Category: Detik.com Kesehatan

  • Kajian KPK Soroti Uang ‘Kebutuhan Penunjang’ Dokter Spesialis Capai 500-an Juta

    Kajian KPK Soroti Uang ‘Kebutuhan Penunjang’ Dokter Spesialis Capai 500-an Juta

    Jakarta

    Hasil kajian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap sejumlah dugaan tindakan berisiko pada program pendidikan dokter spesialis (PPDS). Survei dilakukan pada lebih dari 1.400 PPDS, residen atau dokter spesialis yang masih berkuliah lulusan 2021 sampai 2023. Temuan KPK menunjukkan mereka masih harus mengeluarkan uang tambahan di luar biaya resmi pendidikan.

    Ada 26,05 persen responden yang merogoh kocek Rp 1 hingga 5 juta setiap semester sebagai kebutuhan penunjang PPDS. Baik untuk biaya listrik, wifi, kebersihan, hingga ruangan jaga atau tempat berkumpul para residen. Sementara 5,42 persen lainnya mengaku mengeluarkan dana lebih besar. Bahkan, di kisaran Rp 5 hingga Rp 25 juta per semester untuk kebutuhan yang sama.

    “Pada saat pendalaman wawancara dikatakan memang untuk menunjang kegiatan para residen pada program studi tertentu seperti bedah dan anestesi yang juga membutuhkan fasilitas penunjang lain yang tidak seluruhnya disediakan oleh program studi/fakultas maupun RS pendidikan,” demikian lapor kajian KPK, dikutip Minggu (22/12/2024).

    Sejumlah uang tersebut diklaim masih berkaitan dengan pendidikan. Sebab, uang semester ke universitas saja, dinilai tidak cukup. Terlebih, belum ada perhitungan semua komponen seperti pada program sarjana di perguruan tinggi negeri, dengan bentuk uang kuliah tunggal.

    “Dimana seharusnya tidak ada biaya tambahan lagi yang berkaitan dengan pendidikan.”

    “Pengeluaran yang juga menjadi beban para peserta PPDS ialah biaya lain terkait pendidikan yang harus dikeluarkan mencapai Rp 200 juta. Dalam keterangan pendalaman melalui interview, responden mengatakan harus mengeluarkan biaya tersebut untuk kegiatan seperti seminar akademik, konferensi ilmiah, pembelian alat kesehatan, dan barang medis habis pakai baik untuk pribadi maupun kolektif, dan hal lain untuk menunjang kegiatan pendidikan PPDS,” lapor KPK.

    Adapun responden dari beberapa universitas mengungkap temuan pengeluaran yang tidak jauh berbeda setiap semester. Mereka menyebut uang tambahan ini sebagai biaya uang pangkal di awal pendaftaran. Nominalnya relatif berbeda, tergantung masing-masing program studi.

    “Seperti contoh pada Universitas Sam Ratulangi, besaran dapat berbeda bagi tiap orang di setiap program studi meskipun secara resmi di web dan peraturan rektor tidak terdapat SPI resmi yang dipungut di awal perkuliahan,” tandas KPK.

    KPK menyoroti nihilnya pengaturan terkait pemungutan uang tambahan, baik dari Kementerian Kesehatan, maupun Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Hal ini yang kemudian membuat universitas bisa mengatur besaran berbeda, sesuai dengan masing-masing sistem.

    “Rentang biaya yang dikeluarkan oleh peserta PPDS untuk uang pangkal ialah mulai dari 0 rupiah atau tidak ada uang pangkal yang dikenakan oleh pihak kampus, sampai dengan terbesar mencapai Rp 565 juta,” beber KPK.

    “Sedangkan biaya semester pada PPDS mulai dari Rp 1 juta hingga ada yang mencapai Rp 250 juta. Perbedaan ini terjadi antar universitas meskipun berbeda program studi bahkan dapat terjadi perbedaan pada setiap peserta karena terbukanya celah pungutan di luar biaya resmi yang sudah diatur oleh peraturan masing-masing rektor,” pungkas laporan terkait.

