Category: Detik.com Kesehatan

  • Banyak Anak di RI Fatherless, Begini Dampaknya Tumbuh Tanpa Peran Ayah

    Banyak Anak di RI Fatherless, Begini Dampaknya Tumbuh Tanpa Peran Ayah

    Jakarta

    Berdasarkan data UNICEF pada tahun 2021, diperkirakan ada sebanyak 20,9 persen anak-anak di Indonesia yang kehilangan sosok ayah atau fatherless. Berdasarkan data UNICEF tersebut, mereka kehilangan kehadiran ayah karena perceraian, pekerjaan, hingga kematian.

    Sedangkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada periode yang sama, hanya sebanyak 37,17 persen anak usia 0-5 tahun di Indonesia yang mendapatkan pengasuhan lengkap dari kedua orang tuanya.

    Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji menuturkan bahwa situasi ini bisa berdampak buruk, khususnya pada perkembangan mental anak. Ketika anak membutuhkan support system yang lengkap dari kedua orang tua, ia justru tidak mendapatkannya.

    “Maka harus ada support system yang menggantikan ayah di keluarga. Bisa dari pakde, paman, atau kakek,” kata Wihaji ketika dihubungi oleh detikcom, Senin (16/12/2024).

    Wihaji menuturkan ada satu faktor besar dalam fenomena fatherless di Indonesia, yaitu masih adanya persepsi bahwa tugas ayah hanya bekerja dan pengasuhan anak diserahkan sepenuhnya pada ibu. Padahal, menurut Wihaji pengasuhan anak yang baik harus diberikan secara lengkap dan menjadi tanggung jawab kedua orang tua secara bersama-sama.

    Ia menekankan bahwa penting untuk kedua orang tua bisa menjadi tempat curhat bagi anak. Mengedepankan komunikasi dengan anak menurutnya menjadi hal yang penting untuk meningkatkan hubungan orang tua dan anak, yang mungkin selama ini kurang diperhatikan.

    “Saya meyakini kalau mau membangun keluarga maka dimulai dari keluarga dan sering ngobrol dengan keluarga. Kalau tidak ngobrol, maka semuanya akan cenderung ngobrol dengan yang lain. Misalnya bisa melalui medsos atau bisa dengan yang lain,” ujarnya.

    “Kunci utama pembangunan keluarga adalah menciptakan ketentraman kebahagiaan dan mandiri dan semua itu harus dimulai dengan ngobrol dengan keluarga,” beber Wihaji.

    Fenomena fatherless juga sempat disinggung dampaknya oleh psikolog klinis Annisa Mega Radyani. Dia mengatakan dampak fatherless bisa berbeda pada setiap anak.

    Sosok ayah diidentikkan dengan memberikan rasa ‘aman dan nyaman’ bagi seorang anak. Bagi anak yang kehilangan sosok ayah, mereka seringkali akan mencari sosok ayah sepanjang hidupnya.

    “Kemudian bisa jadi juga anak ini jadi bingung, kira-kira sosok laki-laki jadi panutan itu seperti apa sih? Jadi sebenarnya secara psikologis mungkin dia akan mencari orang lain untuk menjadi sosok ‘fathernya’ dia,” jelas Annisa.

    Selain itu, anak akan kehilangan kepercayaan diri atau menjadi sulit percaya. Anak akan memiliki pandangan berbeda kepada laki-laki dan hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi sosialnya ketika beranjak dewasa.

    (avk/kna)

  • Geger Wabah ‘Sindrom Pipi Tertampar’ di Jepang, Ibu Hamil-Anak Paling Berisiko

    Geger Wabah ‘Sindrom Pipi Tertampar’ di Jepang, Ibu Hamil-Anak Paling Berisiko

    Jakarta

    Kasus parvovirus B19, yang menyebabkan eritema infeksiosum, umumnya dikenal sebagai sindrom pipi tertampar (slapped cheek syndrome) atau penyakit kelima (fifth disease) karena ruam merah khasnya di pipi meningkat di Jepang.

