Category: Detik.com Kesehatan

  • Jadi Korban Malapraktik gegara Diberi Obat Impoten, Pria Ini Dibayar Rp 6,5 T

    Jadi Korban Malapraktik gegara Diberi Obat Impoten, Pria Ini Dibayar Rp 6,5 T

    Jakarta

    Seorang pria di New Mexico berhak mendapatkan lebih dari USD 415 juta atau sekitar Rp 6,5 triliun setelah menjadi korban kasus malapraktik medis yang melibatkan klinik kesehatan pria.

    Diberitakan APNews, pengacara pria tersebut merayakan keputusan hakim dan mengatakan mereka berharap kasus ini akan mencegah banyak pria lainnya menjadi korban penipuan yang melibatkan suntikan penis. Mereka juga mengatakan bahwa jumlah ganti rugi yang diberikan, baik yang bersifat hukuman maupun kompensasi, adalah yang terbesar yang pernah diberikan oleh juri dalam kasus malapraktik medis di AS.

    Putusan ini mengikuti persidangan yang diadakan di Albuquerque awal bulan ini, yang berfokus pada tuduhan dalam gugatan yang diajukan oleh pengacara pria tersebut pada tahun 2020. Klinik NuMale Medical Center dan para pejabat perusahaan disebut sebagai tergugat.

    Menurut gugatan tersebut, korban berusia 66 tahun ketika dia mengunjungi klinik pada tahun 2017 untuk mencari pengobatan atas kelelahan dan penurunan berat badan. Klinik tersebut dituduh salah mendiagnosisnya dan memberinya pengobatan yang tidak perlu berupa “suntikan disfungsi ereksi invasif” yang menyebabkan kerusakan pada jaringan penisnya dan tidak bisa diperbaiki.

    Nick Rowley, pengacara lain yang menjadi bagian dari tim pengacara penggugat, mengatakan bahwa perusahaan medis luar negara bagian tersebut membuat “skema penipuan untuk menghasilkan jutaan dolar dengan menipu pria tua.”

    Presiden NuMale Medical Center, Brad Palubicki, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke The Associated Press pada hari Rabu bahwa fokus perusahaan adalah untuk terus memberikan perawatan pasien yang bertanggung jawab sambil menjaga standar keselamatan dan kepatuhan yang ketat di semua fasilitasnya.

    “Meski kami menghormati proses hukum, karena ada proses hukum yang sedang berlangsung, kami tidak dapat memberikan komentar tentang rincian spesifik dari kasus ini pada saat ini,” katanya.

    (kna/kna)

  • Penyakit Autoimun IgA Nefropati Bisa Picu Gagal Ginjal

    Penyakit Autoimun IgA Nefropati Bisa Picu Gagal Ginjal

    Jakarta

    Penyakit autoimun terjadi ketika sel kekebalan tubuh berbalik menyerang sel-sel sehat. Serangan sel kekebalan ini bisa terjadi di banyak organ, termasuk ginjal.

    Pada organ ginjal, penyakit autoimun yang bisa terjadi yakni autoimun IgA Nefropati. Kondisi ini terjadi ketika protein pelawan kuman yang disebut imunoglobulin A (IgA) menumpuk di ginjal yang menyebabkan pembengkakan dan seiring waktu dapat mempersulit ginjal untuk menyaring limbah dari darah.

    “Nah IgA-neuropathy itu pun spektrumnya itu luas. Ada yang tidak bergejala, ada yang sembuh sendiri, ada yang harus diobati, Ada yang diobati pun tidak sembuh dan akhirnya gagal ginjal, jadi tidak Boleh disamaratakan semua,” tutur spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH saat dihubungi detikcom, Jumat (29/11/2024).

    dr Tunggul menyebut ada beberapa kondisi yang bisa memicu terjadinya autoimun IgA nefropati, termasuk genetik. Di samping itu dia menegaskan prosedur transplantasi ginjal tak menyebabkan munculnya penyakit autouimun.

    Obat-obatan yang diberikan untuk pasien yang sudah menjalani transplantasi ginjal umumnya bisa mengobati penyakit autoimun. Pada penerima transplantasi ginjal, dokter akan memberikan imunosupresan yang berfungsi menekan daya tahan tubuh. Obat ini juga diresepkan pada pengidap autoimun.

