Category: Detik.com Kesehatan

  • Mitos atau Fakta, Sering Pakai Celana Dalam Ketat Bikin ‘Pabrik’ Sperma Jelek?

    Mitos atau Fakta, Sering Pakai Celana Dalam Ketat Bikin ‘Pabrik’ Sperma Jelek?

    Jakarta

    Terlalu sering menggunakan celana dalam ketat dipercaya dapat menurunkan kesuburan laki-laki diduga karena kualitas sperma seseorang menurun. Ada benarnya, menurut spesialis urologi Dr dr Ponco Birowo SpU(K), PhD celana dalam ketat memang dapat menurunkan kualitas sperma seseorang.

    Bukan tanpa sebab, hal ini dipicu suhu dari area testis yang meningkat.

    “Pabriknya spermatozoa ini kan di testis, untuk pembentukan spermatozoa suhunya harus 2-4 derajat lebih dingin. Jadi testis nggak boleh kepanasan,” kata dr Ponco saat berbincang dengan detikcom di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2024).

    “Kalau kita biasa pakai celana dalam ketat testisnya kan jadi nempel ke badan, suhunya dia akan meningkat. Kalau suhunya meningkat apa yang terjadi? Testis jadi nggak bekerja,” sambungnya.

    Selain kebiasaan menggunakan celana dalam ketat, ada beberapa kebiasaan lain yang tanpa disadari dapat menurunkan kualitas sperma laki-laki. Salah satunya adalah kebiasaan memangku laptop.

    “Misalnya suka ngetik di laptop nih, di pangkuan nih, itu ada penelitiannya akan naik 18 derajat suhu di testis,” kata dr Ponco.

    Selain itu, dr Ponco menambahkan kebiasaan lain seperti sauna juga bisa menurunkan kualitas sperma seseorang.

    “Begitu juga kalau misalnya laki-laki tuh sering sauna. Sauna kan berendam air panas, itu kan waktunya lama bisa 1-2 jam. Jadi kalau sampai berendam, suhu testisnya meningkat, iya bisa (menurunkan kualitas sperma),” tutupnya.

    (dpy/naf)

  • Cara Clean Eating Buat yang Suka Makan di Warteg

    Cara Clean Eating Buat yang Suka Makan di Warteg

    Jakarta – Banyak cara untuk menurunkan berat badan, salah satunya dengan menerapkan konsep clean eating. Lalu bagaimana untuk para pekerja atau mahasiswa yang ingin menerapkan clean eating tapi dengan menu di warteg? Simak selengkapnya berikut ini…

    (/)

  • Ciri-ciri Sakit Kepala karena Stroke, Penyakit yang Mulai Banyak Intai Gen Z

    Ciri-ciri Sakit Kepala karena Stroke, Penyakit yang Mulai Banyak Intai Gen Z

    Jakarta

    Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sulawesi Utara menjadi wilayah dengan prevalensi kasus stroke tertinggi. Masing-masing mencatat lebih dari 11 orang per seribu penduduk, mengidap stroke.

    Catatan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menemukan peningkatan tren di usia 15 hingga 24 tahun sebanyak 0,4 persen. Pada usia 25 hingga 34 tahun 0,8 persen, dan usia 45 hingga 54 tahun 9,7 persen.

    Meski kasus stroke masih didominasi lansia yakni lebih dari 30 persen, usia muda tidak lantas terbebas dari risiko yang sama imbas gaya hidup. Salah satu keluhan yang kerap dikaitkan dengan stroke adalah sakit kepala.

    Tidak sedikit masyarakat masih merasa sulit membedakan sakit kepala biasa dengan indikasi awal stroke. Dr dr Jacub Pandelaki, SpRad(K), dari RS Abdi Waluyo menekankan perbedaan signifikan antara sakit kepala biasa dengan kondisi yang dipicu stroke.

