Video: Jamintel Kejagung Hadiri Perayaan Hari Disabilitas Internasional 2025
Category: Detik.com Kesehatan
-

Cerita Wanita Terlahir dengan Rahim Ganda, Terungkap gegara Ini
Jakarta –
Seorang wanita berusia 27 tahun mengungkap pengalaman hidupnya yang mengidap kondisi langka sejak lahir. Ia didiagnosis mengalami uterus didelphys atau rahim ganda, kelainan bawaan seseorang yang terlahir dengan dua rahim.
Kondisi ini dialami sekitar 0,3 persen perempuan di Amerika Serikat. Selain memiliki dua rahim, orang yang mengalaminya juga memiliki dua serviks dan struktur vagina yang terbelah sebagian.
Lewat forum Ask Me Anything (AMA) di Reddit, wanita yang tidak diungkap identitasnya itu membagikan kisahnya.
“Saya mengalami uterus didelphys komplit, yang berarti saya memiliki dua rahim, dua serviks, dan hampir dua vagina,” terangnya, dikutip dari Unilad.
“Kami bercanda dengan menyebutnya 1,5 vagina. Saya sudah lama curiga ada yang tidak beres, tapi baru mendapatkan diagnosis di usia awal 20-an dan sudah melahirkan satu anak,” sambung dia.
Awal Mula Kecurigaan Muncul
Awalnya, kecurigaannya muncul dari sejumlah gejala yang selama ini dianggapnya normal. Salah satunya mengalami nyeri haid yang sangat parah.
“Saat memakai tampon, saya tetap mengalami perdarahan dan harus memakai pembalut. Saya kira itu normal,” kata dia.
“Ketika meraba bagian dalam, rasanya seperti ada dua ‘terowongan’. Hubungan seksual juga kadang terasa nyeri dan tidak nyaman, saya pikir itu hal biasa,” tambahnya.
Meski sering tidak bergejala khas, keluhan seperti yang dialami wanita tersebut bisa menjadi petunjuk awal. Menurut Mayo Clinic, perempuan dengan dua rahim dan vagina ganda kerap datang ke dokter karena perdarahan menstruasi yang tidak tertahan tampon.
Hal ini terjadi karena darah masih mengalir dari rahim dan saluran kedua. Kondisi ini juga dapat terdeteksi saat pemeriksaan rutin atau saat seseorang mengalami keguguran berulang.
Sejumlah risiko seperti infertilitas, persalinan prematur, hingga masalah ginjal bisa menyertai, meski tidak selalu terjadi.
Meski begitu, banyak perempuan dengan uterus didelphus tetap dapat hamil yang sehat. Bahkan, bisa melahirkan bayi secara normal seperti yang ada di kasus ini.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
-

Video: Prabowo Minta Pasien Darurat di Aceh Langsung Dibawa Helikopter ke RS
Video: Prabowo Minta Pasien Darurat di Aceh Langsung Dibawa Helikopter ke RS
-

