Category: Detik.com Kesehatan

  • Kemenkes Imbau untuk Kurangi Paparan Polusi Udara

    Kemenkes Imbau untuk Kurangi Paparan Polusi Udara

    Jakarta – Polusi udara menjadi penyebab utama terjadinya penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Kemenkes imbau agar warga menggunakan transportasi umum dan ramah lingkungan hingga mengedukasi masyarakat terkait indeks kualitas udara melalui aplikasi Satu Sehat.

    (/)

  • Mayapada Hospital Bisa Tangani Bengkak Pasca Terapi Kanker Payudara

    Mayapada Hospital Bisa Tangani Bengkak Pasca Terapi Kanker Payudara

    Jakarta

    Mayapada Hospital menawarkan solusi penanganan limfedema pasca-pengobatan kanker payudara, termasuk prosedur canggih Lymphaticovenous Anastomosis (LVA) dengan dukungan teknologi Kinevo 900. Layanan ini tersedia di Oncology Center dengan pendekatan komprehensif dan standar internasional.

    Setelah menjalani pengobatan kanker payudara seperti operasi atau radioterapi, terdapat risiko pembengkakan di bagian tubuh tertentu seperti lengan. Pembengkakan ini disebut limfedema, yang disebabkan oleh tersumbatnya atau tidak lancarnya aliran getah bening.

    Kelenjar getah bening yang diangkat pada saat operasi atau rusaknya kelenjar getah bening sebagai efek dari radioterapi pada area payudara dan ketiak. Sehingga, terjadi penumpukan cairan getah bening dan menyebabkan pembengkakan.

    Dokter Bayu Brahma, SpB(K)Onk dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjelaskan limfedema merupakan komplikasi yang sering dialami pasien pasca-terapi kanker payudara.

    “Namun, dapat pula terjadi karena faktor obesitas atau penambahan berat badan setelah operasi, dan cedera pada anggota badan,” ujar dr. Bayu dalam keterangan tertulis, Kamis (21/11/2024).

    Gejala awal limfedema termasuk pembengkakan pada lengan, sensasi berat dan nyeri, kulit kencang, mati rasa atau kesemutan, kelelahan pada lengan, serta pengerasan dan penebalan kulit (fibrosis kulit).

    Segera konsultasikan dengan dokter spesialis onkologi jika gejala limfedema muncul, agar penanganan dapat dilakukan lebih awal untuk mencegah perburukan. Layanan Oncology Center Mayapada Hospital menyediakan penanganan komprehensif untuk tumor, kanker, dan limfedema dengan teknologi medis terkini.

    Meskipun limfedema tidak mengancam jiwa, kondisi ini dapat berdampak besar pada kualitas hidup. Misalnya, menyebabkan pembengkakan pada lengan yang mempengaruhi penampilan dan fungsi, menghambat aktivitas sehari-hari, menurunkan kemampuan penyembuhan jaringan, menyebabkan nyeri kronis, dan meningkatkan risiko infeksi kulit (selulitis) yang mungkin memerlukan antibiotik dan rawat inap.

    Dalam beberapa kasus di mana terapi standar seperti fisioterapi dan pemakaian korset lengan tidak efektif, limfedema dapat ditangani dengan prosedur pembedahan Anastomosis Vena Limfatik (LVA). Prosedur ini melibatkan bedah mikro untuk menghubungkan pembuluh limfatik sehat ke pembuluh darah vena kecil di dekatnya. Prosedur LVA termasuk layanan canggih di Oncology Center Mayapada Hospital dan dilakukan oleh ahli bedah onkologi mikro berpengalaman.

    dr. Bayu menjelaskan prosedur LVA bertujuan untuk membuat jalur baru bagi cairan getah bening yang menumpuk agar kembali ke sistem peredaran darah di lengan, sehingga pembengkakan dapat berkurang.

    “Tindakan ini dapat dilakukan bersamaan dengan pengangkatan massa tumor/kanker payudara dan pengangkatan kelenjar getah bening, dan dilakukan jika pengangkatan kelenjar getah bening yang cukup banyak untuk mencegah penyebaran kanker, ataupun dilakukan kemudian hari setelah timbulnya limfedema berat,” imbuhnya.

    LVA didukung oleh teknologi medis Kinevo 900, mikroskop bedah dengan visualisasi robotik yang menggabungkan teknologi optik dan digital. Mikroskop ini membantu dokter bedah dalam prosedur yang melibatkan pembuluh darah, limfe, dan saraf, termasuk pembedahan LVA dan operasi tumor atau kanker.