    “Kebanyakan kalau keluhan sakit kepala itu karena stroke hemoragik, pembuluh darah pecah dan menyebabkan perdarahan pada otak. Bila lebih dari enam jam tidak tertangani bisa fatal, sumbatan diambil pun otaknya sudah rusak, sudah mati sarafnya,” bebernya saat ditemui detikcom di kawasan Jakarta Selatan, baru-baru ini.

    “Dia terjadinya sakit kepala secara tiba-tiba. Nggak bisa bilang stroke ke dokter, keluhan sakit kepala dari sebulan lalu, kalau itu bisa jadi ada kelainan pembuluh darah, tumor atau infeksi, kalau stroke kejadiannya mendadak,” tutur dia.

    Sakit kepala karena stroke terjadi secara tiba-tiba, umumnya terasa nyeri hebat, disertai mual, muntah, pusing, hingga berakhir hilangnya kesadaran, terjadi bersamaan dengan sakit kepala.

    90 Persen Bisa Dicegah dengan Deteksi Dini

    Mengingat serangan stroke terjadi secara tiba-tiba, dr Jacub meminta masyarakat untuk melakukan deteksi dini. Sekitar 80 hingga 90 persen kasus stroke bisa dicegah bila teratasi lebih awal sebelum terjadi serangan.

    “Gejala awal paling gampang itu dideteksi dengan laboratorium, kalau dari lab ada indikasi, nanti dilanjutkan ke MRI, tetapi kalau hasil MRI normal semua, itu hampir 90 persen dia akan sulit terkena stroke,” beber dia.

    “Tapi kalau sudah kolesterol di atas 200, ada diabetes, itu tanda-tanda dini yang kadang kita mengabaikan, pasien kadang-kadang nggak ada apa-apa, sudah ‘keplek’, sakit kepala, baru dibawa ke dokter, yang seringnya sudah terlambat,” pungkasnya.

    Gejala khas stroke bisa ditandai dengan:

    Face (wajah): wajah mungkin jatuh di satu sisi, orang tersebut mungkin tidak dapat tersenyum, atau mulut atau matanya mungkin terkulai.Arms (lengan): orang yang diduga terkena stroke mungkin tidak dapat mengangkat kedua lengan dan menahannya. Hal ini karena stroke sudah menyebabkan kelemahan atau mati rasa pada salah satu lengan.Speech (cara bicara): ucapan terdengar tidak jelas atau kacau, atau orang tersebut mungkin tidak dapat berbicara sama sekali meskipun tampak terjaga. Selain itu, mungkin juga kesulitan memahami apa yang Anda katakan.

    Selain itu, ada tanda-tanda stroke lain pada pria maupun wanita yang mungkin dialami, di antaranya:

    Mati rasa yang terjadi secara tiba-tiba atau kelemahan di wajah, lengan, atau kaki, terutama di satu sisi tubuh.Kebingungan, kesulitan berbicara, atau kesulitan memahami pembicaraan.Kesulitan melihat di satu atau kedua mata secara tiba-tiba.Kesulitan berjalanKehilangan keseimbangan, atau kurang koordinasi.Pusing dan sakit kepala parah yang tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya.

    (naf/naf)

  • Sederet Kebiasaan Sepele yang Tak Disadari Bikin Sperma Nggak ‘Tokcer’

    Sederet Kebiasaan Sepele yang Tak Disadari Bikin Sperma Nggak ‘Tokcer’

    Jakarta

    Menjaga kualitas sperma tentunya harus menjadi perhatian para laki-laki yang ingin menjaga kesempatan memiliki keturunan. Hal ini karena laki-laki juga memiliki andil lewat spermanya terkait persoalan kesuburan.

    Spesialis urologi Dr dr Ponco Birowo SpU(K), PhD mengatakan ada beberapa kebiasaan yang sering dilakukan kaum Adam dan tanpa disadari hal itu dapat membuat kualitas spermanya memburuk.

    “Kita mesti cek gaya hidupnya dia dulu, yang paling penting adalah merokok yang bisa memengaruhi kualitas sperma,” kata dr Ponco saat berbincang dengan detikcom di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (12/12/2024).

