Category: Detik.com Kesehatan

  • Mayapada Hospital Atasi Kelainan Pembuluh Darah Otak dengan 2 Cara Ini

    Mayapada Hospital Atasi Kelainan Pembuluh Darah Otak dengan 2 Cara Ini

    Jakarta

    Gangguan atau kelainan pada pembuluh darah di otak dapat menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan. Salah satu penyebabnya adalah kelainan perkembangan pembuluh darah yang menghubungkan arteri dan vena di otak.

    Kondisi ini dikenal sebagai malformasi pembuluh darah atau Arteriovenous Malformation (AVM), di mana pembuluh darah membentuk menyerupai benang kusut yang disebut nidus. Keberadaan nidus dapat berisiko karena nidus sendiri bersifat rapuh dan rentan pecah sewaktu-waktu. Jika pecah, kondisi ini berpotensi menyebabkan stroke perdarahan di otak.

    Supaya mudah memahami AVM, ada sebuah contoh kasus yang pernah terjadi pada seorang pasien laki-laki berusia 39 tahun yang mengalami kelemahan pada anggota gerak sebelah kanan secara mendadak, disertai gangguan daya ingat dan bicara. Pasien dengan kondisi tersebut berhasil diatasi dengan tindakan Angiografi Otak (Digital Subtraction Angiography/DSA) dan Embolisasi Endovaskular di Tahir Neuroscience Center Mayapada Hospital Bandung oleh Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neurointervensi dr. Condrad MP Pasaribu, Sp.N (K) FINS.

    dr. Condrad menjelaskan kasus AVM seperti yang dialami pasien tersebut ditangani dengan tindakan DSA dan Embolisasi Endovaskular untuk menemukan serta mengatasi penyebab keluhan. Kedua tindakan ini dilakukan dengan memakai bius (anestesi) umum di ruangan Cath lab (ruangan kateterisasi).

    “DSA dilakukan untuk melihat gambaran pembuluh darah otak dan juga leher. Caranya dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah di lipatan paha dan dinavigasikan sampai ke pembuluh darah leher dan otak dengan bantuan wire dan dipandu dengan fluoroskopi atau sinar X, sehingga didapatkan gambar pembuluh darah leher dan otak secara detail. Kemudian, dilakukan Embolisasi Endovaskular yaitu bedah minimal invasif (minim sayatan) dengan memasukkan zat khusus yang berfungsi menyumbat aliran darah menuju nidus AVM sehingga mengurangi tekanan di otak, aliran darah di otak kembali normal, dan mencegah pecahnya (ruptur) AVM,” jelas Dokter Condrad dalam keterangan tertulis, Selasa (17/12/2024).

    Kemudian, Dokter Condrad menceritakan kondisi pasien setelah tindakan berhasil dilakukan. “Pasca-tindakan, keluhan pasien membaik, dapat berbicara dan bercerita dengan lancar, serta tidak didapatkan nyeri kepala, kelemahan anggota gerak, atau gangguan saraf yang lain. Pemeriksaan berkala masih perlu dilakukan untuk memastikan AVM telah sembuh sepenuhnya dan tidak kambuh kembali,” ungkap Dokter Condrad.

    Adapun penyebab malformasi pembuluh darah di otak, Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neurointervensi dari Mayapada Hospital Kuningan dr. Ricky Gusanto Kurniawan, Sp.N (K) mengatakan belum diketahui secara pasti terbentuknya AVM.

    “Penyebab terbentuknya AVM pada otak belum diketahui dengan pasti, namun diduga terjadi akibat kelainan genetik dan dapat diturunkan dalam keluarga. Kebanyakan AVM sudah ada saat lahir dan terbentuk selama perkembangan janin, namun AVM juga dapat terbentuk di kemudian hari. Selain sering terjadi pada otak, AVM juga kerap terjadi pada tulang belakang,” Dokter Ricky.

    Lebih lanjut, ia menekankan bagaimana gejala pada AVM yang dirasakan oleh sebagian orang seperti nyeri kepala pada satu sisi kepala, kejang, atau kelemahan pada satu sisi anggota gerak.

    “AVM pada otak dapat terbentuk tanpa menimbulkan gejala sama sekali sampai akhirnya pecah dan terjadi stroke perdarahan di otak. Namun pada sebagian orang, beberapa gejala yang dapat dirasakan, seperti nyeri kepala pada satu sisi/area kepala, kejang, kelemahan pada satu sisi anggota gerak, maupun gangguan neurologis lainnya karena ukuran AVM yang semakin membesar dan menekan jaringan otak serta mengganggu aliran pada pembuluh darah otak yang normal di sekitar AVM,” jelasnya.

