Category: Detik.com Kesehatan

  • Curhat Dokter Obgyn Lulusan LN, Sempat Kesulitan Dapat Izin Praktik di RI

    Curhat Dokter Obgyn Lulusan LN, Sempat Kesulitan Dapat Izin Praktik di RI

    Jakarta

    Menteri Kesehatan RI (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah kekurang dokter, khususnya spesialis. Dirinya pun mengajak dokter-dokter Indonesia yang berpraktik di luar negeri untuk pulang dan mengabdi ke Tanah Air.

    Menkes Budi sadar bahwa banyak dari dokter diaspora yang ingin pulang dan berpraktik di rumah sakit Tanah Air. Namun, kendala birokrasi yang rumit membuat tidak sedikit dari mereka yang kesusahan mewujudkan keinginannya.

    “Saya minta temen-temen ini menceritakan pengalaman mereka di sosial media. Sosialisasikan ke temen-temen (dokter diaspora) yang ada di luar, bahwa prosesnya sekarang sudah lebih mudah dan kasih kami feedback kalau ada apa-apa (kekurangan),” kata Menkes Budi di Jakarta Selatan, Senin (16/12/2024).

    Kemenkes telah menyerahkan batch pertama Surat Selesai Adaptasi dan STR (Surat Tanda Registrasi) seumur hidup untuk tujuh dokter spesialis lulusan kampus luar negeri, mulai dari spesialis penyakit dalam hingga spesialis obstetri dan ginekologi.

    Salah satu dokter spesialis obstetri dan ginekologi lulusan luar negeri dr Andreas Suhartoyo Winarno, Sp.OG mengatakan sistem kesehatan Indonesia yang lama terkait izin praktik masih terbilang rumit. Hal ini yang menjadi pertimbangan banyak dokter diaspora kesulitan untuk pulang ke Tanah Air.

    dr Andreas juga menjadi salah satu dari tujuh dokter yang telah lulus program adaptasi Kemenkes dan saat ini ditempatkan di RSUD Otanaha, Gorontalo.

    “Sistem yang lama bisa dibilang termasuk rumit karena tahapannya banyak, nggak ada durasi yang jelas, udah gitu setelah masuk ke program adaptasinya masih berbayar,” kata dr Andreas.

    “Tentunya ini jadi pertimbangan, sedangkan di luar negeri kalau mereka sudah dapat kerja jelas, dapat penghasilan, orang kan akan mikir dua sampai tiga kali (buat kembali ke Indonesia),” sambungnya.

    dr Andreas mengatakan memang beberapa rumah sakit di Indonesia masih memiliki kekurangan terkait alat medis, terlebih di daerah-daerah terpencil. Namun, dirinya yakin bahwa pemerintah akan segera mengatasi permasalahan tersebut.

    “Program spesialis kan bakal dibikin hospital based, saya rasa ini sangat-sangat positif program dari pemerintah karena di luar negeri programnya juga sudah hospital based,” katanya.

    “Kedua biar nggak ada sentralisasi dokter spesialis di kota-kota besar. Kalau bisa habis pendidikan spesialisnya langsung ke daerah jadi bisa ngembangin daerah juga,” tutupnya,

    (dpy/kna)

  • Psikolog Ungkap Anak yang Fatherless Cenderung Ogah Nikah-Pilih Childfree

    Psikolog Ungkap Anak yang Fatherless Cenderung Ogah Nikah-Pilih Childfree

    Jakarta

    Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menyoroti salah satu dampak kurangnya ayah dalam pengasuhan anak atau fatherless. Sari menuturkan anak yang tumbuh dengan kondisi fatherless memiliki kecenderungan untuk enggan memiliki anak atau bahkan tidak ingin membina rumah tangga.

    Hal tersebut didasari oleh rasa kecewa yang besar akibat tidak mendapatkan hubungan yang baik dengan sang ayah.

    “Fatherless ini juga bisa berdampak pada kekecewaan anak yang besar. Kemudian ketakutan dan keengganan untuk membentuk keluarga atau memiliki anak,” kata Sari ketika dihubungi detikcom, Senin (16/12/2024).

