Category: Detik.com Kesehatan

  • Warga di Korea Utara Bakal Dihukum Kerja Paksa Bila Ceraikan Pasangan

    Warga di Korea Utara Bakal Dihukum Kerja Paksa Bila Ceraikan Pasangan

    Jakarta

    Warga Korea Utara yang bercerai akan langsung dihukum untuk kerja paksa. Menurut warga Korut yang tidak mau disebutkan namanya, ada 12 pasangan yang bercerai pada 13 Desember.

    Tidak lama setelahnya, masing-masing dari orang tersebut langsung dikirim ke kamp kerja militer.

    “Tahun lalu, hanya orang yang awalnya mengajukan gugatan cerai dikirim ke kamp kerja militer. Mereka mengirim keduanya (mantan pasangan), mulai bulan lalu,” kata sumber tersebut, dikutip dari The Korea Herald, Jumat (20/12/2024).

    Sementara pada Juni 2021, media daring Daily NK yang berbasis di Seoul melaporkan tidak semua warga bercerai dikirim ke kamp militer. Menurut pernyataan otoritas Pyongyang, orang yang memiliki lebih banyak kesalahan dalam perceraian yang dikirim ke kamp.

    Hukum Korea Utara secara resmi belum menetapkan jenis hukuman apapun untuk itu. Namun, sumber lain memberi tahu Radio Free Asia tentang seseorang yang menjalani hukuman tiga bulan di kamp kerja paksa karena bercerai.

    Dirinya dilaporkan menjadi orang ke-30 dari 120 warga di kamp tersebut. Wanita umumnya dikenakan hukuman lebih lama daripada pria.

    Hal ini dikarenakan perceraian cenderung lebih banyak diajukan wanita, salah satu faktor terbanyak berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga oleh suami.

    Sebuah laporan bulan Februari oleh Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan dalam sebuah survei terhadap 2.432 pembelot, 28,7 persen wanita di antaranya dan 15,2 persen pria telah bercerai. Laporan tersebut juga memuat kesaksian para pembelot yang mengatakan menceraikan pasangan dapat berdampak buruk bagi mereka, bahkan perlu ada ‘suap’ hukum agar bisa selamat.

    Sebuah laporan pada Januari oleh Institut Korea untuk Penyatuan Nasional, berdasarkan wawancara dengan 71 pembelot, mengatakan semakin banyak wanita di Korea Utara yang lebih suka hidup bersama dengan pasangan romantis mereka tanpa status menikah.

    (naf/kna)

  • Menyiasati Kurangnya Zat Besi pada Anak, Begini Efeknya Kalau Terus Dibiarkan

    Menyiasati Kurangnya Zat Besi pada Anak, Begini Efeknya Kalau Terus Dibiarkan

    Jakarta

    Perkembangan kognitif pada anak merupakan salah satu faktor penting dalam kemampuan memahami, berpikir, dan belajar. Perkembangan ini biasanya mencakup berbagai keterampilan seperti memori, bahasa, logika, hingga ke kemampuan pemecahan masalah.

    Salah satu faktor yang dapat memengaruhi adalah kecukupan asupan zat besi pada anak. Seorang anak yang mengalami kekurangan zat besi berisiko memicu anemia hingga gangguan perkembangan otak. Hal ini menjadi sorotan terlebih masalah defisiensi besi masih terbilang tinggi di Indonesia.

    Siasat Ibu Jaga Pertumbuhan Kognitif Anak

    Hal itu juga menjadi salah satu concern terbesar bagi Vega Karina Andira Putri, seorang working mom yang juga influencer di media sosial. Menurut Vega atau yang akrab dipanggil Veve ini, perkembangan kognitif tidak sekedar untuk kecerdasan anak dalam pelajaran, melainkan juga berpengaruh pada hal lain misalnya dalam kemampuan emosional dan sosialnya.

    “Nah, itu kalau memang perkembangan kognitifnya nggak baik, itu memang sosial emosionalnya ternyata ngaruh sekali. Kadang kita pikir, anak kecil suka ngambek, tapi ternyata kognitifnya rendah, mungkin berlebihan suka tantrumnya,” kata Veve dalam acara Mom’s Health Corner ‘Peran Zat Besi Terhadap Perkembangan Kognitif Anak’, di Jakarta Selatan, Kamis (19/12/2024).

    Demi menjaga perkembangan kognitif kedua anaknya yang berusia 5 dan 8 tahun, Veve menerapkan beberapa metode, mulai dari menjaga waktu bermain bersama anak, menjaga asupan nutrisi, hingga pemberian suplemen zat besi.

