Category: Detik.com Kesehatan

  • BPOM RI Buka Suara soal Klinik Ria Beauty Pakai Krim Ilegal Hilangkan Bopeng

    BPOM RI Buka Suara soal Klinik Ria Beauty Pakai Krim Ilegal Hilangkan Bopeng

    Jakarta

    Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) buka suara soal ‘klinik’ Ria Beauty yang melakukan praktik kecantikan tidak memenuhi standar. Influencer Ria Agustina yang merupakan pemilik sekaligus pelaku tindakan ilegal tersebut rupanya bukan merupakan dokter kecantikan. Menurut pemeriksaan kepolisian, yang bersangkutan hanya seorang lulusan sarjana perikanan berbekal sertifikat pelatihan.

    Alat kesehatan yang digunakan klinik abal-abal untuk menghilangkan bopeng atau bekas jerawat tersebut, juga tidak memenuhi izin edar. Begitu pula dengan temuan krim anestesi dan serum yang digunakan, dilaporkan tak berizin BPOM.

    “Tentu itu menjadi concern kami, dan pasti BPOM RI akan bertindak sesuai tupolskinya, kami sudah bertindak, kepada Deputi, yang menangani hal ini, hubungannya dengan produk kosmetik tadi,” beber Taruna kepada detikcom, Senin (9/12/2024).

    “Tidak punya izin edar dan sebagainya, makan tentu itu adalah ilegal, saya sudah bicara dengan deputi 4 untuk menjelaskan dan mencoba observasi masalahnya,” lanjut dia,

    BPOM RI disebutnya memiliki 600 penindak pegawai nasional yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mengusut kasus semacam ini. Masyarakat diimbau untuk berhati-hati dalam memilih klinik, memastikan yang bersangkutan mengantongi sertifikasi izin praktik, juga obat-obat yang digunakan sudah resmi berizin BPOM.

    Publik sebaiknya tidak terlena dengan iming-iming harga murah saat memilih perawatan di sebuah klinik.

    Ria dijerat pasal 435 jo. pasal 138 ayat (2) dan/atau ayat (3), serta pasal 441 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Terancam pidana penjara paling lama 12 tahun atau denda terbanyak Rp 5 miliar.

    Awal Mula Kasus Terungkap

    Polisi meringkus Ria bersama asistennya berinisial DN (58) atas dugaan malpraktek di kamar hotel daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (1/12/2024). Mereka ditangkap saat keduanya sedang memberikan layanan kecantikan di kamar hotel 2028. Kamar itu diketahui dijadikan tempat praktik klinik tak berizinnya.

    “Hasil pemeriksaan tersangka, Ria dan DN bukan merupakan seorang tenaga medis maupun tenaga kesehatan,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes (Pol) Wira Satya Triputra dalam jumpa pers, Jumat (6/12).

    Meski tidak memiliki kualifikasi sebagai tenaga medis kesehatan kulit, Ria membuka klinik kecantikannya di Malang, Jawa Timur, dan membuka cabang barunya di Kuningan, Jakarta Selatan bernama Ria Beauty.

    “Tersangka bukan merupakan tenaga medis maupun tenaga kesehatan yang dengan sengaja mengambil keuntungan dengan cara membuka jasa menghilangkan bopeng pada wajah,” ungkap Wira.

    Saat dilakukan pemeriksaan, polisi menemukan alat derma roller yang menjadi barang bukti kuat dalam kasus dugaan malpraktek. Polisi mengidentifikasi alat derma roller yang dimiliki Ria tidak berizin.

    “Tersangka dengan sengaja mengambil keuntungan dengan cara membuka jasa menghilangkan bopeng pada wajah dengan cara digosok menggunakan alat GTS roller yang belum memiliki izin edar, hingga jaringan kulit menjadi luka,” beber Wira.

    Tidak hanya itu, krim anestesi dan serum yang diberikan kepada pelanggannya (korban) juga ternyata tidak terdaftar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

    “Lalu diberikan serum yang tidak memenuhi standar keamanan, di mana tersangka mengaku memiliki kompeten yang sah didukung oleh sertifikat pelatihan yang dia miliki,” ujar Wira.

