Category: Detik.com Otomotif

  • Mobil Bikinan Indonesia Ini Laris di Venezuela

    Mobil Bikinan Indonesia Ini Laris di Venezuela

    Jakarta

    Venezuela lagi panas-panasnya menyusul serangan pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump. Mobil bikinan Indonesia ini laris manis di Venezuela.

    Akhir pekan kemarin, terjadi serangan ke Venezuela oleh Amerika Serikat. AS menculik Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, dilanjutkan memindahkan mereka ke New York untuk diadili.

    Ternyata, Venezuela adalah salah satu negara tujuan ekspor mobil-mobil buatan Indonesia. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), beberapa mobil buatan Indonesia dikirim ke Venezuela. Bahkan, tahun lalu ekspor mobil ke Venezuela tembus ribuan unit.

    Merek mobil yang mengekspor ke Venezuela adalah Toyota. Dua mobil Toyota, yaitu Toyota Yaris Cross dan Toyota Wigo laris manis di Venezuela.

    Berdasarkan data Gaikindo, sepanjang Januari sampai November 2025, Toyota mengekspor mobil Toyota Yaris Cross sebanyak 1.008 unit. Model yang diekspor ke Venezuela adalah Toyota Yaris Cross tipe G.

    Toyota Yaris Cross tipe G yang diekspor ke Venezuela itu menggunakan mesin non-hybrid berkode 2NR-VE empat silinder segaris 16 katup DOHC dengan Dual VVT-i. Mesin itu berkapasitas 1.496 cc. Tenaga maksimalnya mencapai 106 hp dengan torsi maksimal 140 Nm.

    Toyota Yaris Cross itu memiliki kapasitas tangki bensin 42 liter. Konsumsi bahan bakarnya diklaim mencapai 4,8 liter per 100 km atau setara 20,8 km per liter.

    Selain Yaris Cross, Toyota juga mengekspor Toyota Wigo 1.2 ke Venezuela. Mobil itu juga dikenal sebagai Toyota Agya. Di data Gaikindo, city car yang diekspor ke Venezuela itu menggunakan nama Wigo. Tapi, di website Toyota Venezuela, mobil itu dijual menggunakan nama Agya.

    Sepanjang Januari sampai November 2025, Toyota mengekspor Agya ke Venezuela sebanyak 4.869 unit. Itu termasuk Agya bertransmisi manual dan otomatis.

    Toyota Agya yang diekspor ke Venezuela itu menggunakan mesin WA-VE 1.198 cc (1.2L) tiga silinder 12 katup, DOHC, Dual VVT-i. Tenaga maksimalnya mencapai 87 daya kuda dengan torsi maksimal 113 Nm. Toyota Venezuela mengklaim mobil ini memiliki konsumsi bahan bakar hingga 4,1 liter per 100 km atau setara 24,3 km/liter.

    Toyota Minta Karyawan di Venezuela Kerja dari Rumah

    Toyota telah menginstruksikan pegawainya di Venezuela bekerja dari rumah sementara waktu menyusul serangan militer pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

    Mengutip Automotiveworld, Toyota mengonfirmasi jika semua staf ekspatriat dan keluarga mereka tetap aman, meskipun tak mengungkapkan jumlah total karyawan yang terkena dampak arahan kerja jarak jauh tersebut.

    Toyota lebih lanjut mengklarifikasi bahwa kesepakatan tersebut tidak memengaruhi penjualan atau operasional produksi, meskipun perlu dicatat, bahwa hal tersebut telah terdampak oleh kondisi ekonomi lokal dan sanksi selama bertahun-tahun.

    (rgr/dry)

  • Pemerintah Pertimbangkan Polisi Pakai Bodycam

    Pemerintah Pertimbangkan Polisi Pakai Bodycam

    Jakarta

    Pemerintah mempertimbangkan aturan agar polisi nantinya memakai kamera badan atau body camera (body cam). Hal itu menyusul Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang akan mengatur penggunaan kamera pengawas untuk pemeriksaan.

    “Kemudian CCTV (kamera pengawas) pemeriksaan, bodycam, nanti mungkin ini bisa jadi pertimbangan ya,” ujar Menteri Hukum Supratman Andi Agtas dikutip Antara.

    Supratman bilang, hal tersebut akan didiskusikan dengan tim perumus rancangan peraturan pemerintah (RPP).

