Category: Detik.com Otomotif

  • Di Indonesia Harga Mobil Terkesan Mahal, Padahal Pajaknya Aja 40%!

    Di Indonesia Harga Mobil Terkesan Mahal, Padahal Pajaknya Aja 40%!

    Jakarta

    Harga mobil di Indonesia sering disebut kemahalan. Padahal, tingginya pajak membuat harga mobil mobil jadi terkesan mahal.

    Penjualan mobil di Indonesia belum pulih. Hingga bulan kesebelas, penjualan mobil tahun 2025 baru menyentuh angka 710 ribu unit. Padahal sebelumnya, ditargetkan ada 900 ribuan unit mobil yang bisa terjual tahun ini. Target penjualan pun direvisi menjadi 780 ribu unit. Sejatinya, penjualan mobil di Indonesia tahun 2025 sempat diprediksi bisa menyentuh angka 2 juta unit.

    “Kalau dibandingkan dengan Malaysia yang penduduknya sepertujuh dari Indonesia tapi income perkapita 3 kali lipat dari kita, mestinya market kita ini 2 kali Malaysia. Kalau Malaysia 750 (ribu) atau 780 (ribu), di Indonesia mestinya sudah 1,5 juta. Jadi ada distorsi nih, ya 50 persen,” ujar Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam dikutip CNBC Indonesia.

    Bob menambahkan, angka penjualan mobil yang masih merosot diduga kuat lantaran daya beli yang melemah. Tak cuma itu, pajak yang dibebankan terhadap pembelian mobil baru juga sangat besar. Ini dinilai makin memberatkan masyarakat dalam membeli mobil baru.

    “Jadi di industri otomotif Indonesia nih kesannya kan harga kendaraan mahal banget gitu lho, padahal di dalamnya, pajaknya tuh 40 persen. Nah bandingkan dengan negara lain yang pajaknya tidak setinggi kita ya. Kalau di Thailand itu di bawah 30 persen, begitu juga di Malaysia,” terang Bob lagi.

    Indonesia memiliki beragam instrumen pajak. Setiap mobil yang keluar dari pabrik, pastinya akan dikenakan pajak. Jenis pajaknya cukup beragam mulai dari PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah), PPN (Pajak Pertambahan Nilai), pajak daerah seperti BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor), dan juga PKB (Pajak Kendaraan Bermotor). Rentetan pajak itu tentu mempengaruhi harga mobil. Bahkan bisa nyaris separuh dari harga jual mobil. Faktor inilah yang dipandang bikin masyarakat makin enggan beli mobil baru.

    Di samping itu kata Bob, pemerintah negeri tetangga juga masih rajin memberikan stimulus sehingga meringankan pembelian mobil baru. Untuk itu, diharapkan pemerintah Indonesia juga bisa memberikan stimulus berupa insentif guna mengerek penjualan mobil dalam negeri.

    “Jadi even pajaknya ada, tapi stimulusnya rajin, kalau di kita nih ya kurang sering. Ini kita harapkan ke depan jadi pertimbangan pemerintah,” pungkas Bob.

    (dry/mhg)

  • Makin Canggih! Ada Airbag Berbentuk Helm

    Makin Canggih! Ada Airbag Berbentuk Helm

    Jakarta

    Industri otomotif China kembali menghadirkan gebrakan. Kali ini bukan lewat layar head unit raksasa atau fitur mengemudi otonom, melainkan dari sisi keselamatan penumpang.

    Dilansir dari Car News China, sebuah teknologi airbag baru yang dirancang untuk melindungi kepala, dengan bentuk menyerupai helm, siap diterapkan pada mobil produksi massal.

    Teknologi ini disebut akan debut di segmen MPV listrik premium garapan Chery dan kolaborasi juga dengan Huawei, Luxeed V9.

    Berbeda dari airbag konvensional yang mengembang dari dashboard atau sisi pintu, helmet airbag dirancang mengembang mengelilingi kepala penumpang saat terjadi benturan.

    Ketika sistem mendeteksi potensi tabrakan, jok akan bergerak otomatis ke posisi yang lebih aman dalam hitungan milidetik. Setelah itu, airbag mengembang dari sandaran kepala dan membungkus area kepala hingga leher, menyerupai fungsi helm. Tujuannya untuk menstabilkan posisi kepala sekaligus meredam energi benturan, sehingga risiko cedera serius bisa ditekan.

    Meski terdengar baru, teknologi ini sejatinya telah dikembangkan lebih dulu oleh Yanfeng Automotive Interiors.

    Pemasok global sistem interior dan keselamatan kendaraan ini sudah memperkenalkan konsep helmet airbag sejak 2023.

    Yanfeng melihat perubahan besar pada desain kabin mobil modern, terutama pada kendaraan listrik dan mobil otonom.

    Posisi duduk penumpang kini semakin variatif dan tidak selalu tegak menghadap ke depan, sehingga menuntut sistem keselamatan yang lebih adaptif dibandingkan airbag tradisional.

    Dalam konsep keselamatan kabin masa depan yang dikembangkan Yanfeng, perlindungan penumpang tidak lagi berdiri sendiri.

