Category: Detik.com Kesehatan

  • Tinggal di Rumah Mertua Rentan Picu Konflik, Harus Gimana? Ini Saran Psikolog

    Tinggal di Rumah Mertua Rentan Picu Konflik, Harus Gimana? Ini Saran Psikolog

    Jakarta

    Tidak sedikit pasangan suami istri yang harus tinggal di rumah mertua setelah menikah. Keputusan tinggal di rumah mertua pun bukan hal yang mudah bagi pihak suami maupun istri.

    Satu atap dengan orang tua istri atau suami tak jarang menimbulkan konflik. Perbedaan karakteristik antara menantu dan mertua terkadang memicu perselisihan yang membuat stres.

    “Biasanya kalau tinggal di rumah mertua, jangankan apresiasi, tidak dikritik pun sudah bagus. Jadi ada beberapa kasus di tempat praktek yang saran saya tuh ‘udah deh, pindah rumah saja’,” kata psikolog klinik dari Universitas Indonesia Vera Itabiliana Hadiwidjojo saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (10/11/2024).

    Namun, kata Vera, pilihan pindah rumah juga tak mudah. Ada banyak faktor yang memang membuat pasangan suami istri harus tetap berada di rumah mertua.

    Jika tidak bisa pindah rumah, hal penting yang harus dilakukan adalah mengelola ekspektasi. Diskusi dengan pasangan juga penting untuk bisa menjembatani antara istri atau suami dengan orang tua.

    “Jadi kita kelola ekspektasi dan standar kita demi bahagia kita juga,” tandas Vera.

    (kna/naf)

  • Dokter Onkologi Bicara Penyebab Pasien Kanker RI Pilih Berobat ke Negara Tetangga

    Dokter Onkologi Bicara Penyebab Pasien Kanker RI Pilih Berobat ke Negara Tetangga

    Jakarta

    Singapura dan Malaysia menjadi dua negara pilihan pasien kanker di Indonesia untuk berobat. Hal ini lantas memunculkan pertanyaan apa yang membuat banyak pasien kanker memilih berobat ke luar negeri? Padahal, dokter di Indonesia sebenarnya juga tidak kalah mumpuni dari dokter di negara tetangga.

    Ketua Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN) Dr dr Tubagus Djumhana SpPD KHOM berpendapat ada beberapa hal yang membuat pengobatan kanker di Malaysia dan Singapura menjadi pilihan.

    dr Djumhana menjelaskan layanan kesehatan Singapura sangat mengedepankan service yang baik pada pasien. Hal ini membuat pasien yang menjalani pengobatan kanker di Singapura merasa sangat nyaman di sana.

    “Penting juga adalah bagaimana men-treat pasien itu seperti di sana. Karena mereka tidak banyak pasien, jadi lebih banyak untuk berdiskusi dengan pasien, namanya speak up biarkan pasien menceritakan apa yang dikeluhkan, dan kita mendengar. Itu waktu yang kita tidak punya adalah karena banyaknya pasien kita,” ujar dr Djumhana ketika berbincang dengan detikcom, Selasa (10/11/2024).

    Hal yang dilakukan oleh Malaysia berbeda. Pemerintah Malaysia memberlakukan aturan-aturan tertentu yang membuat harga obat-obatan kanker di sana menjadi lebih murah atau bahkan gratis.

    Apabila ada obat yang tidak bisa didapatkan dengan harga lebih terjangkau, pasien kanker akhirnya pergi ke Malaysia.

    “Malaysia beda lagi. Pemerintah di sana memberikan kontribusi jasanya sehingga ada obat-obat yang memang digratiskan atau tidak ada pajak, atau dimurahkan. Sehingga orang Indonesia juga pesannya untuk mencari yang murah seperti itu,” jelasnya.

    Oleh karena itu, penting menurutnya untuk mendorong program medical tourism untuk memberikan pelayanan yang terbaik pada pasien. Selain itu, obat-obatan kanker yang tersedia di Indonesia juga harus dijaga ketersediaannya dan dibuat terjangkau harganya.

