Category: Detik.com Kesehatan

  • 5 Manfaat Rutin Minum Jus Tomat, Jaga Kesehatan Jantung hingga Cegah Kanker

    5 Manfaat Rutin Minum Jus Tomat, Jaga Kesehatan Jantung hingga Cegah Kanker

    Jakarta

    Jus tomat merupakan salah satu minuman yang dikonsumsi oleh banyak orang di dunia. Tidak hanya rasanya yang enak, nyatanya jus tomat dapat memberikan sederet manfaat kesehatan bagi tubuh.

    Berdasarkan penelitian, mengonsumsi jus tomat setiap hari dapat membantu tubuh untuk menghindari beberapa jenis penyakit. Disarankan untuk mengonsumsi jus tomat 2 hari sekali untuk membantu penyerapan nutrisi oleh tubuh.

    Lantas, apa saja manfaatnya? Dikutip dari MedicineNet, berikut adalah 5 manfaat rutin mengonsumsi jus tomat:

    1. Menjaga Kesehatan Usus

    Nutrisi yang ada di dalam jus tomat memiliki hubungan yang positif dengan organ usus (mikrobioma usus). Mikrobioma yang baik memiliki efek positif pada banyak aspek kesehatan tubuh manusia.

    Usus dapat berinteraksi dengan area tubuh lainnya, termasuk organ otak, dan penelitian terkini menunjukkan bahwa menjaga ekologi mikroba internal yang sehat berperan penting untuk kesehatan tubuh secara menyeluruh.

    2. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

    Jus tomat kaya akan vitamin C. Bergantung pada jenisnya, satu cangkir jus tomat dapat mengandung antara 67 sampai 170 mg vitamin C.

    Vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi yang dapat membantu tubuh dalam regenerasi antioksidan vitamin E. Hal tersebut bermanfaat bagi sistem kekebalan tubuh manusia dan memiliki kualitas anti-kanker.

    3. Mencegah Penyakit Jantung

    Berbagai penelitian mengatakan kandungan likopen dalam jus tomat dikaitkan dengan perlindungan terhadap organ jantung. Selain likopen, manfaat tomat untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular juga didapatkan dari beta-karoten dan gamma-karoten.

    Komponen tersebut dapat membantu menurunkan kadar kolesterol lipoprotein densitas rendah (LDL) atau kolesterol ‘jahat’, sekaligus mencegah kolesterol LDL oksidasi dan aterosklerosis. Nutrisi yang ada di dalam jus tomat dapat membantu tubuh untuk menjaga darah tetap sehat.

    Berdasarkan tinjauan ilmiah studi dan laporan pencegahan kanker, terdapat sebuah bukti substansial bahwa mengonsumsi jus tomat yang mengandung likopen dapat membantu untuk menlindungi tubuh terhadap kanker. Salah satunya adalah berpotensi menurunkan risiko kanker prostat sampai dengan 11 persen.

    5. Mengontrol Berat Badan

    Tomat mengandung tinggi serat, terutama serat tidak larut sebanyak lebih dari 80 persen. Serat tidak larut merupakan serat yang tidak dicerna oleh tubuh. Hal tersebut dapat membuat tubuh merasa lebih kenyang dan menghindari makan secara berlebihan.

    (kna/kna)

  • Laki-laki Buncit Otaknya ‘Menyusut’ 10 Tahun Lebih Tua, Rentan Kena Demensia

    Laki-laki Buncit Otaknya ‘Menyusut’ 10 Tahun Lebih Tua, Rentan Kena Demensia

    Jakarta

    Selain masalah kardiovaskular, laki-laki dewasa yang obesitas berisiko tinggi mengalami demensia di usia tua. Usia otak mereka juga diperkirakan menyusut setara dengan 10 tahun lebih tua.

    Hasil ini berdasarkan studi yang dilakukan peneliti Inggris setelah mengamati data dari 34.425 peserta di UK Biobank yang telah menjalani pemindaian perut dan otak.

    Usia rata-rata peserta adalah 63 tahun, berkisar antara 45 hingga 82 tahun.

    Penelitian mereka, yang dipublikasikan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry, mencatat bahwa area otak yang paling terpengaruh oleh perubahan ini meliputi area yang bertanggung jawab atas pemrosesan pendengaran, persepsi visual, pengaturan emosi, dan memori.