    Pecahnya AVM yang menyebabkan stroke perdarahan di otak merupakan kondisi serius yang mengancam nyawa dan dapat terjadi secara mendadak. Salah satu langkah untuk mencegahnya terjadi adalah dengan pemeriksaan dini.

    “Pemeriksaan dini penting terutama untuk siapapun yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan pembuluh darah otak. Semakin dini AVM diketahui, penanganannya juga akan menjadi semakin optimal,” saran Dokter Ricky.

    Pemeriksaan dini serta penanganan AVM seperti kasus di atas dapat dilakukan di layanan Tahir Neuroscience Center yang ada di seluruh unit Mayapada Hospital. Layanan komprehensif ini mampu menangani gangguan saraf, otak, dan tulang belakang, mulai dari dari deteksi dini, diagnosis, tindakan neuro intervensi dan bedah saraf, hingga neuro rehabilitasi.

    Tahir Neuroscience Center Mayapada Hospital juga telah memiliki pengalaman dalam menangani kasus kompleks lainnya dengan tindakan advanced. Misalnya seperti operasi tumor kepala dan saraf tulang belakang secara minimal invasif, Trigeminal Neuralgia, Deep Brain Stimulation untuk penanganan Parkinson, dan operasi tumor tulang belakang.

    Melalui aplikasi MyCare miliki Mayapada Hospital, menawarkan berbagai layanan kesehatan saraf dan otak mulai dari konsultasi bersama dokter, pemeriksaan dan Medical Check Up, hingga layanan 24/7 Stroke Emergency. Anda bisa langsung mengakses fitur Emergency Call di MyCare setiap kali terjadi kasus kegawatdaruratan stroke.

    Unduh aplikasi MyCare sekarang untuk mendapat poin yang bisa digunakan untuk potongan harga berbagai jenis pemeriksaan di Mayapada Hospital. Pasien kini lebih mudah mendapatkan layanan di Mayapada Hospital dengan lebih cepat dan tanpa antre karena sudah terintegrasi dengan berbagai metode pembayaran di MyCare.

    (prf/ega)

  • Wanita 53 Tahun di AS Jalani Operasi Cangkok Ginjal Babi, Begini Kondisinya

    Wanita 53 Tahun di AS Jalani Operasi Cangkok Ginjal Babi, Begini Kondisinya

    Jakarta

    Seorang wanita di Alabama, Amerika Serikat, menjadi orang kelima di negara itu yang menerima cangkok ginjal babi. Dia dilaporkan berhasil pulih setelah menjalani transplantasi ginjal babi pada bulan lalu.

    “Ini seperti awal yang baru. Energi yang saya miliki luar biasa. Memiliki ginjal yang berfungsi dan merasakannya, sungguh luar biasa,” tutur pasien bernama Towana Looney itu dikutip dari laman NYU Langone Health.

    Pasien berusia 53 tahun itu menjalani operasi transplantasi ginjal babi di NYU Langone Health. Dia sempat memberikan ginjalnya untuk ibunya pada tahun 1999. Namun, ia mengalami komplikasi selama kehamilan yang menyebabkan tekanan darah tinggi dan merusak ginjalnya.

    Akibatnya, ginjal Looney gagal berfungsi. Ia telah mencari donor untuk mengatasi kondisinya, tetapi tidak mendapatkan yang cocok.

    Tubuhnya telah mengembangkan antibodi yang secara tidak normal terbentuk untuk menyerang ginjal dari orang lain. Tes menunjukkan bahwa ia terus mengalami penolakan.

    Kondisi itu membuat Looney harus rutin menjalani dialisis selama delapan tahun.

    Kemudian Looney mendengar tentang penelitian ginjal babi di Universitas Alabama di Birmingham. Ia memberi tahu Dr Jayme Locke, yang saat itu menjadi ahli bedah transplantasi, dan ingin mencobanya.

    Pada bulan April 2023, Dr Locke mengajukan permohonan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk meminta eksperimen darurat yang dialami Looney. Namun, FDA tidak langsung setuju.

    Selama itu, muncul beberapa kabar tentang pasien yang menerima transplantasi organ babi dengan hasil yang mengecewakan. Namun, itu tidak membuat Looney menyerah begitu saja.

    Looney meyakinkan bahwa ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau komplikasi lainnya. Hal itu membuat FDA mengizinkan transplantasi ginjal babi Looney dilakukan di NYU Langone Health.

    “Anda tidak akan tahu apakah itu akan berhasil atau tidak sampai Anda mencobanya,” kata Looney.

    Operasi Looney akhirnya berjalan dipimpin oleh Dr Robert Montgomery dari NYU dan Dr Locke. Ginjal yang digunakan berasal dari babi yang disediakan oleh Revivicor dengan 10 perubahan gen.