    Penanganan limfedema di Oncology Center Mayapada Hospital didukung oleh teknologi medis terkini untuk prosedur kompleks seperti LVA dan transplantasi getah bening. Oncology Center ini juga memiliki tim dokter multidisiplin yang berkolaborasi dalam menangani kasus kanker dan kelainan darah.

    Oncology Center Mayapada Hospital menyediakan pelayanan komprehensif, termasuk perawatan pasca pengobatan kanker dan kasus limfedema. Setiap langkah perawatan pasien didampingi oleh tim Patient Navigator yang berpengalaman. Layanan ini mengikuti standar protokol internasional yang ketat dan dilengkapi oleh Tumor Board yang aktif memberikan rencana perawatan yang tepat.

    Konsultasi dan pemeriksaan gejala limfedema atau kanker bersama tim dokter di Oncology Center Mayapada Hospital dapat dilakukan melalui aplikasi MyCare. Melalui aplikasi ini, pasien dapat melihat jadwal dokter dan melakukan penjadwalan sesi konsultasi dengan mudah dan cepat.

    MyCare juga memudahkan pasien untuk mendapatkan nomor antrean lebih awal dan transaksi layanan yang cepat, karena terhubung dengan berbagai metode pembayaran. Informasi lengkap seputar penanganan kasus dan layanan di Oncology Center dapat diakses melalui ragam artikel kesehatan yang ada di MyCare.

    Unduh MyCare di Google Play Store atau App Store untuk kemudahan layanan dan dapatkan reward point saat registrasi pertama yang bisa digunakan untuk potongan harga layanan.

    (akn/ega)

  • Jangan Sampai Keliru, Ini Beda Nyeri Punggung Biasa Vs Saraf Kejepit

    Jangan Sampai Keliru, Ini Beda Nyeri Punggung Biasa Vs Saraf Kejepit

    Jakarta

    Saraf kejepit menjadi suatu masalah yang sering diabaikan namun dapat berdampak serius jika tidak ditangani dengan tepat.

    Saraf kejepit tidak hanya menyebabkan nyeri pada punggung, kondisi ini bisa memengaruhi aktivitas sehari-hari.

    “Sebenarnya pada saat kita mulai sakit punggung itu sebagai peringatan dari tubuh kita,” ucap spesialis ortopedi tulang belakang dr Jephtah Tobing, SpOT-K.Spine dari Siloam Hospital Lippo Village.

    [Gambas:Instagram]

    Rasa nyeri ini seharusnya menjadi peringatan bahwa aktivitas sehari-hati atau postur yang salah telah mengganggu kesehatan tubuh. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa ini merupakan peringatan dini.

    Alih-alih mengubah kebiasaan buruk, orang dengan kondisi tersebut sering hanya mengandalkan obat untuk meredakan nyeri tanpa menyelesaikan akar permasalahannya.

    “Biasanya habis minum obat terus sembuh, kebiasaannya tetap nggak diubah. Main hp 8 jam duduk terus, main game juga, nggak gerak, ototnya jadi nggak kuat,” kata dr Jephtah.

    “Bedanya sama sakit punggung atau nyeri pinggang biasa itu, kalo saraf kejepit lama-lama ngilu punggungnya terus menjalar ke bagian belakang bahkan bisa sampai ngilu ke kaki,” tambah dr Jephtah.

    Hal seperti ini jika dibiarkan bisa menyebabkan ketidaknyamanan yang terus-menerus. Penting untuk memahami tanda-tanda awal dan segera melakukan perubahan gaya hidup untuk mencegah kondisi ini bertambah parah.

    (kna/kna)

  • Heboh Pejabat di Swedia Punya Fobia Aneh, Takut Ketemu Pisang

    Heboh Pejabat di Swedia Punya Fobia Aneh, Takut Ketemu Pisang

    Jakarta

    Seorang menteri Swedia yang punya ketakutan dengan pisang menjadi bahan perbincangan di seluruh negeri setelah email yang bocor mengungkapkan stafnya berusaha “mensterilkan” ruangan di manapun dari pisang sebelum dia masuk.

    Menteri Kesetaraan Gender dan Kehidupan Kerja Swedia Paulina Brandberg sebelumnya telah mengakui masalahnya dengan pisang, menyebutnya sebagai “fobia paling aneh di dunia”.