    Diberitakan Medical News Today, risiko kardiovaskular yang tinggi dan obesitas berkontribusi terhadap penurunan volume otak secara bertahap selama beberapa dekade. Daerah otak yang paling terpengaruh adalah lobus temporal, yang terletak di korteks serebral, lapisan luar otak.

    Daerah-daerah ini memainkan peran penting dalam memproses informasi pendengaran, penglihatan, dan emosi, serta memori, fungsi-fungsi yang termasuk yang pertama menurun pada tahap awal demensia.

    Dampak luas risiko kardiovaskular pada berbagai bagian otak menunjukkan bahwa hal itu dapat membahayakan banyak aspek pemikiran dan memori.

    Jonathan Rasouli, MD, dari Departemen Bedah Saraf di Rumah Sakit Universitas Northwell Staten Island, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa studi tersebut menunjukkan bagaimana kesehatan jantung dan berat badan memengaruhi otak, terutama seiring bertambahnya usia.

    “Para peneliti juga menemukan bahwa risiko ini tidak sama untuk semua orang. Wanita, misalnya, lebih mungkin mengalami masalah kesehatan otak yang terkait dengan risiko ini di kemudian hari, biasanya setelah menopause. Ini memberi tahu kita bahwa pria dan wanita mungkin memerlukan strategi yang berbeda untuk menjaga otak mereka tetap sehat,” jelas Rasouli.

    BACA JUGA

    (kna/kna)

  • Florence Pugh Idap PCOS, Bekukan Sel Telurnya di Umur 27 Biar Bisa Punya Anak

    Florence Pugh Idap PCOS, Bekukan Sel Telurnya di Umur 27 Biar Bisa Punya Anak

    Jakarta

    Florence Pugh memutuskan membekukan sel telurnya di umur 27 tahun setelah ketahuan mengidap sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) dan endometriosis. Keputusan itu diambilnya agar tetap bisa memiliki anak di masa depan.

    “Saya mendapat informasi yang sama sekali berbeda saat berusia 27 tahun bahwa saya perlu membekukan sel telur saya dan melakukannya dengan cepat, yang merupakan suatu kesadaran yang membingungkan dan saya sangat, sangat beruntung dan senang telah mengetahuinya karena saya telah menginginkan anak sejak saya masih kecil,” kata Pugh dalam sebuah wawancara dikutip dari The Glamour UK, Jumat (29/11/2024).

    PCOS adalah penyakit ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon. Sementara endometriosis adalah kondisi umum dan sering kali menyakitkan yang terjadi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan rahim tumbuh di luar rahim itu sendiri.

    Tanda-tanda PCOS yang jelas dapat mencakup “perubahan siklus menstruasi, perubahan kulit seperti peningkatan rambut wajah dan tubuh serta jerawat, pertumbuhan abnormal pada ovarium, dan infertilitas,”

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, kondisi kronis ini memengaruhi sekitar 8 persem hingga 13% persen wanita dan anak perempuan usia reproduksi di seluruh dunia. Sayangnya sebanyak 70 persen pengidap PCOS tidak terdiagnosis atau tidak mengetahui kondisinya.

    Pugh mengatakan bahwa ia berharap berbicara tentang pengalamannya akan membantu meningkatkan kesadaran mengenai penyakit tersebut.

    “Saya merasa sangat kecewa untuk semua wanita muda yang akan mengetahui hal ini terlambat, dan akan mengetahuinya saat mereka mulai memiliki anak di usia tiga puluhan,” tutur Pugh.

    (kna/kna)

  • Ketika Warga New Delhi Mengeluhkan Polusi Udara yang ‘Bahaya’

    Ketika Warga New Delhi Mengeluhkan Polusi Udara yang ‘Bahaya’

    Video: Ketika Warga New Delhi Mengeluhkan Polusi Udara yang ‘Bahaya’

    225 Views | Jumat, 29 Nov 2024 08:58 WIB

    Kabut asap beracun di New Delhi membuat penduduk setempat menyuarakan rasa frustrasi mereka. Indeks kualitas udara (AQI) mencapai tingkat “berbahaya”.

    Tim 20Detik/Reuters – 20DETIK

  • Obat Tak Lagi Mempan, Anak Paling Rentan

    Obat Tak Lagi Mempan, Anak Paling Rentan

    Jakarta

    Resistensi mikroba paling rentan menyerang kelompok anak baru lahir. Dokter spesialis anak dr Arifianto SpA, (K), mengungkap tidak sedikit bayi yang terkena mikroba ‘kebal’ antibiotik saat memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

    Utamanya, pada pasien anak dengan kebutuhan inkubator untuk memastikan paru-parunya ‘kuat’, juga bayi dengan kondisi lahir prematur.

