Category: Detik.com Kesehatan

  • Cara Tepat Intermittent Fasting, Dijalani Rina Nose Biar Tubuhnya Tetap Ramping

    Cara Tepat Intermittent Fasting, Dijalani Rina Nose Biar Tubuhnya Tetap Ramping

    Jakarta

    Komedian Rina Nose membagikan rahasia tubuh ramping dan sehatnya. Rina mengatakan bahwa dirinya selama ini menerapkan diet dengan jendela makan atau metode intermittent fasting.

    Meski tidak memiliki pantangan khusus dalam mengonsumsi makanan, ia mengatur jendela waktu makan hanya pada pukul satu siang hingga jam tujuh malam. Selain jam tersebut, Rina mengaku hanya mengonsumsi air putih.

    “Pokoknya makan tiap hari dimulai dari jam satu sampai jam tujuh. Nggak (makan) apapun (juga). Kalau nasi masih, sayur, makanan yang kayak gini kan dimasak semua,” ucap Rina Nose dikutip dari detikHot, Rabu (19/11/2024).

    Untuk jenis makanan yang ia konsumsi, Rina mengatakan lebih mengutamakan makanan tinggi protein seperti daging-dagingan. Menurutnya, makanan tinggi protein bisa membuatnya kenyang lebih lama.

    Berkaitan dengan pola makan dilakukan Rina Nose, spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda SpGK menjelaskan intermittent fasting dalam beberapa penelitian menunjukkan berbagai manfaat kesehatan. Beberapa di antaranya seperti membantu menurunkan berat badan dan lemak tubuh, hingga meningkatkan sensitivitas insulin yang membantu mencegah diabetes tipe dua.

    “Intermittent fasting juga dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol. Itu juga membantu merangsang autophagy yang membantu membersihkan sel-sel rusak,” kata dr Raissa ketika dihubungi detikcom, Selasa (19/11/2024).

    Meski begitu, dr Raissa mengatakan bahwa metode diet ini mungkin tidak cocok untuk semua orang. Ketika dilakukan secara tidak tepat, metode diet ini justru bisa dapat memunculkan risiko penurunan energi, pusing, hingga masalah pencernaan.

    Beberapa orang yang tidak cocok dengan metode intermittent fasting seperti ibu hamil dan menyusui, anak-anak, dan orang-orang dengan kondisi medis tertentu.

    “Jika tidak dijalankan dengan benar, intermittent fasting juga dapat menyebabkan kekurangan nutrisi,” sambungnya.

    Apabila ingin mencoba metode diet ini, dr Raissa menyarankan masyarakat untuk tetap memilih jenis makanan-makanan bergizi seimbang saat masuk jendela waktu makan. Jangan sampai makanan yang dikonsumsi porsinya berlebihan atau nutrisinya kurang sehingga tidak memenuhi kebutuhan harian.

    Idealnya menurut dr Raissa, satu porsi makanan berisi 55-65 persen berisi karbohidrat (termasuk sayur), 20-30 persen lemak, dan 15-35 persen protein. Ia menyebut masyarakat juga bisa mengikuti pedoman ‘Isi Piringku’ dari Kementerian Kesehatan yaitu 50 persen buah dan sayur (sayur 2/3 dan buah 1/3) dan 50 persen berisi karbohidrat dan protein (2/3 karbohidrat dan 1/3 protein).

    (avk/kna)

  • Pongrengkun Singgung COVID-19 ‘Bio Weapon’, Ini Bantahan Epidemiolog

    Pongrengkun Singgung COVID-19 ‘Bio Weapon’, Ini Bantahan Epidemiolog

    Jakarta

    Calon Gubernur Jakarta Dharma Pongrekun kembali menyinggung soal pandemi COVID-19 dalam debat Pilkada Jakarta. Dalam paparannya, ia menyebut pihaknya bakal mengantisipasi munculnya pandemi baru yang ia sebut sudah direncanakan.

    Tak hanya itu, calon nomor urut 2 itu juga menyebut soal senjata biologis atau bio weapon. Menurutnya, itu mungkin akan digunakan untuk memunculkan pandemi selanjutnya.

    “Kalau kita alami pandemi lagi tanda-tandanya sudah sangat jelas. Anggaran sudah ada, WHO sudah amandemen international health regulation (IHR), memungkinkan potensi penggunaan bio weapon untuk membuat pandemi,” beber Dharma dalam debat cagub, Minggu (17/11/2024).