    Posisi jok, sabuk pengaman, hingga airbag dirancang saling terintegrasi agar tetap efektif meski penumpang duduk dalam posisi lebih rileks atau miring. Helmet airbag menjadi salah satu solusi untuk menekan risiko cedera kepala dan leher, yang selama ini menjadi titik paling rentan saat kecelakaan.

    Luxeed V9 disebutkan akan menggunakan airbag berbentuk helm Foto: dok. Car News China

    Tentang Luxeed V9

    Dari informasi yang beredar di platform mikroblog Weibo, Luxeed V9 disebut-sebut akan menjadi mobil pertama di dunia yang benar-benar mengaplikasikan teknologi ini ke model produksi.

    Luxeed V9 sendiri diposisikan sebagai MPV listrik premium. Mobil ini dibangun di atas platform modular terbaru Chery dengan dimensi besar, panjangnya dikabarkan mencapai lebih dari 5,3 meter.

    Dari sisi teknologi, Luxeed V9 akan mengusung sistem kelistrikan 800 volt untuk mendukung pengisian daya cepat, serta Advanced Driving System dari Huawei yang mengandalkan sensor LIDAR.

    Rencananya, Luxeed V9 akan meluncur resmi di China pada 2026. Meski belum ada kepastian soal pemasaran global, kehadiran airbag berbentuk helm ini menunjukkan arah baru industri otomotif China.

    Mereka kini tak hanya fokus pada elektrifikasi dan kecanggihan digital, tetapi juga peningkatan standar keselamatan penumpang.

    (mhg/dry)

  • Beda Pajak BYD Atto 1 vs Agya Cs, Jauh Juga!

    Beda Pajak BYD Atto 1 vs Agya Cs, Jauh Juga!

    Jakarta

    Meski sama-sama dijual di bawah Rp 200 juta, pajak tahunan Agya cs dengan BYD Atto 1 ternyata bedanya jauh juga. Berikut ini perbandingan pajak BYD Atto 1 vs Agya-Ayla cs.

    Pilihan mobil di bawah Rp 200 juta tak hanya terbatas dengan mesin konvensional. Kini juga ada mobil listrik dengan harga di bawah Rp 200 juta yang disajikan oleh BYD. Adalah Atto 1 yang memiliki varian dengan banderol Rp 199 juta. Dengan harga segitu, praktis Atto 1 menantang deretan mobil konvensional di segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang dihuni oleh Toyota Agya, Daihatsu Ayla, hingga Honda Brio Satya. Mengingat modelnya sama-sama hatchback berkapasitas lima penumpang.

    Pajak BYD Atto 1

    Meski harganya mepet-mepet, nyatanya kalau bicara pajak tahunan, perbedaannya cukup signifikan. BYD Atto 1 tak dikenai pajak sama sekali. Adapun yang dibayarkan per tahun hanya berupa Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas (SWDKLLJ). Bukan tanpa alasan, mobil listrik memang mendapat keringanan pajak. Apa pun jenisnya, berapa pun harganya, pajak mobil listrik bakal tetap murah meriah. Buat yang belum tahu, PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) kendaraan listrik ditetapkan 0 persen dari dasar pengenaan PKB (DP PKB). Hal itu tertuang pada Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 8 tahun 2024 tentang Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan Pajak Alat Berat tahun 2024 pasal 10.

    “Pengenaan PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) KBL (kendaraan bermotor listrik) Berbasis Baterai untuk orang, barang, angkutan umum orang, dan angkutan umum barang ditetapkan sebesar 0 persen dari dasar pengenaan PKB dan BBNKB,” demikian penjelasannya.

    Sebagai perbandingan, mengacu pada Peraturan Meteri Dalam Negeri nomor 7 tahun 2025 tentang Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan Pajak Alat Berat tahun 2025, pajak Ayla termurah misalnya Rp 1,991 juta. Berikut hitung-hitungan pajaknya.

    Pajak Daihatsu AylaDaihatsu Ayla Foto: Dok. Astra Daihatsu Motor (ADM)

    Pajak Daihatsu Ayla 1.0 M M/T

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 92,4 juta x 2%
    = Rp 1,848 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 1,848 juta + 143 ribu
    = Rp 1,991 juta

    Pajak Daihatsu Ayla 1.0 X M/T

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 112,35 juta x 2%
    = Rp 2,247 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 2,247 juta + 143 ribu
    = Rp 2,390 juta

    Pajak Daihatsu Ayla 1.0 X CVT

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 120,75 juta x 2%
    = Rp 2,415 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 2,415 juta + 143 ribu
    = Rp 2,558 juta

    Pajak Tahunan Daihatsu Ayla 1.2 R M/T

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 121,8 juta x 2%
    = Rp 2,436 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 2,436 juta + 143 ribu
    = Rp 2,579 juta

    Pajak Tahunan Daihatsu Ayla 1.2 R CVT

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 129,15 juta x 2%
    = Rp 2,583 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 2,726 juta + 143 ribu
    = Rp 2,869 jutaPajak Honda Brio SatyaHonda Brio Satya Foto: (Luthfi Anshori/detikOto)