    Veve menceritakan bahwa dirinya akan mengusahakan untuk sesering mungkin bermain bersama anak. Tidak hanya baik untuk perkembangan kognitif, bermain bersama anak menurutnya juga dapat berdampak baik untuk perkembangan fisik.

    Ketika bersama anak, Veve seringkali memainkan permainan yang membuat anak berpikir.

    “Penting ya itu quality time, ada yang bilang, ‘yang penting ada di samping anaknya.’ Jangan gitu, jadi harus terlibat. Misalnya, meski masih kecil, ajak main yang mereka dengan permainan yang ada kemampuan untuk berpikirnya. Misalnya anakku suka main lego. Atau yang dari bayi, misalnya sudah main pasang-pasang warna, kayak gitu,” kata Veve.

    Selain rangsangan dari luar dengan bermain, Veve menyebut nutrisi dan suplementasi zat besi juga sangat penting dalam meningkatkan pertumbuhan kognitif anak. Setelah berkonsultasi dengan dokter, ia memutuskan untuk memberikan suplemen zat besi secara rutin pada anak-anaknyanya.

    Hal ini dilakukan Veve mengingat dirinya juga memiliki riwayat anemia, yang biasanya disebabkan oleh defisiensi zat besi. Ia berharap pemberian suplemen zat besi ini bisa menjadi salah satu bentuk pencegahan berbagai risiko kesehatan lainnya.

    “Ternyata zat besi kan penting sekali untuk kognitif anak dan itu berpengaruh jangka panjang sama pertumbuhan anak. Jadi, jangan sampai parah-parah ya. Daripada kita mengobati keburu anaknya misalnya pucat dan lain-lain. Terus ya udah lemas, terus juga perkembangan kognitif yang terganggu,” ujar Veve.

    “Karena tahu ‘kayaknya anakku rawan anemia juga deh kayak mamanya, jadi akhirnya yaudah dikasih deh zat besi. Nggak pernah skip,” tambahnya.

    Pentingnya Zat Besi Terhadap Perkembangan Kognitif Anak

    Perkembangan kognitif anak sangat berkaitan dengan kecukupan nutrisi makro dan mikro, termasuk zat besi. Zat besi berperan penting dalam banyak proses perkembangan otak.

    Perkembangan otak dimulai saat setelah terjadinya konsepsi sampai masa dewasa muda. Seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak dalam kandungan hingga anak mencapai usia 2 tahun. Masa ini merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama otak dan sistem kekebalan. Tidak optimalnya perkembangan otak pada masa ini akan mempengaruhi kehidupan anak di masa depan.

    Spesialis anak dr Wisvici Yosua Yasmin M Sc, SpA, mengatakan pembentukan otak anak sudah terjadi saat anak masih di dalam kandungan atau janin. Otak merupakan organ yang disusun oleh jaringan-jaringan saraf. Volume jaringan saraf tersebut terbentuk secara cepat di masa dalam rahim.

    “Jadi kita bilang dalam trimester 1 ke trimester 2, itu organnya terbentuk, rumahnya, wadahnya. Dan pemadatan sel-sel saraf itu terjadi di trimester 2 ke trimester 3. Begitu pula dengan transfer dari zat besi,” katanya dalam kesempatan yang sama.

    dr Wisvici mengatakan transfer zat besi terjadi dari ibu ke janin, terutama pada trimester ke-3. Pada masa-masa tersebut, asupan zat besi pada ibu hamil sangat dibutuhkan. Terlebih, perkembangan otak pada bayi biasanya berkembang secara signifikan dalam 6 bulan pertama. Kemudian diikuti pada periode kedua yakni pada usia 6 hingga 18 bulan, dan dilanjutkan sampai 2 tahun.

    “Mangkanya dibilang adalah 1.000 hari pertama adalah window period, waktu-waktu emasnya, golden period, itu perkembangan otak si kecil,” sambungnya lagi.

    “Pada masa-masa itu, penting sekali untuk kebutuhan-kebutuhan nutrisi, salah satunya zat besi,” lanjutnya.

    Kekurangan Zat Besi Berisiko Berdampak pada Perkembangan Anak

    Kekurangan asupan zat besi bisa berdampak pada kesehatan anak. Anak yang kekurangan zat besi bisa memicu anemia. Anemia ditandai dengan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal. Hemoglobin berfungsi untuk membawa oksigen dan mengantarkannya ke seluruh sel jaringan tubuh. Anak yang mengalami anemia bisa berdampak pada perkembangan kognitif anak.

    Bahkan, perkembangan kognitif anak juga dapat terpengaruh jika ibu kekurangan zat besi selama trimester terakhir kehamilannya.

    dr Wisvici mengatakan zat besi adalah salah satu mineral esensial yang sangat diperlukan tubuh. Zat tersebut memiliki banyak sekali fungsi di dalam tubuh manusia, seperti untuk pembelahan sel, perkembangan sel, terutama pada sel-sel saraf.

