Category: Kompas.com Nasional

  • Natal di Tengah Dunia yang Rapuh

    Natal di Tengah Dunia yang Rapuh

    Natal di Tengah Dunia yang Rapuh
    Gabriel Abdi Susanto adalah seorang jurnalis, penulis, dan pemikir publik asal Indonesia yang aktif dalam bidang komunikasi, filsafat, dan spiritualitas. Ia merupakan alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, lulus pada tahun 2001 .
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    NATAL
    selalu datang membawa janji tentang terang dan harapan. Namun, Natal tahun ini hadir di tengah dunia yang terasa semakin rapuh.
    Bangsa ini sedang berduka. Bencana alam melanda berbagai wilayah Sumatera—banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan yang merenggut rumah, penghidupan, bahkan nyawa.
    Pada saat yang sama, dunia diliputi perang yang tak kunjung usai, krisis kemanusiaan, gejolak ekonomi global, dan ketegangan geopolitik yang membuat masa depan terasa semakin tak pasti.
    Dalam situasi seperti ini,
    Natal
    mudah terdengar sebagai bahasa iman yang terlalu indah, seolah terpisah dari kenyataan pahit yang dihadapi banyak orang setiap hari.
    Namun, justru di tengah dunia yang luka inilah pesan Natal menemukan daya kritis dan relevansinya yang paling mendalam.
    Pesan Natal KWI–PGI 2025 mengingatkan bahwa Natal bukan pelarian dari realitas, melainkan undangan untuk menghadapi kenyataan dengan keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab bersama (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
    Kabar kelahiran Kristus bukanlah kisah sentimental, melainkan peristiwa iman yang menyentuh persoalan paling konkret dalam hidup manusia: penderitaan, ketidakadilan, dan kerentanan.
    Bencana yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera tidak dapat dilihat semata-mata sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri. Ia adalah cermin dari krisis ekologis yang telah lama terabaikan.
    Deforestasi, alih fungsi lahan tak terkendali, lemahnya penegakan hukum lingkungan, dan kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam telah memperbesar dampak bencana.
    Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, yang runtuh bukan hanya tanah dan rumah warga, tetapi juga sistem perlindungan sosial dan ekologis yang seharusnya menjaga kehidupan.
    Korban bencana sering kali berasal dari kelompok yang paling rentan: keluarga miskin, petani kecil, masyarakat adat, perempuan, anak-anak, dan lansia. Mereka kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupan, dan rasa aman dalam waktu yang bersamaan.
    Natal berbicara tentang Allah yang memilih hadir di dunia yang rapuh. Yesus lahir bukan di pusat kekuasaan, melainkan di tempat yang sederhana dan rentan.
    Kisah ini menegaskan bahwa iman Kristen tidak pernah berakar pada kenyamanan, melainkan pada keberpihakan kepada kehidupan yang terancam.
    Pesan Natal KWI–PGI secara tegas mengaitkan iman dengan tanggung jawab merawat ciptaan dan melindungi kehidupan bersama (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
    Situasi global hari ini menunjukkan betapa rapuhnya tatanan dunia. Perang berkepanjangan, jutaan pengungsi kehilangan tanah air, krisis pangan dan energi, serta ketimpangan ekonomi global memperlihatkan kegagalan dunia modern dalam menjadikan martabat manusia sebagai pusat kebijakan.
    Dalam pusaran krisis global ini, keluarga kembali menjadi pihak yang paling terdampak. Banyak keluarga terpisah oleh konflik, dipaksa mengungsi, atau hidup dalam ketidakpastian tanpa jaminan masa depan.
    Dunia yang dipenuhi persaingan dan kepentingan politik sering kali kehilangan kepekaan terhadap penderitaan manusia biasa.
    Natal hadir sebagai kritik moral terhadap dunia yang memuja kekuatan dan mengabaikan yang lemah. Allah yang datang sebagai bayi di palungan menantang logika kekuasaan yang mengandalkan dominasi, senjata, dan keuntungan ekonomi.
    Pesan Natal KWI–PGI menegaskan bahwa solidaritas lintas bangsa, agama, dan budaya adalah panggilan iman yang tidak bisa ditunda (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
    Natal sering dipahami sebagai perayaan keluarga. Namun, bagi banyak keluarga hari ini, Natal dirayakan dalam suasana cemas.
    Tekanan ekonomi, naiknya biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan lemahnya perlindungan sosial menciptakan beban psikologis yang berat. Di balik pintu-pintu rumah, banyak keluarga berjuang dalam kelelahan yang tak terlihat.
