Category: Kompas.com Nasional

  • Wujudkan Asa Ribuan Mahasiswa Kurang Mampu, Pemkot Surabaya Kucurkan Rp 71 Miliar untuk Beasiswa Pemuda Tangguh 
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Wujudkan Asa Ribuan Mahasiswa Kurang Mampu, Pemkot Surabaya Kucurkan Rp 71 Miliar untuk Beasiswa Pemuda Tangguh Nasional 16 Oktober 2025

    Wujudkan Asa Ribuan Mahasiswa Kurang Mampu, Pemkot Surabaya Kucurkan Rp 71 Miliar untuk Beasiswa Pemuda Tangguh
    Tim Redaksi
    KOMPAS.com
    – Di balik senyum lembut seorang mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, tersimpan kisah perjuangan luar biasa. Safira Hasna, salah satu mahasiswi di kampus tersebut, telah menjadi yatim piatu sejak usia muda.
    Safira menjadi piatu sejak duduk di bangku kelas 4 SD, kemudian sang ayah meninggal dunia saat ia naik ke kelas 3 SMP. Dunia seakan runtuh bagi Safira kecil karena benar-benar menjadi yatim piatu di usia yang belum menginjak remaja.
    Namun, dengan semangat belajar dan tekad yang kuat, Safira membuktikan bahwa keterbatasan tidak bisa menghalangi mimpinya melanjutkan pendidikan. Kini, semangat juangnya membuahkan hasil karena ia tercatat sebagai salah satu penerima Beasiswa Pemuda Tangguh dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
    “Dengan beasiswa ini, alhamdulillah terbantu pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) semesteran, terbantu membeli alat-alat ataupun buku-buku yang diperlukan untuk kuliah,” ujar Safira dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (16/10/2025).
    Bagi Safira, bantuan dana itu bukan sekadar nominal, melainkan sebuah kepercayaan dan kesempatan untuk melanjutkan mimpi. Ia berjanji akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus belajar, menggapai cita-cita, dan berkontribusi bagi Kota Surabaya.
    Kisah Safira hanyalah satu dari ribuan cerita di balik penerima program beasiswa pendidikan tinggi di Surabaya. Sejak diluncurkan pada 2021, Pemkot Surabaya telah mengucurkan dana sebesar Rp 71 miliar untuk Beasiswa Pemuda Tangguh.
    Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa hingga kini, sebanyak 5.908 mahasiswa telah merasakan manfaat program Beasiswa Pemuda Tangguh yang mencakup dukungan biaya hidup bulanan dan pembiayaan UKT. Ia menambahkan, anggaran untuk program ini akan terus ditingkatkan seiring berjalannya waktu.
    “Alhamdulillah, insyaallah dengan anggaran 2026 nanti, setelah disahkan, maka (Beasiswa Pemuda Tangguh) akan kami tambah untuk 24.000 anak Surabaya,” kata Eri.
    Lebih lanjut, Eri menegaskan, Surabaya harus menjadi tempat yang ramah bagi anak muda untuk tumbuh dan berkembang. Ia berpesan agar generasi muda terus belajar, berkarya, dan berprestasi, sebab Surabaya selalu hadir untuk menjaga semangat mereka.
    Pada periode semester ganjil September 2025, sebanyak 2.766 mahasiswa dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa Pemuda Tangguh. Verifikasi ketat dilakukan agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan menyentuh mereka yang membutuhkan.
    Eri mengatakan, Beasiswa Pemuda Tangguh terbuka untuk semua warga Surabaya. Namun, prioritas utama diberikan kepada keluarga miskin dan pramiskin. Ia secara khusus meminta keluarga yang sudah mampu dan memiliki pendapatan tinggi untuk tidak mengikuti program beasiswa ini.
    “Mari kita bantu saudara kita (yang lebih membutuhkan),” ujarnya.
    Proses verifikasi faktual harus dilakukan menyusul banyaknya pendaftar yang mencantumkan pekerjaan orangtua sebagai wiraswasta. Hal ini penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan mengutamakan mereka yang orang tuanya berpenghasilan rendah.
    Dari proses tersebut, ditemukan pula sejumlah kasus khusus yang menarik perhatian Pemkot Surabaya, seperti mahasiswa tunarungu di Universitas Terbuka (UT) serta pendaftar yang baru kehilangan orangtua.
    Untuk mahasiswa yang tinggal sendiri, Pemkot Surabaya memfasilitasi tempat tinggal di Rumah Ilmu Arek Suroboyo (RIAS).
    Terkait besaran bantuan, Eri menjelaskan bahwa dana disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah dan kebutuhan penerima, dengan pemberian bantuan yang maksimal tetapi terbatas. Bagi mahasiswa dengan orangtua berpenghasilan tinggi, mereka tetap berpeluang mendapat subsidi parsial jika kuota tersisa.
    Ia mencontohkan, subsidi parsial diberikan jika kuota tersisa, seperti UKT Rp 10 juta yang hanya dikover sebagian.
    “Contohnya, jika UKT Rp 10 juta, yang kami berikan hanya Rp 2 juta. Tidak semua kami kover Rp 10 juta,” tambahnya.
    Program tersebut menyasar mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) yang telah bekerja sama dengan Pemkot Surabaya. Tujuannya adalah agar semakin banyak warga Surabaya yang bisa menempuh kuliah dan mengubah nasib keluarganya menjadi lebih baik.
    Kepala Bidang Kepemudaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Eringgo Perkasa menyampaikan, beasiswa kini diatur dalam Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 45 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemberian Beasiswa.