    Email tersebut dikirimkan sebelum kunjungan resmi, termasuk makan siang VIP, meminta “tidak ada pisang” untuk diizinkan di tempat tertentu dan merujuk pada Brandberg yang memiliki “alergi kuat” terhadap buah tersebut.

    Dalam menanggapi Expressen, menteri partai Liberal mengonfirmasi bahwa itu adalah fobia, tetapi menggambarkan dampaknya padanya sebagai “semacam alergi” dan “sesuatu yang saya dapatkan bantuan profesional untuknya”.

    Dikutip dari BBC, meski jarang terjadi, bananaphobia dapat dipicu oleh melihat atau mencium bau buah dan dapat menyebabkan gejala serius seperti kecemasan dan mual.

    Hanya segelintir orang yang diketahui menderita ketakutan akan pisang dari seluruh dunia. Sebagian besar kasus dimulai pada masa kanak-kanak, ketika seseorang dipaksa makan pisang oleh orang tua atau pengasuh sampai batas yang menyebabkan sakit perut atau muntah. Pisang sering memiliki tekstur yang berlendir dan tidak semua orang menyukai rasa atau baunya.

    Banyak yang mengklaim bahwa tekstur pisang yang terlalu matang mirip dengan memakan “siput”. Otak belajar untuk meninjau kembali perasaan buruk itu berulang kali terutama ketika seseorang mengalami stres atau situasi penyebab kecemasan, seperti melihat seseorang memakan pisang.

    (kna/kna)

  • Mayapada Hospital Punya Teknologi VABB untuk Biopsi Payudara Minim Sayatan

    Mayapada Hospital Punya Teknologi VABB untuk Biopsi Payudara Minim Sayatan

    Jakarta

    Mayapada Hospital menawarkan teknologi canggih Vacuum Assisted Breast Biopsy (VABB) untuk biopsi payudara yang minimal sayatan, akurat, dan mempercepat pemulihan pasien. Didukung layanan terpadu di Oncology Center dan Mayapada Breast Clinic, pasien kini dapat menjalani diagnosis dan pengobatan kanker payudara secara komprehensif.

    Seperti yang diketahui, biopsi adalah metode utama untuk mendiagnosis kanker payudara dengan mengambil jaringan dari area yang dicurigai dan memeriksanya di laboratorium untuk mendeteksi keberadaan sel kanker.

    Dokter Francisca Badudu, dokter spesialis bedah onkologi di Mayapada Hospital Bandung, menjelaskan melakukan biopsi payudara tidak selalu berarti menderita kanker. Kebanyakan hasil biopsi dari tumor bukan kanker, namun biopsi adalah satu-satunya cara pasti untuk mendeteksi keganasan.

    “Biopsi payudara tidak berbahaya dan tidak menyebabkan sel kanker menjadi menyebar, seperti banyak mitos yang tersebar,” ujar Dokter Francisca dalam keterangan tertulis, Kamis (21/11/2024).

    Pada prosedur VABB, dokter menggunakan alat radiologi untuk melokalisir area tumor sebelum mengambil sampel dengan alat vakum canggih. Dokter Francisca mengatakan teknologi VABB menawarkan beberapa keunggulan seperti luka sayat minimal, risiko infeksi lebih rendah, durasi tindakan lebih cepat, akurasi lebih tinggi, dan pemulihan pasca-tindakan yang lebih cepat.

    Dokter Bayu Brahma, dokter spesialis bedah onkologi di Mayapada Hospital Jakarta Selatan mengatakan teknik VABB sangat bermanfaat untuk kasus yang tidak memerlukan biopsi bedah, seperti tumor yang dicurigai jinak.

    “Pada kasus tumor jinak dengan kondisi tertentu, contohnya berukuran sangat kecil, VABB bahkan bisa sekaligus dilakukan untuk mengangkat tumor secara keseluruhan, sehingga pasien tidak membutuhkan operasi terbuka atau proses bedah yang lebih invasif,” kata Dokter Bayu.

    Teknik VABB di Oncology Center Mayapada Hospital dilakukan oleh tim dokter multidisiplin dalam menangani kanker secara komprehensif dan berstandar internasional. Oncology Center ini mengikuti protokol internasional, memiliki Tumor Board untuk merencanakan perawatan dan menyediakan Patient Navigator yang mendampingi pasien selama pengobatan.

