Video: WHO Keluarkan Pedoman Baru Syarat Terapi GLP-1 untuk Obesitas
Category: Detik.com Kesehatan
-

Dokter Ungkap Kebiasaan Makan Warga +62 yang Picu Sakit Jantung di Usia Muda
Jakarta –
Penyakit jantung kini banyak diidap oleh usia muda. Hal ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk gaya hidup dan pola makan sehari-hari. Salah satu kebiasaan yang semakin disoroti adalah tingginya konsumsi makanan yang tak sehat, seperti fast food hingga junk food.
Spesialis bedah toraks dan kardiovaskular BraveHeart – Brawijaya Hospital Saharjo, Dr dr Amin Tjubandi, SpBTKV, SubspJD(K), mengatakan pola makan masyarakat Indonesia mulai bergeser meniru negara-negara Barat yang mengandalkan fast food, junk food, dan berbagai makanan olahan instan.
Padahal, jenis makanan ini dikenal tak sehat lantaran bisa memicu risiko penyakit jantung.
Dulu, lanjutnya, masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan tradisional dan rumahan yang lebih minim proses dan cenderung lebih sehat. Namun, modernisasi membuat kebiasaan tersebut bergeser.
Akibatnya, tren penyakit di Indonesia kini mulai menyerupai negara-negara Barat akibat pola makan tidak sehat.
“Kalau kita berkaca dari orang-orang Eropa, Amerika yang doyan fast food, junk food. Ya saya rasa ya di Indonesia kan trendnya ke arah sana ya,” ucapnya dalam acara detikPagi, Selasa (2/12/2025).
Jika dibandingkan, lanjutnya, makanan sederhana seperti hidangan di warteg sebenarnya lebih baik untuk kesehatan dibandingkan mengonsumsi makanan junk food.
“[Warteg] jauh lebih sehat harusnya,” ucapnya lagi.
Selain makanan, faktor lain seperti stres, merokok, dan gaya hidup kurang aktif turut memperparah risiko. Kombinasi faktor tersebut membuat kasus penyakit jantung kini muncul pada usia yang jauh lebih muda.
Halaman 2 dari 2
(suc/kna)
-

Labu Siam Bakar Obati Asam Urat, Benarkah? Cek Kata Dokter
Jakarta –
Asam urat merupakan bentuk artritis umum dan kompleks yang bisa menyerang siapa saja. Penyakit ini ditandai dengan serangan nyeri, pembengkakan, kemerahan, dan nyeri tekan yang tiba-tiba dan parah pada satu atau beberapa sendi. Banyak orang yang mencari pengobatan alami untuk penyakit ini.
Media sosial sempat ramai dengan informasi yang mengatakan bahwa labu siam bakar bisa mengobati penyakit asam urat. Postingan yang beredar menyarankan untuk mengonsumsi labu siam sebelum tidur. Namun, bagaimana faktanya?
Labu Siam Bakar Bisa Obati Asam Urat?
Spesialis penyakit dalam, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH menyebut, informasi yang mengatakan labu siam bakar bisa obati asam urat adalah hoaks. Labu siam tidak bisa digunakan untuk mengobati asam urat.
Menurut dr Aru, mengonsumsi labu siam yang cukup memang akan membantu mengurangi asupan purin ke dalam tubuh. Kendati demikian makanan ini tidak bisa menyembuhkan penyakit asam urat.
“Labu siam adalah makanan yang mengandung serat tinggi dan rendah purin. Selain itu, juga kaya akan vitamin C, vitamin K, vitamin B6, dan beberapa mineral penting lainnya,” jelas dr Aru pada detikcom beberapa waktu lalu.
Mengenai jumlah labu siam yang dapat dikonsumsi, dr Aru mengatakan, tidak ada batasan khusus soal ini.
“Kadar asam urat bisa turun bila seseorang mengkonsumsi bahan makanan rendah purin yang membantu menurunkan kadar asam urat di dalam darah,” imbuhnya lagi.
Dikutip dari laman National Kidney Foundation, beberapa makanan-minuman yang baik untuk menurunkan asam urat dan mengurangi peradangan di antaranya produk susu rendah lemak, buah-buahan seperti ceri, beri, dan jeruk, kacang-kacangan seperti lentil, buncis, edamame, hingga air putih agar tetap terhdirasi.
Manfaat Labu Siam untuk Kesehatan
Beberapa manfaat labu siam untuk kesehatan di antaranya:
1. Meningkatkan Kontrol Gula Darah
Labu siam rendah karbohidrat total dan merupakan sumber larut dan tidak larut yang baik. Dikutip dari laman Healthline, kandungan ini bisa membantu mengatur kadar gula darah.
Serat larut memperlambat pencernaan dan penyerapan karbohidrat yang mengurangi respons gula darah setelah makan. Sementara serat tidak larut meningkatkan sensitivitas insulin dan menjaga usus tetap sehat.
2. Mendukung Kehamilan yang Sehat
Kandungan folat penting bagi semua orang, namun sangat penting bagi orang yang sedang atau berencana hamil. Labu siam merupakan sumber folat yang sangat baik.
Selama awal kehamilan, folat dibutuhkan untuk perkembangan otak dan sumsum tulang belakang yang optimal. Asupan folat yang cukup juga bisa berperan dalam mencegah kehamilan prematur.
3. Meningkatkan Fungsi Hati
Hati berlemak merupakan kondisi yang berbahaya. Dikutip dari laman NetMeds, berbagai penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi labu siam secara teratur bisa mengurangi timbunan lemak di hati.
(elk/kna)
-

