Category: Kompas.com Nasional

  • Gibran Sebut Kawasan Legislatif-Yudikatif di IKN Selesai 2027
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Gibran Sebut Kawasan Legislatif-Yudikatif di IKN Selesai 2027 Nasional 31 Desember 2025

    Gibran Sebut Kawasan Legislatif-Yudikatif di IKN Selesai 2027
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka meninjau Kawasan Legislatif Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur (Kaltim), Rabu (31/12/2025), dalam rangka mengawal pembangunan pusat kelembagaan negara di ibu kota baru.
    Gibran menyampaikan, pembangunan kawasan tersebut telah dimulai pada Desember 2025 dan ditargetkan rampung pada Desember 2027.
    “Pembangunan kompleks kawasan legislatif dan yudikatif ini telah dimulai pada awal Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada Desember 2027 untuk memastikan fungsi kelembagaan negara dapat berjalan efektif dan mendukung proses pengambilan keputusan kenegaraan,” kata Gibran dalam keterangan resminya, Rabu.
    Gibran pun memastikan IKN akan menjadi ibu kota politik pada tahun 2028, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025.
    “Pemerintah di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo memiliki komitmen penuh dalam
    pembangunan IKN
    , salah satunya melalui Perpres 79/2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025 yang mengamanatkan terwujudnya Nusantara sebagai Ibu Kota Politik pada Tahun 2028,” kata Gibran.
    Dalam peninjauan tersebut, Wapres juga melihat rencana pembangunan kawasan yudikatif yang meliputi Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), dan Komisi Yudisial (KY).
    Gibran didampingi oleh Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Plt Sekretaris Wakil Presiden Al Muktabar, serta Staf Khusus Wapres Achmad Adhitya.
    Direktur Sarana dan Prasarana Otorita IKN Cakra Negara menjelaskan, kawasan legislatif dirancang sebagai pusat penyaluran aspirasi rakyat melalui Plaza Demokrasi, ruang terbuka publik yang memungkinkan masyarakat menyampaikan aspirasi secara langsung sebagai bagian dari prinsip kedaulatan rakyat.
    Gedung sidang paripurna di kawasan legislatif memiliki kapasitas 1.500 kursi, disesuaikan dengan kebutuhan ke depan, termasuk potensi penambahan jumlah anggota legislatif.
    “Selain ruang sidang paripurna, kawasan ini juga dilengkapi ruang sidang komisi, ruang sidang kecil, serta fasilitas pendukung lainnya untuk menunjang proses legislasi dan pengambilan keputusan kenegaraan,” ujar Cakra, dikutip dari siaran pers Sekretariat Wakil Presiden.
    Ia menyampaikan, masing-masing gedung dirancang dengan filosofi khusus.
    Empat pilar pada gedung MA, melambangkan empat lingkungan peradilan, sedangkans sembilan pilar pada gedung MK merepresentasikan nilai spiritual dan sinergi para hakim.
    “Serta tujuh pilar pada KY yang mencerminkan peran pengawasan hakim agung. Kapasitas ruang sidang di kawasan yudikatif ini bervariasi, mulai dari 60 hingga 800 orang,” kata Cakra.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • TNI Swadaya Tangani Bencana di Sumatera, Said Abdullah Dorong Percepatan Koordinasi Anggaran
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    TNI Swadaya Tangani Bencana di Sumatera, Said Abdullah Dorong Percepatan Koordinasi Anggaran Nasional 31 Desember 2025

    TNI Swadaya Tangani Bencana di Sumatera, Said Abdullah Dorong Percepatan Koordinasi Anggaran
    Tim Redaksi
    KOMPAS.com
    – Ketua Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Said Abdullah menyoroti kondisi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang masih harus menggunakan anggaran swadaya dalam penanganan bencana di Sumatera.
    Said menilai, situasi tersebut mencerminkan lemahnya koordinasi lintas sektor, meskipun pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk mendukung penanganan bencana secara cepat dan terukur.
    Menurut dia, penggunaan anggaran swadaya oleh TNI, termasuk dalam mobilisasi alat dan sumber daya di wilayah terdampak bencana, seharusnya tidak terjadi apabila mekanisme koordinasi berjalan optimal sejak awal.
    “Harusnya apa yang dialami oleh TNI tidak terjadi jika Badan Nasional Penanggulangan Bencana (
    BNPB
    ) sebagai
    lead sector
    penanganan bencana bisa lebih cepat dalam pengajuan anggaran ke Kementerian Keuangan (
    Kemenkeu
    ),” ujar Said dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (31/12/2025).
    Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu menegaskan, percepatan koordinasi anggaran menjadi kunci agar penanganan bencana tidak tersendat di lapangan.
    “Saya berharap Menteri Keuangan (
    Menkeu
    ) dan BNPB merumuskan kebijakan anggaran yang cepat, tetapi tetap pruden,” ucap Said.
    Dari sisi fiskal, Said mengungkapkan bahwa negara sebenarnya masih memiliki cadangan anggaran yang dapat dimanfaatkan.
    “Dari sisi anggaran, alokasi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 masih tersedia dana on call kurang lebih Rp 500 miliar untuk penanganan bencana di Sumatera pada 2025,” jelasnya.
    Selain dana
    on call
    , APBN 2025 juga masih menyisakan anggaran pada Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) yang dikelola langsung oleh Kemenkeu.
    “Pada APBN 2025 yang sebentar lagi tutup buku, sebenarnya juga masih ada alokasi anggaran di BA BUN. Jika dibutuhkan, anggaran tersebut dapat digunakan pemerintah,” imbuh Said.
    Ia menyebut, pemanfaatan dana BA BUN dimungkinkan apabila Presiden
    Prabowo Subianto
    menetapkan Peraturan Presiden (PP) terkait penggunaan anggaran tersebut untuk penanganan bencana di Sumatera.
    “Poinnya, anggaran penanganan bencana di Sumatera itu ada alokasinya. Yang dibutuhkan adalah koordinasi yang cepat serta pengorganisasian yang baik di lapangan,” kata Said.
    Lebih lanjut, ia menilai Kemenkeu dapat memberikan respons anggaran secara cepat apabila BNPB mampu menyampaikan kebutuhan anggaran secara terperinci dan terkoordinasi, termasuk kebutuhan TNI di lapangan.
