Category: Detik.com Kesehatan

  • Alasan Perempuan Harus Investasi di Kesehatan Organ Reproduksi

    Alasan Perempuan Harus Investasi di Kesehatan Organ Reproduksi

    Jakarta

    Menjaga kesehatan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh setiap perempuan. Pasalnya, ada sejumlah penyakit yang kerap ‘menghantui’ para perempuan, salah satunya yakni terkait kesehatan organ reproduksi.

    Perempuan perlu menjaga kesehatan organ reproduksi mengingat tingginya risiko penyakit kanker serviks yang menduduki posisi ke-2 sebagai kanker dengan kasus terbanyak pada perempuan Indonesia dan tingkat kematian yang tinggi. Terlebih, seringkali penyakit ini terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut.

    Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Subspesialis Ginekologi Onkologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan Dr. dr. Tricia Dewi Anggraeni, Sp.OG (K), Subsp.Onk mengatakan langkah untuk mencegah penyakit tersebut dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi dan deteksi dini sebagai upaya pencegahan kanker serviks.

    “Ketika seseorang menderita kanker serviks, ia akan menjalani serangkaian langkah perawatan untuk menangani kanker yang ia derita, dan kita semua tahu bahwa penanganan kanker membutuhkan waktu, proses yang panjang, dan dengan biaya yang tidak sedikit,” kata dr. Tricia Dewi dalam keterangan tertulis, Senin (18/11/2024).

    Berbagai pilihan langkah pencegahan dan deteksi dini kanker serviks dapat ditemui salah satunya di layanan Oncology Center Mayapada Hospital. Layanan itu dikhususkan untuk pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan perawatan pasca-kanker dengan dukungan tim dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang siap memberikan arahan terbaik untuk mencegah kanker serviks.

    Pencegahan kanker serviks sendiri dapat dilakukan di antaranya dengan melakukan vaksinasi HPV dan deteksi dini dengan pap smear rutin dan/atau DNA HPV. Langkah tersebut lebih efisien dan hemat biaya dibandingkan harus melakukan pengobatan kanker serviks stadium lanjut.

    “Pencegahan primer dengan vaksinasi dan deteksi dini memungkinkan pilihan pengobatan yang tidak banyak dan lebih murah, sehingga beban finansial pasien jauh lebih sedikit,” ungkap dr. Tricia.

    Baik vaksinasi maupun pap smear sebagai pencegahan kanker serviks bisa menjadi pilihan investasi jangka panjang bagi para perempuan di generasi milenial dan generasi Z yang berada pada usia produktif saat ini.

    Sementara itu, dr. Fara Vitantri Diah Candrani, Sp.OG (K), Subsp.Onk dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan mengatakan peran wanita sebagai ibu dalam keluarga sangat penting, sehingga kesehatannya harus diperhatikan.

    “Kalau ibu yang sakit, pasti dampaknya juga dirasakan sekeluarga. Suami harus cuti bekerja, anak-anak mungkin akan menjadi tidak terurus dengan baik, dan lain sebagainya,” kata dr. Fara.

    Sebagai langkah pencegahan kanker serviks, vaksinasi HPV dan pap smear jauh lebih murah dibandingkan harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan kanker serviks. Untuk mendapatkan vaksinasi HPV maupun pap smear, dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan Dokter Tricia, Dokter Fara, atau dokter spesialis kebidanan dan kandungan lainnya yang berpraktik di layanan unggulan Oncology Center Mayapada Hospital yang ada di Jakarta, Tangerang, Bogor, Kuningan, Surabaya, dan Bandung.

    Oncology Center Mayapada Hospital tidak hanya didukung oleh tim dokter ahli dan fasilitas yang lengkap, namun juga memiliki pelayanan berstandar internasional sebagai acuan yang ketat, salah satunya dengan adanya Tumor Board yang aktif untuk memberikan rencana perawatan yang tepat. Selain itu, setiap pasien tidak perlu khawatir dalam menjalani perawatan, karena Oncology Center Mayapada Hospital memiliki layanan Patient Navigator terdiri dari tim dokter dan perawat untuk mendampingi pasien selama perawatan.

