Category: Detik.com Kesehatan

  • Video: Ini Tanda-tanda Seseorang Alami ‘Jam Koma’

    Video: Ini Tanda-tanda Seseorang Alami ‘Jam Koma’

    Video: Ini Tanda-tanda Seseorang Alami ‘Jam Koma’

  • Kenapa Kanker Paru Kerap Tidak Bergejala? Ini Penjelasan Profesor Pulmonologi

    Kenapa Kanker Paru Kerap Tidak Bergejala? Ini Penjelasan Profesor Pulmonologi

    Jakarta

    Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menyebut kanker paru-paru merupakan salah satu penyakit yang menyumbang angka kematian cukup tinggi di Indonesia. Hal ini karena kondisi ini seringkali tidak memunculkan gejala di stadium awal, sehingga telat untuk diketahui.

    Guru besar pulmonologi dan kedokteran respirasi, Prof dr Elisna Syahruddin SpP(K) mengatakan ada tidaknya gejala pada kanker paru-paru dipengaruhi oleh lokasi keberadaan sel kanker.

    “Jadi kalau dia (sel kanker) ada di tengah (paru-paru) nggak ngefek apa-apa, keluhannya nggak ada. (Kanker paru) yang berkeluhan, biasanya yang ada di saluran napas,” kata Prof Elisna, yang juga Ketua Bidang Ilmiah YKI, di Kantor YKI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/11/2024).

    “Tapi saluran napas kita cabangnya juga banyak, ada 33. Kalau cabang yang paling ujung yang terkena kanker, ya dia (pasien) nggak merasakan apa-apa. Jadi itu kenapa (kanker paru) datangnya terlambat,” lanjut dia.

    Prof Elisna menambahkan terkadang memang kanker paru-paru bisa memunculkan gejala atau tanda-tanda. Namun, banyak masyarakat yang mengabaikannya dan menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak serius.

    “Kadang-kadang ngasih tanda, tapi pasien ini (menyepelekan). Kayak ‘Bapak keluhannya apa? Batuk, tapi batuk biasa aja’,” kata Prof Elisna.

    Prof Elisna menjelaskan bahwa kanker paru dapat berasal dari sel epitel saluran napas yang menandakan sebagai kanker paru primer. Sementara itu, ada kanker paru sekunder atau metastasis, yakni kanker yang berasal dari organ lain seperti kanker payudara, kanker serviks yang menyebar dan tumbuh di paru-paru.

    Di Indonesia sendiri, Prof Elisna mengatakan tren kanker paru-paru ini terbilang meningkat. Selain itu, tenaga medis saat ini juga memiliki pengobatan terapi target yang bisa membantu memanjangkan harapan hidup pasien.

    “Yang paling muda (terkena kanker paru) umur 14 tahun ada. Tapi jarang sekali (umur belasan),” katanya.

    Prof Elisna mengimbau kepada masyarakat, terutama mereka yang berisiko terkena kanker paru untuk sedini mungkin melakukan skrining kesehatan.

    (dpy/up)

  • 30 Pasien Jalani Operasi Mata Juling Gratis

    30 Pasien Jalani Operasi Mata Juling Gratis

    30 Pasien Jalani Operasi Mata Juling Gratis

  • Kronologi Kematian Hisashi Ouchi, Pria Jepang yang Tubuhnya ‘Meleleh’ gegara Radiasi

    Kronologi Kematian Hisashi Ouchi, Pria Jepang yang Tubuhnya ‘Meleleh’ gegara Radiasi

    Jakarta

    Pada tahun 1999, seorang pria di Jepang bernama Hisashi Ouchi disebut mengalami kematian paling mengerikan di dunia. Tubuhnya ‘meleleh’ secara perlahan-lahan setelah mengalami kecelakaan nuklir dan terpapar radiasi tinggi yang mematikan.

    Kejadian berawal pada 30 September 1999 di pabrik konversi dan pengolahan bahan bakar nuklir bernama JCO di Desa Tokai, Prefektur Ibaraki. Ia datang sekitar jam 10 pagi bersama seorang rekan kerja bernama Masato Shinohara memasuki area pemrosesan pabrik.

    Seorang pengawas bernama Yutaka Yokokawa juga datang namun ia berada di ruang yang berbeda.

