Category: Detik.com Kesehatan

  • BPOM Jelaskan KLB Keracunan Cemilan La Tiao di Sejumlah Daerah, Korban Mual-Muntah

    BPOM Jelaskan KLB Keracunan Cemilan La Tiao di Sejumlah Daerah, Korban Mual-Muntah

    Jakarta

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menemukan adanya indikasi kontaminasi bakteri pada produk jajanan la tiao yang menyebabkan kejadian luar biasa keracunan pangan (KLBKP) di sejumlah daerah. Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut KLBKP terjadi di Lampung, Sukabumi, Wonosobo, Tangerang Selatan, Bandung Barat, Pamekasan, dan Riau.

    Taruna Ikrar mengatakan berdasarkan hasil uji laboratorium, la tiao yang dipasarkan memiliki indikasi adanya kontaminasi bakteri bacillus cereus. Bakteri itu disebut menghasilkan toksin dan memicu beberapa gejala pada korban.

    “Produk ini menghasilkan toksin yang menyebabkan gejala keracunan berupa sakit perut, pusing, mual, muntah, sesuai dengan laporan dari korban,” kata Taruna Ikrar dalam konferensi pers, Jumat (1/11/2024).

    La tiao merupakan produk makanan impor asal China yang dibuat menggunakan bahan dasar tepung. Makanan ini memiliki karakteristik tekstur kenyal dan rasa pedas serta gurih.

    Setelah pemeriksaan lebih lanjut dilakukan di gudang importir, Taruna Ikrar menyebut bahwa pihak yang memasukkan produk la tiao ke wilayah Indonesia menunjukkan adanya ketidakpatuhan pada aturan BPOM sehingga kontaminasi bakteri dapat terjadi.

    Karena kejadian tersebut, Taruna menyebut pihaknya juga bersurat kepada Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia untuk melakukan takedown pada link penjualan la tiao secara online. Seperti yang diketahui, produk la tiao juga banyak dijual secara online.

    “BPOM telah menginstruksikan agar produk la tiao yang menyebabkan KLB dari data di lapangan untuk ditarik dan dimusnahkan. Kami meminta importir untuk segera melaporkan proses penarikan dan pemusnahan ke BPOM dan kami akan terus memantau kepatuhan mereka,” tandasnya.

    (avk/up)

  • 5 Cara Menjaga Kesehatan Otak Biar Nggak Cepat Pikun, Jangan Lupa Nongkrong

    5 Cara Menjaga Kesehatan Otak Biar Nggak Cepat Pikun, Jangan Lupa Nongkrong

    Jakarta

    Otak adalah organ penting yang mengatur berbagai fungsi tubuh seperti pikiran, gerakan, hingga emosi. Organ ini terdiri dari miliaran sel saraf yang mengirim informasi ke seluruh tubuh.

    Seiring bertambahnya usia, fungsi otak pun ikut menurun. Akibatnya, otak rentan mengalami gangguan, seperti gangguan kognitif dan demensia.

    Karenanya, penting untuk selalu menjaga kesehatan otak agar tetap berfungsi dengan baik meski memasuki usia senja. Dikutip dari Mayo Clinic, berikut sederet tips yang bisa diterapkan untuk menjaga otak tetap sehat dan tajam.

    1.⁠ ⁠Konsumsi Makanan Sehat dan Seimbang

    Penelitian menunjukkan makanan sehat dan bergizi seimbang dapat mencegah atau menunda gejala demensia. Salah satu pola diet yang direkomendasikan untuk menjaga kesehatan otak adalah diet MIND.

    MIND merupakan singkatan dari Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay. Diet ini memberikan nutrisi yang dibutuhkan otak untuk menjaga fokus mental dan memperlambat penurunan kemampuan berpikir.

    Diet MIND berfokus pada makanan nabati, seperti sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, buah beri, unggas dan ikan. Diet ini juga membatasi konsumsi makanan tertentu, seperti mentega, keju, daging merah, dan perman.

