Category: Kompas.com Nasional

  • Jelang Ibadah Haji 2026, Indonesia-Arab Saudi Perketat Istithaah Kesehatan Calon Jemaah
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        23 Oktober 2025

    Jelang Ibadah Haji 2026, Indonesia-Arab Saudi Perketat Istithaah Kesehatan Calon Jemaah Nasional 23 Oktober 2025

    Jelang Ibadah Haji 2026, Indonesia-Arab Saudi Perketat Istithaah Kesehatan Calon Jemaah
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com

    Istithaah
    atau kemampuan kesehatan dari calon jemaah menjadi salah satu yang diperketat Kementerian Haji dan Umrah untuk penyelenggaraan haji 2026 atau 1447 H.
    Pengetatan faktor kesehatan calon jemaah haji menjadi salah satu kesepakatan antara Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi Abdulfattah bin Sulaiman Mashat di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Mekkah, Arab Saudi.
    “Kami sepakat memperkuat kolaborasi dalam penyelenggaraan haji 1447 H, dengan fokus pada pengetatan
    istithaah
    kesehatan, validasi data jemaah, dan efisiensi operasional haji,” ujar Dahnil dalam keterangan pers, Rabu (22/10/2025).
    Dahnil menjelaskan, hanya calon jemaah haji yang memenuhi syarat dan kriteria istithaah kesehatan yang dapat berangkat menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
    “Hanya jemaah yang memenuhi syarat
    istithaah
    kesehatan yang akan diberangkatkan, dengan dukungan manasik kesehatan agar jemaah tetap bugar sebelum dan selama menunaikan ibadah haji,” ujar Dahnil.
    Dalam penyelenggaraan haji 2026, ia juga menekankan pentingnya keakuratan dan integrasi data untuk mencegah terjadinya kekacauan logistik.
    “Pemeriksaan
    istithaah
    dilakukan ketat dan sesuai prosedur. Semua data jemaah, akomodasi, penerbangan, dan transportasi harus tervalidasi sebelum keberangkatan,” kata Dahnil.
    “Ini kunci penyelenggaraan yang tertib dan profesional,” sambungnya menekankan.
    Selain pengetatan
    istithaah
    kesehatan dan penguatan data, turut dibahas rencana pembangunan Kampung Haji dengan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
    Kehadiran Kampung Haji Indonesia diharapkan dapat menjadi pusat operasional dan ekosistem ekonomi haji dan umrah di masa depan.
    Berdasarkan laporan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama (Kemenag), sebanyak 447 jemaah asal Indonesia meninggal dunia dalam pelaksanaan ibadah haji 2025.
    Dari 447 jemaah haji yang meninggal dunia, 274 orang atau 62,30 persen di antaranya adalah jemaah haji laki-laki. Sedangkan 38,70 persen atau 173 lainnya adalah jemaah haji perempuan.
    Selanjutnya, mayoritas jemaah haji yang meninggal dunia adalah lanjut usia (lansia), yakni sebesar 64,88 persen atau 290 jemaah. Lalu, 35,12 persen atau 157 jemaah haji lainnya yang meninggal dunia berusia di antara 41 sampai 64 tahun.
    Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengatakan, Indonesia mendapatkan peringatan dari pemerintah Arab Saudi soal tingginya jemaah haji asal Indonesia yang meninggal pada 2025.
    Kata Gus Irfan, Pemerintah Arab Saudi hanya mentolerir angka kematian jemaah haji Indonesia sekitar 60 orang.
    “Seharusnya angka kematian yang ditolerir sekitar 60. Sementara kita tahun ini 470-an. Berarti delapan kali lipat dari angka yang ditolerir pemerintah Saudi,” ujar Gus Irfan mengingat teguran dari Arab Saudi, di Jakarta Pusat, Sabtu (23/8/2025).
    Gus Irfan mengaku mendapatkan teguran serupa ketika ia mendampingi Presiden Prabowo Subianto bertemu Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman Al Saud.
    “Ketika saya mendampingi Presiden Prabowo bertemu Prince MBS, sama, disinggung lagi, Indonesia menjadi penyumbang separuh dari kematian selama musim haji,” ujar Gus Irfan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Dari Civic Virtue ke Viral Culture: Krisis Moral Demokrasi Indonesia
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        23 Oktober 2025

    Dari Civic Virtue ke Viral Culture: Krisis Moral Demokrasi Indonesia Nasional 23 Oktober 2025