Jadi ‘Pembunuh Senyap, Kenali Tanda Ginjal Rusak yang Kerap Diabaikan
Jakarta –
Masalah ginjal jarang datang tiba-tiba. Pada banyak kasus, kerusakan ginjal berkembang perlahan tanpa gejala khas di tahap awal.
Padahal, ginjal memiliki peran vital untuk menyaring limbah, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, mengatur tekanan darah, hingga membantu memproduksi sel darah merah. Jika berubah menjadi penyakit ginjal kronis, kondisi ini bisa dicegah progresinya bila dikenali lebih awal.
Tak sedikit orang baru menyadari adanya gangguan saat fungsi ginjal menurun signifikan. Dikutip dari Times of India, berikut lima tanda peringatan dini saat ginjal bermasalah:
1. Kelelahan yang Terus-menerus
Penumpukan racun dalam darah akibat gangguan ginjal bisa membuat tubuh cepat lelah. Produksi hormon eritropoietin yang menurun juga dapat memicu anemia, sehingga orang tersebut merasa lemas, sulit fokus, dan mudah sesak saat menjalani aktivitas ringan.
2. Perubahan Kebiasaan Buang Air Kecil
Frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama di malam hari (nokturia), urine berbusa, warna sangat pekat, hingga muncul darah dalam urine bisa menjadi tanda awal kerusakan ginjal. Sayangnya keluhan ini sering dianggap sepele.
3. Pembengkakan pada Kaki dan Wajah
Ketika cairan ginjal tidak mampu membuang kelebihan natrium dan cairan, tubuh akan menahan cairan. Akibatnya, muncul pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, atau sekitar mata.
4. Gatal Persisten dan Kulit Kering
Penumpukan zat sisa metabolisme serta ketidakseimbangan mineral, seperti kalsium dan fosfor, dapat memicu rasa gatal berkepanjangan tanpa sebab alergi yang jelas.
5. Mual, Nafsu Makan Menurun, dan Rasa Logam di Mulut
Akumulasi racun uremik dapat menimbulkan bau mulut khas, rasa logam, mual, hingga hilang nafsu makan. Gejala ini kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa.
Stres Bisa Membebani Ginjal
Stres kronis tidak hanya mengganggu mental, tetapi juga berdampak pada ginjal. Stres dapat meningkatkan tekanan darah dan gula darah, yang dalam jangka panjang bisa memperberat kerja ginjal.
Praktik mindfulness, seperti meditasi, yoga, dan latihan pernapasan dinilai membantu menurunkan aktivitas saraf simpatik dan memperbaiki kualitas hidup pasien gangguan ginjal.
Bagaimana Agar Ginjal Tetap Sehat?
Pola hidup sederhana dapat berdampak besar pada kesehatan ginjal. Misalnya seperti:
Mencukupi asupan cairan agar urine tetap bening atau kuning muda.Mengurangi konsumsi garam dan makanan olahan.Rutin berolahraga ringan, seperti jalan kaki, yoga, dan peregangan.Menjaga berat badan ideal.Tidur cukup 7-8 jam per malam.Menghindari rokok dan alkohol.
Deteksi dini dan perubahan gaya hidup menjadi kunci. Terus dengarkan sinyal halus dari tubuh, karena ginjal sering memburuk perlahan saat sedang bermasalah.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
-

Video: Menkes Sebut RS di 6 Kabupaten/Kota di Aceh Masih Terkendala
Video: Menkes Sebut RS di 6 Kabupaten/Kota di Aceh Masih Terkendala
-

Fokus Dulu! Angka di Gambar Ini Sering Bikin Orang Ketipu, Bisa Menemukan Jawabannya?
Asah Otak
Daffa Ghazan – detikHealth
Senin, 08 Des 2025 18:01 WIB
Jakarta – Perhatikan baik-baik polanya. Banyak orang keliru saat menebak angka di gambar ini. Coba uji ketelitianmu, apakah kamu bisa menemukan jawabannya dengan tepat?
-

Video: Sederet Cara Penanganan Trauma Pascabencana untuk Orang Dewasa
Video: Sederet Cara Penanganan Trauma Pascabencana untuk Orang Dewasa
-