    Penyakit tersebut menyebar luas di wilayah Kanto di Jepang timur dan wilayah lain di negara tersebut. Wabah besar dari penyakit ini pertama kali terjadi sejak tahun 2019.

    Japan Society for Infectious Diseases in Obstetrics and Gynecology (JSIDOG) telah mengeluarkan peringatan yang menyatakan bahwa wabah ini dapat terus berlanjut dan berpotensi menyebabkan epidemi nasional hingga tahun 2025.

    Virus ini menimbulkan risiko khusus bagi ibu hamil, karena dapat meningkatkan kemungkinan keguguran atau komplikasi pada bayi baru lahir jika ibu hamil terinfeksi untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Tak hanya itu, penyakit ini juga menyerang anak-anak.

    Penyakit ini cenderung muncul kembali setiap empat hingga lima tahun, menyebar melalui droplet pernapasan dari bersin atau batuk, serta melalui barang-barang yang dipakai bersama. Gejala awal menyerupai flu biasa, diikuti oleh munculnya ruam merah di kedua pipi, yang biasanya berlangsung sekitar seminggu.

    Menurut data dari sekitar 3.000 fasilitas medis yang melapor ke Institut Penyakit Menular Nasional Jepang, kasus mulai meningkat sekitar bulan Agustus.

    Selama minggu 25 November hingga 1 Desember, terdapat 0,89 kasus per institusi medis di seluruh negeri, peningkatan sekitar 70 persen dari minggu sebelumnya.

    Wilayah Tokyo Raya mengalami tingkat infeksi yang sangat tinggi, dengan kasus per institusi medis dilaporkan sebesar 3,49 di Prefektur Saitama, 3,02 di Tokyo, 2,17 di Prefektur Kanagawa, dan 2,1 di Prefektur Chiba. Imbauan kesehatan telah dikeluarkan di semua wilayah hukum ini.

    JSIDOG memperkirakan bahwa 20 hingga 50 persen ibu hamil di Jepang sudah memiliki antibodi terhadap virus tersebut. Namun, infeksi pertama kali selama kehamilan dapat menularkan virus ke janin melalui plasenta.

    Hal ini dapat mengakibatkan risiko keguguran atau lahir mati sebesar 6 persen dan kemungkinan kondisi seperti anemia atau pembengkakan pada janin sebesar 4 persen.

    Hideto Yamada, direktur JSIDOG sekaligus kepala pusat keguguran berulang di Rumah Sakit Teine Keijinkai di Sapporo, menekankan pentingnya pencegahan.

    “Wanita hamil sering kali tertular dari anak-anak, suami, atau anggota keluarga lainnya,” jelasnya. “Mereka harus mengambil tindakan pencegahan di rumah, seperti mencuci tangan, mengenakan masker, dan menghindari kontak dekat seperti berciuman selama wabah,” dikutip dari The Mainichi.

    (suc/up)

  • Thalita Curtis Naik BB gegara Overeating, Stres Picu Makan Berlebihan

    Thalita Curtis Naik BB gegara Overeating, Stres Picu Makan Berlebihan

    Jakarta

    Ratu FTV Thalita Curtis viral setelah menceritakan perjuangannya mengidap depresi berat yang mempengaruhi penampilannya. Dia mengatakan kenaikan berat badan yang dialaminya salah satunya dipicu masalah mental.

    “Memang ada sakit mental juga over eating jadi sampai naik segini banyak. Pandemi iya stres dan menambah berat badan juga stres,” kata Thalita Curtis saat berbincang dengan Brownis Trans TV, Jumat (13/12/2024).

    Thalita Curtis juga mengaku saat stres, kecenderungan dia untuk makan menjadi meningkat. Hal itu membuat berat badannya sempat berada di angka 115 kg.

    “Tapi sekarang sudah turun ke 93, jadi pelan-pelan mulai diet dan nggak makan sembarangan juga, dijaga pokoknya makannya,” lanjutnya lagi.

    Mengapa orang cenderung makan banyak saat stres?