    Dari Civic Virtue ke Viral Culture: Krisis Moral Demokrasi Indonesia
    Dosen Fakultas Hukum Universitas Pasundan & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat
    DEMOKRASI
    sejatinya lahir dari kesadaran moral, bukan sekadar dari sistem hukum dan prosedur politik. Ia bukan mesin suara, melainkan cermin jiwa publik. Dalam kerangka itulah Michael J. Sandel—filsuf politik dari Harvard—menegaskan bahwa demokrasi akan kehilangan jiwanya ketika warga berhenti menjadi warga.
    Dalam bukunya
    Democracy’s Discontent: America in Search of a Public Philosophy
    (1996), Sandel menulis bahwa demokrasi tidak akan hidup tanpa warga yang peduli pada kebaikan bersama (
    common good
    ), tanpa keberanian untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik. Bagi Sandel, demokrasi bukan hanya soal siapa yang menang dalam pemilihan, melainkan bagaimana warga menimbang dan memperdebatkan nilai-nilai moral yang mengikat mereka.
    Namun di Indonesia hari ini, demokrasi seolah bergerak menjauh dari akar moral itu. Ia lebih menyerupai arena citra ketimbang ruang kebajikan publik. Demokrasi kita kini berdenyut di layar ponsel, diukur bukan oleh argumentasi, melainkan oleh jumlah
    likes
    dan
    shares
    . Dari
    civic virtue
    , kita jatuh ke dalam
    viral culture
    .
    Budaya politik kini beralih wajah. Bukan lagi gagasan yang bernalar atau kebijakan yang berbasis publik yang menjadi mata uang demokrasi, melainkan sensasi dan daya sebarnya. Dalam ruang digital yang dangkal, politik dikemas seperti hiburan. Michael J. Sandel dalam
    What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets
    (2012) memperingatkan, ketika segala hal diukur dengan logika pasar—termasuk politik—maka moralitas publik akan terkikis.
    Kita bukan lagi hidup dalam ekonomi pasar (
    market economy
    ), melainkan dalam masyarakat pasar (
    market society
    ) yang menilai segalanya dengan harga dan popularitas. Kini, logika pasar itu berlipat dalam dunia digital. Apa yang viral dianggap benar; apa yang populer dianggap mewakili suara rakyat. Demokrasi yang dulu diharapkan memperluas partisipasi kini justru melahirkan bentuk baru oligarki—oligarki algoritmik.
    Dalam tatanan seperti ini, warga kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang penting dan yang ramai, antara opini dan kebenaran. Demokrasi bergeser dari perdebatan gagasan menjadi perlombaan atensi.
    Sandel menolak gagasan bahwa politik harus netral terhadap moralitas. Dalam
    Liberalism and the Limits of Justice
    (1982), ia mengkritik liberalisme yang memisahkan politik dari perdebatan tentang nilai. Demokrasi, katanya, justru menuntut kita berbicara tentang kebaikan bersama, bukan menghindarinya. Kritik ini menemukan gema yang kuat di Indonesia.
    Politik kita hari ini kehilangan keberanian moral untuk membicarakan nilai-nilai publik. Partai politik lebih sibuk menimbang peluang elektoral daripada memperdebatkan keadilan. Kampanye lebih banyak mengobral janji ketimbang gagasan. Dalam konteks itu, kita menyaksikan apa yang oleh Sandel disebut sebagai “kemiskinan kehidupan publik”—sebuah kondisi ketika warga berhenti memandang diri sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar.
    Warga hanya melihat politik sebagai jalan untuk keuntungan pribadi, sementara negara memperlakukan rakyat sebagai pasar suara. Akibatnya, demokrasi kehilangan kedalaman etik. Ia berubah menjadi ritual lima tahunan yang dirayakan tanpa kesadaran moral.
    Demokrasi, bagi Sandel, adalah “a way of life.” Dalam kuliah
    The Lost Art of Democratic Debate
    (Harvard, 2018), ia—mengutip John Dewey—menyebut demokrasi bukan hanya sistem pemerintahan, melainkan cara hidup yang menuntut kebajikan publik. Namun, di Indonesia, ruang hidup demokrasi itu semakin sempit. Ruang publik yang dulu dibangun melalui media, kampus, dan forum warga kini tergantikan oleh linimasa yang gaduh.
    Kita tidak lagi berdialog, melainkan berteriak. Tidak lagi mendengarkan, melainkan menunggu giliran membantah. Dalam suasana seperti itu, akal sehat kalah oleh kecepatan, kesabaran kalah oleh algoritma, dan moralitas tenggelam dalam arus komentar. Demokrasi kehilangan ruang untuk mendewasa.
    Sandel mengingatkan, demokrasi hanya akan bertahan jika warga mampu berbicara tentang perbedaan dengan hormat dan akal budi. Tapi di negeri ini, perbedaan sering diterjemahkan sebagai permusuhan. Politik kita kehilangan seni berbicara dengan yang tak sependapat.
    Dalam
    What Money Can’t Buy
    (2012), Sandel menulis: “Kita telah bergeser dari ekonomi pasar menjadi masyarakat pasar.” Dalam masyarakat pasar, kata Sandel, hampir segala hal diperjualbelikan—termasuk nilai, suara, dan kepercayaan. Fenomena itu kini begitu nyata di Indonesia. Politik diatur dengan logika dagang. Popularitas menjadi komoditas yang dipasarkan lewat biro iklan digital. Suara rakyat dihitung seperti saham. Bahkan kebaikan pun ditentukan oleh algoritma yang mempromosikannya.
    Ketika warga diperlakukan sebagai konsumen, maka politik kehilangan dimensi pengabdian. Kita memilih bukan karena keyakinan moral, tetapi karena iming-iming manfaat jangka pendek. Kita terpesona pada pencitraan, bukan integritas. Dalam tatanan seperti ini, demokrasi menjadi pameran komoditas, bukan forum kebaikan bersama.
    Sandel percaya, demokrasi yang sehat memerlukan warga yang berjiwa publik—yang peduli pada nasib bersama. Ia menyebutnya
    civic virtue
    : kebajikan kewargaan yang membuat individu bersedia melampaui kepentingannya sendiri. Sayangnya, di Indonesia, identitas kewargaan itu makin pudar. Kita lebih mengenal diri sebagai “netizen” ketimbang “citizen”.
    Rasa tanggung jawab moral terhadap republik digantikan oleh reaksi instan di media sosial. Padahal, dalam
    Democracy’s Discontent
    (1996), Sandel menulis: “Kebebasan sejati hanya mungkin tumbuh bila warga ikut serta menentukan arah komunitasnya.” Demokrasi tanpa
    civic virtue
    hanya melahirkan warga yang apatis atau emosional. Kita menonton negara seperti menonton drama: kadang marah, kadang tersentuh, tetapi jarang bergerak.
    Sandel menyebut demokrasi membutuhkan
    public philosophy
    —filsafat publik—yang menuntun arah moral suatu bangsa. Filsafat publik bukan doktrin agama, melainkan kesadaran bersama tentang apa yang baik bagi kita semua. Sayangnya, narasi itu nyaris hilang dari kehidupan politik Indonesia. Politik kini lebih sering bicara tentang logistik ketimbang logika moral. Pertumbuhan ekonomi dan elektabilitas menggantikan perdebatan tentang keadilan.
    Reformasi politik memang melahirkan kebebasan, tapi belum membangun kesadaran etis tentang kebebasan itu sendiri. Kita masih berdebat tentang mekanisme kekuasaan, tetapi jarang merenungkan tujuan moral dari kekuasaan itu. Tanpa filsafat publik, demokrasi kehilangan arah. Ia berjalan, tapi tidak tahu ke mana.
    Media sosial awalnya menjanjikan demokratisasi informasi. Namun dalam praktiknya, ia juga mempersempit ruang akal budi. Ketika algoritma menentukan apa yang kita lihat, maka ruang publik dikendalikan bukan oleh kesadaran, melainkan oleh kode. Dalam wawancara di BBC (2021), Sandel memperingatkan bahaya “teknokratisasi moralitas”: “Ketika keputusan politik diserahkan pada algoritma, kita kehilangan agensi moral.” Hal ini tampak nyata di Indonesia.
    Politik dijalankan seperti manajemen konten. Pemimpin tidak lagi berbicara tentang nilai, melainkan tentang
    branding
    . Politik kehilangan arah moralnya karena diatur oleh logika
    engagement
    . Kita hidup dalam masyarakat yang sibuk menampilkan diri, tapi malas merefleksikan makna. Demokrasi digital tanpa refleksi moral hanya menghasilkan kebisingan kolektif.
    Sandel tidak menolak pasar atau teknologi. Ia hanya memperingatkan bahwa tanpa kebajikan publik, keduanya akan menelan demokrasi. Warga negara, katanya, harus memiliki tanggung jawab moral, bukan sekadar menuntut hak.
    Indonesia sebenarnya memiliki warisan nilai yang dekat dengan
    civic virtue
    : gotong royong, musyawarah, dan rasa kebersamaan. Nilai-nilai itu adalah fondasi moral demokrasi. Namun, dalam arus
    viral culture
    , nilai-nilai tersebut memudar—tergantikan oleh egoisme politik dan budaya kompetisi personal. Demokrasi seharusnya menjawab bukan hanya pertanyaan “siapa yang berkuasa?”, tapi juga “untuk apa kekuasaan digunakan?”. Tanpa kesadaran moral itu, demokrasi hanya menjadi pesta prosedural yang kehilangan makna.
    Kita hidup di zaman ketika kebenaran harus berjuang untuk menjadi viral, sementara kebohongan dengan mudah menjadi tren. Di tengah kebisingan itu, Sandel mengingatkan bahwa tugas warga negara bukanlah menjadi penonton, melainkan penjaga moral ruang publik.
    Demokrasi Indonesia belum mati, tapi ia kehilangan arah moralnya. Untuk menemukannya kembali, kita harus menyalakan kembali obor
    civic virtue
    —keberanian untuk berpikir, berbicara, dan bertindak demi kebaikan bersama. Sandel menulis dalam Democracy’s Discontent (1996): “Kita membutuhkan ruang di mana warga dapat berbicara tentang hal-hal yang penting, bukan hanya tentang apa yang menguntungkan.”
    Demokrasi bukan sekadar siapa yang memerintah, tetapi bagaimana kita hidup bersama dalam keadaban. Dari
    civic virtue
    ke
    viral culture
    , perjalanan ini adalah cermin: apakah kita masih warga yang berpikir, atau sekadar konsumen politik yang menunggu tontonan berikutnya. Demokrasi tanpa kebajikan hanyalah pasar tanpa nurani. Dan ketika pasar menggantikan nurani, bangsa kehilangan jiwa.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Polri Ungkap Kasus Narkoba Menonjol Sepanjang 2025, Didominasi Jaringan Aceh
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        23 Oktober 2025