    Salah satu kebutuhan mendesak yang disoroti Said adalah mobilisasi dan pemasangan Jembatan Bailey oleh TNI Angkatan Darat (AD).
    “Jembatan Bailey adalah jembatan darurat yang dimiliki Zeni Tempur
    TNI AD
    . Alat ini sangat membantu untuk membuka akses di kawasan bencana yang terisolasi,” ujarnya.
    Menurut Said, kebutuhan anggaran untuk mobilisasi dan pemasangan Jembatan Bailey relatif tidak besar dan sangat mungkin dipenuhi dengan cepat jika koordinasi lintas kementerian dan lembaga berjalan efektif.
    “Oleh sebab itu, saya berharap BNPB bisa lebih gesit. Ini bisa menjadi evaluasi ke depan agar peran koordinasi lintas sektor oleh kementerian atau lembaga yang menjadi
    lead sector
    benar-benar berjalan,” tuturnya.
    Said mengingatkan agar penanganan bencana tidak berlarut-larut hanya karena lemahnya pola koordinasi antarsektor.
    Dalam konteks tersebut, ia menyatakan dukungannya terhadap langkah TNI AD yang tetap memobilisasi seluruh sumber daya demi keselamatan masyarakat.
    “Kami mendukung upaya TNI AD memobilisasi seluruh sumber daya yang ada. Kami juga mendukung upaya Presiden Prabowo Subianto untuk membeli Jembatan Bailey lebih banyak guna membuka akses daerah-daerah terisolasi di Sumatera,” tutur Said.
    Ia menegaskan, dalam situasi bencana, kecepatan penanganan harus menjadi prioritas utama, tanpa terjebak pada prosedur birokrasi yang berbelit.
    “Kunci penting penanganan bencana adalah keselamatan rakyat. Cara pandang itulah yang harus menjadi acuan kita dalam setiap kebijakan penanganan bencana,” tegas Said.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Sepanjang 2025, Kejagung Pulihkan Aset Negara Sebesar Rp 19,6 Triliun
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Sepanjang 2025, Kejagung Pulihkan Aset Negara Sebesar Rp 19,6 Triliun Nasional 31 Desember 2025

    Sepanjang 2025, Kejagung Pulihkan Aset Negara Sebesar Rp 19,6 Triliun
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Kejaksaan Agung (Kejagung) mengaku telah memulihkan aset negara sebesar Rp 19,6 triliun sepanjang 2025.
    Data tersebut disampaikan Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum)
    Kejagung

    Anang Supriatna
    dalam konferensi pers Capaian Kinerja Kejagung 2025 pada Rabu (31/12/2025).
    “Badan Pemulihan Aset berhasil memulihkan
    aset negara
    dari hasil tindak pidana dengan total Rp 19.654.408.850.966,” ujar Anang dalam konferensi pers, Rabu (31/12/2025).
    Mekanisme pemulihan aset yang dilakukan Kejagung beragam. Kontribusi terbesar berasal dari penyelesaian uang pengganti dengan nilai mencapai Rp 18,6 triliun.
    Selain itu, terdapat pemasukan dari setoran uang tunai sebesar Rp 424,8 miliar, serta hasil lelang atau penjualan langsung yang mencapai Rp 304,1 miliar.
    Sementara itu, skema pemulihan aset dengan nilai paling kecil berasal dari pemberian hibah sebesar Rp 232,9 miliar.
    “Baik itu lelang, maupun penjualan langsung, juga pemberian hibah, juga setoran uang tunai, dan penyelesaian uang pengganti,” ujar Anang.
    Anang menambahkan,
    Kejaksaan Agung
    juga berhasil merealisasikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 19,6 triliun.
    “Total PNBP yang kita peroleh sebesar Rp19.848.156.431.992. Jadi melampaui target kita, yakni 733 persen dari target yang ditetapkan,” ujar Anang.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Gibran Pastikan Fasilitas Pendidikan di IKN Siap Cetak SDM Unggul
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Gibran Pastikan Fasilitas Pendidikan di IKN Siap Cetak SDM Unggul Nasional 31 Desember 2025

    Gibran Pastikan Fasilitas Pendidikan di IKN Siap Cetak SDM Unggul
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka memastikan fasilitas pendidikan yang dibangun di Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, siap mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.
    Hal ini disampaikannya usai meninjau fasilitas pendidikan tersebut, dari SD, SMP, hingga SMA, dalam kunjungan kerja hari keduanya di IKN.
    “Seluruh fasilitas pendidikan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berdaya saing, sekaligus menjadi fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas,” kata Gibran dalam keterangan resminya, Rabu.
    Ia menyampaikan, fasilitas pendidikan yang dirancang secara terpadu ini tidak hanya berisikan ruang kelas.
    Tetapi, kata dia, juga dilengkapi dengan laboratorium teknologi, sains, ruang kegiatan siswa, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya.
    “Untuk mendukung proses belajar-mengajar yang berkualitas di ibu kota baru,” bebernya.
    Adapun dalam tinjauannya, Gibran sempat melihat area dalam bangunan untuk melihat kesiapan ruang belajar dan fasilitas pendukung lainnya.
    Sebagai informasi, bangunan SD dan TK dibangun di atas lahan seluas 5.520 meter persegi dengan luas bangunan 8.460 meter persegi, terdiri atas dua
    basement
    dan empat lantai, serta dilengkapi 20 ruang kelas.
    Sementara itu, bangunan SMP berdiri di atas lahan seluas 5.520 meter persegi dengan luas bangunan 5.819 meter persegi, memiliki sembilan ruang kelas, serta dilengkapi berbagai fasilitas penunjang pembelajaran seperti laboratorium dan ruang kegiatan siswa.
    Adapun bangunan SMA dibangun di atas lahan seluas 4.061 meter persegi dengan luas bangunan 8.302 meter persegi, terdiri atas empat lantai dengan sembilan ruang kelas untuk tiga tingkat angkatan.
    Setiap kelas dirancang menampung 32 murid, dan didukung fasilitas pembelajaran lengkap, mulai dari laboratorium bahasa, komputer, kesenian, hingga laboratorium fisika, kimia, dan biologi.
    Sejumlah orang turut mendampingi Gibran dalam peninjauan ini, yakni Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Plt.