    “Sel saraf dalam perkembangan jaringannya atau koneksi antar sel sarafnya itu memerlukan zat besi sebagai salah satu medianya. Nah zat besi sangat diperlukan ketika kandungan zat besi yang dicadangkan dalam tubuh bayi itu berkurang yaitu tepatnya pada kurang lebih usia 6 bulan,” imbuhnya.

    “Usia 6 bulan itu adalah titik potong di mana cadangan zat besi yang didapatkan dari ibu pada masa janin itu sudah mulai turun, sehingga kebutuhan yang harus didapatkan dari makanan itu meningkat dari 0,3 gram per hari dari usia sebelum 6 bulan menjadi 11-12 gram per hari,” imbuhnya lagi.

    Tak hanya itu, zat besi juga sangat penting untuk interkoneksi sel-sel saraf atau mengkoordinasi fungsi tubuh, seperti koordinasi gerak, otot-otot bicara, otot bahasa, dan lainnya. Oleh karena itu, ‘masuk akal’ jika seorang anak mengalami kekurangan zat besi bisa mengalami lambatnya perkembangan pada tubuh anak, termasuk pada otak.

    Gejala Anak Mengalami Anemia Defisiensi Zat Besi

    Adapun anak yang mengalami anemia defisiensi zat besi umumnya mengalami sejumlah gejala. dr Wisvici mengatakan gejala anemia yang bisa terlihat di antaranya adalah pucat. Gejala ini bisa terlihat dari lapisan permukaan lendir yang ada di bagian mata, mulut, bibir, kulit, telapak tangan, hingga telapak kaki.

    Selain itu, anak yang mengalami anemia juga mengalami gejala yang disebut konstitusional. dr Wisvici mengatakan anak yang kurang bersemangat, lesu, dan mudah lelah bisa menjadi tanda ia mengalami anemia.

    “Mungkin juga performa sekolah ini jadi berkurang. Kemudian juga kita bisa lihat dari kalau anak-anak yang lebih kecil mungkin bisa jadi tampak kenaikan berat badan atau pertumbuhannya kurang baik,” sambungnya.

    “Begitu pula dengan perkembangan, misalnya harusnya anak usia 15 bulan sudah mulai bisa banyak kosa katanya tapi anaknya masih belum bisa banyak kosa katanya yang dikuasai ditambah dengan gejala konstitusional tadi seperti pucat kemudian juga anaknya jadi kurang aktif biasanya,” lanjutnya.

    (/suc)

  • Jalan Kaki Minimal 5 Ribu Langkah Sehari Bisa Cegah Depresi

    Jalan Kaki Minimal 5 Ribu Langkah Sehari Bisa Cegah Depresi

    Jakarta

    Sebuah studi terbaru mengungkapkan langkah kaki yang dilakukan setiap hari dapat mengurangi gejala depresi. Temuan tersebut diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open yang menemukan jumlah langkah harian yang lebih tinggi dikaitkan dengan lebih sedikit gejala depresi.

    Hal ini menunjukkan pentingnya untuk tetap bergerak. Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan jiwa.

    “Studi kami memberikan bukti lebih lanjut bahwa mendorong orang untuk aktif, terlepas dari jenis atau intensitas aktivitas, merupakan strategi yang efektif untuk mencegah depresi,” kata peneliti utama dari Universitas Castilla-La Mancha Spanyol, Dr Bruno Bizzozero-Peroni, dikutip dari CNN, Kamis (19/12/2024).

    Penelitian ini merupakan meta-analisis, yang meninjau 33 studi yang melibatkan lebih dari 96.000 orang dewasa. Meski manfaat kesehatan jalan kaki kerap diasosiasikan dengan 10 ribu langkah, ahli menuturkan jalan kaki 7 ribu langkah sudah cukup untuk menghasilkan kesehatan mental yang baik.

    Para peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang berjalan sedikitnya 5 ribu langkah sehari memiliki gejala depresi yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang berjalan kurang dari 5 ribu langkah setiap hari.

    Korelasi tersebut bahkan lebih jelas bagi mereka yang berjalan 7.000 langkah atau lebih. Mereka memiliki risiko 31 persen lebih rendah untuk mengalami depresi dibandingkan dengan mereka yang berjalan kurang dari 5.000 langkah.

    Bahkan dalam peningkatan jumlah langkah yang kecil, manfaat untuk kesehatan mental juga sudah dapat dirasakan. Untuk setiap tambahan 1.000 langkah sehari, mereka sudah mengalami penurunan gejala depresi sebanyak 9 persen.

