Natal di Tengah Dunia yang Rapuh
Gabriel Abdi Susanto adalah seorang jurnalis, penulis, dan pemikir publik asal Indonesia yang aktif dalam bidang komunikasi, filsafat, dan spiritualitas. Ia merupakan alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, lulus pada tahun 2001 .
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
NATAL
selalu datang membawa janji tentang terang dan harapan. Namun, Natal tahun ini hadir di tengah dunia yang terasa semakin rapuh.
Bangsa ini sedang berduka. Bencana alam melanda berbagai wilayah Sumatera—banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan yang merenggut rumah, penghidupan, bahkan nyawa.
Pada saat yang sama, dunia diliputi perang yang tak kunjung usai, krisis kemanusiaan, gejolak ekonomi global, dan ketegangan geopolitik yang membuat masa depan terasa semakin tak pasti.
Dalam situasi seperti ini,
Natal
mudah terdengar sebagai bahasa iman yang terlalu indah, seolah terpisah dari kenyataan pahit yang dihadapi banyak orang setiap hari.
Namun, justru di tengah dunia yang luka inilah pesan Natal menemukan daya kritis dan relevansinya yang paling mendalam.
Pesan Natal KWI–PGI 2025 mengingatkan bahwa Natal bukan pelarian dari realitas, melainkan undangan untuk menghadapi kenyataan dengan keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab bersama (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
Kabar kelahiran Kristus bukanlah kisah sentimental, melainkan peristiwa iman yang menyentuh persoalan paling konkret dalam hidup manusia: penderitaan, ketidakadilan, dan kerentanan.
Bencana yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera tidak dapat dilihat semata-mata sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri. Ia adalah cermin dari krisis ekologis yang telah lama terabaikan.
Deforestasi, alih fungsi lahan tak terkendali, lemahnya penegakan hukum lingkungan, dan kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam telah memperbesar dampak bencana.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, yang runtuh bukan hanya tanah dan rumah warga, tetapi juga sistem perlindungan sosial dan ekologis yang seharusnya menjaga kehidupan.
Korban bencana sering kali berasal dari kelompok yang paling rentan: keluarga miskin, petani kecil, masyarakat adat, perempuan, anak-anak, dan lansia. Mereka kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupan, dan rasa aman dalam waktu yang bersamaan.
Natal berbicara tentang Allah yang memilih hadir di dunia yang rapuh. Yesus lahir bukan di pusat kekuasaan, melainkan di tempat yang sederhana dan rentan.
Kisah ini menegaskan bahwa iman Kristen tidak pernah berakar pada kenyamanan, melainkan pada keberpihakan kepada kehidupan yang terancam.
Pesan Natal KWI–PGI secara tegas mengaitkan iman dengan tanggung jawab merawat ciptaan dan melindungi kehidupan bersama (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
Situasi global hari ini menunjukkan betapa rapuhnya tatanan dunia. Perang berkepanjangan, jutaan pengungsi kehilangan tanah air, krisis pangan dan energi, serta ketimpangan ekonomi global memperlihatkan kegagalan dunia modern dalam menjadikan martabat manusia sebagai pusat kebijakan.
Dalam pusaran krisis global ini, keluarga kembali menjadi pihak yang paling terdampak. Banyak keluarga terpisah oleh konflik, dipaksa mengungsi, atau hidup dalam ketidakpastian tanpa jaminan masa depan.
Dunia yang dipenuhi persaingan dan kepentingan politik sering kali kehilangan kepekaan terhadap penderitaan manusia biasa.
Natal hadir sebagai kritik moral terhadap dunia yang memuja kekuatan dan mengabaikan yang lemah. Allah yang datang sebagai bayi di palungan menantang logika kekuasaan yang mengandalkan dominasi, senjata, dan keuntungan ekonomi.
Pesan Natal KWI–PGI menegaskan bahwa solidaritas lintas bangsa, agama, dan budaya adalah panggilan iman yang tidak bisa ditunda (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
Natal sering dipahami sebagai perayaan keluarga. Namun, bagi banyak keluarga hari ini, Natal dirayakan dalam suasana cemas.
Tekanan ekonomi, naiknya biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan lemahnya perlindungan sosial menciptakan beban psikologis yang berat. Di balik pintu-pintu rumah, banyak keluarga berjuang dalam kelelahan yang tak terlihat.