    Sekretaris Wakil Presiden Al Muktabar, serta Staf Khusus Wapres Achmad Adhitya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Cuaca Ekstrem Sebabkan 2 Kapal Tenggelam, Pemerintah Diminta Tak Remehkan Peringatan BMKG
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Cuaca Ekstrem Sebabkan 2 Kapal Tenggelam, Pemerintah Diminta Tak Remehkan Peringatan BMKG Nasional 31 Desember 2025

    Cuaca Ekstrem Sebabkan 2 Kapal Tenggelam, Pemerintah Diminta Tak Remehkan Peringatan BMKG
    Penulis
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Wakil Ketua Komisi V DPR Syaiful Huda mendorong pemerintah untuk tidak menganggap remeh peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi cuaca ekstrem.
    Hal tersebut disampaikannya menyusul dua kasus tenggelamnya kapal, yakni
    KM Putri Sakinah
    di perairan Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Serta Kapal Sharandy of The Seas di perairan selatan Denpasar, Bali.
    Bahkan, tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Pulau Komodo mengakibatkan meninggalnya pelatih tim putri Valencia, Martin Carerras serta ketiga anaknya.
    “Tragedi ini seharusnya tidak terjadi jika Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan seluruh stakeholder terkait tidak menganggap remeh warning dari
    BMKG
    ,” ujar Huda kepada wartawan, Rabu (31/12/2025).
    “Peringatan tentang Bibit
    Siklon
    96S sudah digencarkan sejak beberapa minggu terakhir. Ini adalah kelalaian kolektif dalam merespons deteksi dini bencana,” sambungnya.
    BMKG, kata Huda, sejak jauh hari telah mengeluarkan peringatan terkait ancaman Bibit Siklon 96S di Samudra Hindia yang berpotensi memicu angin kencang dan gelombang tinggi.
    Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) seharusnya menjadikan
    peringatan BMKG
    tersebut sebagai bahan dalam menyusun kebijakan transportasi umum.
    Secara khusus, ia juga menyorot operasional KM Putri Sakinah yang tetap berangkat pada malam hari menuju Pulau Padar. Padahal, kondisi gelombang laut tengah mencapai lebih dari dua meter.
    Kemenhub pun didesaknya untuk melakukan investigasi menyeluruh mengenai prosedur penerbitan izin berlayar dalam situasi
    cuaca ekstrem
    .
    “Kemenhub harus melakukan investigasi khusus. Mengapa kapal bisa lepas sandar di tengah risiko cuaca seperti itu? Kita bicara soal wilayah Bali, NTB, dan NTT yang merupakan wajah pariwisata Indonesia di mata internasional,” ujar Huda.
    “Hilangnya nyawa wisatawan mancanegara adalah pukulan telak bagi reputasi keamanan wisata kita,” sambungnya menegaskan.
    Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini potensi cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu, 28 Desember 2025.
    Sebelumnya, BMKG mengungkapkan bahwa Indonesia akan memasuki masa puncak musim penghujan pada Januari-Februari mendatang. Curah hujan akan meningkat signifikan di sejumlah daerah seperti Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
    Selain itu, terdapat tiga siklon dan bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia, yaitu siklon Bakung, bibit siklon 93S, dan bibit siklon 95S. Ketiganya berpotensi menyebabkan hujan ekstrem.
    Saat ini BMKG terus melakukan pemantauan dan menyiapkan langkah antisipasi. Salah satu langkah yang dilakukan BMKG adalah modifikasi cuaca.
    “Operasi modifikasi cuaca kita lakukan untuk mencegah awan-awan hujan mendekati daratan Indonesia. Jadi kalau dia mendekat, nanti awan hujan itu kita semai dengan bahan semai dari NaCl agar dia jatuh di tempat-tempat seperti di perairan, atau di laut, atau di tempat yang tidak berbahaya. Atau kalau sudah sampai di atas Jakarta, itu kita tebarkan kapur tohor atau CaO, supaya dia terpecah dan tidak terjadi hujan,” ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12).
    Faisal menyebut bahwa modifikasi cuaca mampu menurunkan curah hujan hingga 20–50 persen.
    BMKG tengah melakukan modifikasi cuaca di enam titik, di antaranya yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung.
    “BNPB dan BMKG, di bawah koordinasi Kemenhub, juga membuat platform info cuaca untuk transportasi darat, laut, dan udara,” ucapnya.
    BMKG bersama dengan instansi-instansi terkait senantiasa melakukan pemantauan dan antisipasi demi keselamatan masyarakat. Faisal meminta masyarakat waspada namun tetap tenang menghadapi
    potensi cuaca ekstrem
    .
    “Kami sudah bekerja sama dengan BNPB, BPBD, serta Basarnas. Untuk masyarakat, tetap tenang selama kita dapat memantau kondisi dan selalu bersiap untuk curah hujan tinggi dan gelombang tinggi,” tutupnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 192 Aparatur Pengadilan Dijatuhi Sanksi pada 2025, 45 Orang Disanksi Berat
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    192 Aparatur Pengadilan Dijatuhi Sanksi pada 2025, 45 Orang Disanksi Berat Nasional 31 Desember 2025

    192 Aparatur Pengadilan Dijatuhi Sanksi pada 2025, 45 Orang Disanksi Berat
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Mahkamah Agung (MA) mengungkap, sebanyak 192 aparatur pengadilan dijatuhi sanksi pada 2025.
    Hal ini disampaikan Ketua
    MA

    Sunarto
    dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2025 yang digelar di Kantor MA, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
    “Jumlah
    hakim
    dan
    aparatur pengadilan
    yang menerima sanksi hukuman disiplin sepanjang tahun 2025 berjumlah 192 orang, dengan rincian 85 orang hakim dan 107 orang aparatur kepaniteraan, kesekretariatan, dan PPNPN,” kata Sunarto, Selasa.
    Dari 192 orang tersebut, 45 orang di antaranya dijatuhi sanksi berat. Lalu, 46 orang dijatuhi sanksi sedang dan sanksi ringan 101 orang.
    Sanksi yang diberikan tersebut merupakan hasil dari pengawasan yang dijalankan MA melalui Badan Pengawasan.