    Oncology Center Mayapada Hospital kini memiliki Mayapada Breast Clinic di Mayapada Jakarta Selatan, menyediakan layanan satu pintu untuk pencegahan, deteksi dini, diagnosis, pengobatan, dan perawatan pasca-operasi kanker payudara.

    Jika Anda cemas terhadap tanda-tanda tak normal di payudara, segera konsultasi dan periksa secara komprehensif ke Mayapada Hospital. Anda dapat menggunakan aplikasi MyCare untuk melihat jadwal praktik dan melakukan booking appointment dengan dokter di Oncology Center Mayapada Hospital.

    Dengan MyCare, Anda dapat mengakses layanan kesehatan dengan lebih mudah dan mendapatkan nomor antrean lebih awal. Aplikasi ini juga terkoneksi dengan berbagai metode pembayaran untuk memudahkan transaksi layanan.

    Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang gejala dan tanda kanker payudara, pilihan pemeriksaan dini, serta penanganan canggih di Oncology Center Mayapada Hospital melalui fitur Health Articles & Tips di MyCare.

    Unduh aplikasi MyCare di Google Play Store atau App Store untuk kemudahan layanan dan reward point saat registrasi pertama.

    (akn/ega)

  • Viral Template ‘Earpods Berdarah’, Benarkah Telinga Bisa Perdarahan gara-gara Musik?

    Viral Template ‘Earpods Berdarah’, Benarkah Telinga Bisa Perdarahan gara-gara Musik?

    Jakarta

    Tren di media sosial makin hari agaknya kian beragam. Saat ini warganet sedang meramaikan template ‘Earpods Berdarah’ yang nantinya mereka bagikan di Instagram Story lengkap dengan satu judul lagu yang sering mereka putar.

    Sebagai informasi, template ‘Earpods Berdarah’ di Instagram ini merupakan template yang ingin mencoba mencari tahu tentang lagu favorit seseorang yang selalu mereka dengarkan. Di template ini juga tertulis takarir (caption) ‘Lagu apa yg rela lu puter terus sampe gendang telinga lu begini?’.

    Namun, apakah benar jika gelindang telinga manusia bermasalah akan timbul perdarahan?

    Menjawab hal ini, spesialis telinga hidung tenggorok-bedah kepala leher dr Harim Priyono, Sp.THT-KL mengatakan suara musik keras yang didengarkan berulang-ulang menggunakan earpods, atau TWS (true wireless stereo), memang bisa memicu adanya kerusakan pada gendang telinga.

    Kerusakan tersebut lebih ke gangguan pendengaran tipe sensorineural akibat kerusakan sel sensor suara (hair cell) di dalam rumah siput (cochlea).

    “Suara yang dihasilkan TWS (True Wireless Stereo) tidak mungkin membuat gendang telinga robek sampai berdarah,” kata dr Harim saat dihubungi detikcom, Kamis (21/11/2024).

    Namun, dr Harim menegaskan ada beberapa kondisi yang memang bisa menyebabkan timbulnya darah pada telinga, yakni infeksi. Selain itu bisa juga dipicu dari pemakaian TWS yang yang salah.

    “Saat pemakai menggunakan TWS, kulit liang telinga sedang ada peradangan, apapun penyebabnya baik infeksi dan lainnya,” kata dr Harim.

    “Pemakai memasukkan TWS terlalu dalam dan cara memasukkannya diputar-putar supaya mendapatkan kekedapan maksimal, dengan akibat terjadi lecet pada kulit liang telinga,” tutupnya.

    (dpy/kna)

  • Intermittent Fasting ala Rina Nose Biar Tetap Kurus, Ternyata Sesimpel Ini

    Intermittent Fasting ala Rina Nose Biar Tetap Kurus, Ternyata Sesimpel Ini

    Jakarta

    Tubuh ramping dan sehat yang dimiliki Rina Nose tentu menjadi dambaan banyak wanita. Demi mendapatkan bentuk tubuh ramping itu, selebritis kenamaan Indonesia tersebut mengaku menjalani metode intermittent fasting atau diet dengan jam makan tertentu.

    Rina Nose mengaku tidak memiliki pantangan makanan pada metode diet intermittent fasting-nya. Hanya saja, dirinya disiplin untuk makan hanya antara pukul satu siang hingga tujuh malam.

    Di luar jam tersebut, Rina mengatakan hanya menjaga tubuhnya tetap terhidrasi dengan baik dengan minum air putih.