    Selain itu, para peneliti mencatat adanya keterkaitan antara jumlah langkah dan depresi di berbagai kelompok usia. Misalnya, aktivitas fisik yang ringan dapat memberikan perbedaan yang besar, khususnya bagi orang dewasa yang lebih tua atau mereka yang memiliki gaya hidup sedentari (tidak banyak bergerak).

    (avk/kna)

  • 5 Pantangan Setelah Operasi Batu Ginjal, Apa Saja?

    5 Pantangan Setelah Operasi Batu Ginjal, Apa Saja?

    Jakarta

    Batu ginjal (nefrolitiasis) adalah endapan keras yang terbuat dari mineral dan garam di dalam ginjal. Penyakit ini disebabkan oleh sejumlah hal, mulai dari kelebihan berat badan, kondisi medis tertentu, diet yang tidak seimbang, mengkonsumsi beberapa obat-obatan, hingga volume urine rendah.

    Menurut Asosiasi Urologi Amerika Serikat, batu ginjal dimulai dari pengkristalan kecil yang semakin lama tumbuh lebih besar. Bahkan bisa mengisi struktur berongga bagian dalam ginjal.

    Apabila batu tersebut sudah tersangkut pada ureter (saluran kemih), maka aliran urine di dalam ginjal akan tersumbat sehingga menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit.

    Pengobatan batu ginjal tergantung dari kondisi masing-masing pasien. Mungkin beberapa pengidap batu ginjal hanya perlu minum obat pereda nyeri dan konsumsi banyak air untuk mengeluarkan batu ginjal.

    Namun dalam kasus lain, misalnya batu sudah tersangkut di saluran kemih, berhubungan dengan infeksi saluran kemih, atau menyebabkan komplikasi, maka harus dilakukan pembedahan segera.

    Setelah operasi batu ginjal, pasien juga harus mengetahui sejumlah pantangan yang tidak boleh dikonsumsi. Lantas, apa saja pantangan setelah operasi batu ginjal? Simak di bawah ini.

    Pantangan Setelah Operasi Batu Ginjal

    Setelah menjalani operasi batu ginjal, pasien tidak boleh makan dan minum sesuka hati. Sebab, ada sejumlah pantangan yang perlu diketahui agar penyakit tersebut tidak kambuh.

    Dilansir situs Web MD, berikut pantangan setelah operasi batu ginjal yang wajib diketahui:

    1. Natrium

    Pantangan yang pertama adalah mengkonsumsi natrium dalam jumlah banyak. Seseorang yang sudah pernah mengalami batu ginjal sebaiknya mengurangi asupan natrium yang jumlahnya kurang dari 2.300 mg (sekitar 1 sendok teh) per hari.

    Sebab, ada banyak makanan olahan yang mengandung tinggi natrium meskipun rasanya tidak asin di lidah. Jadi, detikers sebaiknya hati-hati mengkonsumsi makanan asin.

    2. Protein Hewani

    Orang yang memiliki riwayat batu ginjal sebaiknya mengurangi konsumsi protein hewani, mulai dari daging, ayam, ikan, dan telur. Soalnya, protein hewani mengandung asam urat yang bisa memicu terbentuknya batu ginjal.

    Sebagai gantinya, kamu bisa mengkonsumsi makanan dari protein nabati demi memenuhi protein harian tubuh.

    3. Oksalat

    Pantangan berikutnya adalah dengan mengurangi asupan makanan yang mengandung senyawa oksalat. Sedikit informasi, oksalat adalah senyawa organik yang dapat ditemukan pada sumber alami, seperti buah, kacang, biji-bijian, dan sayur.

    Karena oksalat dapat menyebabkan endapan yang memicu batu ginjal mengeras, maka sebaiknya batasi konsumsi makanan yang mengandung oksalat tinggi, yakni ada bayam, cokelat, kacang almond, susu, kacang kedelai, hingga kacang tanah.

    4. Kurang Minum Air

    Demi mencegah batu ginjal kambuh, detikers wajib perbanyak minum air. Dianjurkan untuk minum sekitar 6-8 gelas air putih setiap harinya agar tetap terhidrasi.

    Agar tidak bosan minum air putih terus, kamu bisa mengkombinasikan dengan minum jus jeruk atau jeruk bali. Kandungan asam sitrat pada jeruk diyakini dapat mencegah terbentuknya batu ginjal.

    5. Gula Tambahan

    Saat ini, ada banyak makanan dan minuman yang mengandung gula tambahan. Selain tidak baik untuk kesehatan, orang yang memiliki riwayat batu ginjal sebaiknya juga membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.