    Beberapa saat setelah Dr Montgomery menjahitnya, ginjal berubah menjadi merah muda yang sehat dan mulai memproduksi urine.

    Setelah dirawat selama 11 hari, Looney diperbolehkan pulang dari rumah sakit untuk melanjutkan pemulihan di apartemen terdekat. Menggunakan monitor, dokter dapat mengecek tekanan darah, detak jantung, dan fungsi tubuh lainnya.

    Ia juga rutin ke rumah sakit untuk pemeriksaan harian sebelum kembali minum obat. Dokter mulai melihat hasil pemeriksaan darah dan tes lainnya, kemudian membandingkan dengan penelitian sebelumnya pada hewan dan beberapa manusia.

    Hal ini dilakukan dengan harapan dapat menemukan peringatan dini jika muncul masalah. Jika ginjal babi itu gagal, Looney harus kembali menjalani dialisis.

    “Banyak hal yang kami lihat untuk pertama kalinya,” kata Dr Montgomery.

    Kondisi Looney pulih dengan baik setelah transplantasinya. Ia kembali mengunjungi dr Locke dan berterima kasih karena tidak pernah menyerah untuk merawatnya.

    “Melihat harapan kembali padanya dan keluarganya adalah hal yang luar biasa,” pungkasnya.

    (sao/kna)

  • Video: Simak Yuk Bedanya Lupus, Alergi, dan Infeksi!

    Video: Simak Yuk Bedanya Lupus, Alergi, dan Infeksi!

    Video: Simak Yuk Bedanya Lupus, Alergi, dan Infeksi!

  • Gusi Bengkak atau Jerawat Nggak Sembuh-sembuh? ‘Tanya Dokter’ di Sini Gratis Lho

    Gusi Bengkak atau Jerawat Nggak Sembuh-sembuh? ‘Tanya Dokter’ di Sini Gratis Lho

    Jakarta

    Punya masalah kesehatan tapi belum punya waktu untuk konsultasi ke dokter atau profesional kesehatan lainnya? Mau cari tahu sendiri di internet, tapi takut kegocek informasi abal-abal yang bukan dari ahlinya?

    Memang semudah itu mencari informasi kesehatan di internet, tinggal ketik kata kunci di mesin pencari, dalam sekejap akan ada ribuan link atau tautan menuju artikel terkait. Atau bahkan tanpa harus dicari, terkadang konten-konten berlabel edukasi tahu-tahu muncul di linimasa media sosial.

    Tapi sebagaimana dikhawatirkan, tidak semua informasi yang bertebaran di internet berasal dari sumber terpercaya. Salah-salah, informasi yang bukan dari ahlinya justru bisa menyesatkan atau bahkan membahayakan ketika berhubungan dengan kesehatan.

    Menjawab kebutuhan akan informasi yang terpercaya, detikHealth kembali hadir dengan program konsultasi kesehatan bertajuk ‘Tanya Dokter dan Ahli‘ yang akan diasuh oleh para profesional kesehatan. Berbagai topik seputar kesehatan, mulai dari gigi dan mulut hingga perawatan kulit dan kecantikan, dan bahkan kesehatan mental, bisa dikonsultasikan secara gratis.

    BACA JUGA: Sepertinya Ada yang Aneh dengan Mental Saya

    Di sini, pertanyaan-pertanyaan dari detikers akan dijawab langsung oleh para ahli yang kompeten di bidangnya. Jika pertanyaan yang disampaikan dirasa cukup sensitif, tenang saja karena ada pilihan untuk merahasiakan identitas.

    Bagi yang sudah memiliki akun MPC, pertanyaan konsultasi bisa langsung disampaikan melalui form yang tersedia. Tidak perlu khawatir akan terlewat, karena akan ada notifikasi yang dikirim ketika pertanyaan telah terjawab.

    Tidak sabar ingin segera mengirim pertanyaan? Pakar-pakar kesehatan di sini sudah siap untuk menjawab, antara lain dr Dewi Ema Anindia dari Klinik Estetik Ambrosia untuk topik seputar kulit dan kecantikan, dan drg Lidya Visca Nanda dari RS Aulia untuk topik seputar kesehatan gigi dan mulut.

    Tunggu apa lagi, form konsultasi bisa diakses >>> DI SINI.

    BACA JUGA: Kenapa saya suka sulit tidur dan pikiran bising?

    (up/up)

  • Mayapada Hospital Atasi Kelainan Pembuluh Darah Otak dengan 2 Cara Ini

    Cegah Stroke Tanpa Nyeri dengan Skrining USG Karotis di Mayapada Hospital

    Jakarta

    Mencegah stroke lebih baik daripada mengobati, terutama bagi mereka dengan risiko tinggi seperti hipertensi, diabetes, atau riwayat keluarga. Skrining rutin melalui USG Karotis dan Trans Kranial penting untuk mendeteksi penyempitan arteri sejak dini sebelum stroke menyerang.

