Category: Kompas.com Nasional

  • Gus Yahya: Islah PBNU Telah Tercapai di Lirboyo

    Gus Yahya: Islah PBNU Telah Tercapai di Lirboyo

    Gus Yahya: Islah PBNU Telah Tercapai di Lirboyo
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Islah atau rekonsiliasi antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) akhirnya tercapai dalam pertemuan yang diprakarsai para masyayikh (sesepuh) dan mustasyar (dewan penasihat) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025).
    “Alhamdulillah, hari ini kita semua menyaksikan peristiwa yang menyejukkan. Islah telah tercapai, dan kami bersama Rais Aam sepakat bahwa jalan terbaik bagi
    jam’iyah
    adalah melalui
    Muktamar bersama
    ,” ujar Yahya usai pertemuan, dia sampaikan lewat siaran pers, Kamis (25/12/2025).
    Pertemuan yang berlangsung khidmat tersebut mempertemukan dua pucuk pimpinan PBNU dalam satu forum sekaligus menandai berakhirnya ketegangan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
    Karena itu, sebagai solusi bersama, kedua pihak sepakat menyelenggarakan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama secara bersama-sama.
    “Musyawarah di Lirboyo ini merupakan kelanjutan dari Musyawarah Kubro yang digelar di lokasi yang sama beberapa hari sebelumnya,” ucapnya.
    Para masyayikh menilai persoalan internal PBNU yang bermula dari keputusan pemberhentian Ketua Umum oleh Rais Aam dan dinilai tidak sesuai dengan AD/ART NU, perlu diselesaikan melalui mekanisme islah dan Muktamar yang sah dengan melibatkan kedua belah pihak.
    Kesepakatan islah dicapai setelah melalui proses dialog, negosiasi, dan perdebatan yang cukup intens, namun tetap dijalankan dalam semangat ukhuwah nahdliyah.
    Sejumlah tokoh sentral NU turut hadir dan berperan sebagai penengah dalam pertemuan ini.
    Di antaranya Wakil Presiden RI periode 2019–2024 yang juga Mustasyar PBNU, KH Ma’ruf Amin, yang pada pertemuan sebelumnya mengikuti agenda secara daring.
    Hadir pula para masyayikh dan kiai sepuh NU lainnya yang sejak awal mendorong penyelesaian konflik melalui jalan musyawarah dan persatuan.
    Dengan tercapainya kesepakatan ini, silaturahmi di Lirboyo secara resmi mengakhiri konflik internal PBNU.
    Kepemimpinan PBNU hingga pelaksanaan Muktamar ke-35 NU tetap berjalan sebagaimana mestinya, dengan
    KH Miftachul Akhyar
    sebagai Rais Aam dan
    KH Yahya Cholil Staquf
    sebagai Ketua Umum.
    Sebagai tindak lanjut, PBNU akan segera membentuk Panitia Bersama untuk mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.
    “Kesepakatan ini akan segera kami tindak lanjuti dengan pembentukan panitia Muktamar. Kita akan bersama-sama menyukseskan forum tertinggi jam’iyah ini secara damai dan bermartabat,” pungkas Yahya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Toleransi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Mewujud di Parkiran

    Toleransi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Mewujud di Parkiran

