Category: Detik.com Kesehatan

  • Menkes Ajukan Anggaran Rp 500 M untuk Pemulihan Dampak Banjir Sumatera

    Menkes Ajukan Anggaran Rp 500 M untuk Pemulihan Dampak Banjir Sumatera

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap anggaran yang sudah digelontorkan untuk tangani penanganan dampak bencana Sumatera. Sampai saat ini, sudah Rp 50 miliar dikeluarkan.

    Menkes Budi pun mengungkap, pihaknya mengajukan anggaran sekitar Rp 500 miliar untuk pemulihan selanjutnya.

    β€œNah, ke depannya apa yang akan, akan kita lakukan? Untuk semua biaya ini memang disentralisasi di BNPB. Jadi semua nanti yang ada kita lakukan, kita udah ngajukan anggaran sekarang sekitar Rp 500 miliar untuk revitalisasi yang tahap tiga tadi,” ujar Menkes.

  • Video Kemenkes Beri Hukuman-Tunda Kelulusan Pelaku Bullying PPDS Unsri

    Video Kemenkes Beri Hukuman-Tunda Kelulusan Pelaku Bullying PPDS Unsri

    Video Kemenkes Beri Hukuman-Tunda Kelulusan Pelaku Bullying PPDS Unsri

  • Video Menkes Minta Warga Tak Panik ‘Super Flu’: Bukan Seperti Covid-19

    Video Menkes Minta Warga Tak Panik ‘Super Flu’: Bukan Seperti Covid-19

    Video Menkes Minta Warga Tak Panik ‘Super Flu’: Bukan Seperti Covid-19

  • Video: Menkes Targetkan Pemulihan Faskes Rusak Akibat Banjir Sumatera Rampung Maret

    Video: Menkes Targetkan Pemulihan Faskes Rusak Akibat Banjir Sumatera Rampung Maret

    Video: Menkes Targetkan Pemulihan Faskes Rusak Akibat Banjir Sumatera Rampung Maret

  • Tes Logika Soal Cerita, Jawabannya Tak Sesederhana yang Dikira

    Tes Logika Soal Cerita, Jawabannya Tak Sesederhana yang Dikira

    Asah Otak

    Daffa Ghazan Pradipta – detikHealth

    Rabu, 07 Jan 2026 20:00 WIB

    Jakarta – Soal cerita ini menantang logika lewat pola yang tak langsung terlihat. Bukan soal cepat menghitung, tapi bagaimana membaca urutannya.

  • Video: Ombudsman Minta Pemerintah Serius Tangani Lanjutan Pengobatan dari CKG

    Video: Ombudsman Minta Pemerintah Serius Tangani Lanjutan Pengobatan dari CKG

    Video: Ombudsman Minta Pemerintah Serius Tangani Lanjutan Pengobatan dari CKG

  • Nasib Pilu Pemuda 23 Tahun Kena Demensia, Meninggal Setahun setelah Diagnosis

    Nasib Pilu Pemuda 23 Tahun Kena Demensia, Meninggal Setahun setelah Diagnosis

    Jakarta

    Demensia sering kali dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang lansia. Namun, kisah Andre Yarham, seorang pemuda berusia 24 tahun asal Inggris, menjadi pengingat pahit bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia yang sangat produktif.

    Andre meninggal dunia pada 27 Desember lalu setelah berjuang melawan Frontotemporal Dementia (FTD) atau demensia frontotemporal. Kondisinya menurun drastis hanya dalam waktu singkat sejak diagnosisnya tepat sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-23.

    Gejala Awal yang Tak Terduga

    Berbicara kepada Daily Mail, ibunda Andre, Sam Fairbairn (49), mulai merasa ada yang salah ketika putra yang biasanya ceria dan cerewet itu berubah menjadi pelupa. Andre mulai memberikan jawaban singkat saat diajak bicara dan sering menunjukkan ekspresi wajah kosong.

    Hasil MRI pada Oktober 2023 mengungkap terjadi atrofi atau penyusutan pada lobus frontal otaknya. Konsultan medis bahkan menyebut hasil pemindaian otak Andre saat itu mirip dengan “otak seseorang berusia 70 tahun”.

    Belakangan diketahui bahwa penyakitnya dipicu oleh mutasi protein genetik yang langka.