    “Pokoknya makan tiap hari dimulai dari jam satu sampai jam tujuh. Nggak (makan) apapun (juga). Kalau nasi masih, sayur, makanan yang kayak gini kan dimasak semua,” ucap Rina Nose dikutip dari detikHot, Rabu (19/11/2024).

    Rina Nose mengatakan dirinya rutin mengonsumsi makanan tinggi protein untuk membantunya merasa kenyang lebih lama.

    Rekomendasi Makanan untuk Intermittent Fasting

    Demi memaksimalkan potensi manfaat kesehatan dari metode diet ini, penting untuk mengonsumsi makanan dan minuman utuh yang bergizi selama periode makan.

    Dikutip dari Healthline, mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi membantu melengkapi diet dan mendukung berat badan yang sehat. Cobalah untuk menyeimbangkan setiap waktu makan dengan berbagai macam makanan utuh seperti:

    Buah-buahan: apel, pisang, beri, jeruk, persik, pir, dan tomatSayuran: brokoli, kubis brussel, kembang kol, mentimun, sayuran berdaun hijau.Biji-bijian utuh: jelai, soba, quinoa, beras, gandum.Lemak sehat: minyak zaitun dan alpukatSumber protein: telur, ikan, kacang-kacangan, daging, unggas, kacang-kacangan, biji-bijian.

    Minuman bebas kalori seperti air putih dan teh serta kopi tanpa gula, bahkan saat berpuasa, juga membantu mengendalikan nafsu makan sekaligus menjaga tubuh tetap terhidrasi.

    Sebaiknya batasi makanan olahan seperti makanan ringan kemasan, makanan yang digoreng, minuman manis, dan sebagian besar makanan beku. Pasalnya, makanan jenis ini akan mengurangi efek positif dari diet yang telah dilakukan.

    NEXT: Manfaat Intermittent Fasting

  • India Utara Darurat Medis, Polusinya Masuk Kategori ‘Bahaya’

    India Utara Darurat Medis, Polusinya Masuk Kategori ‘Bahaya’

    Video: India Utara Darurat Medis, Polusinya Masuk Kategori ‘Bahaya’

    202 Views | Rabu, 20 Nov 2024 15:20 WIB

    India utara sedang alami keadaan darurat medis. Hal ini terjadi setelah tingkat polusi di ibu kota dan daerah pinggiran lainnya mencapai tingkat tertinggi musim ini.

    Tim 20Detik / Reuters – 20DETIK

  • Sering Makan Daging Merah Bisa Picu Kanker, Benarkah? Ini Faktanya

    Sering Makan Daging Merah Bisa Picu Kanker, Benarkah? Ini Faktanya

    Jakarta

    Salah satu kepercayaan di tengah masyarakat yang masih ada berkaitan dengan kesehatan adalah mengonsumsi daging merah dapat memicu penyakit kanker. Benarkah demikian?

    Spesialis gizi klinik Dr dr Nurul Ratna Mutu Manikam, MGizi, SpGK menjelaskan bahwa hubungan daging sapi secara alami dengan penyakit kanker masih belum sepenuhnya jelas. Namun, menurutnya ini bisa berkaitan erat dengan bagaimana daging merah itu diolah.

    dr Nurul mengatakan daging merah yang diolah dengan suhu tinggi, dipanggang, dibakar di atas api langsung hingga menimbulkan efek gosong dapat meningkatkan risiko kanker karena sifat karsinogenik yang muncul. Ketika diolah dengan suhu tinggi, daging merah dapat mengeluarkan senyawa karsinogenik seperti Heterocyclic amines dan Polycyclic aromatic hydrocarbons.

    Oleh karena itu, dr Nurul lebih menyarankan daging merah diolah dengan cara ditumis, dikukus, atau direbus untuk dibuat menjadi sup. Penggunaan rempah alami sebagai bumbu juga sangat disarankan.

    “Jadi risiko kanker payudaranya naik, kanker lambung naik, kanker usus besar naik, kanker rektum juga naik. Itu nanti melalui saluran cerna sehingga dapat menyebabkan kanker di area yang terpajan. Misalnya tenggorokan, lambung, sampai usus besar,” kata dr Nurul ketika ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2024).

    dr Nurul menekankan masyarakat boleh mengonsumsi daging merah selama porsinya tidak berlebihan atau dalam jumlah moderat. Terlebih banyak nutrisi baik yang bisa didapatkan dari daging merah tersebut. Jumlah yang disarankannya berkisar 350-500 gram setiap minggu.

