.700 kasus kelahiran prematur per tahun.

    Merujuk pada kondisi tersebut AstraZeneca Indonesia bersama dengan Yayasan Premature Indonesia melakukan edukasi yang bertemakan Menjaga Kualitas Hidup Bayi Prematur: Kini dan Nanti.

    Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay mengatakan, pihaknya mendukung kesehatan masyarakat.

    Melalui kegiatan ini, pihaknya percaya bahwa edukasi mengenai bayi prematur serta infeksi RSV sangat penting, sehingga  dapat membantu meningkatkan kualitas hidup bayi prematur di Indonesia di masa mendatang.

  • 4 Faktor Risiko Munculnya Kanker Usus Besar, Salah Satunya Kurang Konsumsi Serat – Halaman all

    4 Faktor Risiko Munculnya Kanker Usus Besar, Salah Satunya Kurang Konsumsi Serat – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Daniel Rizky, Sp. PD, K-HOM ungkap yang menjadi faktor risiko munculnya kanker usus besar. 

    Kanker usus besar adalah salah satu jenis kanker yang menyerang usus besar, dan belum diketahui apa yang menjadi penyebab pasti.

    “Jadi kita nggak tahu nih kenapa tiba-tiba itu si sel yang tadinya normal, malah berubah sifat dia jadi ganas. Tapi beberapa penelitian mencoba mencari faktor resiko nih, kenapa sih bisa terjadi kanker usus besar?” Ungkapnya pada talkshow virtual yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, Rabu (4/12/2024). 

    Dari faktor resiko, diketahui paling baru 20-30 persen. 

    Pertama, faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap terjadinya kanker usus besar itu adalah genetik. 

    “Jadi adanya kelainan genetik atau. mutasi genetik. Namanya itu termasuk dalam spektrum penyakit Lynch syndrome. Jadi dia ada keturunan memang,” jelasnya. 

    Sindrom Lynch adalah kondisi genetik, yang berarti bahwa risiko kanker dapat diturunkan dari generasi ke generasi dalam sebuah keluarga

    Oleh karena itu, faktor keturunan juga memengaruhi munculnya kanker ini. 

    Misalnya, dari kakak, adik, ayah, ibu, tante, dan lainnya pernah mengalami kanker usus besar. 

    “Dia bisa saja lynch syndrome. Jadi Lynch syndrome ini, dari dia kelainan genetik ini, dia meningkatkan resiko terjadinya kanker usus besar sepanjang hidupnya itu sampai 80 persen,” jelasnya. 

    Kedua adalah faktor usia. Seiring dengan berjalannya waktu, usia seseorang bertambah dan semakin tua. 

    Semakin tua, maka semakin tinggi resiko kita terjadi kanker. Hal ini tidak hanya berlaku pada kanker usus besar, tapi juga untuk semua jenis kanker.

    Ketiga, faktor pola makan. Salah satu yang dapat menjadi faktor risiko adalah gemar mengonsumsi makanan ultra processed food (UPF).

    Ultra processed food adalah makanan yang telah diproses secara industri dengan menambahkan berbagai zat aditif.

    Seperti garam, gula, lemak, pengawet, dan pewarna makanan

    “Jarang mengonsumsi makanan mengandung serat juga bisa menjadi pemicu munculnya kanker usus besar.  Sosis, nugget, makanan yang beberapa kali diproses. Itu meningkatkan resiko terjadi kanker. Usus besar dan kanker yang lain,” papar dr Daniel. 

    Keempat, pola hidup yang tidak baik. Seperti punya berat badan berlebih, kurang melakukan aktivitas fisik, merokok dan mengonsumsi alkohol.

  • Kenapa Stroke Bisa Terjadi Berulang Kali, Begini Penjelasan Dokter – Halaman all

    Kenapa Stroke Bisa Terjadi Berulang Kali, Begini Penjelasan Dokter – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Penyakit stroke bisa terjadi berulang kali pada orang yang sama. 

    Misalnya seperti pak Tarno. Sosok yang dikenal dengan aksi sulapnya yang khas ini ternyata mengalami serangan stroke untuk ketiga kalinya.