    “Dalam (rancangan peraturan pemerintah) RPP-nya juga nanti kami akan coba karena berbasis teknologi informasi. Nanti akan kami diskusikan dengan Tim 12 dalam rangka penyusunan dan penyempurnaan RPP yang akan datang ya,” katanya.

    Bodycam sudah banyak juga digunakan oleh petugas kepolisian lalu lintas di berbagai negara. Di Indonesia, beberapa sudah ada yang menggunakan bodycam.

    Beberapa waktu lalu, situs resmi Humas Polri menginformasikan bodycam yang berada di pakaian dinas polantas digunakan personel saat melaksanakan tugas di Unit Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan dan Patroli (Unit Turjawali).

    Sesuai namanya, bodycam atau body camera adalah sebuah kamera yang dilengkapi audio dan visual yang dipasangkan pada tubuh polisi di lapangan. Dikutip detikJatim, Polda Jawa Timur sudah menggunakan body camera. Mekanismenya, setiap personel diwajibkan untuk merekam peristiwa atau saat bertugas di lapangan dengan cara bodycam ditempelkan di badan setiap personel ketika patroli.

    Bodycam itu dinilai sangat efektif untuk menekan penyimpangan tindakan para personel kepolisian di lapangan. Termasuk untuk mencegah penyalahgunaan wewenang, kekerasan, hingga korupsi sekalipun. Bahkan, bisa sebagai bukti pada saat anggota melanggar aturan maupun sebaliknya.

    (rgr/dry)

  • Harga Yamaha Nmax Januari 2026, Naik Jadi Segini

    Harga Yamaha Nmax Januari 2026, Naik Jadi Segini

    Jakarta

    Harga Yamaha Nmax Januari 2026 mengalami kenaikan. Kenaikan harga kendaraan bermotor di awal tahun wajar karena ada kenaikan di beberapa instrumen pajak, misalnya bea balik nama atau BBN. Kenaikan harga ini juga terjadi di salah satu skutik andalan Yamaha, Nmax.

    Generasi terbaru Yamaha Nmax tipe Neo kini dijual Rp 33.765.000 on the road Jakarta. Bulan sebelumnya, Nmax varian paling rendah itu dijual seharga Rp 33.415.000. Artinya, ada kenaikan sebesar Rp 350.000.

    Kemudian untuk Yamaha Nmax varian tertinggi, yaitu Turbo Tech Max Ultimate, kini harganya Rp 46.445.000 on the road Jakarta. Sebelumnya, kasta tertinggi Nmax tersebut dijual Rp 46.095.000. Artinya, ada kenaikan harga Rp 350.000 di awal tahun ini.

    Harga Yamaha Nmax Januari 2026

    1. Nmax Neo: Rp 33.765.000

    2. Nmax Neo S: Rp 34.755.000

    3. Nmax Turbo: Rp 38.965.000

    4. Nmax Turbo Tech Max: Rp 44.465.000

    5. Nmax Turbo Tech Max Ultimate: Rp 46.445.000.

    Sebagai informasi, versi terbaru Yamaha Nmax hadir dalam varian Neo dan Turbo. Di tipe Turbo sudah memakai teknologi YECVT (CVT elektrik), pilihan mode berkendara, dan sistem navigasi Garmin di varian tertinggi. Di sisi lain, Yamaha juga masih menjual Nmax generasi lama.

    Jika Yamaha Nmax versi Neo dan Turbo mengalami kenaikan harga di Januari 2026. Maka untuk Nmax versi lama ini tidak mengalami kenaikan harga. Yamaha Nmax generasi lama ditawarkan dalam tiga varian, standard, S version, dan connected ABS.

    Soal harga, varian standard dijual Rp 32.175.000, S version Rp 33.175.000, dan versi tertinggi connected ABS dijual Rp 36.300.000.

    Yamaha Nmax 155 generasi lama Foto: Dok. Yamaha

    (lua/dry)

  • VinFast Perkuat Industri EV Nasional Lewat Pabrik Kendaraan Listrik di Subang

    VinFast Perkuat Industri EV Nasional Lewat Pabrik Kendaraan Listrik di Subang

    Jakarta

    VinFast menandai langkah penting dalam pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia melalui beroperasinya fasilitas produksi kendaraan listrik di Subang, Jawa Barat. Pabrik ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang VinFast dalam memperluas jaringan manufaktur global sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap ekosistem kendaraan listrik nasional.