    “Obatnya harus juga cepat masuk ke Indonesia. Kalau nggak, maka obatnya tidak ada, orang-orang akhirnya pada pergilah ke Malaysia atau Singapura untuk mencari obat,” tandasnya.

    (avk/kna)

  • Video Menkes soal “PR” Peningkatan Penanganan Penyakit Kanker

    Video Menkes soal “PR” Peningkatan Penanganan Penyakit Kanker

    Video Menkes soal “PR” Peningkatan Penanganan Penyakit Kanker

  • Perhimpunan Dokter Estetik Angkat Bicara soal Klinik ‘Abal-abal’ Ria Beauty

    Perhimpunan Dokter Estetik Angkat Bicara soal Klinik ‘Abal-abal’ Ria Beauty

    Jakarta

    Wakil Ketua Pelantikan Perhimpunan Dokter Anti Penuaan, Wellness, Estetik & Regeneratif (PERDAWERI) dr Dyah Agustina Waluyo menegaskan kursus kecantikan bukan satu-satunya ‘bekal’ seseorang melakukan praktik, terlebih menangani persoalan kulit pasien dengan menggunakan sejumlah alat medis.

    Perjalanan panjang juga ditempuh luusan dokter untuk akhirnya diakui kompeten menangani pasien dalam tindakan estetik.

    “Seorang dokter yang lulus dari Fakultas Kedokteran akan mendapatkan Ijazah dari Fakultas. Sesudah itu harus melakukan Ujian (UKMPPD) dan bila lulus mendapatkan Sertifikat Kompetensi dari Kolegium bila sudah lulus ujian tersebut,”
    katanya saat dihubungi detikcom, Rabu (11/12/2024).

    Dengan dua dokumen tersebut, dokter kemudian wajib mendaftar ke konsil kedokteran untuk mendapatkan surat tanda registrasi (STR). Tidak hanya itu, seseorang yang bisa melakukan praktik juga harus mengantongi surat izin praktek (SIP) dari dinas kesehatan setempat.

    Sebagai persyaratan mendapatkan SIP, dokter biasanya melampirkan ijazah dari fakultas kedokteran, sertifikat kompetensi dari kolegium, hingga STR.

    “Ini yang perlu ditanyakan ke Dinkes terkait, bagaimana izinnya. Kalau sebagai beautycian di salon, saya tidak tahu regulasinya,” ucap dr Dyah.

    “Jadi tidak bisa seseorang yang lulus kursus berpraktek sebagai dokter, termasuk berpraktek sebagai dokter di bidang estetika,” tegas dia.

    Hal ini sejalan dengan regulasi Kemenkes RI yang juga mewajibkan sertifikasi yang diikuti perlu terstandarisasi. Mereka yang bisa mengikuti kursus tersebut juga hanya tenaga medis.

    Terlebih, berkaca pada kasus influencer Ria, pemilik Ria Beauty Klinik, yang mengaku ahli dalam pengobatan dermaroller, yang bersangkutan merupakan lulusan sarjana perikanan.

    “Gelar Dipl. Cosme, Dipl. Cidesco, Dipl.Cibtac, Dipl. IBSTAA, Dipl. Herb.Med bukanlah gelar pendidikan akademik. Gelar di atas ditulis untuk menunjukkan telah menempuh kursus kecantikan tertentu, yang diakui di kalangan profesi ahli kecantikan,” beber Kepala Biro Komunikasi Kemenkes RI Aji Munawarman kepada detikcom, Selasa (10/12).

    (naf/kna)

  • Video Temuan Terbaru WHO soal Penyakit Misterius di Kongo

    Video Temuan Terbaru WHO soal Penyakit Misterius di Kongo

    Jakarta – Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan kabar terbaru terkait penyakit misterius di Kongo. Tedros menyebut pihaknya sudah mengambil sampel pada pasien dan hasilnya adalah 10 dari 12 sampel dinyatakan positif malaria. Namun, ada kemungkinan pasien juga terjangkit penyakit selain malaria.