    Selain itu, Badan Pengawasan MA mencatat jumlah aduan yang diterima sepanjang 2025 mencapai 5.550 laporan. Dari jumlah tersebut, sekitar 74,41 persen pengaduan telah selesai ditangani.
    “Sisanya sebanyak 1.420 pengaduan masih dalam proses penyelesaian,” ujar Sunarto.
    Selain aduan yang masuk langsung ke MA, Sunarto juga memaparkan data penjatuhan sanksi yang bersumber dari rekomendasi Komisi Yudisial (KY).
    Sepanjang tahun ini, KY disebut telah mengeluarkan rekomendasi sanksi dalam 36 perkara yang melibatkan 61 hakim.
    Berdasarkan tindak lanjut yang telah rampung, sebanyak 12 hakim dijatuhi hukuman disiplin sesuai rekomendasi Komisi Yudisial. Sementara itu, terdapat 27 hakim yang tidak dapat dikenai sanksi.
    “Sedangkan 27 orang hakim yang tidak dapat dijatuhi sanksi sebab menyangkut materi pengaduan berkaitan dengan teknis yudisial dan substansi atau pertimbangan hukum putusan hakim,” ucap Sunarto.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 3.508 Sekolah di Aceh, Sumut, dan Sumbar Telah Beroperasi Kembali
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    3.508 Sekolah di Aceh, Sumut, dan Sumbar Telah Beroperasi Kembali Nasional 31 Desember 2025

    3.508 Sekolah di Aceh, Sumut, dan Sumbar Telah Beroperasi Kembali
    Penulis
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkap, sebanyak 4.149 sekolah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
    Rinciannya, di Aceh ada 2.756, Sumatera Barat 443, dan Sumatera Utara 950
    sekolah
    yang terdampak banjir serta longsor.
    Dari data tersebut, sebanyak 3.508 sekolah atau 85 persen sekolah di ketiga provinsi tersebut telah beroperasi kembali.
    “Sekolah yang sudah bisa beroperasi untuk di Aceh ada 2.226 atau 81 persen. Kemudian di Sumatera Barat 380 atau 86 persen, dan di Sumatera Utara 902 atau 95 persen. Total keseluruhan sekolah yang sudah bisa beroperasi 85 persen,” kata Mu’ti dalam konferensi pers terkait penanganan sekolah di wilayah
    bencana Sumatera
    , di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (30/12/2025).
    Kendati demikian, masih terdapat beberapa sekolah yang mengalami rusak parah sehingga belum dapat beroperasi kembali.
    Kerusakan tersebut membuat para siswa untuk sementara waktu melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di tenda darurat.
    “Masih ada 54 (sekolah) yang memang belum bisa kita gunakan karena kerusakan yang sangat serius, bahkan sebagian sekolah memang sudah rusak total,” ujar Mu’ti.
    “Mereka harus belajar di tenda dan sudah kita siapkan 54 tenda, 14 di Aceh, 21 di Sumatera Barat, dan 19 di Sumatera Utara,” sambungnya.
    Mu’ti memastikan anak-anak di wilayah terdampak bencana mendapatkan akses pendidikan pada tahun ajaran baru yang direncanakan dimulai pada 5 Januari 2026.
    “Meskipun memang karena kondisi yang berbeda-beda, maka mereka tidak harus belajar sebagaimana yang normal,” ujar Mu’ti.
    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri menargetkan fasilitas pendidikan di daerah terdampak bencana Sumatera dapat memulai kegiatan belajar-mengajar pada awal Januari 2026.
    Kegiatan belajar-mengajar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat dilakukan setelah pembersihan dan pemulihan fasilitas pendidikan terus dilakukan kementerian/lembaga terkait.
    “Untuk sektor pendidikan, sekolah dan madrasah yang sebelumnya terdampak lumpur diharapkan dapat kembali difungsikan pada awal semester genap, minggu pertama Januari,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers daring, Minggu (28/12/2025).
    Di samping itu, BNPB juga menyiapkan tenda-tenda darurat untuk memfasilitasi kegiatan belajar-mengajar para siswa.
    Tenda-tenda darurat tersebut digunakan khusus untuk sekolah maupun madrasah yang mengalami kerusakan berat akibat banjir dan longsor.
    “Nanti proses belajar mengajar akan kita lakukan di tenda-tenda sementara,” ujar Abdul.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Biaya Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Rp 59.25 Triliun, Aceh Paling Besar
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Biaya Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Rp 59.25 Triliun, Aceh Paling Besar Nasional 31 Desember 2025

    Biaya Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Rp 59.25 Triliun, Aceh Paling Besar
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menjelaskan, biaya pemulihan pascabencana di Sumatera diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp 59,25 triliun.
    Hal tersebut disampaikan Tito dalam rapat Satuan Tugas
    Pemulihan Pascabencana
    Sumatera yang digelar DPR di
    Aceh
    , pada Selasa (30/12/2025).
    “Kalau kita melihat dari sudah pernah direkap waktu rapat dengan BNPB sebagai masukan saja, bahwa kalau untuk pemulihan nanti sampai dengan selesai, diperlukan anggaran lebih kurang Rp 59,25 triliun,” ujar Tito dalam rapat, Selasa.
    Rinciannya, pemulihan pascabencana di Aceh membutuhkan anggaran sebesar Rp 33,75 triliun. Lalu di Sumatera Utara membutuhkan Rp 12 triliun.
    Sedangkan di Sumatera Barat, sebesar Rp 13,5 triliun dibutuhkan untuk pemulihan pascabencana di provinsi tersebut.
    Nantinya, pemulihan akan meliputi berbagai macam sarana infrastruktur, mulai dari kantor desa hingga sekolah yang hancur akibat bencana.
    “Dengan meliputi berbagai macam komponen termasuk masalah kantor desa, kemudian sekolah, kemudian fasilitas kesehatan, jembatan, dan lain-lain, yaitu mungkin dikeroyok oleh seluruh K/L,” ujar Tito.
    Dalam kesempatan tersebut, Tito menyampaikan bahwa Kabupaten Aceh Tamiang di Aceh merupakan wilayah terdampak paling berat.
    Hal tersebut juga membuat distribusi bantuan dan layanan pemerintahan ke kabupaten tersebut belum optimal.