    Lantas, apa yang menjadi penyebab penyakit stroke bisa terjadi bahkan sampai lebih dari satu kali?

    Dokter Spesialis Neurologi RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dr Sahat Aritonang, Sp. N, M.Si.Med, FINS pun beri penjelasan. 

    “Kenapa? Karena faktor resikonya tidak dikontrol,” ungkapnya pada diskusi media virtual, Jumat (6/12/2024). 

    Misalnya, terjadi stroke untuk pertama kali karena ada faktor risiko hipertensi dan kolesterol yang tinggi. 

    Kemudian dengan pengobatan yang bagus, gejala stroke tersebut hilang. 

    Namun, seiring dengan berjalannya waktu kadang pasien lupa bahwa obat hipertensi harus diminum setiap hari.  Begitu pula dengan obat kolesterol yang harus dikonsumsi secara rutin.

    Kondisi ini ditambah lagi dengan pasien yang mulai mengonsumsi makanan-makanan tidak sehat.

    “Sementara itu pasien tidak rutin melakukan pemeriksaan atau tidak rutin check up. Kadang-kadang faktor-faktor seperti ini, tensinya kembali tinggi lagi, kolesterolnya tinggi lagi,” imbuhnya. 

    Begitu faktor resiko tidak terkendali, maka kemungkinan terjadinya stroke berulang akan sangat besar sehingga pada penyakit stroke terdapat dua hal yaitu preventif primer dan preventif sekunder. 

    Preventif primer adalah pencegahan sebelum terjadinya stroke. 

    Jadi misalnya paken sudah ada hipertensi, kencing manis, ada kolesterol tinggi.

    Maka dilakukan pengendalian terhadap penyakit tersebut untuk mencegah terjadinya stroke. 

    Namun, pada pasien yang sudah pernah mengalami stroke, kaan dilakukan langkah preventif sekunder. 

    Langkah ini bertujuan supaya tidak terjadi stroke berulang. 

    “Yaitu dengan apa? Ya kembali, misalnya kalau dia punya hipertensi, harus dikontrol dengan benar. Kalau kolesterolnya tinggi harus diturunkan dengan baik. Dengan obat atau pun dengan olahraga,” tutupnya. 

  • Benarkah Soda Diet Lebih Baik Daripada Soda Biasa? Begini Penjelasannya  – Halaman all

    Benarkah Soda Diet Lebih Baik Daripada Soda Biasa? Begini Penjelasannya  – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA– Soda diet sering dianggap sebagai alternatif yang lebih sehat daripada soda biasa karena bebas gula. 

    Biasanya, soda diet menggunakan pengganti gula seperti aspartam, sehingga minuman ini bebas kalori dan gula tambahan.

    Namun, ternyata soda diet bukan tanpa risiko kesehatan. 

    Dilansir dari Health, penelitian menunjukkan bahwa minum soda diet secara teratur dapat meningkatkan risiko terkena diabetes dan kondisi kesehatan lainnya.

    Soda diet memiliki bahan-bahan yang mirip dengan soda biasa, tetapi gulanya diganti dengan pengganti gula. 

    Hasilnya, soda diet tidak mengandung kalori atau gula tambahan.\

    Pengganti gula yang paling umum dalam soda diet adalah aspartam , tetapi soda diet juga dapat mengandung kalium asesulfam, sukralosa, dan sakarin.

    Ini semua adalah pemanis yang disetujui FDA dan telah dipelajari secara ekstensif.

    Selain pemanis, bahan-bahan dalam soda biasa dan soda diet biasanya sama. 

    “Keduanya mengandung perisa dan aditif buatan yang sama. Soda diet bebas kalori karena gula merupakan sumber kalori utama dalam soda biasa,” tulis Health dilansir dari website, Jumat (6/12/2024). 

    Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa mengganti soda biasa dengan soda diet tetap dapat menimbulkan risiko yang sama terhadap timbulnya masalah kesehatan ini.