    Pajak Tahunan Honda Brio Satya S M/T

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 131,25 juta x 2%
    = Rp 2,625 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 2,625 juta + 143 ribu
    = Rp 2,768 juta

    Pajak Tahunan Honda Brio Satya E M/T

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 142,8 juta x 2%
    = Rp 2,856 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 2,856 juta + 143 ribu
    = Rp 2,999 juta

    Pajak Tahunan Honda Brio Satya E CVT

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 155,4 juta x 2%
    = Rp 3,108 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 3,108 juta + 143 ribu
    = Rp 3,251 jutaPajak Toyota AgyaToyota Agya. Foto: Rifkianto Nugroho

    Pajak Toyota Agya 1.2 E M/T

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 139,65 juta x 2%
    = Rp 2,793 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 2,793 juta + 143 ribu
    = Rp 2,936 juta

    Pajak Tahunan Toyota Agya 1.2 G M/T

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 143,85 juta x 2%
    = Rp 2,877 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 2,877 juta + 143 ribu
    = Rp 3,020 juta

    Pajak Tahunan Toyota Agya 1.2 G CVT

    PKB Pokok : DP PKB x tarif PKB
    = Rp 158,55 juta x 2%
    = Rp 3,171 jutaPajak tahunan: PKB Pokok + SWDKLLJ
    = Rp 3,108 juta + 143 ribu
    = Rp 3,314 juta

    Nah itu tadi pajak tahunan LCGC lima penumpang. Perbedaannya dengan pajak BYD Atto 1 bahkan mulai Rp 1,8 jutaan. Sebagai catatan, pajak tahunan di atas dihitung menggunakan tarif PKB yang berlaku di Jakarta yakni sebesar 2 persen. Besar pajak bisa jadi berbeda di wilayah lain. Namun khusus mobil listrik, di manapun wilayahnya, setiap bayar pajak tahunan hanya bayar SWDKLLJ Rp 143 ribu.

    (dry/mhg)

  • Pilihan Mobil Bekas yang Harganya Rp 40 Jutaan

    Pilihan Mobil Bekas yang Harganya Rp 40 Jutaan

    Jakarta

    Mau punya kendaraan roda empat namun dana mentok di Rp 30-40 jutaan? Jangan khawatir. Sebab, saat ini, sudah banyak mobil bekas yang dijual di rentang harga tersebut. Apa saja?

    Kalian tentu tak bisa berharap mobil bekas umur muda di kisaran harga Rp 30-40 jutaan. Kendaraan terkait yang ditawarkan di angka tersebut umumnya model lawas keluaran 2000-an awal.

    Meski demikian, mobil tetaplah mobil. Selagi kalian jeli dan paham menilai kondisi kendaraan, harga tersebut tentu sangat menarik. Khususnya untuk kalian yang belum pernah membeli atau memiliki unitnya.

    Lantas, apa mobil bekas apa saja yang harganya setara motor baru? Kami telah merangkumnya dari berbagai sumber, baik itu marketplace maupun lapak jual-beli kendaraan seken.

    Daftar Mobil Bekas Murah

    Pertama, ada Toyota Vios generasi pertama atau keluaran 2003-2004. Mobil sedan itu hanya ditawarkan mulai dari Rp 35-40 jutaan. Namun, angka tersebut hanya berlaku untuk varian manual. Sementara untuk matic bisa tembus Rp 50 jutaan.

    Kedua ada Suzuki Baleno generasi pertama yang tampangnya masih berbentuk sedan, bukan hatchback. Kalau beruntung, kendaraan tersebut bisa ditebus berkisar Rp 35-40 jutaan dalam kondisi siap jalan.

    Kemudian ada Chevrolet Aveo keluaran 2004 ke bawah yang saat ini harganya sudah Rp 40 jutaan. Namun, berbeda dengan Baleno dan Vios, suku cadang kendaraan itu mungkin lebih sulit dicari.

    Kalau ketiga nama itu dianggap terlalu tua, kalian bisa mempertimbangkan Hyundai Avega keluaran 2007 atau 2008 yang dibandero sekira Rp 40 jutaan. Meski demikian, untuk yang kondisinya masih benar-benar mulus, banyak yang menjualnya sedikit lebih tinggi.

    Di luar model-model barusan, sebenarnya masih banyak mobil bekas yang harganya setara motor baru, terutama keluaran 1990-an. Misalnya seperti Suzuki Futura, Toyota Starlet, Toyota Corona, Toyota Kijang kotak dan masih banyak lagi. Bahkan, mobil BMW dan Mercedes-Benz keluaran 80-90an banyak yang banderolnya sekitar itu.

    (sfn/dry)

  • Malaysia Kalahkan Penjualan Mobil di Indonesia, Dampaknya Ngeri Kalau Keterusan

    Malaysia Kalahkan Penjualan Mobil di Indonesia, Dampaknya Ngeri Kalau Keterusan

    Jakarta

    Penjualan mobil di Indonesia kalah dari Malaysia. Kalau tak buru-buru diberikan stimulus untuk mendongkrak penjualan, dampaknya cukup mengerikan.