    2.⁠ ⁠Rutin Berolahraga

    Mungkin detikers bertanya-tanya, apa sih hubungan antara olahraga dan kesehatan otak? Penelitian menunjukkan orang yang aktif secara fisik memiliki kemampuan berpikir yang lebih tajam.

    Aktivitas fisik yang teratur dapat membantu meningkatkan keseimbangan, fleksibilitas, kekuatan, energi, dan suasana hati. Studi juga menunjukkan olahraga dapat menurunkan risiko alzheimer.

    Usahakan untuk melakukan olahraga intensitas sedang sedikitnya 150 menit seminggu.

    3.⁠ Permainan yang Mengasah Otak

    Seperti halnya otot, otak juga perlu dilatih agar tetap sehat dan tajam. Salah satu caranya adalah dengan melakukan permainan yang menantang otak, seperti bermain board game atau mengerjakan teka-teki silang.

    Selain itu, cobalah untuk menekuni hobi baru, seperti bermain musik atau belajar bahasa asing. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat merangsang terbentuknya koneksi baru yang turut menunjang fungsi otak.

    4.⁠ ⁠Jaga Hubungan Sosial

    Percaya atau tidak, bertemu dan bercengkrama dengan teman-teman atau keluarga dapat memberikan manfaat positif bagi otak. Bersosialisasi membantu menangkal stres dan depresi, dua faktor yang dapat memengaruhi kemampuan daya ingat seiring bertambahnya usia.

    Tak hanya itu, isolasi sosial dan kesepian juga dikaitkan dengan risiko alzheimer dan penurunan kognitif yang lebih tinggi.

    5.⁠ ⁠Tidur yang Cukup Setiap Malam

    Tidur malam yang cukup membantu meningkatkan fungsi otak dan daya ingat, membuat pikiran tetap waspada, dan memudahkan melakukan tugas sehari-hari. Istirahat yang baik juga meredakan stres dan depresi.

    Prioritaskan tidur yang cukup dan berkualitas sedikitnya tujuh hingga sembilan jam setiap malam.

    (ath/naf)

  • Gaduh SMP di Tangerang Lockdown, IDAI Wanti-wanti Kasus Cacar Air Lagi ‘Ngegas’

    Gaduh SMP di Tangerang Lockdown, IDAI Wanti-wanti Kasus Cacar Air Lagi ‘Ngegas’

    Jakarta

    Sebanyak 53 siswa di SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten beberapa waktu lalu terinfeksi cacar air. Wabah ini bahkan memaksa pihak sekolah untuk melakukan ‘lockdown’ sementara.

    Sekolah memutuskan untuk sementara melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini dilakukan sebagai upaya agar tidak terjadi penularan cacar air kepada siswa-siswa lain.

    Merespons hal ini, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Basarah Yanuarso SpA(K) mengatakan kasus cacar air pada anak saat ini jumlahnya kian meningkat.

    “Ya ada peningkatan kasus (cacar air),” ujar dr Piprim saat dihubungi detikcom, Jumat (1/11/2024).

    dr Piprim menambahkan meningkatkan wabah cacar air ini sayangnya tidak dibarengi dengan jumlah vaksinasi pada anak.

    “Vaksinasi cacar air memang belum jadi vaksin program nasional, sehingga cakupan vaksinasi masih rendah. Hanya orang yg bisa membayar vaksinasi cacar air di layanan swasta yang bisa mendapatkan vaksinasi,” katanya.

    IDAI Mengimbau untuk Tidak Menyepelekan Cacar Air

    Senada, anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Dr dr Anggraini Alam SpA(K) mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menganggap enteng penyakit ini. Pasalnya, cacar air bisa menyebabkan komplikasi yang serius jika tidak ditangani dengan tepat.

    “Jika disepelekan, penyakit ini tentu saja bisa menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak dengan sistem imun yang lemah,” kata dr Anggraini saat dihubungi detikcom, Jumat (1/11/2024).