    Pakar epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia menanggapi pernyataan terkait pandemi COVID-19. Menurutnya, imbauan masyarakat perlu bersiap menghadapi pandemi di masa depan sudah tepat, namun memang tidak bisa diprediksi.

    “Namun perlu dipahami bahwa pandemi tidak bisa diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kesiapsiagaan berdasarkan data ilmiah dan pola sejarah,” jelas Dicky kepada detikcom Selasa (19/11/2024).

    “Sejarah menunjukkan pandemi adalah peristiwa berulang, seperti yang terlihat dari flu Spanyol 1918, SARS 2003, MERS 2012, hingga COVID-19. Namun, prediksi spesifik tentang waktu dan jenis patogen sulit dilakukan. Dan yang jelas, risiko tertinggi akan datang dari penyakit zoonosis khususnya virus,” lanjut dia.

    Untuk mencegah terjadinya pandemi baru, organisasi seperti WHO dan jaringan ilmuwan global terus melakukan surveilans terhadap patogen-patogen baru. Terutama yang berasal dari zoonosis atau penyakit dari hewan ke manusia.

    Dari sisi sistem kesehatan, Dicky menekankan perlunya fokus untuk penguatan sistem kesehatan masyarakat. Itu termasuk vaksinasi, laboratorium, dan respons cepat terhadap wabah.

    “Jadi, meskipun pandemi tidak bisa diprediksi secara pasti, masyarakat dan pemerintah harus selalu berada dalam kondisi siap siaga,” lanjutnya.

    NEXT: Kata pakar soal bio weapon

    Simak Video “Video: Kemenkes Bantah Narasi Pandemi Covid-19 Sebagai Rekayasa Global”
    [Gambas:Video 20detik]

  • Jahe Bisa Membantu Mengobati Penyakit Apa Saja? Ini Daftarnya

    Jahe Bisa Membantu Mengobati Penyakit Apa Saja? Ini Daftarnya

    Jakarta

    Jahe merupakan salah satu rempah-rempah yang biasa diolah masyarakat Indonesia menjadi makanan, minuman, atau bumbu masak. Selain itu, jahe juga dikenal sebagai obat herbal tradisional dengan beragam kandungan nutrisi dan manfaat kesehatannya.

    Dikutip dari Healthline, jahe mengandung gingerol yakni senyawa bioaktif utama yang memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan kuat. Menurut penelitian, gingerol dapat membantu mengurangi stres oksidatif yang diakibatkan oleh terlalu banyaknya radikal bebas dalam tubuh.

    Jahe sendiri dapat dikonsumsi setiap hari namun dengan dosis sesuai anjuran.

    Dikutip dari UCLA Health, para ahli merekomendasikan tiga sampai empat gram per hari, tapi batasi menjadi satu gram per hari pada ibu hamil.

    Lalu, apa saja penyakit yang bisa dibantu diobati dengan mengonsumsi jahe?

    Jahe mungkin efektif melawan mual, termasuk mual terkait kehamilan, yang umumnya dikenal sebagai morning sickness. Jahe dapat membantu meredakan mual dan muntah pada orang yang menjalani jenis operasi tertentu, dan juga dapat membantu mengurangi mual terkait kemoterapi .

    Meskipun secara umum aman, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi dalam jumlah besar jika Anda sedang hamil.

    Kondisi Osteoartritis (OA) melibatkan degenerasi sendi yang menimbulkan gejala seperti nyeri sendi dan kekakuan.

    Satu ulasan menyimpulkan bahwa jahe dapat membantu mengurangi rasa sakit dan kecacatan. Para peserta mengonsumsi 0,5 hingga 1 gram jahe per hari selama 3 hingga 12 minggu, tergantung pada penelitiannya. Sebagian besar dari mereka didiagnosis mengidap OA lutut.

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jahe kemungkinan memiliki sifat anti-diabetes. Sebuah penelitian pada tahun 202 menemukan pengurangan yang signifikan dalam gula darah puasa dan HbA1c pada orang dengan diabetes tipe 2 setelah mengonsumsi suplemen jahe.

    HbA1c sendiri digunakan untuk mengukur kadar gula yang menempel dan menumpuk dalam darah. Jika kadar HbA1c tinggi, artinya tubuh tidak bisa menggunakan glukosa dalam tubuh dengan baik.