    Regulasi itu memastikan kualitas dan kontribusi lulusan penerima beasiswa, serta menetapkan durasi maksimal 8 semester untuk S1 atau D4 dan 6 semester untuk D3.
    “Beasiswa akan dicabut secara tegas jika penerima melanggar klausul, seperti menikah atau menerima beasiswa dari instansi lain,” ucap Eringgo.
    Selain pembiayaan kuliah, program beasiswa memberikan dukungan menyeluruh dengan syarat penerima harus memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00. Eringgo menegaskan bahwa jika IPK tidak tercapai, Pemkot Surabaya akan melibatkan kampus untuk evaluasi.
    Hingga saat ini, program Beasiswa Pemuda Tangguh telah bekerja sama dengan 15 perguruan tinggi. Adapun sembilan di antaranya berada Surabaya dan enam di luar kota. Pendaftaran beasiswa sendiri bisa dilakukan melalui laman
    besmart.surabaya.go.id
    .
    Perluasan program beasiswa ke kampus luar kota merupakan intervensi Wali Kota untuk membantu mahasiswa yang terdampak musibah.
    “Kami ingin memastikan tidak ada anak Surabaya yang gagal kuliah karena alasan biaya,” tutur Eringgo.
    Sepanjang 2025, total 5.908 mahasiswa menjadi penerima, menjadikan Surabaya satu-satunya daerah yang menyalurkan beasiswa dua kali dalam setahun. Angka ini membuktikan komitmen Pemkot Surabaya dalam memberikan akses pendidikan tinggi bagi warganya.
    “Hanya Surabaya yang bisa melakukan itu dan membiayai mereka hingga lulus,” ujar Eringgo.
    Sejalan dengan target Wali Kota, Pemkot Surabaya akan memperluas cakupan program pada 2026. Perluasan kuota menjadi 24.000 mahasiswa ini akan melibatkan lebih banyak PTS, memastikan semakin banyak warga Surabaya memperoleh kesempatan pendidikan tinggi. (ADV)
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kasus Bullying Siswa SMP Hingga Tewas, Cucun Sebut Guru Takut Dilaporkan
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Kasus Bullying Siswa SMP Hingga Tewas, Cucun Sebut Guru Takut Dilaporkan Nasional 16 Oktober 2025

    Kasus Bullying Siswa SMP Hingga Tewas, Cucun Sebut Guru Takut Dilaporkan
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Wakil Ketua DPR Fraksi PKB Cucun Ahmad Syamsurijal menilai, ketakutan guru menjadi salah satu faktor banyak kasus perundungan (bully) yang terjadi di sekolah, termasuk yang menimpa ABP (12), bocah SMP yang tewas di Grobogan, Jawa Tengah. 
    Menurutnya, guru takut ikut campur terlalu jauh dalam urusan siswa karena takut dilaporkan kepada pihak berwajib.
    “Tidak akan terjadi seperti kasus di Grobogan, kalau pengawasan dari gurunya di dalam ruang sekolah, diberikan kewenangan penuh oleh orang tuanya,” kata Cucun di Kantor DPP PKB, Jakarta, Rabu (15/10/2025).
    “Gurunya misalkan sekarang mau masuk dalam pengawasan seperti ini, kebanyakan guru justru sekarang takut dengan kondisi-kondisi tadi. Kalau terlalu masuk, misalkan melerai anak ini, tiba-tiba gurunya yang dilaporkan oleh salah satu pihak anak,” sambungnya.
    Cucun menilai, kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Ia mendorong perbaikan tata nilai karakter anak-anak Indonesia.
    “Ini evaluasi kurikulum, saya akan bicara dengan Pak Mendikdasmen ini, terutama perubahan kedekatan anak-anak kita dengan media sosial, kebebasan berpendapatnya, sampai di mana dikasih batasannya,” ujarnya.
    “Kalau di ruang sekolah, di mana dikasih kebebasannya juga. Anak-anak SD, SMP, SMA, pasti kan sudah ada barrier-barriernya ini,” imbuh Cucun.
    Seorang teman seangkatan ABP, APR (12), mengungkapkan bahwa peristiwa tragis itu bermula pada Sabtu (11/10/2025) pagi.
    Saat itu, ABP sempat terlibat perkelahian dengan El (12), salah satu teman sekelasnya.
    “Awal mulanya ABP diejek teman-temannya, lalu ABP tidak terima dan berkelahi. ABP dipukuli kepalanya dan kemudian berhenti. Itu saat jam ketiga, tapi belum ada guru,” kata APR, siswi kelas VII F, yang kelasnya bersebelahan dengan ruang kelas ABP, VII G, saat ditemui di rumah duka, Minggu pagi.
    Menurut APR, perundungan terhadap ABP tidak berhenti di situ. Sekitar pukul 11.00 WIB, ABP kembali dikerubungi teman-temannya dan diadu dengan siswa lain, AD (12).
    “Kamu beraninya sama siapa? Lalu ABP berkelahi dengan AD hingga kepala ABP kena pukul berkali-kali. Dia kejang-kejang dan dibawa ke UKS, tapi meninggal. Saat itu jam pelajaran, tapi guru belum datang,” lanjut APR.
    ABP ditemukan tidak bernyawa di ruang kelas VII G sekitar pukul 11.00 WIB.
    Kakek korban, Pujiyo (50), mengatakan bahwa sebelum meninggal, ABP sering mengeluh menjadi korban bullying verbal dan fisik di sekolah.
