Category: Detik.com Kesehatan

  • Diwanti-wanti Ilmuwan, Ini Tanda Kena ‘Brain Rot’ gegara Konten TikTok-Reels

    Diwanti-wanti Ilmuwan, Ini Tanda Kena ‘Brain Rot’ gegara Konten TikTok-Reels

    Jakarta

    Konten singkat dan adiktif di media sosial membuat sejumlah pengguna betah berlama-lama scrolling hingga hitungan jam, bahkan seharian tanpa henti. Sayangnya, kebiasaan tersebut bisa mengarah ke ‘brain rot’. Istilah kalimat populer yang ditetapkan Oxford University Press sebagai Word of the Year 2024 dengan definisi penurunan kognitif imbas kebiasaan scroll media sosial.

    Para pakar menemukan mereka yang terbiasa scroll media sosial tanpa henti, mengalami kecanduan terus menonton video pendek yang berujung mengubah cara kerja otak dan mengganggu cara pengambilan keputusan. Hal ini juga sejalan dengan beberapa riset termasuk yang diterbitkan di jurnal NeuroImage.

    Psikolog Artika Mulyaning Tyas, S.Psi, M.Psi, menyebut brain rot memang menyebabkan penurunan kognitif termasuk kemampuan berpikir kritis hingga daya ingat.

    Konten yang paling banyak berpengaruh pada kondisi brain rot adalah konten receh seperti lelucon, tantangan ekstrem, dan video pendek lain.

    Mengapa Medsos Bisa Picu Kerusakan Otak?

    “Media sosial bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial menyediakan akses informasi dan pendidikan, tetapi di sisi lain, penggunaan yang tidak terkontrol dapat berdampak negatif. Konten yang hanya berfokus pada hiburan instan membuat otak terbiasa dengan stimulus cepat tanpa tantangan berpikir mendalam,” tuturnya dalam keterangan tertulis, dikutip detikcom Jumat (5/12/2025).

    Berikut tiga hal yang terjadi saat seseorang terkena efek brain rot:

    Gangguan Kognitif

    Penurunan daya ingat dan kesulitan dalam pengambilan keputusan. Kurangnya kemampuan berpikir analitis dan pemecahan masalah.

    Gangguan Emosional

    Peningkatan stres dan kecemasan akibat paparan informasi yang tidak sehat. Ketergantungan pada media sosial sebagai bentuk pelarian.

    Dampak Sosial

    Pengurangan interaksi sosial yang bermakna. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan konflik secara efektif melalui komunikasi.

    Bagaimana Mencegah Kerusakan Otak?

    Untuk menghindari dampak negatif brain rot, Artika menekankan perlu mengelola penggunaan media sosial dengan bijak. Berikut beberapa langkah yang disebutnya dapat dilakukan:

    Pertama, membatasi penggunaan media sosial. Para ahli menyarankan agar konsumsi media sosial tidak melebihi 1-1,5 jam per hari.

    Kedua, memilih konten berkualitas, mendapatkan informasi dari sumber terpercaya dan mengurangi paparan konten yang murni hiburan.

    Ketiga, melatih keterampilan berpikir kritis. Mengembangkan kebiasaan seperti membaca artikel, terlibat dalam diskusi mendalam, atau kembali mencerna informasi yang diterima.

    Keempat, meningkatkan interaksi sosial di dunia nyata. “Habiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman,” saran dia.

    Ciri-ciri mengalami brain rot:

    Jika seseorang mulai kesulitan berkonsentrasi, sering lupa, atau mengalami kecemasan berlebihan akibat media sosial, mungkin sudah saatnya untuk mengurangi konsumsi konten digital dan mencari bantuan profesional.

    “Di Indonesia, layanan psikologis tersedia di berbagai fasilitas kesehatan, menawarkan konsultasi untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Jika membutuhkan bantuan segera, hotline Healing 119 juga tersedia untuk dukungan awal,” beber dia.

    Perlu dicatat, brain rot bukan sekadar tren media sosial, melainkan fenomena nyata yang memengaruhi kesehatan mental dan kognitif.

    “Dengan menggunakan media sosial secara bijak dan memperhatikan konten yang kita konsumsi, kita dapat mencegah dampak negatifnya dan menjaga kesehatan otak kita di era digital ini,” pungkasnya.

