Category: Detik.com Kesehatan

  • Dunia Hadapi Ancaman ‘Kebal’ Antibiotik, Puluhan Juta Orang Bisa Meninggal

    Dunia Hadapi Ancaman ‘Kebal’ Antibiotik, Puluhan Juta Orang Bisa Meninggal

    Jakarta

    Temuan antibiotik menjadi salah satu terobosan medis terbesar pada abad ke-20. Sebelum ada antibiotik, kejadian risiko persalinan, infeksi saluran kemih, hingga luka kecil bisa berujung kematian.

    Antibiotik, sejenis antimikroba, telah memungkinkan banyak prosedur medis modern, dan kini sistem perawatan kesehatan global bergantung padanya. Karena meningkatnya penggunaan antimikroba, mikroba seperti bakteri, jamur, dan parasit telah mengembangkan kemampuan mereka untuk melawan kerja obat-obatan ini. Walhasil, obat tidak lagi mempan.

    Infeksi umum yang dulunya mudah diobati menjadi semakin sulit disembuhkan dan dalam beberapa kasus kembali rentan berakibat fatal. Misalnya, pengembangan penisilin pada pertengahan 1940-an, banyak kelas antibiotik baru dikembangkan.

    Namun, sejak 1980-an hanya ada sedikit investasi dalam pengembangan kelas baru dan sangat sedikit yang telah disetujui. Ada kebutuhan mendesak untuk antibiotik baru yang bekerja melawan bakteri yang resisten atau ‘kebal’ terhadap obat.

    Infeksi yang resisten terhadap obat diperkirakan akan merenggut lebih dari 39 juta jiwa sejak saat ini hingga 2050, bila tidak ada tindakan lebih lanjut. Mengapa hanya sedikit antibiotik baru yang berhasil dikembangkan untuk penggunaan medis?

    Dikutip dari Japan Today, Alistair Farley adalah Kepala Sains, Universitas Oxford dan Helen Smith adalah Rekan Peneliti Pascadoktoral, Universitas Oxford mencoba menjabarkan sejumlah alasan.

    Banyak perusahaan farmasi dinilai telah meninggalkan bidang penelitian ini.

    “Selain itu, menemukan jenis antibiotik baru dan berbeda yang tidak akan cepat menjadi tidak efektif karena resistensi antimikroba (AMR) yang ada merupakan tantangan yang berat,” terang para peneliti.

    “Mengembangkan obat baru merupakan usaha yang rumit, sangat mahal, dan memakan waktu. Diperlukan waktu 10 hingga 15 tahun dari penemuan awal hingga persetujuan, dan menghabiskan biaya lebih dari US$1 miliar. Sebagian besar antibiotik yang ada murah dan mudah didapat. Semua antibiotik baru umumnya dianggap sebagai obat pilihan terakhir yang hanya digunakan ketika semua pilihan pengobatan lain telah habis,” lanjut mereka.

    Hal ini dilakukan demi mencegah perkembangan resistensi terhadap antibiotik tersebut. Ini berarti bahwa pengembalian investasi untuk antibiotik jauh lebih rendah dibandingkan dengan obat-obatan untuk banyak penyakit lain. Oleh karena itu, perusahaan farmasi tidak mungkin memperoleh kembali biaya yang terkait dengan pengembangan antibiotik baru di akhir proses penelitian panjang.

    Saat mencari antibiotik potensial baru, para peneliti menyaring ekstrak, pustaka senyawa dan juga menggunakan pendekatan artificial intelligence (AI) untuk mencari senyawa yang menunjukkan aktivitas antimikroba yang menjanjikan.

    Para ilmuwan kemudian menyempurnakan dan meningkatkan temuan awal di laboratorium dengan mengujinya terhadap patogen penyebab infeksi. Pada saat yang sama, mereka memastikan senyawa tersebut tidak akan berbahaya bagi manusia.

    “Agar antibiotik bekerja pada pasien, antibiotik harus mencapai area tubuh tempat patogen penyebab penyakit berada dalam konsentrasi yang cukup tinggi untuk membersihkan infeksi. Pada saat yang sama, antibiotik harus meminimalkan efek samping apa pun.”

    “Para ilmuwan perlu memodifikasi banyak parameter molekul untuk keamanan dan kemanjuran sebelum melakukan tahap pengembangan berikutnya. Setelah pengembangan tahap awal, senyawa utama harus menjalani serangkaian uji klinis pada manusia dalam kondisi yang dikontrol dengan cermat. Hal ini untuk memastikan bahwa senyawa tersebut pertama dan terutama aman dan efektif dalam mengobati penyakit,” tutur riset.

    Para ahli mendesak perlunya komitmen dari pemerintah, industri farmasi, dan badan kesehatan masyarakat global untuk mendukung dan mempertahankan efektivitas antibiotik.