    Toleransi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Mewujud di Parkiran
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) Gereja Katedral Jakarta dan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Susyana Suwadie menuturkan, nilai toleransi umat beragama terlihat di antara Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal setiap Perayaan Natal.
    Salah satu toleransi itu ialah tersedianya kantong parkir di
    Masjid Istiqlal
    yang digunakan oleh jemaat
    Gereja Katedral
    ketika ingin beribadah Misa.
    “Sudah berlangsung juga puluhan tahun, di mana setiap kali hari besar, kami kan harus mendirikan tenda untuk menambah kapasitas duduk sehingga kami tidak memiliki lahan parkir. Imam Besar (Masjid Istiqlal) selalu memberikan tempat, mempersilakan untuk umat memarkirkan kendaraan,” ujar Susyana di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    Susyana menuturkan, Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal memang sudah sejak awal direncanakan berdampingan saat Presiden RI Soekarno menetapkan Masjid Raya yang dibangun di dekat Katedral.
    “Sampai akhirnya 2022 itu dibangun terowongan, selesai, kemudian bisa digunakan, itu menambah kembali kemudahan,” tuturnya.
    Susyana mengatakan, kantong parkir
    basement
    di Masjid Istiqlal bisa menampung 700 sampai 800 kendaraan.
    Jemaat gereja yang parkir di
    basement
    tersebut dapat langsung terhubung lewat
    Terowongan Silaturahmi
    tanpa menyeberangi jalan.
    “Jadi menghindari juga menyeberang jalan di sana, karena kita ketahui jalanan sekecil inipun tapi intensitasnya cukup tinggi,” ucapnya.
    Menurut Susyana, Terowongan Silaturahmi bukan hanya sekadar kemudahan akses, tetapi menjadikan hidup antarumat beragama semakin erat.
    “Jadi pesan dari Imam Besar yang sekarang menjadi Menteri Agama dan juga Bapak Kardinal, bahwa terowongan ini bukan hanya cuma sebagai sebuah kotak kosong yang dilalui, tetapi harus punya pesan,” kata Susyana.
    “Jadi memiliki pesan dari kedua tokoh kita bahwa membuat instalasi seni itu harus memiliki pesan ada toleransi, cinta Tanah Air, dan juga saling menghargai tradisi satu sama lain,” lanjutnya.
    Pada akhirnya, Terowongan Silaturahmi itu kini menjadi inspirasi tamu-tamu dari dalam maupun luar negeri yang ingin mengunjungi Masjid Istiqlal sekaligus Gereja Katedral.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Ketua Komisi VII Kritik Pembayaran Hanya Non-tunai: Menurut UU, Harus Terima Cash

    Ketua Komisi VII Kritik Pembayaran Hanya Non-tunai: Menurut UU, Harus Terima Cash

    Ketua Komisi VII Kritik Pembayaran Hanya Non-tunai: Menurut UU, Harus Terima Cash
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com – 
    Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay mengkritik kebijakan sejumlah pengusaha yang hanya menerima pembayaran non-tunai (
    cashless
    ) karena menyulitkan masyarakat yang belum memiliki akses perbankan (
    unbankable
    ).
    Kritikan itu disampaikan Saleh menyusul insiden seorang nenek yang tidak dapat membeli roti di sebuah halte Transjakarta karena pemilik gerai menolak
    pembayaran tunai
    .
    Ia menilai, aturan yang berlaku mewajibkan setiap pihak menerima pembayaran menggunakan uang tunai, kecuali jika terdapat dugaan bahwa uang tersebut palsu.
    “Kasihan dia ditinggalkan zaman. Padahal, menurut UU, setiap orang harus menerima pembayaran pakai uang
    cash
    . Hanya dikecualikan jika uang tersebut diduga palsu,” kata Saleh dalam keterangannya, Kamis (25/12/2025).
    Saleh menuturkan, apabila ada dugaan uang palsu, pihak yang menolak pembayaran wajib membuktikannya.
    “Jika tidak ada bukti bahwa uangnya palsu, tidak ada alasan untuk menolak pembayaran
    cash
    ,” ucap dia.
    Adapun aturan yang dimaksud Saleh tertuang pada UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang, khususnya di pasal 16 ayat (1), serta pasal 33 ayat (1) dan ayat (2).
    Dalam Pasal 33 ayat (2), secara tegas menyatakan “Setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau untuk menyelesaikan kewajiban yang harus dipenuhi dengan Rupiah dan/atau untuk transaksi keuangan lainnya di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 200.000.000,00”.
    “Ketentuan yang termaktub di dalam UU Nomor 7 Tahun 2011 di atas jelas memiliki konsekuensi hukum,” tutur Saleh.
    Oleh karena itu, Wakil Ketua Umum DPP PAN ini meminta Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) menindaklanjuti persoalan tersebut hingga ke ranah hukum.
    “Menteri Keuangan dan Gubernur BI harus turun tangan. Apalagi, sudah banyak orang yang kritis dan mencermati masalah ini. Jangan lemah dalam menegakkan aturan. Apalagi, aturan tersebut secara eksplisit disebutkan di dalam Undang-undang,” tandas Saleh.
    Sebelumnya diberitakan, beredar video yang menyebutkan bahwa transaksi seorang nenek ditolak salah satu gerai Roti O karena membayar menggunakan uang tunai.
    Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat, apakah gerai Roti O masih menyediakan opsi pembayaran tunai atau telah sepenuhnya beralih ke sistem non-tunai.
    Peristiwa tersebut viral di media sosial dan menuai kritik luas.
    Selepas itu, Manajemen Roti O menyampaikan permintaan maaf atas penolakan transaksi tunai yang dialami seorang perempuan lanjut usia di salah satu gerainya.
    “Kami mohon maaf atas kejadian yang beredar dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” tulis Roti O dalam unggahan di akun Instagram resminya, Minggu (21/12/2025).
    RotiO menjelaskan, penggunaan aplikasi dan transaksi non-tunai di gerainya bertujuan memberi kemudahan sekaligus menawarkan berbagai promo dan potongan harga bagi pelanggan.
    Meski demikian, perusahaan mengaku telah melakukan evaluasi internal menyusul insiden itu.
    “Saat ini kami sudah melakukan evaluasi internal agar ke depannya tim kami dapat memberikan pelayanan yang lebih baik,” lanjut pernyataan itu.
    Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan uang tunai tetap sah dan penting sebagai alat pembayaran di Indonesia.
    Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, dorongan penggunaan transaksi non-tunai tidak berarti meniadakan peran uang tunai.
    “Keragaman demografi dan tantangan geografis serta teknologi Indonesia membuat uang tunai masih sangat diperlukan dan dipergunakan dalam transaksi di berbagai wilayah,” kata Denny saat dihubungi
    Kompas.com
    , Minggu (21/12/2025).
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Refleksi Natal: Damai di Hati dan Damai Tanah Airku