    “Biayanya (per satu kali treatment) cukup mahal, di atas Rp 10 juta, Rp 85 juta juga ada biaya sekali perawatan,” tutur Wira.

    (naf/kna)

  • Kisah Pilu Penyintas HIV asal Tangerang, Ternyata Tertular dari Mantan Suami

    Kisah Pilu Penyintas HIV asal Tangerang, Ternyata Tertular dari Mantan Suami

    Jakarta

    Salah seorang perempuan bernama H (44) harus hidup berdampingan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) seumur hidupnya. Dirinya mengaku tertular HIV dari sang mantan suami.

    “Sudah tahu pada akhirnya pas kondisi saya memburuk. Akhirnya saya tes (HIV), saya tertular dari (mantan) suami saya,” kata H saat bercerita kepada detikcom di Jakarta Pusat, Minggu (8/12/2024).

    Sebelumnya, H tidak mengetahui dengan baik tentang apa itu HIV dan bagaimana penyakit ini dapat memperburuk kondisi kesehatannya. Namun, setelah kondisinya kian memburuk, dirinya memutuskan untuk meminta pertolongan dokter.

    “Dulu tes HIV itu tidak seperti sekarang, tes satu jam selesai. Dulu itu dua minggu, jadi saya menunggu. Seperti yang saya sebutkan tadi pada 15 Februari 2008, saya buka hasil ternyata saya positif HIV dengan AIDS stadium 4,” kata H.

    Mengetahui bahwa ada HIV di tubuhnya, H sempat tak bisa berpikir jernih. Namun, dokter tetap memberikan obat ARV (antiretroviral) untuk mencegah virus ini lebih merusak tubuhnya.

    “Saya berpikir bahwa saat itu saya mungkin akan mati karena HIV. Tapi saya minum si ARV itu, saya minum ternyata dua minggu setelah minum berat badan saya naik empat kilo,” katanya.

    “Setiap bulan saya tanya ke dokter, ‘dok, kapan saya mati? Berapa lama lagi saya hidup?’” sambungnya.

    Anak Juga Tertular HIV

    Sebelum mencoba untuk dirinya sendiri, pada tahun 2007, H sempat melahirkan salah satu putrinya. Namun, karena dirinya mungkin belum merasakan gejala HIV, virus ini juga tertular ke anaknya.

    “Saya (waktu itu) masih ibu rumah tangga yang cukup naif. Saya konfirmasi ke pasangan (mantan suami) bahwa anak kami positif HIV. Pasangan saya cuma bilang, ‘iya kalaupun HIV bukan dari kita berdua,” kata H.

    “Pada tahun 2007 masih belum ada pemeriksaan ibu hamil dites HIV seperti sekarang. Jadinya saya luput pemeriksaan. Jadi saya melahirkan secara normal, saya memberikan ASI bahkan mix feeding,” sambungnya.

    H mengakui bahwa keterbatasan informasi terkait HIV di keluarganya pada waktu itu membuat anaknya tidak mendapatkan pengobatan secara baik, sehingga membuat sang buah hati ‘berpulang’ dua minggu setelah dinyatakan positif.

    “Pada awal anak ada indikasi tentang HIV dokter minta kami berdua yang tes, tapi suami saya menolak. Jadi hanya anak saya yang dites dan hasilnya positif,” katanya.

    NEXT: Diskriminasi yang Dialami Penyintas HIV

  • Menkes Bicara soal Kemungkinan Iuran BPJS Kesehatan Naik di 2025

    Menkes Bicara soal Kemungkinan Iuran BPJS Kesehatan Naik di 2025

    Jakarta

    Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan kemungkinan belum ada kenaikan iuran kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan pada 2025.

    “2025 kita belum menganggarkan adanya kenaikan iuran BPJS, saya rasa kalau dilihat dari kondisi keuangannya, 2025 seharusnya masih (tetap),” kata Menkes di Jakarta, Minggu, (8/12/2024) dikutip Antara.

    Sebelumnya sempat ramai soal opsi kenaikkan iuran setelah BPJS Kesehatan dihadapkan dengan kemungkinan defisit dan gagal bayar.