    Meski fisiknya melemah, Sam dan suaminya sempat mengajak Andre menyelesaikan beberapa keinginan dalam bucket list-nya, termasuk menonton gulat langsung di Nottingham.

    Namun, pada September tahun lalu, mobilitas Andre menurun drastis hingga ia harus menggunakan kursi roda dan akhirnya dipindahkan ke fasilitas perawatan khusus.

    Infeksi yang menyerang sistem imunnya yang lemah akhirnya membuat Andre harus menjalani perawatan akhir hayat (end-of-life care). Andre kemudian meninggal tak lama setelah perayaan natal.

    “Ini adalah penyakit paling kejam karena tidak ada pengobatan. Tidak ada yang bisa membantu meredakan gejalanya. Anda menonton, berduka, dan kehilangan orang tersebut berulang kali,” ungkap Sam.

    Menyumbangkan Otak untuk Sains

    Meski Andre kehilangan kemampuan bicara di akhir hidupnya, pihak keluarga yakin bahwa pemuda tersebut akan setuju untuk membantu orang lain. Keluarga Andre pun memutuskan untuk mendonasikan otaknya ke Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge untuk kepentingan riset.

    Sam berharap langkah ini bisa membantu peneliti menemukan pengobatan, atau setidaknya cara untuk memperpanjang hidup penderita demensia lainnya di masa depan.

    “Harapan kami, meskipun bukan obat penawar, semoga riset ini membuahkan pengobatan yang bisa memperpanjang umur seseorang, memberi mereka beberapa tahun lagi bersama orang tersayang. Itu akan sangat luar biasa,” tambahnya.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Pramono Pastikan DKI Siaga ‘Super Flu’, Antisipasi Lonjakan Kasus

    Pramono Pastikan DKI Siaga ‘Super Flu’, Antisipasi Lonjakan Kasus

    Jakarta

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersiap menghadapi kemungkinan penyebaran ‘super flu’ atau influenza A (H3N2) subclade K.

    Meski hingga kini belum ditemukan di DKI, ia meminta langkah antisipasi perlu dilakukan demi mencegah potensi kewalahan imbas kenaikan beban kunjungan pasien di rumah sakit.

    “Saya secara khusus sudah meminta kepada Kepala Dinas Kesehatan, Bu Ani untuk mempersiapkan itu. Memang sampai hari ini dari laporan yang ada di Jakarta belum ada. Toh kalau ada pun kita juga harus bersiap,” beber Pramono, di Taman Gapura Muka Cakung, Jakarta Timur, Selasa (6/1/2025).

    Ia juga menyebut pihaknya sudah terus berkomunikasi dengan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin untuk memantau update kondisi pasien ‘super flu’ di Indonesia. Mengingat, hingga akhir Desember 2025, teridentifikasi 65 kasus ‘super flu’ di sejumlah wilayah.

    “Jakarta untuk mengantisipasi itu sudah kami lakukan karena memang secara khusus saya sudah memanggil Ibu Kepala Dinas Kesehatan untuk hal yang berkaitan dengan superflu itu,” kata Pramono.

    Meski begitu, Pramono meminta masyarakat tetap tenang lantaran hingga saat ini tren kasus influenza secara keseluruhan relatif terkendali. Terlebih, Varian H3N2 subclade K ini dipastikan Kemenkes RI tidak lebih mematikan dari COVID-19.

    Berdasarkan analisis epidemiologi yang dirilis Kemenkes RI, Jawa Timur mencatat 23 kasus, diikuti Kalimantan Selatan 18 kasus, serta Jawa Barat 10 kasus. Sementara itu, Sumatera Selatan melaporkan 5 kasus, dan masing-masing satu kasus tercatat di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.

    Kemenkes mengungkapkan, kasus super flu paling awal terdeteksi di Jawa Tengah, sedangkan temuan terbaru terjadi di Jawa Barat. Pola penyebaran ini menjadi dasar penguatan kewaspadaan di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi.

    (naf/naf)

  • Sederet Penyebab ‘Mata Ngantuk’, Bukan Cuma karena Kondisi Medis Ptosis

    Sederet Penyebab ‘Mata Ngantuk’, Bukan Cuma karena Kondisi Medis Ptosis

    Jakarta

    Mata yang terlihat sayu atau ‘mata ngantuk’ biasanya terjadi karena kurang tidur atau kelelahan. Dalam dunia medis, ada beberapa faktor penyebab ‘mata ngantuk’ salah satunya ptosis.