    Beberapa jenis gula yang kerap ditemukan dalam olahan makanan dan minuman adalah sukrosa dan fruktosa. Kedua jenis gula itu dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal karena dapat meningkatkan senyawa kalsium fosfat, kalsium oksalat, dan asam urat.

    Minum-minuman bersoda sebaiknya juga tidak dikonsumsi karena mengandung fosfat tinggi. Soalnya, fosfat yang terlalu banyak akan menarik kalsium dari tulang, sehingga ginjal perlu menyaring lebih banyak kalsium. Jika ginjal kekurangan cairan maka kalsium akan terikat dengan senyawa lain, seperti fosfat dan oksalat yang menjadi pemicu batu ginjal.

    Demikian lima pantangan setelah operasi batu ginjal. Agar penyakit tersebut tidak kambuh lagi, sebaiknya mulai terapkan pola hidup sehat dari sekarang.

    (ilf/fds)

  • Makanan yang Mengandung Zat Besi untuk Bantu Cegah Anemia pada Anak

    Makanan yang Mengandung Zat Besi untuk Bantu Cegah Anemia pada Anak

    Jakarta

    Zat besi adalah salah satu senyawa mineral esensial yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh. Oleh karena itu, mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi adalah satu-satunya cara untuk memenuhi asupan mikronutrien ini. Saat kebutuhan zat besi dalam tubuh tidak terpenuhi, tubuh jadi mudah merasa lelah.

    Hal ini dikarenakan manfaat zat besi adalah untuk mendorong pembentukan hemoglobin dalam sel darah merah yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Ketika tubuh kekurangan zat besi, jumlah hemoglobin yang terbentuk pun berkurang. Kondisi inilah yang disebut sebagai anemia defisiensi besi.

    Spesialis anak dr Wisvici Yosua Yasmin M.Sc, SpA, menjelaskan zat besi sangat diperlukan ketika zat besi yang dicadangkan dalam tubuh bayi sudah mulai berkurang. Hal ini terjadi pada kurang lebih di usia 6 bulan.

    Usia 6 bulan itu adalah titik potong di mana cadangan zat besi yang didapatkan dari ibu pada masa janin itu sudah mulai turun, sehingga kebutuhan yang harus didapatkan dari makanan itu meningkat dari 0,3 gram per hari dari usia sebelum 6 bulan menjadi 11-12 gram per hari,” katanya dalam acara Mom’s Health Corner ‘Peran Zat Besi Terhadap Perkembangan Kognitif Anak’, di Jakarta Selatan, Kamis (19/12/2024).

    Adapun fungsi zat besi membantu perkembangan anak, termasuk kognitifnya. Zat ini membantu untuk mengkoordinasi gerak, otot-otot bicara, maupun otot-otot bicara. Karenanya, kata dr Wisvici, bisa dibayangkan jika seorang anak kekurangan zat besi yang tentu bisa berdampak pada perkembangannya.

    “Jadi harusnya koneksi atau hubungan itu bisa terbangun, ini bisa terjadi keterlambatan pembentukan,” kata dr Wisvici.

    “Perlu diingat bahwa 1.000 hari pertama atau dari pembuahan sampai dengan 2 tahun kehidupan adalah masa-masa emas di mana perkembangan sel-saraf otak dan organ otak itu sendiri sangat pesat sehingga kalau jendela itu terlewat nah itu dapat berakibat keterlambatan dari perkembangan sendiri,” lanjutnya.

    Adapun pencegahan untuk mengatasi anemia bisa dilakukan dengan pemberian suplementasi hingga menerapkan pola makan tinggi zat besi.

    dr Wisvici mengatakan terdapat beberapa makanan yang mengandung zat besi yang tinggi. Salah satunya hati ayam. Dalam 100 gram hati ayam, memiliki 10-11 gram zat besi.

    Bagi orang tua yang ingin memberikan daging tersebut, bisa memasaknya dengan matang.

    “Jadi sehari makan hati segini aja cukup buat anak-anak kita yang belajar MPASI (Makanan Pendamping ASI). Kalau hati sapi cuma setengahnya. Jadi 100 gram kurang lebih cuma 5-6 gram zat besi,” imbuhnya.

    Selain hati ayam, daging berwarna merah seperti daging sapi juga mengandung zat besi yang tinggi. Berbeda dengan daging ayam yang justru kandungan zat besi tak setinggi hatinya.

    “Kemudian sayur-sayuran berwarna gelap. Tapi perlu diingat bahwa zat besi yang berasal dari hewan yang hewani itu jauh lebih mudah diserap daripada zat besi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Jadi yang paling gampang sih daging organ, organ yang dimakan adalah spesifiknya hati,” ucapnya.