    Kehadiran pabrik VinFast di Subang diharapkan mendorong peningkatan daya saing industri otomotif berbasis listrik di dalam negeri, mempercepat lokalisasi produksi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Fasilitas ini menjadi pabrik pertama VinFast di Indonesia dan Asia Tenggara di luar Vietnam, sekaligus pabrik keempat VinFast secara global.

    Pabrik VinFast Subang diselesaikan dan mulai beroperasi dalam waktu sekitar 17 bulan sejak peletakan batu pertama. Keberhasilan penyelesaian proyek sesuai jadwal mencerminkan kesiapan VinFast dalam mengeksekusi investasi strategis serta komitmen perusahaan dalam mendukung agenda industrialisasi hijau di Indonesia.

    CEO VinFast Asia Pham Sanh Chau menyebut pembangunan pabrik ini sebagai wujud komitmen nyata perusahaan dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang berkelanjutan.

    “Tujuh belas bulan lalu kami memulai pembangunan pabrik ini dengan satu misi yang jelas, membangun ekosistem hijau yang komprehensif,” ujar Pham dalam keterangan tertulis, Rabu (7/12/2026).

    Ia menegaskan bahwa kecepatan penyelesaian pabrik menjadi bukti kemampuan eksekusi VinFast dalam merealisasikan komitmen tersebut.

    “Kami tidak hanya berbicara, tetapi juga mewujudkannya. Ini adalah bukti kecepatan dan kemampuan eksekusi VinFast,” ucapnya.

    Dalam pengembangannya, VinFast menargetkan tingkat lokalisasi yang progresif sejalan dengan kebijakan pemerintah. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ditargetkan melampaui 40 persen pada 2026, meningkat menjadi 60 persen pada 2029, dan mencapai 80 persen mulai 2030. Upaya ini didukung dengan pembangunan ekosistem industri pendukung di kawasan Subang, termasuk pengembangan kawasan pemasok atau supplier park.

    Dari sisi pemerintah, proyek ini dipandang sejalan dengan agenda penguatan industri hijau dan percepatan transisi energi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kehadiran pabrik VinFast dapat menjadi penggerak baru bagi industri kendaraan listrik nasional.

    “Sesuai namanya, VinFast, pembangunan pabrik ini memang sangat cepat. Tidak semua manufaktur mampu melakukannya,” kata Airlangga.

    Ia juga berharap VinFast terus meningkatkan tingkat komponen dalam negeri dengan menggandeng pelaku industri lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan industri dalam negeri.

    Manajemen VinFast Indonesia menilai pabrik Subang sebagai fondasi utama keberlanjutan bisnis perusahaan di Tanah Air. CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto menyampaikan bahwa sejak tahap awal operasional, pabrik ini telah menyerap sekitar 900 tenaga kerja.

    “Subang memang menjadi prioritas kami untuk tenaga kerja. Tenaga kerja terdidik dan terlatih tentunya harus memenuhi standar VinFast,” ujarnya.

    Menurut Kariyanto, apabila seluruh fase pembangunan pabrik telah terselesaikan, fasilitas ini berpotensi menyerap hingga 15 ribu tenaga kerja.

    “Ke depannya, tidak hanya kendaraan roda empat yang akan dirakit di pabrik ini, tetapi juga kendaraan roda dua, dengan total produksi yang ditargetkan mencapai sekitar 300 ribu unit per tahun,” ucapnya.

    Pabrik VinFast Subang berdiri di atas lahan seluas 171 hektare dan dikembangkan secara bertahap dengan total investasi lebih dari USD 1 miliar. Pada kapasitas penuh, fasilitas ini diproyeksikan mampu memproduksi hingga 350.000 unit kendaraan per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.

    Pada fase awal, VinFast mengalokasikan investasi lebih dari USD 300 juta dengan kapasitas produksi sekitar 50.000 unit per tahun. Fasilitas ini dilengkapi lini produksi terintegrasi berstandar internasional dengan tingkat otomasi tinggi, mencakup proses pengelasan bodi, pengecatan, perakitan, inspeksi kualitas, hingga logistik.

    Seiring peningkatan kapasitas, pabrik ini diperkirakan mampu menciptakan sekitar 5.000 hingga 15.000 lapangan kerja langsung, serta ribuan lapangan kerja tidak langsung di sektor rantai pasok dan layanan pendukung. Dampak ini diharapkan memperkuat posisi Subang sebagai salah satu pusat industri kendaraan listrik baru di Indonesia.