    “Komplikasi yang mungkin terjadi termasuk infeksi bakteri pada kulit, infeksi paru-paru (pneumonia), penurunan kesadaran, dan penyakit lainnya yang dapat menyerang anak karena kondisi imunitasnya yang sedang turun,” lanjut dia.

    Meskipun cacar air bisa menyerang siapa saja, dr Anggraini mengatakan anak-anak di bawah usia 10 tahun lebih rentan terinfeksi. Bahkan, bayi di bawah usia satu tahun pun juga rentan terdampak karena belum bisa menerima vaksin varicella.

    (dpy/naf)

  • Inspiratif, Satu Keluarga di Singapura Diet Bareng untuk Atasi Obesitas

    Inspiratif, Satu Keluarga di Singapura Diet Bareng untuk Atasi Obesitas

    Jakarta

    Satu keluarga di Singapura sukses melakukan diet bersama untuk mengatasi masalah kegemukan. Sang ibu dari keluarga tersebut, Sharifah Osman, mengungkapkan niat untuk menurunkan berat badan itu berawal dari resolusi tahun baru 2022.

    Wanita berusia 49 tahun itu mengatakan keluarganya berhasil menurunkan berat badan dengan total lebih dari 100 kg selama dua tahun.

    Di awal-awal diet, Sharifah masih melakukannya dengan setengah hati dan belum mendapat hasil yang memuaskan. Setelah menjalani program penurunan berat badan dan berhasil, ia mulai memotivasi suami dan kedua anaknya untuk melakukan hal yang sama.

    Dikutip dari The Straits Times, saat itu Sharifah memiliki berat badannya mencapai 105 kg dengan tinggi badan 158 cm. Karena dinyatakan obesitas, dia harus minum obat untuk tiga penyakit kronis, yakni tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

    Di tahun yang sama, yakni 2023, suami Sharifah mengalami serangan jantung dan anak perempuannya memiliki kebutuhan khusus. Sadar mendapat banyak masalah kesehatan, ia mulai ingin memulai hidup sehat dan menurunkan berat badannya.

    Untuk diet, Sharifah melibatkan pelatih pribadinya, Deen Mujahid, yang memotivasinya berolahraga dan mengubah pola makannya.

    Proses Penurunan Berat Badan

    Selama diet, Mujahid menyarankan Sharifah untuk mengurangi makan nasi dan makanan tidak sehat lainnya yang biasa dikonsumsi. Selain itu, dia lebih sering olahraga dan melakukan kebiasaan sehat lainnya.

    Dikutip dari Hindustan Times, Sharifah juga selalu menggunakan tangga untuk sampai di tempat tinggalnya yang berada di apartemen lantai 13.

    Sharifah sering melakukan lompat tali, jalan kaki sejauh 5 km setiap hari, dan pergi ke tempat gym pada jam makan siang. Dalam waktu 17 bulan, ia berhasil menurunkan berat badan lebih dari 50 kg dan ikut serta dalam kompetisi lari khusus wanita.

    Tak hanya berat badan, diet yang dijalani Sharifah juga membantunya mengendalikan penyakit dan tidak lagi mengkonsumsi obat.

    “Saya perlu melakukan sesuatu untuk mengubah hidup saya. Saya merasa sangat sulit untuk menurunkan berat badan, kami menyukai makanan, dan makanan adalah kenyamanan saya,” terang Sharifah.

    “Setiap kali saya stres, saya makan,” sambungnya.

    NEXT: Mulai memotivasi keluarganya

  • Skrining Kesehatan Gratis Buat Warga +62 yang Ultah, Ini Lokasi dan Cara Daftarnya

    Skrining Kesehatan Gratis Buat Warga +62 yang Ultah, Ini Lokasi dan Cara Daftarnya

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan RI memberikan skrining kesehatan gratis bagi mereka yang tengah berulang tahun. Program ini mulai berlaku 2025 mendatang.

    Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut pemberian tersebut demi menekan risiko penyakit yang kerap tidak terdeteksi hingga berakhir komplikasi. Adapun jenis skrining yang diberikan menyesuaikan dengan usia masing-masing.

    “Skrining ini adalah hadiah ulang tahun dari negara kepada masyarakat, dilakukan setiap hari ulang tahun untuk memastikan kesehatan terpantau secara dini,” beber Menkes dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (31/10/2024).

    Menkes menyebut program tersebut berjalan di luar jaminan kesehatan nasional (JKN) yang juga mencakup 14 skrining penyakit secara gratis. Bagaimana cara mendapatkannya?

    Kemenkes RI mencatat data penerima skrining gratis, bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

    Warga mendatangi puskesmas terdekatMembawa identitas KTPPetugas akan melakukan verifikasi berbasis data kependudukan terkait layanan ini.

    Berikut daftar pengelompokan pemberian skrining gratis berdasarkan usia:

    Skrining Balita: Difokuskan pada deteksi penyakit bawaan lahir seperti hipotiroid kongenital yang, jika teridentifikasi secara dini, dapat diobati untuk mencegah kematian atau kecacatan.Skrining Remaja (di bawah 18 tahun): Meliputi pemeriksaan obesitas, diabetes, dan kesehatan gigi. Skrining ini bertujuan mendeteksi masalah kesehatan yang sering muncul pada usia anak hingga remaja.Skrining Dewasa: Difokuskan pada deteksi dini kanker, termasuk kanker payudara dan serviks, yang merupakan penyebab utama kematian pada wanita di Indonesia, serta kanker prostat pada laki-laki.Skrining Lansia: Meliputi pemeriksaan alzheimer, osteoporosis, serta kesehatan umum terkait penuaan.

    (naf/kna)

  • Pejabat Badan Gizi Nasional Banyak Diisi Eks TNI, Ternyata Ini Alasannya

    Pejabat Badan Gizi Nasional Banyak Diisi Eks TNI, Ternyata Ini Alasannya

    Jakarta

    Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana merinci sejumlah personil yang mengisi lembaga tersebut. Sejauh ini, ada delapan orang yang menjabat posisi eselon I di Badan Gizi Nasional. Kebanyakan di antara mereka adalah purnawirawan TNI.

    Bukan tanpa alasan, menurut Dadan penempatan jabatan yang didominasi purnawirawan TNI diyakini bisa meningkatkan upaya kemajuan program gizi. Disebutnya, sebagai purnawirawan TNI, banyak yang terbiasa bekerja dengan cepat.

    “Kenapa kami dibantu oleh para purnawirawan TNI? Ini karena kami harus bekerja ekstra cepat sampai ke wilayah-wilayah dan mereka sudah terbiasa melakukan itu,” jelas Dadan saat RDP, Kamis (31/10/2024).

    Dadan menekankan, Badan Gizi Nasional tengah berproses untuk mengisi posisi yang masih kosong yakni eselon II dan III. Pihaknya mengaku masih berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lain, untuk mengatur posisi terkait, mengingat perlu diisi oleh aparatur sipil negara (ASN).

    “Kami dalam waktu dekat, minggu-minggu depan ini akan mengisi personel Eselon II dan Eselon III dan kami sedang intens berkoordinasi dengan kementerian/lembaga lain karena hal ini harus diisi oleh ASN,” beber Dadan.

    “Jadi kami sedang berusaha mencari orang yang cocok dan bisa bekerja sama dengan baik,” lanjutnya.