    Polri Ungkap Kasus Narkoba Menonjol Sepanjang 2025, Didominasi Jaringan Aceh Nasional 23 Oktober 2025

    Polri Ungkap Kasus Narkoba Menonjol Sepanjang 2025, Didominasi Jaringan Aceh
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) pada Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menyampaikan deretan kasus narkoba berskala besar atau kasus menonjol yang berhasil diungkap sepanjang Januari hingga Oktober 2025.
    Sejumlah kasus tersebut didominasi peredaran sabu jaringan internasional yang beroperasi di wilayah Aceh dan Sumatera Utara.
    “Yang pertama adalah pengungkapan kasus narkoba dengan barang bukti sabu sebanyak 135 kilogram di Lhokseumawe,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso dalam konferensi pers di Mabes Polri, Rabu (22/10/2025).
    Di Aceh, Eko bilang, Polri berhasil melakukan penyitaan 135 kilogram sabu dengan empat orang tersangka pada 7–8 Februari 2025.
    Selang beberapa pekan kemudian, pada 25 Februari 2025, polisi kembali menggagalkan penyelundupan 188 kilogram sabu di Aceh Tamiang dan menahan satu tersangka.
    Pengungkapan berikutnya terjadi pada 8 April 2025, yakni sabu seberat 192 kilogram di Bireuen, Aceh, serta 99 kilogram sabu di Kota Langsa, Aceh, pada 4–5 Mei 2025.
    Selain sabu, Polri juga menyita 248 kilogram ganja di Lampung Tengah pada 4 Juni 2025 dan menangkap dua tersangka.
    Sepekan kemudian, pada 20–22 Juni 2025, penyidik menemukan ladang ganja seluas 25 hektar di Desa Belang Meredeh dan Desa Kute Tenggoh di Aceh.
    Ladang tersebut ditaksir menghasilkan 180 ton ganja basah.

    Pada 5 Oktober 2025, Polri kembali menggagalkan peredaran sabu seberat 4,3 kilogram dan ekstasi sebanyak 155.000 butir di Aceh Timur.
    Dalam kasus ini, satu tersangka berhasil ditangkap.
    Selain pengungkapan di tingkat Bareskrim, Eko menjelaskan bahwa jajaran Polda juga berhasil menindak kasus peredaran narkoba berskala besar di sejumlah daerah.
    Pada 10 April 2025, Ditresnarkoba Polda Aceh menyita 25 kilogram kokain di wilayah Langsa, Aceh Tamiang, dan Langkat, Sumatera Utara, serta menangkap enam tersangka.
    Kasus menonjol lainnya adalah pengungkapan 98 kilogram sabu di Sungai Raya, Aceh Timur, pada 16 April 2025 oleh Polda Aceh; penyitaan 25 kilogram sabu, 5.842 butir ekstasi, dan 15.000 butir Happy Five di Medan pada 17 Juni 2025 oleh Polda Sumut; serta 100 kilogram sabu di Tanjung Balai pada 30 Juni 2025 dan 190 kilogram sabu di Langkat pada hari yang sama.
    Pengungkapan terbesar di wilayah Jawa terjadi pada 12 Agustus 2025 ketika Polda Metro Jaya menyita 471 kilogram sabu mendekati setengah ton di Bekasi, Jawa Barat, dan menetapkan satu tersangka.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kata Menteri-menteri Usai Diperintah Prabowo Pakai Maung untuk Jadi Mobil Dinas
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        23 Oktober 2025