    Dikutip dari WebMD, stres dapat menyebabkan gangguan makan berlebihan dan keinginan untuk makan berlebihan. Umumnya, mereka yang mengalaminya menggunakan makanan untuk mengatasi ketegangan dan emosi lain yang ingin mereka hilangkan, termasuk kemarahan, kesedihan, dan kebosanan.

    Selama masa-masa sulit, tubuh memproduksi lebih banyak hormon yang disebut kortisol, yang meningkatkan rasa lapar. Jika memiliki gangguan makan berlebihan, kadar hormon ini dalam tubuh sudah lebih tinggi daripada orang yang tidak memiliki gangguan tersebut.

    Hal itu memicu keinginan untuk makan berlebihan. Jika terjadi, siklus makan seperti ini bisa muncul:

    Saat stres, seseorang makan banyak.Setelah makan berlebihan, dia merasa tidak enak hati atau khawatir berat badan akan naik, yang membuatnya semakin stres.

    Diperkirakan 1 dari 4 orang yang makan berlebihan memiliki kondisi kesehatan mental lain yang disebut gangguan stres pascatrauma (PTSD).

    (kna/kna)

  • WHO Ungkap 1 dari 5 Orang Dewasa Kena Herpes Genital, Ini Dugaan Pemicunya

    WHO Ungkap 1 dari 5 Orang Dewasa Kena Herpes Genital, Ini Dugaan Pemicunya

    Jakarta

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap sekitar 846 juta orang berusia antara 15 dan 49 tahun hidup dengan infeksi herpes genital. Angka tersebut berarti 1 dari 5 orang di kelompok usia itu secara global terkena herpes genital.

    “Setidaknya 1 orang setiap detik, 42 juta orang setiap tahun diperkirakan tertular infeksi herpes genital baru,” tulis WHO dalam laporannya dikutip Senin (16/12/2024).

    Sering kali, infeksi ini tidak menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan sedikit gejala. Namun, bagi sebagian orang, infeksi ini menyebabkan luka dan lepuh genital yang menyakitkan yang dapat kambuh sepanjang hidup, menyebabkan ketidaknyamanan yang signifikan dan sering kali memerlukan beberapa kali kunjungan perawatan kesehatan.

    Penulis penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Sexually Transmitted Infections, mengatakan bahwa perawatan dan vaksin baru diperlukan untuk mengurangi efek kesehatan yang merugikan dari virus herpes dan mengendalikan penyebarannya.

    “Meskipun sebagian besar orang yang terinfeksi herpes genital hanya mengalami sedikit gejala, dengan begitu banyak infeksi, herpes genital masih menyebabkan rasa sakit dan tekanan bagi jutaan orang di seluruh dunia dan telah membebani sistem kesehatan,” kata Dr Meg Doherty, Direktur Program Global HIV, Hepatitis, dan Infeksi Menular Seksual di WHO.

    Saat ini, belum ada obat untuk herpes, meskipun pengobatan dapat meredakan gejalanya. Selain luka, herpes genital juga terkadang dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk herpes neonatal, kondisi langka yang kemungkinan besar terjadi ketika seorang ibu tertular infeksi untuk pertama kalinya pada akhir kehamilan dan kemudian menularkan virus tersebut kepada bayinya saat melahirkan.

    Ada dua jenis virus herpes simpleks (HSV), yang dikenal sebagai HSV-1 dan HSV-2, yang keduanya dapat menyebabkan herpes genital. Menurut perkiraan, 520 juta orang pada tahun 2020 memiliki HSV-2 genital, yang ditularkan selama aktivitas seksual.

    Dari perspektif kesehatan masyarakat, HSV-2 genital lebih serius karena lebih mungkin menyebabkan wabah berulang, mencakup sekitar 90 persen episode simptomatik, dan dikaitkan dengan peningkatan risiko tiga kali lipat tertular HIV.

    Tidak seperti HSV-2, HSV-1 terutama menyebar selama masa kanak-kanak melalui air liur atau kontak kulit ke kulit di sekitar mulut untuk menyebabkan herpes oral, dengan luka dingin atau sariawan mulut sebagai gejala yang paling umum. Namun, pada mereka yang tidak pernah terinfeksi sebelumnya, HSV-1 dapat ditularkan melalui hubungan seksual untuk menyebabkan infeksi genital pada masa remaja atau dewasa.

