Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus rupanya sempat masuk rumah sakit di sela-sela agenda KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) G20 di Brasil. Namun, Tedros sudah keluar dari RS. Berikut pernyataan RS Samaritano Barra da Tijuca terkait kondisi Tedros…
Category: Detik.com Kesehatan
-

Erick Thohir Ungkap 2 Juta Warga RI Berobat ke LN Capai Devisa Rp 90 T
Pemerintah bangun RS bertaraf global di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan pariwisata Bali perlu didukung standarisasi kesehatan yang lebih tinggi. Sebab, Bali menjadi salah satu kota pariwisata yang kerap mendatangkan tokoh-tokoh terkemuka internasional.
-

Bikin Takjub! Nenek 59 Tahun Sukses Catat Rekor Dunia Push Up Terbanyak Wanita
Jakarta –
Seorang nenek berusia 59 tahun di Kanada bernama DonnaJean Wilde baru-baru ini sukses memecahkan rekor dunia push up kategori wanita. Tak tanggung-tanggung, DonnaJean berhasil menyelesaikan 1.575 push up dalam 60 menit.
Bagi seorang DonnaJean, prestasi ini bukanlah kali pertama. Sebelumnya, dirinya juga mampu memecahkan rekor dunia plank perut (wanita). Dirinya mampu menahan plank selama 4 jam 30 menit dan 11 detik.
DonnaJean mengatakan dirinya memang berambisi untuk memecahkan rekor-rekor dunia tersebut. Dirinya bahkan memiliki menu latihan yang terbilang cukup ‘keras’ untuk membuat tubuhnya tetap bugar.
Dikutip dari Guinness World Records, DonnaJean rutin melakukan 500 kali push up dalam satu hari. Ia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk melatih otot di tubuh.
“Saya percaya bahwa jika kita tetap aktif dan memiliki tujuan kesehatan dan kebugaran, kita dapat menua dengan anggun dan kuat,” kata DonnaJean.
Saat memecahkan rekor-rekor tersebut, DonnaJean mendapatkan dukungan penuh dari 11 cucunya. Dirinya tak kuasa menahan air mata bahagianya ketika juri benar-benar menyatakan dirinya berhasil memecahkan rekor.
DonnaJean mampu menyelesaikan 620 push up dalam 20 menit pertama. Ia kemudian melakukan rata-rata 10 kali push up per repetisi. Dirinya bahkan lebih cepat sekitar 17 menit dari pemilik rekor sebelumnya.
Menjelang akhir kompetisi, DonnaJean sempat memiliki masalah di bahunya. Semangat yang luar biasa serta dukungan penuh dari keluarga membuat dirinya terus berusaha keras untuk menyelesaikannya.
Setelah memecahkan rekor, dirinya berfoto dan mengobrol dengan anggota keluarga dan mereka-mereka yang mendukungnya.
(dpy/naf)
-