    “Orang penyakit autoimun aja diobati dengan obat-obat itu. Tidak ada transplantasi yang sudah dapat obat-obatan menjadi timbul autoimun. Penyakit autoimunnya dari awal bisa jadi Penyebab gagalnya ginjalnya,” tandas dia.

    (kna/kna)

  • 7 Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan 2: Penyebab hingga Penanganan

    7 Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan 2: Penyebab hingga Penanganan

    Jakarta

    Perbedaan diabetes tipe 1 dan 2 meliputi asal penyakit, faktor risiko, gejala, dan penanganan. Kencing manis atau diabetes adalah penyakit yang umum ditemui di masyarakat.

    Dengan mengetahui perbedaan diabetes, masyarakat diharapkan bisa melakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Harapan lain adalah agar pasien yang terdiagnosis diabetes rutin melakukan pengobatan.

    Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan 2

    Dirangkum dari Healthline dan Medical News Today, berikut ini 6 perbedaan diabetes tipe 1 dan 2:

    1. Seberapa Umum?

    Jenis diabetes tipe 1 jarang ditemukan dengan sebaran hanya 5-10 persen dari keseluruhan kasus.

    Kebalikan dengan sebelumnya, diabetes tipe 2 lebih umum ditemui di masyarakat dari berbagai kalangan usia. Mulai dari umur produktif di kelompok dewasa hingga lanjut usia.

    2. Penyebab

    Tipe diabetes ini adalah penyakit autoimun yang menyerang tubuhnya sendiri. Sistem kekebalan tubuh seharusnya bekerja melawan penyusup asing, seperti virus dan bakteri berbahaya. Namun pada kasus ini, sistem kekebalan tubuh mengira sel sehat tubuh sendiri adalah sel asing.

    Sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Setelah sel-sel ini dihancurkan, tubuh tidak dapat memproduksi insulin sehingga gula tidak bisa diubah menjadi energi, melainkan menumpuk dalam darah.

    Pada kondisi diabetes tipe 2, tubuh mengalami resistensi insulin. Tubuh sebenarnya memproduksi insulin, tapi tidak bisa membantu penyerapan dan mengawasi kadar gula dalam darah. Faktor gaya hidup bisa berkontribusi menyebabkan resistensi insulin.

    3. Faktor Risiko

    Beberapa kemungkinan faktor risiko diabetes tipe 1 adalah:

    Riwayat keluarga, yaitu ketika punya orang tua atau saudara kandung yang menderita diabetes tipe 1.Paling sering ditemukan pada anak-anak dan remaja, meski bisa terjadi di berbagai rentang usia.

    Faktor risiko diabetes tipe 2 antara lain sebagai berikut:

    Kadar gula darah yang di atas normal.Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.Memiliki banyak lemak perut.Kegiatan fisik di bawah 3 kali seminggu.Umumnya berusia lebih 45 tahun.Pernah menderita diabetes gestasional (selama kehamilan).Pernah melahirkan bayi dengan berat lebih dari 9 kg.Memiliki anggota keluarga dekat yang menderita diabetes tipe 2.Memiliki sindrom ovarium polikistik (PCOS).

    4. Munculnya Gejala

    Gejala diabetes tipe 1 dan 2 antara lain sering buang air kecil, sering merasa sangat haus atau lapar, merasa sangat lelah, penyembuhan luka yang lama, dan sebagainya.

    Namun kemunculan gejala ini sangat berbeda di antara kedua tipe

    Gejala berkembang dengan cepat, biasanya dalam beberapa minggu.

    Gejala tidak terjadi secara langsung, namun berkembang perlahan dalam waktu bertahun-tahun. Bahkan penderitanya sering tidak merasakan gejala, dan baru menyadari ketika timbul komplikasi.

    Beberapa komplikasi penyakit diabetes antara lain:

    Penyakit kardiovaskular, termasuk risiko serangan jantung dan stroke.Penyakit ginjal.Masalah mata dan kebutaan.Kerusakan saraf.Hipertensi.Proses penyembuhan luka yang lama.Ketoasidosis.

    5. Diagnosis

    Kemunculan gejala diabetes tipe 1 yang cenderung mendadak, mengakibatkan penyakit ini sering tidak terdianosis. Tindakan diagnosis baru dilakukan ketika muncul gejala.

    Pada diabetes tipe 2, diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah rutin, apakah terjadi peningkatan kadar gula darah dari waktu ke waktu. Orang dengan faktor risiko diabetes tipe 2 sebaiknya melakukan pengecekan rutin agar bisa segera dicegah.