    “Di kehidupannya, karena dia mungkin juga merasa tidak tahu harus seperti apa saat menjadi orang tua dan dia menghindari tanggung jawab tersebut dengan memilih untuk tidak memiliki anak, itu bisa jadi salah satu faktor risiko ya,” sambungnya.

    Sari berpendapat peran pengasuhan anak antara ibu dan ayah sama pentingnya. Ketika ayah hanya fokus dengan pekerjaan dan tidak terlibat saat mengasuh anak, hal ini membuat komunikasi yang baik antara ayah dan anak terputus sehingga memperburuk hubungan secara emosional.

    Hal ini juga perlu diperhatikan karena jangan sampai hubungan antara ayah dan anak yang terjadi hanya bersifat transaksional.

    “Misalnya ayah cuma kerja pulang kerja pulang, tanpa ada komunikasi yang baik, tanpa ada keterbukaan, anak jadi melihatnya ayah ini sebagai sosok yang harus dihargai atau dihormati dalam rangka transaksional, untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.

    “Anak juga sibuk mencari-cari posisinya seperti apa, perannya sebagai laki-laki apa, perannya sebagai perempuan apa, itu semuanya menjadi sebuah kebingungan,” tandas Sari.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada periode tahun 2021, hanya sebanyak 37,17 persen anak usia 0-5 tahun di Indonesia yang mendapatkan pengasuhan secara lengkap dari ibu dan ayahnya. Masih besarnya persepsi masyarakat terkait pengasuhan anak hanya menjadi tugas ibu, disebut menjadi salah satu faktor terbesar pemicu fatherless di Indonesia.

    (avk/kna)

  • Kemenkes Ikut Soroti Heboh Duo Bidan di Jogja yang Jual 66 Bayi

    Kemenkes Ikut Soroti Heboh Duo Bidan di Jogja yang Jual 66 Bayi

    Jakarta

    Dua bidan di sebuah tempat bersalin di Tegalrejo, Kota Yogyakarta, melakukan praktik jual beli bayi. Mereka telah menjual 66 bayi sejak 2010 kepada orang lain dengan modus adopsi secara ilegal. Kedua pelaku, yaitu DM (77), yang merupakan bidan sekaligus pemilik rumah bersalin, dan JE (44), bidan yang bekerja di sana.

    Kepala Biro Komunikasi Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI Aji Muhawarman turut prihatin dan menyesalkan kejadian tersebut. Ia mengatakan pihaknya telah menyerahkan kasus tersebut untuk diproses oleh pihak kepolisian.

    “Ya kami menyesalkan kejadian ini. Sebagai tindakan kriminalitas, maka kami serahkan prosesnya ke pihak kepolisian,” katanya saat dihubungi detikcom, Senin (16/12/2024).

    Aji juga mengatakan rumah bersalin dan tenaga kesehatannya umumnya diawasi langsung oleh dinas kesehatan setempat, yang juga memberikan izin operasional dan praktiknya.

    “Pasti mereka akan evaluasi dan berikan tindakan yang seharusnya,” lanjutnya lagi.
    baca juga

    Diberitakan sebelumnya, Polda DIY, Kombes FX Endriadi, mengatakan kasus ini terbongkar setelah polisi menerima laporan adanya perdagangan bayi di salah satu rumah bersalin di Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

    “Untuk TKP-nya, ini TKP-nya adalah di daerah Tegalrejo, Kota Yogyakarta, tempat praktik dokter umum dan estetika,” kata Endriadi saat rilis kasus di Mapolda DIY, Sleman, Kamis (12/12/2024), dikutip dari detikJogja.

    Lebih lanjut, Endriadi menjelaskan dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa para tersangka itu telah melakukan penjualan bayi sejak tahun 2010. Bayi-bayi itu dijual ke berbagai daerah di Indonesia.