    Kerentanan keluarga tidak hanya bersifat ekonomi. Kekerasan dalam rumah tangga, krisis kesehatan mental, retaknya relasi, serta kesepian menjadi realitas yang semakin sering terjadi.
    Anak-anak tumbuh dalam situasi tidak stabil, sementara orang tua dipaksa menanggung beban ganda sebagai pencari nafkah sekaligus penjaga keutuhan keluarga.
    Pesan Natal KWI–PGI mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama di mana martabat manusia harus dijaga dan dihormati (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
    Namun, keluarga tidak bisa dibiarkan menanggung beban sendirian. Kerentanan keluarga hari ini adalah cerminan dari persoalan struktural: sistem ekonomi yang timpang, kebijakan publik tidak memadai, dan budaya sosial yang menormalisasi kelelahan serta ketidakpedulian.
    Kisah Natal sendiri adalah kisah tentang keluarga yang rentan. Maria dan Yusuf bukan keluarga yang hidup dalam kenyamanan. Mereka menghadapi stigma sosial, tekanan politik, dan ancaman kekerasan.
    Bahkan sejak awal, keluarga ini harus mengungsi demi menyelamatkan hidup anaknya.
    Keluarga Kudus bukan gambaran keluarga ideal tanpa masalah. Justru sebaliknya, mereka adalah keluarga yang bertahan di tengah ketidakpastian.
    Dalam konteks dunia hari ini—ketika jutaan keluarga menjadi pengungsi akibat perang, bencana, dan kemiskinan—kisah Natal menjadi sangat aktual.
    Natal mengingatkan bahwa kerentanan bukanlah kegagalan iman. Allah justru memilih hadir dalam keluarga yang tidak sempurna, dalam situasi yang penuh risiko.
    Pesan ini penting di tengah budaya yang sering menuntut keluarga untuk selalu tampak kuat dan harmonis, sambil menutup mata terhadap luka yang ada di dalamnya.
    Bencana di Sumatera dan krisis keluarga di berbagai lapisan masyarakat menguji kehadiran negara. Apakah negara hadir hanya pada saat darurat, atau sungguh-sungguh berkomitmen pada pemulihan jangka panjang dan keadilan sosial?
    Apakah keluarga yang terdampak dilihat sebagai subjek dengan hak penuh, atau sekadar angka dalam laporan kebijakan?
    Pesan Natal KWI–PGI menegaskan bahwa negara, masyarakat sipil, dan komunitas agama memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi yang rentan (Pesan Natal KWI–PGI 2025). Natal menolak sikap acuh tak acuh dan bahasa kekuasaan yang dingin.
    Terang Natal tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari keberanian untuk mengakui kegagalan dan memperbaikinya.
    Di tengah krisis global dan nasional, keluarga tetap menjadi ruang penting untuk menanamkan nilai kemanusiaan.
    Namun, keluarga hanya bisa menjadi sumber harapan jika didukung oleh lingkungan sosial yang adil dan peduli.
    Kebijakan yang berpihak pada keluarga, perlindungan sosial memadai, dan solidaritas komunitas adalah bagian tak terpisahkan dari perwujudan iman.
    Natal mengajarkan bahwa harapan sering kali tumbuh dari hal-hal kecil: perhatian pada anak yang trauma, dukungan bagi orang tua yang kelelahan, dan keberanian komunitas untuk saling menopang. Harapan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kehadiran yang setia.
    Natal bukan sekadar perayaan liturgis. Ia adalah panggilan untuk bertobat secara sosial—mengubah cara pandang, cara hidup, dan cara kita memperlakukan sesama.
    Di tengah bencana di Sumatera, krisis keluarga, dan dunia yang terluka, Natal mengingatkan bahwa terang tidak pernah menunggu situasi ideal untuk menyala.
    Jika Natal hanya berhenti pada ritual dan simbol, ia kehilangan daya transformatifnya. Namun, jika Natal dihayati sebagai komitmen untuk merawat kehidupan—di dalam keluarga, masyarakat, dan dunia—maka di tengah segala kerentanan, harapan tetap mungkin tumbuh.
    Seperti bayi di palungan, harapan itu rapuh. Namun, justru di situlah kekuatannya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Berkaca dari Tsunami Aceh, Ini Pesan SBY untuk Penanganan Banjir Sumatera

    Berkaca dari Tsunami Aceh, Ini Pesan SBY untuk Penanganan Banjir Sumatera

    Berkaca dari Tsunami Aceh, Ini Pesan SBY untuk Penanganan Banjir Sumatera
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pesan kepada Presiden RI Prabowo Subianto terkait penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera.
    Hal tersebut
    SBY
    sampaikan usai mengikuti banyaknya percakapan kritis dari publik, serta melihat seberapa parah dampak dari
    bencana Sumatera
    .