    Kedua adalah sedentary lifestyle atau gaya hidup bermalas-malasan. Menurut dr Ponco laki-laki yang jarang melakukan aktivitas fisik atau olahraga ternyata dapat menurunkan kualitas sperma.

    Setelah itu, lanjut dr Ponco adalah pola makan yang sembarangan. Kebanyakan laki-laki masih sering mengonsumsi makanan fast food dan tanpa disadari hal ini bisa berdampak pada sperma mereka.

    “Jauhi makanan pewarna, pemanis, pengawet seperti itu. Bahan makanan olahan yang diawetkan, misalnya sosis atau mi instan itu secara umum kan nggak sehat,” katanya.

    Menurut dr Ponco, kurangnya waktu untuk tubuh beristirahat juga bisa mendorong menurunnya kualitas sperma seseorang, sehingga tidur cukup sangat disarankan.

    “Sama pola hidup yang satunya lagi istirahat, paling bagus ya paling nggak 8 jam sehari ya istirahat (tidur),” tutur dr Ponco.

    Untuk mereka yang ingin mengecek secara kasat mata apakah memiliki sperma yang sehat atau tidak, sebenarnya bisa dilihat dari warna sperma itu sendiri.

    “Warna yang sehat adalah (sperma) yang warnanya kayak putih mutiara itu yang dikatakan sehat,” katanya.

    Namun, warna putih mutiara tersebut juga tidak serta merta bisa memastikan seorang laki-laki memiliki sperma yang sehat. Pasalnya, untuk benar-benar memastikan kualitas sperma baik atau buruk harus dibantu dengan pengujian laboratorium.

    (dpy/naf)

  • Dokter Ungkap 3 Penyebab Kasus Stroke Usia Muda Makin Marak di RI

    Dokter Ungkap 3 Penyebab Kasus Stroke Usia Muda Makin Marak di RI

    Jakarta

    Stroke menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia yakni 11,2 persen dari total kecacatan dan 18,5 persen dari jumlah kematian. Mengacu data Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Data ini sekaligus menunjukkan penyakit katastropik stroke termasuk pengeluaran biaya tertinggi ketiga setelah jantung dan kanker, yakni Rp 5,2 triliun pada 2023.

    Sebetulnya, 90 persen kasus stroke bisa dicegah dengan pengendalian faktor risiko. Meski umumnya menyerang usia 40 tahun ke atas, kasus stroke belakangan semakin banyak muncul di usia muda.

    Dr dr Jacub Pandelaki, SpRad(K), dari RS Abdi Waluyo merinci sedikitnya tiga hal yang menjadi pemicu di balik kasus stroke usia muda mulai marak bermunculan. Pertama, catatan pelaporan kasus saat ini dinilai relatif lebih baik di tengah cepatnya arus informasi.

    “Satu, kecepatan laporan kasus stroke di media, ini sangat bagus sebenarnya, kejadian apapun sekarang sudah pasti terekspose, sangat cepat,” tutur dia saat ditemui detikcom di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2024)

    “Kedua, adalah teknologi deteksi, deteksi ini makin canggih, jadi orang muda-muda ini yang terkena stroke terdeteksi, begitu juga saat dia terkena kanker dan penyakit lain, lebih mudah diketahui, bahkan dari rentang usia bayi sampai orangtua dengan jenis penyakit yang berbeda,” sambung dr Jacub.

    Faktor ketiga yang melatarbelakangi peningkatan insiden kasus stroke usia muda adalah pola hidup. dr Jacub menilai pola makan di masa kini dan lampau relatif jauh berbeda.

    Tidak sedikit orang yang memilih makanan instan siap saji, serba praktis, yang umumnya mengandung gula, garam, lemak tinggi. Belum lagi, makanan sehat yang dijual di pasaran juga relatif lebih mahal.

    “Pola hidup orang kita kan sekarang beda, dulu makan mi instan saja jarang, sekarang kita semua sudah ada fast food, dan umumnya disajikan dengan cara digoreng, kalau rebus, sebetulnya lebih sehat,” tandasnya.