    Trauma akibat perlakuan itu sempat membuat ABP enggan berangkat sekolah.
    “Pernah sakit juga di kepala karena dipukuli dan tidak masuk sekolah. Kami akhirnya datangi sekolah dan melaporkannya. ABP pun kemudian mau masuk sekolah meski tetap dihina dan dianiaya. Dia itu anak penurut dan enggak aneh-aneh. Hobinya sepak bola,” ungkap Pujiyo.
    Ia pun menyayangkan lemahnya pengawasan dari pihak sekolah, yang menyebabkan kasus perundungan tersebut terus terjadi hingga akhirnya merenggut nyawa cucunya.
    “Harusnya diawasi, kan udah kejadian. Kasihan mas, anaknya pendiam. Orangtuanya kalau pulang hanya pas Lebaran,” tambahnya sambil menangis.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Cak Imin Nyatakan Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan Belum Tuntas Dibahas
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Cak Imin Nyatakan Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan Belum Tuntas Dibahas Nasional 16 Oktober 2025

    Cak Imin Nyatakan Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan Belum Tuntas Dibahas
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menegaskan bahwa skema pemutihan tunggakan iuran BPJS Kesehatan peserta masih belum tuntas dibahas.
    Sebelumnya, Cak Imin mengadakan pertemuan tertutup bersama Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti.
    Namun demikian, ia tak menjelaskan dengan perinci isi pembahasan yang dilakukan tersebut.
    Cak Imin berlalu meninggalkan awak media yang bertanya soal pemutihan iuran tunggakan peserta BPJS Kesehatan.
    “Tunggu… tunggu,” kata Cak Imin sembari berlalu di Plaza Jamsostek, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (16/10/2025).
    Ketika dimintai keterangan kembali, Cak Imin menegaskan bahwa rencana pemerintah memberikan pemutihan iuran tunggakan peserta BPJS Kesehatan masih dalam pembahasan dengan pemangku kepentingan terkait.
    “Nanti, nanti kita atur. Masih belum tuntas (dibahas),” lanjut dia sembari memasuki mobil dan berlalu.
    Kemarin, Dirut BPJS Kesehatan Ali Ghufron mengatakan bahwa rapat soal penghapusan tunggakan iuran peserta jaminan sosial tersebut digelar pada Rabu (15/10/2025) kemarin.
    Ali mengatakan Presiden Prabowo dan Cak Imin sudah memberikan arahan mengenai rencana penghapusan tunggakan tersebut.
    “Arahan Presiden dan Menko PM untuk memberdayakan masyarakat dengan menghapus tunggakan iuran JKN yang sudah bertahun-tahun,” kata Direktur Utama BPJS, Ali Ghufron Mukti, kepada
    Kompas.com
    , Rabu (15/10/2025).
    Dia optimistis pemerintah masih mampu melunasi tunggakan iuran peserta BPJS Kesehatan.
    Dia tidak menyebut angka persis nominal uang yang diperlukan pemerintah untuk melunasi tunggakan tersebut.
    Sebelumnya, Cak Imin mengatakan jumlah peserta yang menunggak iuran sebesar 23 juta orang.
    “Ada 23 juta orang yang tunggakannya akan dihapus,” kata Cak Imin di kantornya, di Jakarta, Selasa (14/10/2025).
    Adapun kemarin, Ali Ghufron mengatakan nilai tunggakanya adalah Rp 7,6 triliun, belum termasuk denda dan kewajiban lain yang masih perlu diverifikasi.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Usai Akhiri Kerja Sama Patrick Kluivert, PSSI Diminta Cari Pelatih Timnas yang Tepat
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Usai Akhiri Kerja Sama Patrick Kluivert, PSSI Diminta Cari Pelatih Timnas yang Tepat Nasional 16 Oktober 2025

    Usai Akhiri Kerja Sama Patrick Kluivert, PSSI Diminta Cari Pelatih Timnas yang Tepat
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Komisi X DPR RI berharap PSSI dapat segera mencari pelatih baru yang lebih tepat untuk menangani Timnas Indonesia, setelah berakhirnya kerja sama dengan Patrick Kluivert dan jajaran kepelatihannya.
    Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani mengatakan, PSSI memiliki pemahaman yang cukup terhadap kondisi terkini sepak bola nasional.
    Untuk itu, PSSI harus mampu menemukan sosok pelatih yang bisa membawa Timnas menjadi kekuatan yang disegani di kawasan maupun dunia.
    “Semua keputusan ada di tangan PSSI, silakan cari yang terbaik. Harapan kami, semoga PSSI bisa mendapatkan pelatih yang betul-betul mampu menjadikan timnas kita kekuatan yang luar biasa dan mampu menerjemahkan blueprint serta target-target yang sudah ditetapkan,” kata Lalu Hadrian saat dihubungi, Kamis (16/10/2025).
    Dalam kesempatan itu, Lalu Hadrian menyatakan bahwa Komisi X DPR RI menyambut baik keputusan PSSI mengakhiri kerja sama dengan Kluivert.
    Langkah ini dianggap tepat, sekaligus menjawab keresahan masyarakat atas performa Timnas Indonesia dalam beberapa laga terakhir.
    “Setuju dengan langkah PSSI. Ini menjawab keresahan di masyarakat. Ayo
    move on
    , segera PSSI laksanakan peta jalan sepak bola nasional yang sudah dibuat,” jelas Lalu Hadrian.
    Dia menegaskan, Komisi X akan terus mengawal pelaksanaan peta jalan sepak bola nasional, agar proses pembinaan berjalan sesuai rencana.