    Risiko Minuman Soda Diet

    Meskipun soda diet dapat membantu mengurangi tambahan gula dan asupan kalori, minuman ini tetap memiliki risiko kesehatan, beberapa di antaranya serupa dengan risiko soda biasa.

    1. Dapat Menyebabkan Kerusakan Gigi

    Mengganti soda biasa dengan soda diet dapat menurunkan asupan gula penyebab gigi berlubang. Taapi belum tentu melindungi kesehatan gigi secara keseluruhan.

    Soda diet masih bersifat asam, dan meminumnya secara teratur dapat menyebabkan erosi gigi seiring waktu. 

    Penelitian menunjukkan bahwa orang yang minum soda diet cenderung memiliki tingkat erosi gigi yang lebih tinggi daripada mereka yang lebih banyak minum air putih.

    Ilustrasi Es Soda Sirup (Sajian Sedap)

    2. Dapat Meningkatkan Risiko Diabetes

    Mengonsumsi terlalu banyak gula tambahan dikaitkan dengan risiko diabetes yang lebih tinggi.

    Itulah sebabnya sebagian orang memilih minuman bebas gula seperti soda diet daripada soda biasa. 

    Namun, penelitian menunjukkan soda diet juga dapat meningkatkan risiko diabetes.

    Sebuah penelitian menemukan bahwa peserta yang minum setidaknya satu porsi soda diet per minggu memiliki risiko diabetes sekitar 70 persen lebih besar daripada orang yang tidak minum soda diet.

    Studi lain menemukan bahwa orang yang minum soda biasa atau soda diet setiap hari memiliki risiko yang sama terkena diabetes.

    Penelitian menunjukkan pemanis buatan dapat memengaruhi risiko diabetes. 

    Aspartam dapat meningkatkan resistensi insulin dengan memengaruhi reseptor otak yang terkait dengan sensitivitas insulin. 

    Pemanis buatan juga dapat meningkatkan kortisol (hormon stres), mengganggu bakteri usus, dan menyebabkan stres oksidatif, yang semuanya dapat mempersulit pengelolaan diabetes.

    Pemanis buatan juga dapat mempersulit otak  untuk memahami hubungan antara tingkat kemanisan dan asupan kalori, yang dapat memengaruhi kualitas diet Anda secara keseluruhan.

    3. Dapat Meningkatkan Risiko Penyakit Ginjal

    Soda diet juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ginjal. 

    Sebuah penelitian menemukan bahwa semakin banyak soda diet yang Anda minum, semakin tinggi risiko terkena penyakit ginjal.

    Penelitian menunjukkan hal ini mungkin terkait dengan kandungan fosfor dalam soda diet (dan soda biasa). 

    Fosfor digunakan untuk menambah warna dan rasa pada soda. 

    Meskipun fosfor merupakan mineral penting yang membantu membangun tulang dan gigi yang kuat, mengonsumsi terlalu banyak fosfor dikaitkan dengan gangguan fungsi ginjal. 

    Penelitian lain belum menemukan hubungan ini, jadi diperlukan penelitian lebih lanjut.

    Orang dengan gangguan fungsi ginjal, seperti penderita penyakit ginjal kronis , perlu berhati-hati mengenai jumlah fosfor yang mereka konsumsi.

    4. Dapat Meningkatkan Tekanan Darah

    Beberapa penelitian telah mengaitkan asupan soda diet dengan tekanan darah tinggi (hipertensi), meskipun alasannya tidak jelas.

    Sebuah penelitian menemukan bahwa risiko hipertensi pada peserta meningkat sebesar 9 persen untuk setiap porsi soda diet yang mereka minum setiap hari.

    Dalam penelitian lain, risiko hipertensi sedikit lebih tinggi pada peminum soda diet dibandingkan dengan peminum soda biasa.

    Para peneliti belum memastikan bahwa soda diet secara langsung menyebabkan tekanan darah tinggi.

    Orang yang minum soda diet mungkin memilih untuk melakukannya karena masalah kesehatan yang ada terkait dengan tekanan darah tinggi, seperti penyakit jantung atau obesitas.