    (naf/naf)

  • Video: Strategi Kemenkes Tingkatkan Upaya Deteksi Dini Lupus

    Video: Strategi Kemenkes Tingkatkan Upaya Deteksi Dini Lupus

    Video: Strategi Kemenkes Tingkatkan Upaya Deteksi Dini Lupus

  • Video: Penjelasan Pakar soal Kaitan Stres dan Lupus

    Video: Penjelasan Pakar soal Kaitan Stres dan Lupus

    Video: Penjelasan Pakar soal Kaitan Stres dan Lupus

  • Tanda-tanda Diabetes yang Bisa Muncul di Kaki, Wajib Diwaspadai

    Tanda-tanda Diabetes yang Bisa Muncul di Kaki, Wajib Diwaspadai

    Jakarta

    Diabetes adalah kondisi yang terjadi saat kadar gula darah atau glukosa terlalu tinggi. Kondisi ini terjadi saat pankreas tidak memproduksi insulin dalam jumlah cukup atau tubuh tidak merespons efek insulin dengan baik.

    Diabetes dapat mempengaruhi orang-orang dari segala usia. Kondisi ini terdiri dari dua tipe diabetes, yakni diabetes tipe 1 dan 2. Untuk mendeteksinya, beberapa tanda mungkin dapat muncul di tubuh, termasuk di kaki.

    “Seiring waktu, kadar gula darah yang meningkat dikenal sebagai kadar glukosa darah, dapat merusak pembuluh darah kecil yang memasok saraf di kaki. Hal ini mencegah nutrisi penting mencapai saraf,” demikian peringatan yang dikeluarkan Diabetes UK, lembaga amal terkemuka bagi orang dengan diabetes di Inggris.

    “Jika saraf di kaki rusak, seseorang dapat kehilangan sensasi di kaki, dikenal sebagai neuropati perifer atau kerusakan saraf. Ini berarti seseorang mungkin tidak merasakan sesuatu dengan benar dan dapat merusak kaki tanpa disadari,” sambungnya yang dikutip dari Daily Star.

    Pembuluh darah yang rusak juga dapat mengurangi suplai darah ke kaki, membuat luka sulit sembuh. Selain itu, orang dengan kondisi ini bisa mengalami kram dan nyeri di bagian kaki atau telapak kaki.

    Berikut beberapa tanda yang harus diperhatikan terkait dengan penyakit diabetes yang muncul pada kaki:

    Sensasi kesemutan atau mati rasa seperti ditusuk jarum.Nyeri seperti terbakarNyeri tumpulKehilangan rasa di kaki atau tungkaiKaki membengkakKaki tidak berkeringatLuka atau bisul di kaki yang sembuh lebih lamaKram di betis saat berjalan atau beristirahatKulit kaki yang terlihat mengkilap dan halusRambut di kaki rontok

    Selain itu, diabetes juga dapat menyebabkan kerusakan saraf pada kaki. Hal ini menyebabkan kondisi, seperti:

    Jari kaki yang bengkok seperti cakar, yang dikenal sebagai jari kaki cakar.Sendi pada jari kaki mengarah ke atas, yang dikenal sebagai jari kaki palu.Penumpukan lapisan kulit tebal di bagian atas atau samping jari kaki atau kapalan.Benjolan keras di bagian bawah jempol kaki di samping yang menyebabkan jempol kaki menunjuk pada sudut, yang dikenal sebagai bunion.

    Diabetes UK menekankan pentingnya tindakan cepat dalam mendeteksi dan mengobati diabetes. Jika terlalu lama, kondisi akan semakin memburuk hingga harus dilakukan amputasi.

    “Itulah sebabnya penting bagi semua orang dengan diabetes untuk mengetahui cara merawat kaki mereka, memeriksanya secara teratur untuk mencari tanda-tanda masalah kaki, dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis,” pungkasnya.

    (sao/naf)

  • Makin Banyak Warga Korsel Ogah Punya Anak, Terbanyak gegara Ini

    Makin Banyak Warga Korsel Ogah Punya Anak, Terbanyak gegara Ini

    Jakarta

    Hampir separuh orang dewasa di Korea Selatan buka-bukaan soal keinginannya untuk tidak mempunyai anak. Mereka percaya bahwa menjalani hidup tanpa anak adalah hal yang wajar.