    Pada umumnya, skrining stroke mencakup pemeriksaan laboratorium yang meliputi analisis gula darah, kadar kolesterol, lemak dalam darah, dan fungsi ginjal. Pemeriksaan-pemeriksaan ini membantu dalam mengidentifikasi faktor risiko yang dapat menyebabkan stroke.

    Dr. dr. Cep Juli, Sp.N (K), Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neurovaskular Neurotrauma di Mayapada Hospital Bandung menjelaskan USG Karotis adalah pemeriksaan non-invasif yang menggunakan gelombang suara untuk memeriksa aliran darah dan ketebalan dinding arteri karotis, mendeteksi penyempitan atau sumbatan akibat plak.

    “Pemeriksaan ini aman, jadi kita tidak perlu takut untuk melakukan USG Karotis karena ini bisa membantu kita terhindar dari stroke,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (17/12/2024).

    Penyumbatan atau penyempitan arteri karotis biasanya disebabkan oleh penumpukan plak yang terdiri dari lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lainnya dalam aliran darah. Kondisi ini dapat menghambat peredaran darah dan menyebabkan stroke iskemik.

    Sering kali, gangguan arteri karotis tidak menimbulkan gejala, sehingga pemeriksaan rutin sangat penting untuk mendeteksi masalah lebih awal dan menurunkan risiko stroke melalui penanganan yang cepat.

    Dokter Tri Wahyudi, Sp.S, FINS, FINA, Dokter Spesialis Neurologi Fellow Neurointervensi di Mayapada Hospital Tangerang menjelaskan USG Karotis disarankan untuk pasien dengan risiko tinggi seperti riwayat stroke ringan (TIA), hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, atau riwayat keluarga dengan stroke atau penyakit jantung.

    “Pemeriksaan ini juga dianjurkan jika ada pengerasan arteri atau bunyi abnormal pada arteri karotis,” tambahnya.

    USG Karotis, lanjut Dokter Tri Wahyudi, dilakukan dengan menempelkan transduser USG di kedua sisi leher secara bergantian. Gelombang suara yang dipancarkan alat ini diterjemahkan menjadi gambar di monitor. Proses ini berlangsung sekitar 30 menit dan tidak menimbulkan rasa nyeri.

    Mirip dengan USG Karotis, USG Trans Kranial merupakan metode non-invasif yang menggunakan gelombang suara untuk menilai ketebalan dinding arteri, mendeteksi penyempitan atau sumbatan, dan mengukur aliran darah di sirkulus Willis untuk mencegah kerusakan otak akibat penyumbatan.

    Dokter Silvester Christanto, Sp.S, Dokter Spesialis Neurologi di Mayapada Hospital Kuningan, mengatakan USG Trans Kranial dilakukan dengan menempatkan transducer di belakang kepala, pelipis, dan kelopak mata selama 30-60 menit tanpa rasa nyeri.

    Pemeriksaan ini dianjurkan untuk pasien dengan riwayat stroke, migrain, perdarahan subarachnoid, aneurisma, penyempitan pembuluh darah otak, tekanan tinggi di rongga otak, anemia sel sabit, dan gangguan dinding jantung pada anak.

    “USG Trans Kranial juga dapat dilakukan bagi pasien diabetes, hipertensi, perokok, penyakit jantung koroner, kolesterol tinggi, dan obesitas,” jelasnya.

    Kedua pemeriksaan tersebut memungkinkan deteksi dan penanganan gangguan arteri di otak dan karotis. Untuk kasus ringan hingga sedang, perubahan gaya hidup dan obat-obatan dapat digunakan untuk mengontrol tekanan darah dan kolesterol. Sedangkan pada kasus berat, tindakan bedah mungkin diperlukan.

    Pemeriksaan rutin USG Karotis atau Trans Kranial untuk mencegah stroke bisa dilakukan di rumah sakit dengan layanan neurologis terpadu, seperti Tahir Neuroscience Center di Mayapada Hospital. Pusat ini didukung oleh tim dokter multidisiplin, fasilitas unggul, dan alat medis terkini untuk deteksi dini, diagnosis, intervensi, bedah saraf, dan rehabilitasi.

    Tahir Neuroscience Center di Mayapada Hospital memiliki layanan Stroke Emergency 24 jam dengan protokol ‘door to needle’ kurang dari 60 menit untuk pasien stroke sumbatan. Layanan ini dapat diakses melalui fitur Emergency Call di aplikasi MyCare.