    Penjualan mobil di Malaysia pada November 2025 tembus 77 ribuan unit. Nominal tersebut lebih tinggi dari penjualan wholesales di Indonesia yang hanya 74 ribuan unit pada periode serupa. Dengan demikian, penjualan mobil di Malaysia selama Januari-November 2025 telah mencapai 720 ribuan unit. Sementara pada periode yang sama, Indonesia baru tembus 710 ribuan unit.

    Malaysia diketahui mematok target 800 ribu unit mobil terjual pada tahun 2025. Sedangkan Indonesia, melihat merosotnya permintaan, Gaikindo merevisi target dari semula 900 ribu unit menjadi 780 ribu unit. Artinya target Malaysia masih lebih besar dari Indonesia. Kalaupun ini terjadi, itu artinya Malaysia akan menjadi raja mobil di ASEAN. Situasi ini justru bisa membahayakan industri otomotif Indonesia.

    Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengungkap, bila situasinya berlanjut terus, maka bukan tidak mungkin juga investor beramai-ramai kabur dan pindah ke negeri jiran.

    “Ini yang saya khawatirkan, tahun 2025 ini penjualan domestik otomotif di Indonesia ini mungkin sudah sama dengan Malaysia. Kalau situasi ini berlanjut terus, nanti investasinya akan masuk ke Malaysia, bukan ke Indonesia. Ya, itu yang harus kita perhatikan bersama,” terang Bob dikutip CNBC Indonesia.

    Menurutnya, dibutuhkan stimulus untuk membuat pasar kembali bergairah. Dia mencontohkan pemberian insentif PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) yang diberikan pemerintah pada era Covid-19. Penjualan mobil pun berhasil terdongkrak menjadi 1 juta unit lagi. Pun stimulus tersebut justru memberikan keuntungan bagi pemerintah, produsen, hingga konsumen.

    Sejauh ini, pemerintah belum mengumumkan jenis stimulus untuk mendongkrak penjualan mobil di dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru mengumumkan akan menyetop insentif di sektor otomotif nasional. Kendati demikian, belum jelas jenis insentif yang bakal disetop pemerintah. Kalau bicara sektor otomotif keseluruhan, pemerintah diketahui memberikan insentif untuk mobil listrik berupa PPN, PPnBM, hingga pembebasan bea masuk. Mobil hybrid juga mendapat insentif PPnBM 3 persen. Mobil LCGC juga demikian, hanya dikenai PPnBM 3 persen.

    Namun pernyataan Airlangga justru bertolak belakang dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Sebelumnya Agus mengatakan industri otomotif adalah industri yang sangat penting dan menjadi salah satu andalan Indonesia. Maka itu pemerintah akan memberikan insentif lagi tahun depan.

    “Ya, sekarang sedang kita susun, dan insentif otomotif itu menurut saya sebuah keharusan ya, karena sektor yang terlalu penting, sangat-sangat penting. SBIN (Strategi Baru Industrialisasi Nasional) strateginya kita melihat backward dan forward linkage dari setiap kegiatan manufaktur,” jelas Agus.

    (dry/din)

  • Jajal Jaecoo J5 EV: Rasanya ‘Semurah’ Harganya?

    Jajal Jaecoo J5 EV: Rasanya ‘Semurah’ Harganya?

    Jakarta

    Di atas kertas, Jaecoo J5 EV terlihat seperti paket yang ‘terlalu bagus’ untuk sebuah mobil listrik di bawah Rp 300 juta. Baterai besar, jarak tempuh panjang, fitur melimpah, dan tenaga lebih dari cukup.

    Tapi tentu mobil tidak hanya dinilai dari brosur. Pertanyaannya tetap sama: bagaimana rasanya saat dipakai sehari-hari? Tim detikOto sudah melakukan review Jaecoo J5 EV dan menemukan kelebihan serta kekurangannya. Simak ulasan berikut ini!

    Jaecoo J5 EV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

    Harga Jaecoo J5 EV

    Sebelum membahas rasa berkendara dan impresi, satu hal yang paling menarik perhatian dari Jaecoo J5 EV jelas soal harga. Mobil listrik ini dipasarkan dengan banderol Rp 249,9 juta untuk varian Standard dan Rp 299,9 juta untuk varian Premium.

    Sebagai pembanding, BYD Atto 1 yang dikenal sebagai salah satu mobil listrik “murah” favorit dipasarkan di kisaran Rp 195 juta hingga Rp 235 jutaan. Namun, Atto 1 hadir dengan dimensi yang lebih kecil, spesifikasi yang jauh lebih sederhana, serta fitur yang tidak sepenuhnya seimbang dengan apa yang ditawarkan Jaecoo J5 EV.

    Sementara itu, Geely EX2 juga bermain di area harga yang kompetitif. Meski demikian, varian dengan kelengkapan fitur yang lebih lengkap masih berada di kisaran mendekati atau di atas Rp 300 juta, itupun dengan catatan harga promo di periode akhir Desember 2025.