    Berkonsultasi dengan dokter spesialis di Oncology Center Mayapada Hospital kini semakin mudah dengan aplikasi MyCare yang dimiliki Mayapada Hospital. Anda dapat melihat jadwal praktek dan booking appointment dengan mudah hanya dalam satu genggaman. MyCare juga telah terhubung dengan berbagai metode pembayaran sehingga mempercepat proses pendaftaran layanan.

    Success story penanganan pasien dan informasi lengkap seputar layanan di Oncology Center Mayapada Hospital dapat Anda temui di aplikasi MyCare dalam fitur Health Articles & Tips. Unduh aplikasi MyCare di Google Play Store dan App Store untuk akses layanan yang mudah. Pengguna yang baru registrasi di MyCare akan mendapatkan reward point yang bisa dipakai untuk mendapat potongan harga layanan.

    (akd/ega)

  • Cara Mencegah Diabetes ala Orang Jepang, Ternyata Sesimpel Ini

    Cara Mencegah Diabetes ala Orang Jepang, Ternyata Sesimpel Ini

    Jakarta

    Diabetes menjadi salah satu penyakit kronis yang menjadi perhatian dunia, termasuk di Indonesia. Namun, prevalensi penyakit diabetes di Jepang diketahui relatif rendah dibandingkan negara-negara lain.

    Hal ini dipengaruhi gaya hidup sehat yang dijalani masyarakatnya. Kemungkinan ini dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari aktivitas fisik hingga pola makan yang sehat.

    Apa saja kebiasaan orang Jepang yang dapat mencegah penyakit diabetes?

    Minum Teh Hijau

    Di Jepang, orang-orang selalu menyandingkan makanan dengan teh hijau. Sebuah studi dalam Diabetes & Metabolism Journal menunjukkan bahwa pola makan seperti ini dapat mengurangi diabetes.

    Senyawa seperti polifenol dan polisakarida yang ada dalam teh hijau membantu menyeimbangkan gula darah. Maka dari itu, disarankan untuk minum dua hingga tiga cangkir teh hijau setiap makan.

    Cara Unik Mengolah Nasi

    Dikutip dari laman Woman’s World, wanita di Jepang sering mencampurkan sedikit cuka beras ringan saat akan memasak nasi tinggi karbohidrat. Berdasarkan penelitian Arizona State University, memadukan jenis cuka apapun dengan karbohidrat dapat meningkatkan respons insulin.

    Itu karena asam asetat dalam cuka dapat menghambat enzim yang memecah karbohidrat menjadi gula terlalu cepat, sehingga menghalangi enzim tersebut membanjiri sistem tubuh.

    Berjalan-jalan Setelah Makan

    Berjalan kaki menjadi salah satu aktivitas yang dapat bermanfaat untuk tubuh. Biasanya, orang Jepang akan berjalan-jalan sedikit setelah makan.

    Kebiasaan ini ternyata memiliki manfaat yang besar. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Sports Medicine menemukan bahwa menghabiskan waktu dua menit berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain dapat menghambat lonjakan gula darah setelah makan.

    Gerakan setelah makan memberi sinyal pada tubuh untuk menarik glukosa yang beredar dalam darah langsung ke sel otot.

    Diet Hara Hachi Bu

    Hara hachi bu merupakan diet yang terkenal di Jepang. Hara hachi bu merupakan seni bersantap hanya 80 persen kenyang, yang dapat menjauhkan seseorang dari kelebihan makan.

    Ahli diet Kouka Webb, RD, menjelaskan cara ini membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih baik. Jika terlalu kenyang, hal itu akan memperlambat pencernaan, penyerapan, dan metabolisme tubuh yang dapat membebani organ-organ seperti lambung, usus, hingga ginjal.

    “Dengan makan hingga 80 persen kenyang, orang mungkin mengalami lebih sedikit ketidaknyamanan dan mengurangi ketegangan pada sistem pencernaan,” kata Webb yang dikutip dari Women’s Health Magazine.