    Ouchi dan Shinohara diperintahkan untuk menyiapkan sejumlah kecil bahan bakar untuk reaktor pembiak cepat eksperimental Joyo dengan uranium yang diperkaya hingga 18,8 persen U-235. Ouchi dan rekan kerjanya itu sebenarnya terbiasa bekerja dengan kadar kurang dari 5 persen.

    Mereka tidak mendapatkan pelatihan formal untuk tugas tersebut dan tidak menyadari bahwa pedoman manual pengoperasian tidak disetujui oleh Badan Sains dan Teknologi. Namun, karena adanya permintaan, mereka akhirnya mempercepat prosesnya.

    Prosedur standar sebenarnya dilakukan dengan cara memasukkan larutan uranium melalui perangkat yang mengukur jumlah tepat untuk didistribusikan ke tangki presipitasi. Tapi mereka justru memasukkannya langsung ke ember baja tahan karat.

    Bejana tersebut tidak dirancang untuk menampung lebih dari 2,4 kg, namun mereka telah memasukkannya lebih dari 16 kg.

    Ketika prosedur itu dilakukan, Ouchi dan Shinohara tiba-tiba melihat kilatan cahaya biru hasil radiasi Cerenkov. Radiasi tersebut merupakan ekuivalen elektromagnetik dari ledakan sonic.

    Setelah sempat dibawa ke Institut Nasional Ilmu Radiologi Chiba, Ouchi akhirnya dipindahkan RS Universitas Tokyo beberapa hari setelah kecelakaan. Sesampainya di rumah sakit, Ouchi yang saat kecelakaan berada paling dekat dengan tangki masih bisa berbicara, matanya nampak merah, wajah sedikit membengkak, dan belum memiliki luka lepuh.

    Seiring berjalannya waktu kondisi Ouchi makin memburuk. Organ dalamnya mulai rusak dan sel darah putihnya hampir nol. Pada saat itu dokter mencoba melakukan transplantasi sel punca perifer untuk memulihkan sistem kekebalan tubuhnya, namun semua itu gagal .

    Sel-sel sumsum tulang belakang yang didapat dari donor hancur karena radiasi setelah dimasukkan ke dalam tubuh Ouchi.

    Selain itu, kulitnya juga mulai ‘meleleh’ dan darah keluar dari matanya. Pemeriksaan menunjukkan paparan radiasi telah menghancurkan kromosom atau DNA yang memungkinkan kulit untuk beregenerasi. Ia akhirnya menjadi satu-satunya manusia yang hidup tanpa DNA.

    Akibatnya lapisan epidermis yang melindungi tubuhnya secara bertahap menghilang dan menimbulkan rasa sakit yang intens.Ia juga sempat mengalami masalah pernapasan, susah makan, hingga gagal jantung. Setelah berbagai kondisi tersebut, Ouchi akhirnya meninggal pada Desember 1999.

    Shinohara juga meninggal dunia beberapa bulan setelah kematian Ouchi.

    (avk/kna)

  • Polusi Udara di India Lewati 60 Kali Batas Aman WHO, Warga Sampai Sesak Napas

    Polusi Udara di India Lewati 60 Kali Batas Aman WHO, Warga Sampai Sesak Napas

    Jakarta

    India dilanda kabut polusi udara yang parah dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini memicu kondisi kesehatan masyarakat yang buruk.

    Ibu kota India, New Delhi, memberikan pemberitahuan lebih lanjut terkait kondisi kabut asap beracun. Kondisi di sana semakin memburuk 60 kali lipat dari batas harian maksimum yang ditetapkan Organisasi kesehatan dunia (WHO).

    Berbagai inisiatif pemerintah yang dilakukan secara bertahap gagal untuk mengatasi masalah tersebut. Menurut pemantau polusi IQAir, tingkat polutan PM2.5 mencapai puncaknya pada 921 mikrogram per meter kubik pada tengah hari di hari Senin (18/11/2024).

    Namun, stasiun pemantauan individu mencatat tingkat yang lebih tinggi. Pemantau yang dikelola pemerintah itu mencatat polutan PM2.5 pada 1117 mikrogram, 74 kali lipat dari maksimum WHO.

    Hal ini sangat mengganggu kesehatan masyarakat di sekitarnya. Subodh Kumar (30), seorang penarik becak tetap harus bekerja meski kondisi udara sangat buruk. Dirinya menceritakan kondisi yang dialami imbas kabut asap beracun itu.