    Alih-alih khawatir dengan daging merah, dr Nurul mengatakan daging olahan seperti sosis, nugget, hotdog justru harus diwaspadai. Makanan olahan yang sudah tidak berbentuk daging ini menurutnya justru sangat besar kaitannya dengan risiko kanker lebih besar.

    Sudah ada banyak penelitian juga yang mengaitkan daging olahan dengan risiko kanker.

    Daging olahan melalui proses pemanasan dan pengawetan yang panjang serta penambahan zat-zat kimia yang mungkin dapat meningkatkan risiko kanker. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi daging olahan sesedikit mungkin, dihindari lebih baik.

    “Daging merah yang jahat itu yang diproses. Jadi sosis, hotdog, smoke beef, ham. Itu kan enak banget. Bentukan dagingnya sudah nggak kelihatan dan dia tinggi natrium soalnya harus melalui proses pengolahan dan harus diawetkan, salah satunya dengan natrium yang tinggi,” tandasnya.

    (avk/suc)

  • Warning Buat yang Mageran, Duduk Lama Bisa Bikin Mati Muda

    Warning Buat yang Mageran, Duduk Lama Bisa Bikin Mati Muda

    Jakarta

    Sebuah penelitian baru yang dipublikasikan di American College of Cardiology menemukan bahwa duduk terlalu lama dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, bahkan jika seseorang rajin berolahraga.

    “Temuan kami benar-benar menekankan pentingnya menghindari duduk berlebihan… terlepas dari apakah Anda aktif secara fisik atau tidak,” kata penulis pertama studi dr Ezim Ajufo, seorang rekan kardiologi di Brigham and Women’s Hospital di Boston, dikutip CNN.

    Penelitian tersebut mengamati data dari hampir 90 ribu orang yang mengenakan akselerometer selama seminggu. Peneliti juga membandingkan waktu mereka yang tak aktif dan yang aktif, dengan diagnosis kondisi seperti stroke, serangan jantung, dan gagal jantung di kemudian hari.

    “Kami sungguh-sungguh merekomendasikan agar sebanyak mungkin orang menghindari duduk lebih dari 10,6 jam sehari,” kata dr Ajufo.

    “Itu bukan ambang batas yang pasti, tetapi kami pikir itu adalah langkah awal yang wajar untuk pedoman dan intervensi kesehatan masyarakat,” lanjutnya

    Data penelitian diambil dari UK Biobank, sebuah basis data penelitian biomedis besar yang utamanya mencakup individu kulit putih keturunan Eropa, yang mungkin membatasi penerapannya pada populasi yang lebih beragam.

    baca juga

    Penelitian ini juga bersifat observasional, yang berarti meskipun dapat membuat hubungan, namun tidak dapat membuktikan bahwa duduk merupakan penyebab langsung penyakit jantung.

    Alasan Duduk Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

    Meski begitu, Dr Keith Diaz, seorang profesor madya kedokteran perilaku di Columbia University Medical Center, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan masuk akal jika terlalu banyak duduk dalam sehari akan berdampak buruk.

    “Wajar saja jika duduk dalam waktu lama bisa berbahaya, karena otot berperan penting dalam mengatur kadar gula darah dan lemak. Agar berfungsi optimal, otot memerlukan gerakan,” kata Dr Diaz.

    “Mengambil jeda gerakan memberi otot Anda stimulasi yang dibutuhkannya, dan bahkan dalam jumlah sedikit pun dapat membuat perbedaan,” katanya.

    Bagi pekerja kantoran, termasuk waktu yang dihabiskan untuk bepergian ke dan dari tempat kerja, mungkin bisa menghabiskan duduk lebih dari 10,6 jam.

    “Jawabannya mungkin bukan dengan mendapatkan meja berdiri. Meskipun berdiri tentu saja tidak sama dengan duduk, namun berdiam di satu tempat seperti itu tidak memberikan otot Anda gerakan yang dibutuhkan untuk memecah gula dan lemak secara efisien,” katanya.

    “Meja sepeda atau treadmill mungkin bisa membantu. Anda juga bisa mencoba melihat apakah rapat kecil bisa dilakukan sambil berjalan kaki,” lanjutnya lagi.

    Meskipun secara luas duduk terlalu lama dapat berdampak negatif pada kesehatan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan risiko spesifik dan pedoman tentang apa yang dianggap sebagai terlalu banyak duduk.

    baca juga

    (suc/kna)