    “Hara hachi bu juga dapat membantu mengatur kadar gula darah,” sambungnya.

    Webb menjelaskan makanan berkalori lebih dapat menyebabkan penambahan berat badan dan obesitas, yang keduanya merupakan faktor risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

    “Karena hara hachi bu mendorong ukuran porsi yang lebih kecil (dan lebih sedikit kalori), hal itu dapat membantu mencegah lonjakan glukosa darah yang cepat yang terjadi saat mengonsumsi makanan dalam jumlah besar,” jelasnya.

    Memperhatikan Makanan yang Dikonsumsi

    Dikutip dari MedicineNet, kebanyakan orang Jepang sangat memperhatikan apa yang dikonsumsi dan mengurangi jumlah nasi putih, serta makanan olahan lainnya. Selain itu, mereka menjalankan diet rendah lemak dengan memadukan nasi bersama lauk pauk seperti kacang-kacangan, salad, atau ikan.

    Mereka juga kerap menjaga berat badan dalam kisaran yang sehat. Selain itu, mereka kerap menemui dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, mengikuti kelas untuk membangun kebiasaan baik, serta berhenti merokok.

    (sao/kna)

  • Curhat Wanita Jaktim Kena Pneumonia, Paru-parunya Kolaps gegara Kebiasaan Ini

    Curhat Wanita Jaktim Kena Pneumonia, Paru-parunya Kolaps gegara Kebiasaan Ini

    Jakarta

    Seorang wanita asal Kramatjati, Jakarta Timur, membagikan kisahnya yang terkena pneumonia. Ini merupakan istilah umum yang menggambarkan kondisi kesehatan paru-paru yakni terjadi peradangan atau infeksi pada organ paru. Orang awam menyebut kondisi ini sebagai ‘paru-paru basah’.

    Wanita bernama Nadya berusia 23 tahun itu menceritakan mengalami sesak napas saat sedang bekerja di kantor. Kejadian itu terjadi pada pertengahan Agustus 2024.

    “Sesak napas pas lagi kejadian di kantor. Itu lagi dalam kondisi nggak kenapa-napa. Awalnya melakukan aktivitas biasa, kaya kerja gitukan,” katanya saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Senin (18/11/2024).

    Awalnya Nadya mengira kondisi sesak napas yang dialami cuma karena menggunakan baju ketat. Namun sesak napas yang dirasakan semakin memburuk, bahkan dirinya sampai jongkok lantaran merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.

    “Tetap nggak bisa kekontrol juga kan. Terus disuruh kayak yaudah tahan dulu ya, tahan gitu kan. Dan disitu karena mungkin yang bikin tambah sesaknya itu karena aku nangis juga,” katanya lagi.

    Selain sesak napas, Nadya juga mengalami batuk berdahak. Lantaran hal tersebut, rekan kerjanya langsung membawanya ke IGD RSUD Pasar Minggu.

    Awalnya dokter mendiagnosis Nadya terkena bronkitis. Dirinya bahkan sampai dirawat seminggu di rumah sakit tersebut untuk menjalani pengobatan.

    “Aku dirawat dulu karena mau ngeliat sistem pernapasannya kan. Terus mau dicek serometrinya itu juga. Serometrinya itu buat ngecek seberapa banyak yang bisa kita hasilkan dari uapan itu,” iimbuhnya.

    Dua hari setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Nadya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ulang ke rumah sakit tersebut dan bertemu spesialis paru lantaran penasaran kondisi apa yang dialaminya.

    Ketika diperiksa lebih lanjut, dokter menjelaskan bahwa Nadya terkena infeksi paru-paru yang dipicu oleh virus atau disebut pneumonia. Hal ini dikarenakan terlihat seperti ada luka di paru-parunya.

    Kondisi tersebut, kata Nadya, dipicu oleh faktor risiko polusi udara. Nadya mengaku sering keluar rumah tanpa menggunakan masker saat keluar rumah.

    Selain polusi udara, Nadya juga memiliki kebiasaan vaping selama dua tahun dan sering di lingkungan yang penuh asap rokok.