    (naf/kna)

  • Mayapada Hospital Hadirkan Layanan Modern Deteksi Dini Kanker Payudara

    Mayapada Hospital Hadirkan Layanan Modern Deteksi Dini Kanker Payudara

    Jakarta

    Kanker payudara menjadi salah satu penyakit serius yang perlu diperhatikan oleh para wanita. Oleh karena itu, penyakit tersebut harus ditangani sedini mungkin.

    Sebab berdasarkan data Global Cancer Observatory tahun 2022 terdapat 66,2 ribu temuan baru kasus kanker payudara pada perempuan di Indonesia dengan rasio mencapai 30,1 persen. Terlebih, kanker payudara masih menjadi jenis kanker dengan tingkat kematian tertinggi.

    Oleh sebab itu itu, perempuan masa kini harus memiliki strategi yang tepat untuk melawan risiko kanker payudara dengan melakukan deteksi dini sebagai faktor penting dalam keberhasilan pengobatan kanker.

    “Kanker payudara yang terdeteksi secara dini akan lebih mudah diobati. Banyak wanita menderita kanker payudara tanpa merasakan gejala di awal, sehingga itulah mengapa pemeriksaan kanker payudara secara rutin sangat penting,” kata Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi dari Mayapada Hospital Surabaya, dr. Nina Irawati, Sp.B(K)Onk-KL dalam keterangan tertulis, Kamis (28/11/2024).

    Sementara itu, Spesialis Bedah Konsultan Onkologi dari Mayapada Hospital Bandung dr. Dharmayanti Francisca Badudu, Sp.B (K) Onk mengatakan sebagai langkah awal, deteksi dapat dilakukan dengan dua hal yaitu Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan Pemeriksaan Payudara secara Klinis (SADANIS).

    “Pemeriksaan SADARI sebaiknya dilakukan sebulan sekali saat hari ke-7 sampai hari ke-10 saat menstruasi. Sedangkan, SADANIS merupakan pemeriksaan payudara bersama tenaga medis terlatih dan dapat diikuti dengan pemeriksaan lanjutan seperti Mammografi dan USG Payudara,” kata dr. Dharmayanti.

    Pemeriksaan payudara yang menyeluruh dapat dilakukan di Oncology Center Mayapada Hospital yang khusus menangani kanker secara komprehensif, termasuk kanker payudara. Oncology Center Mayapada Hospital kini diperkuat dengan Mayapada Breast Clinic yang ada di Mayapada Hospital Jakarta Selatan. Sebagai layanan satu pintu (one stop services) untuk menangani masalah kesehatan payudara secara komprehensif mulai dari pencegahan kanker, deteksi dini, diagnosis, pengobatan kanker, hingga perawatan pasca pengobatan kanker payudara. Serta didukung peralatan medis yang canggih untuk melakukan pemeriksaan kanker payudara dengan hasil yang lebih akurat.

    Salah satu cara skrining dan deteksi dini kanker payudara adalah dengan Mammografi yaitu tes pemindaian yang dilakukan untuk menangkap gambar jaringan payudara dengan menggunakan teknologi sinar x atau rontgen.

    “Mammografi dianjurkan bagi perempuan yang berusia di atas 35 tahun dan memiliki faktor risiko kanker payudara. Sedangkan, perempuan yang berusia 40 tahun ke atas dianjurkan melakukan Mammografi setiap 1-2 tahun meski tidak memiliki gejala. Pemeriksaan ini menjadi standar utama dalam skrining kanker payudara,” ujar Dokter Spesialis Radiologi Konsultan Radiologi Intervensi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Semuel W. Manangka Sp.Rad (K) RIl

    Berkat perkembangan teknologi medis, kini sudah ada Mammografi 3D yang semakin memperjelas hasil pemeriksaan payudara. Mammografi 3D merupakan salah satu teknologi mutakhir yang ada di Mayapada Breast Clinic yang dapat mendeteksi sel kanker payudara yang tidak terlihat pada mammogram konvensional. Mammografi 3D ini juga dilengkapi dengan teknologi Fit Sweet Paddle sehingga lebih nyaman bagi pasien dan minim rasa nyeri, dan proses biopsy yang lebih efektif dengan dukungan teknologi Stereotactic Biopsy.

    Mammografi 3D juga ditunjang oleh Mammografi Kontras yang memberikan gambaran tumor lebih jelas dan kontras terhadap jaringan payudara normal.

    “Karena diambil dari berbagai sudut, tumpang tindih jaringan dapat dikurangi secara signifikan sehingga dapat mendeteksi benjolan kecil yang tersembunyi di balik jaringan padat dengan lebih baik, serta pemberian kontras juga secara signifikan dapat membedakan tumor dengan jaringan payudara normal,” lanjut dr. Sem.