    Sejak tahun 2023, dilaporkan terjadi ketimpangan antara biaya pengeluaran BPJS Kesehatan dan pemasukan yang didapatkan dari premi atau iuran peserta.

    Kesenjangan antara besaran premi yang diterima BPJS Kesehatan dan yang dikeluarkan untuk membiayai layanan kesehatan masyarakat penerima manfaat berpotensi memicu defisit anggaran yang serius.

    Meskipun demikian Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti sebelumnya memastikan bahwa aset neto BPJS Kesehatan masih sehat, meski ada risiko defisit. Dirinya juga memastikan pihaknya lancar dalam membayar rumah sakit pada 2025.

    Adapun terkait kenaikan iuran, sebagaimana pada Peraturan Presiden (PP) Nomor 59 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan disebutkan bahwa per dua tahun kenaikan iuran dibolehkan.

    Namun hal ini perlu dievaluasi terlebih dahulu, maksimum 30 Juni atau 1 Juli 2025, iuran atau tarifnya akan ditetapkan.

    “Bisa naik, bisa tetap, ini kan senario. Tapi kalau BPJS sebagai badan yang mengeksekusi, bukan yang bikin regulasi ya,” kata Ali usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, (13/11/2024).

    (suc/suc)

  • Dugaan Epidemiolog soal Pemicu Penyakit Misterius yang Melanda Kongo

    Dugaan Epidemiolog soal Pemicu Penyakit Misterius yang Melanda Kongo

    Jakarta

    Otoritas kesehatan Republik Demokratik Kongo belakangan tengah ketar-ketir setelah dihadapi wabah penyakit misterius mirip flu. Penyakit tersebut memicu hampir 80 kematian dari 376 kasus yang dilaporkan, dengan infeksi pertama tercatat pada akhir Oktober.

    Penyakit yang tidak diketahui ini saat ini terkonsentrasi di distrik Panzi di provinsi Kwango, yang terletak sekitar 435 mil (700 kilometer) dari ibu kota, Kinshasa. Distrik Panzi terpencil, dengan jalan yang sulit diakses dan infrastruktur kesehatan yang hampir tidak ada.

    Pihak berwenang telah mengirimkan tim penelitian medis, termasuk ahli epidemiologi, ke lokasi tersebut untuk menilai situasi dan membawa sampel ke Kikwit untuk dianalisis.

    Menurut Menteri Kesehatan setempat Samuel-Roger Kamba, orang-orang menunjukkan gejala demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tubuh.

    “Ini adalah sindrom yang menyerupai sindrom flu dengan gangguan pernapasan pada beberapa anak dan pada beberapa orang yang telah meninggal,” kata menteri tersebut.

    Ia mengatakan 40 persen kasus terjadi pada anak-anak berusia di bawah 5 tahun , yang sebagian besarnya “sudah rapuh karena kekurangan gizi.”

    Ada juga penurunan abnormal pada kadar hemoglobin dalam darah, menurut Menteri Kesehatan provinsi Apollinaire Yumba.

    Terkait kejadian tersebut, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menduga patogen yang merebak di Republik Demokratik Kongo kemungkinan dipicu oleh virus. Hal ini dikarenakan pasien-pasien yang mengidap penyakit tersebut mengalami gejala seperti flu.

    “Demam, nyeri badan, ada juga gangguan nyeri tulang dan ada nyeri kepala, dan yang khas dari gejala ini adalah juga ada gangguan di menekan kemampuan napas yang akhirnya juga salah satu menyebabkan kematian, distress namanya,” imbuhnya saat dihubungi detikcom, Senin (9/12/2024).

    “Ada penurunan hemoglobin dan ini terjadi umumnya 40 persen pada anak di bawah 5 tahun,” katanya lagi.

    Ditambah lagi situasi kesehatan secara umum di RD Kongo memang sudah memburuk. Bahkan kata Dicky, banyak anak mengalami malnutrisi yang menjadi korban terbanyak.

    “Selain yang harus diingat di belahan bumi utara ini pada bulan seperti Desember ini adalah siklus flu, maksudnya virus flu jadi ini yang juga bisa berpotensi,” katanya.