    Tingginya kolesterol jahat (Low Density Lipoprotein/LDL) diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Jahe sendiri memiliki khasiat untuk membantu menurunkan kolesterol jahat tersebut.

    Sebuah penelitian pada tahun 2022 para peneliti menemukan bahwa konsumsi jahe secara signifikan mengurangi trigliserida dan kolesterol LDL, sekaligus meningkatkan kolesterol HDL (High Density Lipoprotein). Bahkan dosis kurang dari 1.500 mg per hari tetap efektif.

    Beberapa riset menunjukkan bahwa 6-shogaol dan 6-gingerol yakni senyawa dalam jahe dapat membantu mencegah penyakit degeneratif seperti alzheimer, penyakit parkinson, dan multiple sclerosis.

    Stres oksidatif dan peradangan kronis mungkin menjadi pendorong utama penyakit alzheimer dan penurunan kognitif terkait usia.

    Beberapa hewan studi menunjukkan antioksidan dan senyawa bioaktif dalam jahe dapat menghambat respons peradangan yang terjadi di otak. Hal ini dapat membantu mencegah penurunan kognitif.

    Jahe dapat membantu mengelola gangguan pencernaan dengan mempercepat perjalanan makanan melalui lambung. Dispepsia fungsional terjadi ketika seseorang mengalami gangguan pencernaan dengan gejala seperti nyeri perut, kembung, merasa terlalu kenyang, bersendawa, dan mual tanpa alasan yang jelas.

    Dalam sebuah penelitian, ilmuwan menemukan bahwa mengonsumsi olahan jahe dan artichoke sebelum makan makanan utama secara signifikan memperbaiki gejala gangguan pencernaan pada orang dengan dispepsia fungsional.

    (dpy/kna)

  • Wanita Ini Idap Kondisi Langka, Jantungnya Ada di Sebelah Kanan

    Wanita Ini Idap Kondisi Langka, Jantungnya Ada di Sebelah Kanan

    Jakarta

    Beberapa individu dilahirkan dengan kondisi medis yang sangat langka, seperti organ-organ vital berada di posisi yang terbalik.

    Sebagian orang mungkin merasa aneh dan bingung mendengar tentang kondisi medis langka seperti ini, bahkan sempat mengira hanya mengalami asam lambung biasa.

    Namun, ternyata kondisi ini dialami oleh Monarani Das, seorang wanita asal Bangladesh yang baru-baru ini menjadi sorotan media.

    Beberapa tahun lalu, Monarani Das merasakan nyeri di dada sebelah kanan. Anggota keluarganya mengira dia mengidap asam lambung atau nyeri ulu hati.

    Namun, mereka tidak menyangka bahwa wanita berusia 52 tahun tersebut mengidap kelainan langka yang memaksanya melakukan perjalanan dari Bangladesh ke India untuk mendapatkan perawatan medis.

    Dikutip dari BBC, Das mengungkapkan bagaimana gejala awal penyakitnya muncul.

    “Beberapa hari setelah rasa sakit mulai muncul di sisi kanan dada saya, saya mulai kesulitan bernapas,” ujarnya.

    Tak lama kemudian, serangan jantung pun terjadi. Ketika mendapatkan perawatan di rumah sakit, para dokter menyadari adanya kejanggalan pada jantungnya.

    “Para dokter menyadari bahwa jantung saya berada di sisi kanan dada,” kata Das.

    Dokter di kampung halamannya di Sathkira, sebuah kota di barat daya Bangladesh, mendiagnosisnya dengan dekstrokardia, kelainan jantung bawaan yang menyebabkan jantung berada di sisi kanan dada, bukan kiri.

    Selain itu, Das juga didiagnosis mengidap situs inversus, suatu kondisi langka di mana organ-organ vital utama tubuh terbalik posisinya, seperti hati, paru-paru, limpa, dan perut yang berada di sisi berlawanan dengan anatomi tubuh normal.

    Menurut penelitian, dekstrokardia dapat terjadi pada sekitar 1 dari setiap 12.000 kehamilan.