    “Persiapkan timnas kita dengan baik. Tentunya kami di Komisi X terus akan kawal pelaksanaan peta jalan sepak bola nasional,” tutur Lalu Hadrian.
    Politikus PKB itu menambahkan, Komisi X berencana membahas evaluasi performa Timnas Indonesia sekaligus penghentian kerja sama Kluivert, dalam rapat kerja mendatang bersama PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
    “Tentu dalam raker yang akan datang, salah satu yang akan kami tanyakan adalah terkait hal tersebut,” pungkasnya.
    Diberitakan sebelumnya, PSSI secara resmi mengumumkan berakhirnya kerja sama dengan Patrick Kluivert melalui mekanisme mutual termination atau kesepakatan bersama.
    Keputusan ini diambil lebih awal dari kontrak berdurasi dua tahun yang ditandatangani Kluivert bersama PSSI.
    Federasi menyebut, langkah itu diambil dengan mempertimbangkan arah baru pembinaan dan pengembangan sepak bola nasional.
    Dengan demikian, tim kepelatihan Kluivert tidak lagi menangani Timnas Indonesia Senior, U-23, maupun U-20.
    Kluivert dan stafnya diketahui langsung kembali ke Belanda usai dua laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Jeddah, Arab Saudi, di mana Indonesia kalah 2–3 dari Arab Saudi dan 0–1 dari Irak.
    Hasil tersebut menutup peluang Indonesia tampil di ajang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Cak Imin Ungkap Tingkat Kemiskinan Nasional 2025 di Angka 8,47 Persen
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Cak Imin Ungkap Tingkat Kemiskinan Nasional 2025 di Angka 8,47 Persen Nasional 16 Oktober 2025

    Cak Imin Ungkap Tingkat Kemiskinan Nasional 2025 di Angka 8,47 Persen
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com —
    Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar mengungkapkan, tingkat kemiskinan nasional tahun 2025 masih berada di angka 8,47 persen.
    Cak Imin, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa dari jumlah tersebut, lebih dari separuh penduduk miskin berada di wilayah pedesaan.
    “Tingkat kemiskinan nasional tahun 2025 masih di angka 8,47 persen,” ujar Cak Imin di Jakarta, Kamis (16/10/2025).
    “Dan lebih dari 50 persen penduduk miskin setara dengan 12,58 juta jiwa berasal dari desa,” imbuh dia.
    Pemerintah juga mencatat ketimpangan sosial rasio gini yang berada di angka 0,375.
    Gini rasio merupakan ukuran statistik yang mengukur tingkat kesenjangan pendapatan atau kekayaan dalam suatu populasi.
    Cak Imin menambahkan, tantangan lain yang masih dihadapi pemerintah adalah tingginya angka pengangguran terdidik, yang mencapai 4,85 juta orang dari total 7,28 juta pengangguran.
    Menurut dia, langkah cepat untuk menghadapi berbagai persoalan tersebut adalah mendorong pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
    “Selama ini bantuan sosial memang penting sebagai bantalan. Akan tetapi, pembangunan ekosistem yang menumbuhkan kemandirian dan produktivitas adalah hal yang paling utama,” kata Cak Imin.
    Ia menekankan, keberhasilan pembangunan harus diukur dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat menjadi berdaya, mandiri, dan bermartabat.
    “Upaya aktualisasi potensi masyarakat secara berkelanjutan adalah kunci mewujudkan kesejahteraan umum. Kita tidak boleh merasa cukup, tantangan ke depan masih berat dan kompleks,” ujar Cak Imin.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Masih Adakah Empati untuk Rakyat?
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Masih Adakah Empati untuk Rakyat? Nasional 16 Oktober 2025

    Masih Adakah Empati untuk Rakyat?
    Peneliti dan Penulis
    BERBICARA
    soal kebijakan publik, kini banyak negara bergerak cepat, sigap mengambil keputusan, dan agresif mengeksekusi program.
    Namun, di balik laju yang terkesan impresif itu, muncul pertanyaan, apakah kecepatan ini disusun dengan peta empati terhadap kenyataan rakyat yang beragam, atau sekadar menegaskan kuasa negara atas kehidupan mereka? Apakah kebijakan dan empati sudah sejalan?
    Setiap kebijakan dirancang untuk mengejar efisiensi birokrasi dan memperluas kendali negara, tapi nyaris tidak memperhitungkan suara publik sebagai dasar pengambilan keputusan.
    Ruang dialog menyempit, partisipasi publik menurun, dan kebijakan sering kali dijalankan lebih cepat daripada pemahaman tentang siapa yang akan menanggung akibatnya.
    Dalam satu tahun ini, yang terlihat bukan proses mendengarkan aspirasi publik secara mendalam, melainkan kecenderungan negara merumuskan kepentingan tanpa sentuhan empati.
    Desain kebijakan yang berlandaskan empati berperan sebagai mekanisme rasional untuk memastikan kesalahan pada tahap awal tidak tumbuh menjadi struktur kebijakan yang mengakar dan sulit diperbaiki.
    Paul Pierson (2000) menjelaskan konsep
    sticky policy
    atau kebijakan ‘lengket’, yakni kebijakan yang begitu dijalankan akan menciptakan lintasan institusional yang sulit dihentikan, bahkan ketika orientasi awalnya kehilangan relevansi.
    Tanpa empati di tahap perumusan, kesalahan desain akan direplikasi birokrasi dan diperkuat oleh kepentingan politik hingga terpaksa dianggap wajar oleh publik.