    (suc/up)

  • Indy Barends Jalani Operasi Batu Ginjal, Ini Ciri-ciri yang Harus Diwaspadai

    Indy Barends Jalani Operasi Batu Ginjal, Ini Ciri-ciri yang Harus Diwaspadai

    Jakarta

    Presenter Indy Barends baru saja menjalani operasi batu ginjal. Dia membagikan kabar tersebut lewat akun media sosial Instagram miliknya.

    “Ketemu deh, harta karun si batu ginjal ganjel ini , yang ternyata udah cukup ‘gede’. Sekitar 7 mm,..,” tulis Indy Barends di akun Instagram @indybarends.

    Sahabat Indra Bekti itu menjalani operasi batu ginjal dengan metode retrograde intra renal surgery (RIRS). Dirinya berharap segera cepat pulih setelah operasi batu ginjal.

    Penyakit batu ginjal atau nefroliatiasis adalah endapan keras terbuat dari mineral dan garam yang terbentuk di dalam ginjal. Ada beberapa penyebab terbentuknya batu ginjal mulai dari pola makan, berat badan, kondisi medis sampai konsumsi obat-obatan tertentu.

    Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, batu ginjal biasanya tidak menyebabkan gejala sampai masuk ke salah satu ureter. Ureter adalah saluran yang menghubungkan ginjal dan kandung kemih.

    Jika batu ginjal tersangkut di ureter, itu bisa menghalangi aliran urine dan menyebabkan ginjal membengkak dan ureter kejang, yang bisa sangat menyakitkan. Pada saat itu, seseorang mungkin mengalami gejala-gejala berikut ini.

    Sakit parah di bagian samping dan belakang, di bawah tulang rusukNyeri yang menjalar ke perut bagian bawah dan selangkanganRasa sakit yang datang dalam gelombang dan intensitasnya berfluktuasiNyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil

    Tanda dan gejala dari batu ginjal lainnya yang perlu diwaspadai:

    Urine merah muda, merah atau coklatUrine keruh atau berbau busukKebutuhan terus-menerus untuk buang air kecil, buang air kecil lebih sering dari biasanya atau buang air kecil dalam jumlah kecilMual dan muntahDemam dan menggigil jika ada infeksiRasa sakit yang disebabkan oleh batu ginjal dapat berubah, misalnya, berpindah ke lokasi yang berbeda atau meningkat intensitasnya, saat batu bergerak melalui saluran kemih.

    (kna/kna)

  • Minum Teh Hambat Penyerapan Zat Besi-Picu Anemia? Dokter Bilang Gini

    Minum Teh Hambat Penyerapan Zat Besi-Picu Anemia? Dokter Bilang Gini

    Jakarta

    Teh adalah salah satu jenis minuman yang sangat populer dan banyak disukai. Namun, terdapat anggapan bahwa minuman ini sebaiknya tidak dapat diberikan pada anak karena dapat menghambat penyerapan zat besi pada tubuh, benarkah demikian?

    Zat besi adalah salah satu mineral penting yang dibutuhkan oleh anak. Kekurangan zat besi dapat memicu masalah anemia hingga gangguan kognitif pada anak apabila terus dibiarkan.

    Spesialis anak dr Wisvici Yosua Yasmin M.Sc, SpA mengatakan pemberian teh memang tidak disarankan untuk anak, terlebih apabila diberikan ketika dekat jam makan. Hal ini menurutnya disebabkan oleh kandungan tanin yang ada di dalam teh.

    Apabila dikonsumsi berdekatan dengan waktu makan, maka tanin dapat menjadi ‘kompetitor’ bagi zat besi di dalam tubuh. Akibatnya, penyerapan zat besi pada tubuh anak menjadi tidak maksimal.

    “Nah, kalau untuk minuman seperti teh dan kopi, itu juga bisa mengganggu penyerapan zat besi, karena kalau di teh itu ada tanin yang bisa menjadi kompetitor juga,” katanya dalam acara acara Mom’s Health Corner ‘Peran Zat Besi Terhadap Perkembangan Kognitif Anak’ di Jakarta Selatan, Kamis (19/12/2024).

    Selain tanin, beberapa jenis makanan atau minuman yang mengandung kalsium dan magnesium juga dapat menjadi ‘kompetitor’ dalam penyerapan zat besi.

    Meskipun pemberian teh di luar jam makan anak dianggap lebih aman, dr Wisvici menuturkan anak berusia di bawah 5 tahun sebaiknya tetap tidak mengonsumsi teh. Hal ini dilatarbelakangi masalah defisiensi yang masih tinggi di kelompok anak-anak Indonesia.

    Hal ini untuk mencegah masalah defisiensi besi hingga anemia lebih besar pada anak-anak.