    “Mata saya perih selama beberapa hari terakhir. Polusi atau tidak, saya harus berada di jalan, ke mana lagi saya akan pergi,” tutur Kumar yang dikutip dari Channel News Asia.

    “Kami tidak punya pilihan untuk tinggal di dalam rumah. Mata pencaharian, makanan, dan kehidupan kami semuanya terbuka,” sambungnya.

    Warga New Delhi lainnya, Sanjay Goel (51), ikut mengungkapkan dampak yang muncul akibat kabut polusi udara ini. Ia merasa pemerintah harus mulai melarang pembakaran sisa tanaman yang membuat asapnya terus mengganggu.

    “Semua orang sakit tenggorokan,” katanya, dikutip dari NYPost.

    Kualitas udara yang memburuk ini juga memicu kemarahan warga di media sosial. Banyak yang mengeluh sakit kepala hingga sesak napas. Banyak dari mereka yang menggambarkan kota itu sebagai ‘kamar gas’.

    Kepala Menteri Delhi, Atishi, yang hanya menggunakan satu nama, menyalahkan negara bagian sekitar karena tidak menghentikan petani membakar tunggul.

    “Masyarakat Delhi benar-benar gelisah, mereka tidak bisa bernapas,” katanya kepada wartawan, Senin.

    “Saya terus menerima panggilan telepon sepanjang malam dari orang-orang yang harus membawa orang tua mereka yang sudah lanjut usia ke rumah sakit karena masalah pernapasan, atau orang tua yang mencari inhaler steroid untuk anak-anak mereka,” tambahnya.

    Mereka juga terus mendesak pejabat pemerintahan untuk segera menyelesaikan krisis kesehatan masyarakat ini.

    Kondisi ini juga sangat berdampak pada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah dasar di sana diperintahkan untuk menghentikan kelas tatap muka untuk melindungi anak-anak dari polusi.

    Pemerintah mengimbau agar anak-anak, orang tua, serta mereka yang memiliki masalah paru-paru atau jantung untuk tetap di dalam rumah.

    (sao/suc)

  • Video: Mengenal Istilah ‘Jam Koma’ di Kalangan Gen Z

    Video: Mengenal Istilah ‘Jam Koma’ di Kalangan Gen Z

    Video: Mengenal Istilah ‘Jam Koma’ di Kalangan Gen Z

  • Olahraga saat Polusi Udara Boleh Saja Dilakukan, Tapi Ingat Pesan Dokter soal Ini

    Olahraga saat Polusi Udara Boleh Saja Dilakukan, Tapi Ingat Pesan Dokter soal Ini

    Jakarta

    Kualitas udara di beberapa wilayah RI, termasuk DKI Jakarta terpantau buruk beberapa waktu terakhir. Hal ini membuat banyak masyarakat yang mulai berpikir dua kali untuk olahraga di luar ruangan.

    Spesialis paru-paru dr Agus Dwi Susanto SpP mengatakan melakukan aktivitas fisik di luar ruangan, terlebih dengan intensitas berat di tengah kualitas udara yang buruk memang dapat memicu munculnya masalah kesehatan seperti bersin-bersin, sakit tenggorokan, batuk-batuk, dan hidung berair.

    Mereka yang terus menerus terpapar polutan saat berolahraga dengan kualitas udara buruk menurut dr Agus dapat meningkatkan risiko terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

    dr Agus menambahkan meskipun hidup di kota dengan kualitas udara yang kurang baik, masyarakat masih bisa melakukan olahraga. Namun, harus dilihat dulu seberapa buruk polusi yang sedang terjadi.

    “Kadar polutan di atas batas aman ada beberapa level, yakni tidak sehat pada kelompok sensitif, tidak sehat, sangat tidak sehat, lalu berbahaya (beracun),” kata dr Agus saat dihubungi detikcom, Selasa (19/11/2024).

    “Pada level tidak sehat, olahraga outdoor ringan sampai sedang (bisa dilakukan), jika memungkinkan dilakukan dalam 30 sampai 45 menit. Lebih dari itu tidak disarankan lagi,” lanjut dia.

    Namun, dr Agus menekankan jika kualitas udara berada di level tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya lebih baik memang tidak melakukan olahraga outdoor dan beralih melakukan aktivitas fisik indoor.

    dr Agus memberikan tips untuk mereka yang ingin tetap berolahraga di tengah kualitas udara yang berada di atas batas aman.