    Penanganan bencana itu kompleks dan tidak segampang yang dibayangkan. Terutama pada fase tanggap darurat yang biasanya terjadi kelumpuhan di sana-sini
    ,” ujar SBY dalam cuitannya di X, Rabu (24/12/2025).
    Kompas.com
    telah meminta izin Wasekjen Demokrat Syahrial Nasution untuk mengutip pernyataan SBY.
    SBY menjelaskan, yang namanya penanganan bencana, termasuk rekonstruksi dan rehabilitasinya, memerlukan waktu.
    Selain itu, juga diperlukan sumber daya, finansial yang mencukupi, kebijakan dan master plan yang utuh, dan pelaksanaan yang efektif.
    SBY menyampaikan, apa yang dia pelajari itu didapat ketika menangani bencana Tsunami Aceh 2004 dan lain-lain saat masih menjabat Presiden di masa lalu.

    Ini semua saya dapatkan dari apa yang dilakukan oleh pemerintahan yang saya pimpin dulu dalam mengatasi bencana tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di Yogya dan Padang dan sejumlah bencana alam berskala besar lainnya
    ,” kata dia.
    Selanjutnya, SBY menekankan komando dan pengendalian harus efektif, di mana idealnya Presiden bisa memimpin melalui manajemen krisis yang dijalankan.
    Akan tetapi, SBY menyadari, cara dan gaya yang dipilih oleh kepala pemerintahan tidak selalu sama.

    Misalnya, apa yang dilakukan oleh Presiden Prabowo saat ini bisa tidak sama dengan yang saya lakukan dulu. Ini disebabkan oleh perbedaan situasi atau konteks dari bencana itu; perbedaan jenis bencana dan
    magnitude
    dari kerusakan yang ditimbulkan, serta perbedaan cara di antara para pemimpin
    ,” kata SBY.
    SBY menilai,
    Presiden Prabowo Subianto
    saat ini serius terjun ke lapangan dan memberikan atensi yang penuh.
    Kemudian, SBY juga yakin bahwa Prabowo telah mengambil sejumlah kebijakan untuk membangun kembali provinsi-provinsi di Sumatera yang mengalami bencana alam tersebut.

    Sekarang ini, perhatian kita semua tertuju pada rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, Sumut dan Sumbar, agar kondisinya pulih dan bahkan lebih baik dari sebelumnya. Ada sejumlah faktor agar rehabilitasi dan rekonstruksi berhasil, antara lain: konsep rehabilitasi dan rekonstruksi yang baik, organisasi dan kepemimpinan di lapangan yang efektif, serta implementasi dari rencana yang juga efektif. Jangan dilupakan, akuntabilitas penggunaan uang negara juga dijaga dengan baik
    ,” ujar SBY.

    Demikian pendapat saya. Dan mari kita dukung langkah-langkah pemerintah untuk membangun kembali Sumatera pasca bencana dan memastikan saudara-saudara kita yang terkena musibah memiliki masa depan yang baik
    ,” imbuh dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Cerita Petugas PPSU Kerja hingga Dini Hari, Bersihkan Sampah Sisa Misa Malam Natal

    Cerita Petugas PPSU Kerja hingga Dini Hari, Bersihkan Sampah Sisa Misa Malam Natal