    “Yang paling berat adalah (Aceh) Tamiang, karena Tamiang pemerintahannya belum berjalan efektif,” ujar Tito.
    Secara total pada awal bencana, ada 52 kabupaten/kota yang terdampak di tiga wilayah tersebut, dengan rincian 18 wilayah di Aceh, 18 wilayah di Sumatera Utara, dan 16 wilayah di Sumatera Barat.
    “Tapi berkat kecepatan dan juga kerja keras dari semua pihak, baik pusat maupun daerah, dan masyarakat, dan semua pihak yang terlibat, sampai saat ini kita melihat bahwa yang sudah banyak terjadi pemulihan,” jelas Tito.
    Dalam forum berbeda, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengungkap, sebanyak 25 kabupaten/kota terdampak bencana di Sumatera telah memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi.
    Hal tersebut disampaikan Pratikno dalam konferensi pers pemulihan dan rencana strategis pascabencana jelang akhir tahun, Senin (29/12/2025).
    “Di Aceh terdapat tujuh kabupaten/kota yang sudah masuk ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Pratikno dalam konferensi pers, Senin.
    Sedangkan di Sumatera Utara (
    Sumut
    ), sebanyak delapan kabupaten/kota sudah masuk ke tahap transisi rehabilitasi dan rekonstruksi.
    ANTARA FOTO/Khalis Surry BANJIR SUMATERA: Warga menyeberang sungai dengan jembatan darurat di wilayah Tenge Besi, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Sabtu (20/12/2025). Akses warga pejalan kaki masih harus melintasi jembatan darurat dari batang kayu dan kendaraan roda dua harus menyeberangi arus sungai saat debit air surut, sementara roda empat tidak dapat melintas, akibat jalan dan jembatan penghubung antara Bener Meriah menuju Takengon, Kabupaten Aceh Tengah putus diterjang banjir bandang pada Rabu (26/11/2025).
    Lalu di Sumatera Barat (
    Sumbar
    ), terdapat 10 kabupaten/kota yang masuk ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi.
    Pratikno menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan bahwa seluruh sumber daya dikerahkan dalam penanganan pascabencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
    “Sekali lagi kami tegaskan bahwa Bapak Presiden memerintahkan seluruh jajaran kementerian, lembaga, TNI, Polri, pemerintah daerah terus mengerahkan segala daya upaya untuk percepatan penanganan pasca-bencana,” kata Pratikno.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pekerjaan-pekerjaan Besar untuk Pulihkan Aceh Usai Banjir 
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Pekerjaan-pekerjaan Besar untuk Pulihkan Aceh Usai Banjir Nasional 31 Desember 2025

    Pekerjaan-pekerjaan Besar untuk Pulihkan Aceh Usai Banjir
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Pemulihan infrastruktur di Aceh pascabencana menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang akan dituntaskan pemerintah.
    Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan, wilayah
    Aceh
    Tamiang menjadi titik yang paling sulit dilakukan pemulihan. Bahkan, layanan pemerintah di daerah Aceh Tamiang belum maksimal.
    Hal ini dikatakan Tito dalam Rapat Koordinasi (Rakor) pemulihan pasca-bencana dengan pimpinan DPR RI, kementerian/lembaga, hingga kepala daerah terdampak di Aceh, yang disiarkan langsung kanal YouTube DPR RI, Selasa (30/12/2025).
    “Yang paling berat adalah (Aceh) Tamiang, karena Tamiang pemerintahannya belum berjalan efektif dan kemudian ekonomi juga belum berjalan maksimal. Kemudian untuk di daerah Sumatera Utara, sekalian saja di sini. Sumatera Utara itu cepat sekali
    recover
    ,” kata Tito, Selasa.
    Tito mengatakan, masih ada tujuh wilayah di Aceh yang terus menjadi perhatian pemerintah, meliputi Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya.
    Dia bilang, sebagian besar wilayah yang berhasil dipulihkan harus masuk dalam kategori kuning, yakni kategori dalam perhatian, karena mengalami bencana susulan.
    “Pidie Jaya tidak dimasukkan kuning, tapi karena kemarin kena lagi beberapa hari lalu, ya kita harus memasukkan kuning lagi,” jelas Tito.
    Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan, pelebaran dan pendangkalan sungai akibat bencana di Sumatera, khususnya di Aceh, menjadi penyebab utama terganggunya pasokan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak.
    Dody mengatakan, hampir seluruh sungai di daerah terdampak mengalami pelebaran dan pendangkalan hingga dua sampai tiga kali lipat dari kondisi semula.
    “Hampir di semua kabupaten itu sungai-sungainya itu melebar dan mendangkal, rata-rata dua sampai tiga kali lipat dari kondisi semula,” ujar Dody.
    Dia bilang kondisi tersebut menyebabkan banyak instalasi pengolahan air atau water treatment plant yang berada di tepi sungai tertutup lumpur.
    “Sehingga banyak
    water treatment plant
    yang selama ini berada di tepi-tepi sungai tertutup lumpur semua, sehingga kemudian menyebabkan Bapak Ibu sekalian kesulitan air bersih di seluruh kabupaten yang terdampak,” tuturnya.
    Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian PU tengah berupaya mengaktifkan kembali instalasi pengolahan air bersih secepat mungkin.
    Dody menargetkan, dalam waktu tiga hingga empat bulan ke depan, sejumlah water treatment plant dengan kapasitas sekitar 20 liter per detik dapat kembali beroperasi di beberapa titik.
    “Kami memang sedang bekerja keras agar
    water treatment plant
    ini bisa kita aktifkan secepat-cepatnya,” ucap Dody.
    “Harapan kami dalam tempo 3 sampai 4 bulan ke depan beberapa water treatment plant yang berkapasitas sekitar 20 liter per detik bisa segera terbangun di beberapa titik,” sambungnya.
    Dody juga mengatakan, Kementerian PU sudah mengirimkan tim konsultan untuk mengkaji kondisi sungai di Pidie Jaya, termasuk kemungkinan pembangunan bendungan atau sabo dam guna mencegah bencana serupa di masa mendatang.
    “Kami juga sudah mengirimkan tim konsultan untuk mengkaji tentang kondisi sungai dan juga kemungkinan bendungan,” ucap dia.
    Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan mengatakan, kerusakan sistem kelistrikan akibat bencana yang melanda Aceh saat ini jauh lebih masif dibandingkan saat tsunami 2004 silam.
    Dia mengatakan, saat tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan hanya terjadi di delapan titik.
    Sementara pada bencana kali ini, jumlah titik kerusakan melonjak tajam.
    “Bencana kali ini dibanding dengan tsunami 2004 itu sangat berbeda. Pada saat tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan ada di 8 titik, sedangkan bencana kali ini di Aceh ada 442 titik,” kata Darmawan.
    “Jadi skalanya sangat berbeda, kali ini sangat masif,” tegasnya.
    Darmawan mengatakan, kecepatan pemulihan listrik saat ini sangat bergantung pada akses menuju lokasi terdampak, khususnya untuk evakuasi material dan peralatan kelistrikan.
    Dia mengatakan, banyaknya wilayah yang akses jalannya masih belum memadai pun membuat proses pemulihan berjalan lebih lambat.
    “Maka daerah-daerah yang memang aksesnya masih terbuka, pemulihan sistem kelistrikan bisa berjalan dengan cepat,” tuturnya.
    Meski demikian, dia mengatakan, saat ini, sebanyak Dari total 23 kabupaten dan kota, sebagian besar wilayah sudah kembali menikmati pasokan listrik.
    Pada kesempatan itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak mengungkapkan, pembangunan jembatan darurat pascabencana di Sumatera, khususnya Aceh, menghadapi proses yang panjang dan rumit, termasuk dalam hal pendanaan.
    Maruli menjelaskan, pembangunan jembatan darurat harus diawali dengan survei lokasi untuk menentukan jenis jembatan yang sesuai.
    “Kita harus survei tempat itu, tempat itu harus jenis jembatan apa yang tepat,” kata Maruli.
    Berdasarkan hasil survei, TNI AD memutuskan membangun tiga jenis jembatan darurat, yakni jembatan Bailey, jembatan Armco, serta jembatan perintis atau jembatan gantung.
    Setelah survei, material jembatan harus didatangkan dari Jakarta dan dikirim ke Aceh.
    Namun, proses distribusi kerap terkendala kondisi jalan yang rusak.
    “Di Aceh juga sampai turun di pelabuhan mau bergeser ke tempat untuk pengerjaan juga banyak yang terhambat di jalan, ada yang sampai satu minggu, Pak, nunggu penyelesaian,” ujarnya.
    Dia mengatakan, hingga saat ini, Satgas Darurat Jembatan telah mengerahkan 22 jembatan Bailey di wilayah terdampak bencana, ditambah 14 jembatan Bailey dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
    Selain itu, sebanyak 39 jembatan Armco telah disiapkan di Aceh.
    Mari juga mengakui, hingga saat ini Satgas masih bekerja secara swadaya.
    “Sampai dengan saat ini kami belum mengerti sistem keuangannya, Pak. Kita swadaya semua ini, Pak,” kata dia.
    Bahkan, dia mengatakan, pengadaan jembatan Armco dilakukan dengan cara berutang demi mempercepat proses pembangunan.
    “Untuk Armco sampai pabrik-pabriknya itu kita borong semua, Pak, habis. Udah tiga tahap kita sudah kerjakan. Itupun ya saya nanti bisik-bisik Bapak aja Pak itu masih utang, Pak,” kata dia.
    Meskipun begitu, Maruli menegaskan Satgas Darurat Jembatan akan terus bekerja untuk menangani kerusakan infrastruktur penghubung di wilayah terdampak bencana.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun Nasional 31 Desember 2025

    Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun
    Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    MENJELANG
    denting lonceng pergantian tahun 2025, Indonesia seolah sedang berdiri di depan cermin besar yang permukaannya mulai memperlihakan goresan keretakan menyilang di beberapa lokasi.
    Yang tampak sekilas adalah bayangan bangsa yang terkesan ingin bergegas dan sangat berhasrat untuk mendapatkan panggung besar di aras global.
    Namun, sebenarnya napasnya tersengal ketika memasuki gang-gang sempit gelap, yang justru berada di negeri sendiri.
    Tahun pertama pemerintahan di bawah komando Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan kita drama kolosal baru, dari gertakan efisiensi yang membuat wajah fiskal daerah membiru karena pucat pasi, hingga kepulan gas air mata di bawah terik matahari akhir Agustus 2025 yang telah membakar kesadaran publik tentang berbagai keretakan yang ada di dalam
    kekuasaan
    .
    Sebagai bangsa, Indonesia hampir melewati 365 hari yang penuh dengan kontradiksi antara apa yang tampak di permukaan dan apa yang dirasakan di atas meja makan rakyat kebanyakan.
    Mari kita putar kembali ingatan ke awal tahun, saat aroma kekuasaan “anyar” masih terasa segar.
    Saat itu, kita menyaksikan fenomena unik yang saya sebut sebagai “kejutan dingin tapi menyakitkan” dari Jakarta.
    Kebijakan efisiensi radikal yang dicanangkan Jakarta seketika mengubah wajah birokrasi di daerah menjadi pucat pasi. Niatnya mulia, setidaknya di atas kertas, yakni membersihkan lemak-lemak anggaran yang selama ini menjadi bancakan birokrat lokal.
    Namun, ketika keran itu diputar terlalu kencang tanpa bantalan yang dipersiapkan terlebih dahulu, yang terjadi bukanlah penghematan produktif, melainkan kepanikan kolektif yang pada beberapa kasus justru melumpuhkan layanan publik di daerah.
    Pemerintah daerah, dari pesisir hingga pegunungan, mendadak ketar-ketir tersengal sengal kehilangan napas fiskal karena pemotongan drastis dana transfer ke daerah.
    Dampak lanjutannya sudah bisa ditebak. Ketika “jatah” dari pusat menipis, rakyatlah yang diminta menanggung beban dosanya.
    Di Kabupaten Pati dan beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah serta luar Jawa, kenaikan pajak daerah menjadi pil pahit yang harus ditelan warga di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar pulih pasca-pandemi.
    Pajak barang dan jasa tertentu, pajak hiburan, hingga pajak bumi dan bangunan melonjak tanpa kompromi.