    Lihat juga Video Notifikasi Instagram Buat Remaja Australia Jelang Pembatasan Medsos

    Halaman 2 dari 2

    (naf/kna)

    Otak lemot gegara Video Pendek

    4 Konten

    Konten singkat di media sosial membuat sejumlah pengguna betah crolling hingga hitungan jam, bahkan seharian tanpa henti. Kebiasaan tersebut bisa mengarah ke ‘brain rot’.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Pola Makan Vladimir Putin yang Bikin Tetap Bugar di Usia 73 Tahun

    Pola Makan Vladimir Putin yang Bikin Tetap Bugar di Usia 73 Tahun

    Jakarta

    Presiden Rusia Vladimir Putin kerap menjadi sorotan publik, bukan hanya karena aktivitas politiknya, tetapi juga karena bagaimana ia menjaga kebugaran di usia 73 tahun. Salah satu aspek yang paling sering dibahas media pemerintah Rusia adalah pola makan hariannya, yang disebut-sebut sangat teratur dan disiplin.

    Menurut pemaparan Russia Beyond, sarapan menjadi bagian paling konsisten dari rutinitas sang presiden. Menunya dimulai dengan bubur, ditemani tvorog, keju segar fermentasi khas Eropa Timur, yang biasanya dicampur madu.

    Dikutip dari Hindutimes, Putin juga mengonsumsi telur puyuh mentah yang dimakan langsung, serta jus bit dan lobak sebagai bagian dari sarapannya.

    Soal makanan manis, ia jarang mengonsumsinya. Madu menjadi sumber gula utamanya, sementara es krim hanya ia nikmati sesekali. Ia pernah mengatakan lebih menyukai beras dan buckwheat, tetapi tidak terlalu berminat terhadap oat.

    Sayuran hampir selalu ada dalam menu hariannya, seperti tomat, mentimun, dan salad. Untuk sumber protein, ia lebih memilih ikan, meski domba juga termasuk favoritnya.

    Pada siang hari, Putin hanya makan buah atau kefir bila tersedia. Sementara makan malam sering ia lewatkan sama sekali. Ketika bepergian, ia mencicipi hidangan lokal namun tetap dalam porsi kecil.

    Sarapan Tinggi Protein Sesuai Temuan Penelitian

    Menariknya, pola sarapan Putin sejalan dengan berbagai penelitian nutrisi modern. Menu tinggi protein seperti tvorog, telur puyuh, dan ikan diketahui memberi rasa kenyang yang lebih kuat dibanding sarapan tinggi karbohidrat.

    Studi pada 2013 menunjukkan bahwa sarapan kaya protein merangsang pelepasan hormon kenyang seperti PYY dan GLP-1 dalam jumlah lebih tinggi. Penelitian lain menemukan peserta yang rutin sarapan tinggi protein cenderung lebih sedikit ngemil di malam hari, karena rasa kenyang bertahan lebih lama.

    Meski demikian, setiap orang memiliki kebutuhan nutrisi berbeda. Pola makan yang cocok untuk satu individu belum tentu sesuai untuk orang lain.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/kna)

  • KRI dr Soeharso Buka Layanan Medis untuk Korban Bencana Aceh di Tengah Terhambatnya Akses Darat

    KRI dr Soeharso Buka Layanan Medis untuk Korban Bencana Aceh di Tengah Terhambatnya Akses Darat

    Foto Health

    Grandyos Zafna – detikHealth

    Jumat, 05 Des 2025 12:46 WIB

    Aceh – KRI dr Soeharso-990 membuka layanan kesehatan bagi korban bencana Aceh, membantu warga yang kesulitan mendapat perawatan akibat akses darat yang terputus.

  • Bos WHO Respons Bencana Banjir Asia Termasuk yang Terjadi di Indonesia

    Bos WHO Respons Bencana Banjir Asia Termasuk yang Terjadi di Indonesia

    Jakarta

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti terkait bencana banjir besar yang melanda sejumlah negara Asia, termasuk di Indonesia. Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pihaknya kini berkomunikasi erat dengan pemerintah dan mitra kesehatan di kawasan untuk memastikan dukungan dapat diberikan secara cepat dan tepat.

    Dalam pernyataan terbarunya melalui media sosial, Dr Tedros menyebut WHO telah menjalin koordinasi intensif dengan Indonesia, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Negara-negara tersebut terdampak banjir besar yang disebut sebagai salah satu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    “Kami berkomunikasi erat dengan mitra di Indonesia, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan Malaysia untuk memberikan dukungan yang diperlukan dalam menanggapi banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat badai siklon #Ditwah,” ungkap Dr Tedros, dikutip Jumat (5/12/2025).