    Dengan posisi ini, Jaecoo J5 EV datang bukan sekadar sebagai alternatif murah, melainkan sebagai penantang serius yang menawarkan value lebih besar di kelasnya.

    Jaecoo J5 EV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

    Desain Ala SUV Eropa, Akomodasinya Juara!

    Dari sisi tampilan, Jaecoo J5 EV mudah menarik perhatian. Siluetnya mengingatkan pada SUV Eropa modern dengan garis bodi tegas dan proporsi yang rapi. Ukurannya terasa pas untuk penggunaan harian di kota, tanpa kehilangan kesan kokoh.

    Secara dimensi, mobil ini memiliki panjang 4.380 mm, lebar 1.860 mm, dan tinggi 1.650 mm. Yang menarik, penggunaan format SUV di kondisi jalan Indonesia yang tidak selalu mulus memberi rasa tenang tersendiri.

    Jaecoo J5 EV memiliki ground clearance 200 mm, approach angle 20 derajat, dan departure angle 29,8 derajat. Sesekali diajak road trip ke area rural bersama keluarga jelas bukan persoalan besar. Bertemu genangan air pun relatif aman, mengingat mobil listrik ini sudah memiliki sertifikasi ketahanan terhadap air.

    Meski begitu, desainnya terasa terlalu ingin mengejar citra sebagai “baby Land Rover”. Di sinilah muncul catatan etis. Saat banyak pabrikan China berusaha membangun identitas desain yang khas, Jaecoo justru terkesan meniru bahasa desain Land Rover secara terlalu gamblang.

    Alasan keterkaitan Chery Group dengan Jaguar Land Rover mungkin bisa dijadikan pembenaran. Namun praktik seperti ini berisiko mereduksi nilai seni dan memperkuat stigma negatif bahwa brand China hanya sekadar mencontek.

    [Halaman Berikutnya: Bagaimana Rasa Kabin dan Fitur Jaecoo J5 EV?]

    Kabin Lega dan Akomodatif

    Anyway! Masuk ke kabin, kesan mobil listrik harga murahan juga tak terasa. Tata letak dashboard modern, layar besar orientasi potret, serta ruang kaki dan kepala yang lega membuat kabin terasa satu kelas di atas banderolnya.

    Belum lagi, penggunaan materialnya terasa berkualitas dan dibangun dengan sempurna. Kehadiran panoramic roof yang besar juga membuat mobil ini tampil berkelas. Meski beberapa desain user interface di head unit-nya seperti tak punya key visual, tapi bagi mayoritas orang tentu tak jadi masalah.

    Hal lain yang juga menjadi nilai jual Jaecoo J5 EV adalah akomodasi. Mobil ini menawarkan bagasi fleksibel, lantainya bahkan di bawah lantai bagasinya masih ada kompartemen tambahan mirip ruang ban serep yang bisa kita manfaatkan.

    Tak sampai di situ, di area bonet-nya tepatnya di balik kap depan juga ada ruang lagi. Cocok buat bawa durian atau benda beraroma tajam, agar tak mencemari kabin.

    Bagasi depan Jaecoo J5 EV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

    Fitur yang Terasa Serius untuk Mobil di Bawah Rp 300 Juta

    Jaecoo J5 EV tidak datang dengan mental “sekadarnya”. Head unit besar sudah mendukung Android Auto sampai Apple Carplay, sementara fitur kenyamanan seperti wireless charging berpendingin, jok depan dengan ventilasi, dan panoramic roof turut dihadirkan.

    Menariknya, beberapa fungsi penting masih dipertahankan dalam bentuk tombol fisik, sehingga pengoperasian terasa lebih intuitif. Secara keseluruhan, fitur-fitur yang ditawarkan terasa lebih dewasa dan lengkap dibanding sebagian rival di kelas harga yang sama.

    Sistem ADAS juga tergolong lengkap. Adaptive cruise control bisa diandalkan saat melaju di jalan bebas hambatan. Ditambah kamera 360 derajat, fitur pencegah tabrak depan dan belakang, mobil ini terasa cukup siap menemani perjalanan jauh dengan aman.

    Jaecoo J5 EV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

    [Halaman Berikutnya: Performa dan Baterai Jaecoo J5 EV]

    Performa Listrik yang Kuat, Ditopang Baterai Besar dan Jarak Tempuh Nyata

    Soal performa, motor listrik Jaecoo J5 EV diklaim dapat menghasilkan tenaga 207 PS dan torsi 288 Nm, angka yang cukup untuk membuat mobil ini terasa sigap dalam berbagai kondisi. Akselerasinya spontan, khas mobil listrik, dan mudah dikendalikan.

    Di sisi lain, yang lebih krusial untuk mobil listrik tentu baterai. Jaecoo J5 EV menggunakan baterai berkapasitas 60,9 kWh diklaim mampu menempuh jarak hingga 461 km (NEDC). Menariknya, jika banyak pabrikan China kerap overclaim, Jaecoo justru terlihat cukup realistis.