Waspada, Studi Baru Ungkap Diabetes Bisa Bikin Otak Cepat ‘Menua’
Jakarta –
Hilangnya jaringan otak merupakan sebuah tahapan alami dari penuaan. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat mempercepat proses tersebut, salah satunya adalah penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2.
Menurut uji coba selama puluhan tahun yang dilakukan sejak 1995, mereka yang kehilangan lebih banyak white matter pada otak, 86 persen berisiko lebih besar mengalami gangguan kognitif ringan. White matter adalah jaringan yang mengandung saraf otak.
Dibandingkan mereka yang tidak memiliki penyakit metabolik, pasien diabetes tipe dua lebih banyak kehilangan white matter dari waktu ke waktu. Ini membuat mereka menghadapi risiko 41 lebih tinggi untuk mengalami gangguan kognitif ringan.
Apabila pasien diabetes juga memiliki biomarker plak amiloid yang berkaitan dengan alzheimer, maka risiko tersebut bisa melonjak hingga 55 persen.
“Temuan ini menyoroti bahwa perubahan volume white matter terkait erat dengan fungsi kognitif pada penuaan, yang menunjukkan bahwa degenerasi white matter mungkin memainkan peran penting dalam penurunan kognitif,” ujar penulis studi dari Universitas Johns Hopkins Amerika Serikat dikutip dari Science Alert, Jumat (22/11/2024).
Penulis studi mengatakan resistensi insulin berperan dalam pembentukan plak amiloid. Menurut mereka, diabetes dapat memicu patologi penyakit alzheimer yang akhirnya menyebabkan gangguan kognitif ringan yang lebih dini.
Studi jangka panjang dilakukan antara 185 peserta, yang sebagian besar berpendidikan tinggi dan berkulit putih, dengan riwayat keluarga demensia.
Masih belum jelas apakah temuan ini bisa diterapkan pada populasi yang lebih beragam. Namun, studi-studi yang pernah dilakukan sebelumnya berkaitan dengan hal ini belum ada yang lebih dari satu dekade. Meskipun kecil, studi terbaru ini berdurasi sangat panjang untuk melacak bentuk dan ukuran otak peserta.
Selama 27 tahun, ilmuwan secara teratur memindai otak peserta yang sehat kondisi kognitifnya. Pada akhir uji coba, sebanyak 60 peserta mengalami gangguan kognitif ringan dan 8 peserta lainnya mengalami demensia.
Dalam proses pemindaian tersebut, peneliti menemukan adanya penurunan materi-materi pada otak secara normal seiring usia pasien bertambah. Namun, khusus untuk white matter, penurunan terbanyak justru terjadi ketika peserta memasuki usia paruh baya.
“Meskipun hanya delapan peserta yang mengidap diabetes tipe 2. Hasil penelitian menunjukkan mengendalikan diabetes dapat mengurangi risiko demensia alzheimer di kemudian hari sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi,” kata peneliti.
Beberapa penelitian terkini misalnya, telah menunjukkan beberapa obat yang mengobati diabetes tipe 2 dikaitkan dengan risiko demensia sebesar 35 persen lebih rendah pada pasien.
(avk/naf)
-

Indonesia Jadi Negara Kelima di Dunia dengan Pasien Diabetes Terbanyak
Jakarta – Kasus penyakit diabetes di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Saat ini, lebih dari 19 juta penduduk dewasa Indonesia mengidap diabetes, sehingga menempati peringkat kelima di dunia dengan kasus diabetes terbanyak.
(/)
-

RI Dibayangi Fenomena Long COVID, Gejala Tak Hilang Meski Sudah Negatif
Jakarta –
Pakar epidemiologi Dicky Budiman mewanti-wanti risiko terjadinya ‘tsunami’ long COVID, efek jangka panjang dari wabah COVID-19 selama bertahun-tahun. Banyak yang kemudian tidak menyadari mengalami keluhan ‘menahun’ alias gejala yang ‘menetap’ pasca terpapar.
Kondisi ini disebutnya paling rentan terjadi pada penyintas COVID-19 yang belum divaksinasi.
“Riset menunjukkan mayoritas itu sebagian besar dari yang mengalami long COVID-19 ketika pertama kali terinfeksi, belum pernah atau belum berkesempatan mendapatkan vaksinasi,” tutur dia kepada detikcom Jumat (22/11/20240.
“Adapun orang-orang yang ketika pertama terinfeksi sudah pernah mendapatkan vaksinasi, jauh lebih kecil peluang mendapatkan long COVID,” lanjut dia.
Dicky membenarkan hal tersebut tidak hanya terjadi di berbagai negara maju yang melaporkan pendataan kasus long COVID-19. Indonesia juga menghadapi fenomena serupa.
“Ini terjadi di semua negara, termasuk di Indonesia, di Indonesia hanya masalah data, tetapi kita bisa melihat sekeliling kita bahkan di keluarga sendiri, yang menjadi mudah sakit, sebelumnya saya bisa jalan lebih jauh, sekarang lebih capek, misalnya,” kata Dicky.
Bukti lain tingginya kasus long COVID berkaitan dengan peningkatan kasus alzheimer, termasuk di kelompok muda. Sejumlah riset menunjukkan keterkaitan dampak dari COVID-19 pada alzheimer.
“Termasuk pada mereka yang baru sekali terpapar, atau berulang kali terpapar. Dalam kasus berat, bahkan berkaitan dengan kasus-kasus kardiovaskular, neurologis, yang juga meningkat,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, para peneliti di Inggris dan Amerika Serikat menemukan tren kasus long COVID meningkat.
“Bagi pasien yang telah berjuang selama lebih dari dua tahun, peluang untuk pulih sepenuhnya akan sangat tipis,” kata Manoj Sivan, profesor kedokteran rehabilitasi di Universitas Leeds dan salah satu penulis temuan baru yang dipublikasikan di The Lancet.
Mengacu riset tersebut, berikut gejala yang kerap dikeluhkan pengidap long COVID dan berisiko tak pulih:
Kelelahan ekstremBrain fog atau sulit fokus pada sesuatu halSesak napasNyeri sendi
(naf/kna)
-