    “Jadi pola hidup mempunyai pengaruh yang besar, itulah kenapa pada usia muda sekarang ini bisa dimungkinkan terkena stroke,” terang dia.

    Stroke paling rentan terjadi pada kelompok dengan riwayat komorbid (penyakit penyerta) seperti diabetes, hipertensi, hingga kolesterol tinggi. Karenanya, dr Jacub menyarankan untuk mengelola makanan, istirihat cukup dan olahraga teratur, sembari rutin melakukan pemeriksaan di laboratorium dan pemeriksaan radiologi melalui medical check-up sesuai kebutuhan untuk melihat risiko lebih lanjut.

    Peran pemeriksaan radiologi seperti CT scan, MRI, serta angiografi otak dalam tatalaksana diagnosis dan pengobatan melalui endovascular atau kateterisasi.
    Stroke dapat terjadi akibat sumbatan atau perdarahan yang cara pengobatannya sangat berbeda dan juga melalui pemeriksaan CT scan atau MRI otak, sehingga dengan tepat menentukan usia stroke.

    Pasalnya, jika sudah terjadi serangan stroke, bahkan melewati tiga hingga enam jam setelah kejadian, dikatakan sudah terlambat untuk ditangani.

    (naf/kna)

  • 15 Makanan dan Minuman Sehari-hari yang Ternyata Tinggi Gula

    15 Makanan dan Minuman Sehari-hari yang Ternyata Tinggi Gula

    Jakarta

    Ada gula tersembunyi di balik makanan dan minuman yang dianggap tidak manis. Padahal, hal ini jelas memicu risiko penyakit termasuk obesitas, jantung, diabetes tipe dua, bahkan hingga kanker.

    Faktanya, beberapa produk yang bahkan dipasarkan sebagai makanan rendah gula, rendah lemak, bisa mengandung lebih banyak gula dibandingkan produk biasa.

    Perlu dicatat, anjuran Kementerian Kesehatan RI terkait asupan gula per orang dalam sehari adalah 50 gram atau sekitar 4 sendok makan gula. Sementara untuk natrium 2000 miligram atau 5 gram garam atau 1 sendok teh, dan untuk lemak hanya 67 gram atau 5 sendok makan minyak.

    Banyak orang saat ini mencoba meminimalisir asupan gula mereka, tetapi tidak benar-benar tahu seberapa banyak gula yang sudah dikonsumsi. Berikut daftarnya, dikutip dari Healthline:

    1. Yogurt rendah lemak

    Yogurt bisa sangat bergizi. Namun, tidak semua yogurt dibuat sama.

    Seperti banyak produk rendah lemak lainnya, yogurt rendah lemak seringkali mengandung gula tambahan untuk meningkatkan rasanya.

    Misalnya, satu cangkir (245 gram) yogurt rendah lemak dapat mengandung lebih dari 45 gram gula, yaitu sekitar 11 sendok teh. Jumlah ini melampaui batas harian untuk pria dan wanita hanya dalam satu cangkir.

    2. Saus barbekyu (BBQ)

    Saus barbekyu (BBQ) dapat menjadi bumbu marinasi atau saus yang lezat.

    Namun, dua sendok makan atau sekitar 28 gram saus dapat mengandung sekitar 9 gram gula. Ini setara dengan lebih dari 2 sendok teh.

    Faktanya, sekitar 33 persen dari berat saus BBQ mungkin adalah gula murni. Untuk memastikan tidak mengonsumsi terlalu banyak, periksa label dan pilih saus dengan jumlah gula tambahan paling sedikit. Ingatlah juga untuk memperhatikan ukuran porsi yang dipakai.

    3. Saus Tomat

    Saus tomat adalah salah satu bumbu dapur paling populer, tetapi seperti saus BBQ, saus ini sering kali mengandung banyak gula.

    Cobalah untuk memperhatikan ukuran porsi saat menggunakan saus tomat, dan ingatlah bahwa satu sendok makan saus tomat mengandung hampir 1 sendok teh gula.