    Dokter Spesialis Bedah Onkologi (Tumor dan Kanker) Mayapada Hospital Kuningan dr. Iskandar, Sp.B.(K) Onk mengatakan selain Mammografi, terdapat pemeriksaan penunjang lainnya yaitu dengan USG Payudara.

    “USG Payudara yang digunakan untuk memperjelas hasil Mammografi, terutama pada perempuan dengan jaringan payudara yang padat. Prinsip utama pemeriksaan ini adalah dengan mendeteksi jaringan kanker atau kista menggunakan gelombang suara,” ungkap dr. Iskandar.

    Dilansir dari American Cancer Society, USG payudara dapat dilakukan ketika wanita mengalami perubahan pada payudara, seperti munculnya kista atau benjolan padat/solid yang mengarah pada keganasan atau wanita usia di bawah 40 tahun.

    “Kelompok wanita yang disarankan untuk melakukan USG payudara, seperti wanita dengan usia di bawah 25 tahun, wanita yang hamil dan menyusui, wanita dengan implan silikon,” ujar dr. Iskandar.

    Melihat penjelasan di atas, kini masyarakat tahu bahwa deteksi dini kanker payudara sangat penting dan dapat dilakukan secara komprehensif di Oncology Center Mayapada Hospital dengan tim dokter multidisiplin yang didukung dengan kelengkapan fasilitas dan alat canggih. Oncology Center Mayapada Hospital memiliki standar protokol internasional penanganan kanker dengan hadirnya Tumor Board yang aktif memberikan rencana perawatan kanker, didukung tim Patient Navigator ahli dan berpengalaman mendampingi pasien menjalani setiap langkah perawatan kanker.

    Untuk melakukan pemeriksaan dan konsultasi, masyarakat dapat mulai melakukan penjadwalan melalui aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital. Melalui MyCare, pasien dapat mengakses layanan dengan cepat karena dapat memperoleh nomor antrian lebih awal dengan proses transaksi layanan yang praktis melalui berbagai metode pembayaran yang terkoneksi di MyCare.

    Masih banyak keahlian dokter dan teknologi medis di Oncology Center Mayapada Hospital yang dapat Anda ketahui lebih lanjut melalui fitur Health Article & Tips di aplikasi MyCare. Unduh MyCare di Google Play Store dan App Store, dan dapatkan point reward setelah registrasi pertama yang dapat digunakan untuk potongan harga layanan di Mayapada Hospital.

    (akd/akd)

  • Daftar Makanan yang Bisa Bikin Panjang Umur, Sehat sampai Usia 100

    Daftar Makanan yang Bisa Bikin Panjang Umur, Sehat sampai Usia 100

    Jakarta

    Siapa yang tidak ingin hidup lebih lama dan lebih sehat? Ternyata, pola makan dapat berperan dalam memperpanjang usia.

    Pola makan kaya buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, polong-polongan, dan biji-bijian telah terbukti menurunkan risiko kematian dini. Dikutip dari Health, penelitian pada tahun 2023 yang melibatkan lebih dari 120.000 orang selama 30 tahun menunjukkan bahwa orang yang rutin mengonsumsi makanan ini memiliki risiko lebih rendah untuk meninggal akibat penyakit seperti kanker, penyakit jantung, gangguan neurodegeneratif, dan gangguan pernapasan.

    Pola makan ini kaya akan antioksidan, serat, mineral, dan vitamin yang mendukung kesehatan secara menyeluruh. Nutrisi ini pun turut membantu menjaga berat badan dan menurunkan risiko penyakit yang bisa menyebabkan kematian dini. Berikut makanan yang bantu memperpanjang usia.

    1. Sayuran dan Buah

    Mengonsumsi lebih banyak sayur dan buah adalah salah satu kebiasaan sederhana namun berdampak besar pada kesehatan. Mengonsumsi setidaknya lima porsi buah dan sayur per hari dapat membuat risiko kematian akibat penyakit jantung dan kanker dapat berkurang.

    Lebih banyak dari lima porsi masih bermanfaat, namun tambahan porsinya mungkin tidak memberikan dampak signifikan pada penurunan risiko kematian.

    2. Kacang-Kacangan

    Dikutip dari Eating Well, kacang-kacangan dikenal sebagai salah satu makanan penting di pola makan sehat masyarakat yang tinggal di Zona Biru, wilayah dengan populasi yang memiliki umur panjang dan tingkat kesehatan tinggi.

    Pola makan mereka cenderung kaya karbohidrat kompleks, termasuk buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Contohnya di Okinawa, kacang kedelai adalah salah satu sumber nutrisi utama, sedangkan buncis menjadi makanan pokok di Sardinia.

    Dan Buettner, seorang penjelajah National Geographic yang mempelajari pola hidup panjang umur, mengungkapkan, “Kami telah melihat bahwa mengonsumsi secangkir kacang-kacangan setiap hari dapat menambah usia mereka selama empat tahun.”