    “Tapi sekali lagi apakah ini betul virus atau bakteri ya tentu kita harus tunggu hasil dari investigasi WHO,” sambungnya.

    (suc/kna)

  • Klinik Ria Beauty Pakai Alat Ilegal untuk Hilangkan Bopeng, Bisa Begini Efeknya

    Klinik Ria Beauty Pakai Alat Ilegal untuk Hilangkan Bopeng, Bisa Begini Efeknya

    Jakarta

    Heboh klinik ‘Ria Beauty’ melakukan praktik kecantikan yang tidak memenuhi standar. Pemilik klinik abal-abal tersebut menawarkan layanan kecantikan untuk menghilangkan bopeng atau bekas jerawat dengan alat yang tidak memenuhi izin edar.

    Terkait hal tersebut, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dr Hanny Nilasari, SpDVE menegaskan pentingnya masyarakat mengecek klinik kecantikan dan dokter yang berpraktek untuk memastikan keamanan prosedur yang dipilih.

    “Hal yang perlu diperhatikan adalah terkait alergi kulit atau iritasi kulit akibat penggunaan krim atau tindakan tag dilakukan,” kata dr Hanny kepada detikcom, Senin (9/12/2024).

    Lebih lanjut, dr Hanny mengatakan ada risiko inflamasi dan radang kulit yang meninggalkan bekas hitam sampai risiko infeksi kulit saat memilih melakukan perawatan di klinik tanpa standardisasi yang telah ditetapkan.

    “Infeksi kulit akibat tindakan yang dilakukan dengan mengabaikan sterilitas hingga keganasan kulit akibat bahan toksik yang digunakan dalam jangka waktu yang lama,”

    Owner klinik kecantikan abal-abal Ria Beauty ditahan setelah melakukan perawatan tanpa standar yang tepat. Dari hasil pemeriksaan, alat derma roller yang digunakan Ria untuk melakukan perawatan bopeng tersebut tak memiliki izin edar. Krim anestesi dan serum yang digunakan juga tak terdaftar BPOM.

    “Membuka jasa menghilangkan bopeng pada wajah dengan cara digosok menggunakan alat GTS roller yang belum memiliki izin edar, hingga jaringan kulit menjadi luka,” kata Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya Triputra.

    (kna/kna)

  • Geger Penyakit Misterius Mirip Flu di Kongo, Bakal Jadi Next Pandemi?

    Geger Penyakit Misterius Mirip Flu di Kongo, Bakal Jadi Next Pandemi?

    Jakarta

    Otoritas kesehatan di Republik Demokratik Kongo (DRC) tengah menyelidiki wabah penyakit yang telah menewaskan puluhan orang. Sejauh ini pihak berwenang telah mengonfirmasi hampir 80 kematian dari 376 kasus yang dilaporkan, dengan infeksi pertama tercatat pada akhir Oktober.

    “Kami tidak tahu apakah kami sedang berhadapan dengan penyakit virus atau penyakit bakteri,” kata Dieudonne Mwamba, direktur jenderal Institut Kesehatan Masyarakat Nasional, dalam jumpa pers daring yang diselenggarakan lembaga pengawas kesehatan Uni Afrika , Africa CDC, dikutip dari DW.

    Penyakit yang tidak diketahui ini saat ini terkonsentrasi di distrik Panzi di provinsi Kwango, yang terletak sekitar 435 mil (700 kilometer) dari ibu kota, Kinshasa. Distrik Panzi terpencil, dengan jalan yang sulit diakses dan infrastruktur kesehatan yang hampir tidak ada.

    Pihak berwenang telah mengirimkan tim penelitian medis, termasuk ahli epidemiologi, ke lokasi tersebut untuk menilai situasi dan membawa sampel ke Kikwit untuk dianalisis.

    Menurut Menteri Kesehatan Samuel-Roger Kamba, orang-orang menunjukkan gejala demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tubuh.

    “Ini adalah sindrom yang menyerupai sindrom flu dengan gangguan pernapasan pada beberapa anak dan pada beberapa orang yang telah meninggal,” kata menteri tersebut.