    Pusat ini juga berpengalaman menangani kasus kompleks seperti operasi tumor kepala dan tulang belakang minimal invasif, Trigeminal Neuralgia, Deep Brain Stimulation untuk Parkinson, dan operasi tumor tulang belakang.

    Melalui aplikasi MyCare, Anda dapat dengan mudah menjadwalkan skrining rutin atau konsultasi dengan dokter spesialis saraf untuk pencegahan stroke tanpa perlu antre. Selain untuk booking layanan rumah sakit, MyCare juga memiliki fitur Personal Health yang memantau aktivitas fisik dan kesehatan, serta Health Article & Tips yang menyajikan artikel edukasi dari dokter.

    Unduh MyCare di Google Play atau App Store dan dapatkan reward berupa poin untuk potongan harga layanan kesehatan di seluruh unit Mayapada Hospital.

    (akn/ega)

  • Ciri-ciri Sakit Kepala Aneurisma Otak, Dikeluhkan Dokter Azmi Sebelum Meninggal

    Ciri-ciri Sakit Kepala Aneurisma Otak, Dikeluhkan Dokter Azmi Sebelum Meninggal

    Jakarta

    Influencer kesehatan Dokter Azmi meninggal dunia setelah mengalami pecah pembuluh darah otak akibat aneurisma. Sebelum meninggal, dokter berusia 35 tahun itu mengeluh sakit kepala hebat.

    Spesialis saraf dr Mursyid Bustami, SpS dari RS Pusat Otak Nasional mengatakan umumnya pasien aneurisma otak tidak mengeluhkan gejala sampai pembuluh darahnya pecah. Sakit kepala hebat merupakan ciri-ciri aneurisma otak sudah pecah yang harus segera mendapatkan pertolongan.

    “Sakit kepala akan dirasakan saat aneurisma pecah. Biasanya sakit kepala yang dirasakan sangat hebat, sering dikatakan pasien akan mengalami sakit kepala yang sangat hebat yang belum pernah dirasakan selama hidupnya,” kata dr Mursyid saat dihubungi detikcom, Rabu (18/12/2024).

    dr Mursyid mengatakan orang yang memiliki aneurisma pembuluh darah otak diibaratkan seperti membawa “bom waktu” yang berpotensi pecah pada waktu tertentu. Kadang kala, adanya aneurisma yang belum pecah ditemukan saat pasien menjalani pemeriksaan neuroimaging dalam rangka penanganan penyakit lain atau brain check-up.

    Kelainan pembuluh darah jarang sekali memperlihatkan adanya gejala apabila tidak pecah. Pecahnya pembuluh aneurisma pembuluh darah otak bisa terjadi secara mendadak dan tidak ada tanda-tanda yang mengawalinya.

    “Ada beberapa pemicu pecahnya aneurisma. Bisa karena hipertensi, naiknya tekanan dalam pembuluh darah otak saat seseorang mengedan, batuk hebat, emosi yang berlebihan dan aktivitas serupa lainnya,” tuturnya.

    Dikutip dari Healthline, gejala aneurisma otak yang pecah biasanya dimulai dengan sakit kepala yang tiba-tiba dan menyiksa. Hal ini disamakan dengan terbentur di kepala, yang mengakibatkan rasa sakit yang menyilaukan yang belum pernah dialami sebelumnya.

    Gejala lain dari aneurisma otak yang pecah juga cenderung muncul tiba-tiba dan dapat meliputi:

    merasa atau sedang sakitleher kaku atau nyeri lehersensitif terhadap cahayapenglihatan kabur atau gandakebingungan tiba-tibakehilangan kesadarankejang-kejangkelemahan pada satu sisi tubuh atau di anggota tubuh mana pun

    (kna/kna)

  • Dijalani Nikita Willy, Water Birth Ternyata Tak Direkomendasikan di Indonesia

    Dijalani Nikita Willy, Water Birth Ternyata Tak Direkomendasikan di Indonesia

    Jakarta

    Nikita Willy baru saja melahirkan anak keduanya pada 15 Desember 2024 di Amerika Serikat. Ditemani suaminya, Indra Priawan, Nikita menjalani persalinan dengan prosedur water birth.

    Water birth merupakan sebuah prosedur persalinan normal yang dilakukan di dalam air hangat.

    “Nael Idrissa Djokosoetono telah bergabung dengan kita di bumi, dibuai dalam kehangatan rumah dan dikelilingi oleh orang-orang yang paling mencintai kita,” tulis Nikita Willy di unggahannya tersebut.

    Persalinan water birth dianggap memiliki banyak manfaat untuk ibu dan bayi yang dikandung. Metode ini disebut mempercepat proses persalinan, menurunkan rasa nyeri, hingga memberikan kenyamanan pada ibu hamil.

    Meski begitu, rupanya metode persalinan ini belum direkomendasikan di Indonesia.