    Karena kondisi Das yang tidak kunjung membaik, keluarganya memutuskan untuk membawa Das ke Kolkata, India, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

    Banyak warga Bangladesh yang memilih berobat ke India karena dianggap memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik. Dokter spesialis jantung, Siddhart Mukherjee, memeriksa Das di Rumah Sakit Manipal Broadway dan melakukan operasi pada Mei lalu.

    “Cukup sulit mengoperasi pasien yang mengidap dekstrokardia,” kata Siddhart Mukherjee.

    “karena kami pada umumnya tidak kidal dan mengoperasi di sisi kanan pasien. Dalam kasus ini, kami harus mengoperasi sisi kiri pasien, yang merupakan hal baru, namun semua tim kami beradaptasi dengan situasi tersebut,” tambahnya.

    Operasi berjalan lancar, dan Monarani Das kini telah kembali ke Bangladesh. Dalam waktu dekat, dia akan kembali ke India untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

    (kna/kna)

  • Wanita Ini Sukses Pangkas BB Hingga 109 Kg, Perubahannya Bikin Pangling!

    Wanita Ini Sukses Pangkas BB Hingga 109 Kg, Perubahannya Bikin Pangling!

    Jakarta

    Mencapai berat badan ideal sering kali menjadi tantangan besar, terutama jika memulai dari kondisi yang jauh dari harapan. Namun, Johnna Byrd, melalui akun Instagram-nya @johnnnarose membuktikan bahwa dengan tekad dan konsistensi, perubahan besar bukanlah hal yang mustahil.

    Johnna yang tinggal di Nevada, Amerika Serikat, memulai perjalanan dietnya dengan pola makan sehat tanpa olahraga intens. Ia berhasil menurunkan 29 kilogram dalam waktu 3,5 bulan dari beratnya 357 lbs atau setara 161 kg. Keberhasilan ini menjadi dorongan baginya untuk terus melangkah. Ia bergabung dengan program kebugaran dan menargetkan transformasi tubuh yang lebih signifikan.

    “Tujuan kecil berubah menjadi pencapaian besar,” tulisnya pada akun Instagram-nya di Januari 2020.

    Perjalanan itu berlanjut dengan hasil luar biasa. Dalam waktu 6 bulan, berat badannya turun 40 kilogram. Pada April 2020, ia mencatat penurunan hingga 45 kilogram. Tentunya perubahan ini tidak hanya soal angka, tetapi juga tentang perubahan gaya hidup dan kebiasaan yang ia bangun.

    Untuk mencapai hasil yang lebih maksimal, Johnna menjalani operasi penurunan berat badan yang dilakukan oleh Dr Marc Leduc. Meskipun pemulihan berjalan sulit, termasuk harus keluar masuk rumah sakit selama tiga bulan, ia menyebut keputusan ini sebagai salah satu yang terbaik dalam hidupnya.

    “62 kilogram turun, hidup saya berubah selamanya,” tulisnya.

    Pada April 2021, Johnna juga memutuskan untuk menemui terapis, sebuah langkah yang membantunya memahami dampak obesitas terhadap kesehatan mentalnya.

    “Kita semua adalah manusia dan kita semua membuat keputusan yang buruk dan kesalahan yang mengerikan. kita harus terus bergerak maju ke arah yang benar dan melakukan hal yang benar berikutnya,” tulisnya untuk memotivasi para pengikutnya di Instagram-nya.

    Pada 2021, Johnna menghadapi tantangan sebagai single mom, yaitu menjalani kehamilan dengan komplikasi yang berat. Meski begitu, ia tetap teguh untuk menjadi versi terbaik dirinya demi anaknya.

    Dalam unggahan pada April 2022, sambil menggendong buah hatinya, ia menulis, “Kesehatan mental sangat penting, tetapi saya sedang dalam terapi untuk itu sekarang, dan saya tidak bisa lebih bahagia lagi dengan arah hidup saya.”

    Puncaknya terlihat jelas pada September 2024. Johnna membagikan perubahan signifikan, ia berhasil menurunkan berat badan dari 161 kilogram menjadi 52 kilogram. Dalam video terbarunya pada November 2024, sekarang usianya 30 tahun, ia membandingkan dirinya dengan jeans lamanya, menunjukkan perubahan yang sangat signifikan pada berat badannya.

    “Jika Anda pernah meragukan perjalanan Anda, ketahuilah bahwa perjalanan Anda akan menjadi lebih baik & ada cahaya di ujung terowongan,” tulisnya pada April 2022, memberikan semangat kepada siapa saja yang ingin mengubah hidup seperti dirinya.