    “Kami sering mendapatkan bayi prematur dan kondisi lain, yang awalnya mungkin masuknya hanya sesak napas, paru-parunya belum matang dan membutuhkan inkubator, rawat inap, ternyata mengalami masuknya kuman bakteri,” bebernya dalam diskusi awam, Jumat (29/11/2024).

    “Kuman yang sudah tidak mempan diberikan antibiotik golongan pertama, bahkan sampai ketiga, akhirnya bayi-bayi ini meninggal bukan karena kondisi tadi misalnya prematurnya, atau paru-parunya belum bertahan, tetapi karena kuman ‘kebal’ antibiotik yang nebeng semasa perawatan,” tandas dia.

    Risiko yang sama juga dihadapi para pasien anak yang mengidap penyakit kronis dan membutuhkan perawatan jangka panjang di rumah sakit.

    dr Arifianto mengingatkan akan ada suatu masa dunia termasuk Indonesia memasuki ‘post antibiotic era’, bila tren tersebut terus berlanjut.

    “Para ilmuwan sudah memprediksi akan ada suatu masa yang disebut sebagai post antibiotic era, zaman ketika tidak ada satupun antibiotik yang mempan, mungkin kita tak merasakannya, tapi anak cucu kita bisa jadi merasakannya,” kata dia.

    Next: Apa Itu ‘Post Antibiotic Era’?

  • Kate Middleton Berduka, Kenang Pasien Kanker yang Meninggal di Umur 17 Tahun

    Kate Middleton Berduka, Kenang Pasien Kanker yang Meninggal di Umur 17 Tahun

    Jakarta

    Kate Middleton menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kematian Liz Hatton, seorang gadis berusia 17 tahun setelah berjuang melawan kanker langka.

    Liz Hatton sempat bertemu dengan Pangeran dan Putri Wales itu di Kastil Windsor pada tanggal 2 Oktober, untuk membantu memenuhi sebagian dari impian “daftar keinginan” fotografi remaja tersebut.

    “Kami sangat sedih mendengar bahwa Liz Hatton telah meninggal dunia. Merupakan suatu kehormatan untuk bertemu dengan seorang wanita muda yang pemberani dan rendah hati,” tulis Kate Middleton dan Pangeran William di akun media sosialnya dikutip Jumat (29/11/2024).

    [Gambas:Twitter]

    Postingan tersebut ditandai dengan “W & C,” inisial nama depan yang mereka tambahkan ke pernyataan untuk menunjukkan bahwa pesan tersebut lebih bersifat pribadi dan datang langsung dari keduanya.

    Mengutip BBC, Liz Hatton didiagnosis tumor sel bulat kecil desmoplastik, suatu bentuk kanker yang langka dan agresif pada bulan Januari 2024. Dokter memberinya prognosis hidup selama enam bulan hingga tiga tahun. Sifat kankernya yang langka berarti saat ini belum ada perawatan standar untuk penyakit tersebit

    Kate, yang juga dirawat karena kanker tahun ini, dan William menggambarkan Liz dalam pesan sebelumnya sebagai “fotografer muda berbakat yang kreativitas dan kekuatannya telah menginspirasi kami berdua”.

    (kna/kna)

  • Tiap 4 Menit Satu Warga +62 Meninggal karena Bakteri ‘Kebal’ Antibiotik

    Tiap 4 Menit Satu Warga +62 Meninggal karena Bakteri ‘Kebal’ Antibiotik

    Jakarta

    Resistensi antimikroba menjadi ancaman serius lantaran bisa memicu pengobatan infeksi bakteri tidak lagi mempan saat diberikan antibiotik. dr Robert Sinto dari Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkap berdasarkan proyeksi dua tahun lalu, tercatat lebih dari 150 ribu kematian akibat resistensi antimikroba di Indonesia.

    “Yang artinya, setiap 4 menit ada satu orang meninggal karena antimikroba,” terangnya dalam diskusi awam, Jumat (29/11/2024).

    Estimasi kematian akibat resistensi antimikroba terus meningkat hingga 1 juta jiwa setiap tahun di Tanah Air. Sejalan dengan temuan apotek yang memberikan antibiotik sesuai indikasi dengan resep dokter, juga hanya berkisar 20 persen.