    Ia mengatakan 40 persen kasus terjadi pada anak-anak berusia di bawah 5 tahun , yang sebagian besarnya “sudah rapuh karena kekurangan gizi.”

    Bakal Jadi Pandemi Selanjutnya?

    Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan terkait risiko terjadinya pandemi tentu harus dipastikan terlebih dahulu dan menunggu hasil dari temuan maupun investigasi dari Tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Dirinya juga mengatakan apabila bicara potensinya untuk saat ini, menurutnya risiko terjadinya pandemi masih tergolong kecil. Pasalnya, penyakit yang menyebar cepat dan menyebabkan kematian tinggi seperti yang terjadi di Kongo membuat pasien-pasiennya belum sempat menularkan penyakit yang dialami tersebut.

    “Jadi artinya penyakit ini memiliki potensi untuk wabah masih dengan risiko kecil itu dalam artian kan orang yang sakitnya nggak sempat kemana-mana ya dalam potensi menularkan,” imbuhnya saat dihubungi detikcom, Senin (9/12/2024).

    “Akan sangat berbeda ketika kalau kita temukan bahwa penyakit ini ternyata bisa ditularkan oleh orang yang tidak bergejala. Nah ini yang tentu akan meningkatkan risiko pandemi. Jadi kalau bicara sekali lagi risiko ini menjadi pandemi, ini masih harus kita amati dengan seksama ya,” katanya lagi.

    Di sisi lain dirinya juga menyebut penting untuk pemerintah Indonesia melakukan pengetatan pintu masuk untuk mengantisipasi wabah dan mencegah hal tersebut. Meski pengetatannya tak seketat saat pandemi, namun kata Dicky standar yang berlaku harus jauh lebih baik.

    “Misalnya screening masalah suhu, gejala, ini menjadi hal yang sangat harus selalu dilakukan di semua pintu masuk, darat, laut, udara,” sambungnya lagi.

    (suc/kna)

  • Fakta-fakta BPOM Temukan Lonjakan Penyalahgunaan Ketamin, Sefatal Ini Dampaknya

    Fakta-fakta BPOM Temukan Lonjakan Penyalahgunaan Ketamin, Sefatal Ini Dampaknya

    Jakarta

    Kasus penyalahgunaan ketamin kini menjadi perhatian serius Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM). Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa pihaknya telah meningkatkan pengawasan khusus terhadap distribusi zat ini.

    Langkah tersebut dilakukan setelah ditemukan adanya pelanggaran dan penyimpangan, baik di fasilitas distribusi maupun pelayanan kefarmasian.

    “Obat keras ini harus pakai resep dokter, harus diawasi. Tidak sembarangan dokter mengeluarkan. Harus jelas ditujukan ke siapa dan digunakan dimana,” kata Taruna.

    Pengawasan yang lebih ketat ini diharapkan dapat meminimalkan risiko penyalahgunaan ketamin di tengah masyarakat.

    Apa Itu Ketamin?

    Dikutip dari Alcohol and Drug Foundation, ketamin adalah obat bius yang lazim digunakan oleh tenaga medis dan dokter hewan.

    Ketamin memiliki fungsi penting dalam dunia medis, khususnya untuk prosedur anestesi. Namun, penggunaannya tidak lepas dari potensi penyalahgunaan.

    Ketamin sering disalahgunakan secara ilegal untuk tujuan rekreasional. Penyalahgunaan ini dapat mengakibatkan efek samping berbahaya, mulai dari gangguan psikologis hingga ancaman kesehatan serius.

    Sebagai obat disosiatif, ketamin dapat memengaruhi kesadaran seseorang, menciptakan perasaan terlepas dari tubuh, serta memicu halusinasi yang menyerupai efek psikedelik.

    Lonjakan Distribusi Ketamin

    Data distribusi ketamin menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

    Pada tahun 2022, sebanyak 134 ribu vial ketamin injeksi disalurkan ke fasilitas pelayanan kefarmasian. Jumlah ini meningkat menjadi 235 ribu vial pada tahun 2023, yang berarti kenaikan sebesar 75 persen.