    4. Jus buah

    Seperti buah utuh, jus buah mengandung sejumlah vitamin dan mineral. Namun, saat memilih jus buah, pilih yang berlabel 100 persen jus buah, karena versi yang dimaniskan dengan gula bisa mengandung banyak gula dan sangat sedikit serat.

    Faktanya, kadar gula dalam jus buah yang dimaniskan dengan gula bisa sama banyaknya dengan kadar gula dalam minuman manis seperti soda. Dampak kesehatan buruk yang dikaitkan dengan soda manis juga bisa dikaitkan dengan jus buah yang ditambahkan gula.

    Pilih buah utuh atau jus buah 100 persen jika memungkinkan, dan kurangi asupan jus buah yang dimaniskan dengan gula.

    5. Saus spageti

    Gula tambahan sering kali tersembunyi dalam makanan yang bahkan tidak kita anggap manis, seperti saus spageti. Semua saus spageti mengandung gula alami karena dibuat dengan tomat.

    Namun, banyak saus spageti juga mengandung gula tambahan.

    6. Minuman isotonik

    Minuman isotonik sering kali dianggap sebagai pilihan yang sehat bagi mereka yang berolahraga. Namun, minuman ini dirancang untuk menghidrasi dan memberi energi bagi atlet terlatih selama periode latihan yang lama dan intens.

    Karena alasan ini, minuman tersebut mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi yang dapat cepat diserap dan digunakan sebagai energi.

    Faktanya, sebotol minuman isotonik standar berukuran 591 mL banyak mengandung 32,5 gram gula tambahan dan 161 kalori. Ini setara dengan 9 sendok teh gula.

    Oleh karena itu, minuman isotonik dikategorikan sebagai minuman manis.

    7. Susu cokelat

    Susu cokelat adalah susu yang diberi rasa kakao dan dimaniskan dengan gula. Susu sendiri merupakan minuman yang sangat bergizi. Susu merupakan sumber nutrisi yang baik untuk kesehatan tulang, termasuk kalsium dan protein.

    Namun, meskipun memiliki semua kualitas nutrisi susu, 1 cangkir atau 250 gram susu cokelat mengandung hampir 12 gram yakni 2,9 sendok teh gula tambahan.

    8. Granola

    Granola sering dipasarkan sebagai makanan kesehatan rendah lemak, meskipun mengandung kalori dan gula yang tinggi.

    Bahan utama dalam granola adalah gandum. Oatmeal gulung tawar adalah sereal seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat.

    Namun, gandum dalam granola telah dicampur dengan kacang-kacangan dan madu atau pemanis tambahan lainnya, yang meningkatkan jumlah gula dan kalori.

    Faktanya, 100 gram granola dapat mengandung sekitar 400-500 kalori dan hampir 5-7 sendok teh gula.

    9. Kopi manis

    Kopi beraroma memiliki jumlah gula tersembunyi. Dalam beberapa kedai kopi, kopi atau minuman kopi beraroma besar dapat mengandung 45 gram gula. Itu setara dengan sekitar 11 sendok teh gula tambahan per sajian.

    Mengingat hubungan kuat antara minuman manis dan kesehatan yang buruk, mungkin yang terbaik adalah tetap minum kopi tanpa sirup beraroma atau gula tambahan.

    10. Es teh

    Es teh biasanya dimaniskan dengan gula atau diberi rasa dengan sirup. Teh ini populer dalam berbagai bentuk dan rasa di seluruh dunia, jadi kandungan gulanya bisa sedikit bervariasi.

    Sebagian besar es teh yang disiapkan secara komersial akan mengandung sekitar 35 gram gula per sajian 340 mL. Ini hampir sama dengan sebotol soda. Jika kamu menyukai teh, pilih teh biasa atau pilih es teh yang tidak ditambahkan gula.

    11. Protein bar

    Protein bar adalah camilan yang populer dan konon sehat. Makanan yang mengandung protein telah dikaitkan dengan peningkatan rasa kenyang, yang dapat membantu penurunan berat badan.