    Dalam pengujian full to full, tim detikOto menempuh jarak 402 km di rute campuran dalam dan luar kota hingga mobil dibawa PP Jakarta-Bandung. Total angka di MID menunjukkan kecepatan rata-rata pengetesan kami adalah 41 km/jam. Baterai digunakan dari 100% hingga tersisa 11%, dan pengisian ulang membutuhkan daya 57,56 kWh

    Artinya, konsumsi listrik rata-rata berada di angka 6,9 km/kWh. Dengan gaya berkendara yang lebih efisien, bukan tidak mungkin J5 EV mendekati jarak tempuh klaim pabrikan

    Dukungan DC fast charging hingga 130 kW juga menjadi nilai penting, membuat mobil ini layak dipakai ke luar kota tanpa rasa khawatir harus menunggu lama di SPKLU.

    Jaecoo J5 EV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

    Impresi Berkendara ke Arah Nyaman, Bukan Fun!

    Saat dikendarai, karakter J5 EV terasa jelas. Mobil ini tidak dirancang untuk mengejar sensasi menyenangkan, melainkan kemudahan dan kenyamanan penggunaan harian.

    Setirnya ringan, suspensinya masih menyisakan kesan empuk, dan respons sasis tidak dibuat agresif. Di jalan tol, mobil terasa stabil, meski setir yang terlalu ringan membuat rasa percaya diri bisa ditingkatkan lagi.

    Untuk penggunaan di perkotaan, J5 EV terasa bersahabat. Radius putar tidak merepotkan, posisi duduk nyaman, visibilitas baik, serta dukungan kamera 360 derajat sangat membantu. Kekedapan kabinnya juga patut diapresiasi.

    Jaecoo J5 EV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

    [Halaman Berikutnya: Kekurangan Jaecoo J5 EV dan Kesimpulan]

    Kekurangan Jaecoo J5 EV yang Perlu Diketahui Sejak Awal

    Di balik value yang kuat, Jaecoo J5 EV tetap menyimpan sejumlah kompromi. Rasa setir dan pengereman belum sepenuhnya natural, masalah klasik yang masih kerap ditemui pada mobil-mobil asal China.

    Catatan paling mengganggu justru datang dari panel instrumen digital. Tampilannya terasa terlalu sederhana dan minim informasi, bahkan cenderung merusak aura mewah kabin. Tampilannya lebih mirip speedometer motor listrik ketimbang ‘Baby Land Rover’.

    Terlebih, informasinya pun sangat terbatas. Saat fog lamp dinyalakan atau dimatikan, tidak ada indikator yang jelas di panel instrumen. Untuk informasi sesederhana itu, pengemudi seolah dipaksa mengecek langsung ke depan mobil.

    Kenyamanan jok belakang juga patut dicatat. Untuk penumpang dengan tinggi badan sekitar 175 cm, panjang ambalan jok terasa kurang menopang paha secara optimal, sehingga berpotensi menimbulkan rasa lelah saat perjalanan jauh.

    Di luar aspek teknis, pekerjaan rumah terbesar Jaecoo tetap pada layanan purna jual. Jaringan servis, ketersediaan suku cadang, serta konsistensi aftersales akan sangat menentukan kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.

    Jaecoo J5 EV Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

    Jadi, Apakah Jaecoo J5 EV Worth It?

    Jawabannya cenderung iya, dengan beberapa catatan penting. Jaecoo J5 EV menawarkan value yang sulit diabaikan di kelas mobil listrik di bawah Rp 300 juta. Baterai besar, jarak tempuh yang mendekati klaim, tenaga responsif, serta fitur yang terasa satu tingkat di atas harga jualnya membuat mobil ini sangat menarik secara rasional.

    Namun J5 EV bukan tanpa kompromi. Rasa berkendara yang biasa saja, suspensi yang belum matang, panel instrumen yang minim informasi, hingga detail ergonomi di jok belakang perlu disadari sejak awal.

    Jika tolok ukurnya adalah berapa banyak yang didapat dari uang yang dikeluarkan, Jaecoo J5 EV layak disebut worth it. Terutama bagi konsumen yang ingin beralih ke mobil listrik tanpa harus membayar mahal, dengan prioritas jarak tempuh, kenyamanan dasar, dan fitur.

    Tinggal satu pembuktian besar yang harus dijawab Jaecoo ke depan: konsistensi. Karena di segmen ini, kepercayaan jangka panjang sama pentingnya dengan harga yang menggoda.

    Halaman 2 dari 4

    (mhg/dry)

  • Jadi Raja Mobil Listrik, Begini Perjalanan 2 Tahun BYD di Indonesia

    Jadi Raja Mobil Listrik, Begini Perjalanan 2 Tahun BYD di Indonesia

    Jakarta

    Kiprah BYD di Indonesia sebenarnya baru dimulai awal 2024. Namun, belum genap dua tahun di Indonesia, BYD sudah menjadi raja mobil listrik di Indonesia.

    Penjualan mobil listrik di Indonesia mengalami tren positif. Pangsa pasar kendaraan ramah lingkungan itu meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2023, pangsa pasar mobil listrik hanya 2-3 persen, kemudian naik ke 5 persen pada 2024 dan mencapai 12 persen menjelang akhir 2025 (data sampai November 2025).