    “Aku termasuk orang yang nggak pernah pakai masker kalau keluar rumah. sedangkan aku itu kan suka berkendara sendiri, membawa motor, atau suka kemana-mana sendiri, itu aku enggak pernah pakai jaket, nggak pernah pakai masker, dan itu ternyata berpengaruh banget buat penapasannya,” lanjutnya lagi.

    Di sisi lain, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Vaksinasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM mengatakan secara tidak langsung, faktor lingkungan seperti asap rokok hingga polusi udara menjadi salah satu faktor risiko dari penyakit pneumonia.

    “Jadi polusi udara itu secara tidak langsung membuat sistem pertahanan tubuh lokal itu rusak. Jadi kuman sebelum masuk ke dalam saluran napas yang menyebabkan infeksi itu, masuk dulu ke hidung dan seterusnya,” katanya saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (18/11)

    “Terus kemudian secara tak langsung menurunkan sistem kekebalan tubuh. Nah kalau sudah turun, kan mudah terjadinya infeksi,”lanjutnya.

    dr Sukamto mengatakan ketika pertahanan barier atau dasar tubuh rusak, kuman pemicu pneumonia menjadi mudah untuk masuk ke saluran napas.

    Meski begitu, dr Sukamto mengatakan polusi udara hingga asap rokok bukanlah penyebab utama dari pneumonia. Kondisi ini disebabkan oleh sejumlah patogen, seperti bakteri, virus, hingga jamur.

    (suc/kna)

  • Haruskah 10 Ribu Langkah Tiap Hari Agar Hidup Sehat? Begini Penelitiannya

    Haruskah 10 Ribu Langkah Tiap Hari Agar Hidup Sehat? Begini Penelitiannya

    Jakarta

    Aktivitas harian dilacak dengan handphone atau jam tangan telah menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Rasa puas ketika berhasil mencapai target harian, seperti 10.000 langkah, sering kali menjadi motivasi utama.

    Namun, apakah jumlah langkah tersebut benar-benar langkah optimal yang bermanfaat bagi kesehatan?

    Dikutip dari Very Well Health, target 10.000 langkah pertama kali muncul sebagai bagian dari kampanye pemasaran di Jepang pada masa Olimpiade Tokyo 1964.

    Menurut Maureen Wang, seorang ahli jantung di NewYork-Presbyterian Brooklyn Methodist Hospital, angka ini dipilih karena terlihat menarik dan mudah diingat, tetapi sebenarnya tidak didasarkan pada penelitian ilmiah.

    Faktanya, manfaat kesehatan dapat mulai dirasakan dengan lebih banyak bergerak dan mengurangi waktu duduk.

    Aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu dengan intensitas aerobik sedang hingga berat direkomendasikan untuk hasil yang optimal. Aktivitas aerobik melibatkan gerakan tubuh yang cukup intens untuk meningkatkan detak jantung, membuat napas terasa lebih berat, dan menyulitkan percakapan.

    Intensitas ini sangat penting untuk memperoleh manfaat kardiovaskular, seperti yang dijelaskan oleh Sherrie Khadanga, direktur rehabilitasi jantung di University of Vermont Medical Center.

    Dikutip dari Medical News Today, meski 10.000 langkah menjadi target yang baik bagi banyak orang, penelitian pada 2021 menunjukkan bahwa aktivitas fisik di atas 7.500 langkah per hari secara signifikan berhubungan dengan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan dengan aktivitas minimal 516 langkah per hari.

    Berikut kebutuhan aktivitas fisik tergantung usia:

    Usia 3-5 tahun

    CDC merekomendasikan anak-anak di rentang usia ini tetap aktif sepanjang hari. Meskipun jumlah langkah tidak disebutkan secara spesifik, aktivitas ini biasanya melibatkan permainan aktif yang dilakukan setiap hari.

    Usia 6-17 tahun

    Anak-anak dan remaja di usia ini disarankan melakukan setidaknya 60 menit latihan aerobik dan penguatan otot setiap hari.