    Monitor kualitas udara. Pantau kualitas udara saat ingin olahraga luar ruangan atau outdoor. Jika kualitas tidak sehat sampai dengan berbahaya hindari olahraga di luar.Pilih olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang. Olahraga dengan intensitas tinggi seperti lari sprint atau lari jarak jauh memerlukan napas yang lebih banyak sehingga jumlah udara yang tidak sehat terhirup menjadi lebih banyak juga.Pilih daerah kurang polusi bila olahraga luar ruangan. Misalnya daerah taman-taman.Gunakan masker khusus olahraga saat polusi untuk mengurangi polutan terhirup. Tapi ini membatasi dan terasa tidak nyaman.Lakukan olahraga secara singkat. Jika terpaksa olahraga luar ruangan dengan kualitas udara tidak baik, maka lakukan secara singkat (30 sampai 45 menit) dan jangan lama-lama.

    (dpy/suc)

  • Benarkah Kehujanan Bisa Bikin Sakit? Ini Penjelasannya

    Benarkah Kehujanan Bisa Bikin Sakit? Ini Penjelasannya

    Jakarta

    Banyak yang menganggap basah karena kehujanan bikin seseorang mudah jatuh sakit. Benarkah air hujan menjadi penyebab sakit?

    Dikutip dari Health, penelitian menunjukkan air hujan sebenarnya tidak menyebabkan penyakit seperti yang dibayangkan banyak orang. Faktanya, virus penyebab flu dan pilek, dua penyakit yang identik dengan musim hujan, dapat berkembang biak baik dalam kondisi dingin maupun kering.

    Hanya saja, cuaca hujan membuat orang-orang cenderung berkumpul di dalam ruangan dalam waktu yang lama. Jadi secara tidak langsung, cuaca hujan dapat meningkatkan peluang virus menginfeksi lebih banyak orang.

    Mengapa Seseorang Rentan Sakit saat Hujan?

    Meskipun air hujan tidak menyebabkan flu atau pilek, risiko seseorang terkena penyakit saat musim hujan memang lebih tinggi. Ketika tubuh basah dan dingin dalam waktu yang cukup lama, ini dapat memengaruhi pengaturan suhu tubuh saat cuaca dingin.

    Jika terus-terusan basah atau kedinginan, tubuh akan kehilangan panas karena harus menguapkan air yang menempel pada kulit.

    Studi menunjukkan penurunan suhu tubuh dapat memengaruhi respons imun tubuh yang berperan dalam melawan virus. Akibatnya, seseorang mungkin lebih rentan tertular virus jika terus-terusan basah selama atau setelah kehujanan.

    Penelitian lain menunjukkan melemahnya respons imun mungkin berhubungan dengan sistem kekebalan di hidung. Saat kedinginan, pembuluh darah di hidung akan menyempit, sehingga mencegah sel darah putih mencapai selaput lendir dan membantu melawan kuman.

    Tips Menjaga Kesehatan di Luar Ruangan

    Karena kedinginan dapat meningkatkan risiko terkena penyakit, penting untuk memastikan tubuh tetap hangat dan nyaman saat beraktivitas di luar ruangan. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan saat berada di luar ruangan di antaranya:

    1. Kenakan Pakaian yang Tahan Air

    Jika sering menghabiskan waktu di tengah hujan, kenakanlah jaket atau mantel hujan yang antiair.

    Pastikan juga jaket hujan memiliki sirkulasi udara yang baik. Jika jaket hujan memiliki rongga yang sempit, tubuh akan kepanasan dan mengeluarkan keringat. Dalam jangka panjang, keringat yang menempel dapat menurunkan suhu tubuh dan memengaruhi respons imun tubuh.

    2. Hindari Pakaian Katun

    Hindari pula mengenakan pakaian yang terbuat dari katun saat cuaca dingin. Katun dapat menyerap air dan menahannya di kulit, sehingga membuat tubuh merasa basah dan dingin.

    3. Gunakan Penutup Kepala

    Kenakan topi atau hoodie antiair untuk melindungi rambut dan wajah dari hujan. Rambut yang basah dapat membuat tubuh merasa kedinginan. Mengenakan topi atau penutup kepala tidak hanya membuat tubuh tetap hangat dan kering, tapi juga membantu melihat dengan lebih baik saat hujan deras.