    Negara seolah sedang berhemat di level atas demi citra fiskal yang sehat di mata investor. Namun di saat yang sama, kebijakan tersebut justru meminta rakyat di level paling bawah untuk merogoh kocek lebih dalam demi menutup lubang-lubang anggaran yang ada.
    Inilah paradoks efisiensi yang sebenarnya telah melukai rasa keadilan publik di semua daerah, kebijakan yang rapi di meja kantor kementerian di ibukota negara, tapi menyakitkan saat menyentuh kulit rakyat kecil.
    Ketegangan fiskal yang terpendam sejak awal tahun tersebut akhirnya menemukan muaranya pada Agustus 2025. Bulan yang seharusnya menjadi perayaan kemerdekaan, justru berubah menjadi panggung perlawanan.
    Sejarah mencatat bahwa kemarahan publik tidak pernah lahir dari ruang hampa, tapi akumulasi dari rasa ketidakadilan yang dipicu oleh kontrasnya kehidupan para elite dengan realitas kehidupan rakyat yang kian terjepit.
    Saat masyarakat masih berjuang dengan harga beras yang enggan turun dan tarif listrik yang kian mencekik, muncul kabar tentang kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR yang angkanya melukai nalar sehat.
    Tentu bukan sekadar soal nilai nominal rupiah yang ditransfer ke rekening para wakil rakyat, tapi soal empati yang absen dari ruang-ruang kekuasaan.
    Demonstrasi besar-besaran pun pecah, bukan hanya di Jakarta, tapi menjalar seperti api yang tertiup angin ke kota-kota besar lainnya mulai Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Mataram hingga Makassar.
    Selama satu minggu penuh, denyut nadi ekonomi dan politik seolah berhenti berdetak. Jakarta lumpuh dalam balutan orasi, barikade, dan kepulan asap.
    Peristiwa tersebut adalah momen di mana rakyat, dari mahasiswa hingga pengemudi ojek daring, bersatu untuk mengingatkan penguasa bahwa mandat bukanlah cek kosong untuk berfoya-foya di atas kondisi kemiskinan dan penderitaan yang kian menganga.
    Ketimpangan ekonomi yang melebar bukan lagi sekadar angka statistik dalam laporan BPS yang biasanya memang sangat kaku, melainkan menjadi kemarahan nyata yang tumpah ke aspal jalanan.
    Saat itu, kita melihat bangsa yang katanya kaya sumber daya alam dan kaya secara nilai-nilai luhur ini justru sedang menggugat nurani pemimpinnya sendiri, dengan amarah menuntut agar kebijakan tidak hanya berpihak pada segelintir orang yang duduk di singgasana empuk, sementara mayoritas rakyat harus mengencangkan ikat pinggang hingga sesak napas karena tercekik secara multidimensi.
    Di tengah kemelut domestik yang membara tersebut, Presiden Prabowo seolah menemukan panggung yang lebih nyaman dan jauh dari aroma gas air mata, yakni kancah internasional.
    Kita menyaksikan seorang pemimpin yang fasih berbahasa asing, terkesan gagah, dan tampak sangat berwibawa di depan kamera para jurnalis global.
    Pidatonya di markas PBB pada September 2025 lalu memang memukau secara estetika dan retorika, penuh dengan diksi-diksi tentang perdamaian dunia dan peran penting Indonesia sebagai jembatan peradaban.
    Dari sana, lahirlah apa yang disebut sebagai Gaza Plan, inisiatif perdamaian yang di atas kertas tampak heroik dan visioner. Di panggung itu, Indonesia seolah ingin mengukuhkan diri sebagai juru selamat di kawasan Timur Tengah.
    Namun, bagi mata yang jeli dan kritis, rencana tersebut terasa seperti bangunan megah tanpa fondasi yang kokoh.
    Inti dari luka yang menganga di Timur Tengah, yakni kedaulatan penuh Palestina dalam skema solusi dua negara yang diakui secara internasional, tetap tak tersentuh secara substansial.
    Diplomasi Indonesia di tahun 2025 ini terasa seperti pertunjukan kembang api di malam hari, indah dipandang, meriah dalam sekejap, membuat orang berdecak kagum, tapi meninggalkan kegelapan dan residu asap yang bau segera setelah cahayanya padam.
    Negara ini terlihat sibuk dengan kosmetik diplomasi yang cantik di layar televisi, tapi gagal menyentuh jantung persoalan yang sesungguhnya.
    Bahkan ada kesan bahwa panggung internasional hanya digunakan sebagai pelarian dari kerumitan persoalan di dalam negeri yang tidak kunjung menemukan solusi konkret.
    Ironisnya, kegagahan di level global itu berbanding terbalik dengan pengaruh nyata Indonesia di halaman rumah sendiri, kawasan Asia Tenggara.
    Indonesia seolah kehilangan magisnya sebagai “pemimpin alami” persemakmuran negara-negara kawasan Asia Tenggara, ASEAN.
    Indonesia tampak absen, atau setidaknya sangat minim berperan, dalam mendinginkan bara konflik yang kembali memanas antara Thailand dan Kamboja terkait sengketa wilayah dan perbatasan.
    Padahal, stabilitas kawasan adalah marwah bagi kepemimpinan Indonesia sejak puluhan tahun lalu.
    Peran Indonesia sangat menonjol di era Orba sehingga Presiden kedua negeri ini, Soeharto, menjadi kebanggaan pemimpin di Burma (sekarang Myanmar), di Malaysia bahkan Singapura.
    Minimnya peran kepemimpinan ini secara otomatis berdampak memperlemah posisi tawar ASEAN sebagai organisasi regional di mata dunia.
    Memang, pada KTT ASEAN di Kuala Lumpur jelang akhir tahun 2025 ini, perjanjian damai antara Thailand dan Myanmar telah ditandatangani dengan disaksikan oleh Donald Trump, yang kembali memperlihatkan dominasi pengaruh luar negeri mondialnya juga di kawasan kita.
    Namun, kita semua mengetahui bahwa perjanjian perdamaian tersebut mendadak menjadi hambar kembali karena beberapa minggu kemudian, perang kembali pecah antara serdadu negeri Gajah Putih dan negeri The Land of Golden Pagodas.
    Diakui atau tidak, salah satu kerapuhan tersebut disebabkan oleh absennya “sentuhan tangan dingin” Jakarta sebagai kakak tertua di kawasan.