    Berdasarkan studi tahun 2012, aktivitas ini setara dengan sekitar 11.290-12.512 langkah per hari. Oleh karena itu, target 12.000 langkah bisa menjadi acuan yang bermanfaat.

    Namun, setidaknya 1 jam dari aktivitas ini harus memiliki intensitas sedang hingga berat agar sesuai dengan rekomendasi CDC.

    Dewasa dan lansia

    Sebuah meta-analisis tahun 2022 yang melibatkan 15 penelitian menyimpulkan bahwa peningkatan jumlah langkah harian pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas berhubungan dengan penurunan risiko kematian dari berbagai penyebab.

    (Nadiva El Khasani/suc)

  • Sehat Lebih Mudah dengan Layanan Online di Puskesmas Letung

    Sehat Lebih Mudah dengan Layanan Online di Puskesmas Letung

    Puskesmas Letung, dengan kapasitas 10 tempat tidur rawat inap dan 30-40 kunjungan rawat jalan per hari, melayani Kecamatan Jemaja dan Jemaja Barat. Puskesmas ini terus berupaya meningkatkan layanan kesehatannya. Kini, dengan dukungan akses internet, pelayanan online menjadi lebih mudah tanpa perlu mencari koneksi di tempat lain, serta mendukung perbaikan sarana dan prasarana.

  • Generasi Muda China Kesepian, Rela Keluar Duit Buat Bayar Teman Ngobrol

    Generasi Muda China Kesepian, Rela Keluar Duit Buat Bayar Teman Ngobrol

    Jakarta

    Anak muda di China semakin banyak yang mengalami kesepian. Salah satu bentuk krisis kesepian ini terlihat dari banyaknya unggahan dengan tagar ‘companion chat’ atau ‘obrolan teman’ di media sosial China, Xiaohongshu.

    Di sana, banyak orang yang bersedia membeli atau menjual jasa untuk sekedar mengobrol selama beberapa menit secara virtual.

    “Apakah ada yang bisa diajak ngobrol? Saya akan membayar berapa saja,” demikian bunyi salah satu unggahan dengan tagar tersebut.

    Dalam hitungan jam, pengguna tersebut menerima lusinan balasan dari orang-orang yang memang menawarkan jasa mereka. Hal ini mencerminkan tingginya minat konsumen yang rela menghabiskan uang untuk mengusir rasa kesepian.

    Seiring meningkatnya warga yang melajang, membuat mereka lebih memilih mengobrol atau bermain peran (role-play) dengan orang asing secara virtual. Kondisi ini juga membuka peluang bagi industri pertemanan virtual, seperti chatbot yang didukung kecerdasan buatan (AI) hingga cosplayer manusia yang bisa bertemu langsung dengan biaya tertentu.

    “Ekonomi pertemanan yang berkembang pesat ini merupakan respons terhadap perubahan demografi di China,” kata seorang profesor dalam studi China dan Asia di Universitas New South Wales, dan penulis Love and Marriage in Globalizing China, Wang Pan.

    “China menjadi semakin sepi, sehingga orang-orang memiliki keinginan yang kuat untuk cinta, keintiman, dan kedekatan. Hal ini menciptakan ruang bagi pertumbuhan bisnis (pertemanan) yang sangat menguntungkan,” sambungnya yang dikutip dari The Star.

    Li Shuying, seorang mahasiswa berusia 18 tahun menjadi salah satu penyedia jasa pertemanan di media sosial. Wanita itu memasang iklan di Xiaohongshu bersedia memberikan jasa untuk obrolan semacam itu.

    “Saya hanya ingin mendapatkan uang. Saya pikir, ini adalah pekerjaan termuda dan paling tidak merepotkan di luar sana,” tuturnya.

    Di Xiaohongshu, pengguna yang menawarkan jasa obrolan teman ini biasanya mematok biaya mulai dari 8 yuan (17 ribu rupiah) hingga 50 yuan (109 ribu rupiah) selama 30 menit. Dengan waktu luang yang dimilikinya, Li biasanya memasang harga yang masih relatif murah.