Dilema Pelari Rekreasional, Ingin ‘Push the Limit’ Tapi Kok Ngeri Jantung Kolaps
Jakarta –
Banyak pelari mungkin berada di posisi serba salah saat ikut event lari. Di satu sisi, mereka ingin push the limit demi catatan waktu terbaik. Tapi, di sisi lain muncul rasa takut kolaps di tengah lomba, apalagi setelah beberapa insiden peserta meninggal di berbagai ajang lari.
Spesialis olahraga, dr Andhika Raspati SpKO mengatakan konsep semangat atau jargon ‘push the limit’ yang akrab di dunia lari, memiliki aturan main yang seharusnya diikuti oleh para pelari. Terlebih, saat hal ini membicarakan keselamatan peserta.
Banyak yang menggunakan jargon ini untuk memotivasi diri saat sedang mengikuti event lari. Tujuannya untuk memecahkan rekor pribadi alias Personal Best (PB) atau mencoba lari jarak jauh yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
“Kalau kita bicara safety ya, push the limit ada aturan mainnya. Artinya nggak boleh terlalu mendadak. Kalau kita biasa di pace 7, ya jangan nge-push pace 5, tapi ke pace 6.30 dulu atau pace 6.45,” kata dr Dhika kepada detikcom saat dihubungi, Senin (8/12/2025).
Aturan main selanjutnya, lanjut dr Dhika yakni tentang bagaimana seseorang mampu meredam ego dalam olahraga ini. Tujuan haruslah disesuikan dengan kemampuan tubuh masing-masing orang.
“Kedua, mau cepet-cepet ngebut, mau ngapain sih? Mau ikutan Sea Games? Itu kan ego saja sebenarnya,” katanya.
“Pingin lebih baik? Nggak ada ujungnya lebih baik mah. Jadi memang bisa dibilang kalau kita rekreasional, pingin sehat, nggak perlu sampek push-push amat,” sambungnya.
(dpy/up)
-

Dokter Soroti Risiko Serangan Jantung saat Lari, Jangan Lupa Batas Diri!
Jakarta –
Mengenali batas tubuh dengan baik adalah salah satu langkah penting mencegah masalah kesehatan ketika berolahraga. Tak sedikit muncul kasus yang berkaitan dengan masalah jantung ketika olahraga, bahkan hingga meninggal dunia, karena mereka tidak mengenali tubuhnya dengan baik.
Spesialis kedokteran olahraga Siloam Hospitals TB Simatupang dr Bernadette Laura, SpKO menyebut penyakit jantung memang masih menjadi menjadi kasus masalah kesehatan yang paling sering muncul ketika olahraga. Kondisi ini paling banyak dialami oleh atlet rekreasional yang tidak menjalani latihan terpola dan terstruktur.
“Jadi gimana cara kita tahu untuk limit kita itu gimana? Dengan latihan. Dengan latihan dulu pertama, kemudian screening, screening kesehatan, dan lain-lain. Itu kita bisa mengetahui kapasitas tubuh kita itu sejauh mana. Itu yang terlupakan kadang-kadang,” ungkap dr Laura ketika ditemui detikcom beberapa waktu lalu.
“Dan ketika mereka udah nggak tahu limit mereka di mana, kemudian mereka langsung melakukan olahraga tersebut. Kemudian belum lagi ditambah dorongan-dorongan dari teman-teman, dengan lingkungan sekitar. Mereka push terus, ya itu bisa berbahaya,” sambungnya.
Salah satu alasan mengapa penyakit jantung menjadi kasus yang paling sering ditemukan saat event olahraga adalah karena gejalanya yang cenderung tak terlihat. Karena merasa sehat, orang-orang akhirnya tak melakukan cek kesehatan dulu sebelum melakukan olahraga berat.
Jika ternyata mereka memiliki penyakit jantung yang tidak terdeteksi, olahraga yang terlalu berat dapat menjadi pencetus serangan jantung, hingga berisiko berdampak pada kematian.
“Terutama memang untuk orang-orang yang punya penyakit jantung bawaan, atau memang dari histori keluarganya ada penyakit jantung, dan lain-lain. Itu kadang-kadang memang nggak terdeteksi dan tidak terasa ada gejalanya juga oleh atlet-atlet tersebut,” ungkap dr Laura.
Meski begitu, perlu diingat olahraga tetap menjadi salah faktor penting dalam menjaga kesehatan jantung. Yang perlu diperhatikan adalah menyesuaikan olahraga yang dilakukan dengan kemampuan tubuh.
Halaman 2 dari 2
(avk/up)