    Sekitar 376 juta orang diperkirakan pernah mengalami infeksi HSV-1 genital pada tahun 2020. Dari jumlah tersebut, 50 juta diperkirakan juga mengidap HSV-2 karena kedua jenis tersebut dapat terjadi secara bersamaan.

    Meskipun tidak sepenuhnya efektif untuk menghentikan penyebarannya, penggunaan kondom yang benar dan konsisten mengurangi risiko penularan herpes. Orang dengan gejala aktif harus menghindari hubungan seksual dengan orang lain, karena herpes paling menular saat ada luka.

    WHO merekomendasikan agar orang dengan gejala herpes genital harus ditawarkan tes HIV dan jika perlu, profilaksis prapajanan untuk pencegahan HIV.

    (kna/kna)

  • 20 Persen Anak RI ‘Fatherless’, Kehilangan Sosok Ayah gegara Ini

    20 Persen Anak RI ‘Fatherless’, Kehilangan Sosok Ayah gegara Ini

    Jakarta

    Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji menyoroti fenomena anak di Indonesia yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah. Fatherless merupakan sebuah fenomena yang terjadi ketika anak tidak mendapatkan pengasuhan yang baik dari ayah, meskipun ayahnya sebenarnya ada.

    Menurut Wihaji, salah satu faktor utama fenomena fatherless adalah masih kuatnya persepsi pengasuhan anak hanya sebagai tugas ibu saja. Padahal peran ayah sebagai kepala keluarga untuk mengasuh anak juga dibutuhkan.

    Ayah yang bekerja untuk mencari nafkah seringkali dianggap sudah tidak perlu mengasuh anak.

    “Salah satu penyebab utama adalah anak sering dipersepsikan menjadi tanggung jawab ibu baik mulai masa kehamilan sampai usia dewasa,” kata Wihaji ketika dihubungi detikcom, Senin (16/12/2024).

    “Ayah di alam bawah sadarnya dipersepsikan hanya bertanggung jawab tentang kewajiban ekonomi,” sambungnya lagi.

    Wihaji menuturkan kedua orang tua memiliki kewajiban yang setara dalam pengasuhan anak. Mereka harus mengasuh dan memperhatikan anak sebagai tanggung jawab bersama.

    “Karena itu di Indonesia masih banyak persepsi tersebut dibebankan pada ibu. Saya sering sampaikan problem keluarga itu ya berawal dari keluarga maka penyelesaiannya kita kembalikan ke keluarga,” tandasnya.

    Berdasarkan data dari UNICEF, pada tahun 2021 diperkirakan ada sekitar 20,9 persen anak-anak di Indonesia kehilangan peran ayah dalam keseharian mereka. Dalam periode yang sama, Badan Pusat Statistik mencatat hanya 37,17 persen anak usia 0-5 tahun yang secara penuh diasuh penuh oleh kedua orang tuanya.

    (avk/kna)

  • Viral Remaja di Bogor Disebut Berubah Kelamin, Dokter Urologi Bilang Gini

    Viral Remaja di Bogor Disebut Berubah Kelamin, Dokter Urologi Bilang Gini

    Jakarta

    Viral remaja perempuan di Cibungbulang, Bogor, Jawa Barat, disebut mengalami perubahan kelamin. Remaja tersebut awalnya perempuan, kemudian berubah menjadi laki-laki.

    Orang tua remaja itu baru mengetahuinya dalam beberapa waktu belakangan. Hal ini bermula dari kecurigaan kepada sang anak yang tak kunjung menstruasi. S yang merupakan orang tua remaja berinisial T (14) itu mengatakan saat lahir anaknya terlihat berjenis kelamin perempuan.

    “Ini bilangnya anaknya setelah kelas 4 atau 5 SD tumbuh itu jendilannya (diduga mirip penis) itu, nggak bilang tuh apa malu apa takut sama orang tua,” kata S, saat kepada wartawan, dikutip dari detikNews.