    Selama mengobrol, ia menerima berbagai pertanyaan yang sebagian besar laki-laki. Namun, Li juga kerap mengobrol dengan anak perempuan seusianya yang ingin melampiaskan rasa frustrasinya terhadap teman-teman di kelasnya.

    “Banyak dari obrolan tersebut mengandung nuansa yang romantis. Tetapi, beberapa di antaranya ada juga yang hanya mencari teman untuk bersahabat,” ungkap Li.

    NEXT: Pertemanan melalui video game

    Simak Video “Dokter Duga Ini Penyebab Ratu Mukbang China Meninggal “
    [Gambas:Video 20detik]

  • Oncology Center Mayapada Hospital Hadirkan Layanan Terpadu Mayapada Breast Clinic

    Oncology Center Mayapada Hospital Hadirkan Layanan Terpadu Mayapada Breast Clinic

    Jakarta

    Mayapada Hospital Jakarta Selatan memperkuat layanan unggulan Oncology Center dengan menghadirkan Mayapada Breast Clinic. Layanan satu pintu (one stop service) perawatan kesehatan payudara ini dilengkapi teknologi mutakhir Mamografi 3D.

    “Hadirnya Mayapada Breast Clinic menjadikan Oncology Center Mayapada Hospital semakin unggul dan komprehensif dalam memberikan layanan promotif, preventif, dan kuratif, di mana dengan hadirnya Mayapada Breast Clinic, diharapkan dapat mendorong masyarakat khususnya perempuan di Indonesia untuk aktif menjaga kesehatan payudara dimulai dari langkah pencegahan dengan program skrining kesehatan seperti yang saat ini digaungkan oleh pemerintah,” kata Jonathan Tahir, Chairman & Group CEO Mayapada Healthcare.

    Selain Mamografi 3 Dimensi untuk skrining dan diagnostik, berbagai metode canggih lainnya juga melengkapi layanan Mayapada Breast Clinic. Termasuk, teknologi biopsi vakum minimal invasif (Vacuum Assisted Breast Biopsy).

    Beberapa keunggulan mamografi 3D mencakup rasa nyeri yang minimal, serta mendukung biopsi minimal invasif. Hal ini disampaikan dr Bayu Brahma, SpB, Sups.Onk(K), Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

    “Mammografi 3D lebih unggul dari alat konvensional karena dapat mendeteksi dini kanker payudara yang mungkin tidak terlihat pada mamogram konvensional. Dengan begitu, risiko kanker payudara dapat terdeteksi lebih dini dan keberhasilan pengobatan akan lebih besar,” kata dr Bayu.

    Oncology Center Mayapada Hospital Jakarta Selatan juga memiliki Tumor Board yang aktif memberikan rencana perawatan yang tepat, serta memiliki layanan Patient Navigator untuk mendapingi pasien dalam menjalani perawatan kanker. Solusi yang diberikan bukan hanya dalam aspek fisik atau medis, tapi juga mencakup aspek psikologis.

    Mayapada Breast Clinic berlokasi di area Oncology Center Mayapada Hospital Jakarta Selatan Tower 1, Lantai 2. Layanan terpadu ini dapat diakses oleh pasien dari berbagai penyelenggara penjaminan, seperti asuransi, perusahaan dalam negeri, dan multinasional. Khusus untuk radioterapi yang terdapat di unit Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Tangerang, layanan ini juga melayani pasien BPJS.

    (up/up)

  • 5 Ciri-ciri Usus Bermasalah, Termasuk Sering Merasa Lapar

    5 Ciri-ciri Usus Bermasalah, Termasuk Sering Merasa Lapar

    Jakarta

    Gejala usus yang bermasalah dapat timbul dari berbagai tanda yang ada pada tubuh manusia. Meskipun begitu, tanda usus bermasalah tidak selalu terlihat dengan jelas.

    Usus yang tidak sehat berkaitan dengan mikrobioma usus. Mikrobioma usus merupakan triliunan bakteri dan mikroorganisme lain yang hidup di saluran pencernaan. Mikroorganisme ini bisa bermanfaat atau sebaliknya berbahaya bagi tubuh.