    WHO saat ini tengah mengerahkan tim tanggap cepat (rapid response teams) ke negara-negara yang telah meminta dukungan. Pihaknya juga memperkuat sistem pengawasan penyakit untuk mencegah terjadinya wabah, serta memastikan layanan kesehatan esensial tetap berjalan di wilayah-wilayah yang terdampak parah.

    “Kami sedang mengerahkan tim tanggap cepat ke negara-negara yang telah meminta dukungan, memperkuat pengawasan penyakit, dan mendukung keberlangsungan layanan kesehatan esensial bagi masyarakat terdampak,” tambahnya.

    Dr Tedros juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas jatuhnya korban jiwa dan kerusakan luas yang ditimbulkan oleh banjir dan longsor di kawasan Asia.

    “Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kepada masyarakat dan negara-negara yang telah kehilangan orang-orang terkasih dan kehidupan mereka terdampak oleh tragedi ini.”

    Di sisi lain, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memberikan laporan terkini kondisi kesehatan warga terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

    Berdasarkan data 3 Desember 2025, terdapat tiga keluhan kesehatan yang paling banyak muncul. Berikut datanya dihimpun dari laman Kemenkes:

    AcehPenyakit kulit: 238 kasusISPA: 126 kasusDiare: 49 kasusSumatera UtaraPenyakit kulit: 2.824 kasusISPA: 2.436 kasusInfluenza like illness (ILI): 738 kasusSumatera BaratISPA: 181 kasusDemam: 131 kasusDarah tinggi: 103 kasus

    Prioritas penanganan kesehatan yang diberikan mulai dari layanan darurat yang mencakup pemeriksaan kesehatan, pemberian obat dasar dan penanganan luka.

    Di samping itu juga dilakukan pengendalian penyakit seperti fogging, disinfeksi area tergenang dan pemakaian masker.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/kna)

  • Awas ‘Brain Rot’! Begini Perubahan pada Otak Kalau Sering Nonton TikTok-Reels

    Awas ‘Brain Rot’! Begini Perubahan pada Otak Kalau Sering Nonton TikTok-Reels

    Jakarta

    Fenomena konten singkat yang cepat dan adiktif telah membuat banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling tanpa akhir. Kondisi ini bahkan mempopulerkan istilah “brain rot” yang ditetapkan Oxford University Press sebagai Word of the Year 2024, menggambarkan kabut mental dan penurunan kognitif akibat kebiasaan ini.

    Para ahli memperingatkan bahwa kecanduan video pendek-yang sering dianggap sepele, sebenarnya mengubah cara kerja otak, menumpulkan fokus, melemahkan memori, dan mengganggu pengambilan keputusan.

    Hal ini didukung oleh penelitian yang diterbitkan di jurnal NeuroImage, yang mengamati efek psikologis dan neurologis dari kecanduan konten singkat melalui analisis perilaku dan pemindaian otak.

    Berdasarkan studi tersebut, berikut adalah dua cara utama kecanduan video pendek mengubah fungsi otak dikutip dari Forbes.

    1. Mengurangi Kepekaan Otak

    Kecanduan video pendek dapat merusak “loss aversion” atau kecenderungan untuk merasakan sakit kehilangan sesuatu lebih kuat daripada kesenangan mendapatkan sesuatu.

    Studi NeuroImage menemukan bahwa individu dengan gejala kecanduan video pendek yang lebih tinggi cenderung memiliki loss aversion yang lebih rendah.

    Semakin kecanduan seseorang, semakin kurang sensitif mereka terhadap potensi kerugian. Hal ini membuat keputusan mereka menjadi lebih didorong oleh imbalan (reward-driven), bahkan ketika risiko kerugiannya tinggi.

    Pemindaian otak menunjukkan bahwa orang dengan kecanduan video pendek yang tinggi memiliki aktivitas lebih rendah di area otak yang disebut “precuneus” saat memikirkan potensi keuntungan.

    Precuneus membantu merefleksikan dan mempertimbangkan hasil. Ketika area ini kurang aktif, otak cenderung mengabaikan risiko demi mengejar kesenangan atau imbalan instan.

    2. Memperlambat Proses Pengolahan Informasi Otak

    Konsekuensi umum lain dari doomscrolling adalah munculnya kabut mental (mental fog) dan kesulitan fokus. Studi ini menemukan bahwa kecanduan video pendek secara harfiah dapat memperlambat cara otak memproses informasi.