    Tren tersebut terus berlanjut pada tahun 2024 dengan distribusi mencapai 440 ribu vial, atau meningkat sebesar 87 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa peningkatan ini juga terlihat dalam distribusi ke apotek, yang melonjak hingga 246 persen pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

    “Kita, kalau tidak hati-hati, akan menimbulkan kecemasan. Saya melihat ini sangat mengerikan trennya, dalam waktu satu tahun meningkat hampir 100%. Secara spesifik saya mengatakan tren peningkatan distribusi ketamin pada tahap mengkhawatirkan,” ujar Taruna.

  • Heboh Sarjana Perikanan Jadi Dokter Kulit Abal-abal, Perdoski Buka Suara

    Heboh Sarjana Perikanan Jadi Dokter Kulit Abal-abal, Perdoski Buka Suara

    Jakarta

    Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dr Hanny Nilasari, SpDVE menanggapi ditangkapnya pemilik klinik kecantikan ‘Ria Beauty’ atas kasus praktik yang tidak memenuhi standar. Pemilik klinik, Ria Agustina, ditahan karena melakukan perawatan kecantikan di luar kapasitasnya.

    “Sangat disayangkan hal ini dapat terjadi. Sebetulnya dalam regulasi, semua klinik utama/pratama, tentunya mempunyai izin. Bila ada klinik yang tidak mempunyai izin tentunya hal ini menyalahi UU/Hukum, menjadi tugas regulator dalam hal ini pemerintah untuk mengatur dan mengidentifikasinya,” kata dr Hanny saat dihubungi detikcom, Senin (9/12/2024).

    Seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang peduli dengan perawatan kulit, klinik kecantikan memang semakin menjamur. Hanya saja masih banyak masyarakat yang asal pilih klinik dengan hanya melihat review atau ulasan tanpa mengecek lebih lanjut legalitas klinik.

    dr Hanny mengingatkan agar setiap pasien perlu mencari tahu secara mendalam mengenai klinik atau rumah sakit yang dipilih untuk meminta pertolongan atau perawatan.

    “Perlu idenfikasi dokter yang berpraktek, biasanya ada di profile klinik/RS tersebut. Bahkan pasien dapat mengetahui terkait keahlian atau spesialisasi dokter yang berpraktek,” tuturnya.

    Sebelumnya diberitakan Ria Agustina, pemilik ‘Ria Beauty’ dan rekannya ditangkap setelah melakukan praktik di hotel kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Belakangan diketahui, Ria ternyata bukan seorang dokter atau tenaga medis. Ria merupakan lulusan sarjana perikanan.

    “Untuk Ria Beauty, dia background-nya kan sarjana perikanan,” kata Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Syarifah.

    (kna/kna)

  • Studi Ungkap Banyak Bunuh Diri Terjadi Hari Senin, Apa Penyebabnya?

    Studi Ungkap Banyak Bunuh Diri Terjadi Hari Senin, Apa Penyebabnya?

    Jakarta

    CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangai klinik kesehatan jiwa. Layanan konsultasi kesehatan jiwa juga disediakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) di laman resminya yaitu www.pdskji.org. Melalui laman organisasi profesi tersebut disediakan pemeriksaan secara mandiri untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa seseorang.

    Kebanyakan kasus meninggal akibat bunuh diri terjadi pada Senin ketimbang hari lainnya. Hal ini terungkap melalui studi analisis global yang dilakukan selama hampir empat dekade.

    Studi itu juga menemukan risiko bunuh diri meningkat pada Hari Tahun Baru.

    Dikutip dari Euronews, penelitian yang diterbitkan di jurnal BMJ menganalisis 1,7 juta kasus bunuh diri di 26 negara yang terjadi antara 1971 dan 2019. Para peneliti menemukan risiko bunuh diri di Finlandia, Afrika Selatan, dan sejumlah negara di Amerika Selatan meningkat di akhir pekan.

    Di sisi lain, banyak negara di Amerika Utara, Asia, dan Eropa mengalami penurunan angka bunuh diri di akhir pekan. Tidak jelas apa yang mendorong tren ini, namun penulis studi mengungkapkan tekanan kerja di awal minggu, konsumsi alkohol di akhir pekan, dan isolasi sosial di sekitar hari libur dapat menjadi faktor yang berperan.