Kerentanan keluarga tidak hanya bersifat ekonomi. Kekerasan dalam rumah tangga, krisis kesehatan mental, retaknya relasi, serta kesepian menjadi realitas yang semakin sering terjadi.
Anak-anak tumbuh dalam situasi tidak stabil, sementara orang tua dipaksa menanggung beban ganda sebagai pencari nafkah sekaligus penjaga keutuhan keluarga.
Pesan Natal KWI–PGI mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama di mana martabat manusia harus dijaga dan dihormati (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
Namun, keluarga tidak bisa dibiarkan menanggung beban sendirian. Kerentanan keluarga hari ini adalah cerminan dari persoalan struktural: sistem ekonomi yang timpang, kebijakan publik tidak memadai, dan budaya sosial yang menormalisasi kelelahan serta ketidakpedulian.
Kisah Natal sendiri adalah kisah tentang keluarga yang rentan. Maria dan Yusuf bukan keluarga yang hidup dalam kenyamanan. Mereka menghadapi stigma sosial, tekanan politik, dan ancaman kekerasan.
Bahkan sejak awal, keluarga ini harus mengungsi demi menyelamatkan hidup anaknya.
Keluarga Kudus bukan gambaran keluarga ideal tanpa masalah. Justru sebaliknya, mereka adalah keluarga yang bertahan di tengah ketidakpastian.
Dalam konteks dunia hari ini—ketika jutaan keluarga menjadi pengungsi akibat perang, bencana, dan kemiskinan—kisah Natal menjadi sangat aktual.
Natal mengingatkan bahwa kerentanan bukanlah kegagalan iman. Allah justru memilih hadir dalam keluarga yang tidak sempurna, dalam situasi yang penuh risiko.
Pesan ini penting di tengah budaya yang sering menuntut keluarga untuk selalu tampak kuat dan harmonis, sambil menutup mata terhadap luka yang ada di dalamnya.
Bencana di Sumatera dan krisis keluarga di berbagai lapisan masyarakat menguji kehadiran negara. Apakah negara hadir hanya pada saat darurat, atau sungguh-sungguh berkomitmen pada pemulihan jangka panjang dan keadilan sosial?
Apakah keluarga yang terdampak dilihat sebagai subjek dengan hak penuh, atau sekadar angka dalam laporan kebijakan?
Pesan Natal KWI–PGI menegaskan bahwa negara, masyarakat sipil, dan komunitas agama memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi yang rentan (Pesan Natal KWI–PGI 2025). Natal menolak sikap acuh tak acuh dan bahasa kekuasaan yang dingin.
Terang Natal tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari keberanian untuk mengakui kegagalan dan memperbaikinya.
Di tengah krisis global dan nasional, keluarga tetap menjadi ruang penting untuk menanamkan nilai kemanusiaan.
Namun, keluarga hanya bisa menjadi sumber harapan jika didukung oleh lingkungan sosial yang adil dan peduli.
Kebijakan yang berpihak pada keluarga, perlindungan sosial memadai, dan solidaritas komunitas adalah bagian tak terpisahkan dari perwujudan iman.
Natal mengajarkan bahwa harapan sering kali tumbuh dari hal-hal kecil: perhatian pada anak yang trauma, dukungan bagi orang tua yang kelelahan, dan keberanian komunitas untuk saling menopang. Harapan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kehadiran yang setia.
Natal bukan sekadar perayaan liturgis. Ia adalah panggilan untuk bertobat secara sosial—mengubah cara pandang, cara hidup, dan cara kita memperlakukan sesama.
Di tengah bencana di Sumatera, krisis keluarga, dan dunia yang terluka, Natal mengingatkan bahwa terang tidak pernah menunggu situasi ideal untuk menyala.
Jika Natal hanya berhenti pada ritual dan simbol, ia kehilangan daya transformatifnya. Namun, jika Natal dihayati sebagai komitmen untuk merawat kehidupan—di dalam keluarga, masyarakat, dan dunia—maka di tengah segala kerentanan, harapan tetap mungkin tumbuh.