Begini Proses Terapi Wicara Celah Bibir dan Lelangit
Begini Proses Terapi Wicara Celah Bibir dan Lelangit
-

Viral Puasa Makan Tepung-Gula Bikin Kulit Auto Glowing, Betulan Ngaruh?
Jakarta –
Ramai di kalangan pengguna media sosial X mengaitkan manfaat puasa tepung, gorengan, dan gula dengan kesehatan kulit wajah. Selain membantu menurunkan berat badan, tak sedikit juga dari netizen yang mengaku kulit wajahnya semakin sehat semenjak menerapkan diet tersebut.
“Ngurangin minuman manis, ga muncul bruntusan lagi,” kata salah satu netizen @f**t**r, dikutip Jumat (22/11/2024).
“Nggak ada lemak berlebih di pinggang, sejak diet gula. Ngurangin tepung dan gorengan berat bgt asliii, apalagi roti. Efeknya kulit nggak gradakan, alus gitu, jerawat waktu PMS-mens selese aja, terus cerahan juga,” ujar netizen lain.
Berkaitan dengan diet menghindari tepung, gorengan, dan gula, apakah memang sengaruh itu efeknya ke kulit?
Dokter spesialis kulit dr Ruri Diah Pamela, SpKK mengatakan puasa gula, tepung, dan gorengan memang bisa memberikan efek positif ke wajah. Menurutnya diet seperti ini cocok untuk individu yang memiliki masalah kesehatan kulit tertentu, misalnya seperti jerawat dan kulit berminyak.
dr Ruri menjelaskan efek konsumsi gula berlebihan dapat memicu proses glikasi, yaitu proses pengikatan molekul gula dengan kolagen dan elastin yang ada di kulit. Hal ini dapat menurunkan kualitas kulit yang ditandai dengan mengendur, munculnya kerutan, hingga inflamasi yang menimbulkan jerawat.
Ia juga menjelaskan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi tepung, juga berisiko memperburuk kondisi jerawat.
“Untuk produk berbahan dasar terigu terutama yang diproses, memiliki indeks glikemik tinggi. Ini dapat meningkatkan kadar gula darah, merangsang produksi insulin, dan memicu peradangan yang dapat memperburuk jerawat,” kata dr Ruri ketika dihubungi detikcom, Jumat (22/11/2024).
Sementara terkait dengan kebiasaan mengonsumsi gorengan, dr Ruri menuturkan hal tersebut dapat meningkatkan risiko peradangan pada tubuh. Peradangan ini yang akhirnya berkontribusi pada berbagai masalah kulit seperti jerawat dan kulit kusam.
Meski begitu, dr Ruri menekankan efek dari diet puasa tepung, gorengan, dan gula mungkin bisa berbeda setiap individu. Oleh karena itu, konsultasi ke dokter mungkin diperlukan sebelum melakukannya.
“Penting untuk dicatat bahwa efek dari diet ini bisa berbeda pada setiap individu, tergantung pada kondisi kulit dan gaya hidup secara keseluruhan. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi juga disarankan jika ingin menerapkan perubahan pola makan secara signifikan,” tandasnya.
(avk/naf)
-