    Buettner juga menekankan bahwa kacang-kacangan menjadi makanan unggulan bagi kesehatan karena kandungan protein, serat, dan antioksidannya yang tinggi.

    3. Makanan Berbasis Tumbuhan

    Mengonsumsi lebih banyak makanan nabati dan mengurangi daging merah serta daging olahan telah dikaitkan dengan harapan hidup yang lebih panjang. Penelitian tahun 2022 menunjukkan bahwa pola makan yang meminimalkan konsumsi daging memberikan keuntungan besar bagi umur panjang.

    Beberapa daerah di dunia, seperti Zona Biru (termasuk Okinawa di Jepang, Ikaria di Yunani, dan Loma Linda di AS), menunjukkan bahwa masyarakat yang mengadopsi pola makan nabati memiliki angka harapan hidup tertinggi. Di daerah tersebut, daging dikonsumsi hanya sekitar lima kali per bulan dalam porsi kecil.

    4. Diet Mediterania

    Pola makan Mediterania telah lama diakui sebagai salah satu diet terbaik untuk kesehatan dan umur panjang. Diet ini melibatkan konsumsi tinggi buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, lemak sehat (seperti minyak zaitun dan alpukat), serta herbal dan rempah-rempah.

    Diet Mediterania juga mencakup konsumsi makanan laut beberapa kali dalam seminggu, serta konsumsi susu, telur, dan anggur dalam jumlah sedang. Asupan daging merah dan makanan manis pun dibatasi.

    Telomer, struktur di ujung kromosom yang melindungi DNA, berperan dalam penentuan usia sel. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengikuti diet Mediterania cenderung memiliki panjang telomer yang lebih baik, yang menunjukkan harapan hidup lebih tinggi.

    Penelitian tahun 2017 mengungkapkan bahwa setiap peningkatan skor kepatuhan pada diet Mediterania dapat menurunkan risiko kematian hingga 4-7 persen.

    5. Teh Hijau

    Minum teh hijau juga dikaitkan dengan kesehatan yang lebih baik dan risiko penyakit yang lebih rendah. Studi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau dapat mengurangi risiko penyakit jantung, kanker, diabetes tipe 2, dan Alzheimer.

    Tinjauan tahun 2022 menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi teh hijau dalam jumlah tinggi memiliki risiko lebih rendah untuk meninggal akibat penyakit jantung dan stroke.

    (kna/kna)

  • Trump Tunjuk Pengkritik Vaksin COVID-19 Pimpin Institut Kesehatan Nasional AS

    Trump Tunjuk Pengkritik Vaksin COVID-19 Pimpin Institut Kesehatan Nasional AS

    Jakarta

    Presiden terpilih AS Donald Trump menunjuk Dr Jay Bhattacharya untuk memimpin lembaga penelitian medis, National Institutes of Health (NIH). Bhattacharya akan bertugas mengarahkan penelitian medis negara dan membuat penemuan penting yang akan meningkatkan kesehatan masyarakat.

    Dalam sebuah pernyataan, Trump mengatakan Bhattacharya akan bekerja di bawah calon kepala Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan yakni Robert F Kennedy Jr (RFK).

    “Bersama-sama, Jay dan RFK Jr akan mengembalikan NIH ke standar emas penelitian medis saat mereka memeriksa penyebab yang mendasari dan solusi untuk tantangan kesehatan terbesar Amerika, termasuk krisis penyakit kronis,” tulis Trump yang dikutip dari AP News.

    Bhattacharya merupakan salah satu penulis Deklarasi Great Barrington, sebuah dokumen yang dirilis pada Oktober 2020. Dokumen itu mengklaim bahwa karantina wilayah publik yang berlangsung saat pandemi COVID-19 merugikan warga Amerika.

    “Saya pikir karantina wilayah adalah kesalahan kesehatan masyarakat terbesar,” tuturnya pada Maret 2021.

    Dikutip dari US News, ia menggembar-gemborkan gagasan bahwa kekebalan kelompok atau herd immunity akan melindungi sebagian orang. Dalam dokumen tersebut, ia menyebut bahwa orang-orang dengan risiko rendah harus hidup normal sambil membangun kekebalan terhadap COVID-19 melalui infeksi.

    Sementara karantina wilayah hanya penting diberlakukan bagi orang-orang yang berisiko tinggi terkena COVID-19.

    Namun, banyak ilmuwan yang tidak setuju dengan Deklarasi Great Barrington itu. Termasuk direktur NIH yang saat itu menjabat, Dr Francis Collins.

    Tak hanya itu, Bhattacharya juga menentang mandat pemberian vaksin COVID-19. Ia mengklaim bahwa mandat tersebut membuat orang yang tidak divaksinasi tidak dapat bekerja dan beraktivitas, sekaligus mengikis kepercayaan terhadap sistem kesehatan masyarakat.