Seperti bayi di palungan, harapan itu rapuh. Namun, justru di situlah kekuatannya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Category: Kompas.com Nasional
-
/data/photo/2025/12/25/694c62d390ae8.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Natal di Tengah Dunia yang Rapuh
-
/data/photo/2025/03/05/67c833d2ee743.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kejagung Dalami Dugaan Keterlibatan Riza Chalid dalam Kasus Minyak Mentah
Kejagung Dalami Dugaan Keterlibatan Riza Chalid dalam Kasus Minyak Mentah
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) mendalami keterlibatan Mohammad Riza Chalid (MRC) dalam perkara dugaan korupsi minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Trading Limited (Petral)/Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES) periode 2009–2015.
Penyidik disebut masih mendalami kemungkinan keterlibatan
Riza Chalid
, yang telah berstatus buronan, melalui terdakwa kasus
korupsi minyak Pertamina
, Muhamad Kerry Adrianto Riza, yang merupakan anak Riza Chalid.
“Ada kaitan Riza Chalid, ada macem-macem lah, makanya kan di sini kan sudah ada anaknya Riza Chalid (jadi terdakwa). Oleh karena itu makanya
Petral
lagi diperdalam,” kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus)
Kejagung
Febrie Adriansyah saat ditemui di Kejagung, Rabu (24/12/2025).
Di sisi lain, Febrie menegaskan bahwa dalam penanganan kasus Petral, Kejagung juga masih berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang turut mengusut perkara serupa.
Oleh karena itu, Korps Adhyaksa terus berupaya mengungkap kasus Petral secara lebih menyeluruh.
“Kemungkinan ada beberapa hal yang berbeda, itu yang kita khawatir di teknis penyidikannya, di hal-hal kecilnya, itu perlu ketemu. Makanya kita juga lagi lihat Petral nih secara keseluruhan,” kata Jampidsus.
Diberitakan sebelumnya, Kejagung membantah telah melimpahkan penanganan kasus dugaan korupsi Petral ke KPK.
“Pertama, pelimpahan belum ada, belum ada pelimpahan sama sekali. Yang kedua, tidak ada istilah pertukaran atau tukar guling, enggak ada, enggak ada,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna, ditemui di Gedung Kejagung, Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Institusi ini menegaskan penyidikan perkara tersebut hingga kini masih berjalan di internal Kejaksaan.
Anang menjelaskan, penyidikan kasus Petral di Kejagung mencakup periodisasi 2008-2015, berdasarkan dua surat perintah penyidikan (sprindik) yang diterbitkan.
Sementara itu, KPK menangani dugaan korupsi yang berada dalam periode 2009-2015.
“Kebetulan juga KPK menangani perkara yang sama, tapi periodenya Kejaksaan Agung kan ada di 2008 sampai 2015 dan kalau enggak salah ada dua, satu lagi periodenya ada sampai 2017, kalau saya tidak salah,” beber Anang.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/24/694bf36b45861.png?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Prabowo ke Jaksa Agung: Mungkin Anda Tak Populer bagi Maling-maling Itu
Prabowo ke Jaksa Agung: Mungkin Anda Tak Populer bagi Maling-maling Itu
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Presiden Prabowo Subianto memuji kinerja Jaksa Agung Sanitiar (ST) Burhanuddin dalam menangani kasus korupsi hingga penertiban kawasan hutan, meski akibatnya adalah sosok Burhanuddin menjadi tidak populer atau tidak menyenangkan bagi koruptor.
Hal ini dikatakan
Prabowo
dalam sambutannya saat menghadiri penyerahan hasil penyelamatan
keuangan negara
di Kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (24/12/2025).
“Terima kasih
Jaksa Agung
,
leadership
(kepemimpinan) Anda. Mungkin Anda tidak populer tapi tidak populer bagi segelintir maling-maling itu,” kata Prabowo, Rabu.
Kendati tak populer, Prabowo meyakini banyak masyarakat yang mendoakannya.
Sebab, Jaksa Agung bersama jajarannya berupaya membasmi kejahatan dan kerugian negara.
“Anda didoakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Terima kasih. Teruskan perjuangan. Merdeka. Merdeka. Merdeka,” tutur dia.
Adapun dalam momen yang sama, Prabowo juga sempat menulis pesan khusus untuk para jaksa dalam sebuah prasasti.
Pesan tersebut berkaitan dengan integritas dan keberanian penegak hukum.