    Pemerintah tanpa rasa bersalah dapat terus mengklaim keberhasilan dari kebijakan yang sebenarnya salah sasaran, dibungkus narasi efektivitas dan ketegasan, sementara ruang koreksi melemah karena jejaring komunikasi politik menafsirkan ulang kegagalan sebagai keberanian.
    Negara tangguh dalam memberi perintah, tetapi lemah dalam mendengarkan. Di atas kertas, target tercapai, tapi di lapangan ketegangan sosial justru meningkat.
    Indikator administratif menunjukkan keberhasilan, sementara tekanan sosial terus membesar di bawah permukaan.
    Akar persoalan ini bukan semata absennya empati, tetapi krisis orientasi dalam mendefinisikan kepentingan publik.
    Prinsip klasik
    salus populi suprema lex esto
    , kesejahteraan rakyat sebagai hukum tertinggi, sering dikutip, tetapi jarang diterjemahkan menjadi praktik pemerintahan.
    John Dewey (1954) menekankan bahwa cara pandang dan kebutuhan masyarakat akan selalu bervariasi tergantung tempat, waktu, dan kondisi yang mereka hadapi.
    Ketika negara gagal membaca keragaman itu, ia berhenti memerintah kenyataan dan justru mulai memantulkan bayangan dirinya sendiri.
    Jika kehidupan di pusat kekuasaan terlihat sejahtera, maka seluruh negeri dianggap sejahtera. Jika para menteri merasa tidak kekurangan, maka rakyat di bawah pun diasumsikan hidup dalam kecukupan.
    Dalam situasi seperti ini, kebijakan kehilangan pijakan pada realitas sosial yang sesungguhnya.
    Betapa sering keragaman itu gagal terbaca. Program nasional dirancang dengan standar seragam, di mana indikator kinerja diseragamkan, dan narasi kesejahteraan diulang dengan bahasa identik di semua provinsi.
    Publik di kawasan industri berbeda dengan publik di daerah agraris. Ketika perbedaan tidak diakui, yang muncul bukan persatuan, melainkan keterasingan. Rakyat merasa diatur oleh sesuatu yang tidak mengenal mereka.
    Kegagalan membaca keragaman publik kerap menghasilkan apa yang dalam literatur kebijakan publik disebut sebagai
    malign policy
    (Howlett, Leong, dan Legrand, 2025).
    Istilah ini merujuk pada kebijakan yang tampak berpihak kepada rakyat, tetapi justru menimbulkan kerugian sosial karena salah membaca realitas.
    Akar persoalannya terletak pada proses perumusan yang tertutup dan ukuran keberhasilan yang hanya didasarkan pada kelengkapan laporan administratif.
    Sistem pemantauan lebih sibuk mengejar kesesuaian data daripada menggambarkan kondisi sosial yang sebenarnya.
    Laporan negatif dipoles agar terlihat baik di meja pejabat, sementara evaluasi bergeser dari proses belajar menjadi sekadar pembenaran.
    Selain itu, arah kebijakan semakin mudah berubah (reaktif) mengikuti tekanan politik jangka pendek. Prioritas fiskal bergeser berulang dari pangan ke pertahanan lalu ke proyek strategis nasional yang diperluas tanpa kajian sosial yang matang.
    Ini menunjukkan hilangnya
    epistemic consistency
    , atau konsistensi pengetahuan dalam perumusan kebijakan.
    Keputusan diambil bukan karena hasil pembelajaran sosial, tetapi karena tampak kuat di mata publik. Pola reaktif seperti ini melahirkan kebijakan yang hidup dari momentum politik, bukan dari refleksi rasional.
    Ia menggerus
    policy durability
    , yakni ketahanan kebijakan untuk bertahan terhadap tekanan populisme dan perubahan arah politik.
    Di bawah permukaannya terdapat
    inherent vices
    , cacat bawaan dalam struktur kebijakan yang membuat negara sulit belajar dari kesalahannya.
    Saluran umpan balik berjalan satu arah dari bawah ke atas sehingga setiap lapisan terdorong menyenangkan atasan daripada melaporkan kenyataan.
    Koordinasi antarkementerian sering berubah menjadi perebutan mandat, bukan penyatuan problem. Mekanisme partisipasi publik hadir dalam bentuk formalitas, daftar hadir lengkap tetapi substansi diskusi minim.
    Dalam struktur seperti ini, kinerja administratif mudah diraih, sementara keberhasilan substantif mencakup keadilan, keamanan, dan keterjangkauan, tetap mengambang.
    Akibatnya lahirlah
    bad policy spiral
    , lingkaran kebijakan buruk di mana kegagalan lama ditutup dengan kebijakan baru yang dibangun di atas logika sama.
    Ketika kebijakan dikritik, responsnya bukan memperbaiki desain dan mekanisme pengawasan, melainkan menambah anggaran dan memperluas sasaran.
    Misalnya, ketika kebijakan hilirisasi dikritik karena merusak lingkungan dan memicu konflik agraria, responsnya bukan menata ulang tata kelola, tetapi justru mempercepat dan memperbanyak izin baru.
    Negara kehilangan kemampuan untuk berhenti, mengevaluasi, dan berbalik arah. Kesalahan terus bergerak maju, semakin rapi di atas kertas, semakin berat di lapangan.
    Di titik ini absennya peta empati bertemu krisis orientasi. Pemerintah menafsirkan keberhasilan sebagai kemampuan mengeksekusi, bukan memahami. Partisipasi dianggap menghambat efektivitas, padahal di situlah efektivitas sejati diuji.