    S mengatakan sejak SD, T dinilai berkarakter mirip laki-laki. T mengikuti kegiatan sepakbola, futsal, dan disebut selalu mendapat juara.

    “Perempuan (pakaiannya), pakai kerudung. Sekolah kelas 3 SMP pakai kerudung. Terus ada kebijakan dari sekolah dari yayasan ke saya untuk sementara ya udah jangan dulu sekolah, karena sebagian udah tahu takutnya gimana-gimana,” ungkapnya.

    S mengatakan hingga saat ini, T belum menstruasi. Kemudian keluarga memutuskan memeriksa USG dan berjenis kelamin laki-laki. S juga mengatakan saat diperiksa, dokter mengatakan T cenderung berperilaku sebagai laki-laki. Secara fisik, T pun dinilai cenderung sebagai laki-laki.

    Spesialis urologi dr Hilman Hadiansyah, SpU, mengatakan dirinya tak bisa banyak berkomentar lantaran belum melihat pasien secara langsung. Meski begitu, ia mengatakan ada kemungkinan pasien mengalami kondisi Ambiguous Genitalia atau yang disebut juga disorders of sex development (DSD).

    Kondisi ini merupakan kelainan perkembangan seksual yang terjadi ketika organ kelamin bayi tidak jelas atau ambigu, apakah laki-laki atau perempuan.

    dr Hilman juga menegaskan bahwa pasien harus diperiksa lebih lanjut, seperti pemeriksaan kromosom untuk mengetahui kondisi pasien lebih lanjut.

    “Kondisi ini dapat dievaluasi saat pasien lahir, dan perlu pemeriksaan kromosom,” imbuhnya saat dihubungi detikcom, Jumat (13/12/2024).

    Menurut dr Hilman, terdapat beberapa pemicu yang bisa menyebabkan kondisi tersebut. Di antaranya, faktor genetik, hormonal, lingkungan, dan kehamilan.

    Faktor Genetik

    Kromosom abnormal: Kromosom X, Y, atau autosom yang tidak normal.Mutasi gen: Mutasi gen yang mempengaruhi diferensiasi seksual.Sindrom genetik: Sindrom seperti Klinefelter, Turner, atau Androgen Insensitivitas.

    Faktor Hormonal

    Ketidakseimbangan hormon: Abnormalitas produksi atau respon hormon androgen dan estrogen.Gangguan fungsi adrenal: Penyakit adrenal seperti Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH).Gangguan fungsi gonad: Gangguan fungsi testis atau ovarium.

    Faktor Lingkungan

    Paparan zat kimia: Paparan zat kimia seperti pestisida, polusi udara, atau zat kimia industri.Radiasi: Paparan radiasi selama kehamilan.Infeksi selama kehamilan: Infeksi seperti rubella atau toxoplasmosis.

    Faktor Kehamilan

    Kehamilan dengan komplikasi: Kehamilan dengan komplikasi seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit autoimun.Penggunaan obat-obatan: Penggunaan obat-obatan tertentu selama kehamilan.

    (suc/kna)

  • Kisah Sukses Wanita Pangkas BB 82 Kg, Resepnya Cuma Makan Ini

    Kisah Sukses Wanita Pangkas BB 82 Kg, Resepnya Cuma Makan Ini

    Jakarta

    Seorang Ibu berusia 34 tahun di Isle of Thanet, Kent, Inggris, Sally Martin, membagikan kisah perjalanannya dalam proses menurunkan berat badan hingga 82 kg. Motivasi ini muncul setelah dirinya menghadapi putus cinta.

    Awalnya wanita tersebut memiliki berat badan 171 kg. Dirinya merasa ketakutan tidak akan pernah menemukan cinta kembali setelah kepercayaan dirinya hancur setelah mengakhiri hubungan dengan pasangan.

    Sally selalu berjuang melawan berat badannya tetapi kerap gagal dan fase depresi membuatnya mencari makanan manis untuk menenangkan diri, diam-diam kembali mengonsumsi cokelat dan permen.