    Pada tahap awal operasional, pabrik Subang memproduksi sejumlah model kendaraan listrik strategis VinFast untuk pasar Indonesia, yakni VF 3, VF 5, VF 6, dan VF 7 dengan setir kanan yang dirancang untuk kebutuhan mobilitas perkotaan. Ke depan, fasilitas ini juga dipersiapkan untuk merakit model baru, termasuk sepeda motor listrik dan MPV listrik yang disesuaikan dengan kebutuhan komersial dan layanan.

    Selain menyasar pasar domestik, pabrik VinFast Subang juga diproyeksikan menjadi hub ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan kawasan sekitarnya. Dengan beroperasinya fasilitas ini, VinFast semakin menegaskan perannya dalam membangun rantai nilai kendaraan listrik yang terintegrasi di Indonesia sekaligus memperkuat posisi kawasan Asia Tenggara dalam peta industri kendaraan listrik global.

    (akn/ega)

  • Aismoli Pasrah Nggak Ada Subsidi Motor Listrik tapi Usul Begini

    Aismoli Pasrah Nggak Ada Subsidi Motor Listrik tapi Usul Begini

    Jakarta

    Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) sudah tidak mengharapkan kebijakan subsidi motor listrik dari pemerintah. Namun industri motor listrik masih ingin didukung lewat kebijakan non-fiskal.

    “Kita sudah sepakat dalam industri, kita tidak bisa mengandalkan pemerintah saja,” kata Ketua Aismoli, Budi Setiyadi kepada detikOto, Selasa (6/1/2026).

    Kata Budi, pemerintah saat ini berfokus pada Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan ekonomi melalui Koperasi Merah Putih.

    “Pemerintah punya target khusus, seperti MBG, Merah Putih, itu lebih banyak menuntut perhatian pemerintah,” kata Budi.

    “Kita sepakat tidak berharap lagi sama pemerintah, mau ada subsidi atau tidak, kita tetap jalan terus,” tambah dia.

    Kondisi ini memaksa pabrikan motor listrik untuk memutar otak dan mencari strategi baru agar tetap bisa bersaing di pasar otomotif nasional tanpa sokongan dana negara.

    “Kita harus mandiri, mencari terobosan supaya tetap eksis di masyarakat,” ungkap Budi.

    “Kita harus mandiri, mencari terobosan, supaya tetap eksis di masyarakat. Kalau tidak bisa memberikan insentif fiskal,” tambah Budi.

    Meski demikian, Aismoli tetap menuntut dukungan dalam bentuk lain, yakni insentif non-fiskal. Budi mengusulkan agar pengguna motor listrik diberikan “karpet merah” di jalan raya agar masyarakat tetap tertarik beralih dari motor bensin.

    “Insentif non-fiskal, memberikan semacam privilege kepada pengguna, seperti ganjil genap, atau ada jalur khusus sepeda motor listrik, atau parkir yang menekan biaya untuk sepeda motor listrik, atau pemerintah daerah sudah mulai menggunakan sepeda motor listrik,” jelas Budi.

    Penjualan motor listrik turun tanpa subsidi. Angka penjualan sepeda motor listrik 2025 mengalami penurunan 28,6 persen dibandingkan tahun lalu. Biang keroknya gara-gara ketidakjelasan subsidi motor listrik.

    Data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) mencatat, penjualan motor listrik tahun 2025 hanya mencapai 55.059 unit, turun dari 77.078 unit pada 2024.

    (riar/dry)

  • Pabrik Mobil Listrik VinFast di Subang Beroperasi, Serap 900 Tenaga Kerja

    Pabrik Mobil Listrik VinFast di Subang Beroperasi, Serap 900 Tenaga Kerja

    Jakarta

    Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, resmi mengoperasikan fasilitas manufaktur terbarunya di Desa Padaasih, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Adapun pabrik tersebut mampu menyerap 900 tenaga kerja.

    Peresmian yang dilakukan, Senin (15/12/2025) menjadi tonggak penting bagi ekspansi global VinFast. Sebab kehadiran pabrik itu sebagai wujud keseriusan perusahaan dalam membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

    Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 170 hektare tersebut menjadi fasilitas produksi pertama VinFast di Asia Tenggara dan yang kedua di luar Vietnam. Dengan beroperasinya pabrik di Subang, VinFast kini memiliki empat fasilitas manufaktur aktif secara global.

    CEO VinFast Asia, Pham Sanh Chau, menyebut pembangunan pabrik ini sebagai wujud komitmen nyata perusahaan terhadap pengembangan industri hijau.

