Video: Kata Ahli soal Antisipasi Ancaman Kesehatan Pascabanjir
Category: Detik.com Kesehatan
-

Video Sejumlah Penyakit Hantui Korban Bencana di Sumatera
Video Sejumlah Penyakit Hantui Korban Bencana di Sumatera
-

Sido Muncul Kunyit Asam Lancar, Solusi Hadapi PMS Saat Datang Bulan
Jakarta –
Datang bulan sering kali menjadi momen menantang bagi perempuan, khususnya bagi mereka yang harus tetap aktif menjalani berbagai aktivitas sehari-hari. Tak jarang, gejala PMS (Premenstrual Syndrome) memicu berbagai keluhan mulai dari nyeri perut, pegal, rasa lemas, hingga mood swing yang berdampak pada produktivitas di sekolah, kampus, ataupun tempat kerja.
Kondisi ini membuat banyak perempuan mencari solusi yang bukan hanya efektif, tetapi juga aman dan nyaman dikonsumsi. Menjawab kebutuhan ini, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. menghadirkan Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan.
Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan merupakan minuman herbal yang diformulasikan khusus untuk membantu melancarkan dan meredakan nyeri haid, tanpa rasa pahit dan tetap aman di tenggorokan. Produk ini diformulasi untuk mendukung perempuan tetap aktif, segar, dan fokus meski sedang dalam periode menstruasi.
“Melalui Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan, kami ingin menghadirkan solusi yang bukan hanya efektif, tetapi juga aman, alami, dan nyaman dikonsumsi. Produk ini diformulasikan untuk membantu perempuan tetap merasa sehat, segar dan produktif, kapan pun dan di mana pun mereka berada,” kata Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani Hidayat, Rabu (3/12/2025).
Kandungan Herbal Alami Sido Muncul Kunyit Asam
Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan mengandung berbagai rangkaian bahan herbal berkualitas tinggi yang memberikan manfaat optimal selama PMS dan haid. Kandungan kunyit berfungsi sebagai anti-inflamasi (anti peradangan) dan analgesik (pereda nyeri) yang dapat membantu meredakan kram perut dan nyeri yang kerap muncul saat menstruasi.
Kemudian, kandungan asam jawa yang kaya antioksidan dan vitamin C membantu menyegarkan tubuh serta mendukung daya tahan tubuh selama haid. Ada pula guarana, sumber energi alami yang membantu meningkatkan fokus dan menjaga produktivitas. Kandungan ini sangat bermanfaat bagi perempuan yang tetap harus aktif meskipun sedang datang bulan.
Tak hanya itu, Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan mengandung kencur yang membantu meredakan pegal dan rasa tidak nyaman pada tubuh, khususnya di area pinggang dan punggung yang sering dialami saat PMS. Kandungan jahenya dapat mendukung daya tahan tubuh serta menambah sensasi hangat yang menenangkan.
Menariknya, Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan mengandung ekstrak buah delima yang memberikan sensasi menyegarkan sekaligus membantu melegakan tenggorokan. Kandungan ini membuatnya cocok diminum kapan saja, bahkan ketika tubuh sedang tidak nyaman.
Selain manfaat dari kandungannya, Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan dikemas secara praktis, ringan, dan mudah dibawa ke mana-mana. Rasanya juga nikmat dan mudah dikonsumsi, dengan citarasa kunyit yang seimbang tanpa rasa pahit. Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan juga telah tersertifikasi halal, serta teruji aman karena telah memenuhi standar uji aflatoksin, cemaran logam berat, dan cemaran mikroba.
Untuk hasil optimal, Sido Muncul Kunyit Asam Lancar Datang Bulan dapat dikonsumsi secara rutin 1-2 botol per hari, mulai dari 3 hari sebelum haid, selama masa haid, hingga setelah haid. Produk ini bisa dibeli di Alfamart atau toko dan minimarket terdekat, serta secara daring melalui www.sidomunculstore.com, Sido Muncul Official Store di marketplace atau bisa langsung klik di sini.