    (sao/kna)

  • Ini yang Terjadi Pada Tubuh Jika Rutin Makan Sayur Kol, Termasuk Sehatkan Jantung

    Ini yang Terjadi Pada Tubuh Jika Rutin Makan Sayur Kol, Termasuk Sehatkan Jantung

    Jakarta

    Kol, yang juga dikenal dengan sebutan kubis, adalah sayuran yang memiliki penampilan mirip selada dan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dan warna, termasuk hijau, merah, ungu, dan putih. Selain menjadi bahan utama dalam berbagai hidangan seperti asinan kol, kimchi, dan salad, kol juga dikenal karena nilai gizinya yang tinggi dan manfaat kesehatannya yang beragam.

    Dikutip dari Healthline, Kubis merupakan sayuran yang sangat bergizi, kaya akan vitamin C, serat, dan vitamin K. Beberapa studi menunjukkan bahwa kubis dapat memberikan manfaat kesehatan, termasuk mendukung sistem pencernaan dan kesehatan jantung. Sayuran ini kaya akan vitamin dan mineral. Berikut adalah manfaat kesehatan dari kol bagi kesehatan.

    1. Kaya Nutrisi

    Kol merupakan sayuran rendah kalori namun kaya akan nutrisi penting. Satu cangkir (89 gram) kol hijau mentah mengandung:

    Kalori: 22

    Protein: 1 gram

    Serat: 2 gram

    Vitamin K: 56 persen dari Daily Value (DV) atau Nilai Harian

    Vitamin C: 36 persen dari DV

    Folat: 10 persen dari DV

    Mangan: 6 persen dari DV

    Vitamin B6: 6 persen dari DV

    Kalsium: 3 persen dari DV

    Kalium: 3 persen dari DV

    Magnesium: 3 persen dari DV

    Kol kaya akan vitamin B6 dan folat, yang penting untuk berbagai proses dalam tubuh, termasuk metabolisme energi dan fungsi normal sistem saraf.

    Selain itu, kol mengandung serat tinggi dan antioksidan kuat seperti polifenol dan senyawa belerang. Antioksidan ini melindungi tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas, molekul tidak stabil yang dapat merusak sel. Kol juga mengandung vitamin C, yang dapat melindungi dari penyakit jantung, beberapa jenis kanker, dan kehilangan penglihatan.

    2. Mengontrol Peradangan

    Peradangan adalah respons alami tubuh terhadap infeksi atau cedera, namun peradangan kronis dapat terkait dengan berbagai penyakit serius seperti penyakit jantung dan arthritis. Sayuran silangan, termasuk kol, kaya akan antioksidan yang dapat membantu mengurangi peradangan.

    Sebuah penelitian pada tahun 2014 menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi sayuran silangan dapat menurunkan penanda peradangan tertentu dalam darah pada orang dewasa muda. Penelitian lainnya pada lebih dari 1.000 wanita juga menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi sayuran silangan dalam jumlah tinggi memiliki tingkat peradangan yang lebih rendah.

    3. Kaya Vitamin C

    Vitamin C, atau asam askorbat, berperan penting dalam tubuh, termasuk dalam pembentukan kolagen, protein utama yang mendukung kesehatan kulit, tulang, dan pembuluh darah. Selain itu, vitamin C meningkatkan penyerapan zat besi non-heme yang ditemukan dalam makanan nabati. Sebagai antioksidan, vitamin C melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, yang dapat berkontribusi pada banyak kondisi kronis, termasuk kanker.

    Walaupun banyak penelitian observasional menunjukkan hubungan antara asupan vitamin C tinggi dan penurunan risiko kanker tertentu, hasil dari studi terkontrol belum sepenuhnya konsisten. Kol merah merupakan sumber vitamin C yang sangat baik, dengan satu cangkir mengandung sekitar 56 persen dari asupan harian yang disarankan.

    4. Meningkatkan Pencernaan

    Kol merupakan pilihan tepat untuk meningkatkan kesehatan pencernaan karena kandungan seratnya yang tinggi. Sayuran ini mengandung serat tidak larut yang bermanfaat untuk menambah massa pada tinja dan mendorong buang air besar secara teratur.

    Selain itu, kol kaya akan serat larut, yang telah terbukti meningkatkan jumlah bakteri baik dalam usus, seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli. Bakteri ini berperan dalam menjaga sistem kekebalan tubuh dan menghasilkan nutrisi penting, seperti vitamin K2 dan B12.

    5. Meningkatkan Kesehatan Jantung

    Kol merah kaya akan antosianin, senyawa yang memberi warna ungu pada sayuran ini. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang kaya antosianin dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

    Dalam sebuah studi yang melibatkan 93.600 wanita, ditemukan bahwa mereka yang mengonsumsi antosianin dalam jumlah tinggi memiliki risiko serangan jantung yang lebih rendah. Selain itu, analisis dari 15 penelitian observasional menunjukkan bahwa peningkatan asupan flavonoid, termasuk antosianin, dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah akibat penyakit jantung. Antosianin juga dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol LDL.