    Negara bisa cepat, tetapi tidak tahu ke mana arah langkahnya. Karena itu,
    empathic policy design
    perlu ditempatkan sebagai arsitektur kelembagaan, cara mengatur perjumpaan antara data, pengalaman warga, dan keputusan anggaran agar koreksi menjadi bagian wajar dari pemerintahan, bukan tanda kelemahan.
    Siapapun pemimpinnya, masa pemerintahan perlu dimanfaatkan untuk membangun proses pembelajaran kebijakan yang bersifat dua arah.
    Kebijakan tidak lagi hanya dibuat dari atas ke bawah, tetapi juga menyerap pengalaman, masukan, dan pengetahuan dari masyarakat di akar rumput hingga ke tingkat birokrasi pusat.
    Setiap program besar harus memiliki siklus uji coba, audit dampak, dan revisi desain berdasarkan bukti sosial. Keberhasilan administratif tidak boleh dinyatakan tanpa bukti perubahan yang nyata di kehidupan penerima manfaat.
    Pemerintah juga perlu membangun mekanisme
    deliberative policy space
    , ruang diskusi publik yang tidak seremonial di mana data dan emosi warga dibaca sejajar sebagai dasar kebijakan.
    Legitimasi pemerintahan tidak lahir dari kecepatan membangun, melainkan dari kemampuan mengoreksi diri.
    Tanpa peta empati kebijakan, cukup memperjelas betapa besar risikonya. Negara yang bergerak tanpa mendengar akan cepat kehilangan arah sosial.
    Empati dalam kebijakan bukanlah kelembutan moral, melainkan kecerdasan institusional untuk mengenali akibat dari tindakannya sendiri.
    Pemerintahan yang berani berhenti untuk memperbaiki arah akan jauh lebih kuat daripada pemerintahan yang terus berlari sambil menutup telinga. Hanya dengan peta empati, kecepatan dapat berdamai dengan ketepatan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pramono Anung Datangi KPK, Ada Apa?
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Pramono Anung Datangi KPK, Ada Apa? Nasional 16 Oktober 2025

    Pramono Anung Datangi KPK, Ada Apa?
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Gubernur Jakarta Pramono Anung mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung Merah Putih, Jakarta, pada Kamis (16/10/2025).
    Berdasarkan pantauan
    Kompas.com
    , Pramono tiba di Gedung KPK bersama jajaran Pemerintah Provinsi Jakarta pada pukul 9.44 WIB.
    Pramono yang mengenakan kemeja batik sempat melambaikan tangan ke arah awak media saat tiba di Gedung Merah Putih KPK.
    “Konsultasi ya, nanti aja,” kata Pramono.
    Ketibaan Pramono itu disambut oleh sejumlah pegawai KPK.
    Secara terpisah, Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, KPK menerima audiensi dari Pemprov Jakarta untuk membahas upaya pemberantasan korupsi.
    “Sebelumnya, KPK dan Pemprov DKI Jakarta telah banyak berkolaborasi pada upaya-upaya pencegahan hingga koordinasi supervisi dalam perbaikan sistem dan tata kelola di lingkup pemerintah daerah,” kata Budi saat dihubungi, Kamis.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Steve Forbes Sebut Dunia Butuh Pemimpin seperti Prabowo, Tegas dan Visioner
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Steve Forbes Sebut Dunia Butuh Pemimpin seperti Prabowo, Tegas dan Visioner Nasional 16 Oktober 2025

    Steve Forbes Sebut Dunia Butuh Pemimpin seperti Prabowo, Tegas dan Visioner
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Chairman dan Editor-in-Chief Forbes Media, Steve Forbes, mengungkapkan bahwa dunia membutuhkan pemimpin kuat seperti Presiden Prabowo Subianto.
    Ia menyebut Prabowo sebagai pemimpin yang tegas dan visioner saat menyoroti pidato Prabowo di PBB tentang perdamaian di Gaza, Palestina.
    “Beberapa orang mengkritik Anda karena hal itu, tetapi hal itu justru menunjukkan jenis kepemimpinan tegas dan visioner yang dibutuhkan dunia saat ini,” kata Forbes saat berbincang dengan Prabowo di acara Forbes Global CEO Conference di Hotel St Regis, Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025) malam.
    Menurut Steve Forbes, Indonesia memiliki seorang pemimpin yang kuat.
    Pemimpin itu banyak menciptakan program berdampak di dalam negeri, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menyediakan
    cold storage
    bagi para nelayan untuk menunjang usahanya.
    “Apakah itu tentang menyediakan es bagi para nelayan atau berupaya membawa perdamaian di wilayah yang bergejolak, Indonesia memiliki seorang pemimpin yang sangat kuat. Saya bersyukur untuk itu,” imbuh dia.
    Dalam dialog bersama Steve Forbes, Prabowo sempat menyoroti program Kampung Nelayan.
    Prabowo bilang, selama ini banyak desa yang tidak punya dermaga dan terkendala dalam distribusi logistik lantaran tidak punya fasilitas
    cold storage
    .
    “Banyak desa nelayan tidak punya dermaga, tidak punya es. Jadi kami bangun dermaga, kami bantu dengan fasilitas produksi es kecil. Setelah satu setengah sampai dua tahun, pendapatan mereka naik 100 persen. Saya sendiri terkejut,” ujarnya.
    Prabowo juga menjelaskan asal mula program Makan Bergizi Gratis.