    Daftar jajaran eselon I Badan Gizi Nasional adalah seperti berikut:

    1. Kepala Badan Gizi Nasional: Dadan Hindayana (Akademisi, Dosen Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor)

    2. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional: Mayjen Purnawirawan Lodewyk Pusung

    3. Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional: Brigjen Purnawirawan Sarwono (Eks Kemhan)

    4. Inspektorat Utama Badan Gizi Nasional: Brigjen Purnawirawan Jimmy Ginting (Pensiun sebagai Inspektur di Kemhan)

    5. Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional: Tigor Pangaribuan (Eks Direktur SDM PT Timah)

    6. Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional: Brigjen Purnawirawan Suwardi (Eks Kemhan)

    7. Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional: Nyoto Suwignyo (Eks Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi di Badan Pangan Nasional)

    8. Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional: Mayjen Purnawirawan Dadang Hendrayudha (Eks Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kemhan)

    (naf/kna)

  • Mulai 2025, Warga RI Bakal Dapat Kado Ultah Medical Check Up Sesuai Umur

    Mulai 2025, Warga RI Bakal Dapat Kado Ultah Medical Check Up Sesuai Umur

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) akan meluncurkan program skrining kesehatan gratis. Program ini disebut akan berjalan di tahun 2025 yang berfokus pada deteksi dini penyakit sesuai kategori usia.

    “Skrining ini adalah hadiah ulang tahun dari negara kepada masyarakat, dilakukan setiap hari ulang tahun untuk memastikan kesehatan terpantau secara dini,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (31/10/2024).

    Program ini disebut akan berbeda dari skrining Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mencakup 14 jenis penyakit. Skrining ulang tahun ini dirancang untuk mendeteksi berbagai jenis penyakit sesuai golongan usia, dengan tujuan meningkatkan efektivitas deteksi dini dan meminimalkan risiko kematian serta kecacatan.

    “Warga yang berulang tahun cukup mendatangi puskesmas terdekat dengan membawa identitas, dan petugas akan memverifikasi data berdasarkan basis data kependudukan untuk mengakses layanan ini,” ucap Menkes.

    Berikut kategori skrining kesehatan berdasarkan kelompok usia

    Skrining Balita: Difokuskan pada deteksi penyakit bawaan lahir seperti hipotiroid kongenital yang, jika teridentifikasi secara dini, dapat diobati untuk mencegah kematian atau kecacatan.Skrining Remaja (di bawah 18 tahun): Meliputi pemeriksaan obesitas, diabetes, dan kesehatan gigi. Skrining ini bertujuan mendeteksi masalah kesehatan yang sering muncul pada usia anak hingga remaja.Skrining Dewasa: Difokuskan pada deteksi dini kanker, termasuk kanker payudara dan serviks, yang merupakan penyebab utama kematian pada wanita di Indonesia, serta kanker prostat pada laki-laki.Skrining Lansia: Meliputi pemeriksaan alzheimer, osteoporosis, serta kesehatan umum terkait penuaan.

    (kna/kna)

  • Tren Kanker Kolorektal Usia Muda Mengkhawatirkan, Dokter Soroti Hal Ini

    Tren Kanker Kolorektal Usia Muda Mengkhawatirkan, Dokter Soroti Hal Ini

    Jakarta

    Kanker kolorektal atau usus besar telah lama dikaitkan dengan penyakit lanjut usia, khususnya mereka yang berusia 65 tahun. Namun sejak tahun 1990-an, angka kejadian atau insiden kasusnya terus meningkat di kalangan orang dewasa di bawah usia 50 tahun.

    Seorang ahli gastroenterology di Universitas Tufts, Joel Mason mengungkapkan perdarahan di rektal saat buang air besar, serta anemia defisiensi zat besi merupakan gejala umum kanker usus besar di usia muda.

    “Saya tidak ingin meningkatkan tingkat kecemasan generasi muda, tetapi trennya sangat mengganggu dan mungkin ada baiknya membuat populasi muda kita sedikit lebih waspada terhadap gejala-gejala yang perlu diperhatikan,” ucapnya dikutip dari NY Post.

    Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di JAMA Network Open juga melaporkan bahwa 29 persen orang di AS mengidap kekurangan zat besi absolut atau fungsional. Hampir 1 dari 3 Amerika mungkin mengalami kekurangan zat besi yang tidak terdiagnosis.

    “Kekurangan zat besi absolut, yang khususnya lazim di kalangan wanita, anak-anak, vegetarian, dan vegan, ditandai dengan pengurangan atau ketiadaan “simpanan” zat besi yang parah,” menurut American Society of Hematology.