    Berdasarkan dokumen serah terima di rumah bersalin tersebut diketahui bahwa bayi-bayi itu dijual ke berbagai daerah di Indonesia seperti Papua, NTT, Bali, dan Surabaya.

    “Diketahui dari kegiatan kedua tersangka tersebut, telah mendapatkan data sebanyak 66 bayi yang terdiri dari bayi laki-laki 28 dan bayi perempuan 36. Serta dua bayi tanpa keterangan jenis kelaminnya,” ungkapnya.

    Adapun calon pembeli diminta melakukan pembayaran puluhan juta rupiah.

    “Dengan modus biaya persalinan untuk bayi perempuan kisaran Rp 55 juta hingga Rp 65 juta dan bayi laki-laki Rp 65 juta hingga Rp 85 juta,” Kabid Humas Polda DIY Kombes Nugroho Arianto.

    (suc/kna)

  • RI Masih Butuh Banyak Dokter Spesialis, Lulusan Luar Negeri Pulang Yuk!

    RI Masih Butuh Banyak Dokter Spesialis, Lulusan Luar Negeri Pulang Yuk!

    Jakarta

    Menteri Kesehatan RI (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan saat ini di seluruh dunia, termasuk Indonesia sedang memiliki masalah yang sama terkait kesehatan yakni kekurangan dokter. Menurutnya, saat ini dunia sedang kekurangan sekitar 6,4 juta dokter.

    Kekurangan dokter ini, menurut Menkes Budi paling nyata terlihat adalah di Puskesmas Indonesia. Menurutnya, masih banyak Puskesma di Indonesia yang masih belum memiliki dokter.

    “Sampai sekarang puskesmas itu nggak ada dokternya mungkin 300-an. Terus nggak ada dokter gigi, mungkin 5.000-an puskesmas, itu lebih kacau lagi. Dari 10 ribuan puskesmas, kita sudah hampir 80 tahun merdeka tapi dokter giginya nggak ada,” kata Menkes Budi di Jakarta Selatan, Senin (16/12/2024).

    Saat ini, Kemenkes telah menyerahkan batch pertama Surat Selesai Adaptasi dan STR (Surat Tanda Registrasi) seumur hidup untuk dokter spesialis lulusan kampus luar negeri, mulai dari spesialis penyakit dalam hingga spesialis obstetri dan ginekologi. Menkes Budi berharap para dokter, khususnya spesialis yang ada di luar negeri untuk bisa kembali pulang ke Tanah Air dan ikut membantu memajukan kesehatan Indonesia.

    “Ini sudah 7 yang lulus, dari 32 (dokter spesialis) yang dalam proses. Semoga tahun depan bisa 100 atau 200 dan mereka bisa memviralkan hal ini ke temen-temen dokter diaspora,” katanya.

    “Kan dokter-dokter Indonesia di luar negeri banyak, mungkin ingin balik dan berbakti buat negara karena masyarakat sangat membutuhkan,” sambungnya.

    Selain itu, Kemenkes juga akan menambah pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital based). Menurut Menkes Budi akan segera dimulai di akhir tahun 2024.

    “Orang-orang yang masuk ke pendidikan hospital based ini adalah orang-orang yang akan bekerja di daerah-daerah yang memang belum lengkap dokter spesialisnya,” katanya,.

    “Jadi diberikan afirmasi, biar nggak bayar uang sekolah, biaya hidupnya kita tanggung. Tapi mereka harus balik bersama. Sekarang kan Kemenkes yang atur SIP-nya (Surat Izin Praktik), jadi kami bisa atur ke tempat-tempat yang dibutuhkan,” tutupnya.

    (dpy/up)

  • Kecaman Menkes soal Pemukulan Dokter Koas di Palembang

    Kecaman Menkes soal Pemukulan Dokter Koas di Palembang

    Jakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebut kasus pemukulan mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya yang viral di Palembang merupakan contoh buruk. Menurutnya, sistem pendidikan spesialis Indonesia harus lebih bernormal.