    6. Cara Mencegah

    Umumnya diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena dipengaruhi faktor genetika atau riwayat keluarga.

    Penyakit diabetes 2 dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup, antara lain:

    Mempertahankan berat badan yang ideal.Meningkatkan aktivitas fisik.Makan makanan bergizi seimbang dan mengurangi kandungan gula atau makanan yang diproses.Melakukan diet sesuai petunjuk ahli.

    7. Penanganan

    Pasien diabetes tipe 1 tidak memproduksi insulin, sehingga harus mengonsumsi senyawa ini secara teratur. Insulin disuntikkan melalui jaringan lunak, seperti perut, lengan, atau bokong, beberapa kali sehari.

    Jenis diabetes ini dapat dikelola dan dicegah dengan cara diet serta olahraga teratur. Jika perubahan gaya hidup tidak cukup, pasien mungkin diberi obat yang membantu tubuh memproduksi insulin agar lebih efektif.

    Meski berbeda, diabetes tipe 1 dan 2 mengharuskan pasiennya menerapkan gaya hidup sehat. Pola hidup ini memungkinkan kondisi diabetes tidak makin parah. Gaya hidup sehat juga merupakan tindak pencegahan diabetes yang paling efektif.

    (row/row)

  • Jangan Sembarangan! Begini Cara Buang Antibiotik yang Sudah Tak Terpakai

    Jangan Sembarangan! Begini Cara Buang Antibiotik yang Sudah Tak Terpakai

    Jakarta

    Dunia diprediksi menghadapi bakteri ‘super kebal’ obat pada 2050. Indonesia juga dibayangi risiko yang sama. Tercatat sekitar satu juga kematian setiap tahun akibat mikroba ‘kebal’ antibiotik atau resistensi mikroba.

    Selain karena penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi dan anjuran dokter, pemicu lain yang kerap diabaikan adalah sembarangan membuang antibiotik. BPOM RI meminta masyarakat mewaspadai kebiasaan ini lantaran bisa berujung fatal.

    Sejumlah pakar dan ilmuwan bahkan menilai tren peningkatan resistensi antimikroba bisa membuat penyakit umum yang semula mudah diobati, menjadi berisiko fatal dan mematikan. Kondisinya, betul-betul sama seperti dunia belum mempunyai antibiotik.

    Tips membuang sampah antibiotik dari BPOM RI:

    1. Kumpulkan masing-masing antibiotik sisa atau rusak, dan sudah kedaluwarsa sesuai bentuk sediaan seperti tablet, kapsul, dan sirup.

    2. Riobek kemasan, hilangkan label, coret informasi produk pada kemasan.

    3. Bawa antibiotik sisa, rusak, kedaluwarsa tersebut ke apotek bertanda khusus untuk dibuang sesuai ketentuan.

    Bagaimana jika tidak ada apotek bertanda khusus?

    BPOM menyarankan dalam kondisi ini, agar masyarakat mengeluarkan antibiotik dari kemasan, merusaknya, dan menambahkan air serta bahan lain, seperti tanah, ampas, kopi. Lalu, diamkan selama beberapa epkan dalam plastik sebelum dibuang bersama sampah rumah tangga lain.

    (naf/kna)

  • Fakta-fakta Penyakit Ginjal Autoimun IgA Nephropathy yang Diidap Abdee Slank

    Fakta-fakta Penyakit Ginjal Autoimun IgA Nephropathy yang Diidap Abdee Slank

    Jakarta

    Gitaris grup band Slank, Abdee Negara, sempat dirawat di rumah sakit karena gagal ginjal yang diidapnya selama delapan tahun. Kakak Abdee, Buddy Ace, mengungkapkan bahwa adiknya dirawat karena serangan autoimun IgA nephropathy (IgAN).

    “Abdee masuk rumah sakit 18 September, karena serangan autoimun IgA nephropathy, pada ginjalnya, hasil transplantasi tahun 2016,” tulis Buddy melalui pesan singkat kepada wartawan, Jumat (18/10/2024).

    “Serangan autoimun membuat kondisi Abdee menurun, sehingga perlu perawatan intensif di rumah sakit, sambil berupaya melawan autoimun tersebut,” sambungnya.

    Saat ini, Abdee tengah melakukan rawat jalan dan tetap melakukan cuci darah dua minggu sekali. Hal ini disampaikan oleh rekannya, Bimbim Slank.