    4. Segera Ganti Baju

    Jangan menunda untuk mengganti baju setelah basah kuyup kehujanan. Pakaian basah dapat menyebabkan kulit menjadi dingin dan menurunkan suhu tubuh.

    Jangan lupa membawa handuk dan pakaian cadangan saat bepergian untuk memastikan tubuh tetap hangat dan kering di tengah cuaca hujan.

    5. Minum Minuman Hangat

    Minuman hangat dapat membantu mengusir rasa dingin dari tubuh. Bawalah termos berisi teh atau kopi panas untuk menghangatkan tubuh ketika bepergian.

    Mengonsumsi semangkuk sup hangat usai kehujanan juga dapat membantu meningkatkan suhu tubuh.

    (ath/kna)

  • Polusi Udara Pakistan Makin Mengerikan, Picu Lebih dari 1,9 Juta Warga Masuk RS

    Polusi Udara Pakistan Makin Mengerikan, Picu Lebih dari 1,9 Juta Warga Masuk RS

    Jakarta

    Lebih dari 1,91 juta orang dengan penyakit pernapasan telah dirawat di rumah sakit pemerintah di Pakistan sejak bulan lalu. Hal ini menyoroti dampak buruk polusi udara beracun di negara tersebut.

    Kondisi tersebut khususnya telah mempengaruhi provinsi Punjab, Pakistan, saat kabut asap dan tingkat kualitas udara yang berbahaya telah memicu keadaan darurat kesehatan masyarakat.

    Rumah sakit di seluruh Punjab telah kewalahan. Wilayah Lahore mencatat jumlah kasus tertinggi. Kabut asap beracun memaksa lebih dari 75.000 orang untuk mencari pertolongan medis dalam satu hari, yang semakin membebani sistem perawatan kesehatan.

    Selama bulan lalu, Lahore sendiri melaporkan 133.429 kasus penyakit pernapasan, termasuk 5.577 pasien asma. Selain itu, 5.455 dari 13.862 kasus penyakit jantung dan 491 dari 5.141 kasus stroke di provinsi tersebut dirawat di Lahore. Krisis meningkat dalam seminggu terakhir, dengan 449.045 kasus pernapasan dilaporkan, bersama dengan 30.146 kasus asma, 2.225 pasien penyakit jantung, dan 1.400 pasien stroke.

    Dikutip dari India Times, pemerintah telah mengambil beberapa langkah darurat, termasuk menutup sekolah, perguruan tinggi, dan taman, membatasi jam pasar, dan memberlakukan larangan kendaraan dan kegiatan industri yang mencemari.

    Meskipun langkah-langkah ini sudah dilakukan, kualitas udara di kota-kota seperti Lahore dan Multan terus memburuk. Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) Lahore secara konsisten melebihi tingkat berbahaya, seringkali melampaui 1.000, sementara wilayah Multan baru-baru ini mencatat AQI yang mengkhawatirkan lebih dari 2.000.

    Sekolah negeri dan swasta telah diperintahkan untuk tutup hingga 24 November, dengan pihak berwenang juga memberlakukan penguncian tiga hari di Lahore dan Multan untuk mengurangi polusi. Akan tetapi, tindakan-tindakan ini hanya memberikan sedikit kelonggaran.

    Warga berjuang untuk mengatasi dampak kesehatan dari kabut asap. Bagi banyak warga Pakistan, tinggal di dalam ruangan tidak banyak membantu.

    Petugas kesehatan sudah kewalahan. Dokter melaporkan peningkatan signifikan jumlah pasien, terutama anak-anak dan lansia, yang mengalami kesulitan bernapas, batuk-batuk, dan iritasi mata.

    “Tahun ini, tingkat kabut asap jauh lebih buruk, dan jumlah pasien yang terkena dampak jauh lebih banyak,” kata Dr Qurat ul Ain, seorang praktisi medis di Lahore.

    Ia menyarankan warga untuk memakai masker dan menghindari paparan di luar ruangan. Penyebab utama kabut asap meliputi emisi industri, gas buang kendaraan, dan pembakaran jerami pertanian musiman, yang diperburuk oleh kondisi cuaca yang stagnan.