    (/)

  • Sesat Pikir Tugas Ayah Hanya Cari Nafkah Tak Urus Anak

    Sesat Pikir Tugas Ayah Hanya Cari Nafkah Tak Urus Anak

    Jakarta

    Fatherless atau anak yang tumbuh tanpa peran ayah menjadi sebuah fenomena yang menjadi sorotan banyak pihak. Masih adanya persepsi ‘ayah cukup mencari nafkah dan anak adalah urusan ibu’ di Indonesia dianggap menjadi salah satu faktor besar persoalan tersebut.

    Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menuturkan bahwa diperlukan keseimbangan yang baik dalam hal pengasuhan pada anak. Hal ini membuat peran ayah juga sangat penting dalam pengasuhan, bukan tugas ibu saja.

    Ia mencontohkan salah satunya adalah kedua orang tua harus bisa kompak dalam memberikan nasihat yang searah pada anak. Apabila hanya ibu yang berperan di sini, anak berisiko lebih mungkin bingung atau bimbang ketika dihadapkan banyaknya persepsi dalam kehidupan bermasyarakat.

    “Apabila hanya satu orang tua yang menasihati, anak akan tetap merasa kebingungan. Karena di luar sana ada banyak perspektif yang lain gitu ya. Itu yang dibantu orang tua memberikan validasi itu kepada anak dengan nasihat-nasihat searah,” kata Sari ketika dihubungi detikcom, Senin (16/12/2024).

    “Sehingga anak bisa menggunakan pedoman tersebut dan apabila ada banyak perbedaan sudut pandang di luar sana, dia tidak gampang goyah karena kedua peran orang tuanya memberikan arahan satu suara,” sambungnya.

    Sari mengatakan persepsi ‘tugas hanya cukup mencari nafkah’ muncul dari zaman dulu ketika kesempatan wanita untuk bekerja lebih kecil. Secara tanpa sadar, laki-laki akhirnya menjadi orang yang fokus mencari nafkah, sedangkan perempuan yang membantu urusan rumah tangga.

    Melihat kesempatan kerja dan situasi yang sudah berubah saat ini, Sari berpendapat bahwa persepsi tersebut sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Oleh karena itu, kedua orang tua seharusnya bisa menjalankan tugas pengasuhan secara bersama-sama, terlebih ia menganggap ada sedikit perbedaan tugas ayah dan ibu dalam pengasuhan.

    “Misalnya ibu memberikan rangsangan tumbuh kembang emosi anak, bagaimana berempati, bersimpati pada orang lain, merasa dan menjelaskan emosi-emosi yang dirasakan oleh anak, membantu mengarahkan coping pada semua sensasi rasa itu disalurkan dengan cara seperti apa, bisa lewat ibu,” ujar Sari.

    “Sedangkan ayah juga membantu dalam mengajarkan bagaimana cara bersosialisasi di masyarakat, pertemanan, bagaimana cara berpikir, berstrategi, mengambil keputusan, bersikap, itu bisa lebih mudah digambarkan oleh ayah karena faktor ketegasan dan faktor logika diharapkan jauh lebih terlihat atau nampak pada sosok laki-laki,” tandasnya.

    (avk/kna)

  • Kecaman Menkes soal Pemukulan Dokter Koas di Palembang

    Menkes Tanggapi Heboh Dokter Koas Dianiaya Diduga Perkara Jadwal Piket

    Jakarta

    Seorang sopir di Palembang, Sumatera Selatan, Fadilah alias Datuk (37), menganiaya koas bernama Muhammad Luthfi Hadyhan (22). Pihak kepolisian menyebut bahwa pelaku kesal dengan korban lantaran tidak merespons saat majikannya bertanya.

    Dikutip dari detikSumbagsel Senin (16/12/2024) penganiayaan itu terjadi di sebuah kafe, di Jalan Demang Lebar Daun, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, pada Selasa (10/12/2024) sekitar pukul 16.40 WIB.