    Alih-alih memberikan teh, ia menyarankan pemberian minuman yang kaya vitamin C atau vitamin B12. Menurutnya, kedua jenis vitamin tersebut dapat menjadi promotor kinerja penyerapan zat besi yang lebih baik.

    “Tapi, kalau misalnya kita minum justru dengan minuman yang kaya vitamin C atau vitamin B12 itu malah menjadi enhancer atau promotor untuk penyerapan zat besi, jadi bagus kalau kita minum,” katanya.

    “Misalnya kan suka dibilang, ‘ayo nanti makan dagingnya, minumnya jus jeruk’ gitu ya. Biar penyerapan zat besinya lebih optimal,” tandas dr Wisvici.

    (avk/up)

  • Lebih dari 40 Persen Air Minum Isi Ulang di RI Positif Mengandung E Coli

    Lebih dari 40 Persen Air Minum Isi Ulang di RI Positif Mengandung E Coli

    Jakarta

    Sekitar 80 persen akses air minum di Indonesia belum layak dikonsumsi. Peningkatan akses air minum layak hanya meningkat dari 11 persen menjadi 20,49 persen pada 2023 berdasarkan hasil surveilans Kementerian Kesehatan RI.

    Temuan ini dinilai mengkhawatirkan lantaran banyak sumber air minum yang dikonsumsi warga masih mengandung E coli. Terutama yang bersumber dari air isi ulang.

    Direktur Penyehatan Lingkungan dr Anas Ma’ruf, MKM, menyebut perbandingan temuan E coli pada air minum isi ulang dan PDAM relatif signifikan. Pada sumber air PDAM cemaran ‘hanya’ berkisar 33 persen, sementara pada air minum isi ulang mendekati 50 persen, yakni 45,4 persen.

    “Jadi banyak rumah tangga yang dia lebih memilih air isi ulang untuk konsumsi sehari-hari, dibandingkan dari air PDAM yang kemudian dikonsumsi setelah dimasak,” beber dr Anas dalam konferensi pers Jumat (20/12/2024).

    “Karena masyarakat Indonesia belum percaya dengan kualitas airnya, karena mungkin baunya, warnanya tidak baik, masalah dengan perpipaan, jadi dia ragu untuk menggunakan sebagai sumber air minum, ini memang menjadi pekerjaan rumah. Tetapi data kita menemukan cemaran lebih tinggi di air isi ulang,” tandas dia.

    Anas menyebut air minum isi ulang yang dinyatakan positif E Coli bisa dipicu beragam faktor. Baik dari proses pengisian air isi ulang maupun kemasan yang digunakan.

    “Air minum isi ulang, masih ada yang positif E coli, bisa dari sumber airnya, waktu pengolahan, mesinnya tercemar, galonnya tercemar, maupun tempat yang belum bersih sehingga masuk ke galon masih belum bersih,” tandas dia.

    Padahal, air isi ulang paling banyak digunakan sebagai sumber air minum sehari-hari masyarakat, lebih dari 30 persen. Dampak mengonsumsi air yang tercemar E coli 73 persen memicu keluhan diare, sementara 15 persen lainnya berisiko menyebabkan masalah stunting.

    Hal ini sejalan dengan temuan stunting yang masih berada di kisaran 21,5 persen, belum mencapai target 18 persen.

    Siasat Pemerintah

    Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono menyebut pemerintah tengah mengkaji regulasi yang memungkinkan membuat air minum isi ulang lebih aman dan layak dikonsumsi.

    “Kita juga sedang berkoordinasi dengan BPOM RI, untuk nantinya air isi ulang yang didapatkan dari depot-depot itu benar-benar aman,” tandas dia.

    Saksikan juga d’Rooftalk: Janji Pramono Anung 1 Periode Saja

    (naf/kna)

  • Waspadai Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak, Bisa Fatal Kalau Dibiarkan

    Waspadai Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak, Bisa Fatal Kalau Dibiarkan

    Jakarta

    Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah kesehatan yang terjadi ketika tubuh kekurangan hemoglobin, protein di dalam sel darah yang membawa oksigen merah. Kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi, mineral yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin.

    Spesialis anak dr Wisvici Yosua Samin, Msc, SpA mengatakan bahwa orang tua harus mewaspadai penyakit anemia defisiensi besi. Apabila dibiarkan, hal ini dapat memengaruhi pertumbuhan kognitif anak yang berkaitan dengan proses belajar dan kecerdasan.

    dr Wisvici lantas mengungkapkan beberapa gejala anemia defisiensi besi yang mungkin dapat muncul pada anak.