(akd/ega)
-

Daftar Makanan Terbaik untuk Kesehatan Ginjal, Ada Sering Dikonsumsi Orang RI
Jakarta –
Ginjal bekerja tanpa henti menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan, mineral, serta elektrolit dalam tubuh. Organ kecil berbentuk kacang ini memfilter sekitar sekitar setengah cangkir darah setiap menit, lewat jutaan nefron di dalamnya.
Peran ginjal begitu vital, sehingga pola makan sangat berpengaruh pada fungsinya. Terutama bagi orang dengan risiko tinggi, seperti orang dengan diabetes dan hipertensi.
Ahli gizi Catalina Ruz Gatica, Mss, RDN, LDN, menjelaskan bahwa nutrisi berperan penting dalam menjaga ginjal tetap optimal, tanpa perlu ‘detoks’ atau metode pembersihan ekstrem. Ia menyebut ada sejumlah makanan yang bisa membantu meringankan kerja ginjal dan melindunginya dalam jangka panjang.
1. Sayuran Hijau Tua
Sayuran hijau tua kaya antioksidan, vitamin C, E, dan K, serta mineral seperti kalsium, magnesium, kalium, dan zat besi. Menurut Ruz Gatica, nutrisi ini membantu mengurangi peradangan dan mencegah kerusakan oksidatif yang dapat terjadi saat ginjal bekerja terlalu keras.
2. Buah Ceri
Buah ceri yang sering ditemukan pada kue tart ternyata dapat mendukung tekanan darah tetap sehat, faktor penting untuk menjaga pembuluh kecil di ginjal tetap berfungsi optimal. Buah ini kaya vitamin A dan antioksidan yang dikaitkan dengan penurunan tekanan darah, sehingga cocok untuk diet ramah ginjal.
3. Tahu
Tahu menjadi sumber protein nabati unggulan bagi yang ingin mengurangi beban kerja ginjal. Makanan yang sering dikonsumsi warga Indonesia ini bisa dijadikan pengganti sebagai porsi daging, tanpa harus menghilangkan konsumsi daging sepenuhnya.
“Protein nabati membantu pH tubuh agar tidak terlalu asam,” ujar Ruz Gatica, dikutip dari Eating Well.
4. Bawang Putih
Bawang putih dikenal sebagai antiinflamasi alami. Ruz Gatica menjelaskan bahwa bawang putih dapat membantu menurunkan tekanan darah dan melawan kerusakan oksidatif, dua hal yang sangat penting untuk mencegah penyakit ginjal.
BACA JUGA:
5. Ikan Berlemak
Dikutip dari Cnet, ikan berlemak seperti tuna, salmon, atau trout mengandung protein dan omega-3 yang membantu menurunkan trigliserida serta tekanan darah.
Namun, orang dengan penyakit ginjal kronis perlu memeriksa kadar fosfor dan kalium pada jenis ikan tertentu dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengatur konsumsi.
6. Paprika
Paprika termasuk sayuran rendah kalium dengan kandungan vitamin B6, B9, C, K, serta antioksidan. Sayuran ini bisa dimakan mentah, dipanggang, atau ditambahkan ke berbagai hidangan.
7. Kembang Kol
Kembang kol kaya vitamin C, B6, B9, K, serta serat. Selain itu, sayuran ini mengandung senyawa yang membantu tubuh menetralisir racun.
Namun, karena mengandung kalium dan fosfor, orang dengan penyakit ginjal kronis mungkin perlu membatasi porsinya.