    Menurut American Academy of Ophthalmology, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata bagian atas turun hingga menutupi mata. Kondisi ini bisa membatasi atau bahkan menghalangi penglihatan normal secara total.

    Selain ptosis, ada beberapa penyebab ‘mata ngantuk’ lainnya mulai dari masalah saraf, autoimun sampai akibat penyalahgunaan obat-obatan.

    Penyebab mata ngantuk

    1. Dermatochalasis

    Dikutip dari Mayo Clinic, dermatochalasis adalah kondisi medis berupa kulit kelopak mata yang kendur, berlebihan, dan melorot.

    Sering ditemukan pada orang dewasa dan lansia, kondisi ini bukan disebabkan oleh lemahnya otot pengangkat mata (seperti pada ptosis), melainkan karena kulit kelopak mata kehilangan elastisitasnya.

    2. Myasthenia Gravis

    Myasthenia gravis adalah penyakit autoimun yang memengaruhi hubungan antara saraf dan otot. Kondisi ini menyebabkan otot-otot yang kita kendalikan secara sadar menjadi sangat lemah.

    Kelopak mata yang turun biasanya fluktuatif. Mata mungkin terlihat normal di pagi hari, namun akan terlihat semakin “ngantuk” di sore atau malam hari setelah beraktivitas karena otot mulai kelelahan.

    3. Sindrom Horner

    Sindrom Horner adalah sindrom neurologis langka yang memengaruhi mata dan area sekitarnya di satu sisi wajah. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan pada jalur saraf simpatik yang menjalar dari batang otak ke mata dan wajah, yang mengendalikan fungsi-fungsi seperti ukuran pupil dan keringat.

    4. Penyalahgunaan obat-obatan

    Mata ngantuk juga bisa disebabkan penyalahgunaan obat-obatan. Zat-zat ini biasanya bekerja dengan menenangkan sistem saraf pusat atau membuat otot mata menjadi terlalu rileks.

    Penyalahgunaan opioid menyebabkan kelopak mata terkulai, penampilan mengantuk, dan pupil yang sangat kecil, seperti “titik jarum” (miosis). Konsumsi obat penenang seperti benzodiazepin juga bisa memperlemah aktivitas motorik yang membuat wajah dan mata tampak kuyu atau lemas.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Waspada Super Flu, Kemenkes Aktifkan Thermal Scanner di Pintu Masuk RI

    Waspada Super Flu, Kemenkes Aktifkan Thermal Scanner di Pintu Masuk RI

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mulai mengaktifkan kembali pemantauan kesehatan di pintu masuk negara sebagai langkah antisipasi terhadap penyebaran influenza A Subclade K atau ‘super flu’.

    Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan pengawasan di pintu masuk negara menggunakan thermal scanner.

    “Termasuk sekarang sudah mulai diaktifkan lagi pemantauan di pintu itu masuk daerah. Di situ nanti beberapa, mungkin belum semua ya, itu sudah misalnya thermal scanner itu sudah kita aktifkan,” ucap Aji saat ditemui di kantor BNPB Jakarta Timur, Rabu (07/1/2026).

    Melalui pemantauan tersebut, petugas dapat mengawasi kondisi kesehatan penumpang yang masuk maupun keluar wilayah Indonesia, baik dari dalam maupun luar negeri.

    “Sehingga kalau yang masuk dari pintu itu daerah, dari luar negeri maupun yang keluar, itu sudah kita bisa pantau,” sambungnya.

    Kebijakan Tidak Bisa Disamakan dengan Negara Lain

    Aji juga menegaskan Indonesia tidak bisa serta-merta menerapkan kebijakan kesehatan seperti yang dilakukan negara lain, mengingat situasi epidemiologis yang berbeda.

    “Nggak bisa saat ini ujuk-ujuk situasinya masih seperti ini, tidak seperti di Amerika atau negara-negara lain,” ujarnya.

    Menurutnya, seluruh langkah yang diambil pemerintah harus disesuaikan dengan kondisi terkini dan berdasarkan data yang tersedia.

    Halaman 2 dari 2

    (up/up)