    Aktivis iklim Alia Haider menggambarkan kota itu sebagai “terjebak dalam racunnya sendiri” dan mengkritik kurangnya solusi jangka panjang yang efektif. Ketika kabut asap terus menyelimuti kota-kota besar Pakistan, jutaan orang tetap berisiko, menunggu tindakan yang berarti untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin memburuk.

    (suc/suc)

  • Wanita Jaktim Kena Pneumonia Dikira ‘Masuk Angin’ Biasa, Ini Gejala yang Dikeluhkan

    Wanita Jaktim Kena Pneumonia Dikira ‘Masuk Angin’ Biasa, Ini Gejala yang Dikeluhkan

    Jakarta

    Pneumonia adalah kondisi peradangan atau infeksi pada paru-paru, sehingga paru-paru terisi cairan, lendir, atau nanah. Hal ini mengganggu proses pernapasan dan membuat pengidapnya sulit bernapas. Orang awam biasanya menyebut kondisi ini dengan sebutan ‘paru-paru basah’.

    Kondisi ini bisa dialami siapa saja, termasuk pada orang dewasa. Seperti misalnya seorang wanita bernama Nadya asal Kramatjati, Jakarta Timur, yang mengidap pneumonia. Ia mengatakan kondisi tersebut dipicu polusi udara. Nadya mengaku sering keluar rumah tanpa menggunakan masker saat keluar rumah.

    Terlebih, kebiasaan vaping selama dua tahun dan sering di lingkungan yang penuh asap rokok juga turut berkontribusi terhadap kondisinya.

    Nadya mengatakan awal mula dirinya didiagnosis pneumonia berawal dari gejala sesak napas. Wanita berusia 23 tahun itu mengatakan kondisi tersebut terjadi pada pertengahan Agustus 2024 saat dirinya sedang bekerja di kantor. Selain gejala sesak napas, Nadya juga mengeluhkan batuk berdahak dan demam.

    Nadya mengira gejala yang dialami hanya karena penggunaan baju yang ketat dan ‘masuk angin’ biasa. Namun sesak napas yang dirasakan semakin memburuk, hingga dirinya tak sanggup untuk berdiri.

    “Ngerasa dada itu gak enak, ngerasa sesak. Cuman masih kayak denial, kayak oh mungkin karena baju kekencengan atau apa, gak leluasa jadinya. Jadi kayak mendep gitu kan, udaranya gak bisa masuk,” imbuhnya kepada detikcom saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (19/11/2024).

    “Aku sempet jongkok kan, karena udah nggak kuat jongkok. Terus ternyata pas bangun itu pusing,” katanya.

    Segala upaya sudah dilakukan untuk mengatasinya, mulai dari minum air hangat hingga dibantu rekan kerjanya untuk mendapatkan uap dari air panas. Akan tetapi, sejumlah upaya tersebut tak membuat gejala sesak napas yang dirasakan Nadya kunjung reda.

    “Kayak mungkin mereka (rekan kerja) mikirnya, oh mungkin masuk angin atau kecapean gitu kan. Terus yaudah tuh akhirnya diambilin kayak sebaskong gitu, air panas semua. Terus dikasih minyaknya putih kalau gak salah itu, minyaknya putih. Buat wawangin, supaya kaya menguap. Terus abis itu dikasih itu kayak ditutupin gitu kan. Ditutupin sarung gitu biar aku menghirup udaranya,” katanya lagi.

    “Dan di situ karena mungkin yang bikin tambah sesaknya itu karena aku nangis juga. Karena kan sakit banget kan dadanya itu. Sakit terus nggak bisa berkata-kata lagi, nggak bisa ngomong, udah nggak keluar,” imbuhnya lagi.

    Nadya kemudian dibawa ke IGD RSUD Pasar Minggu untuk ditangani segera. Dokter awalnya mendiagnosisnya dengan bronkitis atau masalah pada pernapasan. Namun setelah Nadya melakukan pemeriksaan ulang ke rumah sakit, ia dinyatakan mengalami infeksi pada paru-parunya. Hal ini dikarenakan terlihat seperti ada luka di paru-parunya saat menjalani rontgen.

    “Pneumonia yang aku alami disebabkan oleh virus,” imbuh Nadya.

    NEXT: Penjelasan Dokter soal Polusi Bisa Memicu Pneumonia hingga Gejalanya