    Temuan tersebut mengungkapkan preferensi gaya hidup tanpa anak lebih umum di kalangan wanita. Khususnya, mereka yang berusia 20-an dan pekerja non-reguler dengan pekerjaan tidak stabil.

    Laporan tersebut dipresentasikan di Forum Populasi, diadakan di Seoul pada hari Jumat (20/12/2024), yang diselenggarakan oleh Institut Kesehatan dan Sosial Korea (KIHASA). Acara tersebut berfokus pada tema ‘Hasil Persepsi Publik tentang Masyarakat Usia Kelahiran Rendah dan Menua: Berfokus pada Pernikahan, Persalinan, dan Nilai-Nilai Generasi’.

    Dikutip dari The Korea Times, KIHASA mengumpulkan survei dari 4.000 pria dan wanita yang berusia 19 hingga 79 tahun di seluruh negeri, antara tanggal 3-6 Desember 2024.

    Hasil Survei

    Hasilnya menunjukkan lebih dari separuh, atau 53,6 persen responden, mengatakan mereka tidak keberatan untuk tidak memiliki anak. Sementara hanya 30,2 persen yang mengatakan memiliki anak lebih baik daripada tidak memiliki anak.

    Sisanya, sekitar 10,3 persen mengatakan mereka harus punya anak.

    Jumlah perempuan yang menjawab tidak keberatan hidup tanpa anak adalah 63,5 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari 41,2 persen laki-laki.

    Secara keseluruhan, sikap negatif terhadap persalinan ditemukan lebih umum di kalangan perempuan berusia 20-an, dan kelompok berpenghasilan rendah. Bahkan, jika mereka memiliki pasangan, 69,3 persen merasa negatif tentang rencana kelahiran tambahan.

    Di antara pasangan tersebut, sekitar 36,2 persen dari mereka tidak memiliki anak. Hanya 19,2 persen yang mengatakan akan melahirkan, sementara 11,5 persen mengatakan tidak tahu.

    Alasan Warga Korea Tak Ada Rencana Punya Anak

    Ada beberapa alasan yang membuat warga Korea tidak ingin mempunyai anak, yakni:

    Faktor usia sebesar 20,5 persen.Biaya perawatan anak sebesar 18,2 persen.Kondisi ekonomi sebesar 16 persen.Merasa tidak percaya diri untuk menjadi orang tua sebesar 10,3 persen.

    “Kondisi ekonomi seperti pekerjaan, biaya perumahan dan tunjangan anak berdampak negatif pada pernikahan dan persalinan,” kata Kim Eun-jung, seorang peneliti asosiasi di KIHASA.

    “Penting untuk menciptakan lapangan kerja yang baik, menstabilkan biaya perumahan dan meringankan beban biaya tunjangan anak seperti biaya pendidikan swasta,” tuturnya.

    (sao/naf)

  • Buah Melon Bisa Cegah Penyakit Apa Saja? Ini Daftarnya

    Buah Melon Bisa Cegah Penyakit Apa Saja? Ini Daftarnya

    Jakarta

    Melon merupakan salah satu buah yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Daging buah pada melon biasanya berwarna hijau muda, dengan tekstur yang lembut.

    Dikutip dari Health, satu cangkir melon yang dipotong dadu mengandung nutrisi sebagai berikut:

    Kalori: 61,2Lemak: 0,238 gram (g)Natrium: 30,6 miligram (mg) atau 1 persen dari Daily Value (DV)Karbohidrat: 15,5 gSerat: 1,36 gProtein: 0,918 gVitamin C: 30,6 mg atau 34 persen dari DVKalium: 388 mg atau 8 persen dari DV

    Tidak hanya itu, buah melon juga menyediakan sejumlah kecil nutrisi, termasuk di antaranya vitamin B, vitamin A dan K, serta magnesium.

    Lantas, dengan berbagai nutrisi yang ada, masalah kesehatan apa saja yang dapat dicegah dengan rajin mengonsumsi buah melon? Berikut informasi selengkapnya.

    1. Dehidrasi

    Satu cangkir buah melon yang dipotong dadu dapat menyediakan lebih dari 141 gram air. Mengonsumsi air yang cukup dapat membantu tubuh tetap terhidrasi dan mencegah dari kondisi dehidrasi.