    Profesor psikologi dari Nottingham University, Brian O’Shea mengatakan peningkatan risiko bunuh diri di Hari Tahun Baru sebagian disebabkan oleh rasa takut atau kecemasan yang menyertai saat mabuk.

    “Mungkin penjelasan yang paling logis adalah orang-orang minum lebih banyak dari biasanya pada Tahun Baru, dan jika Anda sudah menghadapi tekanan emosional, dan juga harus menghadapi penarikan fisiologis dari alkohol, itu dapat membuatnya semakin parah dan mendorong Anda melewati batas,” kata O’Shea.

    Ia menambahkan risiko tersebut bisa sangat serius bagi pria, yang cenderung minum lebih banyak dan memiliki jejaring sosial yang lebih lemah dibandingkan wanita.

    Risiko Bunuh Diri di Hari Besar Lain

    Hingga saat ini, belum ada kesimpulan global tentang risiko bunuh diri di Hari Natal. Angka bunuh diri pada Hari Natal biasanya meningkat di negara-negara Amerika Tengah dan Selatan, serta Afrika Selatan. Namun, menurun di negara-negara Amerika Utara dan Eropa.

    Para peneliti juga meneliti dampak Hari Tahun Baru Imlek di China, Korea Selatan, dan Taiwan. Mereka menemukan risiko bunuh diri hanya turun di Korea Selatan pada tanggal tersebut.

    Angka bunuh diri umumnya sedikit menurun pada hari libur nasional lainnya, meskipun terkadang meningkat satu atau dua hari kemudian.

    Para penulis studi menjelaskan ikatan keluarga dan sosial yang kuat mungkin dapat menjelaskan risiko bunuh diri yang lebih rendah pada hari libur. Namun, diperlukan lebih banyak penelitian karena tingkat bunuh diri di setiap negara sangat berbeda-beda.

    (ath/kna)

  • Kata Mereka yang ‘Kecanduan’ Pound Fit, Makin Berisik Makin Asyik

    Kata Mereka yang ‘Kecanduan’ Pound Fit, Makin Berisik Makin Asyik

    Jakarta

    Pound fit belakangan ini menjadi olahraga cukup populer di Indonesia. Aktivitas fisik yang menggabungkan pilates dan kardio menarik banyak penggemar karena hentakan kaki, teriakan-teriakan para peserta kelas, hingga bunyi ripstix-nya.

    Di sisi lain, pound fit juga tak luput dari cibiran dari banyak masyarakat. Tidak sedikit yang merasa tidak nyaman dengan suara-suara berisik tersebut, sehingga merasa terganggu dan menganggapnya sebatas ‘polusi suara’ saja.

    Namun, bagi Adisty (43) seorang karyawan swasta di Jakarta yang mengikuti kelas pound fit mengatakan suara-suara yang dianggap berisik tersebut justru dapat meningkatkan semangat mereka saat olahraga.

    “Musik (di pound fit) justru meningkatkan adrenalin kita supaya lebih semangat sih,” ujar Adisty kepada detikcom, di Jakarta Pusat, Selasa (3/12/2024).

    [Gambas:Instagram]

    Sementara itu, Sya’ran (21) karyawan swasta di Jakarta juga mengatakan teriakan-teriakan para peserta di kelas pound fit bisa membuat olahraga ini menjadi lebih seru.

    “Berisiknya tuh karena kita energik, jadi pas olahraga itu kita teriak-teriak. Tapi so much fun sih,” kata Sya’ran.

    Senada, Steffi (32) yang juga karyawan swasta di Jakarta mengatakan bahwa olahraga pound fit ini terinspirasi dari alat musik drum, sehingga suara berisik hasil dari gebukan ripstix membuat dirinya lebih semangat.

    “Seperti halnya musik, mungkin terasa berisik karena memang pesertanya banyak dan bersama-sama serentak menggertakkan stik drumnya (ripstix). Makin berisik makin asik,” kata Steffi.

    NEXT: Kenapa Sih Pound Fit Identik dengan Berisik?