    Refleksi Natal: Damai di Hati dan Damai Tanah Airku

    Refleksi Natal: Damai di Hati dan Damai Tanah Airku
    Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    DARI
    salah satu sudut jendela hotel di Yerusalem, kota yang secara paradoks disebut sebagai “Kota Suci tiga agama samawi”, tapi hari ini dibalut oleh kawat berduri dan dihinggapi kecemasan yang tak berkesudahan, saya merasa perlu untuk menulis refleksi penting di hari Natal kali ini.
    Udara dingin yang menusuk tulang di tanah para nabi ini seolah membawa pesan penting yang harus saya sampaikan kepada Tanah Air yang saya cintai.
    Di sini, sepanjang pengamatan saya,
    Natal
    sudah bukan lagi sekadar ornamen lampu warna-warni atau diskon-diskon di berbagai pusat perbelanjaan.
    Di sini, Natal sudah bertransformasi menjadi penantian yang sangat panjang atas ujung waktu kapan berakhirnya deru mesin perang.
    Sebagai seorang pengamat sosial-politik aktif tanah air, yang kebetulan kali ini mengamati dari jarak jauh, berada di episentrum
    konflik
    Palestina dan Israel memberikan perspektif yang berbeda tentang apa arti “damai” yang sesungguhnya.
    Kita tentu sepakat bahwa dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Dunia sedang “gelagapan dan grogi” karena demam geopolitik yang kian tak pasti kapan akan sembuhnya.
    Jika kita melayangkan pandangan lebih jauh dari tembok-tembok Yerusalem, kita akan melihat Sudan yang terkoyak oleh ambisi dua kubu militer yang berseteru sejak beberapa tahun lalu, menyisakan jutaan orang dalam kelaparan dan ketidakpastian.
    Di hamparan Eropa Timur, perang antara Rusia dan Ukraina juga tak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir dengan cara yang baik.
    Perang Rusia-Ukraina telah mengubah ladang gandum menjadi ladang ranjau, lalu ikut mengguncang ketahanan pangan serta energi global.
    Bahkan di kawasan yang lebih dekat dengan tanah air kita, ketegangan historis antara Thailand dan Kamboja, hingga rivalitas raksasa antara Amerika Serikat dan China di Indo-Pasifik yang terus mendorong terciptanya bipolaritas baru, semuanya menggambarkan betapa rapuhnya tatanan dunia yang kita tinggali.
    Geopolitik pelan-pelan berubah menjadi permainan catur yang penuh dengan pengorbanan, di mana manusia seringkali hanya dianggap sebagai angka-angka dalam data statistik.
    Namun, di tengah hiruk-pikuk api yang menyala di berbagai belahan dunia tersebut, pikiran saya terbang kembali ke tanah air, Indonesia.
    Harus diakui, Indonesia saat ini sedang bergulat dengan beban yang tidak sedikit di satu sisi dan tak mudah di sisi lain.
    Masalah ekonomi yang menghimpit masyarakat kebanyakan, fluktuasi harga kebutuhan pokok yang terus membebani dapur keluarga, hingga rentetan bencana alam yang silih berganti menghantam dari satu pulau ke pulau lain, menjadi realitas yang pahit untuk dicerna.
    Dengan kata lain, kita merayakan Natal tahun ini di bawah bayang-bayang kesulitan yang secara pelan-pelan berubah menjadi beban nyata.
    Namun demikian, jika kita bersedia sedikit saja menepi dari berbagai keluhan tersebut, lalu mulai melihat gambaran besar dunia melalui lensa reflektif perayaan Natal kali ini, ada satu hal fundamental yang patut kita syukuri sebagai negara bangsa, yakni Indonesia tidak sedang berada dalam kobaran perang saudara atau tekanan militer mana pun.
    Keberhasilan kita menjaga kohesi sosial di tengah keragaman adalah pencapaian sosiologis yang seringkali terlupa untuk diapresiasi secara proporsional.