    “Gejala anemianya biasanya yang kelihatan berupa pucat ya, kemudian pucatnya itu juga bisa kelihatan dari lapisan permukaan lendirnya yang ada di bagian mata, bagian dalam mulut, bibir, kemudian juga kulitnya juga kelihatan lebih pucat, telapak tangan telapak kaki,” katanya dalam acara Mom’s Health Corner ‘Peran Zat Besi Terhadap Perkembangan Kognitif Anak’ di Jakarta Selatan, Kamis (20/12/2024).

    Selain itu, ia menambahkan, anak yang mengalami anemia defisiensi besi juga akan mengalami gejala konstitusional. Gejala yang nampak meliputi anak menjadi kurang semangat, lesu, mudah mengantuk pada usia sekolah, hingga penurunan performa di sekolah.

    Anak-anak yang lebih kecil, menurut dr Wisvici juga dapat menunjukkan gejala seperti kenaikan berat badan atau pertumbuhan yang kurang baik.

    Apabila mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya periksakan ke dokter anak untuk mengetahui apakah memang berkaitan dengan anemia defisiensi besi atau tidak.

    Pengobatan yang mungkin diberikan dapat berupa perubahan pola makan yang tinggi zat besi, suplementasi, hingga mengatasi penyebab utamanya secara langsung.

    “Begitu pula dengan perkembangan. Misalnya harusnya anak usia 15 bulan sudah mulai bisa banyak kosa katanya, tapi anaknya masih belum bisa banyak kosa katanya yang dikuasai, ditambah dengan gejala konstitusional tadi seperti pucat kemudian juga anaknya jadi kurang aktif biasanya,” tandasnya.

    (avk/up)

  • Menyoal Gegar Otak, Cedera yang Dialami Bek Timnas Indonesia Justin Hubner

    Menyoal Gegar Otak, Cedera yang Dialami Bek Timnas Indonesia Justin Hubner

    Jakarta

    Pemain tim nasional Indonesia Justin Hubner dipastikan tidak bisa bergabung untuk Piala AFF 2024. Hubner mengungkapkan bahwa dirinya mengalami gegar otak.

    Kondisi ini dialami Hubner saat membela Wolverhampton Wanderers U-21 melawan Aston Villa U-21 pada 14 Desember 2024. Ia mengalami gegar otak setelah terkena tendangan salto dari pemain Aston Villa, Luka Lynch.

    Melalui akun Instagram pribadinya, @justinehubner5, Hubner menyampaikan dirinya harus menjalani istirahat dalam beberapa waktu ke depan.

    “Untuk semua orang yang bertanya kapan saya kembali, kemungkinan saya akan istirahat selama empat minggu. Saya mengalami gegar otak,” tulis Hubner dalam fitur Instagram story eksklusif yang beredar di media sosial.

    “Jadi perlu banyak istirahat. Saya akan segera kembali. Saya menepi untuk beberapa pekan,” ujarnya saat ditanya apakah bisa menyusul ke Piala AFF.

    Apa itu gegar otak?

    Dikutip dari Cleveland Clinic, gegar otak adalah cedera kepala yang terjadi saat otak bergerak atau terpelintir di dalam tengkorak. Kondisi ini termasuk jenis cedera otak traumatis.

    Satu kali gegar otak biasanya tidak menyebabkan kerusakan otak permanen. Namun, mengalami kondisi ini beberapa kali selama hidup dapat mengubah struktur otak atau cara kerjanya.

    Bahkan, gegar otak dapat menyebabkan komplikasi parah dan meningkatkan risiko terkena kondisi kesehatan yang serius. Kondisi gegar otak adalah cedera yang cukup umum, terutama pada atlet-atlet muda.

    Apa yang menyebabkan gegar otak?

    Gegar otak terjadi saat sesuatu mengguncang tubuh. Jika gaya yang dihasilkan cukup kuat, hal itu dapat membuat otak bergerak maju mundur atau ke samping dan merusaknya.

    Jaringan otak umumnya sangat lembut dan lembek, yang dikelilingi oleh cairan serebrospinal. Cairan itu berfungsi seperti bantalan cair antara jaringan tersebut dan tengkorak.

    Perpindahan energi itulah yang terjadi saat mengalami gegar otak. Gaya yang kuat menghantam kepala, leher, atau tubuh, bergerak melalui tengkorak ke otak dan membuat otak bergetar. Kekuatan ini dapat memutar dan merusak saraf-saraf kecil dan pembuluh darah di otak.

    Penyebab gegar otak yang paling umum meliputi:

    Terjatuh.Kecelakaan kendaraan bermotor.Kecelakaan sepeda.Kekerasan fisik seperti perkelahian atau penyerangan.Cedera saat berolahraga.

    (sao/kna)