    (/)

  • 9 Kebiasaan yang Bisa Bikin Perut Buncit, Ternyata Bukan Gara-gara Nasi

    9 Kebiasaan yang Bisa Bikin Perut Buncit, Ternyata Bukan Gara-gara Nasi

    Jakarta

    Ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari justru menyebabkan perut buncit. Terutama kebiasaan yang sering pada malam hari dilakukan sebelum tidur.

    Selain mungkin bisa mengganggu penampilan, perut buncit juga bisa berisiko bagi kesehatan tubuh jika sering diabaikan. Oleh sebab itu, ketahui beberapa kebiasaan bikin perut buncit berikut ini.

    Kebiasaan di Malam Hari yang Bikin Perut Buncit

    1. Suka Minum Susu Sebelum Tidur

    Ahli nutrisi dari The Nutrition Twins, Tammy Lakatos Shames dan Lyssie Lakatos, menyebut bahwa ada beberapa kebiasaan di malam hari yang berkontribusi pada penumpukan lemak di area perut.

    Bagi sebagian orang, minum susu dianggap akan membantu mereka agar bisa tidur. Alasannya, karena susu mengandung triptofan, asam amino yang bisa membantu merilekskan sehingga seorang mungkin bisa merasa lebih baik.

    Namun kebiasaan tersebut menjadi salah satu penyebab perut buncit, karena terdapat kalori ekstra di dalamnya.

    “Jika kamu mulai minum 12 ons susu sebelum tidur setiap malam dan tidak mengubah apa pun dalam pola makan, berat badan kamu akan naik 12 pon (setara 5,4 kg) selama 6 bulan, dan perut menjadi salah satu tempat yang paling sering mengalaminya. Jika memilih susu skim, berat badan kamu akan tetap naik lebih dari 6 pon (2,7 kg) selama 6 bulan.” ujar The Nutrition Twins, dikutip dari laman Eat This, Not That yang tayang pada (18/06/2023).

    2. Makan Saat Dekat Waktu Tidur

    Kebiasaan bikin perut buncit lainnya adalah makan terlalu dekat dengan waktu tidur. Pasalnya ketika kita tidur, kita menghentikan pencernaan dan bekerja memperbaiki serta menyembuhkan tubuh kita.

    “Jika ada makanan yang perlu dicerna di dalam usus, hal itu mengalihkan perhatian tubuh dari penyembuhan, karena tubuh berfokus pada pencernaan makanan. Ketika kamu tidur, tubuh mencoba menyimpan energi, memulihkan, dan memperbaiki, kalori tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik dan dapat berakhir dengan nasib buruk, sebagai lemak perut.” kata The Nutrition Twins.

    Penelitian tahun 2022 yang dilakukan Universitas Northwestern mengungkapkan bahwa makan terlalu malam bisa mengacaukan ritme sirkadian. Hal ini berdampak negatif pada pengaturan gula darah dan metabolisme lemak.

    3. Scroll Media Sosial

    Main hp dan buka sosmed menjadi kebiasaan yang paling sering dilakukan di malam hari bukan? Nah, kalau kamu tidur sebaiknya segera tutup HP kamu!

    Pasalnya, cahaya biru yang dipancarkan dari telepon seluler dan komputer akan menekan melatonin. Hal ini akan mengganggu ritme sirkadian serta tidur malam yang nyenyak.

    “Jika kamu tidak tidur nyenyak, otak menginginkan energi dan menginginkan gula. Sehingga, seseorang mudah untuk makan makanan manis secara berlebihan dalam upaya menjaga otak tetap terjaga.” jelas Shames dan Lakatos.

    Tidak hanya, itu kurang tidur juga bisa mempengaruhi hormon sehingga lebih sulit untuk mempertahankan jaringan otot ramping. Hal ini akan meningkatkan metabolisme, sehingga bisa lebih mudah untuk menambah lemak tubuh.

    4. Terjaga Sambil Nonton TV

    Menurut penelitian dalam The Nutrition Source Harvard, streaming TV dikaitkan dengan nilai kalori yang dikonsumsi lebih tinggi dan pola makan yang buruk. Tayangan TV seperti ikan juga bisa memicu seseorang untuk menginginkan camilan yang tidak sehat ketika menonton TV.