    Cerita Petugas PPSU Kerja hingga Dini Hari, Bersihkan Sampah Sisa Misa Malam Natal
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    — Waktu sudah melewati tengah malam di Gereja Katolik Paroki Santo Yohanes Penginjil, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menandakan masuknya Hari Raya Natal pada Kamis (25/12/2025).
    Ribuan jemaat yang sebelumnya memadati gereja di kawasan itu untuk mengikuti Misa Malam
    Natal
    sudah kembali ke rumah masing-masing, dan suasana pun menjadi sepi, hanya menyisakan suara kendaraan yang melintas kencang di Jalan Melawai Raya.
    Namun, malam belum berakhir bagi Johari (42), seorang petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (
    PPSU
    ) berseragam oranye yang masih sibuk menyisir jalanan di sekitar gereja.
    Hingga pukul 00.30 WIB, ia mendapat tugas khusus untuk memastikan area sekitar gereja kembali bersih setelah ribuan orang berkumpul untuk beribadah.
    “Giat malam dari PPSU, ya bersih-bersih biasanya. Pungutin sampah, keliling kita, monitoring. Kalau malam Natal begini khusus, kita
    standby
    di sini sampai tengah malam memang,” ujar Johari saat ditemui Kompas.com, Kamis dini hari.
    Johari mengaku sudah memulai tugas piket sorenya sejak pukul 15.00 WIB dan seharusnya ia selesai bertugas pada pukul 23.00 WIB.
    “Ya, tapi kan kalau di gereja sini ada misa yang malam, jam 12 baru selesai, jadi ekstra lah, lembur,” kata dia.
    Meskipun Johari tak ikut merayakan Natal, ia merasa tak masalah harus bekerja hingga dini hari.
    Bagi Johari, fokus utamanya adalah memastikan kenyamanan jemaat dan warga di sekitar gereja yang akan melaksanakan ibadah Natal.
    “Enggak sih, enggak masalah. Namanya pekerjaan kan, saudara kita juga, biar ibadahnya nyaman kan, toleransi saja,” jelasnya.
    Sebelum misa dimulai pun, ia dan timnya sudah menyisir area agar steril dari kotoran dan sampah.
    “Kalau area gereja kita sempat bersihin juga sebelum mulai. Tapi kita lebih banyak fokusnya ke area luar, sekitar, lah. Pokoknya sekitar gereja, depan, belakang, samping, sampai ke kanan kiri, biar enak kan nyaman yang mau ibadah juga,” tutur pria asal Cirebon tersebut.
    Euforia Natal yang membawa ribuan jemaat tentu menyisakan pekerjaan yang cukup berat bagi Johari. Ia mengakui volume sampah malam ini cukup banyak dibanding hari biasanya.
    “Sampahnya sih banyak, lumayan, namanya memang daerah sini ramai kan pas Natal. Banyak sampahnya, tapi ya namanya tugas kan,” kata Johari.
    Tugas Johari belum selesai hanya dengan menyapu sampah, melainkan juga membereskan fasilitas penunjang misa yang terpasang di area luar gereja.
    Ia harus mengembalikan kursi-kursi pinjaman, meja, serta membongkar tenda agar jalanan bisa kembali berfungsi normal pagi harinya.
    “Paling yang capek lagi nanti balikin kursi dan tenda, nih, setelah beres ini. Nanti dibalikin lagi ke tempat asalnya. Kita kan pinjam juga ini dari mana-mana, RPTRA gitu-gitu,” ujarnya.
    Johari memperkirakan tugasnya baru akan benar-benar selesai sekitar pukul 01.30 WIB.
    Meskipun harus bekerja saat orang lain beristirahat merayakan Natal, Johari tidak banyak mengeluh.
    Baginya, kelancaran ibadah dan keamanan lingkungan adalah prioritas utama, meskipun kehadirannya kerap tak disadari orang lain.
    “Harapannya ya, sebenarnya sama saja sih, ya, kayak yang sudah-sudah. Semoga lancar terus di Natal ini semuanya. Yang penting ya lancar-lancar sajalah. Pokoknya aman-aman saja,” tutur Johari.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kejagung Dalami Dugaan Keterlibatan Riza Chalid dalam Kasus Minyak Mentah