    “Tujuh belas bulan lalu kami memulai pembangunan pabrik ini dengan satu misi yang jelas, membangun ekosistem hijau yang komprehensif,” ujar Pham dalam keterangan tertulis, Rabu (7/1/2026).

    Foto: Foto: Dian Firmansyah

    Dia menegaskan kehadiran pabrik Subang mencerminkan semangat VinFast dalam mewujudkan janji dengan eksekusi cepat dan terukur sebagai perusahaan otomotif global.

    “Kami tidak hanya berbicara, tetapi juga mewujudkannya. Ini adalah bukti kecepatan dan kemampuan eksekusi VinFast,” ujarnya.

    Sementara itu, CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto menyebutkan bahwa pabrik VinFast yang berada di Subang ini telah menyerap hingga 900 tenaga kerja.

    “Subang memang menjadi tugas kami untuk prioritas tenaga kerja. Tenaga kerja terdidik dan terlatih tentunya harus memenuhi standar VinFast,” tuturnya.

    Dia menyebutkan jika seluruh fase pembangunan pabrik VinFast dk Subang telah terselesaikan keseluruhannya, maka bisa menyerap hingga 15 ribu tenaga kerja.

    “Kedepannya tak hanya kendaraan roda empat yang akan dirakit di pabrik ini, tapi juga akan merakit kendaraan roda dua, dengan total ditargetkan 300 ribu kendaraan tiap tahunnya,” ujarnya.

    Peresmian pabrik ini turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto. Menurut Airlangga, investasi VinFast selaras dengan agenda pemerintah dalam mempercepat transisi energi dan membangun industri kendaraan listrik nasional.

    Dia berharap VinFast dapat terus meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dengan menggandeng pelaku industri lokal, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

    “Sesuai namanya, VinFast, pembangunan pabrik ini memang sangat cepat. Tidak semua manufaktur mampu melakukannya,” tutup Airlangga.

    Sebagai informasi tambahan, Pabrik VinFast Subang dirancang untuk memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai dengan teknologi efisiensi tinggi dan standar ramah lingkungan. Selain menyasar pasar domestik, fasilitas ini juga diproyeksikan menjadi hub ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan kawasan sekitarnya.

    (akd/ega)

  • Digugat ke MK, Pengendara yang Merokok Diminta Dicabut SIM-nya

    Digugat ke MK, Pengendara yang Merokok Diminta Dicabut SIM-nya

    Jakarta

    Salah satu warga mengajukan permohonan uji materiil Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ke Mahkamah Konstitusi. Salah satu yang diajukan ke MK adalah sanksi berat buat pengendara yang merokok di jalan raya.

    Permohonan itu diajukan oleh Syah Wardi, M.H, dengan nomor perkara 13/PUU-XXIV/2026. Syah Warni mengajukan Permohonan Uji Materiil Pasal 106 ayat (1) dan Pasal 283 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan terkait Kepastian Hukum dan Perlindungan Keselamatan Pengguna Jalan.

    “Bahwa ketentuan a quo mengatur kewajiban pengemudi untuk mengemudikan kendaraan dengan wajar dan penuh konsentrasi serta sanksi pidana bagi pengemudi yang tidak memenuhi kewajiban tersebut. Namun dalam praktik, norma tersebut tidak memberikan kejelasan dan kepastian hukum, khususnya terkait perbuatan yang secara nyata mengganggu konsentrasi dan membahayakan keselamatan pengguna jalan, termasuk aktivitas merokok saat mengemudikan kendaraan bermotor,” demikian dikutip dari permohonan tersebut.

    Adapun pasal yang diharapkan untuk diuji adalah pasal 106 ayat (1) UU 22/2009 yang berbunyi, “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan Kendaraan Bermotor tersebut dengan wajar dan penuh konsentrasi.” khususnya terhadap frasa “penuh konsentrasi”.

    Kemudian pasal 283 yang berbunyi, “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 750.000.”

    Menurutnya, dua pasal tersebut bersifat kabur, lemah dan multitasfir. Padahal, pasal tersebut secara langsung berkaitan dengan perlindungan keselamatan jiwa manusia.

    “Bahwa lalu lintas jalan raya merupakan ruang publik yang mengandung risiko tinggi terhadap keselamatan, sehingga pengaturannya tidak boleh bersifat kabur, lemah, atau multitafsir. Setiap kekaburan norma dalam bidang lalu lintas berpotensi menimbulkan akibat yang fatal dan irreversibel, berupa hilangnya nyawa manusia atau cacat permanen,” katanya.