    Saat tubuh dehidrasi, tubuh akan kepanasan sehingga tubuh akan mengalami pikiran yang tidak jernih, perubahan suasana hati, sembelit, dan bahkan batu ginjal. Tak hanya itu saja, minum air juga dapat membantu melumasi dan melindungi sendi dalam tubuh.

    2. Sistem Kekebalan Tubuh

    Salah satu nutrisi utama dalam buah melon adalah vitamin C. Satu cangkir melon yang dipotong dadu dapat menyediakan sekitar sepertiga dari kebutuhan harian untuk nutrisi pendukung kekebalan tubuh.

    Sistem imun dalam tubuh membutuhkan vitamin C untuk merespon patogen seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit. Kemampuan antioksidan vitamin C juga dapat melindungi sel dari kerusakan yang meningkatkan risiko penyakit kronis.

    3. Darah Tinggi

    Melon sangat rendah akan natrium dan tinggi kalium, keduanya baik untuk mengelola tekanan darah. Kalium dapat membantu untuk mengendalikan tekanan darah dengan menyebabkan organ ginjal mengeluarkan kelebihan natrium, nutrisi yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi secara berlebihan.

    Tidak hanya itu saja, kalium juga dapat meredakan ketegangan di dinding pembuluh darah, yang selanjutnya dapat mengurangi tekanan darah.

    4. Masalah Tulang

    Buah yang satu ini mengandung beberapa nutrisi yang terlibat dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang, termasuk vitamin C dan sejumlah kecil vitamin K, magnesium, kalium, dan antioksidan.

    Vitamin C sendiri telah dikaitkan dengan rendahnya risiko patah tulang pinggul dan osteoporosis (penyakit tulang), serta kepadatan mineral tulang yang lebih tinggi pada bagian leher dan tulang belakang.

    5. Masalah Kulit

    Melon menyediakan sumber air dan vitamin C yang baik, serta memiliki efek antiradang, yang semuanya berkontribusi pada kesehatan kulit.

    Sel-sel kulit bergantung pada vitamin C untuk membuat kolagen dan mengatur keseimbangan kolagen dan elastin, yang memberikan volume dan bentuk pada kulit.

    (naf/naf)

  • Biar Resolusi Diet Tuntas Sampai Akhir Tahun, Ini Saran Dokter soal ‘Cheating Meal’

    Biar Resolusi Diet Tuntas Sampai Akhir Tahun, Ini Saran Dokter soal ‘Cheating Meal’

    Jakarta – Pada momen pergantian tahun yang baru, setiap orang umumnya memiliki resolusi atau komitmen yang ingin dilakukan dan dicapai. Salah satu resolusi tahun baru yang kerap kali diniatkan adalah diet untuk menurunkan berat badan.

    Di sisi lain, tidak jarang resolusi diet hanya berakhir sebagai wacana belaka. Banyak dari mereka yang sudah niat untuk menurunkan berat badan, tapi semangatnya pupus di tengah jalan, bahkan sebelum angka di timbangan menjadi lebih kecil.

    Spesialis gizi klinis dari Mayapada Hospital Kuningan, Jakarta Selatan, dr Oki Yonatan Oentiono, SpGK, PNS (Physician Nutrition Specialist) mengatakan bahwa bosan menjadi salah satu faktor yang membuat banyak orang gagal melakukan diet pada resolusi tahun baru mereka.

    “Iya, jadi mungkin (gagal) karena monoton, bosan kan, terus lama nunggu hasilnya (berat badan turun). Kan kita semua pengen cepat ya,” ujar dr Oki saat berbincang dengan detikcom, Jumat (13/12/2024).

    “Terus nomor dua mungkin bosan dengan makanannya,” sambungnya.

    dr Oki menyadari bahwa ini merupakan masalah umum yang terjadi pada mereka yang ingin melakukan diet, tidak hanya untuk resolusi tahun baru. Kepada para pasiennya, dr Oki biasanya memberikan sebuah tips agar diet tersebut efektif, namun tidak akan terasa bosan.