    Spesialis obstetri dan ginekologi dr Muhammad Fadli, SpOG mengatakan saat ini metode persalinan water birth sudah tidak direkomendasikan oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Salah satu pemicunya adalah kasus kematian janin pasca water birth di Indonesia yang sempat terjadi beberapa tahun lalu.

    Terlepas dari kejadian tersebut, dr Fadli menuturkan metode water birth memang memiliki risiko tersendiri, khususnya untuk bayi yang dilahirkan.

    “Waktu mau lahir keluar kepalanya, terkadang dia itu sudah menangis dan bernapas. Nah, ini bisa menyebabkan aspirasi, lalu tertelanlah air yang di luar itu, yang masuk ke paru-paru, dan akhirnya bisa menyebabkan bayinya asfiksia, kekurangan oksigen. Atau bisa mengakibatkan infeksi, hingga kematian pada janin,” kata dr Fadli ketika dihubungi oleh detikcom, Rabu (18/12/2024).

    dr Fadli menuturkan penggunaan air hangat pada prosedur water birth sebenarnya juga dapat mengganggu aliran darah ibu ke janin. Oleh karena itu, prosedur ini memerlukan kontrol yang sangat ketat, khususnya untuk memonitor detak jantung janin.

    Risiko-risiko tersebut yang membuat water birth belum direkomendasikan. Rumah sakit-rumah sakit yang ada di Indonesia saat ini juga sudah sangat jarang memberikan pelayanan water birth.

    “Untuk di Indonesia tidak dianjurkan, tidak disarankan oleh perhimpunan untuk diadakan lagi water birth, dari perhimpunan POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia),” tandasnya.

    (avk/naf)

  • 2 Cara Jitu Tim Dokter Mayapada Hospital Atasi Stroke Sumbatan

    2 Cara Jitu Tim Dokter Mayapada Hospital Atasi Stroke Sumbatan

    Jakarta

    Stroke merupakan salah satu kondisi gawat darurat yang harus ditangani dengan cepat. Kondisi ini menyerang fungsi otak (brain attack) secara tiba-tiba akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah dalam otak.

    Dari beberapa jenis stroke yang ada, Stroke Infark atau stroke sumbatan adalah yang paling sering terjadi. Kondisi ini dipicu oleh penyempitan atau penyumbatan di pembuluh darah otak maupun leher, sehingga aliran darah ke otak berkurang drastis.

    Itulah mengapa penanganan yang tepat harus segera dilakukan saat Stroke Infark terjadi untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut. Tim Dokter Spesialis Saraf Mayapada Hospital, yang berpengalaman banyak menangani berbagai jenis stroke, akan memberikan penjelasan bagaimana penanganan yang tepat untuk kasus Stroke Infark.

    “Saat Anda mendapati seseorang atau bahkan diri Anda dengan gejala stroke meskipun tampak hilang timbul, perhatikanlah waktu mulai timbulnya gejala dan harus segera dibawa ke IGD untuk mendapat penanganan selama periode emas (golden period) yakni 4,5 jam pertama sejak serangan stroke terjadi,” jelas Dokter Spesialis Neurologi Fellow Neurointervensi Mayapada Hospital Tangerang, dr. Ivan Kurnianto Prabowomukti, Sp.N, FINA dalam keterangan tertulis, Selasa (17/12/2024).

    Pada rentang golden period, standar penanganan emas untuk Stroke Infark dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang disebut Terapi Trombolitik. Terapi ini berguna memperbaiki aliran darah ke jaringan otak dan mencegah kerusakan otak lebih lanjut.

    Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neurointervensi dari Mayapada Hospital Bandung, dr. Condrad MP Pasaribu, Sp.N (K) FINS menjelaskan bagaimana penerapan Terapi Trombolitik serta urgensinya untuk diberikan dalam rentang waktu golden period.

    “Terapi Trombolitik Intravena dilakukan dengan pemberian obat pemecah gumpalan darah seperti Alteplase atau yang sejenis, melalui infus. Namun, khasiat obat akan berkurang seiring bertambahnya waktu gejala, sehingga harus diberikan sedini mungkin dalam rentang waktu golden period,” jelas dr. Condrad.

    Namun, Terapi Trombolitik sama seperti tindakan medis lainnya yang memiliki potensi risiko. Pada beberapa kasus, risiko dari terapi ini adalah pendarahan di dalam otak (intraserebral). Maka dari itu, dibutuhkan penanganan dari tim dokter yang ahli dan terlatih, serta dukungan fasilitas lengkap dan alat medis canggih untuk penanganan kegawatdaruratan. Tak terkecuali saat melakukan Terapi Trombolitik secara cepat dan tepat.