    Selama masa kampanye sekitar 20-25 tahun belakangan, ia melihat langsung anak-anak di desa yang mengalami kekurangan gizi.
    Kini, MBG telah berjalan secara luas dengan 11.900 dapur yang memberi makan 35,4 juta anak dan ibu hamil setiap hari atau setara dengan tujuh kali jumlah penduduk Singapura.
    “Saya melihat langsung
    stunting
    , kekurangan gizi, dan kemiskinan dengan mata kepala sendiri. Sulit bagi orang-orang di kalangan elite untuk memahami bahwa ada anak-anak yang hanya makan nasi dengan garam,” tandas Prabowo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Prabowo Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Tercapai berkat MBG
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Prabowo Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Tercapai berkat MBG Nasional 16 Oktober 2025

    Prabowo Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Tercapai berkat MBG
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Presiden Prabowo Subianto meyakini pertumbuhan ekonomi 8 persen sangat bisa dicapai karena pemerintahannya memiliki program Makan Bergizi Gratis (MBG).
    Hal ini dikatakannya saat menjawab pertanyaan Chairman dan Editor in Chief Forbes, Malcolm Stevenson Jr (Steve Forbes) dalam acara Forbes Global CEO Conference di Hotel St Regis, Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025) malam.
    “Saya kira 8 persen sangat bisa dicapai, seperti yang sudah saya sebutkan, misalnya, bahkan dengan program makanan gratis,” kata Prabowo dalam acara itu.
    Kepala Negara mengungkapkan, lewat program MBG, Indonesia mampu menciptakan 1,5 juta lapangan pekerjaan secara langsung.
    Ia menyebutkan, ada lebih dari 30.000 dapur umum yang menyediakan dan mendistribusikan menu MBG ke sekolah-sekolah.
    Setiap dapur diisi oleh sekitar 50 orang pekerja dengan shift berbeda-beda.
    “Dua shift atau tiga shift. Jadi 50 orang dikali 30.000, jumlahnya 1,5 juta. Para pakar ekonomi mengatakan bahwa pertumbuhan 1 persen akan menciptakan 400.000 lapangan kerja. Nah, kita sudah menciptakan 1,5 juta lapangan kerja, itu 3 persen,” ucap Prabowo.
    Prabowo melanjutkan, masing-masing dapur telah menciptakan setidaknya 15 pengusaha lokal karena bahan baku diserap dari sumber daya alam di masing-masing wilayah.
    “Satu menjual telur, satu lagi menjual sayur-sayuran, satu lagi menjual ikan, satu lagi menjual daging, satu lagi garam. Dan masing-masing dari 15 pedagang atau pemasok ini akan memiliki sedikitnya 5, 10, atau 15 pekerja,” tutur dia.
    Ia menyebutkan, jumlah itu belum termasuk program lain seperti Koperasi Desa Merah Putih.
    Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) ini mengatakan, Indonesia akan membangun 81.000 koperasi desa yang juga akan menyerap tenaga kerja.
    “Di sana kita hitung kita juga akan menciptakan setidaknya 15 (juta) lapangan kerja lagi,” ujar Prabowo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Dilema Kepunahan atau Mewariskan Budaya di Indonesia
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        16 Oktober 2025

    Dilema Kepunahan atau Mewariskan Budaya di Indonesia Nasional 16 Oktober 2025

    Dilema Kepunahan atau Mewariskan Budaya di Indonesia
    Aktif menulis tentang sosial keagamaan, mengasuh ponpes Ash-Shalihin Gowa dan Alumni UIN Jakarta
    TANGGAL
    17 Oktober telah resmi ditetapkan sebagai Hari Kebudayaan Nasional (HKN) di Indonesia. Penetapan hari penting ini, yang berawal dari inisiatif para pelaku budaya dan akademisi, bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah penanda genting atas dilema besar yang dihadapi bangsa ini: antara kepunahan warisan adiluhung atau mewariskannya sebagai kekuatan identitas di tengah arus globalisasi yang tak terhindarkan.
    HKN seharusnya menjadi momentum kolektif untuk merenungkan, mengevaluasi, dan merevitalisasi upaya pelestarian budaya kita. Indonesia adalah permadani raksasa dengan ribuan helai budaya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan ini meliputi ratusan bahasa daerah, kearifan lokal, sistem pengetahuan tradisional, seni pertunjukan, hingga teknik kerajinan tangan.
    Namun, ironisnya, kekayaan ini juga berada di ambang kerapuhan. Laporan dan penelitian terus menunjukkan adanya penurunan drastis dalam jumlah penutur bahasa daerah, hilangnya pengetahuan tradisional khususnya yang diwariskan secara lisan serta memudarnya minat generasi muda terhadap praktik budaya lokal. Inilah wajah nyata ancaman kepunahan.
    Senyapnya warisan kearifan lokal dan ancaman kepunahan budaya di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan hasil dari perpaduan faktor internal dan eksternal. Salah satu yang paling kritis adalah keterputusan rantai regenerasi. Pengetahuan budaya, yang selama ini mengandalkan transmisi lisan dari tetua adat atau maestro ke generasi penerus, kini terputus oleh modernisasi.
    Anak-anak muda, yang sibuk dengan pendidikan formal dan terhanyut dalam dunia digital, seringkali menganggap pengetahuan tradisional sebagai sesuatu yang kuno atau tidak relevan. Ketika seorang penenun ulung atau seorang dukun tradisional meninggal, teknik menganyam atau ramuan pengobatan yang dia kuasai bisa ikut lenyap selamanya karena tidak sempat didokumentasikan.