Vidi Aldiano Ungkap Kondisinya Pasca Jalani PET-Scan Kanker di Penang
Jakarta –
Penyanyi Vidi Aldiano membagikan kondisi terkininya setelah melakukan pemeriksaan PET (Positron Emission Tomography) Scan di Penang, Malaysia. Seperti yang diketahui sebelumnya, suami dari aktris Sheila Dara ini sempat didiagnosis mengidap kanker ginjal. Hingga saat ini, ia juga masih menjalani perawatan terkait kondisi tersebut.
Dalam unggahannya di media sosial, Vidi menjelaskan dirinya menjalani PET Scan untuk memeriksakan kondisinya saat ini. Ia mengatakan bahwa hasil pemeriksaan terbarunya itu masih belum sesuai dengan harapannya.
“Jadi bukan buat treatment tapi untuk PET Scan. To be honest hasil PET Scannya belum sesuai dengan harapan saya. Hasilnya nggak buruk tapi belum baik juga,” kata Vidi dikutip dari unggahan Instagram-nya, Jumat (22/11/2024).
PET Scan merupakan salah satu metode pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat fungsi dan metabolisme organ dan jaringan dalam tubuh. Pemeriksaan ini melibatkan penggunaan bahan radioaktif yang disebut radioisotop atau tracer yang diberikan pada pasien.
Meski hasil pemeriksaannya belum sesuai dengan harapan, Vidi meminta para penggemarnya untuk tidak khawatir dengan hal tersebut. Terlebih ada banyak penggemar yang sebenarnya khawatir, lantaran Vidi masih sangat aktif bekerja di dunia entertainment.
Menurut Vidi, menjaganya untuk tetap aktif bekerja menjadi salah satu cara untuknya bisa tetap bahagia dan sehat selama menjalani perawatan.
“Banyak yang belum tahu ini adalah pilihan saya untuk berobat jalan. Setiap kali gue manggung, syuting, bisa berbagi karya dan tawa, berbagi cerita di atas panggung atau bentuk di platform lain itu adalah obat bagi saya. Hati yang gembira melihat gembira itu sebuah obat yang nggak ada nilainya,” sambung Vidi.
Vidi mengatakan dirinya optimis dalam menjalani perawatan kanker yang dialaminya. Walaupun hasil pemeriksaan belum memuaskan, ia akan tetap terus bersemangat melawan penyakitnya.
“Aku masih hopeful untuk terus berjuang melawan penyakit aku ini,” tandasnya.
(avk/kna)
-

Bos WHO Ungkap Kabar Terkini Pasca Dilarikan ke RS
Jakarta –
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan kabar terkini soal kondisi kesehatannya. Diketahui, Tedros sempat dilarikan ke rumah sakit saat mengikuti KTT G20 di Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (20/11/2024).
Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Tedros memang sempat tidak enak badan dan diperbolehkan pulang pada Kamis (21/11).
“Saya merasa tidak enak badan kemarin sore dan dirawat di Rumah Sakit Samaritano Barra di Rio. Tetapi, saya diperbolehkan pulang pagi ini dan kembali bekerja,” tulisnya yang dilihat detikcom pada Jumat (22/11).
Tedros menyampaikan terima kasih pada petugas kesehatan di rumah sakit tempatnya dirawat atas pelayanan yang luar biasa. Ia juga berterima kasih pada orang-orang yang sudah mendoakan kesembuhannya.
Namun, ia sedikit menyesal dan merasa sedih karena tidak bisa menjemput putrinya karena sakit. Meski begitu, Tedros mengingatkan semua orang untuk tetap menjaga kesehatan.
“Tolong jaga kesehatan Anda, itu adalah harta yang paling berharga untuk kehidupan,” tuturnya.
Sebelumnya, surat kabar Brasil O Globo melaporkan kondisi Tedros memang terlihat tidak fit sejak awal KTT G20.
“(Tedros menunjukkan) Gejala labirinitis dan krisis hipertensi setelah menunjukkan tanda-tanda tidak sehat awal pekan ini di sela-sela pertemuan puncak kelompok 20 (G20),” demikian laporan yang dikutip dari Reuters.
Tedros juga sempat diperiksa pada 18 November oleh profesional kesehatan yang bertugas di sana dan diberikan obat tekanan darah tinggi. Ia kemudian diperbolehkan pulang setelah stabil tanpa ada tanda-tanda kondisi yang serius.
(sao/naf)