    Di saat bangsa-bangsa lain terpecah karena perbedaan sekte, etnis, atau batas wilayah, Indonesia masih tegak berdiri sebagai rumah besar yang dianggap masih mampu menjadi ibu pertiwi dari semua ibu yang hidup di tanah air.
    Oleh karena itu, Natal di Indonesia kali ini adalah momen di mana pesan perdamaian itu harus digemakan kembali, bukan sebagai retorika kosong atau istilah kerennya
    omon-omon
    , melainkan sebagai komitmen eksistensial bersama.
    Sebagaimana sama-sama diketahui, “damai” bukanlah kondisi statis atau pemberian alam, melainkan hasil kerja keras merujuk akal sehat yang harus terus diproduksi dan diproduksi ulang oleh setiap warga negara.
    Karena itu, pesan damai dari palungan Natal di Indonesia kali ini harus mampu melintasi batas-batas geografis dan ideologis. Agar pesan tersebut tetap kredibel di mata dunia, maka pesan tersebut harus terlebih dahulu membumi dan mampu menyembuhkan luka-luka di dalam tubuh kita sendiri.
    Salah satu luka yang paling dalam dan membutuhkan perhatian serius adalah Tanah Papua di mana mayoritas penduduknya merayakan Natal.
    Sebagai sosiolog, saya menilai bahwa pendekatan keamanan dan pembangunan infrastruktur fisik masih jauh dari cukup untuk membasuh luka sejarah di sana.
    Sudah saatnya Indonesia, dengan keberanian moral yang besar, memikirkan strategi baru yang lebih manusiawi untuk menyelesaikan masalah Papua dengan memperlakukan aspirasi yang lahir dari tanah Papua Barat seapresiatif dan semanusiawi mungkin.
    Dengan kata lain, saya termasuk orang yang percaya bahwa damai di Papua tidak akan lahir dari moncong senjata atau dari meja-meja birokrasi di Jakarta yang buat orang Papua sendiri maupun negara-negara Polinesia dianggap masih ‘arogan’.
    Damai hanya bisa tumbuh dan bertumbuh dari meja-meja negosiasi yang didasari oleh ketulusan dan kemurnian niat, di mana rasa saling menghargai dan pengakuan atas martabat kemanusiaan menjadi alas dasarnya.
    Indonesia harus mulai membuka mata dan berani mendengarkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan di Tanah Papua, memahami narasi penderitaan mereka dengan hati yang bersih, lalu mencari jalan tengah yang menjunjung tinggi keadilan.
    Mengabarkan damai ke seluruh dunia akan terasa hambar jika Indonesia belum mampu menghadirkan kedamaian yang substantif di Bumi Cendrawasih.
    Artinya, resolusi konflik di Papua melalui jalur dialog akan menjadi bukti nyata yang dihadirkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah kampiun perdamaian yang sesungguhnya, bukan sekadar penonton di panggung global.
    Situasi geopolitik yang kian memanas antara Amerika Serikat dan China yang memicu ketegangan geo-ekonomi seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua sebagai bangsa yang tangguh untuk memperkuat ketahanan nasional melalui solidaritas sosial nyata, terutama di tanah Papua, bukan melalui pemaksaan dan moncong senjata.
    Dalam perspektif sosiologi politik, stabilitas negara sangat bergantung pada kemampuannya mengelola konflik internal secara damai.
    Jika negara terjebak dalam pertikaian tak berujung di dalam negeri, maka akan mudah terbawa arus kepentingan kekuatan-kekuatan global yang sedang bertarung di arena internasional.