    Menggunakan model kognitif, peneliti mengukur “drift rate” partisipan atau kecepatan otak mengumpulkan dan memproses bukti sebelum membuat keputusan. Individu dengan gejala kecanduan video pendek yang tinggi memiliki drift rate yang jauh lebih rendah.

    Artinya, otak mereka mengakumulasi bukti lebih lambat, membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih sulit dan kurang efisien.

    Perlambatan ini juga tercermin dari aktivitas precuneus yang lebih rendah, yang juga terlibat dalam fokus mental dan evaluasi opsi. Akibatnya, bahkan pilihan sederhana pun terasa lebih menguras energi mental.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

    Otak lemot gegara Video Pendek

    4 Konten

    Konten singkat di media sosial membuat sejumlah pengguna betah crolling hingga hitungan jam, bahkan seharian tanpa henti. Kebiasaan tersebut bisa mengarah ke ‘brain rot’.

    Konten Selanjutnya

    Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

  • Kanker Serviks di RI Meningkat: Ada 38 Ribu Pasien, 22 Ribu Meninggal Dunia

    Kanker Serviks di RI Meningkat: Ada 38 Ribu Pasien, 22 Ribu Meninggal Dunia

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan RI memprediksi kasus baru kanker leher rahim atau kanker serviks mencapai 38,8 ribu dengan 22,3 ribu di antaranya meninggal dunia. Hal ini berdampak ke beban pembiayaan kesehatan tertinggi kedua terkait kanker yakni Rp 98 miliar.

    “Kanker leher rahim merupakan kanker kedua yang paling sering diderita oleh perempuan di Indonesia, dengan 56 kematian setiap hari,” demikian laporan Kemenkes dalam data yang dihimpun Desember 2025.

    Tren tersebut meningkat dibandingkan laporan rata-rata 36 ribu kasus baru dalam tiga tahun terakhir.

    Salah satu pemicu kematian di kanker serviks relatif tinggi adalah minimnya deteksi dini. Kemenkes RI melaporkan rendahnya deteksi dini berkaitan dengan rasa malu datang ke faskes.

    “Rasa malu dikaitkan dengan kegiatan pergi ke faskes untuk skrining pemeriksaan panggul itu sendiri, dan diperiksa oleh petugas kesehatan laki-laki atau muda,” tandas dia.

    Kanker serviks menjadi kanker kedua terbanyak yang paling sering terjadi pada wanita. Berikut laporannya:

    Kanker payudara: 66.271 kasusKanker serviks: 36.964 kasusKanker ovarium 15.130 kasusKanker kolorektal 13.773 kasusKanker paru: 9.797 kasus

    (naf/kna)

  • Mau Tetap Aktif di Usia yang Tak Lagi Muda? Yuk Datang ke hemaviton Health Corner!

    Mau Tetap Aktif di Usia yang Tak Lagi Muda? Yuk Datang ke hemaviton Health Corner!

    Jakarta

    Menjaga kesehatan saraf tepi (neuropati) dan sendi menjadi hal yang penting untuk dilakukan sejak usia muda. Pasalnya. Kesehatan saraf tepi dan sendi mampu membuat seseorang bebas bergerak tanpa khawatir mengalami rasa kram, kebas, kesemutan ataupun nyeri sendi yang mengganggu.

    Tidak hanya itu, bebas bergerak juga bisa membuat produktivitas seseorang terjaga karena dapat terus Jalani Hari Aktif tanpa adanya kekhawatiran tertentu.

    Untuk mendukung hal tersebut, detikcom bersama hemaviton menggelar acara Health Corner. Acara yang mengusung tema ‘Jalani Hari Aktif: Saraf Tepi Sehat, Sendi Kuat’ ini bakal menghadirkan beragam kegiatan seru.

    Salah satu keseruannya yaitu dari kehadiran talkshow bersama Dokter Spesialis Neurologi RS Premier Jatinegara dr. Ade Wijaya, Sp.N. Dalam talkshow tersebut, dr. Ade bakal berbagai tips menjaga kesehatan menjaga kesehatan saraf tepi dan sendi.

    Dalam sesi talkshow tersebut, para peserta dapat melakukan interaksi dan bertanya-tanya secara langsung kepada dokter terkait kesehatan saraf tepi dan sendi. Apalagi menjaga kesehatan saraf tepi dan sendi menjadi hal penting yang perlu dilakukan.