    “Cheating meal itu boleh. Saya selalu kasih ruang untuk pasien saya cheating meal seminggu sekali,” tuturnya.

    Namun, cheating meal yang dimaksud haruslah mengonsumsi makanan dalam batas wajar dan memerhatikan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh.

    “Misalnya sehari nggak makan, cuman minum air terus besoknya dia ugal-ugalan gitu. Pagi nasi padang, siang seafood, malam all you can eat, kan bahaya kayak gitu,” kata dr Oki.

    “Lambung kita nggak didesain untuk hari ini terima minimal, besok terima maksimal, besok minimal lagi, besoknya maksimal lagi, bisa jebol pasti,” tutupnya.

    (dpy/up)

  • Kajian KPK: Calon Dokter Spesialis Ditanya Isi Saldo Rekening saat Seleksi Wawancara

    Kajian KPK: Calon Dokter Spesialis Ditanya Isi Saldo Rekening saat Seleksi Wawancara

    Jakarta

    Kajian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait Identifikasi Risiko Korupsi pada Program Pendidikan Dokter Spesialis mengungkap hal janggal dalam proses seleksi di tahap wawancara. Calon peserta PPDS disebut harus bersedia menunjukkan saldo rekening masing-masing.

    Pihak kampus menilai tujuan di balik pertanyaan isi saldo rekening atau tabungan adalah memastikan calon peserta PPDS sanggup secara finansial, terlebih biaya selama menjalani prodi kedokteran spesialis tidaklah murah. Mereka juga berdalih, hal ini demi menghindari kemungkinan putus sekolah di tengah jalan.

    Survei KPK menunjukkan dari 58 responden yang pernah diminta menunjukkan isi saldo rekening atau tabungan dalam wawancara PPDS, ada enam di antaranya bersedia memperlihatkan saldo dengan tabungan di atas Rp 500 juta. Sementara empat responden dengan saldo di sekitar Rp 250 hingga Rp 500 juta, 11 responden memiliki saldo tabungan Rp 100 hingga Rp 250 juta, 19 responden di bawah Rp 100 juta, dan 18 responden tersisa tidak bersedia atau berkenan menunjukkan saldo tabungan mereka.

    Responden tersebar merata dari universitas di wilayah Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Baik dari prodi radiologi, penyakit dalam, bedah saraf, bedah, anestesi, saraf/neurologi, kedokteran jiwa, anak, mata, THT-KL, bedah plastik rekonstruksi dan estetik, bedah urologi, patologi klinik, obgyn, orthopedi, jantung dan pembuluh darah, kulit dan kelamin, kedokteran fisik dan rehab dan BTKV.

    “Persentase responden yang diminta menunjukan saldo rekening tabungan memang sangat kecil dibanding populasi responden, namun hasil ini dapat mengindikasikan adanya perbedaan isi pertanyaan wawancara antar peserta seleksi. Terdapat peserta seleksi yang ditanya jumlah saldo rekening tabungan, namun ada juga yang tidak ditanyakan,” demikian temuan KPK dalam kajiannya pada 2023.

    Biaya Seleksi PPDS

    KPK juga bertanya kepada responden terkait biaya yang dikeluarkan selama proses seleksi berlangsung, selain dari biaya resmi yang tercantum dalam pengumuman.

    “Sebanyak 37 responden menyatakan pernah diminta membayar sejumlah biaya di luar biaya seleksi resmi universitas. Biaya tidak resmi yang diminta bervariasi, mulai dari Rp30.000-Rp500.000.000. Ada 7 responden yang mengikuti seleksi PPDS di wilayah Sulawesi menyatakan dimintai biaya tidak resmi hingga Rp500.000.000, 14 responden dari Bali-Nusa Tenggara dimintai hingga Rp 200.000.000, 13 responden dari Jawa dimintai hingga Rp 40.000.000 dan 3 responden dari Sumatera dimintai sampai dengan Rp20.000.000.”

    Meski begitu, KPK menyebut temuan ini diperlukan pendalaman lebih lanjut. Termasuk kepada siapa biaya sebesar itu untuk proses seleksi mengalir, hingga bagaimana metode pembayarannya.