    Kejagung Dalami Dugaan Keterlibatan Riza Chalid dalam Kasus Minyak Mentah

    Kejagung Dalami Dugaan Keterlibatan Riza Chalid dalam Kasus Minyak Mentah
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) mendalami keterlibatan Mohammad Riza Chalid (MRC) dalam perkara dugaan korupsi minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Trading Limited (Petral)/Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES) periode 2009–2015.
    Penyidik disebut masih mendalami kemungkinan keterlibatan
    Riza Chalid
    , yang telah berstatus buronan, melalui terdakwa kasus
    korupsi minyak Pertamina
    , Muhamad Kerry Adrianto Riza, yang merupakan anak Riza Chalid.
    “Ada kaitan Riza Chalid, ada macem-macem lah, makanya kan di sini kan sudah ada anaknya Riza Chalid (jadi terdakwa). Oleh karena itu makanya
    Petral
    lagi diperdalam,” kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus)
    Kejagung
    Febrie Adriansyah saat ditemui di Kejagung, Rabu (24/12/2025).
    Di sisi lain, Febrie menegaskan bahwa dalam penanganan kasus Petral, Kejagung juga masih berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang turut mengusut perkara serupa.
    Oleh karena itu, Korps Adhyaksa terus berupaya mengungkap kasus Petral secara lebih menyeluruh.
    “Kemungkinan ada beberapa hal yang berbeda, itu yang kita khawatir di teknis penyidikannya, di hal-hal kecilnya, itu perlu ketemu. Makanya kita juga lagi lihat Petral nih secara keseluruhan,” kata Jampidsus.
    Diberitakan sebelumnya, Kejagung membantah telah melimpahkan penanganan kasus dugaan korupsi Petral ke KPK.
    “Pertama, pelimpahan belum ada, belum ada pelimpahan sama sekali. Yang kedua, tidak ada istilah pertukaran atau tukar guling, enggak ada, enggak ada,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna, ditemui di Gedung Kejagung, Jakarta, Jumat (21/11/2025).
    Institusi ini menegaskan penyidikan perkara tersebut hingga kini masih berjalan di internal Kejaksaan.
    Anang menjelaskan, penyidikan kasus Petral di Kejagung mencakup periodisasi 2008-2015, berdasarkan dua surat perintah penyidikan (sprindik) yang diterbitkan.
    Sementara itu, KPK menangani dugaan korupsi yang berada dalam periode 2009-2015.
    “Kebetulan juga KPK menangani perkara yang sama, tapi periodenya Kejaksaan Agung kan ada di 2008 sampai 2015 dan kalau enggak salah ada dua, satu lagi periodenya ada sampai 2017, kalau saya tidak salah,” beber Anang.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Update BNPB: 17 Jasad Ditemukan, Korban Tewas Banjir Sumatera Menjadi 1.129 Jiwa

    Update BNPB: 17 Jasad Ditemukan, Korban Tewas Banjir Sumatera Menjadi 1.129 Jiwa

    Update BNPB: 17 Jasad Ditemukan, Korban Tewas Banjir Sumatera Menjadi 1.129 Jiwa
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera bertambah 17 jiwa.
    “Per hari ini, terdapat penambahan daftar korban meninggal dunia sebanyak 17 jiwa, sehingga total
    korban jiwa
    secara keseluruhan kini mencapai 1.129 orang,” ujar Abdul dalam konferensi pers yang digelar virtual, Rabu (24/12/2025).
    Rincian penambahan korban tersebut berasal dari Aceh Utara sebanyak 14 jiwa, serta masing-masing satu jiwa di Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Sumatera Barat.
    Saat ini, Tim SAR Gabungan masih mencari keberadaan 174 korban yang belum ditemukan.
    “Untuk data korban hilang saat ini mengalami penurunan menjadi 174 jiwa, sedangkan jumlah warga yang masih berada di pengungsian tercatat sebanyak 496.293 jiwa,” ucapnya.
    Terkait status kedaruratan wilayah, per hari ini tercatat sebanyak 12 kabupaten dan kota telah mengalami pergeseran status dari masa tanggap darurat menuju status transisi darurat.
    “Daerah tersebut mencakup masing-masing empat kabupaten dan kota di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” kata dia.
    Abdul mengatakan, masih ada beberapa daerah yang memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat hingga tanggal 28 atau 30 Desember mendatang.
    Seluruh pekerjaan lapangan saat ini sudah mulai berjalan bertahap.
    Pemerintah tengah menyiapkan pembangunan hunian sementara maupun hunian tetap.
    Selain itu, percepatan pemulihan akses jalan dan jembatan juga dilakukan terutama untuk mendukung kelancaran transportasi menjelang libur Natal dan Tahun Baru.
    “Saat ini, pemulihan di Sumatera Barat sudah hampir mencapai 100 persen, sementara di wilayah Tapanuli Raya, Sumatera Utara, progresnya telah mencapai kisaran 80 hingga 90 persen,” ucapnya.
    Untuk wilayah Aceh, jalur Lintas Timur dan Lintas Barat secara umum sudah dapat dilewati, dengan fokus pengerjaan saat ini diarahkan pada titik-titik penghubung Lintas Timur ke arah Tengah melalui pemasangan jembatan Bailey.
    Jembatan Bailey dibangun sementara di beberapa lokasi kritis agar konektivitas wilayah menuju Aceh Tengah tetap terjaga.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kapolri Titip Umat Kristen Doakan Korban Banjir Sumatera saat Misa Natal