    Pada kekurangan zat besi fungsional, terdapat simpanan zat besi yang cukup tetapi tubuh tidak dapat menggunakannya secara efektif. Kekurangan zat besi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh lebih sulit melawan penyakit.

    Gejala kekurangan zat besi meliputi kelelahan, kelemahan, ekstremitas dingin, nyeri dada, kulit pucat, kehilangan nafsu makan, sesak napas, pening, sakit kepala, dan keinginan terhadap benda-benda yang tidak bergizi seperti es, tanah, kertas dan bahkan tanah liat.

    Kekurangan zat besi dapat memicu anemia, kondisi saat jumlah sel darah merah rendah lantaran tubuh berjuang untuk menyerap zat besi. Seseorang yang tak cukup makan makanan kaya zat besi bisa memicu kehilangan lebih banyak darah daripada yang dapat digantikan oleh tubuh.

    Adapun makanan yang kaya zat besi meliputi daging merah, unggas, ikan, bayam, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan telur.

    “Anemia terjadi pada 30 hingga 75 persen pasien kanker kolorektal,” menurut penelitian tahun 2023 .

    Di sisi lain, penelitian telah menemukan bahwa mengonsumsi terlalu banyak zat besi sepanjang hidup dapat berpotensi meningkatkan risiko kanker paru-paru dan kanker kolorektal. Para peneliti menduga bahwa tumor menggunakan zat besi berlebih untuk mendorong pertumbuhannya.

    Kelebihan zat besi juga dapat terakumulasi di hati dan menyebabkan keracunan. Itulah sebabnya keseimbangan yang cermat antara kekurangan zat besi dan kelebihan zat besi harus ditemukan.

    “Bukti yang muncul menunjukkan bahwa berkurangnya asupan zat besi dan rendahnya kadar zat besi sistemik dikaitkan dengan patogenesis kanker kolorektal, yang menunjukkan bahwa asupan zat besi yang optimal harus diseimbangkan secara hati-hati untuk menghindari kekurangan zat besi dan kelebihan zat besi,” tulis para ilmuwan Jerman dalam penelitian tahun 2021 yang diterbitkan dalam Frontiers in Immunology .

    (suc/kna)

  • Gaduh SMP di Tangerang Lockdown, IDAI Wanti-wanti Kasus Cacar Air Lagi ‘Ngegas’

    IDAI Sebut Kasus Cacar Air Anak Meningkat, Ini Kemungkinan Penyebabnya

    Jakarta

    Wabah penyakit cacar air (Varicella) pada anak jumlahnya semakin meningkat. Terbaru, ada sekitar 53 pelajar di SMPN 8 Tangerang Selatan, Banten yang terserang penyakit ini. Pihak sekolah pun sampai menggelar pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama dua pekan.

    Merespons hal ini, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Basarah Yanuarso SpA(K) mengatakan meningkatnya kasus cacar air pada anak dibarengi dengan jumlah vaksinasi yang rendah.

    “Ya ada peningkatan kasus dan vaksinasi cacar air memang belum jadi vaksin program nasional, sehingga cakupan vaksinasi masih rendah. Hanya orang yg bisa membayar vaksinasi cacar air di layanan swasta yang bisa mendapatkan vaksinasi,” ujar dr Piprim saat dihubungi detikcom, Jumat (1/11/2024).

    Kemenkes Siapkan Surat Edaran soal Cacar Air

    Terpish, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) terus berupaya untuk menekan angka kasus cacar air pada anak. Pihaknya saat ini sedang berproses untuk segera menerbitkan Surat Edaran (SE) Kewaspadaan Penyakit Cacar Air (Varicella) dan Gondongan (Mumps).

    Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyebutkan SE tersebut akan diterbitkan oleh Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) provinsi, kabupaten, kota, rumah sakit, dan puskesmas di Indonesia.