    Mayapada Hospital menyediakan layanan Stroke Emergency berstandar internasional didukung tim dokter multidisiplin dan tenaga medis berkompeten dalam menangani kasus kegawatdaruratan. Layanan ini dilengkapi dengan fasilitas perawatan yang intensif, terintegrasi seperti Catheterization Lab (Cath Lab), serta fasilitas pencitraan seperti CT Scan dan MRI. Layanan Stroke Emergency ini tidak hanya bisa ditemukan di Tangerang dan Bandung, melainkan seluruh unit Mayapada Hospital.

    Mayapada Hospital siap siaga 24 jam untuk menangani kasus kegawatdaruratan stroke dalam rentang golden period dengan protokol penanganan stroke internasional Door to Needle kurang dari 60 menit. Proses cepat dan terukur ini bertujuan untuk menyelamatkan pasien dari risiko komplikasi.

    Bukan hanya Terapi Trombolitik Intravena, Stroke Infark juga dapat ditangani dengan prosedur mekanikal Trombektomi. Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neurointervensi dari Mayapada Hospital Kuningan dr. Ricky Gusanto Kurniawan, Sp.N (K), FINR akan menjelaskan lebih lanjut.

    “Prosedur Trombektomi dilakukan dalam waktu 6-24 jam sejak awal gejala stroke timbul. Tindakan ini dilakukan di Cath Lab menggunakan kateter atau selang kecil yang dimasukkan ke pembuluh darah melalui lipatan paha dan di navigasikan ke pembuluh darah yang tersumbat di otak, untuk menarik dan mengeluarkan sumbatan. Tindakan ini bermanfaat besar bagi kasus sumbatan yang cukup besar,” ungkapnya.

    Sementara itu, Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neurointervensi dari Mayapada Hospital Surabaya, dr. Dedy Kurniawan, Sp.N (K), FINA mengatakan manfaat dari Trombektomi bisa meminimalisir risiko kecacatan jangka panjang akibat stroke.

    “Trombektomi akan memberikan manfaat besar bila dilakukan sesegera mungkin, terutama dalam mencegah dan mengurangi risiko kecacatan jangka panjang akibat stroke. Prosedur ini juga berguna sebagai terapi tambahan setelah terapi trombolitik, atau apabila pasien tidak memenuhi kriteria untuk menjalani Terapi Trombolitik,” tegas dr. Dedy.

    Baik prosedur trombolitik maupun trombektomi termasuk dalam tindakan advanced minimal invasif (minim sayatan) yang dapat dilakukan di Stroke Emergency Mayapada Hospital. Dengan dukungan fasilitas Cath Lab canggih, layanan ini memungkinkan diagnosis dan penanganan kegawatdaruratan stroke. Akses layanan Stroke Emergency pun dibuat lebih mudah melalui fitur emergency call yang tersedia di aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital atau dengan menghubungi 150990, sehingga pasien dapat segera mendapatkan pertolongan cepat dari tim medis.

    Stroke Emergency Mayapada Hospital merupakan bagian dari layanan Tahir Neuroscience Center yang menawarkan pelayanan komprehensif untuk gangguan saraf, otak, dan tulang belakang. Layanan ini mencakup deteksi dini, diagnosis, tindakan neuro intervensi dan bedah saraf, hingga neuro rehabilitasi. Selain itu, layanan ini telah menangani berbagai tindakan advanced seperti Deep Brain Stimulation untuk penanganan Parkinson, operasi secara minimal invasif untuk masalah saraf tulang belakang, operasi tumor kepala dan tulang belakang.

    Akses ke layanan Tahir Neuroscience Center Mayapada Hospital juga bisa melalui MyCare, seperti membuat jadwal konsultasi langsung maupun virtual (Telekonsultasi) hingga booking layanan Medical Check Up (MCU). Adapun untuk mendapatkan tips kesehatan dan promo layanan di Mayapada Hospital, bisa mencarinya di MyCare pada fitur Health Articles & Tips.

    Kemudian, tersedia fitur Personal Health yang terkoneksi dengan Health Access dan Google Fit untuk memantau jumlah langkah kaki, jumlah kalori terbakar, detak jantung, dan body mass index (BMI). Aplikasi MyCare bisa diunduh lewat Google Play Store maupun App Store. Bagi yang pertama kali registrasi di MyCare bisa mendapat reward point berupa potongan harga layanan.

    (akn/ega)

  • Heboh Demam Babi Afrika di 32 Provinsi RI, Kemenkes Ungkap Cara Penularannya

    Heboh Demam Babi Afrika di 32 Provinsi RI, Kemenkes Ungkap Cara Penularannya

    Jakarta

    Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) tengah marak di RI. Badan Karantina Indonesia (Barantin) mengatakan ada 32 provinsi RI yang melaporkan wabah tersebut, termasuk Papua, Papua Tengah, hingga Nusa Tenggara Timur.