“Jadilah Jaksa yang berani dan jujur membela keadilan demi bangsa dan rakyat Indonesia tercinta!” tulis Prabowo dalam prasasti.
Prabowo menekankan pentingnya keberanian aparat penegak hukum dalam menjaga kekayaan negara dan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.
Kepala Negara juga menegaskan komitmennya dalam memberantas
korupsi
sejak detik pertama menjabat.
“Begitu saya menerima mandat, saya sudah bertekad untuk melawan korupsi, melawan perampokan kekayaan negara oleh siapapun, di mana pun,” tandas Prabowo.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/10/02/68de4c3300a30.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Banyak Jaksa Kena OTT KPK, Jaksa Agung: Saya Bersyukur Dibantu
Banyak Jaksa Kena OTT KPK, Jaksa Agung: Saya Bersyukur Dibantu
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Jaksa Agung ST Burhanuddin bersyukur atas langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang membantu Korps Adhyaksa dalam upaya pembenahan internal.
Hal ini disampaikan
Jaksa
Agung merespons penangkapan sejumlah jaksa yang terjaring
operasi tangkap tangan
(OTT) oleh Komisi Antirasuah pada 17-18 Desember lalu.
“Saya bersyukur dibantu oleh
KPK
, bersyukur,” kata Burhanuddin saat ditemui gedung
Kejaksaan Agung
(Kejagung), Jakarta, Rabu (24/12/2025).
Kendati demikian, Burhanuddin memastikan Kejaksaan Agung tetap akan menindak tegas oknum jaksa yang terlibat tindak pidana, termasuk yang sebelumnya terjaring OTT KPK.
Ia menegaskan tidak akan memberikan instruksi ulang kepada jajarannya. Namun, Burhanuddin mengultimatum seluruh jaksa agar kembali mengingat sumpah dan janji saat pertama kali dilantik.
“Saya ingatkan saja, mengingatkan mereka di daerah agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan peraturan, (mengingatkan) dengan janji-janji mereka di awal, begitu diangkat, janji, ya sudah (harus dijalankan),” ujarnya.
Burhanuddin juga menegaskan komitmennya untuk menindak setiap pelanggaran yang dilakukan aparat penegak hukum di lingkungan Kejaksaan.
“Yang pasti apapun akan saya tindak tegas. Bahwa kita kemarin kan sudah kita lihat, kita ada juga yang kita tangani sendiri dan mohon doa restunya ya,” kata Jaksa Agung.
Sebelumnya, KPK melakukan operasi tangkap tangan di Banten pada 17–18 Desember 2025.
Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan sembilan orang dan menyita uang tunai sekitar Rp900 juta.
Kasus ini diduga berkaitan dengan pemerasan terhadap seorang warga negara Korea Selatan yang sedang berperkara pidana.
Meski OTT dilakukan KPK, penanganan perkara kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Agung, yang menetapkan lima tersangka, termasuk tiga jaksa aktif.
OTT juga dilakukan KPK di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, pada 18 Desember 2025.
Dalam operasi ini, KPK mengamankan enam orang dan menetapkan tiga jaksa sebagai tersangka, yakni Kepala Kejaksaan Negeri HSU, Kepala Seksi Intelijen, dan Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara.
KPK menyita uang tunai ratusan juta rupiah yang diduga berasal dari praktik pemerasan terkait penanganan perkara hukum.
Berbeda dengan kasus Banten, perkara OTT di HSU ditangani langsung oleh KPK.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/09/6937f6eb4c4c0.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Ucapkan Selamat Natal, Gus Yahya: Selamat Bergembira dalam Kedamaian
Ucapkan Selamat Natal, Gus Yahya: Selamat Bergembira dalam Kedamaian
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memberikan ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani di Indonesia.
“Saya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atas nama
PBNU
tentu saja kami mengucapkan selamat bergembira,” kata
Gus Yahya
dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (24/12/2025).
Gus Yahya berharap, semoga
Natal
tahun ini bisa memberikan kedamaian hidup bersama antarumat beragama sesuai dengan kesepakatan para pendiri bangsa.
“Semoga ya kita semua bisa hidup bersama-sama dalam kedamaian sesuai dengan kesepakatan konsensus kita sebagai satu bangsa untuk bersaudara bersama-sama, lepas dari perbedaan apa pun,” tuturnya.