    Hal itu bertujuan agar setiap orang bisa terus bergerak dengan bebas di masa tua. Sebab jika dua hal tersebut tidak terjaga maka berisiko menghadirkan gangguan kesehatan dan sulit menjalankan aktivitas di masa tua.

    Keseruan dari acara tersebut tidak hanya sebatas itu saja. Health Corner juga bakal mengupas secara tuntas bagaimana cara mengatasi masalah kesehatan yang kerap dirasakan banyak orang seperti kram, kebas, kesemutan, hingga nyeri sendi.

    Dalam acara tersebut, para peserta bakal didorong untuk menerapkan gaya hidup sehat dengan cara menjaga pola makan, asupan nutrisi, dan suplemen. Langkah ini semata-mata bertujuan agar kesehatan tubuh tetap terjaga.

    Selain itu, Health Corner juga bakal diisi dengan kegiatan Line Dance Session bersama instruktur Atit Sri.Tidak lupa juga acara tersebut juga bakal diisi dengan layanan cek kesehatan GRATIS!

    Layanan cek kesehatan tersebut pastinya bakal membantu para peserta untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka. Apalagi fasilitas tersebut menghadirkan sejumlah layanan seperti cek gula darah, kolesterol, dan lain sebagainya didampingi oleh tenaga medis profesional yang disediakan oleh hemaviton.

    Biar nggak makin penasaran, Health Corner bakal diselenggarakan pukul 08.00 WIB – selesai di Ruang Srikandi 2 Hotel Bidakara, Jakarta, pada hari Sabtu 6 Desember 2025 mendatang. Nikmati beragam keseruan di acara tersebut.

    (adv/adv)

  • Cuma yang Cerdas Bisa Menjawab 8 Teka-teki Ini! Berani Buktikan?

    Cuma yang Cerdas Bisa Menjawab 8 Teka-teki Ini! Berani Buktikan?

    Jakarta

    Teka-teki asah otak menawarkan cara yang seru, menantang dan memicu rasa penasaran untuk diselesaikan. DI balik pertanyaan yang terlihat sederhana, tersimpan tantangan untuk menguji ketelitian, kreativitas, dan kecerdasan.

    Ada soal temukan gambar tersembunyi, mencari hal janggal, hingga menjawab tebak-tebakan. Siapkan konsentrasi, karena beberapa soal mungkin membuatmu berpikir dua kali.

    Teka-teki Asah Otak

    Buktikan kamu pintar. Jawab teka-teki ini dengan jawaban yang tepat.

    1. Temukan dua hal yang berbeda pada gambar. Perhatikan dengan teliti.

    Asah otak detikHealth Foto: Muhammad Rofiq/detikHealth

    2. Sekilas tak ada yang aneh, tapi coba perhatikan, apa yang salah dari gambar ini?

    Asah otak detikHealth Foto: Muhammad Rofiq/detikHealth

    3. Dari dua orang ini, siapakah yang mencoret tembok dengan pilox?

    Ukur Kemampuan Otak, Seberapa Sat Set Kamu Jawab Soal di Bawah Ini? Foto: Irene Putri Wibowo/detikHealth

    4. Di sebuah pameran lukisan ini, siapakah pemilik lukisan yang sebenarnya? Elle, Jack, atau Olivia?

    Ukur Kemampuan Otak, Seberapa Sat Set Kamu Jawab Soal di Bawah Ini? Foto: Irene Putri Wibowo/detikHealth

    5. Ada 10 orang dalam satu ruangan yang membentuk lingkaran. Kamu harus menaruh sebuah apel yang bisa dilihat semua orang, tapi tidak boleh diletakkan di lantai. Di mana kia-kira apel harus diletakkan?

    6. Akan ada 2 mobil yang lewat di sebuah jalan. Pertama mobil berwarna biru yang melaju 60 km/jam dan mobil kedua berwarna merah yang melaju 40 km/jam. Kedua mobil melaju pada waktu yang bersamaan, tapi mereka saling bersilangan di beberapa titik. Bagaimana ini bisa terjadi.