    Oleh karena itu, Natal kali ini sebaiknya menjadi momentum untuk melakukan “gencatan senjata” sosial atas segala kebencian, prasangka, dan polarisasi politik yang mungkin masih tersisa di antara kita sebagai anak bangsa, termasuk dengan para pihak di Papua yang selama ini dilabeli pemberontak atau teroris oleh Jakarta.
    Selanjutnya, masalah ekonomi dan bencana alam yang kita hadapi memang berat. Namun sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tangguh.
    Kita sebagai bangsa memiliki modal sosial berupa “gotong royong” yang tidak dimiliki oleh banyak bangsa lain.
    Di saat bencana melanda, tidak ada yang bertanya apa agamamu atau apa sukumu sebelum mengulurkan tangan.
    Itulah intisari dari pesan Natal, yakni kasih yang melampaui segala sekat. Semangat inilah yang harus diekspor ke luar negeri.
    Indonesia memiliki kewajiban moral untuk menjadi perantara damai (
    peace broker
    ) di tingkat dunia, dimulai dengan menunjukkan teladan dalam penyelesaian konflik domestik secara elegan dan bermartabat di ranah domestik.
    Dari Yerusalem yang sedang berduka, saya akhirnya menyadari betapa mahalnya harga kedamaian.
    Saya melihat anak-anak yang kehilangan masa depan karena kebencian yang diwariskan secara turun-temurun. Sehingga besar harapan saya, jangan sampai Indonesia jatuh ke dalam lubang yang sama.
    Kekuatan kita terletak pada kemampuan kita untuk memaafkan dan berdialog. Indonesia harus bangga bahwa di tengah dunia yang terus memanas, Indonesia tetap menjadi oase di mana azan dan lonceng gereja masih bisa saling bersahutan dalam harmoni serta harum dupa masih ada, meskipun tantangan hidup semakin berat.
    Mari kita rayakan Natal tahun ini dengan kesadaran baru bahwa di balik setiap kesulitan ekonomi dan duka akibat bencana, kita masih memiliki “negara” yang utuh. Kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
    Pesan damai dari Indonesia harus menjadi mercusuar bagi negara-negara yang sedang bertikai di Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa Timur. Kita harus mengatakan kepada dunia bahwa perdamaian adalah satu-satunya jalan keluar bagi kelangsungan hidup umat manusia.
    Sekali lagi saya ingin menyampaikan bahwa refleksi Natal kali ini seharusnya menjadi ajakan untuk pulang ke jati diri kita sebagai bangsa yang santun dan pemaaf.
    Mari kita bawa pesan damai ini ke pasar-pasar yang sedang mengalami tekanan permintaan, ke desa-desa yang baru saja dihantam banjir, dan terutama ke pegunungan serta pesisir di tanah Papua.
    Biarlah cahaya terang Natal tahun ini, menyinari lorong-lorong gelap kecurigaan dan menggantinya dengan harapan atas masa depan yang lebih inklusif. Sehingga Indonesia bisa menjadi laboratorium perdamaian dunia yang paling nyata.
    Jika kita berhasil menyelesaikan persoalan internal kita, termasuk Papua, dengan jalan damai, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara yang maju secara ekonomi, tetapi juga menjadi kompas moral bagi peradaban dunia yang sedang kehilangan arah ini.
    Selamat menyambut Natal untuk saudara-saudaraku di seluruh pelosok tanah air. Dari kejauhan, doa saya menyertai setiap langkah kita dalam merajut kembali kain tenun kebangsaan yang selama ini telah menjadi kebanggaan kita semua.
    Tetaplah menjadi pembawa damai, karena di tangan mereka yang mencintai kedamaianlah, masa depan dunia sedang dititipkan.
    Damai di bumi, damai di hati, dan damai untuk Indonesia tercinta. Selamat merayakan Natal 2025.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Istri Jenguk Noel di Rutan KPK saat Natal, Pastikan Kondisi Suami Sehat