    Papua Tengah misalnya, mencatat 6.273 ekor babi mati akibat ASF pada Januari 2024. Hingga saat ini di Indonesia belum memiliki vaksin untuk mengatasi wabah tersebut. Berbeda dengan wabah flu burung, yang vaksinnya sudah tersedia.

    Kepala Biro Komunikasi Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI Aji Muhawarman mengatakan African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Genus, Asfivirus, Family Asfaviridae, dapat menyerang ternak babi domestik dan babi liar pada semua tingkatan umur.

    ASF sangat menular, bahkan menyebabkan kematian hingga 100 persen sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi tinggi di sektor peternakan babi.

    Aji mengatakan virus penyebab ASF ini dapat menyebar melalui beberapa cara, seperti berikut:

    kontak langsung sesama babiseranggamaterial pembawa (fomites) termasuk pakaianperalatan peternakankendaraanpakan mentah yang terkontaminasi.

    “Kemenkes telah berkoordinasi dengan Kementan. ASF bukan penyakit zoonosis tetapi penyakit yang menyerang babi,” kata Aji saat dihubungi detikcom, Selasa (17/12/2024).

    Aji menegaskan virus ASF ini tak berbahaya bagi manusia lantaran tak ada penularan dari hewan ke manusia. Adapun penanggulangan penyakit ini, kata Aji, ada di bawah otoritas Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan dan dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan di Provinsi dan Kabupaten/Kota.

    Untuk menekan penyebaran virus, Aji mengimbau kepada masyarakat untuk melaporkan kepada petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat dalam waktu 1×24 jam jika ditemukan babi yang sakit atau mati. Kemudian, sebaiknya tidak menjual atau membeli babi yang sakit.

    “Melakukan pembersihan dan desinfeksi peternakan babi, mengonsumsi babi dari babi yang sehat yang sudah diawasi pemotongannya oleh otoritas yang berwenang dan dimasak dengan matang. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan,” katanya.

    “Hingga saat ini belum ada vaksin untuk melawan virus ASF,” imbuhnya lagi.

    (suc/naf)

  • Kata Dokter Saraf soal Aneurisma Otak Usia Muda, Dialami Dokter Azmi di Umur 35

    Kata Dokter Saraf soal Aneurisma Otak Usia Muda, Dialami Dokter Azmi di Umur 35

    Jakarta

    Dokter sekaligus pemengaruh (influncer) dr Azmi Fadhlih meninggal di usia 35 tahun. Dokter spesialis kulit kelamin itu dilaporkan meninggal setelah mengalami pecah pembuluh darah otak akibat aneurisma.

    “Iya benar. Sebelumnya beliau mengeluh sakit kepala hebat,” konfirmasi kakak ipar Azmi, Lury Alex Noerdin, menanggapi pertanyaan detikcom terkait kabar meninggal karena aneurisma otak.

    Spesialis saraf dr Mursyid Bustami, SpS dari RS Pusat Otak Nasional menyebut pecahnya aneurisma otak usia muda umumnya dipicu kelainan pembuluh darah bawaan sejak lahir.

    Kelainan pembuluh darah jarang sekali menunjukkan gejala bila dalam kondisi tidak pecah. Artinya, terjadi mendadak dan tidak ada tanda-tanda awal.

    “Orang yang memiliki aneurisma pembuluh darah otak diibaratkan seperti membawa ‘bom waktu’ yang berpotensi pecah pada waktu tertentu. Kadang kala adanya aneurisma yang belum pecah ditemukan saat pasien menjalani pemeriksaan neuroimaging dalam rangka penanganan penyakit lain atau brain check-up,” kata dr Mursyid saat dihubungi detikcom, Rabu (18/12/2024).

    dr Mursyid mengatakan ada beberapa pemicu pecahnya aneurisma. Bisa karena hipertensi, naiknya tekanan dalam pembuluh darah otak saat seseorang mengedan, batuk hebat, emosi yang berlebihan dan aktivitas serupa lainnya.

    Di sisi lain, beberapa faktor predisposisi yang perlu diwaspadai adalah perokok berat, pencandu kokain, alkohol dan lain sebagainya. Aneurisma merupakan kondisi mengancam nyawa yang harus ditangani segera di rumah sakit.

    “Pecahnya aneurisma termasuk salah satu jenis stroke yang jarang namun biasanya gejalanya berat dan tingkat kematian yang tinggi. Namun bila ditangani dengan cepat dan tepat oleh ahlinya dan didukung peralatan RS yang memadai maka sebagian besar pasien dapat diselamatkan,” tandasnya.

    (kna/naf)