    Kata Menteri-menteri Usai Diperintah Prabowo Pakai Maung untuk Jadi Mobil Dinas Nasional 23 Oktober 2025

    Kata Menteri-menteri Usai Diperintah Prabowo Pakai Maung untuk Jadi Mobil Dinas
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Gurauan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025), berbuah keseriusan di kalangan para menteri.
    Ucapan ringan Prabowo yang meminta para menterinya segera beralih menggunakan mobil Maung buatan PT Pindad disambut dengan dukungan luas para pejabat pemerintahan.
    Di hadapan para menteri Kabinet Merah Putih, Prabowo melontarkan kelakar bahwa tidak lama lagi kendaraan dinas mereka akan berganti.
    “Dan sebentar lagi saudara-saudara harus pakai Maung semua. Saya enggak mau tahu,” ujar Prabowo disambut tawa dan tepuk tangan peserta sidang.
    Suasana santai tak mengaburkan pesan serius di balik gurauan itu.
    Prabowo menegaskan, penggunaan produk dalam negeri menjadi salah satu langkah memperkuat kemandirian industri.
    Oleh karena itu, kepala negara berseloroh bahwa mobil para menteri dengan merek lain hanya bisa digunakan pada saat libur.
    “Yang mobil-mobil bagus pakai kalau libur saja. Ya pada saat saya enggak panggil, kau bolehlah kau pakai mobil itu,” lanjut Prabowo, masih dengan nada bercanda.
    Presiden bercerita bahwa dirinya sempat menikmati kembali kenyamanan Toyota Alphard saat bepergian
    incognito
    .
    Namun, dia segera mengingatkan dirinya sendiri akan tanggung jawab memberi contoh kepada anak buah dan masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri.
    “Sudah lama saya enggak menikmati Alphard. Enak juga ini. Tapi, Prabowo ingat, kamu Presiden RI harus beri contoh, pakai Maung terus,” tutur Prabowo.
    Menanggapi arahan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan siap mengalokasikan anggaran pengadaan Maung bagi para pejabat negara.
    Pemerintah, kata Purbaya, sebenarnya sudah menyiapkan dana pengadaan kendaraan taktis ringan itu dalam tahun anggaran berjalan.
    “Tahun ini harusnya ada (anggaran), tapi rupanya kapasitasnya (PT Pindad) belum cukup. Jadi, (anggaran) dibalikkan tahun ini,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (21/10/2025).
    Menurut dia, realisasi pengadaan kendaraan dinas baru bisa dilakukan setelah industri otomotif nasional siap memproduksi dalam jumlah memadai.
    “Penyalurannya bergantung pada kesiapan industri dalam negeri,” ucap Purbaya.
    Dukungan serupa datang dari Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.
    Dia menilai kebijakan Prabowo adalah momentum untuk membangkitkan rasa bangga terhadap produk nasional.
    “Oh, kita dukung sepenuhnya. Pokoknya apa pun namanya produk nasional, kita dukung,” kata Hanif di Kompleks Parlemen, Jakarta.
    Hanif menyebut Indonesia sudah seharusnya memiliki mobil nasional dan tidak boleh kalah bersaing dengan negara lain.
    “Karena kita sudah malu dong. Masa Vietnam punya (mobil nasional), kita enggak punya,” ujar dia.
    Saat ini, Hanif masih menggunakan kendaraan dinas berteknologi hybrid yang disewa pemerintah.
    “Soalnya kami sering ke lapangan, ke kampung-kampung. Jadi, butuh kendaraan yang tahan jarak jauh,” ucapnya.
    Secara terpisah, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menilai penggunaan mobil Maung adalah bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap karya anak bangsa.
    “Oh, dengan senang hati. Menggunakan produksi dalam negeri wajib. Buktinya, saya tiap hari pakai batik,” ujar Supratman di Kompleks Parlemen, Rabu (22/10/2025).
    Meski demikian, dia mengaku belum menggunakan Maung karena masih menunggu produksi massal kendaraan tersebut.
    “Yang disiapkan oleh negara, kita pakai,” katanya.
    Dukungan juga datang dari lembaga legislatif.
    Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno berharap perintah penggunaan Maung tak hanya berlaku bagi para menteri, tetapi juga bagi pimpinan MPR.
    “Saya mendukung penuh, dan mudah-mudahan tidak hanya para menteri, tetapi pimpinan MPR juga bisa menggunakan,” ujarnya.
    Menurut Eddy, langkah Prabowo menunjukkan komitmen nyata terhadap kemajuan industri nasional.
    “Kalau kita menggunakan produksi anak bangsa, itu merupakan kebanggaan. Mudah-mudahan bisa menular kepada masyarakat,” katanya.
    Dia menambahkan, kebijakan tersebut menunjukkan sikap egaliter Presiden karena tak membeda-bedakan jenis kendaraan dengan anak buahnya.
    “Yang paling penting adalah komitmen beliau untuk mendukung industri dalam negeri,” ucap Eddy.
    Rencana penggunaan Maung sebagai kendaraan dinas pejabat pemerintah sebenarnya bukan hal baru dan pernah disampaikan pada tahun lalu.
    Dalam retret kabinet di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, pada akhir Oktober 2024, Prabowo sudah memberikan arahan agar mobil Maung digunakan oleh para menteri, kepala lembaga, dan pejabat eselon I.
    Kepala Staf Kepresidenan (KSP) saat itu, AM Putranto, bahkan mengungkapkan bahwa pemerintah telah memesan 10.000 unit Maung kepada PT Pindad.
    Dari jumlah itu, sekitar 5.000 unit ditargetkan selesai pada 100 hari kerja pertama pemerintahan Prabowo.
    “Untuk program itu 10.000 (unit Maung) ke depan, untuk yang 100 hari kerja diharapkan 5.000 sekian dan itu akan berlanjut,” ujar Putranto (30/10/2024).
    Mobil Maung diketahui memiliki kandungan lokal hingga 70 persen, sementara 30 persen komponen masih diimpor dari Korea Selatan.
    “Prioritas di sini (pemerintah pusat), nanti kalau dibagi semua kan enggak kebagian. Kalau (produksi) 10.000 artinya kan diprioritaskan (di pemerintah pusat),” kata Putranto.
    Bagi Prabowo, penggunaan Maung boleh jadi bukan sekadar soal pergantian kendaraan dinas, melainkan simbol kemandirian ekonomi dan kepercayaan diri bangsa.
    Dari ruang sidang kabinet hingga halaman pabrik PT Pindad, semangat untuk menegakkan kebanggaan nasional kini kembali menggeliat.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Ditjen Pesantren di Kemenag, Hadiah Hari Santri yang Dipicu Tragedi Ponpes Al Khoziny
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        23 Oktober 2025