    Artinya,pasar kendaraan listrik kini meluas hingga lebih dari empat kali lebih besar dibandingkan dua tahun lalu.Perkembangan ini menjadi indikasi bahwa adopsi mobil listrik semakin menguat seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

    Operational Director PT BYD Motor Indonesia Nathan Sun melaporkan penjualan BYD di Indonesia laris manis. Hingga November 2025, BYD menguasai lebih dari separuh pasar kendaraan listrik Indonesia. Sepanjang Januari hingga November 2025, BYD mencatat lebih dari 47.300 unit penjualan atau sekitar 57 persen pangsa pasar dari total penjualan EV nasional.

    “Pencapaian itu tentunya berkontribusi pada pertumbuhan pasar EV nasional,” kata Nathan Sun belum lama ini.

    Sebagai perbandingan,total penjualan mobil listrik nasional pada 2024 sebesar 43.000 unit (semua merek).Artinya, jumlah penjualan mobil BYD hingga November 2025 telah melampaui total penjualan mobil listrik tahun lalu. Ini mengindikasikan bahwa dinamika pasar kendaraan listrik pada 2025 bergerak lebih cepat dari tahun sebelumnya.

    Pencapaian BYD diukir oleh beberapa mobil listrik yang sudah dijual di Indonesia. Diketahui, BYD sudah memasarkan beberapa mobil listrik seperti BYD Dolphin, Atto 3, Seal, M6, Sealion, mobil mewah Denza D9, hingga yang terbaru BYD Atto 1.

    “Ini bukan hanya menandai pencapaian terbaru kami tetapi juga menguatkan posisi BYD sebagai EV No. 1 di Indonesia sekaligus kontributor signifikan terhadap angka pertumbuhan industri otomotif nasional,” ujar Nathan.

    Nathan bilang, seiring dengan pertumbuhan penjualan BYD, pabrikan mobil listrik asal China itu konsisten membawa kendaraan terbaiknya ke Indonesia. Setelah debut dengan tiga model seperti Dolphin, Atto 3, dan Seal, BYD menghadirkan MPV listrik yang langsung disambut positif masyarakat Indonesia, yaitu BYD M6.

    Selanjutnya, BYD juga melakukan peluncuran Sealion 7, SUV listrik tangguh dan ramah lingkungan yang ideal bagi keluarga Indonesia. Tak lama setelah itu, BYD memperkenalkan New Seal dengan teknologi DiSus melalui sesi circuit test drive di Mandalika. Sedan listrik itu menawarkan kombinasi kenyamanan dan performa dalam sebuah sedan.

    “Kami juga menghadirkan ATTO 3 Advance STD sebagai varian baru yang memberikan pilihan lebih terjangkau bagi masyarakat,” sambung Nathan.

    Perjalanan BYD di Indonesia tidak hanya menjual merek BYD. Awal tahun ini, BYD juga membawa merek premiumnya, Denza, dengan meluncurkan MPV listrik premium Denza D9. Kehadiran Denza D9 juga mendobrak segmen MPV premium dengan harga yang kompetitif dan teknologi yang lebih canggih.

    Hingga, baru-baru ini BYD meluncurkan city car listrik BYD Atto 1 yang fenomenal. Harganya yang sangat kompetitif, bahkan di bawah Rp 200 juta, membuat BYD Atto 1 laris manis.

    Bahkan, BYD Atto 1 bulan lalu memecahkan rekor menjadi mobil paling laris di Indonesia pada bulan Oktober 2025. Data distribusi wholesales yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, BYD mengirimkan 9.396 unit Atto 1 ke dealer-dealernya pada Oktober 2025.

    “Kami meluncurkan Atto 1 city car EV pada ajang GIlAS lalu dan mendapatkan antusiasme yang sangat besar dari masyarakat Indonesia,” kata Nathan Sun.

    (rgr/dry)

  • Mobil Bekas Paling Banyak Dicari Tahun 2025

    Mobil Bekas Paling Banyak Dicari Tahun 2025

    Mobil Bekas Paling Banyak Dicari Tahun 2025

  • Konsumsi BBM Toyota Veloz Hybrid, Tembus Segini

    Konsumsi BBM Toyota Veloz Hybrid, Tembus Segini

    Jakarta

    Efisiensi bahan bakar menjadi salah satu sorotan utama Toyota New Veloz Hybrid. Dalam pengujian jalan jauh pada rangkaian Veloz Hybrid EV Lintas Nusa, MPV hybrid ini kami uji dalam kondisi penggunaan nyata dengan beban penuh.

    Pengujian dilakukan saat Toyota Veloz Q Hybrid EV dibawa menempuh rute dari Singaraja menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali.

    Total jarak yang ditempuh mencapai 80,9 kilometer, dengan kecepatan rata-rata 45 km/jam dan waktu perjalanan sekitar 1 jam 47 menit.

    Kondisi perjalanan dibuat mendekati penggunaan harian. Mobil diisi empat orang dewasa dengan muatan penuh, serta melewati karakter jalan yang beragam, mulai dari lalu lintas lancar hingga padat dan stop and go.