    “Semakin ke sini, semakin banyak kuman yang kebal dengan antibiotik yang kita miliki. Sementara penciptaan antibiotik baru itu hitungannya sangat-sangat lambat, bayangkan satu waktu di kemudian hari anak cucu kita bisa terkena kuman atau infeksi sederhana, tetapi kejadiannya sama seperti dulu, kita belum punya antibiotik,” lanjut dia.

    dr Sinto mencontohkan, dalam beberapa kasus kanker dan stroke, kemungkinan pemicu kematiannya berkaitan dengan infeksi bakteri yang tidak mempan diberikan antibiotik. Artinya, tidak semata-mata tunggal karena penyakit yang diidap.

    Apa Pemicunya?

    Pemicu utama resistensi antimikroba berkaitan dengan penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Terbagi dalam tiga faktor.

    Pertama, banyak pasien kerap meminta resep antibiotik kepada dokter dengan dalih masa pemulihan lebih cepat.

    “Pasien sering merasa tidak sembuh ketika tidak diberikan antibiotik, maka secara halus meminta antibiotik supaya rasa nyaman tercapai, jadi intinya tidak ada indikasi, tetapi diberikan antibiotik,” tuturnya.

    “Kedua, sudah ada indikasi, tetapi antibiotiknya tidak dihabiskan sesuai anjuran,” lanjut dia.

    Tidak hanya hubungan pasien dengan dokter, penanganan risiko ‘pandemi tersembunyi’ resistensi antimikroba ini perlu dinaungi oleh kementerian dan lembaga lain, mengingat pemicunya juga berkaitan dengan penggunaan antibiotik dalam campuran pakan ternak agar lebih awet.

    “Jadi tidak heran bukan hanya Kemenkes, tetapi Kemenko PMK juga perlu,” tandas dia.

    Belum lagi, kebiasaan membuang limbah antibiotik sembarangan yang membuat mikroba-mikroba di lingkungan menjadi semakin ‘kebal’.

    Era Post Antibiotic

    Mengutip temuan para ilmuwan, dokter spesialis anak Arifianto menekankan akan ada suatu masa dunia termasuk Indonesia memasuki ‘post antibiotic era’.

    “Para ilmuwan sudah memprediksi akan ada suatu masa yang disebut sebagai post antibiotic era, zaman ketika tidak ada satupun antibiotik yang mempan, mungkin kita tak merasakannya, tapi anak cucu kita bisa jadi merasakannya,” pungkas dia.

    (naf/up)

  • Banyak Pasien Kanker Serviks RI Telat Terdeteksi, Waspadai Gejala Awalnya

    Banyak Pasien Kanker Serviks RI Telat Terdeteksi, Waspadai Gejala Awalnya

    Jakarta

    Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak dialami oleh wanita Indonesia. Namun, sayangnya kanker ini justru sering terlambat terdeteksi, sehingga pasien sudah terdiagnosis dalam fase stadium akhir.

    Kondisi ini disebabkan karena kanker serviks stadium awal umumnya tidak menunjukkan gejala. Spesialis obstetri dan ginekologi konsultan onkologi dr Kartiwa Hadi Nuryanto, SpOG(K)Onk mengatakan hal ini akhirnya membuat banyak wanita tidak sadar bahwa mungkin mereka sudah mengalami kanker serviks.

    Apabila gejala muncul, beberapa tanda kanker serviks awal yang bisa dialami meliputi perdarahan pasca berhubungan, keputihan tidak normal dan beraroma tidak sedap, hingga perdarahan yang muncul di antara dua siklus menstruasi.

    “Kalau misalnya stadiumnya sudah lanjut, maka ada kesulitan dalam buang air besar atau buang air kecil, kemudian adanya nyeri di punggung yang sangat menusuk, dan adanya nyeri perut, terakhir pembengkakan kaki,” kata dr Kartiwa ketika ditemui awak media, Kamis (29/11/2024).

    Penyebab utama dari kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV). dr Kartiwa menjelaskan jenis HPV yang paling banyak memicu kanker serviks adalah tipe 16 dan 18.

    Ia mengingatkan proses terbentuknya kanker serviks dari infeksi HPV membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa 15-20 tahun. dr Kartiwa juga menjelaskan infeksi HPV biasanya bersifat berulang sampai akhirnya terbentuk kanker pada organ serviks.