    Ditjen Pesantren di Kemenag, Hadiah Hari Santri yang Dipicu Tragedi Ponpes Al Khoziny Nasional 23 Oktober 2025

    Ditjen Pesantren di Kemenag, Hadiah Hari Santri yang Dipicu Tragedi Ponpes Al Khoziny
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan Kementerian Agama RI untuk membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren yang akan bertugas mengawasi seluruh pondok pesantren di Indonesia.
    Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i menyampaikan bahwa perintah tersebut telah tertuang dalam surat nomor B-617/M/D-1/HK.03.00/10/2025 tanggal 21 Oktober 2025.
    “Bapak Presiden melalui Mensesneg memerintahkan untuk segera mendirikan Dirjen Pesantren di Kementerian Agama Republik Indonesia,” ujar Syafi’i seusai Apel Peringatan Hari Santri 2025 di Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat, Rabu pagi.
    Mengulik lebih dalam, terungkap fakta alasan di balik perintah Prabowo untuk membentuk Ditjen Pesantren yang selama ini berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.
    Jauh sebelum surat itu diterbitkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengusulkan pembentukan Direktorat Jenderal Pendidikan Kepesantrenan di Kementerian Agama (Kemenag) untuk mengawasi sekitar 40.000 pondok pesantren yang berdiri di Indonesia.
    Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia MUI mengatakan bahwa tragedi ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, menandakan pentingnya Ditjen Pesantren.
    “Kementerian Agama, yaitu sudah berkali-kali kita sampaikan bahwa membina, mengawasi semua pesantren yang 40.000 lebih ya, ini sudah sepatutnya dibutuhkan satu struktur birokrasi, yaitu sejak awal sudah kita katakan ada Direktorat Jenderal Pendidikan Kepesantrenan, khusus,” kata Amirsyah di Kantor Pusat MUI, Jakarta Pusat, Selasa (7/10/2025).
    Menurut dia, kapasitas struktur birokrasi yang ada saat ini, yakni Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren di Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, belum cukup.
    Dengan jumlah pesantren yang sangat banyak itu, menurut Amirsyah, Kemenag harus segera menerjunkan dirjen khusus untuk mengawasi ponpes.
    “Kalau sekarang kan baru setingkat Direktur ya, ini harus Direktur Jenderal. Supaya apa? Supaya bisa sekup yang luas ini, ya bayangkan 41.000 lebih. Tidak mudah ngawas ini, tidak mudah sekali lagi,” kata Amirsyah.
    Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi akhirnya buka suara terkait alasan Presiden Prabowo membentuk Ditjen Pesantren yang rupanya bermula dari peristiwa di Ponpes Al Khoziny.
    Akibat tragedi tersebut, Prabowo merasa perlu memberikan perhatian lebih kepada ponpes di Indonesia.
    Terlebih, jumlah sekolah berasrama berbasis agama itu mencapai lebih dari 42.000.
    “Dari peristiwa itu kita mendapatkan fakta bahwa nampaknya kita semua pemerintah perlu untuk memberikan perhatian yang lebih kepada pondok-pondok pesantren,” beber Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu.
    Peristiwa yang terjadi belakangan seolah membuktikan masih ada bangunan ponpes yang tidak sesuai prosedur keamanan.
    Oleh karenanya, kata Prasetyo, Prabowo juga meminta masalah ini diselesaikan melalui kementerian/lembaga terkait.
    “Bapak Presiden memberikan petunjuk kepada kita, yang diwakili oleh Kementerian PU, untuk melakukan asesmen terhadap bangunan-bangunan pondok pesantren kita dari sisi keamanan secara teknis,” kata Prasetyo.
    Prabowo menginginkan ada perhatian khusus untuk pendidikan dan pelatihan para santri, yang jumlahnya berkisar 16 juta orang di seluruh Indonesia.
    “Jadi, itu beberapa hal yang menjadi perhatian dari Bapak Presiden yang diperintahkan kepada kita jajaran terkait, untuk kemudian beliau memberikan semacam restu untuk Kementerian Agama membuat Ditjen Pondok Pesantren,” kata dia.
    Ketua DPR RI Puan Maharani menyambut baik keputusan Kepala Negara yang menyetujui pembentukan Ditjen Pesantren sebagai bentuk kehadiran negara yang nyata dalam pemberdayaan pesantren di era modern.
    “Persetujuan Presiden atas pembentukan Ditjen Pesantren merupakan kado istimewa bagi seluruh santri di Hari Santri Nasional tahun ini, karena menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam memperkuat ekosistem pendidikan dan pemberdayaan pesantren di Indonesia,” ungkapnya dalam rilis pers, Rabu.
    Lebih lanjut, Puan menilai kehadiran Ditjen Pesantren akan membuka peluang lebih besar bagi penguatan peran pesantren secara kelembagaan dan strategis.
    “Tidak hanya dalam bidang pendidikan agama, tetapi juga pengembangan ekonomi umat, literasi digital, hingga peningkatan kualitas para santri,” sebut perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.
    Bertepatan dengan Hari Santri 2025, ini adalah momentum penting untuk meneguhkan kembali peran santri dan pesantren sebagai penjaga moral bangsa sekaligus penggerak kemajuan peradaban Indonesia di era modern.
    “Saya berharap keberadaan Ditjen Pesantren akan memperkuat tata kelola pendidikan pesantren, meningkatkan kapasitas santri, serta memastikan pesantren menjadi pilar pemberdayaan masyarakat yang mandiri dan berdaya saing,” lanjut Puan.
    Tiga pekan lebih berjalan, tim penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) dan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jatim belum juga menetapkan adanya tersangka dalam kasus runtuhnya mushala Ponpes Al Khoziny.
    “Belum ada info tambahan, masih proses sidik,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, Rabu (22/10/2025).
    Runtuhnya bangunan tiga lantai mushala Ponpes Al Khoziny yang terletak di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terjadi pada Senin (29/10/2025).
    Berdasarkan analisis tim gabungan, penyebab ambruknya bangunan tersebut dikarenakan kegagalan konstruksi di mana akibat ketidakmampuan menahan beban dari kapasitas seharusnya.
    Tragedi tersebut telah menelan 63 korban jiwa dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
    Kini, tragedi tersebut masih dalam tahap penyidikan kepolisian di Polda Jawa Timur.
    Proses evakuasi korban dan pengangkatan puing bangunan telah ditutup oleh tim SAR gabungan sejak Selasa (7/10/2025).
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Momen Akrab Prabowo dan Presiden Afsel, Bahas Nelson Mandela hingga Apartheid
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        23 Oktober 2025