    5. Konsumsi Kafein

    Minum secangkir kopi di malam hari akan membuat seseorang terjaga di malam hari. Makannya, kafein bisa merusak tidur nyenyak.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine , mengungkapkan bahwa kafein yang dikonsumsi 6 jam sebelum tidur bisa benar-benar bisa merusak tidur malam yang nyenyak.

    Selain berlaku pada pola tidur, hal ini juga berpengaruh pada penambahan berat badan. Jadi, memang kalau kurang tidur itu bisa menyebabkan perut buncit.

    Menurut laporan dari Harvard Health Publishing, kurang tidur berhubungan dengan peningkatan kadar hormon ghrelin yang membuat kamu lebih lapar. Pada ujungnya akan menyebabkan penambahan berat badan.

    6. Stres

    Dikutip dari Healthline, kortisol merupakan hormon yang penting untuk bertahan hidup. Mereka diproduksi oleh kelenjar adrenal atau disebut sebagai “hormon stres”.

    Stres kronis dapat meningkatkan kadar kortisol Anda. Hal ini dapat meningkatkan keinginan Anda untuk memilih makanan berkalori tinggi demi kenyamanan, yang dapat menyebabkan kelebihan kalori dan penumpukan lemak visceral.

    Hasil tinjauan tahun 2018 yang dilakukan oleh N R W Geike, dkk, menyebut bahwa stres kronis juga bisa berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan obesitas secara keseluruhan akibat kurang tidur, menurunkan motivasi untuk melakukan aktivitas fisik, dan meningkatkan hormon lapar.

    7. Banyak Merokok

    Merokok memang buruk bagi kesehatan, salah satu efek buruknya jug abisa terjadi di perut. Mengutip WebMD, semakin banyak merokok, maka semakin banyak lemak yang tersimpan di perut (dibandingkan di pinggul dan paha).

    8. Tidak Melakukan Aktivitas Fisik

    Olahraga jadi salah satu kunci kesehatan. Jika tubuh kurang bergerak, proses pembakaran kalori menjadi lebih lambat, sehingga bisa menyebabkan penumpukan lemak tak terkecuali di area perut.

    Disarankan untuk melakukan gerakan intensitas sedang selama 30 menit setiap hari. Ini akan membantu membuat lingkar pinggang akan mengecil (dan otot akan membesar), meskipun berat badan tetap sama.

    9. Konsumsi Alkohol

    Kenapa pemabuk perutnya buncit? Karena alkohol mengandung kalori tinggi, sehingga bisa meningkatkan lemak perut.

    Mengutip laman Health, salah satu dampak buruk dari minum alkohol secara berlebihan yaitu peningkatan berat badan karena bisa mempengaruhi hormon yang mengendalikan nafsu makan, rasa lapar, serta stres.

    (khq/fds)

  • Menghilangkan Trauma Anak-anak Korban Kebakaran Kebon Kosong

    Menghilangkan Trauma Anak-anak Korban Kebakaran Kebon Kosong

    Foto Health

    Pradita Utama – detikHealth

    Rabu, 11 Des 2024 11:30 WIB

    Jakarta – Anak-anak korban kebakaran ditampung di SDN 09 Kebon Kosong, Jakarta Pusat. Mereka dihibur dengan permainan untuk menghilangkan trauma karena bencana.

  • Duduk Vs Berdiri, Mana yang Lebih Bikin Sehat Jantung? Ini Temuan Riset

    Duduk Vs Berdiri, Mana yang Lebih Bikin Sehat Jantung? Ini Temuan Riset

    Asisten Profesor Chong Jack Kian, kepala dan konsultan senior di Layanan Vaskular dan Endovaskular Rumah Sakit Umum Sengkang menekankan temuan ini tidak boleh disalahartikan bahwa berdiri tidak dianjurkan. Hal yang perlu ditekankan adalah bila hanya berdiri dalam waktu lama, tidak secara signifikan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

    “Berdiri sambil bergerak sebentar-sebentar seharusnya menjadi tujuan,” saran Prof Chong.