    Apa Itu IgA Nephropathy?

    Secara umum, IgA nephropathy merupakan salah satu kelainan ginjal terkait autoimun yang terjadi saat IgA (immunoglobulin A), protein yang membantu tubuh melawan infeksi, mengendap di ginjal.

    Setelah bertahun-tahun, endapan tersebut dapat menyebabkan ginjal mengeluarkan darah dan terkadang protein dalam urine. Jika terlalu banyak protein yang bocor ke urine, tangan dan kaki dapat membengkak.

    Jika terjadi selama bertahun-tahun, kondisi IgA nephropathy dapat berakibat pada kerusakan ginjal. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan oleh spesialis penyakit dalam dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH.

    “IgA Nephropathy pun spektrumnya itu luas. Ada yang bergejala, ada yang sembuh sendiri, dan ada yang harus diobati. Bahkan, ada yang sudah diobati pun tidak sembuh yang akhirnya memicu gagal ginjal,” jelas dr Tunggul saat dihubungi detikcom, Jumat (29/11).

    Pemicu IgA Nephropathy

    Dirinya mengatakan pemicu terbesar penyakit IgA nephropathy adalah genetik. Tapi, ada beberapa faktor yang berperan dalam mencetuskan gejalanya mulai dari gaya hidup sampai pola makan.

    “Semua ada faktor keturunan. tapi, apakah direct atau tidak itu berbeda-beda. Sudah jelas dong. jadi itu sebenarnya yang dimaksudkan dengan faktor keturunan, sudah pasti semua ada faktor keturunan. tapi, sebesar apa perannya itu berbeda-beda,” ujar dia.

    NEXT: Dipicu transplantasi ginjal?

  • Warning! BPOM Ancam Cabut Izin Apotek yang Jual Antibiotik Tanpa Resep

    Warning! BPOM Ancam Cabut Izin Apotek yang Jual Antibiotik Tanpa Resep

    Jakarta

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengungkap, tren resistensi atau kekebalan terhadap antibiotik meningkat. Hasil pantauan yang dilakukan, masih banyak sarana layanan kefarmasian yang menjual antibiotik tanpa resep dokter.

    “Di Indonesia berturut-turut peningkatannya, dari 2021 hingga 2023 ada sekitar 79,5 persen apotek yang memberikan antibiotik tanpa resep. Artinya cuma 20 persen yang pemakaiannya sesuai dengan indikasi,” beber Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, dalam konferensi pers Jumat (29/11/2024).

    Angka ini diperkirakan meningkat di 2024. Karenanya, BPOM meminta apoteker untuk mematuhi regulasi pemberian antibiotik.

    “BPOM sebagai lembaga yang mengusut ini menjadi lembaga penelitian kami, kita punya hak cara pemberian layanan nanti kita bisa cabut, ini warning,” tegasnya.

    Penggunaan antibiotik secara tidak rasional berisiko memicu resistensi, yakni kondisi ketika infeksi bakteri tidak lagi bisa diobati dengan antibiotik yang tersedia. Jika tren ini tidak teratasi, BPOM memperkirakan dalam 10 tahun lagi resistensi bahkan terjadi juga pada antibiotik generasi baru.

    Sementara itu, dr Arifianto, SpA(K), mengingatkan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan menghadapi risiko resistensi antibiotik. Pasien dengan resistensi antibiotik tak jarang harus dirawat intensif di rumah sakit.

    “Kuman yang sudah tidak mempan diberikan antibiotik golongan pertama, bahkan sampai ketiga, akhirnya bayi-bayi ini meninggal bukan karena kondisi tadi misalnya prematurnya, atau paru-parunya belum bertahan, tetapi karena kuman ‘kebal’ antibiotik yang nebeng semasa perawatan,” tandas dia.

    Bukan tidak mungkin, dr Arifianto mengingatkan, dunia medis akan menghadapi ‘post antibiotic era’ yakni ketika tidak ada satupun antibiotik yang bisa digunakan. Ini terjadi ketika bakteri-bakteri sudah resisten terhadap semua antibiotik yang ada.

    NEXT: Tiap menit ada 1 pasien meninggal karena resistensi antibiotik

    Simak Video “Video: BPOM Peringati Farmasi-Apoteker Ikuti Aturan Pemberian Antibiotik!”
    [Gambas:Video 20detik]

  • Makan Pepaya Muda untuk Ibu Hamil, Bolehkah?