    Merespons hal ini, Menteri Kesehatan RI (Menkes) Budi Gunadi Sadikin sangat menyayangkan terkait apa yang terjadi. Menurutnya itu adalah contoh buruk yang terjadi di pendidikan dokter Indonesia.

    “Hal seperti itu kan harusnya nggak terjadi dan itu merupakan satu rangkaian dari termasuk bullying-nya. Orang di-bully jadi nggak suka, dia bales dengan tindakan yang menurut saya sangat tidak benar. Ini carut marut yang harus dibersihkan,” kata Menkes Budi kepada wartawan di Jakarta Selatan, Senin (16/12/2024).

    “Menurut saya harus ada aturan yang jelas bekerja itu seperti apa, aturannya seperti apa, yang boleh apa dan itu harus sesuai dengan regulasi yang ada maupun etika norma yang berlaku,” sambungnya.

    Menkes Budi menegaskan aturan terkait pendidikan kedokteran harus segera diperjelas. Hal ini agar tidak lagi terjadi lagi hal-hal buruk di pendidikan kedokteran Indonesia.

    “Menurut saya ini sama buruknya dengan yang bully di Semarang sampai kemudian itu (meninggal),” katanya.

    “Itu yang harus diberesin supaya sistem pendidikan kedokteran kita, dan sistem pendidikan dokter spesialis kita itu lebih bernorma,” tutupnya.

    Sebelumnya, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI Azhar Jaya mengatakan pihaknya saat ini sudah mempelajari kasus tersebut dan mendorong agar pihak kampus segera mengusutnya.

    “Saya sudah pelajari. Ini yang mesti bergerak adalah FK (Fakultas Kedokteran). Dari pihak RS paling-paling mengembalikan koas tersebut ke FK-nya,” ujar Azhar ketika dihubungi oleh detikcom, Jumat (13/12/2024).

    (dpy/kna)

  • Benarkah Minum Teh Sambil Makan Bisa Picu Anemia? Begini Kata Dokter

    Benarkah Minum Teh Sambil Makan Bisa Picu Anemia? Begini Kata Dokter

    Jakarta

    Minum teh saat makan mungkin dilakukan oleh beberapa orang untuk relaksasi atau sekadar melancarkan pencernaan. Namun di balik kebiasaan ini, muncul anggapan bahwa minum teh saat makan bisa memicu anemia.

    Anemia adalah kondisi medis yang terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Salah satu penyebab anemia yang paling umum adalah defisiensi zat besi, saat tubuh kekurangan zat besi yang diperlukan untuk produksi hemoglobin.

    Konsumsi teh sering kali dikaitkan dengan penurunan penyerapan zat besi dalam tubuh yang nantinya bisa memicu anemia. Lantas, bagaimana faktanya?

    Spesialis anak, dr Meiriani Sari, M.Sc, Sp.A, IBCLC, menjelaskan minum teh sambil makan memang bisa memicu anemia. Hal ini dikarenakan di dalam teh terdapat kandungan zat tanin yang bisa mencegah penyerapan zat besi. Zat tanin tersebut nantinya akan ‘berkompetisi’ dengan zat besi

    “Jadi dia akan berkompetisi dengan zat besi, harusnya zat besi yang masuk itu diikat kemudian jadi hemoglobin.Tapi karena ada zat tanin, sehingga zat besi yang masuk lewat asupan akan diikat dengan tanin,” katanya dikutip dari 20detik, Senin (16/12/2024).

    Imbasnya, zat besi yang sering diikat oleh zat tanin yang ada di dalam teh, akan membuat hemoglobin seseorang semakin rendah yang bisa memicu anemia.

    “Jadi kalau kita minum teh sebaiknya tidak sambil makan,” katanya lagi.

    (suc/kna)

  • Sederet Tanda Tubuh Kebanyakan Makan Garam, Termasuk Sakit Kepala

    Sederet Tanda Tubuh Kebanyakan Makan Garam, Termasuk Sakit Kepala

    Jakarta

    Garam merupakan salah satu bumbu dapur yang sering kali digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menambahkan cita rasa di berbagai hidangan. Meskipun begitu, Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan batas konsumsi garam per orang tidak lebih dari 2.000 miligram natrium atau sebanyak 1 sendok teh dalam sehari.