    NEXT : Menurunkan tekanan darah

    Simak Video “Video: Pentingnya Pemeriksaan Jantung Secara Rutin Bagi Annisa Pohan”
    [Gambas:Video 20detik]

  • Terbukti Lewat Studi, Makan di Waktu Ini Bikin Risiko Kena Penyakit Gula Meningkat

    Terbukti Lewat Studi, Makan di Waktu Ini Bikin Risiko Kena Penyakit Gula Meningkat

    Jakarta

    Tidak hanya jenis hidangan yang dikonsumsi, waktu mengonsumsi makanan rupanya juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan. Sebuah penelitian mengungkapkan kebiasaan makan di jam tertentu dapat meningkatkan risiko penyakit berbahaya seperti diabetes.

    Salah satu penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nutrition dan Diabetes menunjukkan bahwa mengonsumsi lebih dari 45 persen kalori harian setelah pukul 5 sore berkaitan dengan peningkatan glukosa lebih tinggi. Apabila ini dilakukan terus-menerus, maka dapat meningkatkan risiko diabetes.

    “Kadar glukosa yang terus-menerus tinggi dapat menyebabkan peningkatan risiko diabetes tipe 2,” kata penulis penelitian Dr Diana Diaz Rizzolo dikutip dari Mirror, Kamis (28/11/2024).

    Selain diabetes, Diaz mengatakan kebiasaan itu juga dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena kerusakan pembuluh darah dan peradangan kronis akibat glukosa yang tinggi terus-menerus.

    Penelitian yang dilakukan oleh Universitat Oberta de Catalunya (UOC) Spanyol dan Universitas Columbia Amerika Serikat ini melibatkan 26 peserta berusia 50-70 tahun. Seluruh peserta mengalami kelebihan berat badan dan memiliki prediabetes atau diabetes tipe 2.

    Penelitian ini membandingkan toleransi glukosa antara peserta yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu orang yang makan sebagian besar di waktu lebih awal dan kelompok di waktu lebih akhir. Kedua kelompok mengonsumsi kalori dan makanan yang sama sepanjang hari, tapi waktu yang berbeda.

    Temuan utamanya adalah orang yang makan di waktu lebih akhir memiliki toleransi glukosa lebih buruk, terlepas dari berat badan atau komposisi diet mereka. Mereka juga cenderung mengonsumsi lebih banyak karbohidrat dan lemak pada sore dan makan hari.

    “Pada malam hari kemampuan tubuh untuk memetabolisme glukosa berkurang karena sekresi insulin dan sensitivitas sel terhadap hormon ini menurun akibat ritme sirkadian yang diatur oleh jam sentral di otak yang berkoordinasi dengan jam-jam siang hari,” kata Diaz.

    Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat masalah ini. Peneliti menyarankan agar asupan makanan utama dilakukan pada siang hari, ketika sarapan atau makan siang, bukan pada saat makan malam.

    Ia juga menyarankan untuk menghindari produk makanan ultra-proses, makanan cepat saji, dan makanan tinggi karbohidrat, terutama pada malam hari.

    (avk/kna)

  • Video: Bun, Bikin MPASI Baiknya Jangan Pakai Gula Tambahan

    Video: Bun, Bikin MPASI Baiknya Jangan Pakai Gula Tambahan

    Video: Bun, Bikin MPASI Baiknya Jangan Pakai Gula Tambahan

  • Angka Kelahiran Korsel Akhirnya Naik di Kala Populasi Terus Ngedrop

    Angka Kelahiran Korsel Akhirnya Naik di Kala Populasi Terus Ngedrop

    Jakarta

    Korea Selatan merupakan salah satu negara yang selama ini dihadapkan dengan krisis populasi. Angka kelahiran dan pernikahan terus menurun hingga memicu angka populasi yang perlahan ikut menurun.

    Pada tahun ini Korsel diperkirakan akan mengalami peningkatan angka kelahiran pertama kali setelah 9 tahun. Komite Kepresidenan tentang Masyarakat Lanjut Usia dan Kebijakan Populasi memperkirakan tingkat kelahiran total negara akan mencapai 0,74 anak tahun ini, naik dari 0,72 pada tahun 2023.

    Jika perkiraan ini akurat, peningkatan ini menjadi yang pertama kali sejak tahun 2015 yang saat itu tingkat kelahiran berada di angka 1,24 anak.

    Kantor Anggaran Majelis Nasional Korsel juga sempat merilis perkiraan yang serupa pada bulan lalu. Peningkatan ini menurut mereka dapat terus terjadi sampai tahun 2028.