    (suc/suc)

  • Fakta-fakta Wanita Jaktim Kena Pneumonia, Dikira Cuma ‘Masuk Angin’ Biasa

    Fakta-fakta Wanita Jaktim Kena Pneumonia, Dikira Cuma ‘Masuk Angin’ Biasa

    Jakarta

    Seorang wanita di Jakarta Timur bernama Nadya (23) menceritakan kisahnya mengidap pneumonia atau radang paru-paru. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi patogen, seperti virus, jamur, hingga bakteri. Kondisi ini biasanya disebut ‘paru-paru basah’ oleh orang awam.

    Nadya menceritakan bahwa kejadian tersebut bermula pada pertengahan Agustus 2024. Pada saat itu ia sedang bekerja di kantornya dan tiba-tiba mengalami gejala sesak napas.

    Alami Sesak Napas dan Batuk Berdahak

    Ketika pertama kali merasakan sesak napas, Nadya mengira itu terjadi karena baju yang ia kenakan terlalu ketat atau sedang masuk angin. Kondisi Nadya terus memburuk, bahkan ia sampai terjongkok karena mengalami nyeri yang hebat di dadanya.

    “Sesak napas pas lagi kejadian di kantor. Itu lagi dalam kondisi nggak kenapa-napa. Awalnya melakukan aktivitas biasa, kaya kerja gitu kan,” katanya saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

    “Tetap nggak bisa kekontrol juga kan. Terus disuruh kayak yaudah tahan dulu ya, tahan gitu kan. Dan di situ karena mungkin yang bikin tambah sesaknya itu karena aku nangis juga,” sambungnya.

    Selain mengalami sesak napas, Nadya juga mengalami batuk berdahak dan demam. Melihat kondisi Nadya, rekan kerja membawa ia ke IGD RSUD Pasar Minggu di Jakarta Selatan untuk mendapatkan perawatan.

    Sempat Didiagnosa Bronkitis

    Awalnya Nadya didiagnosis mengidap bronkitis oleh dokter. Ia bahkan sampai harus dirawat seminggu di rumah sakit karena kondisinya tersebut.

    Dua hari setelah dirawat, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit yang sama dan bertemu dengan spesialis paru. Ketika diperiksa lebih lanjut, dokter mendiagnosis Nadya terkena infeksi paru-paru atau pneumonia yang disebabkan oleh virus. Hal ini diketahui dari hasil rontgen yang memperlihatkan seperti ada luka di paru-parunya.

    Nadya menceritakan bahwa pneumonia yang dialaminya disebabkan oleh lingkungan dan polusi udara. Selain itu ia juga memiliki kebiasaan vaping selama 2 tahun dan sering berada di lingkungan yang penuh asap rokok. Nadya juga jarang mengenakan masker saat keluar rumah.

    “Aku termasuk orang yang nggak pernah pakai masker kalau keluar rumah. sedangkan aku itu kan suka berkendara sendiri, membawa motor, atau suka kemana-mana sendiri, itu aku nggak pernah pakai jaket, nggak pernah pakai masker, dan itu ternyata berpengaruh banget buat pernapasannya,” jelasnya.

    NEXT: Efek polusi pada kasus pneumonia

  • Mandi Malam Disebut Bisa Picu Pneumonia pada Anak, Mitos atau Fakta?

    Mandi Malam Disebut Bisa Picu Pneumonia pada Anak, Mitos atau Fakta?

    Jakarta

    Kebiasaan mandi malam tak jarang dianggap oleh masyarakat sebagai salah satu pemicu pneumonia pada anak. Sebenarnya apakah hal ini benar adanya?

    Pneumonia atau radang paru sendiri merupakan penyakit penyebab kematian anak terbanyak di Indonesia. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh infeksi dari bakteri, virus, jamur, dan patogen-patogen lainnya.

    Spesialis anak konsultan respirologi dr Wahyuni Indawati, SpA(K) menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak ada bukti medis yang mengaitkan kebiasaan mandi malam dengan pneumonia. Meski begitu, dr Wahyuni mengatakan mandi malam dapat memengaruhi suhu tubuh cukup signifikan.

    Terlebih apabila anak memang berada dalam kondisi yang kurang sehat, kondisi ini mungkin akan lebih membebani kesehatan tubuh anak.