    Apabila seseorang mengonsumsi garam melebihi batas aman, maka dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, seperti penyakit jantung dan hipertensi (tekanan darah tinggi). Oleh sebab itu, penting untuk mengurangi asupan garam, dan memahami sederet tanda bahwa tubuh sudah kelebihan dalam mengonsumsi garam.

    Lantas, apa saja gejala yang dapat terjadi apabila tubuh mengonsumsi garam dalam jumlah yang berlebihan? Dikutip dari Eating Well, berikut adalah informasi selengkapnya:

    1. Bengkak pada Tubuh

    Terlalu banyak garam akan menyebabkan tubuh menahan air. Imbasnya, memicu kelebihan cairan dalam jaringan tubuh yang dapat menyebabkan pembengkakan, kembung, dan bengkak.

    Hal ini juga dapat membuat seseorang merasa seseorang tak nyaman dengan pakaiannya.

    “Meskipun kelebihan garam tidak secara langsung memengaruhi latihan Anda, beberapa atlet telah mencatat bahwa rasa berat yang mereka rasakan akibat kembung setelah mengonsumsi terlalu banyak garam menghambat performa mereka,” imbuh Michalczyk.

    2. Sakit Kepala

    Natrium yang berlebihan pada tubuh dapat mengacaukan rasio dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan natrium terbuang dari pasokan air dalam tubuh. Hal ini menurut Michalzyk dapat memicu rasa sakit kepala sebab dehidrasi. Saat tubuh kehilangan terlalu banyak air, maka organ otak akan berkontraksi sebab kehilangan cairan tersebut.

    Apabila seseorang mengalami sakit kepala, disarankan untuk mengonsumsi banyak air putih untuk membantu tubuh mengeluarkan natrium, yang seharusnya dapat membantu untuk meredakan sakit kepala.

    3. Sering Haus

    Sering mengalami mulut kering dan ingin minum sesuatu untuk meredakannya? Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kadar natrium yang tinggi di dalam tubuh.

    “Karena garam menyebabkan tubuh menahan air dan menarik cairan yang tersimpan, kelebihan garam dalam tubuh menyebabkan kekurangan cairan sehingga mengakibatkan rasa haus sebagai cara tubuh memberi sinyal kepada Anda bahwa keseimbangan cairannya tidak seimbang dan perlu bantuan untuk kembali ke keseimbangan,” kata Michalczyk.

    4. Sering Buang Air Kecil

    Garam dapat memengaruhi kadar cairan di dalam tubuh sehingga dapat mengakibatkan rasa haus yang berlebihan. Saat rasa haus terpuaskan, maka tubuh akan merespon dengan lebih sering untuk buang air kecil ke kamar mandi untuk membantu menyaring kelebihan garam yang dapat memicu rasa haus.

    (suc/suc)

  • Kekurangan Zat Besi Bisa Hambat Kecerdasan Si Kecil, Masa Sih?

    Kekurangan Zat Besi Bisa Hambat Kecerdasan Si Kecil, Masa Sih?

    Jakarta – Guna memastikan tumbuh kembang anak optimal, orang tua tidak boleh hanya berfokus pada kesehatan fisik. Ayah dan Bunda juga harus memperhatikan pemenuhan nutrisi bagi Si Kecil.

    Salah satu zat gizi yang tidak boleh dilewatkan yaitu zat besi atau iron (Fe). Mirisnya, 1 dari 3 anak Indonesia dilaporkan mengalami anemia karena kekurangan zat besi. Padahal, mineral ini menjadi elemen penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

    Melansir laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), zat besi memiliki beberapa fungsi krusial. Zat besi memungkinkan sel darah merah membawa oksigen ke seluruh tubuh. Di samping itu, jurnal yang dirilis European Food Safety Association (EFSA) menyebutkan mineral ini juga dibutuhkan dalam pembentukan mielin (selubung saraf), yang berfungsi sebagai penghantar impuls saraf.