Mengenal Operasi Jantung MICS, Luka Kecil-Pemulihan Jauh Lebih Cepat
Jakarta –
Operasi jantung kini tak semuanya harus melalui operasi jantung konvensional atau operasi jantung terbuka. Spesialis bedah toraks dan kardiovaskular BraveHeart – Brawijaya Hospital Saharjo, Dr dr Amin Tjubandi, SpBTKV, SubspJD(K) menjelaskan berbeda masalah jantung, maka beda penanganannya.
Salah satu prosedur yang bisa dilakukan kini adalah Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) atau operasi minim sayatan. Prosedur bedah ini dilakukan dengan sayatan yang sangat kecil, sekitar 5-7 cm.
Pada operasi jantung terbuka, biasanya prosedur juga dilakukan melibatkan pemotongan tulang dada. Sedangkan pada prosedur MICS, karena minim sayatan, maka efek estetika atau bekas luka operasi menjadi lebih minim.
Keuntungan lain dari prosedur MICS adalah kebutuhan transfusi darah yang jauh lebih sedikit karena ukuran luka yang sangat kecil.“Memang dengan luka yang kecil, biasanya memang resiko infeksinya lebih minimal. Kalau dibandingkan dengan open heart surgery, kita membuka rongga dada ada tulang yang dipotong. Kalau di MICS kan tulangnya nggak dipotong,” jelasnya dalam acara detikPagi, Selasa (2/12/2025).
“Jadi kita masuk lewat sela iga aja. Jadi sela iga, masuk, diregangkan pakai alat khusus. Trauma jaringannya pun lebih minimalis,” sambung dr Amin.
Selain efek samping luka yang minim, proses pemulihan pasca prosedur MICS juga jauh lebih singkat dibandingkan operasi jantung konvensional.
dr Amin menyebut proses penyembuhan pasca prosedur MISC biasanya memakan waktu 4-5 hari. Sementara itu, proses proses penyembuhan operasi jantung konvensional bisa memakan waktu 7-8 hari.
Lalu, untuk bisa kembali beraktivitas ‘normal’, pasien prosedur MISC hanya membutuhkan waktu pemulihan 3-4 minggu, sedangkan pasien operasi jantung terbuka membutuhkan waktu 8-12 minggu.
“Dengan insisi yang kecil, 5-6 cm, kan luka jaringannya lebih kecil. Pasti penyembuhannya lebih cepat. Responsnya untuk kembali ke aktivitas normal, pasti akan lebih cepat,” ungkap dr Amin.
“Tapi kalau misalkan mungkin pasiennya luar biasa ya, dalam artian secara fisik dia mungkin sangat baik, fungsi pompanya juga masih bagus kita operasi, ya mungkin dia bisa aja sangat cepat, 2-3 minggu bisa kembali,” tandasnya.
Halaman 2 dari 2
(avk/kna)
-