    “Seringkali misalnya orang yang mandi malam hari itu akan mengubah suhu tubuhnya ya, apalagi kalau mandinya dengan air dingin, sehingga mengubah suhu tubuhnya. Sehingga kalau memang kebetulan anak tersebut sedang kurang sehat, di mana thermostat tubuhnya juga tidak baik, itu jadi nggak bagus,” kata dr Wahyuni ketika ditemui awak media beberapa waktu lalu.

    Infeksi bakteri streptococcus pneumoniae merupakan penyebab radang paru terbanyak yang pernah ditemukan. dr Wahyuni mengatakan bakteri tersebut menyebabkan 50 persen dari seluruh kasus pneumonia pada anak.

    Selain infeksi bakteri streptococcus pneumoniae, pemicu pneumonia 20 persen disebabkan oleh virus influenza, dan sisanya disebabkan oleh infeksi fungsi dan virus-virus lainnya.

    dr Wahyuni menjelaskan ada beberapa faktor risiko yang dapat membuat anak lebih rentan terhadap pneumonia. Misalnya karena tidak mendapatkan ASI eksklusif dari orang tua, atau tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap.

    Imunisasi menjadi penting lantaran beberapa jenis penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi memiliki risiko komplikasi pneumonia.

    “Selain itu juga malnutrisi. Banyak sekali bayi-bayi prematur ini mempunyai risiko terhadap berbagai macam penyakit. Paparan polusi, asap rokok, kemudian anak kita banyak yang mengalami kondisi tertentu yang mengganggu kekebalan tubuhnya,” tandasnya.

    (avk/suc)

  • Ini Rekomendasi Olahraga Indoor saat Polusi Udara Lagi ‘Ugal-ugalan’

    Ini Rekomendasi Olahraga Indoor saat Polusi Udara Lagi ‘Ugal-ugalan’

    Jakarta

    Beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI Jakarta terpantau memiliki kualitas udara yang kurang baik dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini akhirnya membuat masyarakat menjadi ragu untuk berolahraga karena dampaknya pada kesehatan.

    Terlebih, ada banyak masyarakat yang tidak memiliki akses ke pusat kebugaran, dan menjadikan area outdoor sebagai tempat olahraga utama.

    Spesialis kedokteran olahraga dr Andhika Respati, SpKO menyarankan olahraga indoor atau dalam ruangan lebih disarankan ketika polusi sedang tinggi. Menurutnya ini penting untuk membatasi paparan polutan yang mungkin saja dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.

    “Terutama apabila kita punya penyakit asma, masalah pernapasan, itu harus lebih hati-hati lagi, untuk berolahraga di luar saat polusi udara lagi tinggi,” kata dr Andhika ketika dihubungi oleh detikcom, Selasa (19/11/2024).

    dr Andhika menyebut sebenarnya ada banyak alternatif olahraga yang bisa dilakukan di dalam rumah. Menurutnya olahraga secara efektif di rumah tidak harus menggunakan alat kebugaran seperti treadmill misalnya.

    Ada banyak pilihan olahraga indoor yang bisa dilakukan dengan mudah di dalam rumah dan tidak memakan area yang besar di rumah.

    “Sometimes dengan alat khusus misalnya kayak skipping itu kan juga merupakan olahraga indoor yang tidak membutuhkan banyak space,” ujar dr Andhika.

    “Atau misalnya dengan senam aerobik yang bermodalkan ngeliat Youtube, ikutin gerakan-gerakannya sambil dengar musik seru-seruan, itu kan juga sesuatu yang bisa dikerjakan saat di indoor gitu,” sambungnya.

    Lalu bagaimana bila masyarakat terpaksa harus berolahraga di luar ruangan? dr Andhika menyarankan masyarakat untuk aktif melihat kualitas udara di lingkungan masing-masing sebelum berolahraga. Kualitas udara dan tingkat polusi di tiap daerah bisa sangat berbeda.

    Selain itu, mempersingkat durasi olahraga juga disarankan oleh dr Andhika. Menurutnya ini penting untuk membatasi paparan polutan yang mungkin bisa masuk ke dalam tubuh selama berolahraga.