    Survei ini dilakukan melalui platform daring google form. Pemilihan responden menggunakan teknik snowball sampling bekerja sama dengan Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Seluruh Indonesia (AFKNI), dengan data yang diturunkan kepada seluruh dekan fakultas kedokteran penyelenggara PPDS, juga melalui jejaring mahasiswa dan alumni PPDS di tiap program studi.

    Metode penyebaran kuesioner dengan snowball ini dilakukan dalam jangka waktu 30 hari hingga data mencapai saturasinya. Jumlah sampel yang mengisi serta selesai diolah adalah sebanyak 1.417 dengan proporsi 1.366 responden peserta yang lulus seleksi PPDS baik sebagai mahasiswa maupun alumni. Jumlah sampel kurang lebih 10 persen dari estimasi total populasi residen atau peserta didik sebanyak 13.000, berdasarkan data residen Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia per 2020.

    (naf/kna)

  • Mudah Dilakukan di Rumah, Kebiasaan Ini Bisa Cegah Lonjakan Tekanan Darah

    Mudah Dilakukan di Rumah, Kebiasaan Ini Bisa Cegah Lonjakan Tekanan Darah

    Jakarta

    Kebiasaan sehari-hari yang sederhana ternyata bisa membantu menurunkan tekanan darah. Dengan tetap menjalankan pengobatan jika memang ada anjuran medis, langkah-langkah ini dapat dilakukan di rumah untuk membantu memperbaiki kondisi tubuh.

    Berikut beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan untuk membantu menurunkan tekanan darah dengan cara yang alami, dikutip dari Healthline.

    1. Rutin Olahraga

    Aktivitas fisik secara teratur tidak hanya menurunkan tekanan darah tetapi juga bermanfaat bagi suasana hati, kekuatan, dan keseimbangan tubuh. Selain itu, olahraga mengurangi risiko diabetes dan berbagai penyakit jantung.

    Bagi yang baru memulai, aktivitas seperti jalan kaki, jogging, atau berenang bisa menjadi pilihan. Jika tidak menyukai gym, olahraga di rumah atau mengikuti video latihan di media sosial untuk pemula juga bisa dilakukan.

    Alternatif lain seperti latihan kursi atau olahraga berdampak rendah dapat membantu tubuh tetap aktif. Melakukan aktivitas penguatan otot dua kali seminggu, seperti membawa barang belanjaan, juga dianjurkan.

    2. Terapkan Pola Makan DASH

    Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) dapat menurunkan tekanan darah sistolik hingga 11 mmHg. Pola makan ini melibatkan konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian, serta produk rendah lemak. Selain itu, makanan olahan, lemak jenuh, dan minuman manis sebaiknya dibatasi.

    3. Batasi Asupan Garam

    Natrium berlebih dapat menyebabkan tubuh menahan cairan, yang berujung pada peningkatan tekanan darah. Membatasi konsumsi garam hingga 1.500-2.300 mg per hari atau sekitar setengah hingga satu sendok teh sangat disarankan.

    Mengganti garam dengan rempah-rempah untuk menambah rasa pada masakan dan memilih makanan rendah natrium juga dapat membantu.

    4. Jaga Berat Badan

    Menurunkan berat badan, bahkan hanya 10 kilogram, dapat membantu mengurangi tekanan darah. Selain itu, menjaga lingkar pinggang tetap ideal juga penting untuk kesehatan jantung. Lemak di sekitar pinggang, atau lemak visceral, dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

    Bagi pria, lingkar pinggang ideal kurang dari 40 inci atau 101,6 cm, sementara untuk wanita kurang dari 35 inci atau 88,9 cm. Jika sulit menurunkan berat badan, berkonsultasi dengan ahli kesehatan bisa menjadi langkah awal.

    5. Berhenti Merokok

    Merokok menyebabkan peningkatan tekanan darah sementara yang dapat menjadi masalah jika dilakukan secara rutin. Selain itu, perokok berisiko lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke.

    Berhenti merokok dapat memberikan manfaat kesehatan yang besar, termasuk membantu menurunkan tekanan darah. Perokok pasif pun berisiko terhadap hipertensi dan penyakit jantung.