    Pasal 283 UU LLAJ yang mengatur sanksi juga dinilai sanksi yang ringan dan tidak proporsional dibandingkan dengan tingkat bahaya yang ditimbulkan. Menurutnya, sanksi yang diatur dalam pasal itu tidak menimbulkan efek jera, tidak mencerminkan nilai perlindungan terhadap hak hidup, dan tidak sejalan dengan tujuan hukum lalu lintas, yaitu menciptakan keamanan dan keselamatan berlalu lintas.

    Untuk itu, Syah Wardi meminta MK untuk mengabulkan permohonannya dalam pengujian materiil UU LLAJ. Syah Wardi juga memohon kepada MK agar pengendara yang merokok mendapat sanksi tambahan, termasuk pencabutan SIM.

    “Terhadap pelanggar yang merokok saat berkendara wajib dikenakan Sanksi Tambahan berupa kerja sosial pembersihan jalan raya atau pencabutan Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk jangka waktu tertentu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas risiko bahaya yang ditimbulkan bagi publik,” tulisnya.

    “Menegaskan bahwa pemberian Sanksi Tambahan dan penerapan Pemaknaan Maksimal dalam penegakan Pasal 283 tersebut merupakan instrumen perlindungan hukum yang adil bagi warga negara untuk mendapatkan lingkungan jalan raya yang aman, sehat, dan bebas dari ancaman fisik akibat residu pembakaran rokok (abu dan bara),” sambungnya dalam permohonan kepada MK.

    (rgr/dry)

  • Anak Muda, Minim Jam Terbang

    Anak Muda, Minim Jam Terbang

    Jakarta

    Polisi sedang mencari pengemudi yang melakukan aksi drift di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut praktisi keselamatan berkendara, pelaku disinyalir anak-anak muda yang minim jam terbang.

    Praktisi keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, memberikan peringatan keras. Menurutnya, drifting adalah olahraga ekstrem yang sangat berbahaya dilakukan di ruang publik tanpa pengamanan.

    “Drifting ini olahraga yang sifatnya ekstrem. Dia itu mengontrol slide, baik roda depan maupun roda belakang, dan itu hanya bisa dilakukan ketika ada tikungan, supaya ada satu gambaran mobil ini ngedrift atau ngepot,” kata Sony kepada detikcom, Rabu (7/1/2026).

    “Risiko over atau understeer akibat gaya dari yang mereka lakukan itu bisa menimbulkan kecelakaan yang bisa fatal, bisa tinggi, karena namanya jalan raya tidak ada barrier, kecuali memang mungkin trotoar atau pohon atau orang-orang di sekitarnya. Ini bisa menimbulkan bahaya yang cederanya fatal, beda di trek itu ada pengaman khusus, sehingga ketika di sudut membahayakan biasanya mereka taruh material yang bisa melindungi penonton maupun pengemudinya,” jelas dia.

    Lantas, kenapa anak muda masih hobi ngepot di jalan raya? Sony melihat adanya faktor eksistensi dan keterbatasan trek di Indonesia. Pondok Indah, misalnya, dianggap menawarkan adrenalin berbeda dengan lampu jalanan dan penonton di pinggir jalan.

    “Kenapa sering dilakukan di jalan raya? Pertama experience-nya. Kita tahu bahwa yang namanya track drifting yang ada di Indonesia itu-itu saja kan, angka 0, angka 8, S, L dan sebagainya, tetapi tidak ada satu perubahan karena keterbatasan trek, kalau di jalan raya, khususnya di Pondok Indah, ini kan ada sorot lampu, ada penonton, kemudian ada trek yang berbeda-beda. Ini dilakukan oleh anak-anak muda yang secara jam terbang masih kurang. Kalau yang senior-senior menurut gue mereka sudah tidak lagi melakukannya di tempat umum,” ungkap Sony.

    Alasan “malam hari sudah sepi” sering jadi tameng para drifter liar. Namun bagi Sony, jalan raya tetaplah tempat umum yang dinamis dan tidak bisa diprediksi.

    “Jadi dari sisi safety driving, sebaiknya (drift) tidak dilakukan di tempat umum di jalan raya, karena ada beberapa poin juga yang harus diperhatikan, yaitu pengguna jalan lain, kita nggak tahu kapan motor nongol, kapan ada truk, kapan ada penyeberang jalan dan sebagainya, karena namanya jalan raya merupakan tempat umum yang digunakan bersama tidak digunakan pribadi, sekalipun digunakan malam hari pada saat sepi, tetapi bahaya yang timbul dari mereka ini bisa terjadi kapan saja,” kata dia.