8. Putih Telur
Putih telur menjadi pilihan protein yang aman untuk orang dengan masalah ginjal. Terutama orang dengan penyakit ginjal kronis stadium lanjut atau pasien yang menjalani dialisis.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
-

Pria Ini Alami Penurunan Fungsi Ginjal di Usia 39, Begini Gejala Awalnya
Jakarta –
Seorang pria di Singapura didiagnosis mengalami penurunan fungsi ginjal di usia 39 tahun. Pria bernama Syafic Omar yang bekerja sebagai engineer fasilitas pusat data itu awalnya merasakan sensasi kesemutan di kedua kakinya pada Maret 2025.
dr Arjunan Kumaran, dokter keluarga di Klinik Intemedical, menduga Syafic mengalami neuropati atau gangguan saraf perifer, sehingga menyarankannya menjalani pemeriksaan menyeluruh.
Hasil pemeriksaan menunjukkan Syafic mengidap tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes, serta mulai mengalami penurunan fungsi ginjal. Beruntung, penyakit ginjalnya masih berada pada tahap awal.
Syafic merupakan satu dari lebih dari 500 ribu penduduk Singapura berusia 18 hingga 74 tahun yang hidup dengan penyakit ginjal, atau lebih dari satu dari tujuh orang pada kelompok usia tersebut. Pada kelompok usia 70 tahun ke atas, lebih dari sepertiga mengalami gangguan fungsi ginjal.
Ginjal berperan menyaring racun, garam, dan kelebihan cairan dari sekitar setengah cangkir darah setiap menit. Ketika fungsi ini terganggu, tubuh dapat mengalami keluhan seperti mudah lelah, bengkak, mual, sesak napas, hingga kebingungan.
Penyakit ginjal kronis (CKD), yang kerap disebut ‘silent killer”‘, memiliki lima tahap. Banyak pengidap tidak menyadari gejala pada tahap awal dan baru merasakan keluhan ketika kerusakan ginjal sudah cukup berat.
Seseorang memerlukan pemantauan ketat serta persiapan untuk transplantasi ginjal atau dialisis ketika fungsi ginjal menurun hingga kurang dari 15 persen kapasitas normal, tahap yang dikenal sebagai CKD stadium 5 atau gagal ginjal.
Menurut dr Jason Choo, Direktur Medik National Kidney Foundation (NKF), sekitar separuh kasus penyakit ginjal di Singapura sebenarnya dapat dicegah apabila diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi didiagnosis serta dikendalikan lebih awal.
“Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan faktor risiko utama diabetes, penyakit kardiovaskular, dan gagal ginjal. Mencapai berat badan yang sehat juga membantu mengendalikan diabetes dan bahkan dapat mempercepat remisi penyakit,” kata dr Choo, dikutip dari The Strait Times.
Halaman 2 dari 2
(suc/suc)
-

Ayo Uji Fokus Kamu! Bisa Temukan Jawaban dari 3 Gambar Teka-teki Ini?
Asah Otak
Daffa Ghazan – detikHealth
Sabtu, 06 Des 2025 18:03 WIB
Jakarta – Mau cek seberapa tajam penglihatanmu? Coba temukan angka yang tersembunyi dalam tiga gambar berikut. Kalau kamu bisa melihat semuanya, berarti matamu jeli!
-

Video: Sanitasi Buruk Pascabanjir, Ahli Ingatkan Bahaya Leptospirosis
Video: Sanitasi Buruk Pascabanjir, Ahli Ingatkan Bahaya Leptospirosis
-

Jerat Obesitas di Balik Akses Makanan Serba Instan Makin Menjamur
Jakarta –
Laporan Child Nutrition Report 2025 ‘Feeding Profit: How food environments are failing children’ Unicef mengungkap negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalami peningkatan prevalensi obesitas pesat dalam dua dekade terakhir.
Prevalensi kelebihan berat badan di kalangan anak-anak dan remaja berusia 5 hingga 19 tahun bahkan meningkat tiga kali lipat antara periode 2000 dan 2022, serta mencapai tingkat sedang, dari 15 persen menjadi kurang dari 25 persen di sembilan negara. Lima di antaranya berada di Asia Selatan, Afghanistan, Bhutan, Republik Demokratik Kongo, Liberia, Maladewa, Pakistan, Sri Lanka, Vietnam, dan tentu Indonesia.