    “Sejalan dengan upaya Badan Promosi Kesehatan, aktivitas selalu dianjurkan. Jika hal itu tidak dapat dicapai melalui latihan khusus yang disengaja, maka kita harus mencari kesempatan untuk melakukannya sepanjang hari kerja.”

    “Berdiri selama dua jam sehari adalah durasi rata-rata yang dihabiskan kebanyakan orang untuk berdiri dan tidak semua orang akan mengalami komplikasi,” kata Dr. John Wang, seorang ahli bedah vaskular dan umum di PanAsia Surgery Group.

    Ia menunjukkan bahwa penelitian tersebut menunjukkan hanya 2,5 persen dari peserta yang mengalami masalah peredaran darah. Penelitian tersebut juga tidak membedakan pasien, yang mungkin sudah rentan terhadap kondisi tersebut, seperti varises yang sudah ada sebelumnya atau riwayat keluarga.

    “Mengekstrapolasi temuan ini ke semua pasien dari semua kelompok umur dan menetapkan batas berdiri dua jam sehari agak berlebihan. Pekerjaan dan mata pencaharian orang dapat terpengaruh dengan salah tafsir data ini,” kata Dr. Wang.

    Berdiri Lebih Banyak Bakar Kalori?

    Perbedaan pengeluaran kalori antara duduk dan berdiri adalah 80 kalori per jam dan berdiri 88 kalori per jam, hanya ada selisih delapan kalori per jam, menurut penelitian ini.

    “Perbedaan itu adalah tentang energi yang terkandung dalam dua wortel bayi,” kata Dr Wang.

    Namun, banyak orang berasumsi berdiri membutuhkan usaha yang jauh lebih besar daripada duduk dan membakar lebih banyak kalori untuk mempertahankan postur tubuh dan tetap tegak.

    Ciri-ciri Masalah karena Terlalu Lama Berdiri

    Masalah peredaran darah dapat bermanifestasi dalam bentuk ringan seperti spider veins pembuluh darah halus, seperti benang, berwarna merah dan reticular veins semburat biru atau hijau, berdiameter 1 mm hingga 3 mm.

    “Seiring berjalannya hari, bagian otot betis mungkin terasa berat, mudah lelah, atau kram,” kata Dr Wang.

    “Varises, menjadi masalah paling umum, sering kali disebabkan oleh hipertensi vena,” kata Prof Chong. Hal ini terjadi ketika darah mengumpul di daerah pergelangan kaki akibat katup di vena tidak berfungsi optimal, katanya. Varises dapat menyebabkan gejala kaki terasa berat, nyeri, gatal, dan mungkin bengkak.

    (naf/kna)

  • Viral BPJS Kesehatan Disebut Batasi Pemberian Resep Obat untuk 3 Hari, Ini Faktanya

    Viral BPJS Kesehatan Disebut Batasi Pemberian Resep Obat untuk 3 Hari, Ini Faktanya

    Jakarta

    Belakangan viral di media sosial X unggahan netizen yang menyebut penggunaan BPJS Kesehatan kini dibatasi serba tiga hari.

    Unggahan itu bernarasikan rawat inap dan pemberian resep obat untuk semua jenis penyakit kini dibatasi hanya untuk tiga hari.

    “@KemenkesRI. Penggunaan BPJS. Semua serba 3 hari. Mau penyakit apa pun, obat nya utk 3 hari. Pasien opname, mau kondisi gimana pun, 3 hari disuruh pulang. Mohon atensi pak @prabowo Kesehatan rakyat menjadi salah satu yg utama,” ucap akun @shareexxxxxxx.

    Bagaimana faktanya?

    Asisten Deputi Komunikasi Publik dan Hubungan Masyarakat BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah menegaskan narasi yang beredar tersebut tidak benar. Ia mengatakan pihaknya tak membatasi durasi rawat inap maupun pemberian resep untuk peserta BPJS.

    Menurut Rizzky, BPJS Kesehatan telah menerapkan Janji Layanan JKN di setiap fasilitas kesehatan atau faskes untuk memberikan jaminan kepada pasien tentang durasi dan kualitas layanan kesehatan yang diterima.