    Sony menyarankan bagi para drifter muda yang ingin berkembang untuk segera pindah ke trek resmi. Ia menekankan pentingnya pendalaman ilmu di bawah pengawasan instruktur, bukan sekadar modal nekat di aspal umum.

    “Ini yang harus diperhatikan buat drifter-drifter khususnya anak-anak muda yang masih berkembang, yang memang masih butuh pengalaman, jam terbang yang tinggi untuk melakukan pendalaman ilmu sebaiknya dilakukan di tempat semestinya di trek, dan dengan pendampingan instruktur misalnya,” ungkap Sony.

    Berdasarkan video viral yang dilihat detikcom, Rabu (7/1/2026), mobil sedan berkelir silver tersebut mulanya berhenti di lampu merah dekat PIM 3. Tak lama kemudian, mobil tersebut melaju dan melakukan drifting.

    Mobil tersebut melakukan drifting sebanyak dua putaran di tengah-tengah simpang jalan. Setelah dua kali memutar dengan manuver drifting, mobil tersebut pun langsung melaju meninggalkan lokasi. Disebutkan, aksi itu terjadi pada 3 Januari 2026.

    Kepolisian mengusut perilaku seorang pengemudi yang mengepot (drifting) di Jalan Raya Pondok Indah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang videonya viral di media sosial.

    “Adanya video yang beredar di media sosial, ‘drifting’ di Pondok Indah, kami akan mendalami. Kemudian kami akan menelusuri kegiatan ‘drifting’ tersebut,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Mujiyanto di Jakarta, Rabu.

    Mujiyanto mengatakan, pihaknya tengah menelusuri identitas pengemudi mobil tersebut serta mendalami video yang beredar untuk mengetahui kronologi serta pelanggaran yang terjadi.

    Menurut Mujiyanto, aksi “drifting” di jalan umum sangat membahayakan pengguna jalan lain dan tidak diperbolehkan. Ia menegaskan, kegiatan tersebut hanya boleh dilakukan di tempat khusus yang telah disediakan, seperti fasilitas keamanan pengemudi (safety driving) di Pusdik Lantas Polri, Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

    “Kalau aksi ‘drifting’ itu, kalau namanya aksi yang akan membahayakan orang lain ataupun pengendara lain. Itu sangat disayangkan. Intinya nggak sesuai pada tempatnya,” katanya.

    (riar/rgr)

  • Harga Pre-Book Veloz Hybrid Mulai Rp 299 Juta Masih Berlaku sampai 31 Januari 2026

    Harga Pre-Book Veloz Hybrid Mulai Rp 299 Juta Masih Berlaku sampai 31 Januari 2026

    Jakarta

    Pre-book Toyota Veloz Hybrid mulai Rp 299 juta diperpanjang hingga 31 Januari 2026. Sebelumnya harga pre-book itu hanya berlaku sampai 31 Desember 2025.

    Toyota memperpanjang masa pre-book Veloz Hybrid dengan harga mulai Rp 299 jutaan. Artinya, buat kamu yang baru mau memesan Veloz Hybrid pada bulan Januari ini, masih berkesempatan mendapat harga pre-book.

    Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor Jap Ernando Demily mengungkap, pihaknya memperpanjang masa pre-book Veloz Hybrid dengan harga mulai Rp 299 juta itu hingga 31 Januari 2026.

    “Sebagai bentuk komitmen Toyota dalam menghadirkan value terbaik bagi pelanggan yang telah menantikan New Veloz Hybrid EV, Toyota memperpanjang harga spesial pre-booking mulai dari Rp 299 juta yang berlaku sampai 31 Januari 2026,” terang Ernando saat dikonfirmasi detikOto, Rabu (7/1/2026).

    Ernando menyebut, perpanjangan masa pre-book Toyota Veloz Hybrid itu dilakukan untuk memberikan kemudahan bagi konsumen yang ingin beli mobil ramah lingkungan Toyota.

    “Bagi Toyota, kepuasan pelanggan selalu menjadi prioritas utama, sejalan dengan komitmen kami untuk terus menghadirkan solusi mobilitas yang relevan, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia,” lanjut Ernando.