    6. Relaksasi

    Stres menjadi salah satu pemicu utama tekanan darah tinggi. Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, atau yoga dapat membantu meredakan stres. Mengidentifikasi dan mengelola pemicu stres juga penting, seperti masalah pekerjaan, hubungan, atau keuangan.

    Meluangkan waktu untuk beristirahat dari rutinitas sehari-hari dapat memberikan efek positif pada tekanan darah dan kesehatan secara keseluruhan.

    (up/up)

  • Mau Masukin Diet GLP-1 ke Resolusi Tahun Baru? Ini Wanti-wanti Dokter Gizi    
        Mau Masukin Diet GLP-1 ke Resolusi Tahun Baru? Ini Wanti-wanti Dokter Gizi

    Mau Masukin Diet GLP-1 ke Resolusi Tahun Baru? Ini Wanti-wanti Dokter Gizi Mau Masukin Diet GLP-1 ke Resolusi Tahun Baru? Ini Wanti-wanti Dokter Gizi

    Jakarta

    Diet biasanya menjadi salah satu resolusi atau komitmen yang akan diterapkan oleh banyak orang saat menyambut tahun baru. Namun, perlu diperhatikan untuk memilih metode diet benar, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

    Spesialis gizi klinis dari Mayapada Hospital Kuningan, Jakarta Selatan, dr Oki Yonatan Oentiono, SpGK, PNS (Physician Nutrition Specialist) mengatakan memang ada banyak tren diet viral di tahun 2024 yang sebenarnya cukup ekstrem untuk ditiru.

    Beberapa metode diet yang sempat nge-tren di media sosial pada tahun 2024 di antaranya diet mentimun ala pria Jepang, lalu 90-30-50 yang dikenalkan oleh ahli diet di Amerika Serikat, diet 30-30-30, water fasting, hingga diet Tiongkok.

    “Saya berharap ada diet-diet yang positif ya (di tahun 2025), jadi bukan yang aneh-aneh yang berbahaya dan berisiko tinggi,” kata dr Oki saat berbincang dengan detikcom, Jumat (13/12/2024).

    Terkait diet mentimun ala pria Jepang, diet Tiongkok, hingga water fasting sebenarnya metode ini terbilang cukup ekstrem meskipun menawarkan hasil yang memuaskan.

    Diet mentimun ala seorang koki di Jepang Nozaki Hiromitsu diklaim sukses menurunkan berat badan hingga 11 kg dalam waktu dua bulan. Nozaki mengaku bahwa dirinya mengonsumsi mentimun mentah hampir setiap hari.

    Sementara, diet Tiongkok disebut bisa turunkan 10 kg dalam waktu kurang dari seminggu. Aturan dalam metode ini yakni hanya mengonsumsi satu jenis makanan per hari.

    Menurut dr Oki, beberapa metode diet memang bisa dikategorikan ekstrem. Hal ini tentunya memiliki risiko kesehatan yang wajib menjadi perhatian.

    “Kalau hanya makan mentimun, risiko pertama pasti mudah lemas karena kalorinya kurang, nggak ada proteinnya. Kalau kenyang hanya sekadar mengisi perut, rasa kenyangnya beda kalau makan protein, karbohidrat, kenyangnya lebih memuaskan,” kata dr Oki.

    “Sementara diet Tiongkok bisa bikin mudah sakit batuk, pilek, kalau ada luka sulit sembuh. Bisa kayak gitu (diabetes), mekanismenya berbeda tapi kurang lebih kaya gitu. Kemudian bisa rambut rontok, kalau pada perempuan bisa nggak menstruasi,” sambungnya.

    Lalu untuk metode diet water fasting, dr Oki tentu tidak menyarankan hal ini. Pasalnya, hanya mengisi perut dengan air saja di pagi dan siang hari tentu tidak akan cukup mencukupi kebutuhan harian.

    “Hari ini mungkin nggak papa, tapi besok udah di UGD, mungkin pingsan,” tutupnya.

    NEXT: Diet GLP-1 dan Tren Lain yang Diprediksi Ngehits di Tahun 2025

    Simak Video “Video: Diet Mentimun, Apakah Aman dan Efektif Turunkan Berat Badan?”
    [Gambas:Video 20detik]