    Mikrobioma yang sehat memiliki keseimbangan bakteri baik yang tepat, yang dapat membantu mengendalikan bakteri jahat. Namun, usus yang mengandung tidak cukup bakteri baik atau terlalu banyak bakteri berbahaya, maka dapat menyebabkan disbiosis.

    Disbiosis merupakan penyebab utama dari usus tidak sehat. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala pada saluran pencernaan dan sekitarnya. Dikutip dari GoodRX, berikut adalah sederet tanda usus tidak sehat:

    1. Mudah Lapar

    Mikrobioma usus yang tidak sehat dapat menyebabkan keinginan seseorang untuk makan secara berlebihan. Ilmuwan mengatakan bahwa hal tersebut berkaitan dengan cara bakteri dalam usus memengaruhi hormon yang dikenal dengan hormon leptin dan ghrelin.

    Hormon-hormon tersebut dapat memengaruhi rasa lapar dan kenyang pada tubuh manusia.

    2. Gangguan Tidur dan Suasana Hati

    Sebanyak 95 persen serotonin dalam tubuh manusia, zat kimia otak yang memengaruhi suasana hati dan kualitas tidur, diproduksi di organ usus. Usus yang tidak sehat dapat memengaruhi suasana hati dan tidur. Hubungan ini berjalan dua arah.

    Sebuah penelitian awal menunjukan bahwa disbiosis dapat menyebabkan masalah tidur dan risiko depresi. Begitu pun sebaliknya, depresi dan masalah tidur dapat menyebabkan disbiosis.

    3. Sering Sakit

    Disbiosis, kondisi saat terlalu banyak bakteri berbahaya di usus, dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Oleh sebab itu, seseorang bisa saja lebih sering terserang penyakit, salah satunya seperti flu biasa.

    4. Alergi Makanan

    Kondisi gangguan keseimbangan bakteri usus dapat menyebabkan kepekaan terhadap makanan. Hal tersebut juga dapat memicu makanan tidak dicerna dengan baik.

    Hal ini yang nantinya dapat menyebabkan sebuah reaksi kekebalan tubuh yang berkontribusi terhadap munculnya risiko masalah alergi makanan.

    5. Masalah Kulit

    Jumlah bakteri yang tidak seimbang pada usus atau kulit, dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh bereaksi. Hal tersebut dapat berpotensi memicu sejumlah masalah kesehatan kulit seperti eksim, psoriasis, dan rosacea.

    (kna/kna)

  • Polusi Udara di Jakarta-Tangerang Lagi Jelek, Dokter Wanti-wanti Risiko Pneumonia

    Polusi Udara di Jakarta-Tangerang Lagi Jelek, Dokter Wanti-wanti Risiko Pneumonia

    Jakarta

    Belakangan polusi udara di Jakarta dan sekitarnya seperti Tangerang terpantau buruk, terlebih pada hari Minggu (17/11/2024). Terpantau indeks kualitas udara pada hari Minggu di DKI Jakarta hingga Tangerang melebihi 200 atau sangat buruk pada jam 13.00 WIB menurut data IQAir.

    Indeks kualitas pada hari ini, Senin (18/11) juga terpantau buruk di Jakarta dan Tangerang Menurut data IQAir. Tercatat indeks kualitas udara di lokasi tersebut di atas 100 alias tidak sehat bagi kelompok sensitif.

    Terkait dampaknya, ada banyak bahaya polusi udara bagi kesehatan yang tak bisa disepelekan, khususnya pada organ paru.

    Ketua Satuan Tugas (Satgas) Vaksinasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM mengatakan secara tidak langsung, faktor lingkungan seperti asap rokok hingga polusi udara menjadi salah satu faktor risiko dari penyakit pneumonia.

    Pneumonia sendiri adalah istilah umum yang menggambarkan kondisi kesehatan paru-paru, yakni terjadi peradangan pada organ paru. Orang awam menyebut kondisi ini sebagai ‘paru-paru basah’.

    Pneumonia, katanya, bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun dewasa.