    “Tingkat kesuburan total tahun ini diperkirakan akan kembali meningkat untuk pertama kalinya sejak 2015. Angka ini akan meningkat sebanyak 0,2 anak dari tahun sebelumnya dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 2028,” kata kantor tersebut dikutip dari Korea Times, Kamis (28/11/2024).

    Meski begitu, jumlah populasi Korsel sejauh ini masih akan menurun. Kondisi tersebut disebabkan oleh angka kematian yang saat ini melebihi angka kelahiran.

    Kantor Anggaran Majelis Nasional menyebut angka kelahiran dan pernikahan meningkat pasca pandemi. Banyak warga yang menunda pernikahan selama pandemi COVID-19 akhirnya menikah.

    Lebih dari 20 ribu bayi lahir dari Juli hingga Agustus. Jumlah tersebut sekitar 1.100-1.500 lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Untuk jumlah pasangan yang menikah pada periode Januari sampai Agustus mencapai 146.504. Jumlah tersebut meningkat 12,2 persen atau sebanyak 15.918 pasangan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

    Para ahli menyoroti perlunya konsisten kebijakan untuk mempertahankan peningkatan angka kelahiran yang ada di Korsel.

    “Dampak kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan angka kelahiran akan muncul dengan perbedaan waktu 1-2 tahun. Kita perlu melanjutkan langkah-langkah konsisten untuk memastikan tren peningkatan kelahiran dan pernikahan terus berlanjut,” ujar profesor ekonomi Universitas Nasional Seoul, Hong Sok-chul.

    (avk/kna)

  • Minum Kopi saat Perut Kosong, Berbahayakah? Ini Penjelasan Pakar

    Minum Kopi saat Perut Kosong, Berbahayakah? Ini Penjelasan Pakar

    Jakarta

    Dalam sehari-hari, secangkir kopi sering menjadi kebiasaan banyak orang untuk memulai hari dengan semangat.

    Kebiasaan ini membuat sebagian besar peminum kopi tak berpikir dua kali untuk minum minuman ini bahkan sebelum sarapan.

    Dikutip dari Cleveland Clinic, menurut data dari National Coffee Association, sekitar 9 dari 10 peminum kopi memilih secangkir kopi sebagai hal pertama yang diminum di pagi hari.

    Namun, apakah boleh minum kopi dalam keadaan perut kosong?

    Ahli diet, Anthony DiMarino, RD, LD, berpendapat bahwa hal ini tidak menjadi masalah bagi sebagian besar orang.

    “Sistem pencernaan sangat kompleks dan efisien,” ungkap DiMarino.

    Menurutnya, banyak orang tidak mengalami gangguan saat minum kopi tanpa makanan pendamping.

    Platform media sosial seperti TikTok telah menjadi tempat penyebaran berbagai informasi terkait tren kesehatan, termasuk anggapan bahwa minum kopi dalam keadaan perut kosong tidak sehat.

    DiMarino membantah mitos mengenai hal ini dan menjelaskan alasan mengapa minum kopi tanpa makanan masih bisa aman.

    Mitos beredar bahwa kopi bisa menyebabkan penyakit refluks gastroesofagus (GERD). Padahal GERD terjadi ketika katup antara lambung dan esofagus tidak berfungsi dengan baik, sehingga memungkinkan makanan, minuman, dan asam lambung kembali naik ke esofagus dan menyebabkan mulas.

    Beberapa studi menunjukkan bahwa faktor seperti obesitas dan kondisi kesehatan tertentu lebih berperan dalam menyebabkan GERD dibandingkan kopi itu sendiri.

    Namun, penelitian lain menunjukkan peningkatan gejala GERD setelah mengonsumsi kopi berkafein, teh, atau soda.

    Menurut DiMarino, kopi dan kafein dapat meningkatkan produksi asam lambung serta melemaskan katup esofagus, yang dapat memperburuk gejala GERD.

    Untuk yang rentan terhadap GERD namun ingin tetap menikmati kopi di pagi hari, DiMarino menyarankan menambahkan krimer rendah lemak sebagai penghalang antara asam lambung dan dinding lambung.

    Mitos lain yang beredar adalah kopi menyebabkan maag. Maag adalah luka yang terbentuk di lambung atau usus kecil, yang sering menyebabkan rasa nyeri, kembung, dan mulas.

    Meskipun kopi sering dianggap sebagai pemicu maag, penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori dan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) secara berlebihan, bukan kopi.

    Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 8.000 orang di Jepang juga tidak menemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dan kejadian maag.

    Namun, perlu diingat bahwa meski kopi mungkin tidak menyebabkan maag, peningkatan produksi asam lambung akibat kopi dapat memperburuk gejala bagi yang sudah mengidap maag.