    Namun, saat pakaiannya mulai terasa ketat, Sally tahu bahwa dirinya harus membuat beberapa perubahan demi kesehatan dan kebahagiaannya.

    “Saya menggunakan makanan sebagai pelipur lara, itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuat saya bahagia saat saya kelelahan karena bekerja dan mengurus anak-anak. Namun, saat saya tidak bisa mengenakan ukuran 36, saya menyadari ada sesuatu yang perlu dilakukan,” kata Sally, dikutip dari Mirror, pada Selasa (3/12/2024).

    “Sampai pada titik saya tidak bisa berlarian dan bermain dengan anak saya, dan saya merasa pusing setelah menaiki tangga. Saya pernah diberi tahu ‘tidak akan ada yang mencintaimu seperti ini’, dan itu terus menghantui saya,” sambungnya.

    Setelah dirinya lajang, Sally menyadari bahwa ia tidak dapat menemukan pakaian yang pas dan pergi untuk menemui dokter. Dirinya kemudian diarahkan untuk menjalani operasi bypass lambung pada Februari 2020, dan pada akhir 2021 berat badannya hilang sebanyak 63 kg karena pola makan lebih kecil dan mulai aktif berjalan kaki setiap hari.

    Sally bertekad untuk terus konsisten dan tak terasa saat ini berat badannya 88 kg. Ia kini bisa mengenakan baju ukuran kecil dengan mudah. Sally merasa seperti memiliki tubuh baru dan kini ia juga sudah menemukan cinta baru dengan pasangan yang mendukungnya.

    “Saya kehilangan berat badan, tetapi memperoleh kebebasan, kepercayaan diri, dan kebahagiaan, dan pasangan baru saya, Dan, adalah pendukung terbesar saya,” tutupnya.

    Menu dietnya seperti apa sih?

    Sarapan: 40 gram sereal, 60 mililiter susu skim, 1 pisang, dan latte tanpa lemakMakan siang: telur dadar/kentang goreng/pastaMakan malam: makanan rumahan seperti spaghetti bolognese/ayam, nasi dan salad/kari tradisional/saladMinuman: skinny latte, teh dengan 50 ml susu skim, jeruk squash tanpa gula, dan sesekali minuman bersoda bebas gula dan kalori

    (naf/kna)

  • Nggak Kaleng-kaleng, Ini 5 Manfaat Makan Telur Saat Sarapan

    Nggak Kaleng-kaleng, Ini 5 Manfaat Makan Telur Saat Sarapan

    Jakarta

    Telur merupakan salah satu makanan yang sering dijumpai sehari-hari. Meski sederhana, telur memiliki beragam nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.

    Salah satunya adalah protein. Telur mengandung protein berkualitas tinggi yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk otot dan memperbaiki sel-sel yang rusak.

    Tak hanya itu, telur juga kaya akan vitamin D, vitamin B12, zat besi, magnesium, hingga kalium yang tak kalah penting untuk kesehatan tubuh.

    Kandungan nutrisi itulah yang membuat telur cocok menjadi lauk pendamping saat makan, termasuk ketika sarapan.

    Lantas, apa saja manfaat yang diperoleh dari mengonsumsi telur setiap hari saat sarapan? Berikut ulasannya.

    1. Membantu Menurunkan Berat Badan

    Dikutip dari Healthline, protein yang terkandung dalam telur dapat meningkatkan rasa kenyang dan menekan nafsu makan. Kedua hal ini dapat berkontribusi terhadap penurunan berat badan.

    Sebuah studi yang dilakukan pada 50 orang dewasa dengan obesitas menemukan mengganti sereal dan susu dengan telur dan roti bakar dapat menunda rasa lapar lebih lama, serta mengurangi asupan kalori sebesar 180 saat makan siang.

    Studi lain juga menunjukkan konsumsi telur dikaitkan dengan penurunan risiko kelebihan berat badan hingga 38 persen.