    “Tidak benar, tidak ada aturan yang membatasi, baik untuk rawat inap ataupun pemberian resep obat-obatan untuk peserta JKN,” ujarnya kepada detikcom, Rabu (11/12/2024).

    Adapun Janji Layanan JKN ini membuat beberapa poin penting terkait faskes menjamin kenyamanan dan pelayanan pasien tanpa diskriminasi, seperti tidak ada batasan rawat inap, tidak ada batasan pemberian resep obat, dan tidak adanya biaya tambahan bagi peserta JKN.

    Ia mengatakan, selama penyakit tersebut berdasarkan indikasi medis dan sesuai prosedur yang berlaku, maka pengobatan peserta BPJS akan dijamin penuh oleh program JKN.

    (suc/kna)

  • Pengobatan Kanker RI Kalah Saing dengan Singapura-Malaysia? Onkolog Bilang Gini

    Pengobatan Kanker RI Kalah Saing dengan Singapura-Malaysia? Onkolog Bilang Gini

    Jakarta

    Kualitas penanganan kanker di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Hal ini dapat dilihat dari masih banyak pasien kanker di Indonesia yang lebih memilih untuk berobat ke luar negeri, seperti Malaysia atau Singapura.

    Ketua Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN) Dr dr Tubagus Djumhana SpPD KHOM menuturkan bahwa kualitas dokter kanker di Tanah Air sebenarnya tidak kalah dari luar negeri. Namun, ia mengakui ada sejumlah tantangan yang membuat penanganan kanker menjadi lebih sulit.

    Salah satunya adalah jumlah pasien kanker yang jauh lebih banyak dan tersebar di pulau-pulau Indonesia. Kondisi ini membuat jumlah antrean pasien membludak dan memperpanjang proses penetapan diagnosis kanker.

    Hal ini juga belum ditambah sistem pemeriksaan kanker secara bertahap yang harus dilakukan oleh pasien.

    “Jadi dia (pasien yang ke luar negeri) hanya ingin supaya di sana lebih cepat untuk mendapatkan diagnosis dan terapinya. Ibaratnya semua orang bisa langsung diperiksa, kalau kita kan ada urutannya mengikuti kaedah-kaedah dalam hal ilmu kedokteran untuk segi yang precision,” kata dr Djumhana ketika berbincang dengan detikcom, Selasa (10/12/2024).

    “Tidak semua diperiksa dan ada urutan itu, karena untuk penghematan biaya yang namanya efektif. Tapi kalo di sana kan tidak pakai sistem jaminan kesehatan jadi siapapun yang punya uang ke sana,” sambungnya.

    dr Djumhana mengatakan ada semacam kebiasaan dari pasien, ketika mereka sudah melakukan diagnosis kanker di luar negeri, mereka akan tetap kembali ke Indonesia untuk mendapatkan obat. Mereka memanfaatkan BPJS Kesehatan untuk mendapatkan obat kanker gratis yang memang sudah dicover.

    Ia menekankan kembali tenaga kesehatan Indonesia, khususnya dokter kanker, tidak kalah dengan negara tetangga. Bahkan dalam beberapa hal menurutnya dokter Indonesia masih lebih baik bila dibandingkan dengan negara tetangga.

    Menurutnya, pekerjaan terbesar sekarang adalah bagaimana kualitas layanan penyakit kanker bisa lebih ditingkatkan, sarana prasarana diperbaiki, serta memperbanyak ketersediaan dan membuat harga obat kanker lebih terjangkau.

    “Jadi betul-betul harus ada perubahan-perubahan dalam sistem pelayanan, terutama pelayanan kanker. Jangan sampai juga pasien datang ke dokter dalam kondisi stadium lanjut, harus ada lebih dini lagi, oleh itu program diagnostik dini, dan skrining harus lebih ditingkatkan lagi. Jadi betul-betul kita harus dari semua aspek, supaya pelayanannya berkualitas dan berstandar internasional,” tandasnya.

    (avk/kna)