    Kapolri Titip Umat Kristen Doakan Korban Banjir Sumatera saat Misa Natal

    Kapolri Titip Umat Kristen Doakan Korban Banjir Sumatera saat Misa Natal
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan peninjauan langsung ke Gereja Katedral dan Gereja Immanuel di Jakarta Pusat, Rabu (24/12/2025).
    Sigit pun menitipkan doa untuk korban bencana banjir dan longsor di Sumatera kepada para jemaat gereja yang mengikuti misa malam
    Natal
    2025.
    “Kita berdoa semua agar seluruh rangkaian ibadah Misa Natal, baik hari ini ataupun nanti pergantian tahun semua bisa berjalan,” ujar Sigit di Gereja Katedral, Rabu.
    “Tentunya kita titip doakan saudara kita yang sedang terkena musibah untuk kembali bisa bangkit. Dan kita berdoa sama-sama untuk saudara kita di Sumatera dan saudara kita di seluruh negeri agar semua terjaga dari situasi prediksi yang kemungkinan bisa terjadi akibat ramalan cuaca,” sambungnya.
    Sigit memastikan bahwa pengamanan dan pelayanan bagi masyarakat yang menjalani ibadah Natal telah berjalan optimal.
    Dia menekankan, peninjauan ini merupakan tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat bisa mendapatkan pengamanan dan pelayanan optimal saat Natal dan Tahun Baru 2026.
    “Sesuai arahan Presiden kita diminta memberikan pelayanan terkait operasi Nataru di dalamnya kita mengamankan masyarakat mudik, masyarakat yang melaksanakan Misa ibadah Natal dan masyarakat yang akan melaksanakan kegiatan pergantian tahun,” tutur Sigit.
    Sigit memaparkan, untuk mengamankan Natal dan Tahun Baru 2026, sebanyak 147.000 personel gabungan dikerahkan.
    Selain itu, Sigit menyebut, Polri menggandeng organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Banser NU dan Kokam Muhammadiyah.
    “Kami Polri saat ini menurunkan kurang lebih 147.000 personel gabungan dan kemarin juga kami melaksanakan apel bersama-sama dengan rekan-rekan lain seperti Banser. Kami juga mengajak Kokam untuk ikut bersama-sama melaksanakan kegiatan pengamanan khususnya di gereja yang melaksanakan perayaan Misa Natal,” jelasnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Prabowo ke Jaksa Agung: Mungkin Anda Tak Populer bagi Maling-maling Itu

    Prabowo ke Jaksa Agung: Mungkin Anda Tak Populer bagi Maling-maling Itu

    Prabowo ke Jaksa Agung: Mungkin Anda Tak Populer bagi Maling-maling Itu
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Presiden Prabowo Subianto memuji kinerja Jaksa Agung Sanitiar (ST) Burhanuddin dalam menangani kasus korupsi hingga penertiban kawasan hutan, meski akibatnya adalah sosok Burhanuddin menjadi tidak populer atau tidak menyenangkan bagi koruptor.
    Hal ini dikatakan
    Prabowo
    dalam sambutannya saat menghadiri penyerahan hasil penyelamatan
    keuangan negara
    di Kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (24/12/2025).
    “Terima kasih
    Jaksa Agung
    ,
    leadership
    (kepemimpinan) Anda. Mungkin Anda tidak populer tapi tidak populer bagi segelintir maling-maling itu,” kata Prabowo, Rabu.
    Kendati tak populer, Prabowo meyakini banyak masyarakat yang mendoakannya.
    Sebab, Jaksa Agung bersama jajarannya berupaya membasmi kejahatan dan kerugian negara.
    “Anda didoakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Terima kasih. Teruskan perjuangan. Merdeka. Merdeka. Merdeka,” tutur dia.
    Adapun dalam momen yang sama, Prabowo juga sempat menulis pesan khusus untuk para jaksa dalam sebuah prasasti.
    Pesan tersebut berkaitan dengan integritas dan keberanian penegak hukum.
    “Jadilah Jaksa yang berani dan jujur membela keadilan demi bangsa dan rakyat Indonesia tercinta!” tulis Prabowo dalam prasasti.