    Hasilnya, konsumsi bahan bakar yang tercatat di layar MID mencapai 25,9 km per liter. Angka ini terbilang impresif untuk sebuah MPV 7-penumpang yang membawa beban penuh dan digunakan di rute kombinasi.

    Selain konsumsi BBM, sistem juga mencatat driving score 71 poin. Skor ini mencerminkan gaya berkendara yang cukup efisien, termasuk pemanfaatan akselerasi, deselerasi, serta kerja sistem hybrid selama perjalanan.

    Hasil Uji Efisiensi Toyota Veloz Hybrid di Bali Foto: Muhammad Hafizh Gemilang

    Secara teknis, Toyota New Veloz Hybrid mengandalkan mesin 1.500 cc 2NR-VEX yang dipadukan dengan Toyota Hybrid System berkonfigurasi series-parallel. Sistem ini mengombinasikan mesin bensin dan motor listrik, dengan tenaga sistem mencapai 111 PS serta torsi instan dari motor listrik.

    Dalam kondisi tertentu, terutama pada kecepatan rendah hingga sedang, sistem memungkinkan mobil melaju dalam EV Mode. Pada mode ini, motor listrik bekerja tanpa bantuan mesin bensin, membantu menekan konsumsi bahan bakar sekaligus menjaga efisiensi di lalu lintas padat.

    New Veloz Hybrid ini juga dilengkapi dengan sistem regenerative braking.Di mana, energi yang dihasilkan saat mobil melambat atau mengerem akan dikonversi menjadi listrik untuk mengisi ulang baterai hybrid, tanpa perlu pengisian daya eksternal.

    Road trip bersama Toyota New Veloz Hybrid dalam program Veloz Hybrid EV Lintas Nusa Foto: Didik Dwi Haryanto

    Toyota mengklaim efisiensi bahan bakar New Veloz Hybrid meningkat hingga sekitar 40 persen lebih irit dibandingkan Veloz bermesin bensin konvensional. Berdasarkan hasil pengujian jalan jauh ini, klaim tersebut terbukti cukup realistis dalam penggunaan nyata.

    Dengan konsumsi BBM mendekati 26 km per liter di kondisi bermuatan penuh, Toyota New Veloz Hybrid menunjukkan bahwa teknologi hybrid tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga relevan untuk perjalanan jarak jauh dan penggunaan harian di Indonesia.

    (mhg/dry)

  • Libur Natal, Lebih dari 1,1 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek

    Libur Natal, Lebih dari 1,1 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek

    Jakarta

    Pergerakan kendaraan selama periode libur Natal 2025 menunjukkan peningkatan signifikan.

    Jasa Marga mencatat sebanyak 1.195.806 kendaraan meninggalkan wilayah Jabodetabek pada periode H-7 hingga H-1 Natal.

    Jumlah tersebut meningkat 16,43 persen dibandingkan lalu lintas normal. Kenaikan ini mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat selama libur Natal dan akhir tahun.

    Berdasarkan data yang dirilis oleh Jasa Marga pada Kamis (24/12/25) melalui akun sosial media resminya, arus kendaraan paling besar mengarah ke wilayah timur.

    Pergerakan menuju Trans Jawa melalui Gerbang Tol Cikampek Utama tercatat sebanyak 290.558 kendaraan, naik 42,67 persen dari kondisi normal.

    Sementara itu, arus kendaraan ke arah Bandung melalui Gerbang Tol Kalihurip Utama mencapai 269.550 kendaraan. Angka tersebut meningkat 24,08 persen dibandingkan lalu lintas harian biasa.

    Secara keseluruhan, total kendaraan yang bergerak menuju arah Trans Jawa dan Bandung mencapai 560.108 kendaraan. Jumlah ini naik 33,08 persen dari lalu lintas normal dan menjadi arah dengan volume tertinggi.

    Di sisi lain, arus kendaraan ke arah barat juga mengalami peningkatan. Pergerakan menuju Merak melalui Gerbang Tol Cikupa tercatat sebanyak 357.810 kendaraan, atau naik 4,49 persen dibandingkan kondisi normal.

    Untuk arah selatan, lalu lintas menuju kawasan Puncak melalui Gerbang Tol Ciawi mencapai 277.888 kendaraan. Angka tersebut naik 5,38 persen dari lalu lintas normal.

    Menghadapi lonjakan volume kendaraan tersebut, Jasa Marga menyatakan terus mengoptimalkan pelayanan serta kesiapan operasional di seluruh jaringan jalan tol guna menjaga kelancaran arus lalu lintas.

    Tingginya angka pengguna jalan tol beberapa hari terakhir ini jelas karena ada momen libur Natal dan Tahun Baru 2026. Selain itu, ada juga insentif berupa diskon tarif tol yang berlaku selama beberapa hari.

    Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan bahwa stimulus diskon tarif tol 20% di Trans Jawa diterapkan selama 3 hari yakni pada 22 dan 23 Desember 2025 lalu serta satu hari lagi di tanggl 31 Desember 2025 mendatang.

    (mhg/dry)