    Indonesia terlalu sibuk mengejar sorot lampu di panggung global yang lebih glamor, tapi lupa menyapu lantai kawasan di mana rumah kita berdiri yang mulai berdebu dan bahkan retak.
    Diplomasi yang terlalu berorientasi pada citra personal pemimpin seringkali melupakan kedalaman relasi geopolitik yang sifatnya organik dan berkelanjutan di tingkat regional.
    Dari sisi ekonomi, jika kita menilik angka-angka yang dirilis pemerintah di penghujung tahun, para teknokrat mungkin akan tersenyum bangga melihat pertumbuhan yang kembali ke jalur 5 persen.
    Secara makro, angka tersebut adalah prestasi. Namun, bagi saya sebagai seorang pengamat, angka tersebut hanyalah “fatamorgana statistik” yang berpotensi menyesatkan jika tidak dibedah lebih mendalam.
    Di lapangan, kehidupan masyarakat masih terasa mencekik dan sulit. Pertumbuhan tersebut masih belum menetes ke bawah, seolah tertahan di puncak-puncak gedung pencakar langit dan masuk ke kantong-kantong para pemilik modal besar. Dengan kata lain, ketimpangan masih berada pada titik yang mengkhawatirkan.
    Fakta sosiologisnya, pengangguran muda atau
    youth unemployment
    masih menjadi bom waktu yang terus berdetak di pusat-pusat kota hingga pelosok desa.
    Indonesia telah menciptakan generasi yang merasa asing di tanah airnya sendiri karena sulitnya mencari penghidupan layak, sementara syarat kerja kian tidak masuk akal dan upah riil terus tergerus inflasi.
    Kita melihat dengan jelas pertumbuhan ekonomi sekadar di atas kertas, tapi tidak melihat pemerataan “harga diri” tersebut melebar sampai ke meja makan rakyat.
    Kesenjangan ini jika dibiarkan akan menjadi bahan bakar bagi konflik sosial yang jauh lebih besar di masa depan.
    Ekonomi bukan hanya soal angka PDB, melainkan juga soal bagaimana seorang bapak bisa membelikan susu untuk anaknya tanpa harus meminjam pada platform kredit daring yang bunganya kian mencekik leher.
    Demikian pula fakta pasangan suami istri yang harus membawa serta seorang balita mereka bersepeda motor sebagai kurir jasa pengiriman paket demi sesuap nasi.
    Tak lupa, tahun 2025 pun ditutup dengan catatan kelam dan duka yang mendalam dari bumi Sumatera.
    Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang datang bertubi-tubi menggulung merenggut ratusan nyawa sekali sapu dan menghancurkan harta benda dalam skala yang memilukan.
    Korban mutakhir yang mencapai lebih dari 1000-an orang meninggal, bukan sekadar deretan angka kematian, melainkan duka ribuan keluarga yang harus kehilangan masa depan.
    Saya meneteskan air mata menggotong korban banjir yang pascaseminggu musibah baru berhasil dievakuasi lalu dimobilisasi dari Aceh ke rumah sakit di Medan, tapi akhirnya meninggal sehari di rumah sakit.
    Banyak kisah pilu semacam itu. Bagaimana pun, kita sebagai bangsa yang arif dan punya akal sehat juga tidak boleh dengan naif menyalahkan langit, curah hujan ekstrem, atau takdir Tuhan atas apa yang terjadi.
    Bencana di Sumatera adalah “bencana buatan manusia” atau
    man-made disaster
    yang sangat nyata.
    Deforestasi yang masif di paru-paru Sumatera, demi pembukaan lahan perkebunan skala besar dan pertambangan, adalah penyebab utama dari tanah yang kehilangan daya cengkeram atas air hujan dan sungai yang kehilangan daya tampungnya.
    Hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang bisa dikonversi menjadi dolar, tapi sistem penyangga kehidupan yang jika dirusak justru akan membalas dengan skala yang lebih masif dan mematikan.
    Pesan anti-deforestasi seharusnya bukan lagi sekadar slogan di atas materai atau janji manis dalam kampanye, melainkan harus menjadi ideologi pembangunan yang tidak boleh ditawar oleh kepentingan modal mana pun.
    Jika pemerintah terus abai dan menganggap hutan sebagai komoditas semata yang bisa dikapling-kapling sesuai kontribusi fiskalnya, maka bencana akan menjadi tamu rutin yang tak pernah bosan mengetuk pintu rumah kita dengan cara yang semakin keras dan kejam dari waktu ke waktu.
    Sebagai penutup dari refleksi panjang tahun 2025 ini, saya ingin menyampaikan bahwa kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada nurani terdalam kita masing-masing sebagai anak bangsa, ke mana sesungguhnya arah besar kapal besar bernama Indonesia ini hendak dibawa?
    Indonesia tentu tidak butuh pemimpin yang hanya piawai bersolek di depan cermin internasional demi mendapatkan tepuk tangan asing, sementara rakyatnya di dalam negeri sibuk memungut sisa-sisa harapan di tengah pajak yang mencekik dan alam yang kian murka.
    Tahun ini mengajarkan kita bahwa kekuasaan tanpa empati adalah kesia-siaan dengan banderol harga yang mahal di ujungnya.
    Ekonomi tanpa pemerataan hanyalah angka kosong yang melecehkan perut yang lapar.
    Di akhir tahun ini, biarlah retakan-retakan di cermin besar itu menjadi pengingat yang jelas bahwa kecantikan original bangsa tidak dilihat dari seberapa keras sorak-sorai di podium global dan pentas lokal, melainkan dari seberapa tenang seorang warga kebanyakan bisa tidur di malam hari tanpa rasa lapar dan cemas pada hari esok.
    Mari kita sambut tahun baru bukan dengan tumpukan janji-janji muluk baru untuk menutupi kegagalan dalam mewujudkan janji lama, melainkan dengan kerendahan hati untuk memperbaiki apa yang salah, apa yang telah rusak, lalu menjahit kembali robekan sosial yang ada, dan menjaga apa yang masih tersisa.
    Karena pada akhirnya, negara bukan dibangun dari beton dan pidato, melainkan dari rasa aman dan keadilan yang dirasakan oleh setiap jiwa yang tinggal di dalamnya. Semoga!
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.