    “Fasyankes agar terus memperkuat kewaspadaan dan diseminasi informasi kepada masyarakat terkait penyakit cacar air dan gondongan dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakitnya,” kata Aji dikutip dari Antara, Jumat (1/11/2024).

    Kemenkes mengimbau kepada masyarakat khususnya para orang tua untuk menjaga kebersihan. Selain itu, jika menemukan anak-anak yang mengalami gejala gondongan atau cacar air untuk segera melakukan isolasi.

    “Jika anak-anak usia sekolah mengalami gejala Mumps atau gondongan maupun Varicella atau cacar air, maka segera melakukan isolasi mandiri di rumah serta dapat melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di rumah sampai anak tersebut sembuh,” kata Aji.

    (dpy/kna)

  • Habis Tenis Terbitlah Padel, Catat Saran Dokter untuk yang FOMO Pengin Coba

    Habis Tenis Terbitlah Padel, Catat Saran Dokter untuk yang FOMO Pengin Coba

    Jakarta

    Dalam beberapa waktu terakhir, olahraga padel mulai menjadi tren baru di tengah masyarakat perkotaan. Olahraga yang mirip tenis ini dilakukan di lapangan yang lebih kecil dan tertutup serta menggunakan jenis raket yang berbeda.

    Olahraga ini sedang banyak digandrungi selebriti dan influencer sehingga banyak juga yang FOMO atau fear of missing out pengin mencoba. Untuk pemula yang ingin mencoba padel, spesialis kedokteran olahraga dr Sophia Hage, SpKO menyarankan untuk tidak berlebihan dan terlalu ambisius untuk melakukannya.

    Biarkan tubuh beradaptasi dengan olahraga baru untuk menghindari cedera pada tubuh yang disebabkan oleh gerakan yang overused.

    “Cara mencegah overused ini dengan cara jangan langsung beberapa hari berturut-turut melakukan olahraga berjam-jam. Bisa di selang-seling 3 kali seminggu, dan dua kali seminggu. Durasi 2 jam. Baru pelan-pelan ditingkatkan,” kata dr Sophia ketika dihubungi detikcom, Jumat (1/11/2024).

    Sebelum melakukan olahraga, dr Sophia juga mengingatkan untuk melakukan pemanasan dan streching yang mumpuni dan mencukupi. Terlebih padel adalah olahraga berintensitas sedang-tinggi yang memiliki risiko cedera cukup besar.

    Selama pemanasan dilakukan dengan baik dan benar, melakukan olahraga apapun secara umum dapat mencegah tubuh mengalami masalah setelahnya.

    Selain itu, penting untuk memperhatikan hidrasi dan waktu istirahat. Ketika berolahraga, konsumsi air putih sebanyak 200-300 cc atau satu gelas air setiap 30 menit untuk menjaga hidrasi tubuh tetap baik.

    “Jakarta sedang panas-panasnya, dan lapangan padel ini banyak juga yang sirkulasinya mungkin tidak terlalu baik, tetap hidrasi itu penting sekali, atau minum setiap setengah jam setidaknya 200-300 cc atau 1 gelas air,” tandasnya.

    Apabila setelah melakukan padel atau olahraga secara umum masyarakat mengalami cedera, ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama:

    Melindungi cedera dengan menghindari aktivitas yang membebani cedera dan memberi pelindung seperti penyangga atau perban pada cedera.Mengistirahatkan area cedera selama beberapa hari untuk menghindari kondisi yang lebih parah dan mengurangi stres.Berikan kompres es pada area cedera selama 15-20 menit sebanyak 3-4 kali sehari, selama 3 hari pertama.Gunakan perban elastis untuk memberikan kompresi pada cedera untuk mengurangi pembengkakan. Pastikan perban tidak terlalu kencang untuk menghambat sirkulasi darah.Angkat bagian tubuh yang cedera lebih tinggi dari jantung untuk membantu mengurangi pembengkakan dan memudahkan aliran darah balik ke jantung.

    (avk/kna)