Selain itu, ia memberikan pesan agar semua umat manusia bisa saling menjaga dan merawat kebersamaan.
“Mari kita membangun kedamaian yang sejati di antara kita semua. Terima kasih,” tandasnya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/11/693aa0fd66f71.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Gus Yahya Menimbang Opsi PBNU Kembalikan Konsesi Tambang ke Pemerintah
Gus Yahya Menimbang Opsi PBNU Kembalikan Konsesi Tambang ke Pemerintah
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menimbang opsi pengembalian konsesi tambang yang diberikan pemerintah kepada PBNU.
Hal ini disampaikan
Gus Yahya
menanggapi isu konsesi tambang yang santer terdengar sebagai pemicu konflik di internal
PBNU
.
Bahkan, salah satu pengurus harian tanfidziyah PBNU yang juga putri sulung Gus Dur, Alissa Qotrunnada Wahid, dengan jelas menyebut konsesi tambang jadi titik konflik PBNU.
“Ya, apakah perlu dikembalikan atau tidak, ya kita lihat nanti. Ini kan saya sudah jelaskan sejak awal, kami ini tidak minta, tidak menuntut, tidak bertanya-tanya, tiba-tiba pemerintah membuat kebijakan seperti ini (memberi konsesi),” kata Gus Yahya saat konferensi pers di Kantor PBNU, Rabu (24/12/2025).
Dia mengatakan, pertimbangan untuk mengembalikan atau tidak akan dimusyawarahkan secara baik-baik di internal PBNU.
Namun, Gus Yahya menekankan, jika memang harus diamanatkan ke PBNU, harus ada bentuk kerja sama di bawah koordinasi pemberi mandat, yakni pemerintah.
“Yang paling penting adalah sejak awal kita punya prinsip bahwa tambang ini tidak bisa dikerjakan dan tidak boleh dikerjakan oleh NU sendirian. Atau hanya bersama pihak-pihak swasta. Ini harus dikerjakan dalam koordinasi dengan pemerintah,” katanya.
Karena menurut Gus Yahya, apa yang diberikan oleh pemerintah adalah bagian dari agenda negara.
Dia menyebut, konsesi tambang tidak bisa diserahkan begitu saja kepada pihak swasta tertentu tanpa koordinasi dengan pemerintah.
“Nah, soal nanti konstruksi pengelolaannya seperti apa bersama-sama dengan pemerintah itu tentu nanti akan terus dikoordinasikan,” ucap Gus Yahya.
Dia juga menyebut,
konflik internal PBNU
tidak bisa dilihat satu sisi, yakni konsesi tambang.
Karena konflik ini bisa juga terjadi di luar motif konsesi tambang yang sering dibicarakan di publik.
“Seandainya tidak ada konsesi tambang itu, apakah tidak terjadi hal seperti ini? Ya, belum tentu juga, begitu ya. Belum tentu juga. Tapi tentu kita ingin mendalami masalah ini dengan baik, ya. Karena namanya perbedaan itu biasanya kan memang karena ada perbedaan kepentingan,” tandasnya.
Sebelumnya, putri sulung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid,
Alissa Wahid
, menyoroti konsesi tambang yang kini menjadi simpul konflik di pucuk kepemimpinan PBNU.
Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Haul Ke-16 Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/12/2025).
Alissa mengatakan, sosok Gus Dur selalu diingat ketika PBNU menghadapi konflik internal.
“Hari-hari ini di kala seluruh warga NU sedang prihatin atas drama yang terjadi di pucuk kepemimpinannya, sudah pasti kita ingat Gus Dur,” ucapnya.
Alissa mengatakan, Gus Dur pernah bersedih lantaran NU saat ini lebih sibuk mencari kedekatan dengan penguasa daripada mencari berkah dari Allah.
“Dan sekarang kita lihat bahwa konsesi tambang menjadi simpul konflik besar pada kepemimpinan NU. Padahal Gus Dur menegaskan bahwa para Kyai dan Nyai NU tidak memikirkan keadaan mereka sendiri tetapi selalu memikirkan keadaan bangsa,” imbuhnya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2025/09/18/68cbea21d6bd7.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/25/694c21bf151ff.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/21/6947297e7e8d7.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/24/694bd1a8e8343.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)