    Hal ini membuat orang percaya bahwa protein bar adalah camilan yang sehat.

    Meskipun ada beberapa protein bar yang lebih sehat di pasaran, banyak yang mengandung sekitar 20 gram gula tambahan, sehingga kandungan nutrisinya mirip dengan permen batangan.

    12. Sup siap saji

    Sup bukanlah makanan yang biasanya dikaitkan dengan gula.

    Jika dibuat dengan bahan-bahan segar utuh, sup adalah pilihan yang sehat dan dapat menjadi cara yang bagus untuk meningkatkan konsumsi sayur tanpa banyak usaha.

    Sayur-sayuran dalam sup mengandung gula alami, yang aman untuk dimakan karena biasanya hadir dalam jumlah kecil dan bersama banyak nutrisi bermanfaat lainnya. Namun, banyak sup yang disiapkan secara komersial mengandung banyak bahan tambahan, termasuk gula.

    Untuk memeriksa gula tambahan dalam sup, lihat daftar bahan untuk mengetahui nama-nama seperti:

    sukrosamalt barleydekstrosamaltosasirup jagung fruktosa tinggi (HFCS) dan sirup lainnya

    Semakin tinggi bahan dalam daftar, semakin tinggi pula kandungannya dalam produk tersebut. Waspada ketika produsen mencantumkan sejumlah kecil gula yang berbeda, karena itu merupakan tanda lain produk tersebut mungkin mengandung gula total tinggi.

    13. Sereal sarapan

    Sereal adalah makanan sarapan populer, cepat, dan mudah. Namun, sereal yang dipilih dapat sangat memengaruhi konsumsi gula, terutama jika memakannya setiap hari.

    Beberapa sereal sarapan, bahkan yang dipasarkan untuk anak-anak, memiliki banyak gula tambahan. Beberapa mengandung 12 gram, atau 3 sendok teh gula dalam porsi kecil 34 gram.

    Periksa label dan cobalah memilih sereal yang tinggi serat dan rendah gula tambahan.

    14. Sereal bar

    Untuk sarapan cepat saji, sereal bar mungkin tampak seperti pilihan yang sehat dan praktis. Namun, seperti ‘snack kesehatan’ lainnya, sereal bar sering kali hanya berupa permen yang disamarkan. Banyak yang mengandung sangat sedikit serat atau protein dan mengandung banyak gula tambahan.

    15. Buah kalengan

    Semua buah mengandung gula alami. Namun, beberapa buah kalengan dikupas dan diawetkan dalam sirup gula. Proses ini menghilangkan serat buah dan menambahkan banyak gula yang tidak perlu pada apa yang seharusnya menjadi camilan sehat.

    Proses pengalengan juga dapat merusak vitamin C yang sensitif terhadap panas, meskipun sebagian besar nutrisi lainnya terawetkan dengan baik.

    Buah segar dan utuh adalah yang terbaik. Jika ingin makan buah kalengan, carilah buah yang diawetkan dalam jus daripada sirup. Jus memiliki kandungan gula yang sedikit lebih rendah.

    (naf/kna)

  • Mitos atau Fakta: Minum Teh Sambil Makan Bisa Bikin Anemia

    Mitos atau Fakta: Minum Teh Sambil Makan Bisa Bikin Anemia

    Mitos atau Fakta: Minum Teh Sambil Makan Bisa Bikin Anemia

  • 3 dari 4 Orang yang Akses ‘Hotline’ Bunuh Diri Lebih Pilih Curhat Lewat Teks

    3 dari 4 Orang yang Akses ‘Hotline’ Bunuh Diri Lebih Pilih Curhat Lewat Teks

    Jakarta

    Hanya 40 persen dari total puskesmas di Indonesia yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Distribusinya juga relatif tidak merata, baru terpenuhi di banyak kota-kota besar.

    Padahal, kasus bunuh diri dalam kurun satu tahun terakhir meningkat. Mengacu data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 70 ribu kasus meninggal akibat bunuh diri dilaporkan setiap tahun. Sementara di Indonesia, tercatat sebanyak 1.350 kasus pada 2023, naik dari 826 laporan pada tahun sebelumnya.