    Prabowo menekankan pentingnya keberanian aparat penegak hukum dalam menjaga kekayaan negara dan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.
    Kepala Negara juga menegaskan komitmennya dalam memberantas
    korupsi
    sejak detik pertama menjabat.
    “Begitu saya menerima mandat, saya sudah bertekad untuk melawan korupsi, melawan perampokan kekayaan negara oleh siapapun, di mana pun,” tandas Prabowo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Banyak Jaksa Kena OTT KPK, Jaksa Agung: Saya Bersyukur Dibantu

    Banyak Jaksa Kena OTT KPK, Jaksa Agung: Saya Bersyukur Dibantu

    Banyak Jaksa Kena OTT KPK, Jaksa Agung: Saya Bersyukur Dibantu
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Jaksa Agung ST Burhanuddin bersyukur atas langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang membantu Korps Adhyaksa dalam upaya pembenahan internal.
    Hal ini disampaikan
    Jaksa
    Agung merespons penangkapan sejumlah jaksa yang terjaring
    operasi tangkap tangan
    (OTT) oleh Komisi Antirasuah pada 17-18 Desember lalu.
    “Saya bersyukur dibantu oleh
    KPK
    , bersyukur,” kata Burhanuddin saat ditemui gedung
    Kejaksaan Agung
    (Kejagung), Jakarta, Rabu (24/12/2025).
    Kendati demikian, Burhanuddin memastikan Kejaksaan Agung tetap akan menindak tegas oknum jaksa yang terlibat tindak pidana, termasuk yang sebelumnya terjaring OTT KPK.
    Ia menegaskan tidak akan memberikan instruksi ulang kepada jajarannya. Namun, Burhanuddin mengultimatum seluruh jaksa agar kembali mengingat sumpah dan janji saat pertama kali dilantik.
    “Saya ingatkan saja, mengingatkan mereka di daerah agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan peraturan, (mengingatkan) dengan janji-janji mereka di awal, begitu diangkat, janji, ya sudah (harus dijalankan),” ujarnya.
    Burhanuddin juga menegaskan komitmennya untuk menindak setiap pelanggaran yang dilakukan aparat penegak hukum di lingkungan Kejaksaan.
    “Yang pasti apapun akan saya tindak tegas. Bahwa kita kemarin kan sudah kita lihat, kita ada juga yang kita tangani sendiri dan mohon doa restunya ya,” kata Jaksa Agung.
    Sebelumnya, KPK melakukan operasi tangkap tangan di Banten pada 17–18 Desember 2025.
    Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan sembilan orang dan menyita uang tunai sekitar Rp900 juta.
    Kasus ini diduga berkaitan dengan pemerasan terhadap seorang warga negara Korea Selatan yang sedang berperkara pidana.
    Meski OTT dilakukan KPK, penanganan perkara kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Agung, yang menetapkan lima tersangka, termasuk tiga jaksa aktif.
    OTT juga dilakukan KPK di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, pada 18 Desember 2025.
    Dalam operasi ini, KPK mengamankan enam orang dan menetapkan tiga jaksa sebagai tersangka, yakni Kepala Kejaksaan Negeri HSU, Kepala Seksi Intelijen, dan Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara.
    KPK menyita uang tunai ratusan juta rupiah yang diduga berasal dari praktik pemerasan terkait penanganan perkara hukum.
    Berbeda dengan kasus Banten, perkara OTT di HSU ditangani langsung oleh KPK.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Ucapkan Selamat Natal, Gus Yahya: Selamat Bergembira dalam Kedamaian

    Ucapkan Selamat Natal, Gus Yahya: Selamat Bergembira dalam Kedamaian

    Ucapkan Selamat Natal, Gus Yahya: Selamat Bergembira dalam Kedamaian
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memberikan ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani di Indonesia.
    “Saya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atas nama
    PBNU
    tentu saja kami mengucapkan selamat bergembira,” kata
    Gus Yahya
    dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (24/12/2025).
    Gus Yahya berharap, semoga
    Natal
    tahun ini bisa memberikan kedamaian hidup bersama antarumat beragama sesuai dengan kesepakatan para pendiri bangsa.
    “Semoga ya kita semua bisa hidup bersama-sama dalam kedamaian sesuai dengan kesepakatan konsensus kita sebagai satu bangsa untuk bersaudara bersama-sama, lepas dari perbedaan apa pun,” tuturnya.
    Selain itu, ia memberikan pesan agar semua umat manusia bisa saling menjaga dan merawat kebersamaan.
    “Mari kita membangun kedamaian yang sejati di antara kita semua. Terima kasih,” tandasnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Gus Yahya Menimbang Opsi PBNU Kembalikan Konsesi Tambang ke Pemerintah