Spesialis gizi dr Angela Dalimarta SpGK menyebut banyak faktor di balik pemicu obesitas semakin tinggi. Terbanyak menurutnya berkaitan dengan akses pola makan serba instan yang semakin mudah ditemui.
“Ketersediaan makanan instan, makanan cepat saji, makanan ultraproses makin tinggi, sehingga gampang didapat oleh beragam macam kalangan,” sorot dr Angela saat ditemui detikcom di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (6/12/2025).
Tidak jarang dari mereka yang belum sempat menyiapkan atau memasak ‘real food’ bahan segar langsung diolah, memilih makanan cepat saji dengan alasan lebih praktis. Hal ini sejalan dengan laporan Unicef terkait peningkatan paparan industri retail yang menjajakan makanan rendah gizi, camilan murah, ultra processed food (UPF), makanan siap saji dengan banyak bahan kimia tambahan, sampai minuman manis.
“Karena tidak sempat prepare makanan, mencari makanan instan, risiko obesitas tentu akan semakin meningkat, bahkan sekitar 23 persen orang dewasa sudah mengalami obesitas di Indonesia,” tuturnya.
Sementara anak dan remaja disebutnya sangat rentan dengan obesitas akibat faktor lingkungan. Mereka bisa lebih bebas memilih makanan di retail terdekat tanpa pengawasan orangtua, atau malah mengikuti kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat dari keluarga.
“Anak-anak juga meningkat trennya, makanya sekarang harus diubah gaya hidupnya supaya kalau keluarga hidupnya sehat pastinya anak-anak juga akan lebih sehat hidupnya, jadi nanti ke depan saat dewasanya pun, menurunkan angka obesitas ke depannya,” lanjut dia.
Tren yang tidak jauh berbeda bahkan terpantau lebih tinggi ditemukan pada usia dewasa, dan dewasa muda. Berdasarkan hasil cek kesehatan gratis (CKG) yang dihimpun hingga Oktober 2025, puncak kasus obesitas berada di rentang 40 hingga 59 tahun atau sekitar 1,1 juta kasus pada wanita dan 200 ribu orang pada pria.
Sebagai catatan, data tersebut belum benar-benar menggambarkan realita yang ada di Indonesia. Mengingat, baru sekitar 60 dari 280 juta penduduk yang mengikuti CKG. Meski begitu, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi menekankan salah satu penyebab utama obesitas sudah bisa terlihat, yakni 96 persen kurang aktivitas fisik.
dr Nadia juga menyoroti perubahan pola hidup di tengah era modernisasi yang semakin bergeser.
“Yang tadinya kita harus jalan dulu untuk mendapatkan makanan, sekarang nggak. Ibu rumah tangga yang dulu harus masak, sekarang tinggal pesan. Bukan cuma fast food, makanan apa pun sekarang tersedia dan gampang diakses online,” tutur dia.
“Hanya dengan beberapa klik, makanan datang dalam waktu singkat.”
Cegah Obesitas Memburuk, Harus Gimana?
Beberapa waktu lalu, dokter spesialis penyakit dalam Dicky Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, menekankan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu sangat disarankan. Perubahan kecil yang dimulai sejak dini dapat mencegah obesitas tanpa harus langsung mengonsumsi obat.
Jika hasil belum optimal, dokter baru mempertimbangkan farmakoterapi. “Tidak semua pasien langsung diberi obat. Kami menilai dulu kondisi metaboliknya,” katanya.
Obat hanya berfungsi sebagai pendamping, bukan solusi utama, serta harus digunakan dengan pengawasan ketat karena tetap memiliki risiko efek samping. Ketika masih belum berhasil, barulah pasien dipertimbangkan untuk operasi bariatrik, prosedur yang mengecilkan kapasitas lambung guna mengontrol asupan.