    Meski tidak membahayakan, minum kopi sebelum makan bisa memunculkan beberapa efek samping yang tidak nyaman, seperti meningkatnya kecemasan.

    Tubuh menyerap kafein lebih cepat saat perut kosong, yang bisa memperkuat efek kafein dan memicu perasaan gelisah atau mudah tertekan.

    Kafein juga dapat meningkatkan tekanan darah dan membuat detak jantung terasa tidak teratur.

    Efek ini mungkin mulai dirasakan dalam waktu 10 menit setelah minum kopi, dengan puncak pengaruh kafein biasanya dalam satu jam.

    Untuk mengatasi hal ini, disarankan untuk mengonsumsi makanan bersama kopi, karena makanan dapat memperlambat penyerapan kafein.

    DiMarino juga menyarankan untuk mengurangi tambahan gula dalam kopi guna menghindari peningkatan energi yang diikuti dengan rasa lelah.

    (kna/kna)

  • Imunisasi BCG Diberikan Umur Berapa? Ini Jadwal hingga Efeknya

    Imunisasi BCG Diberikan Umur Berapa? Ini Jadwal hingga Efeknya

    Jakarta

    Imunisasi BCG diberikan pada usia kurang dari tiga bulan atau tidak lama setelah lahir. Tujuannya adalah membentuk kekebalan tubuh anak, sehingga bisa melindungi diri sendiri dari berbagai ancaman penyakit infeksi.

    Dalam praktiknya, imunisasi BCG diberikan melalui vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG). Golongan vaksin dasar selain imunisasi BCG adalah polio, hepatitis B, DPT, MMR, rotavirus, PCV, dan HiB.

    Apa itu Imunisasi BCG?

    Dilansir The Royal Children’s Hospital, imunisasi BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC). Penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis mudah menular lewat udara melalui batuk dan bersin.

    Imunisasi BCG dinamai dari nama penemunya yaitu Dr. Albert Calmette dan Dr. Camille Guerin. Vaksinnya dikembangkan dari bakteri Mycobacterium bovis, yang mirip dengan bakteri penyebab TBC.

    BCG bekerja dengan mencegah perkembangan TBC, bukan menghindari seseorang agar tidak terinfeksi bakteri penyebabnya. BCG termasuk vaksin hidup yang telah diproses panjang dan teliti sehingga penggunaannya tergolong aman.

    Imunisasi BCG Umur Berapa?

    Imunisasi BCG paling baik diberikan pada usia 2-3 bulan, sesuai anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Vaksin pada bayi usia kurang dari 2 bulan dinilai kurang efektif karena sistem imunnya belum matang. Pelaksanaan vaksin BCG cukup sekali dan imunisasi booster tidak dianjurkan.

    Di Mana Imunisasi BCG Disuntikkan?

    Vaksin BCG biasanya disuntikkan di lengan kiri atas, tepat di bawah kulit. Terkadang tes kulit TBC (tes Mantoux) diperlukan sebelum disuntikkan imunisasi BCG untuk memeriksa apakah anak pernah terinfeksi TBC.

    Jika hasil tes positif, artinya anak mungkin pernah terinfeksi TBC sebelumnya sehingga vaksin tidak boleh diberikan. Imunisasi BCG baru diberikan, jika hasil tes kulit adalah negatif.

    Efek Imunisasi BCG

    Secara umum, imunisasi BCG aman bagi anak dan terbukti melindungi tubuh dari infeksi TBC. Dalam beberapa kasus, mungkin muncul kemerahan atau benjolan kecil di tempat suntikan dan diikuti luka terbuka kecil setelah beberapa minggu.

    Ulkus (luka) berdiameter kurang dari 1 cm ini dapat berlangsung beberapa minggu hingga bulan, sebelum sembuh dan meninggalkan bekas. Efek lainnya adalah terjadi nyeri, bengkak, dan muncul jaringan parut di lokasi suntikan.

    Sudah Imunisasi BCG tapi Terinfeksi TBC, Kok Bisa?

    Selain imunisasi BCG, perilaku hidup bersih dan sehat ikut menentukan risiko terinfeksi TBC. Menurut dr Mohammad Subuh, MPPM, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes, kebersihan dan sistem imun yang baik akan melindungi tubuh dari penyakit tersebut.

    Subuh menjelaskan, bakteri TBC yang masuk ke dalam tubuh sering kali tidak langsung memunculkan gejala. Bakteri akan tidur, hingga akhirnya bermanifestasi saat daya tahan tubuh sedang turun. Jika dites, pasien yang terinfeksi akan memberikan hasil positif TBC.

    Karena itu, usaha menjaga kesehatan tubuh dan kebersihan lingkungan wajib selalu dilaksanakan, selain imunisasi BCG. Apalagi dikutip dari situs NHS, perlindungan imunisasi BCG bertahan hingga 15 tahun.

    (azn/row)