    Istri Jenguk Noel di Rutan KPK saat Natal, Pastikan Kondisi Suami Sehat

    Istri Jenguk Noel di Rutan KPK saat Natal, Pastikan Kondisi Suami Sehat
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Istri mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker)
    Immanuel Ebenezer
    , Silvia Rinita Harefa, mengunjungi suaminya di Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) cabang Gedung Merah Putih, Jakarta, Kamis (25/12/2025).
    Kunjungan tersebut dilakukan seiring dibukanya layanan kunjungan keluarga dan kerabat tahanan korupsi oleh KPK dalam rangka perayaan
    Natal 2025
    . Layanan kunjungan khusus ini dibuka mulai pukul 10.00 WIB hingga 13.00 WIB.
    Pantauan
    Kompas.com
    di lokasi, Silvia tampak mengenakan dres bermotif bunga berwarna kuning dan hitam, serta membawa tas selempang saat meninggalkan
    Rutan KPK
    . Silvia memastikan kondisi kesehatan suaminya dalam keadaan baik.
    “Baik, sehat,” kata Silvia singkat.
    Ia mengungkapkan dirinya membawa makanan untuk Noel dan berbincang seperti biasa dalam suasana Natal.
    “(Komunikasi dengan Noel) biasa saja sih, kan, Natalan ya. Tadi pada makan semuanya tahanan-tahanan di dalem. Rame banget,” ujarnya.
    Silvia juga mengaku tidak mempermasalahkan perayaan Natal tahun ini yang tidak dapat dirayakan sepenuhnya bersama sang suami.
    “Enggak apa apa, enggak jadi masalah kok, yang penting bisa kumpul,” ucap dia.
    Sebagai informasi, KPK telah melimpahkan berkas perkara eks Wamenaker Immanuel Ebenezer alias Noel bersama 10 tersangka lainnya ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kamis (18/12/2025).
    Selanjutnya, JPU memiliki waktu 14 hari untuk menyusun surat dakwaan sebelum melimpahkan perkara tersebut ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) untuk disidangkan.
    Dalam perkara ini, Noel dan para tersangka diduga menggunakan modus menaikkan biaya penerbitan sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Praktik tersebut disebut telah berlangsung sejak 2019.
    KPK mengungkapkan bahwa biaya resmi pengurusan sertifikasi K3 seharusnya hanya sebesar Rp 275.000. Namun, di lapangan, biaya tersebut meningkat hingga Rp 6 juta.
    Akibat praktik tersebut, KPK mencatat adanya selisih pembayaran yang mencapai Rp 81 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 3 miliar diduga dinikmati oleh Noel.
    Atas perbuatannya, Noel dan 10 tersangka lainnya dijerat Pasal 12 huruf (e) dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kardinal Suharyo: Yang Kaya Rusak Hutan, Korbannya yang Tidak Punya Kuasa