    Momen Akrab Prabowo dan Presiden Afsel, Bahas Nelson Mandela hingga Apartheid Nasional 23 Oktober 2025

    Momen Akrab Prabowo dan Presiden Afsel, Bahas Nelson Mandela hingga Apartheid
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Beragam momen akrab disuguhkan dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/10/2025).
    Keduanya bertukar pikiran dan pandangannya terkait negara masing-masing, di sela bahasan hubungan diplomatik.
    Dari pembahasan itu, baik Prabowo maupun Ramaphosa punya kesan baik untuk Afrika dan Indonesia.
    Salah satu kesan baik yang diungkapkan Prabowo terkait Afrika adalah sosok Nelson Mandela yang ia anggap sebagai pahlawan dan ikon.
    “Presidenmu yang hebat, Bapak Nelson Mandela, sangat dikagumi di Indonesia. Secara pribadi, beliau juga salah satu pahlawan dan ikon saya,” kata Prabowo dalam pertemuan tersebut, Rabu.
    Saking kagumnya, Prabowo bahkan memajang foto Nelson Mandela di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.
    “Kalau Anda datang ke kantor pusat partai saya, akan ada foto Nelson Mandela yang sangat besar,” ucap dia.
    Prabowo juga menganggap Afrika Selatan dan Indonesia memiliki sejarah serupa sebagai negara jajahan.
    Indonesia, kata Prabowo, berada di bawah penjajahan selama ratusan tahun, sehingga ia pun merasa iba dengan perjuangan panjang Afrika Selatan untuk meraih kebebasan.
    Begitu pula dengan Afrika Selatan yang berjuang melawan penjajah, bahkan mengalami politik apartheid, sebuah sistem segregasi rasial dan penindasan yang diterapkan oleh pemerintah minoritas kulit putih di Afrika Selatan dari tahun 1948 hingga awal 1990-an.
    Melalui sistem itu, terjadi pemisahan yang dibedakan dari warna kulit. Orang kulit hitam kerap tidak mendapatkan hak yang seharusnya diterima.
    “Kami mengikuti perjuangan Anda dan mengagumi kekuatan Anda serta perjuangan Anda untuk kebebasan dan demokrasi,” tutur Prabowo.
    Terkait apartheid, Indonesia menjadi kenangan baik warga Afrika Selatan.
    Ramaphosa menganggap Indonesia sebagai negara yang teguh melawan diskriminasi ras atau apartheid.
    “Selama bertahun-tahun, rakyat Afrika Selatan menemukan sekutu setia di Indonesia, yang secara konsisten mendukung perjuangan melawan apartheid,” kata Ramaphosa
    Ramaphosa pun menyatakan akan selalu berterima kasih atas dukungan dan solidaritas rakyat Indonesia.
    Ia juga mengenang Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 sebagai momen yang bersejarah bagi negaranya.
    “Konferensi Bandung tahun 1955 merupakan inspirasi dan sumber semangat yang luar biasa bagi para pemimpin perjuangan pembebasan kita yang hadir di sana,” ucap Ramaphosa.
    Sebagai bagian dari dukungan anti-apartheid, kedua pemimpin negara menyerukan seruan perjuangan bangsa Afrika Selatan. Momen ini terjadi usai keduanya menyampaikan pernyataan bersama pasca pertemuan bilateral.
    Prabowo memulai seruan dengan meneriakkan ”
    Amandla
    !”.
    Amandla
    merupakan seruan perjuangan warga Afrika Selatan selama melawan apartheid.

    Amandla
    !” kata Prabowo sembari mengepalkan tangan di udara.
    Mendengar seruan itu, Presiden Afrika Selatan menjawab seruannya sembari tertawa kecil.
    Ia juga mengepalkan tangan ke udara, sembari menengok ke arahnya sembari tertawa kecil.

    Awethu
    ,” ucap Ramaphosa.
    Keduanya lalu tersenyum sembari berjabat tangan untuk kedua kalinya selama pernyataan bersama.

    Amandla Awethu
    ” maupun ”
    Amandla Ngawethu
    ” berarti “kekuasaan untuk rakyat”.
    Seruan itu kerap dipakai Afrika Selatan saat melawan sistem pemisahan dan diskriminasi rasial oleh pemerintah minoritas kulit putih di Afrika Selatan dari tahun 1948 hingga awal 1990-an.
    Dalam pertemuan bilateral, pemerintah Indonesia dan Afrika Selatan sepakat memperkuat kerja sama di bidang pertahanan, perdagangan, agrikultur, hingga hubungan antar-masyarakat.
    Prabowo bahkan mempertimbangkan membentuk perjanjian perdagangan preferensi (Preferential Trade Agreement/PTA) maupun Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) untuk meningkatkan hubungan perdagangan.
    Terlebih, volume perdagangan kedua negara sudah meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir.
    Oleh karenanya, Prabowo menyambut pertemuan kali ini sebagai tonggak penting dalam peningkatan hubungan kedua negara.
    “Di tengah ketidakpastian ekonomi internasional saat ini, saya pikir sangat penting bagi kita untuk mengembangkan hubungan baru dan hubungan yang lebih kuat. Afrika Selatan adalah pemimpin yang sangat penting di Afrika, dan saya pikir akan menjadi penting bagi Indonesia di tahun-tahun mendatang,” kata Prabowo.
    Senada, Presiden Ramaphosa menyampaikan, kunjungannya ke Indonesia bertujuan untuk membangun kemitraan komersial yang sangat kuat antara kedua negara.
    Ia membawa delegasi yang terdiri para menteri terkait pertahanan, pertanian, serta perdagangan dan investasi, untuk meningkatkan kerja sama.
    “Kami sepakat tentang perlunya meningkatkan perdagangan antara kedua negara sebagai katalis bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Kami membahas pentingnya membangun ekonomi yang lebih tangguh dan terdiversifikasi antara kedua negara demi kepentingan rakyat kedua negara mengingat kita menghadapi tantangan geopolitik yang serupa,” ujar Ramaphosa.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Menteri Hukum: Perdebatan TNI Jadi Penyidik Pidana Siber Sudah "Clear"
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        23 Oktober 2025