    Gus Yahya Menimbang Opsi PBNU Kembalikan Konsesi Tambang ke Pemerintah

    Gus Yahya Menimbang Opsi PBNU Kembalikan Konsesi Tambang ke Pemerintah
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menimbang opsi pengembalian konsesi tambang yang diberikan pemerintah kepada PBNU.
    Hal ini disampaikan
    Gus Yahya
    menanggapi isu konsesi tambang yang santer terdengar sebagai pemicu konflik di internal
    PBNU
    .
    Bahkan, salah satu pengurus harian tanfidziyah PBNU yang juga putri sulung Gus Dur, Alissa Qotrunnada Wahid, dengan jelas menyebut konsesi tambang jadi titik konflik PBNU.
    “Ya, apakah perlu dikembalikan atau tidak, ya kita lihat nanti. Ini kan saya sudah jelaskan sejak awal, kami ini tidak minta, tidak menuntut, tidak bertanya-tanya, tiba-tiba pemerintah membuat kebijakan seperti ini (memberi konsesi),” kata Gus Yahya saat konferensi pers di Kantor PBNU, Rabu (24/12/2025).
    Dia mengatakan, pertimbangan untuk mengembalikan atau tidak akan dimusyawarahkan secara baik-baik di internal PBNU.
    Namun, Gus Yahya menekankan, jika memang harus diamanatkan ke PBNU, harus ada bentuk kerja sama di bawah koordinasi pemberi mandat, yakni pemerintah.
    “Yang paling penting adalah sejak awal kita punya prinsip bahwa tambang ini tidak bisa dikerjakan dan tidak boleh dikerjakan oleh NU sendirian. Atau hanya bersama pihak-pihak swasta. Ini harus dikerjakan dalam koordinasi dengan pemerintah,” katanya.
    Karena menurut Gus Yahya, apa yang diberikan oleh pemerintah adalah bagian dari agenda negara.
    Dia menyebut, konsesi tambang tidak bisa diserahkan begitu saja kepada pihak swasta tertentu tanpa koordinasi dengan pemerintah.
    “Nah, soal nanti konstruksi pengelolaannya seperti apa bersama-sama dengan pemerintah itu tentu nanti akan terus dikoordinasikan,” ucap Gus Yahya.
    Dia juga menyebut,
    konflik internal PBNU
    tidak bisa dilihat satu sisi, yakni konsesi tambang.
    Karena konflik ini bisa juga terjadi di luar motif konsesi tambang yang sering dibicarakan di publik.
    “Seandainya tidak ada konsesi tambang itu, apakah tidak terjadi hal seperti ini? Ya, belum tentu juga, begitu ya. Belum tentu juga. Tapi tentu kita ingin mendalami masalah ini dengan baik, ya. Karena namanya perbedaan itu biasanya kan memang karena ada perbedaan kepentingan,” tandasnya.
    Sebelumnya, putri sulung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid,
    Alissa Wahid
    , menyoroti konsesi tambang yang kini menjadi simpul konflik di pucuk kepemimpinan PBNU.
    Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Haul Ke-16 Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/12/2025).
    Alissa mengatakan, sosok Gus Dur selalu diingat ketika PBNU menghadapi konflik internal.
    “Hari-hari ini di kala seluruh warga NU sedang prihatin atas drama yang terjadi di pucuk kepemimpinannya, sudah pasti kita ingat Gus Dur,” ucapnya.
    Alissa mengatakan, Gus Dur pernah bersedih lantaran NU saat ini lebih sibuk mencari kedekatan dengan penguasa daripada mencari berkah dari Allah.
    “Dan sekarang kita lihat bahwa konsesi tambang menjadi simpul konflik besar pada kepemimpinan NU. Padahal Gus Dur menegaskan bahwa para Kyai dan Nyai NU tidak memikirkan keadaan mereka sendiri tetapi selalu memikirkan keadaan bangsa,” imbuhnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.