    “Jadi polusi udara itu secara tidak langsung membuat sistem pertahanan tubuh lokal itu rusak. Jadi kuman sebelum masuk ke dalam saluran napas yang menyebabkan infeksi itu, masuk dulu ke hidung dan seterusnya,” katanya saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (18/11/2024)

    “Terus kemudian secara tak langsung menurunkan sistem kekebalan tubuh. Nah kalau sudah turun, kan mudah terjadinya infeksi,”lanjutnya.

    dr Sukamto mengatakan ketika pertahanan barier atau dasar tubuh rusak, kuman pemicu pneumonia menjadi mudah untuk masuk ke saluran napas.

    Meski begitu, dr Sukamto mengatakan polusi udara hingga asap rokok bukanlah penyebab utama dari pneumonia. Kondisi ini disebabkan oleh sejumlah patogen, seperti bakteri, virus, hingga jamur.

    (suc/kna)

  • Aksi Nekat Miliarder Bryan Johnson Menolak Tua, Suntik Lemak ke Wajahnya

    Aksi Nekat Miliarder Bryan Johnson Menolak Tua, Suntik Lemak ke Wajahnya

    Jakarta

    Seorang miliarder Amerika Serikat bernama Bryan Johnson (47) kembali melakukan eksperimen nyeleneh untuk menjaga umurnya awet muda. Dalam sebuah postingan di media sosial, ia mengalami reaksi alergi setelah nekat menyuntikkan lemak orang lain ke wajahnya.

    Hal tersebut sebenarnya ia lakukan untuk mendapatkan wajah muda seperti bayi. Namun, nyatanya wajah Bryan justru membengkak dan bahkan sempat membuatnya kehilangan penglihatan sementara. Ia menceritakan bahwa efek tersebut muncul dalam 30 menit setelah penyuntikan.

    “Setelah suntikan, wajah saya mulai membengkak. Dan kemudian menjadi lebih buruk dan makin buruk. Saya bahkan tidak bisa melihat. Itu adalah reaksi alergi yang parah,” kata Johnson dikutip dari Daily Mail, Senin (18/11/2024).

    Prosedur terbaru itu melibatkan pengambilan sel lemak dari bagian tubuh seperti paha dan perut, dan disuntikkan ke wajah yang kurang bervolume untuk merangsang dan mengembalikan volume pada kulit.

    Johnson mengatakan bahwa volume lemak yang ada di tubuhnya tidak cukup, sehingga ia terpaksa harus menggunakan donor.

    Ini bukan aksi nyeleneh pertama yang dilakukan oleh Johnson untuk mendapatkan tubuh awet muda. Sebelumnya, ia sempat melakukan pertukaran darah tiga generasi dengan anak dan ayahnya.

    [Gambas:Instagram]

    Plasma darah sang anak dimasukkan ke dalam pembuluh darah Johnson, sementara plasmanya diberikan pada sang ayah. Ia berteori infus ‘darah muda’ dapat memperbaiki kerusakan sel yang berkaitan dengan usia, sehingga mengurangi usia biologis.

    Tak sampai situ, Johnson juga mengklaim dirinya mengonsumsi 100 suplemen tiap hari, makan 70 pon (31 kg) sayur yang dihaluskan tiap bulan, dan sudah melakukan pemeriksaan usus dengan pengambilan gambar sebanyak 33 ribu kali.

    Meskipun prosedur suntik lemak itu tidak berjalan sesuai dengan rencana, Johnson mengatakan kerusakan tidak bertahan lama. Setelah tujuh hari berjalan, kondisi wajahnya kembali normal. Ia bahkan berencana menyiapkan prosedur baru.

    “Tujuh hari kemudian wajah saya kembali normal dan kami kembali bekerja keras merumuskan kembali rencana untuk upaya kami berikutnya,” tandasnya.

    Meskipun usia Johnson sudah kepala empat, ia mengklaim organ jantungnya seperti berusia 37 tahun, kulitnya seperti orang berusia 28 tahun, dan kebugarannya seperti orang 18 tahun. Program anti penuaan secara sudah ia lakukan sejak 2020.

    (avk/kna)