    Makan Pepaya Muda untuk Ibu Hamil, Bolehkah?

    Jakarta

    Pepaya dikenal sebagai makanan dengan vitamin C tinggi yang baik dikonsumsi. Tetapi ibu hamil tidak boleh sembarangan makan pepaya. Pepaya muda untuk ibu hamil bisa berdampak negatif.

    Pepaya muda ini sering kali kita temukan pada olahan masakan, seperti oseng atau tumisan. Jika makan di warung makan prasmanan, ibu hamil sebaiknya menghindari menu tersebut.

    Dalam artikel ini akan kita ulas informasi tentang makan pepaya muda untuk ibu hamil, mulai dari kandungan pepaya muda, risiko jika dimakan ibu hamil, hingga manfaat pepaya muda untuk ibu menyusui.

    Kandungan Pepaya Muda dan Matang

    Meski sama-sama pepaya, kandungan antara pepaya muda berbeda dengan pepaya yang sudah matang. Dikutip dari Healthline, berikut perbedaan kandungan keduanya:

    Kandungan Pepaya Muda

    Pepaya muda atau pepaya mentah adalah pepaya masih berkulit hijau tua. Sedangkan bagian dalamnya berwarna hijau muda. Kandungan pepaya mentah adalah:

    Kandungan Pepaya Matang

    Pepaya matang adalah pepaya yang berkulit kuning. Bagian dalamnya berwarna oranye kemerahan. Kandungannya adalah sebagai berikut:

    Beta-karotenKolinSeratFolatKaliumVitamin A, B, dan CRisiko Pepaya Muda untuk Ibu Hamil

    Dikutip dari situs Parents, pepaya muda mengandung lateks yang mengandung enzim papain. Enzim inilah yang membuat kandungan tidak aman, karena bisa menyebabkan kontraksi rahim dini dan dapat melemahkan selaput penopang janin.

    Sebuah penelitian pada tikus hamil, menunjukkan bahwa mengkonsumsi pepaya muda akan menyebabkan kontraksi dini. Namun hanya sedikit ahli yang mengatakan bahwa pepaya muda bisa menyebabkan keguguran.

    Dalam artikel Healthline, disebutkan kandungan lateks pada pepaya mentah harus dihindari oleh wanita hamil karena:

    Dapat memicu kontraksi uterus yang berisiko menyebabkan persalinan dini.Kandungan papain dapat disalahartikan oleh tubuh sebagai prostaglandin yang terkadang digunakan untuk menginduksi persalinan. Kandungan ini juga dapat melemahkan selaput vital pendukung janin.Lateks adalah alergen umum yang dapat memicu reaksi negatif.Buah untuk Ibu Hamil

    Pepaya matang sebenarnya aman untuk ibu hamil. Tetapi jika Anda termasuk orang yang berhati-hati, maka lebih baik menghindarinya. Sebagai penggantinya, Anda bisa mengkonsumsi buah berikut ini:

    1. Jeruk

    Untuk mencukupi kebutuhan vitamin C, detikers bisa mengganti pepaya dengan jeruk. Satu buah jeruk mengandung sekitar 82 mg vitamin C yang cukup untuk memenuhi asupan harian tubuh ibu dan janin.

    2. Melon

    Buah lain yang direkomendasikan adalah melon. Melon juga sama menyegarkannya dengan pepaya. Serat dan teksturnya teksturnya juga mirip. Selain itu, melon juga mengandung vitamin C dan kalium.

    3. Apel

    Jika membutuhkan cemilan, maka apel cocok sebagai cemilan sehat untuk menahan lapar, daripada makanan manis seperti permen atau kue. Apel memberikan rasa manis dan serat yang sehat.

    Manfaat Pepaya Muda untuk Ibu Menyusui

    Meski pepaya muda untuk ibu hamil adalah hal yang berdampak negatif, ternyata pepaya muda memiliki manfaat baik untuk ibu menyusui. Kandungannya dapat memperlancar ASI.

    Dalam Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 22 (3), Oktober 2022, penelitian pada ibu menyusui menunjukkan pengaruh peningkatan volume ASI ketika mengkonsumsi sayur pepaya muda.

    Senyawa alkaloid dan saponin pada pepaya muda mempunyai efek laktagogum yang berpotensi menstimulasi hormon oksitosin dan prolaktin. Hormon tersebut berguna meningkatkan volume ASI.