Ciri-ciri Nyeri Dada Gejala Khas Sakit Jantung, Jangan Sampai Keliru
Jakarta –
Salah satu langkah pencegahan paling penting dari penyakit jantung adalah mengenali gejalanya. Dengan mengenali gejala, seseorang bisa langsung melakukan pemeriksaan dokter ketika gejala muncul, sehingga penyakit jantung bisa diminimalisir keparahannya.
Gejala spesifik berkaitan dengan penyakit jantung adalah nyeri dada. Spesialis bedah toraks dan kardiovaskular BraveHeart – Brawijaya Hospital Saharjo, Dr dr Amin Tjubandi, SpBTKV, SubspJD(K) menjelaskan gejala tersebut juga dapat disertai sesak napas.
“Kalau kita memang terindikasi ada penyakit jantung, itu keluhannya biasanya yang spesifik, itu nyeri dada, atau sesak napas. Jadi itu yang paling sering,” ungkap dr Amin dalam acara detikPagi, Selasa (2/12/2025).
dr Amin menjelaskan ciri khas nyeri dada akibat penyakit jantung berkaitan erat dengan aktivitas. Ketika beraktivitas, rasa nyeri dadanya akan semakin menekan dan mereda ketika istirahat.
Misalnya ketika berolahraga, jika tiba-tiba mengalami nyeri dada atau sesak di sebelah kiri, maka harus dicurigai mengarah ke penyakit jantung. Segera lakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah nyeri dada tersebut memang berkaitan dengan penyakit jantung atau tidak.
“Penyakit jantung itu kan kaitannya memang dengan nyeri dada ya. Apalagi nyeri dadanya berkaitan dengan aktivitas. Dalam artian kalau kita merasakan nyeri seperti tertekan atau berat di dada kiri, bisa juga panas,” jelas dr Amin.
“Nyeri itu akan semakin hebat, kalau semakin beraktivitas. Tapi pada saat kita istirahat, dia akan berkurang. Jadi kalau ada pola seperti itu, ya kita harus aware bahwa ada kemungkinan korelasinya dengan jantung,” sambungnya.
Ada beberapa faktor risiko penyakit jantung yang harus diwaspadai. Beberapa di antaranya seperti faktor genetik, masalah kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, diabetes, hingga kebiasaan merokok.
Jika gejala-gejala itu muncul dibarengi faktor risiko yang ada, maka kecenderungan pada penyakit jantung akan semakin besar.
“Kalau sudah punya faktor risiko seperti itu, apalagi ada keluhan, harus ke dokter, nanti dokter yang menentukan kemana arahnya. Kalau curiga jantung, ya mungkin harus direkam jantungnya dulu, kemudian bisa pemeriksaan treadmill kalau berlanjut, kalau curiganya besar, bisa kateterisasi jantung, nanti kelihatan ada penyempitan atau tidaknya,” tandasnya.
Halaman 2 dari 2
(avk/kna)
-

Teka-teki Logika Ini Bikin Otak Nge-lag Sesaat, Tapi Seru Buat Dicoba!
Asah Otak
Aida Adha Siregar – detikHealth
Selasa, 02 Des 2025 11:50 WIB
Jakarta – Sedikit soal teka-teki ini bisa bantu menjernihkan pikiran kamu. Nggak perlu mikir terlalu keras, cukup tebak saja, siapa tahu jawabanmu justru tepat!
-

Video: Momen Dua Ton Bantuan Medis dari Malaysia Tiba di Aceh
Video: Momen Dua Ton Bantuan Medis dari Malaysia Tiba di Aceh
-

Cerita Dokter Anak di Aceh Tangani Korban Banjir Meski Ikut Terdampak
Jakarta –
Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh menyisakan tantangan berat bagi tenaga kesehatan, termasuk para dokter anak. Ketua IDAI Cabang Aceh, Dr. dr. Raihan, Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K), mengungkap kondisi lapangan yang jauh lebih sulit daripada yang terlihat di permukaan.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah wilayah seperti Langsa, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, hingga Aceh Timur mengalami kerusakan infrastruktur parah. Jembatan putus dan jalan rusak membuat distribusi bantuan medis tersendat. Beberapa daerah bahkan hanya bisa dijangkau menggunakan perahu atau transportasi udara.
Menurut dr Raihan, tenaga medis di beberapa wilayah berada dalam kondisi kritis. Salah satunya Pidie Jaya, yang nyaris kolaps karena jumlah tenaga kesehatannya sangat terbatas, sebagian dari mereka adalah korban banjir juga.
“Pidie Jaya tenaga medisnya sangat sedikit karena mereka juga korban, hampir kolaps,” ujarnya.
Sebagian dokter anak yang terdampak pun mengungsi di bangsal rumah sakit agar tetap dapat bertugas.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan layanan anak tidak terhenti meski fasilitas dan tenaga terbatas.
“Agar RS tidak kolaps, dokter dan perawat terdampak tidak bisa keluar, bahkan doker anak mengungsinya di bangsal anak karena untuk membantu pelayanan supaya tidak kolaps,” kata dr Raihan.
Hingga saat ini, tim medis pertama dari IDAI masih berada di wilayah terdampak. Tiga dokter anak yang juga menjadi korban banjir tetap menjalankan layanan dengan dukungan dokter dari Banda Aceh.
Meski menghadapi tantangan berat, menurut dr Raihan, 144 dokter anak di Aceh tetap dalam kondisi sehat dan menyatakan komitmen untuk terus bertugas.
“Alhamdulillah 144 dokter anak dalam keadaan sehat dan menyatakan komitmen meski terdampak,” tegas dr Raihan.
(kna/sao)