    Seperti diketahui, otak manusia terdiri dari miliaran sel saraf. Tanpa mielin, impuls saraf tidak dapat mengalir secara optimal. Mielin bekerja seperti lapisan pelindung dalam sistem listrik, yang memastikan aliran impuls berjalan lancar dan efisien.

    Defisiensi Zat Besi Ganggu Kecerdasan-Hambat Prestasi di Sekolah

    Angka kebutuhan rata-rata zat besi harian berbeda-beda, tergantung dengan tingkatan usia anak. Merujuk pada panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi usia 6-12 bulan memerlukan zat besi sebanyak 11 mg per hari. Sedangkan dalam standar angka kecukupan gizi (AKG) yang ditetapkan Kemenkes, anak dengan usia di atas 1 tahun rata-rata membutuhkan asupan zat besi sebanyak 7-10 miligram per hari.

    Adapun remaja berusia di atas 12 tahun perlu memenuhi kebutuhan rata-rata zat besi paling tidak 11-15 miligram per hari. Jika tidak tercukupi, hati-hati anak bisa mengalami defisiensi zat besi. Kondisi ini tentu perlu diwaspadai, sebab kekurangan zat besi yang tidak diatasi bisa mengganggu kesehatan Si Kecil.

    Seperti diketahui, zat besi dibutuhkan untuk berbagai proses seluler di otak yang sedang berkembang, terutama dalam hal memori dan pembelajaran. Asupan zat besi yang tidak mencukupi dapat menyebabkan menurunnya kecerdasan dan menghambat perkembangan otak.

    Penelitian yang dirilis World Nutrition mengungkapkan anak yang mengalami defisiensi zat besi kronis memiliki kemampuan kosakata yang rendah dibandingkan anak dengan status gizi yang baik. Kekurangan zat besi juga bisa menyebabkan anak menjadi sulit berkonsentrasi di sekolah, sehingga prestasinya menurun. Lebih lanjut anak yang pernah mengalami kekurangan zat besi juga menunjukkan nilai motorik dan IQ lebih rendah pada usia 11-14 tahun.

    Karena itu sebagai orang tua, Bunda tentu ingin memastikan kebutuhan zat besi bisa terpenuhi, agar perkembangan kognitif anak berjalan lancar. Nah, asupan mineral ini bisa didapat dari berbagai makanan harian Si Kecil, seperti telur, ikan tuna, susu, beberapa sayuran hijau lainnya.

    Namun apakah makanan bergizi saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan zat besi yang diperlukan tubuh? Cari tahu langsung dari pakar di acara Mom’s Health Corner yang diselenggarakan pada Kamis, 19 Desember 2024 pukul 14.00 WIB di Habitate, Jakarta. Lewat acara ini, detikHealth bersama Maltofer ingin membagikan edukasi seputar peran penting zat besi dalam perkembangan kognitif anak yang dikemas secara menarik & interaktif.

    Mom’s Health Corner bakal menghadirkan para expert, ada dokter spesialis anak dr. Wisvici Yosua Samin, M.Sc., Sp. A serta Vega Karina, momfluencer yang kerap membagikan konten seputar parenting.

    Di acara ini, Ayah dan Bunda bisa mengulik bagaimana kaitan anemia atau kekurangan zat besi yang dapat membuat perkembangan kognitif anak menurun, hingga cara mencegahnya khususnya dari 1000 hari pertama kehidupan. Selain itu, orang tua juga akan mendapatkan informasi apakah pemberian makanan sudah dapat memenuhi kebutuhan zat besi Si Kecil, atau perlu suplemen tambahan?

    Tentunya ini menarik untuk dibahas, ya. Jadi, jangan lewatkan acaranya! Datang dan saksikan Mom’s Health Corner ‘Peran Zat Besi terhadap Perkembangan Kognitif Anak’ tanggal 19 Desember 2024.

    (adv/adv)