    “Kasusnya bisa tiga kali lipat lebih banyak dari yang dilaporkan,” beber Direktur Jenderal Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, Imran Pambudi, Jumat (13/12/2023).

    Lebih dari 13 persen yang mengalami depresi disebut Imran tidak mendapatkan pengobatan atau pelayanan kesehatan jiwa. Salah satu faktor terbesar pemicu depresi kini mulai terlihat berawal dari lingkungan terdekat, yang semula kerap dianggap sebagai faktor pendukung yakni keluarga.

    “Ini mulai sama seperti tren di China, banyak anak yang depresi dengan tuntutan pendidikan, hingga S1, S2, dan S3, tetapi akhirnya mereka memilih tidak bekerja, dan meminta uang dari orangtuanya, sebagai bentuk depresi, karena mereka berpikir sudah menuruti semua keinginan orangtua mereka,” tandas dia.

    Hal ini sejalan dengan temuan riset WHO Indonesia yang menunjukkan lebih dari 50 persen responden pada sebuah survei, mengaku lebih nyaman menceritakan masalah mental secara daring ke profesional, alih-alih keluarga terdekat.

    “Kita juga melihat data orang-orang yang mencoba melakukan bunuh diri, jadi dia sempat masuk rumah sakit ya Itu tahun 2018 sampai 2023 itu ada yang tercatat ada hampir 5.850 kasus. Nah kemudian dari situ setelah dirawat di rumah sakit, ada sekitar 230 orang meninggal. Sempat tiba di rumah sakit kemudian meninggal,” lanjut Imran.

    Layanan Hotline 119 ext 8 Diperbarui

    Rencananya, mulai akhir Desember 2024, Kemenkes RI akan meresmikan pelayanan pengaduan atau hotline pencegahan bunuh diri secara daring, demi memudahkan pendataan. Di tengah keterbatasan SDM, layanan 119 ext 8 yang sempat tidak bisa berjalan, kini bisa diakses secara online dengan mengunjungi website Healing 119.id.

    “Jadi dulu 119 extension 8 sempat ditutup, ditutupnya karena kita beralih platform, sekarang beralih platformnya ke yang digital,” tuturnya.

    “Tapi mungkin di daerah-daerah yang memang terbatas, kesulitan mengakses daring, kita masih pakai nomor tersebut,” kata dia.

    Peralihan tersebut juga didasari dengan banyaknya pengaduan yang memilih texting, alih-alih menelepon secara langsung. “3 dari 4 yang menghubungi layanan hotline, memilih menceritakan masalahnya secara teks,” kata dia.

    (naf/kna)

  • Jerawat Tak Kunjung Sembuh? Coba Kurangi Konsumsi Makanan Ini

    Jerawat Tak Kunjung Sembuh? Coba Kurangi Konsumsi Makanan Ini

    Jakarta

    Kesehatan kulit wajah adalah salah satu faktor penting dari tubuh. Selain perawatan yang rutin dan baik, rupanya asupan makanan yang dikonsumsi juga berperan besar dalam menjaga kesehatan kulit.

    Spesialis kulit dr Ruri Diah Pamela, SpKK menyarankan beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari apabila mengalami masalah jerawat. Salah satunya adalah makanan olahan yang berlebih, khususnya makanan ultra proses dan bertepung.

    “Batasi konsumsi makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh, seperti camilan kemasan atau makanan cepat saji,” kata dr Ruri ketika dihubungi detikcom, Kamis (12/12/2024).

    Makanan mengandung tepung dengan tinggi gluten memiliki indeks glikemik yang tinggi. Ini dapat meningkatkan kadar gula darah, merangsang produksi insulin, dan memicu peradangan yang memperburuk jerawat.

    Lalu makanan jenis apa yang perlu diutamakan konsumsinya ketika sedang mengalami masalah jerawat?

    dr Ruri mengatakan diet rendah indeks glikemik, makanan tinggi antioksidan, dan makanan dengan lemak sehat adalah beberapa jenis asupan yang harus diutamakan.