    Globalisasi dan penetrasi budaya luar yang masif, terutama melalui media digital, memperparah kondisi ini. Budaya populer asing, seperti drama Korea atau musik Barat, lebih mudah diakses dan lebih menarik bagi sebagian besar generasi muda dibandingkan pertunjukan wayang semalam suntuk atau tari tradisional yang memerlukan pemahaman filosofi mendalam.
    Hal ini menciptakan krisis jati diri budaya, di mana masyarakat, secara perlahan, kehilangan keterikatan dengan nilai-nilai dan tradisi yang telah membentuk identitas mereka. Ketika nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman moral memudar, dampaknya bisa merembet ke tantangan sosial, seperti peningkatan sifat individualisme yang berlebihan.
    Selain itu, masalah internal seperti kurangnya apresiasi dan dukungan yang memadai dari pemerintah terutama dalam bentuk alokasi anggaran yang minim untuk program kebudayaan serta konsep pelestarian yang kurang tepat turut menjadi penghambat. Budaya tidak cukup hanya diabadikan di museum atau menjadi objek penelitian, hal ini harus dihidupkan, dipraktikkan, dan diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
    Mewariskan budaya menjadikan warisan relevan dan berdaya. Dilema kepunahan hanya bisa dijawab dengan tekad kuat untuk mewariskan budaya secara efektif. Hari Kebudayaan Nasional harus menjadi motor penggerak untuk mentransformasi cara pandang masyarakat terhadap budaya, dari sekadar peninggalan masa lalu menjadi kekuatan yang relevan dan berdaya saing di masa depan.
    Upaya pewarisan budaya tidak bisa lagi mengandalkan model transmisi lisan semata. Di era digital, pewarisan harus dilakukan melalui dua pendekatan utama yaitu pengalaman budaya atau
    culture experience
    dan pengetahuan budaya atau
    culture knowledge
    . Hal ini perlu didukung oleh teknologi dan kebijakan yang progresif.
    Upaya menjaga budaya tetap relevan hingga hari ini, dapat dilakukan melalui: Pertama, revitalisasi melalui ruang media digital. Ini sering dianggap sebagai ancaman, padahal sesungguhnya adalah peluang besar untuk menjaga budaya yaitu merevitalisasi budaya.
    Generasi muda harus didorong untuk mengemas ulang tradisi dalam bentuk yang lebih menarik, seperti film pendek, musik kontemporer, permainan digital, atau konten media sosial. Ini adalah strategi yang disebut “digitalisasi budaya” untuk memastikan bahwa narasi lokal mendapat tempat di tengah dominasi narasi global. Melalui platform digital, kesenian dan kearifan lokal bisa menjangkau audiens yang lebih luas, melintasi batas geografis dan generasi.
    Kedua, integrasi dalam pendidikan dan apresiasi pewarisan yang terstruktur harus dimulai dari pendidikan. Mengintegrasikan pelajaran budaya lokal ke dalam kurikulum sekolah, tidak hanya sebagai teori, tetapi juga sebagai praktik langsung (
    Culture Experience
    ). Tentu ini akan menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan sejak dini.
    Ketiga, pemerintah dan masyarakat harus memberikan apresiasi nyata kepada para pelaku budaya, seperti penari, pengrajin, dan penutur tradisi lisan, bukan hanya sebagai penjaga masa lalu, melainkan sebagai aset bangsa yang harus dimuliakan. Apresiasi ini juga harus mencakup dukungan ekonomi agar budaya dapat menjadi sumber mata pencaharian yang berkelanjutan.
    Terakhir, pemberdayaan kearifan lokal. Inti dari pewarisan budaya adalah kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, meliputi sistem pengetahuan tentang alam, pengobatan, hingga organisasi sosial. Upaya pelestarian harus fokus pada pemberdayaan kearifan lokal ini di kantong-kantong budaya di seluruh Nusantara. Ini berarti menghidupkan kembali praktik-praktik budaya dalam komunitasnya, memastikan bahwa bahasa daerah digunakan dalam percakapan sehari-hari, dan sistem pengetahuan tradisional dicatat dan dipelajari.
    Hari Kebudayaan Nasional, yang diperingati setiap 17 Oktober, harus berfungsi sebagai titik balik dari kecemasan akan kepunahan menuju optimisme pewarisan. Ini adalah waktu bagi semua elemen bangsa dari pemerintah, akademisi, pelaku budaya, dan terutama generasi muda untuk mengambil tanggung jawab bersama.
    HKN harus dimaknai sebagai penegasan bahwa budaya adalah investasi masa depan, bukan sekadar warisan yang dipajang. Budaya adalah identitas nasional yang kuat, alat diplomasi yang efektif, dan sumber ekonomi kreatif yang tak terbatas. Dengan menetapkan hari khusus ini, Indonesia menyatakan komitmennya untuk memastikan bahwa kisah, ilmu, dan keindahan Nusantara tidak akan lenyap ditelan zaman.
    Mewariskan budaya berarti tidak hanya menyimpan warisan, tetapi juga menghidupkannya, memberinya nafas baru, dan membuatnya berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh generasi milenial dan generasi Z. Mari jadikan 17 Oktober bukan hanya sebatas perayaan, tetapi sebagai awal dari gerakan masif untuk menyelamatkan dan menguatkan jati diri bangsa. Pilihan ada di tangan kita: membiarkan budaya kita punah, atau menjadikannya obor yang menerangi masa depan Indonesia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.