    7. Dalam gambar berikut, ada satu perempuan yang sedang dalam bahaya. Yang mana kira-kira?

    Yuk Uji Otakmu Lewat Tebak-Tebakan Ini! Eits, Cuma Si Super Jeli yang Bisa Jawab Foto: asah otak detikhealth

    8. Peter menelepon istrinya dan mengatakan bahwa dia akan tiba di rumah jam 8 malam. Kemudian, dia datang jam 8.05. Mereka tidak punya rencana khusus, namun sang istri sangat marah. Mengapa?

    Jawaban Teka-teki Asah Otak

    Bisa menjawab semua teka-teki ini dengan mudah? Lihat jawabannya berikut ini.

    1. Perbedaannya terletak pada spion mobil dan roda sepeda.

    Asah otak detikHealth Foto: Muhammad Rofiq/detikHealth

    2. Bagian bawah ring basketnya tertutup. Bagaimana bola bisa keluar?

    Asah otak detikHealth Foto: Muhammad Rofiq/detikHealth

    3. Pria d sebelah kiri jawabannya. Ada noda pilox di jaket yang dikenakan.

    Ukur Kemampuan Otak, Seberapa Sat Set Kamu Jawab Soal di Bawah Ini? Foto: Irene Putri Wibowo/detikHealth

    4. Pemilik lukisan adalah Olivia. Coba lihat lukisannya, ada tanda-tangan bertuliskan nama Olivia.

    Ukur Kemampuan Otak, Seberapa Sat Set Kamu Jawab Soal di Bawah Ini? Foto: Irene Putri Wibowo/detikHealth

    5. Letakkan apel di atas kepala siapapun. Semua orang bisa meliihatnya.

    6. Mereka berkendara ke arah berlawanan.

    7. Wanita yang sedang berlari di treadmill dalam bahaya.

    Yuk Uji Otakmu Lewat Tebak-Tebakan Ini! Eits, Cuma Si Super Jeli yang Bisa Jawab Foto: asah otak detikhealth

    8. Peter seharusnya datang jam 8 malam, tapi dia malah baru datang jam 8.05 pagi yang berarti keesokan harinya.

    (elk/suc)

  • Chip Otak Elon Musk Bikin Pasien Lumpuh Bisa Gerakkan Tangan Robot Pakai Pikiran

    Chip Otak Elon Musk Bikin Pasien Lumpuh Bisa Gerakkan Tangan Robot Pakai Pikiran

    Jakarta

    Chip otak Neuralink yang dimiliki oleh Elon Musk yang kini tengah memasuki tahap uji klinis diklaim bisa menggerakan lengan robot hanya dengan pikiran. Sebelumnya, chip otak ini sudah bisa digunakan untuk mengontrol ponsel dan komputer.

    Salah seorang yang menjadi pasien percobaan chip otak Elon Musk ini bernama Rocky Stoutenburg, seorang dengan masalah kelumpuhan sejak tahun 2006. Pasca mengikuti program uji coba Neuralink, ia bisa menggerakkan lengan robot menggunakan pikirannya.

    Ia bahkan bisa mengarahkan lengan robot tersebut ke arah wajahnya dan menciumnya.

    “Para peserta dalam uji klinis telah memperluas kendali komputer digital ke perangkat fisik seperti lengan robot bantu. Seiring waktu, kami berencana memperluas jenis perangkat yang bisa dikendalikan melalui Neuralink,” ucap pihak Neuralink melalui media sosial X.

    Neuralink diluncurkan untuk membantu orang yang mengalami kelumpuhan menggunakan perangkat pribadi mereka dan mendapatkan sebagian mobilitas mereka, hanya dengan pikiran. Sistem ini menghubungkan sistem saraf pasien ke perangkat ‘chip otak’ yang dikenal sebagai brain-computer interface (BCI) yang dapat menafsirkan apa isi otak mereka.

    Perangkat tersebut masih dalam tahap uji klinis, yang menguji keamanan dan fungsionalitas awal implan pada orang-orang dengan kondisi medis tertentu yang membatasi mobilitas mereka. Neuralink telah menanamkan perangkat chip otak pada 12 orang sejak Januari 2024 sampai September 2025.

    Peserta pertama adalah seorang pria yang mengalami kelumpuhan akibat cedera tulang belakang, dan implan tersebut memungkinkannya bermain video game dan catur. Peserta lain memiliki cedera tulang belakang atau amyotrophic lateral sclerosis (ALS), kondisi yang seiring waktu memengaruhi kemampuan seseorang menggerakkan lengan, kaki, dan tubuh.