    “Mesti memperhatikan, bisa membaca gitu ‘kira-kira daerah saya, di area saya ini udaranya lebih bersih kapan sih?’ Kemudian ya mungkin kalau misalnya terpaksa harus terpapar gitu ya dengan udara yang tidak sehat, mungkin jangan terlalu lama. Durasinya mungkin bisa dipersingkat sehingga paparannya juga nggak semakin banyak,” tandasnya.

    Lihat juga video: Peresmian Perkumpulan Olahraga Tarian Baris Indonesia (POTBI), Dilakukan Hari Ini!

    (avk/suc)

  • Si Paling Sering Ngeluh saat Bekerja, Ada Apa dengan Gen Z?

    Si Paling Sering Ngeluh saat Bekerja, Ada Apa dengan Gen Z?

    Jakarta – Generasi Z disebut jadi yang paling sering mengeluh soal tekanan dalam bekerja. Psikolog sebut hal ini disebabkan oleh faktor pola asuh orang tua yang suka memanjakan anaknya, sehingga anak tidak bisa menghadapi konflik dalam dunia kerja.

    (/)

  • Perusahaan di China Ini Bagi-bagi Insentif Buat Karyawan yang Mau Kencan

    Perusahaan di China Ini Bagi-bagi Insentif Buat Karyawan yang Mau Kencan

    Jakarta

    Sebuah perusahaan di China selatan akan memberikan insentif tunai khusus untuk karyawannya. Hal ini untuk mendorong para karyawan yang masih lajang pergi berkencan dan memiliki kebahagiaan.

    Salah satu perusahaan yang menerapkan hal tersebut di China adalah perusahaan kamera yang berbasis di Shenzhen, Insta360. Perusahaan itu melakukannya untuk mendukung hubungan percintaan para karyawannya.

    Pihaknya berjanji untuk memberikan penghargaan kepada pekerja sebesar 66 yuan atau sekitar 144 ribu rupiah, untuk setiap postingan dengan tujuan memperkenalkan pasangannya di platform kencan daring.

    Jika seorang karyawan berhasil menemukan jodoh dari luar perusahaan dan mempertahankan hubungan mereka selama tiga bulan, perusahaan akan memberi penghargaan kepada setiap pasangan dan pencari jodoh sebesar 1.000 yuan atau sekitar 2,1 juta rupiah.

    Ternyata, cara ini membuat para karyawan sangat antusias. Seorang anggota staf mengungkapkan hampir 500 unggahan telah dipublikasi di forum perusahaan hingga 11 November 2024.

    Perusahaan juga telah membagikan insentif tunai kepada orang yang mengunggahnya dengan total hampir 10.000 yuan atau lebih dari 21 juta rupiah. Namun, karena program itu baru dimulai kurang dari tiga bulan, mereka belum memberikan bonus untuk kencan.

    Dikutip dari South China Morning Post, perusahaan mengungkapkan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan rasa memiliki dan kebahagian karyawan, termasuk soal pasangan hidup. Bahkan, cara ini diterima dengan baik oleh karyawannya.

    “Perusahaan saya lebih bersemangat daripada ibu saya,” kata seorang karyawan bercanda.

    Di media sosial, banyak warganet yang merasa rasa iri dengan nasib para karyawan di perusahaan tersebut. Tak jarang mereka menyindir pemerintah agar bisa melakukan cara yang sama dalam mengatasi populasi di negaranya.

    “Apakah perusahaan memiliki rencana perekrutan?” ungkap salah satu warganet.

    “Pemerintah harus mengikutinya,” sindir mereka.

    Namun, tidak semua reaksi positif. Salah satu orang tidak menyetujui insentif tersebut. Ia merasa perasaan cinta seseorang tidak bisa dibeli dengan uang.

    “Cinta tidak boleh diukur dengan uang,” pungkasnya.

    Sebagai informasi, beberapa tahun terakhir, China terus mengalami penurunan angka pernikahan. Menurut catatan pemerintah China terbaru, 4,74 juta pasangan telah mendaftarkan pernikahan pada tiga kuartal pertama tahun 2024. Angka tersebut mencerminkan penurunan 16,6 persen dari 5,69 juta yang terdaftar selama periode yang sama tahun lalu.

    Selain itu, angka kelahiran negara itu mencapai rekor terendah tahun lalu, turun dari 6,77 kelahiran per 1.000 pada tahun 2022 menjadi 6,39 kelahiran pada tahun 2023.

    (sao/suc)