Namun ini bukan solusi instan. “Bariatrik harus sesuai indikasi medis. Setelah operasi, pola hidup sehat tetap wajib,” tegasnya.
Beda Bariatrik Vs Liposuction
Selain bariatrik, prosedur sedot lemak atau liposuction juga kerap menjadi pilihan. Lantas apa bedanya?
dr Kuswan Ambar Pamungkas SpBPRE, Subsp K (K), M, menjelaskan perbedaan mendasar antara operasi bariatrik dan liposuction yang kerap disalahpahami sebagai prosedur serupa. Menurutnya, keduanya justru memiliki tujuan, indikasi, serta manfaat klinis sangat berbeda.
“Sebetulnya masyarakat awam tidak perlu bingung memilih antara bariatrik dan liposuction karena indikasinya jauh berbeda,” kata dr Kuswan kepada detikcom Sabtu (6/12).
Rekomendasi bariatrik
Ia menegaskan, bariatrik direkomendasikan untuk pasien dengan BMI >35, atau BMI >30 disertai komorbid seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan metabolik lainnya.
Prosedur ini dilakukan dengan mengubah struktur saluran cerna, misalnya memotong sebagian lambung atau usus, sehingga penyerapan makanan berkurang dan penurunan berat badan dapat dicapai lebih cepat.
“Tujuan bariatrik adalah menurunkan berat badan secara signifikan untuk mencegah munculnya penyakit atau mencegah penyakit menjadi lebih berat,” jelasnya.
Sementara itu, liposuction bukan prosedur pengobatan obesitas. Tindakan ini bertujuan mengangkat lemak di area tertentu untuk membentuk kontur tubuh, bukan mengatasi gangguan metabolik.
“Indikasi utamanya adalah adanya distribusi lemak yang tidak merata. Liposuction tidak bisa menggantikan bariatrik. Keduanya bukan substitusi,” tegas dr Kuswan.
Dengan kata lain, bariatrik bekerja pada akar masalah obesitas dan metabolisme, sedangkan liposuction bersifat kosmetik.
Halaman 2 dari 4
(naf/kna)
-

Waspada! Ini Gejala Kolesterol Tinggi yang Muncul di Dada
Jakarta –
Kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) atau yang dikenal sebagai kolesterol ‘jahat’ dapat dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Kolesterol tinggi terjadi ketika terdapat terlalu banyak lipid (lemak) di dalam darah.
Dikutip dari Cleveland Clinic, tubuh sebenarnya membutuhkan lipid dalam jumlah yang tepat untuk berfungsi dengan baik. Namun, jika kadarnya berlebihan, tubuh tidak dapat memanfaatkannya secara optimal. Pada sebagian orang, kolesterol tinggi dapat menimbulkan gejala, termasuk keluhan yang muncul di area dada.
Gejala Kolesterol Tinggi yang Muncul di Dada
Kolesterol tinggi bisa menyebabkan penumpukan lemak di dinding arteri yang menyebabkan penyempitan. Hal tersebut mengurangi aliran darah ke jantung dan bisa menyebabkan gejala seperti nyeri dada.
Dikutip dari laman Medical News Today, kadar kolesterol tinggi merupakan faktor risiko untuk angina, yang merujuk pada rasa nyeri di dada karena kurangnya darah kaya oksigen yang mencapai jantung.
Kolesterol dalam darah bisa terakumulasi bersama zat lain dan membentuk plak atau timbunan lemak di arteri. Penumpukan plak menyebabkan penyempitan arteri yang mengurangi aliran darah.
Arteri yang menyempit akan membatasi jumlah darah yang mencapai otot jantung, sehingga jantung tidak menerima oksigen sebanyak yang dibutuhkan. Hal ini bisa menyebabkan nyeri dada atau rasa yang tidak nyaman.
Menurut American Heart Association (AHA), nyeri dada mungkin terasa seperti sensasi terjepit atau adanya tekanan. Rasa nyeri ini kemungkinan miip dengan gangguan pencernaan.