    2. Meningkatkan HDL

    Dikutip dari Healthlien, telur dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL dalam tubuh. HDL merupakan jenis kolesterol yang berfungsi untuk mengangkut kelebihan kolesterol kembali ke hati untuk dikeluarkan dari tubuh. HDL juga sering disebut sebagai ‘kolesterol baik’ karena melindungi tubuh dari risiko penyakit yang disebabkan oleh LDL atau ‘kolesterol jahat’, seperti penyakit jantung dan stroke.

    3. Meningkatkan Kesehatan Mata

    Telur mengandung lutein dan zeaxanthin, dua antioksidan yang memberikan manfaat positif bagi kesehatan mata.

    Dikutip dari Healthline, kedua nutrisi tersebut dapat membantu mengurangi risiko degenerasi makula dan katarak, yang cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

    4. Memperkuat Imun Tubuh

    Telur juga mengandung beragam nutrisi yang berperan dalam membangun sistem kekebalan tubuh. Dikutip dari Medical News Today, kandungan vitamin A, vitamin B12, dan selenium pada telur dapat membantu menjaga sistem imun tetap sehat, sehingga mampu melawan infeksi virus dan bakteri penyebab penyakit.

    5. Menunjang Kesehatan Otak

    Telur mengandung kolin, salah satu nutrisi yang sangat penting untuk mendukung kesehatan otak. Dikutip dari Healthline, kolin berfungsi membangun membran sel dan menghasilkan molekul sinyal di otak.

    Senyawa ini juga berperan dalam mendukung perkembangan otak pada janin.

    (kna/kna)

  • Kepingin Clean Eating? Bisa Pakai Menu Warteg Kok, Ini Tips Dokter Gizi

    Kepingin Clean Eating? Bisa Pakai Menu Warteg Kok, Ini Tips Dokter Gizi

    Jakarta

    Memiliki tubuh yang sehat dan ideal tentunya menjadi impian banyak orang. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah konsisten melakukan clean eating atau pola makan sehat.

    Namun, banyak orang yang menganggap menjalani clean eating ini relatif mahal. Bahan-bahan makanan yang harus dikonsumsi adalah alami, organik, dan segar. Padahal, menu makanan untuk clean eating ini juga bisa dibuat murah.

    Spesialis gizi klinik dr Oki Yonatan Oentiono, Sp.GK, PNS mengatakan beberapa menu clean eating cmurah bahkan bisa dijumpai di warung tegal (warteg).

    “Untuk karbohidrat nasi putih masih ok, itu tinggal kita atur porsinya. Nah, untuk lauk ini yang agak susah karena hampir semua digoreng, dibakar, pakai minyak,” kata dr Oki saat berbincang dengan detikcom, Jumat (13/12/2024).

    “Kalau misalnya kita makan ayam goreng ya harus diakali. Buang kulitnya, terus ditisuin biar minyaknya terserap. Atau di warteg biasanya kan ada telur, kita pilih yang telur balado atau telur rebus tapi dimakan putihnya saja. Kalau balado kan luarnya aja merah, tapi dalamnya masih bersih tuh,” sambungnya.

    dr Oki melanjutkan untuk sayuran usahakan memilih yang berkuah dan menghindari tumis-tumisan. Namun, perlu juga diperhatikan komposisi penyedap makanan yang mengandung kalori.

    “Sayur bayam yang biasanya sama jagung, terus sayur asem. Kalau kuahnya lodeh ya jangan dimakan, karena kan pakai santan,” katanya.

    Menurut dr Oki, pola makan sehat clean eating dengan menu warteg ini masih akan banyak peminat pada 2025, terlebih bagi mereka para pekerja atau mahasiswa yang memang ingin menekan budget makanan. Pasalnya, selain harga makanannya murah, warteg juga mudah ditemukan.

    (dpy/naf)

  • 4 Minuman Herbal yang Redakan Gejala GERD, Ini Saran Dokter

    4 Minuman Herbal yang Redakan Gejala GERD, Ini Saran Dokter

    Jakarta

    Pengidap masalah asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) biasanya kerap mengeluhkan nyeri ulu hati, heartburn atau dada terasa panas, hingga gejala lain yang ada di area dada bagian bawah sampai perut. Keluhan refluks asam ringan paling tidak dialami dua kali seminggu.