    Kardinal Suharyo: Yang Kaya Rusak Hutan, Korbannya yang Tidak Punya Kuasa

    Kardinal Suharyo: Yang Kaya Rusak Hutan, Korbannya yang Tidak Punya Kuasa
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan bahwa dunia adalah tempat hidup bersama yang harus dijaga, bukan justru merusak alam.
    Pesan ini disampaikan
    Kardinal Suharyo
    usai Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    “Kalau di suatu negara yang kuat, yang kaya merusak hutan, korbannya siapa? Korbannya saudara-saudara kita yang tidak mempunyai kuasa apapun untuk mencegah itu,” ucap Kardinal Suharyo.
    Kardinal Suharyo berharap, momen Natal ini memberikan harapan besar agar pemimpin negara mampu menjalankan amanah dengan baik.
    “Melalui semangat kelahiran juruselamat, Keuskupan Agung Jakarta berharap kepada para pemimpin yang memanggul mandat warga berdaulat untuk bekerja sebaik-baiknya mewujudkan kesejahteraan dan kebaikan bersama. Rumusannya itu,” ucap dia.
    Kardinal Suharyo mengatakan, apabila terjadi perusakan lingkungan yang diperoleh dari izin yang legal, maka legalitas itu didapatkan dengan cara yang tidak baik.
    “Kalau misalnya nanti penegak hukum menengarai ini kerusakan hutan disebabkan karena alamnya memang begini, tetapi karena perusakan hutan yang legal. Meskipun buruk, legalitasnya diperoleh dengan cara yang tidak bagus,” kata dia.
    Menurut dia, ekosistem dunia akan berubah jika penebangan hutan dilakukan dengan tujuan membangun tambang.
    “Kalau hutan ditebang dan diganti dengan apapun lah, tambang kah apa. Itu kan artinya ekosistem dunia ini berubah,” tutur Kardinal Suharyo.
    “Nah siapa yang menandatangani izin menebang hutan? Ketika izin itu diberikan, apakah dengan analisis lingkungan, analisis dampak dan sebagainya dilakukan apa enggak,” imbuh dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan mengutip pernyataan Paus Fransiskus ketika khotbah dalam Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    Ia menuturkan, mendiang
    Paus Fransiskus
    pernah menyoroti persoalan terkait ketidakadilan, pemujaan uang, dan
    korupsi
    yang dinilai merendahkan martabat manusia serta berakibat merusak masa depan.
    “Mendiang Paus Fransiskus di dalam pernyataannya ketika memaklumkan tahun suci luar biasa yaitu bertindak-tidak adil, memuja uang, dan korupsi,” ucap
    Kardinal Suharyo
    .
    “Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan karena keserakahan yang zalim itu menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah skandal publik yang berat,” ujar dia.
    Kardinal Suharyo lalu menyebut bahwa dalam dunia dewasa ini, banyak luka yang ditanggung oleh orang-orang yang tidak mempunyai suara.
    “Karena teriakan mereka diredam dan dibenamkan oleh sikap acuh tak acuh orang-orang yang berkuasa,” kata Kardinal.
    Oleh sebab itu, ia memperingatkan betapa mengerikannya kebahagiaan yang bergantung pada uang.
    “Paus Fransiskus mengatakan begini, ‘Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan yang beranggapan bahwa kebaikan, kebahagiaan bergantung kepada uang, dan bahwa dibandingkan dengan uang semua yang lain tidak ada nilai dan martabatnya’,” tutur Kardinal Suharyo.
    Ia menuturkan, Paus Fransiskus berpandangan, kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara tidak bermoral tidak akan membawa kekuasaan yang langgeng.
    “Lebih menumpuk kekayaan yang berlumuran darah tidak akan mampu membuat seorang pun tetap berkuasa dan tidak mati,” ujar Kardinal.
    Ia berharap, Perayaan
    Natal 2025
    membuat jemaat terdorong untuk semakin rajin mencari jalan-jalan baru untuk berbuat baik.
    Menurut dia, semakin banyak ragam perbuatan baik semakin banyak pula tanda-tanda pengharapan yang dimaksudkan oleh Paus Fransiskus.
    “Sekali lagi selamat merayakan Natal dan selamat menyambut tahun baru 2026 tahun baru yang kita harapkan penuh pengharapan. Tuhan memberkati,” kata Kardinal Suharyo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Momen Tahanan KPK Dibesuk Keluarga Saat Hari Natal 2025

    Momen Tahanan KPK Dibesuk Keluarga Saat Hari Natal 2025

    Momen Tahanan KPK Dibesuk Keluarga Saat Hari Natal 2025
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memfasilitasi tahanan korupsi melaksanakan ibadah Natal 2025 pada Kamis (25/12/2025).
    KPK
    juga membuka kunjungan untuk keluarga tahanan dari pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB.
    Berdasarkan pantauan
    Kompas.com
    , puluhan orang sudah mengantre di depan Rumah Tahanan (Rutan) KPK cabang Gedung Merah Putih pada pukul 09.44 WIB.
    Ada tiga antrean di depan Rutan KPK.
    Pertama, puluhan orang yang mengantre untuk memberikan data diri ke petugas.
    Kedua, sejumlah orang yang mengantre untuk mengirimkan makanan.
    Terakhir, pengunjung yang bersiap untuk masuk ke dalam Rutan.
    Sejumlah petugas dan anggota kepolisian juga terlihat menjaga ketat Rutan KPK hari ini.
    Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, saat ini, tercatat 12 orang tahanan yang akan melaksanakan
    ibadah Natal
    .
    “Seluruh rangkaian ibadah dan kunjungan para pihak keluarga serta kerabat tahanan, tetap mengacu pada tata tertib pengelolaan Rutan KPK,” kata Budi dalam keterangannya, Rabu (24/12/2026).
    Budi mengatakan, fasilitas ibadah dan kunjungan khusus ini sebagai wujud penghormatan terhadap hak-hak dasar bagi setiap insan beragama, termasuk bagi tahanan KPK.
    “Hal ini juga selaras dengan asas-asas pelaksanaan tugas dan kewenangan KPK yang diatur dalam Pasal 5 UU Nomor 19 Tahun 2019, yaitu kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, proporsionalitas, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia,” ujarnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas Kehidupan

    Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas Kehidupan
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan pesan dalam khotbah Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    Mengawali khotbahnya,
    Kardinal Suharyo
    mengucapkan selamat
    Hari Raya Natal
    dan mengharapkan Firman Yesus hadir di antara jemaat serta menjadi terang sepanjang hidup.
    “Saudari saudaraku yang terkasih. Tetapi nyatanya manusia tidak sepenuhnya menerima terang itu, melainkan sering memilih untuk hidup di dalam kegelapan,” kata Kardinal Suharyo.
    Akibatnya, manusia yang mestinya bermartabat luhur dan mulia merendahkan martabatnya sendiri ketika membiarkan hidupnya dipimpin oleh kegelapan.
    “Buahnya kita semua tahu adalah semakin luntur dan merosotnya moralitas kehidupan,” ucapnya.
    Kardinal Suharyo menuturkan, perendahan martabat manusia terjadi sepanjang sejarah umat manusia sejak awal.
    Ia lalu mengutip pernyataan mendiang Paus Fransiskus yang menyoroti persoalan terkait ketidakadilan, pemujaan uang, dan korupsi yang dinilainya merendahkan martabat manusia.
    “Inilah yang terungkap, misalnya, di dalam tindakan-tindakan yang tidak bermartabat seperti yang diangkat oleh mendiang Paus Fransiskus di dalam pernyataannya ketika memaklumkan tahun suci luar biasa, yaitu bertindak tidak adil, memuja uang, dan korupsi,” ucapnya.
    Masih mengutip pernyataan Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo menyebut di dalam dunia dewasa ini banyak luka yang ditanggung oleh orang-orang yang tidak mempunyai suara.
    “Karena teriakan mereka diredam dan dibenamkan oleh sikap acuh tak acuh orang-orang yang berkuasa,” imbuhnya.
    Kardinal Suharyo memperingatkan betapa pentingnya kebahagiaan yang bergantung pada uang.
    “Paus Fransiskus mengatakan begini, ‘Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebaikan, kebahagiaan bergantung kepada uang, dan bahwa dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai dan martabatnya’,” tutur dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Prabowo: Semoga Damai Natal Menyertai Semua, Mari Jadikan Masa Ini Sumber Pengharapan

    Prabowo: Semoga Damai Natal Menyertai Semua, Mari Jadikan Masa Ini Sumber Pengharapan

    Prabowo: Semoga Damai Natal Menyertai Semua, Mari Jadikan Masa Ini Sumber Pengharapan
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Presiden Prabowo Subianto mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru 2026 untuk seluruh masyarakat Indonesia.
    Ia juga berharap damai Natal menyertai seluruh umat Kristiani yang merayakan.
    “Semoga damai Natal menyertai kita semua, dan semoga tahun yang baru membawa kesehatan, kekuatan, serta semangat kebersamaan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ucap
    Prabowo
    dalam akun X @prabowo dan cerita di Instagram pribadinya, Kamis (25/12/2025) pagi.

    Selamat Natal
    dan
    Tahun Baru 2026
    . Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi dan menyertai perjuangan kita,” tutur dia.
    Kepala Negara menilai Natal adalah momentum kasih, harapan, dan kepedulian terhadap sesama.
    Pada saat yang bersamaan, ia memahami, Indonesia tengah diuji oleh bencana alam yang membawa duka dan tantangan bagi masyarakat di Sumatera.
    Namun ia meminta masa-masa ini menjadi sumber pengharapan.
    “Marilah kita jadikan masa ini sebagai sumber pengharapan dan langkah untuk bangkit bersama,” ucap Prabowo.
    Ia pun mengajak warga Indonesia untuk saling bergotong-royong.
    “Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk terus memperkuat semangat
    gotong royong
    dan solidaritas, saling menolong, serta mengerahkan kemampuan terbaik kita sebagai bangsa yang tangguh karena persatuan,” kata Prabowo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.