    Musk mengatakan lebih dari 10.000 orang telah mendaftar ke registri pasien Neuralink, berharap bisa berpartisipasi dalam uji coba perangkat tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (avk/kna)

  • Sarah Azhari Buka-bukaan Idap PTSD, Ini yang Jadi Pemicunya

    Sarah Azhari Buka-bukaan Idap PTSD, Ini yang Jadi Pemicunya

    Jakarta

    Artis Sarah Azhari buka-bukaan soal pengalaman trauma yang ia alami hingga memicu kondisi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca trauma. Ini bermula pada tahun 2003 saat ia menjadi salah satu korban yang direkam diam-diam ketika sedang ganti baju di toilet.

    Pada saat itu, ia tengah menjalani casting salah satu studio foto. Ia tak menyangka menjadi target orang tak bertanggung jawab dan merekam semua aktivitasnya secara diam-diam.

    Hasil rekaman itu bahkan disebarkan dalam bentuk VCD gelap dan menjadi salah satu momen terberat baginya.

    “Traumalah. Saking traumanya kita lupa, ini di mana ya? Kita ingat-ingat pas udah hampir beberapa minggu baru aku ingat. Kena PTSD,” cerita Sarah Azhari dalam program Rumpi No Secret Trans TV, dilihat Jumat (5/12/2025).

    Kejadian itu berimbas pada mental Sarah Azhari. Perempuan yang kini berusia 48 tahun itu terus dihantui perasaan cemas meskipun berusaha untuk selalu terlihat kuat. Ia bahkan mengaku sulit untuk keluar rumah karena takut dengan apa yang dipikirkan orang.

    “Itu bukan hanya menghancurkan saya sebenarnya, tapi menghancurkan adik saya juga. Terutama yang laki-laki,” tandasnya.

    Apa Itu PTSD?

    PTSD merupakan kondisi mental yang memunculkan pikiran dan perasaan tidak menyenangkan yang sangat kuat dan mengganggu terkait pengalaman traumatis. Kondisi ini biasanya melibatkan respons stres seperti kecemasan, suasana hati tertekan, malu, mengalami flashback atau mimpi buruk, hingga berusaha menghindari situasi atau aktivitas yang berkaitan dengan peristiwa traumatis.

    Beberapa contoh pengalaman traumatis yang dapat memicu PTSD misalnya kecelakaan serius, cedera atau penyakit parah, bencana alam, kekerasan fisik atau verbal, kekerasan seksual, perundungan, hingga kematian orang terdekat.

    Menurut penelitian, orang dengan PTSD memiliki kadar neurotransmitter tertentu yang tidak normal. Orang dengan kondisi ini mungkin juga dapat mengalami perubahan otak.

    Berikut ini sederet gejala PTSD yang dapat muncul:

    Intrusi

    Pikiran mengganggu yang berulang dan tidak disengaja.Mimpi buruk.Kilas balik peristiwa traumatis, yang bisa sangat jelas dan terasa nyata.

    Penghindaran

    Menghindari pengingat peristiwa traumatis, seperti orang, tempat, aktivitas, benda, atau situasi tertentu.Menghindari mengingat atau memikirkan kembali peristiwa traumatis.Menghindari berbicara tentang apa yang terjadi atau perasaan terkait peristiwa itu.

    Perubahan Cara Berpikir dan Suasana Hati

    Perasaan takut, ngeri, marah, bersalah, atau malu yang terus-menerus.Kehilangan ingatan tentang bagian penting dari peristiwa traumatis.Pikiran dan perasaan negatif yang berkelanjutan tentang diri sendiri atau orang lain.Pikiran yang menyimpang tentang penyebab atau dampak peristiwa, sehingga membuat Anda menyalahkan diri sendiri atau orang lain secara tidak tepat.Merasa terpisah dari orang lain.Tidak lagi menikmati aktivitas yang dulu disukai.Tidak mampu merasakan emosi positif.

    Perubahan Kewaspadaan dan Reaktivitas

    Mudah marah dan sering meledak dalam kemarahan.Perilaku sembrono atau merusak diri.Terlalu waspada terhadap lingkungan sekitar (hipervigilans).Mudah terkejut.Masalah konsentrasi atau tidur.

    Perlu diingat, penegakan diagnosis PTSD memerlukan bantuan profesional kesehatan kejiwaan. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter jiwa atau psikolog jika mengalami gejala serupa, untuk memastikan masalah tersebut berkaitan dengan PTSD atau tidak.

    Halaman 2 dari 3

    (avk/kna)