Selain itu, orang yang mengalaminya juga mungkin merasakan tidak nyaman di area sekitar dada, seperti bahu, lengan, perut, punggung, leher, dan rahang.
Gejala Kolesterol Tinggi Lainnya
Orang dengan kolesterol tinggi mungkin tidak mengalami gejala atau hanya menyadari kondisi tersebut saat melakukan tes darah. Selain nyeri dada, kadar kolesterol berlebih juga bisa menimbulkan gejala lainnya, seperti:
-Xantoma: Benjolan atau lesi pada kulit akibat timbunan lemak yang berkumpul di bawah kulit, terutama pada persendian, siku, lutut, bokong, kaki, atau tangan
-Akus Kornea: Cincin berwana putih keabu-abuan di sekitar iris, bagian mata yang berwarna.Pengidap kolesterol tinggi juga mungkin mengalai kelelahan atau sesak napas yang bisa terjadi jika oksigen yang mencapai jantung tidak mencukupi.
Cara Mencegah Nyeri Dada Akibat Kolesterol Tinggi
Gaya hidup yang sehat bisa membantu menjaga kadar kolesterol dalam kisaran optimal dan mengurangi risiko komplikasi, seperti penyakit jantung dan stroke. Berikut beberapa cara mencegah kolesterol tinggi:
Membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans.Mengonsumsi makanan rendah garam dan gula tambahan, seperti biji-bijian utuh, sayuran, buah-buahan, produk susu rendah lemak, daging tanpa lemak, dan makanan laut.Mengonsumsi makanan kaya serat dengan memasukkan asupan seperti oatmeal, kacang-kacangan, buah dan sayur, serta biji-bijian utuh.Berusaha mencapai berat badan sedang, yang bisa didiskusikan dengan tenaga kesehatan profesional.Melakukan aktivitas fisik secara teratur, dengan tujuan 150 menit latihan intensitas sedang per minggu, seperti jalan cepat.
(elk/suc)
-

Hati-hati Kena Gagal Ginjal gegara Skincare Abal-abal
Jakarta –
Bagi sebagian orang, kulit putih instan adalah target yang dikejar, seringkali dengan mengorbankan keamanan. Namun, penggunaan skincare racikan ilegal yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri memiliki konsekuensi sistemik yang fatal, bahkan berujung pada gagal ginjal.
Dermatolog dr Idrianti Idrus, SpDVE mengatakan paparan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri yang dioleskan ke kulit akan meresap dan memengaruhi organ dalam.
“Yang mengandung dari krim-krim racikan online itu, misalnya seperti merkuri, itu adalah logam. Bayangkan logam, tapi bentuknya cair. Itu akan masuk ke dalam pembuluh darah kita,” ujar dr Idrianti.
Meskipun zat yang terserap hanya sedikit, akumulasi pemakaian harian akan menambah beban kerja organ. Zat-zat yang diserap kulit akan kembali ke dalam darah dan harus melalui proses penyaringan di ginjal.
“Nah, ketika beban ginjal kita terlalu keras, dia akan nanti mengalami suatu kegagalan kerja,” terang dr. Idrianti.
Ia juga membeberkan adanya laporan kasus yang mengaitkan pemakaian pemutih ilegal dengan penyakit ginjal, yang puncaknya bisa menjadi gagal ginjal.
Spesialis dermatologi dr Sri Ellyani, SpDVE menambahkan penggunaan skincare ilegal juga meninggalkan kerusakan jangka pendek dan permanen di kulit. Efek putih instan terjadi karena over exfoliation, yang kemudian menyebabkan kulit iritasi, kemerahan, dan memicu jerawat berulang.
“Jadi memang kami sudah punya banyak sebagai laporan kasus, bahwa beberapa penyakit ginjal, jadi penyakit ginjal, mulai sampai bisa jadi gagal ginjal, itu karena pemakaian pemutih,” tandas dr Sri.
(kna/kna)