    Menteri Hukum: Perdebatan TNI Jadi Penyidik Pidana Siber Sudah "Clear" Nasional 23 Oktober 2025

    Menteri Hukum: Perdebatan TNI Jadi Penyidik Pidana Siber Sudah “Clear”
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Menteri Hukum (Menkum) Supratman Andi Agtas menyatakan, perdebatan terkait Rancangan Undang-Undang tentang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) di kalangan pemerintah sudah selesai.
    Perdebatan terkait RUU itu di antaranya meliputi norma Pasal 56 Ayat (1) huruf d yang menyatakan TNI termasuk sebagai penyidik tindak pidana siber.
    “Semua yang menjadi perdebatan terkait dengan penyidik dan lain-lain sebagainya sudah
    clear
    ,” kata Supratman saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (22/10/2025).
    Supratman mengeklaim, kini tidak ada lagi yang perlu diragukan dari RUU KKS tersebut.
    Menurut dia, panitia antar kementerian telah sampai pada kesepakatan bulat terkait draft RUU KKS.
    Kementerian Hukum bahkan telah mengajukan RUU KKS itu ke Presiden Prabowo Subianto untuk kemudian ditindaklanjuti kepala pemerintah.
    “Nanti presiden yang akan kirim Surpres (Surat Presiden) ke DPR, saya enggak tahu kapan,” ujar Supratman.
    Politikus Partai Gerindra itu mengatakan, tidak ada lagi klausul yang menyebut penyidik di antaranya terdiri dari unsur TNI.
    Sebab, aturannya sudah jelas bahwa penyidik TNI hanya bisa menindak jika pelakunya anggota TNI.
    “Kita kan mau sahkan KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). Jadi kalau pelakunya TNI ya otomatis. Tapi enggak perlu di-
    statement
    di undang-undang,” kata dia.
    Sebelumnya, Koalisi Masyarakat Sipil menilai, RUU KKS bisa mengancam hak asasi manusia (HAM) karena melibatkan TNI sebagai penyidik tindak pidana siber.
    Koalisi ini terdiri dari Raksha Initiatives, Centra Initiative, Imparsial, dan De Jure.
    Mereka menilai, keterlibatan TNI dalam rumusan pasal itu jelas bertentangan dengan Pasal 30 Ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan TNI bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara kedaulatan negara.
    “Pelibatan TNI sebagai penyidik tindak pidana keamanan dan ketahanan siber justru akan semakin mengancam hak asasi manusia dan negara hukum,” kata Koalisi Masyarakat Sipil dalam siaran pers, Sabtu (4/10/2025).
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Ketua MPR: Santri Sudah Jadi Garda Terdepan Bangun Kesadaran Merdeka
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        22 Oktober 2025

    Ketua MPR: Santri Sudah Jadi Garda Terdepan Bangun Kesadaran Merdeka Nasional 22 Oktober 2025

    Ketua MPR: Santri Sudah Jadi Garda Terdepan Bangun Kesadaran Merdeka
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
     – Ketua MPR RI, Ahmad Muzani menyebut, dalam sejarahnya santri berada di barisan paling depan membangun kesadaran bangsa Indonesia untuk merdeka.
    Pernyataan itu Muzani sampaikan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025.
    “Para santri telah menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran bangsa untuk merdeka,” kata Muzani dalam keterangan resminya, Rabu (22/10/2025).
    Menurut Muzani, peringatan Hari Santri bukan hanya seremoni, tapi menjadi waktu untuk merenungi peran besar santri dan ulama dalam sejarah bangsa Indonesia.
    Kaum santri telah melakoni tradisi pembelajaran jauh sebelum Indonesia merdeka.
    Tidak hanya mempelajari ilmu agama, santri juga turut menggugah kesadaran masyarakat untuk membedakan kebenaran dan kebatilan.
    “Dari sanalah lahir nasionalisme dan semangat perlawanan terhadap penjajah,” tutur Muzani.
    Politikus Partai Gerindra itu menyebut, santri memiliki pola pembelajaran dan tradisi keilmuan yang tidak pernah berhenti.
    Dari pesantren juga lahir peradaban, adab, dan kemandirian yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
    Menurutnya, Hari Santri menjadi waktu yang tepat merenungkan kembali nilai-nilai luhur. Semangat santri, kata dia, harus menjadi energi baru untuk membangkitkan semangat Indonesia menghadapi tantangan dunia internasional.
    Muzani mengajak semua elemen masyarakat memaknai Hari Santri sebagai sarana untuk memperkuat rasa syukur, penghormatan pada ulama dan kiai serta memperkokoh semangat kebangsaan.
    “Dengan menghormati para kiai, menjaga adab, dan melestarikan tradisi ilmu, kita memperkuat fondasi peradaban bangsa,” ujar Muzani.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pengacara Marcella Santoso, Ariyanto, dan Legal Korporasi Syafei Didakwa TPPU Rp 52,53 M
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        22 Oktober 2025

    Pengacara Marcella Santoso, Ariyanto, dan Legal Korporasi Syafei Didakwa TPPU Rp 52,53 M Nasional 22 Oktober 2025