    Makanan rendah indeks glikemik seperti biji-bijian utuh, sayuran hijau, dan protein tanpa lemak dapat mengurangi lonjakan gula darah. Sayuran hijau sama seperti buah, memiliki kandungan antioksidan yang baik untuk kesehatan kulit.

    “Perbanyak sayuran berwarna, buah-buahan, dan teh hijau yang kaya akan vitamin C, E, dan polifenol untuk mengurangi peradangan pada kulit,” sambungnya.

    Sedangkan, untuk mendapatkan lemak sehat masyarakat bisa mendapatkannya dari ikan salmon, alpukat, hingga kacang-kacangan yang mengandung omega-3. Omega-3 dikenal dapat membantu mengurangi inflamasi dan membantu menjaga keseimbangan minyak alami pada kulit.

    Pastikan juga tubuh tetap terhidrasi baik dengan cara mencukupkan cairan dalam tubuh dengan minum air putih dan mengonsumsi buah. Menurut dr Ruri, hal tersebut baik untuk menjaga elastisitas kulit.

    “Selain itu, penting untuk memperhatikan respons individu terhadap makanan tertentu karena setiap orang memiliki sensitivitas yang berbeda. Jika jerawat masih sulit terkontrol meskipun sudah menjalani pola makan sehat, disarankan untuk berkonsultasi dengan dermatologist untuk evaluasi lebih lanjut,” tandasnya.

    (avk/suc)

  • Lebih dari 30 Juta Warga RI Kena Gangguan Mental, Inikah Kemungkinan Pemicunya?

    Lebih dari 30 Juta Warga RI Kena Gangguan Mental, Inikah Kemungkinan Pemicunya?

    Jakarta

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkirakan bahwa sekitar 30 sampai dengan 32 juta orang di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Guru meditasi Arsaningsih, SE, CPSH, mengatakan banyaknya kasus gangguan kesehatan mental di Indonesia dipicu oleh ketidakmampuan seseorang untuk menyelesaikan berbagai masalah di dalam dirinya sendiri.

    Permasalahan yang timbul, dapat berupa tekanan pekerjaan, lingkungan keluarga, dan keinginan pribadi yang tidak terpenuhi. Faktor-faktor ini, lanjutnya, dapat meningkatkan seseorang untuk mengidap gangguan kesehatan mental.

    “Banyak orang hanya melihat keluar dan mengurusi orang lain, tetapi kita lupa dengan kesehatan mental kita. Jadi, kalau dilihat dari mananya (pemicunya) kompleks banget ya, semua masalah ada dalam diri kita,” katanya, saat ditemui media di Jakarta Pusat, Sabtu (14/12/2024).

    Menurutnya membenahi diri dengan cara memberikan ruang dan waktu bagi diri sendiri penting dilakukan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Hal ini bertujuan untuk membantu menjaga kesehatan mental. Adapun salah satu caranya melakukan meditasi.

    “Maka dengan kesempatan ini kita mulai mengedukasi banyak orang untuk mulai berbenah diri, mengenal diri,” lanjutnya lagi.

    Guru meditasi itu juga mengatakan meditasi bisa menjadi solusi masalah mental karena sangat terkait dengan spiritualitas seseorang.

    “Secara meditasi kita butuh energi Tuhan mengalir ke diri kita untuk kita lebih kuat. Sejatinya harusnya demikian. Tapi, banyak orang meminta pertolongan pada orang lain dan kita lupa bahwa kita punya kekuatan Tuhan yang sebenernya mampu menjaga kita dan melindungi diri kita,” terangnya.

    “Nah dari sinilah saya menyelaraskan antara hubungan spiritual dengan kesehatan mental. Jadi disini saya juga mengamati Indonesia itu semua berketuhanan yakin dan bercaya kepada Tuhan. Tapi mereka masih mungkin tidak dengan proses kolbu atau batinnya yang terhubung,” imbuhnya lagi.

    (suc/suc)