    Karenanya, tidak aneh untuk kemudian menyetok obat-obatan yang siap dikonsumsi sewaktu-waktu mengeluhkan gejala. Padahal, bila dikonsumsi terlalu sering, malah memicu kondisi hypochlorhydria yakni saat kadar asam lambung berada di bawah normal.

    Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr Inggrid Tania mengimbau dalam kondisi tersebut, herbal atau bahan alam sebetulnya bisa menjadi pilihan. Efek dari mengonsumsi herbal adalah menyeimbangkan asam lambung, bukan untuk selalu menurunkan kadarnya.

    “Biasanya sedikit-sedikit minum obat maag, baru keluhan sedikit sudah minum, padahal asam lambung itu perlu dijaga, supaya seimbang kadarnya. Karena itu tadi, kondisi orang-orang keseringan minum obat membuat asam lanbungnya berkurang, atau sedikit di bawah normal, yaitu hypochlorhydria,” terang dia dalam webinar daring, Minggu (15/12/2024).

    “Jadi peran bahan alam, rempah, herbal, di sini menjaga keseimbangan kadar asam lambung, itu yang tidak ada dengan pengobatan konvensional, keistimewaannya bahan alam kalau kita naik, dia bisa menurunkan, kalau kita turun, dia bisa menaikkan kadarnya,” tutur dr Inggrid.

    Minuman Herbal Mana yang Paling Tokcer?

    Ada dua jenis campuran bahan alam yang efek sampingnya relatif netral atau minim, dengan beberapa minuman herbal lain yang relatif sensitif untuk beberapa orang.

    1. Air Hangat dan Perasan Lemon

    Meminum air hangat yang dicampur dengan perasan lemon bisa menjadi alternatif meredakan gejala asam lambung. Sayangnya, tidak semua reaksi yang didapat pada pengidap GERD relatif sama. Artinya, tidak disarankan?

    “Banyak yang memang malah mengeluh GERDnya semakin berat, karena ada faktor asam dari lemon, jadi tidak semua cocok. Tapi untuk awal dicoba tidak masalah, sekali mencoba sambil melihat efeknya, bila dirasa bertambah berat, sebaiknya jangan diteruskan,” saran dr Inggrid.

    2. Teh Herbal

    Teh herbal menjadi minuman yang paling aman dan minim efek samping saat dikonsumsi untuk meredakan masalah asam lambung. Masyarakat dibebaskan dr Inggrid untuk memilih teh herbal siap seduh yang banyak tersedia di pasaran.

    “Teh herbal ini efeknya termasuk netral, karena rasanya tidak ada pedas, tidak ada asam. Biasanya teh chamomile, teh jahe bisa meredakan masalah lambung dan pencernaan,” tuturnya.

    3. Jahe

    Sama seperti air perasan lemon, jahe mengacu sejumlah riset memang kaya manfaat untuk GERD dan masalah asam lambung. Namun, perlu dicatat, ada beberapa orang yang sensitif dengan kandungan shogaol dalam jahe.

    “Apalagi jahe merah, karena efeknya akan lebih terasa lagi karena shogaolnya lebih banyak, jadi sebetulnya kuncinya kenali diri sendiri arena sensitivitas setiap orang, kerentanan setiap orang berbeda-beda,” pungkasnya.

    4. Daun mint

    Peppermint atau daun mint juga disarankan untuk membantu memperbaiki pencernaan termasuk lambung. dr Inggrid menyarankan sebaiknya maksimal menggunakan 15 hingga 20 lembar daun untuk kemudian menjadi air rebusan yang siap dikonsumsi.

    Pasalnya, jika diminum dengan jumlah terlalu banyak, malah memperberat keluhan GERD.

    Catatan tambahan, saat mengalami keluhan GERD atau masalah lambung, sebaiknya memperhatikan makanan yang dikonsumsi untuk mudah dicerna, termasuk pisang, nasi, oatmeal, yoghurt, hingga sup.

    (naf/naf)