    Pengacara Marcella Santoso, Ariyanto, dan Legal Korporasi Syafei Didakwa TPPU Rp 52,53 M
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Pengacara Marcella Santoso, Ariyanto Bakri, dan Social Security License Wilmar Group Muhammad Syafei didakwa telah melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan nilai total Rp 52,53 miliar.
    Uang TPPU ini diduga berasal dua sumber, yaitu dari proses suap kepada majelis hakim yang memberikan vonis lepas kepada tiga korporasi
    crude palm oil
    (CPO), serta dari
    fee lawyer
    penanganan perkara CPO.
    “Terdakwa Marcella Santoso telah melakukan atau turut serta melakukan dengan Ariyanto, menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang, surat berharga, atau perbuatan lain atas harta kekayaan, yaitu yang diketahuinya atau patut diduga hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) berupa uang dalam bentuk USD (senilai) Rp 28 miliar yang dikuasai oleh Marcella Santoso, Ariyanto, M Syafei,” ujar Jaksa Andi Setyawan, saat membacakan dakwaan dalam sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (22/10/2025).
    Selain menyamarkan uang yang terkait dari proses suap, para terdakwa juga menyamarkan uang senilai Rp 24,5 miliar yang merupakan
    legal fee
    atau pendapatan sebagai penasehat hukum terdakwa korporasi.
    “Dan,
    legal fee
    sebesar Rp 24.537.610.150,9 yang berasal dari hasil tindak pidana korupsi dalam perkara memberi, menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi supaya perkara korupsi korporasi minyak goreng tersebut diputus dengan putusan onslag dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan,” ujar jaksa.
    Marcella, Ariyanto, dan Syafei didakwa melakukan TPPU dan menyamarkan kepemilikan aset dengan menggunakan nama perusahaan.
    “(Para terdakwa) menggunakan nama perusahaan dalam kepemilikan aset dan mencampurkan uang hasil kejahatan dengan uang yang diperoleh secara sah,” kata jaksa.
    Atas perbuatannya, para terdakwa diancam dengan Pasal 3 dan/atau Pasal 4 dan/atau Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
    Selain didakwa melakukan TPPU, keempat terdakwa juga diduga telah memberikan uang suap senilai Rp 40 miliar kepada majelis hakim yang memberikan vonis lepas atau ontslag dalam kasus pemberian fasilitas ekspor kepada tiga korporasi CPO.
    Uang suap senilai Rp 40 miliar ini kemudian dibagikan ke lima orang dari kluster pengadilan, sudah lebih dahulu didakwa dalam berkas perkara lain.
    Rinciannya, eks Wakil Ketua PN Jakarta Pusat Muhammad Arif Nuryanta didakwa menerima Rp 15,7 miliar; panitera muda nonaktif PN Jakarta Utara, Wahyu Gunawan, menerima Rp 2,4 miliar.
    Sementara itu, Djuyamto selaku ketua majelis hakim menerima Rp 9,5 miliar, sedangkan dua hakim anggota, Ali Muhtarom dan Agam Syarif Baharudin, masing-masing menerima Rp 6,2 miliar.
    Atas suap yang diterima, Djuyamto, Ali, dan Agam memutus vonis lepas untuk tiga korporasi, yaitu Permata Hijau Group, Wilmar Group, dan Musim Mas Group.
    Sementara, Arif Nuryanta dan Wahyu Gunawan terlibat dalam proses nego dengan Ariyanto yang merupakan perwakilan dari perusahaan.
    Arif dan Wahyu juga berkomunikasi dan mempengaruhi majelis hakim untuk memutus perkara sesuai permintaan Ariyanto, Marcella Santoso, Junaedi Saibih, dan Muhammad Syafei.
    Pemberian uang suap Rp 40 miliar ini dilakukan beberapa kali. Ariyanto disebutkan berulang kali menemui Wahyu Gunawan dan Muhammad Arif Nuryanta untuk membahas soal pengurusan kasus.
    Sementara, Marcella, Junaedi, dan Syafei mengatur dari sisi korporasi. Mulai dari menyusun rencana untuk mencapai vonis lepas hingga menyiapkan uang suap untuk para hakim.
    Dalam kasus ini, Marcella Santoso dkk didakwa telah melanggar Pasal 6 Ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 5 Ayat (1) huruf a, dan/atau Pasal 13 jo Pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Mendikdasmen Akui Sudah Bicara ke Kepala BGN soal Usulan "School Kitchen"
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        22 Oktober 2025

    Mendikdasmen Akui Sudah Bicara ke Kepala BGN soal Usulan "School Kitchen" Nasional 22 Oktober 2025

    Mendikdasmen Akui Sudah Bicara ke Kepala BGN soal Usulan “School Kitchen”
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Abdul Mu’ti mengaku sudah berbicara dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana terkait usulan untuk membantu program makan bergizi gratis (MBG) lewat konsep “School Kitchen”.
    “Kami sudah bicara non formal dengan Bapak Kepala BGN dan juga dalam rapat koordinasi lintas kementerian,” ujar Mu’ti di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (22/10/2025).
    Mu’ti menuturkan, kekurangan pelaksanaan MBG yang terjadi selama ini akan terus diperbaiki, maka itu ia mengusulkan adanya konsep tersebut. 
    “Kurang-kurang nanti kita perbaiki termasuk usulan saya adalah tentang School Kitchen itu,” kata dia.
    Mu’ti mempersilakan sekolah-sekolah yang sudah siap membangun konsep “School Kitchen” untuk menerapkan usulan tersebut.
    “Untuk sekolah-sekolah yang siap, yang infrastrukturnya memang memungkinkan itu bisa diberikan konsesi atau pelaksanaan khusus. Gimana mereka bisa melakukan School Kitchen itu,” tuturnya.
    Dengan konsep itu, terbuka peluang bahwa MBG akan melibatkan sekolah yang siap menyelenggarakan penyediaan makanan secara mandiri melalui konsep School Kitchen.
    Sebelumnya, Mu’ti pernah menyampaikan bahwa mekanisme “School Kitchen” dijalankan setelah mendapatkan penilaian dari BGN serta memenuhi persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan.
    Mekanisme tersebut masih dalam tahap pembahasan lintas kementerian dan akan dipastikan setelah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) baru. 
    “Ini masih kami bicarakan di rapat lintas kementerian. Bagaimana finalnya, kita tunggu sampai Perpresnya keluar. Apapun hasilnya, kami akan mengikuti dan melaksanakannya,” ujar Mu’ti, Kamis (16/10/2025).
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.