    Harga pre-book Toyota Veloz Hybrid

    Untuk diketahui, Veloz Hybrid bakal hadir dengan empat varian yakni V HEV, Q HEV, Q HEV with Modellista, dan Q HEV TSS with Modellista. Berikut estimasi harga dari keempat varian tersebut.

    Veloz V HEV: Rp 299 jutaVeloz Q HEV: Rp 320-335 jutaVeloz Q HEV with Modellista: Rp 335-350 jutaVeloz Q HEV TSS with Modellista: Rp 360-390 juta

    Dengan harga segitu Veloz Hybrid menjadi mobil hybrid termurah di keluarga Toyota. Sebelum ada Veloz, model hybrid termurah Toyota adalah Yaris Cross Hybrid. Meluncurnya Veloz Hybrid di Indonesia menjadi jawaban dari Toyota untuk masyarakat yang menginginkan mobil hybrid yang lebih terjangkau.

    Sebelum ada Veloz Hybrid, mobil hybrid paling terjangkau Toyota adalah Yaris Cross Hybrid yang termurah dijual Rpp 437,2 juta. Itu adalah model Yaris Cross 1.5 S HV CVT TSS. Tapi, kini lini produk hybrid Toyota semakin lengkap dengan kehadiran Veloz Hybrid yang harganya di bawah Yaris Cross Hybrid. Namun, Veloz Hybrid mendapat penyesuaian spek untuk mendukung kinerja sebuah mobil MPV hybrid.

    (dry/rgr)

  • Merek Motor Asal China Ini Punya Ambisi Turun di Kelas MotoGP

    Merek Motor Asal China Ini Punya Ambisi Turun di Kelas MotoGP

    Jakarta

    Pabrikan sepeda motor asal China, CFMoto, rupanya menyimpan ambisi besar untuk naik kelas ke ajang balap motor paling prestisius di dunia, MotoGP. Keinginan tersebut dikonfirmasi langsung oleh pemilik tim Aspar, Jorge Martinez Aspar, yang saat ini bekerja sama erat dengan CFMoto di Moto2 dan Moto3.

    Tim Aspar memang berlaga di bawah bendera CFMoto di dua kelas tersebut memberikan eksposur global yang besar bagi pabrikan asal negeri tirai bambu itu. Hasilnya pun tidak main-main. Dengan menggunakan motor berlogo KTM di Moto3, tim CFMoto Aspar sukses menjuarai kejuaraan dunia kelas Moto3 2024 bersama David Alonso, dan kembali dijagokan juara lagi pada 2026 bersama Maximo Quiles.

    CFMoto sendiri sudah lama dikaitkan dengan potensi naik ke kelas utama MotoGP, baik sebagai tim maupun pabrikan. Bahkan mereka juga disebut mengincar keikutsertaan pada ajang World Superbike dengan motor racikan sendiri dalam beberapa tahun ke depan. Namun, Aspar menilai masuk MotoGP dalam waktu dekat bukan perkara mudah, terlebih dengan perubahan regulasi besar pada 2027.

    “Idenya adalah untuk masuk ke MotoGP,” kata Jorge Martinez ‘Aspar’ kepada Motosan, dikutip Rabu (7/1/2026).

    “Tahun 2027 sudah terlalu dekat. Satu-satunya cara adalah masuk melalui produsen yang sudah ada, tetapi kita harus melakukannya langkah demi langkah dan perlahan,” sambung dia. “Membangun infrastruktur dalam waktu sesingkat itu adalah tindakan gila. Itu bisa terjadi di masa depan, tetapi tanpa terburu-buru,” terangnya lagi.

    Saat ini, MotoGP memang membatasi jumlah motor di grid maksimal 22 unit. Artinya, pabrikan baru wajib bermitra atau mengambil alih slot dari tim yang sudah ada. Akhir tahun lalu, media GPOne melaporkan kemungkinan CFMoto mengambil alih proyek MotoGP milik KTM, yang kala itu dikabarkan tengah mencari investor.

    Secara teori, CFMoto bisa saja masuk MotoGP lewat tim Aspar. Apalagi, Aspar bukan nama baru di kelas premier. Mereka pernah menjalankan proyek MotoGP pada 2009-2010 dengan motor Ducati, lalu menggunakan Aprilia CRT pada 2012-2013, hingga menurunkan Honda RCV1000RR dan RC213V-RS pada era berikutnya.

    Meski ambisinya besar, langkah CFMoto menuju MotoGP tampaknya akan ditempuh secara hati-hati dan bertahap.

    (lua/rgr)