    Hal tersebut membuat kanker serviks sebenarnya sangat mungkin untuk dicegah dengan pemeriksaan dini. Skrining secara rutin perlu dilakukan setiap 5-10 tahun sekali, meski tidak memiliki gejala.

    “Jadi infeksi ini kita lihat bisa hilang, tapi kalau terkena-kena lagi, dia akan infeksi, yang akhirnya menjadi kanker serviks. Untuk perempuan yang tidak terganggu imunnya, butuh 15-20 tahun untuk menjadi kanker,” kata dr Kartiwa.

    Pencegahan juga bisa dilakukan dengan vaksin kanker serviks yang sudah bisa didapatkan dengan mudah.

    Apabila skrining dilakukan secara dini dan berkala, maka potensi ditemukannya kanker serviks dalam stadium awal akan lebih besar. Dengan begitu, perawatan dan pengobatan yang dilakukan pada pasien bisa lebih efektif.

    (avk/naf)

  • Abdee Slank Idap IgA Nephropathy, gegara Transplantasi Ginjal? Ini Kata Dokter

    Abdee Slank Idap IgA Nephropathy, gegara Transplantasi Ginjal? Ini Kata Dokter

    Jakarta

    Gitaris band Slank Abdee Negara saat ini masih melakukan perawatan terkait gagal ginjal dan autoimun yang diidapnya. Diketahui, kondisi ini sudah berjalan selama delapan tahun.

    Sebelumnya kakak dari Abdee, Buddy Ace, mengungkapkan adiknya itu dirawat karena ada serangan autoimun IgA Nephropathy (IgAN). Disebutkan bahwa kondisi itu terjadi buntut dari transplantasi ginjal yang dilakukannya pada 2016 lalu.

    “Abdee masuk rumah sakit 18 September, karena serangan autoimun/IgAN, pada ginjalnya, hasil transplantasi tahun 2016,” tulisnya melalui pesan singkat kepada wartawan pada Jumat (18/10/2024).

    Hal tersebut membuat kondisi Abdee menurun, sehingga harus dilakukan perawatan intensif dalam beberapa hari. Buddy menyebut bahwa tim dokter terus berusaha menemukan obat untuk melindungi ginjalnya dari serangan autoimun.

    Terkait kondisi yang diidap Abdee Slank, spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH, mengungkapkan tidak ada hubungan prosedur transplantasi dengan munculnya penyakit autoimun.

    “Menurut saya, autoimun itu tidak ada hubungannya dengan transplantasi. Karena obat-obatan transplantasi itu adalah obat-obat yang mengobati penyakit autoimun,” jelas dr Tunggul saat dihubungi detikcom, Jumat (29/11).

    dr Tunggul menjelaskan obat-obatan yang dipakai saat transplantasi merupakan anti-rejeksi atau imunosupresan. Obat tersebut juga yang digunakan untuk menekan daya tahan tubuh dalam pengobatan penyakit autoimun.

    Menurutnya, hubungan antara keduanya tidak tepat. Bisa jadi penyakit autoimun tersebut sudah ada dan memicu terjadinya gagal ginjal.

    “Tidak ada transplantasi yang sudah dapat obat-obatan menjadi timbul autoimun. Penyakit autoimun-nya dari awal bisa jadi penyebab gagalnya ginjal,” terang dr Tunggul.

    Autoimun IgA Nephropathy bisa memicu gagal ginjal

    dr Tunggul mengungkapkan IgA Nephropathy merupakan kondisi saat immunoglobulin A sangat dominan. Hal itulah yang dapat merusak fungsi organ ginjal.

    Biasanya, kondisi ini dapat terlihat dalam pemeriksaan biopsi pada jaringan ginjal. Akan terlihat adanya pengendapan dari IgA pada sel-sel atau jaringan.

    “Nah, IgA Nephropathy pun spektrumnya itu luas. Ada yang bergejala, ada yang sembuh sendiri, dan ada yang harus diobati. Bahkan, ada yang sudah diobati pun tidak sembuh yang akhirnya memicu gagal ginjal,” tuturnya.

    (sao/kna)

  • Video: Kata Kemenkes soal Tantangan Pemberian Obat ARV Bagi Remaja Terpapar HIV

    Video: Kata Kemenkes soal Tantangan Pemberian Obat ARV Bagi Remaja Terpapar HIV

    Video: Kata Kemenkes soal Tantangan Pemberian Obat ARV Bagi Remaja Terpapar HIV