    Demikian penjelasan mengenai pepaya muda untuk ibu hamil, mulai dari zat yang terkandung pada pepaya muda, risiko untuk ibu hamil, dan buah penggantinya.

    (bai/fds)

  • Video Kepala BPOM Ungkap Data Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep: Mengerikan

    Video Kepala BPOM Ungkap Data Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep: Mengerikan

    Video Kepala BPOM Ungkap Data Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep: Mengerikan

  • Kebiasaan Tidur Seperti Ini Tingkatkan Risiko Stroke dan Serangan Jantung

    Kebiasaan Tidur Seperti Ini Tingkatkan Risiko Stroke dan Serangan Jantung

    Jakarta

    Tidur dengan durasi cukup dan kualitas yang baik merupakan salah satu faktor kesehatan yang sangat penting. Tidak ada hanya itu, rupanya kapan waktu jam tidur juga dapat memengaruhi status kesehatan tubuh.

    Penelitian terbaru belum lama ini mengungkapkan risiko tidur hanya di jam tertentu dengan jadwal yang berubah-ubah dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke yang lebih tinggi. Ahli mengatakan meski seseorang tidur selama 8 jam, tidur pada jam-jam yang tidak teratur dapat meningkatkan risiko kondisi yang mematikan hingga lebih dari seperlima.

    “Hasil kami menunjukkan bahwa keteraturan tidur mungkin lebih relevan daripada durasi tidur yang cukup dalam memodulasi risiko kejadian kardiovaskular yang merugikan,” kata peneliti dari Universitas Ottawa Kanada, Dr Jean-Philippe Chaput dikutip dari Daily Star, Jumat (29/11/2024).

    Menurut Chaput, perhatian soal keteraturan tidur juga harus lebih ditingkatkan dalam pedoman kesehatan masyarakat dan praktik klinis. Hal ini berperan potensial dalam meningkatkan pencegahan risiko penyakit kardiovaskular.

    Ia menyimpulkan risiko serangan jantung dan stroke sangat terkait dengan pola tidur yang tidak teratur.

    Penelitian dilakukan dengan meneliti data dari 72.269 orang berusia 40-79 tahun yang ikut serta dalam studi UK Biobank. Tidak ada seorang pun yang memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan jantung saat proses penelitian dimulai.

    Mereka menggunakan alat pelacak aktivitas setiap hari untuk mencatat tidur mereka dan para ahli kemudian menghitung skor Indeks Keteraturan Tidur masing-masing peserta. Skala yang digunakan adalah 0-100 dengan 0 sebagai ‘sangat tidak teratur’ dan 100 sebagai ‘sangat teratur.’

    Pelacakan ini dilakukan selama 8 tahun. Ahli menganalisa berapa banyak yang mengidap kondisi seperti serangan jantung, gagal jantung, atau stroke dan bagaimana kaitannya dengan pola tidur.

    Bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor yang dapat memengaruhi hasil, seperti asupan kopi dan tingkat olahraga, orang yang tidak teratur 26 persen lebih mungkin mengalami serangan jantung, gagal jantung, dan stroke daripada mereka yang tidur teratur.

    Untuk orang yang jadwal tidurnya tidak teratur tapi dalam tingkat moderat, mereka 8 persen lebih berisiko mengalami penyakit kardiovaskular tersebut.

    Perawat jantung senior di British Heart Foundation Emily McGrath mengatakan sebenarnya belum jelas pasti mengapa pola tidur yang baik bermanfaat untuk jantung. Namun, sudah ada banyak penelitian yang menunjukkan tidur yang terganggu dapat meningkatkan kadar protein lebih tinggi, disebut CRP atau C-reactive protein.

    “Ini adalah tanda peradangan, proses terkait dengan penyakit jantung dan tekanan darah. Tidur juga dapat berdampak tidak langsung pada kesehatan jantung, dengan memengaruhi pilihan gaya hidup kita,” ujar Emily.

    (avk/kna)

  • BPOM Sebut Tingkat Kesadaran Indonesia soal Antibiotik Sangat Rendah

    BPOM Sebut Tingkat Kesadaran Indonesia soal Antibiotik Sangat Rendah

    Jakarta – Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyebut tingkat kesadaran memanfaatkan antibiotik secara tepat di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini dikatakan karena melihat masih mudah warga mendapatkan antibiotik tanpa resep yang bisa berdampak pada resistensi.

    (/)