Category: Detik.com Kesehatan

  • Ramai soal Kasus Meninggal Serangan Jantung saat Ngegym usai Bekerja, Ini Kata Dokter

    Ramai soal Kasus Meninggal Serangan Jantung saat Ngegym usai Bekerja, Ini Kata Dokter

    Jakarta – Ramai perdebatan waktu olahraga yang tepat setelah bekerja atau aktivitas seharian. Hal ini menyusul sejumlah pengakuan orang yang mengaitkan risiko serangan jantung lebih sering terjadi saat berolahraga di malam hari.

    Sebuah utas di X belum lama ini juga menceritakan kisah karyawan yang meninggal karena memaksakan diri rutin olahraga gym dua jam setiap hari, meski tubuh dalam kondisi lelah pasca bekerja.

    “Guys guys, please kalian udah seharian capek kerja, malamnya jangan maksain olahraga ya,” tutur pengguna X @stuxxaxxxxisa, seperti dilihat detikcom Selasa (31/12/2024).

    “Baru dapat kabar temenku semalam meninggal karena serangan jantung pas lagi ngegym, dia sudah kerja dari pagi sampe magrib, dilanjut ngegym kurang lebih dua jam nonstop,” lanjutnya.

    Kata Dokter Jantung

    Spesialis jantung dr Vito A Damay, SpJP(K), tidak menampik kemungkinan risiko terjadinya serangan jantung pada kondisi demikian. Namun, hal ini sebetulnya lebih rentan terjadi pada mereka yang memiliki riwayat penyakit, tetapi tidak menyadarinya.

    Terlebih, pada mereka yang sudah memiliki penyempitan pembuluh darah jantung.

    “Tidak semua sadar atau mengetahui karena tidak semua orang pernah periksa, merasa tidak ada gejala,” sorot dr Vito, saat dihubungi detikcom Senin (30/12).

    “Memang perlu perhatian dan check up pada individu yang memiliki faktor risiko penyakit jantung, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, atau riwayat penyakit jantung keluarga,” sarannya.

    Pada kelompok orang dengan riwayat penyakit jantung, sistem kardiovaskular mereka menjadi kurang stabil saat tubuh berada di kondisi sangat lelah. Walhasil, aktivitas fisik intens yang dilakukan tanpa persiapan bisa meningkatkan risiko aritmia atau serangan jantung.

    “Ini sebabnya penting mendengarkan tubuh, memastikan kondisi cukup fit dan rutin check up apalagi kalau mau olahraga bera,” bebernya.

    Amankah ‘ngegym’ pasca bekerja?

    dr Vito menekankan tidak ada larangan ngegym pasca bekerja. Namun, masyarakat diimbau untuk mewaspadai hal berikut.

    Jika merasa sangat lelah, pilih olahraga ringan atau peregangan daripada latihan intens.Waktu olahraga yang ideal bervariasi, pagi hari sering disarankan karena energi masih optimal, tetapi bagi orang sibuk, malam hari juga baik, asal tidak memaksakan diri.Dengarkan tubuh dan pilih intensitas olahraga yang sesuai dengan kondisi harian.

    “Terlalu capek juga tidak akan maksimal manfaat olahraganya,” pungkas dr Vito.

    (naf/naf)

  • Riset Baru Buktikan Bahaya Kelamaan Duduk, Bisa Picu Gagal Jantung

    Riset Baru Buktikan Bahaya Kelamaan Duduk, Bisa Picu Gagal Jantung

    Jakarta

    Sebuah studi terbaru mengungkapkan seberapa besar bahaya terlalu lama duduk. Seseorang yang menghabiskan lebih dari 10,5 jam sehari untuk duduk atau berbaring, berisiko terkena masalah jantung secara keseluruhan.

    Para peneliti dari studi yang dipimpin oleh tim dari Broad Institute of MIT dan Harvard menyarankan pedoman baru yang digunakan untuk memberikan waktu maksimal duduk dan waktu minimal berolahraga.

    “Temuan kami mendukung pengurangan waktu tidak banyak bergerak untuk mengurangi risiko kardiovaskular, dengan 10,6 jam sehari menandai ambang batas utama yang berpotensi terkait dengan gagal jantung dan kematian kardiovaskular yang lebih tinggi,” kata ahli jantung RS Massachusetts, Shaan Khurshid dikutip dari Science Alert, Senin (30/12/2024).

    “Terlalu banyak duduk atau berbaring dapat membahayakan kesehatan jantung, bahkan bagi mereka yang aktif,” sambungnya.

    Studi ini dilakukan dengan menganalisis data aktivitas dari 89.520 orang dengan usia rata-rata 62 tahun. Mereka diminta menggunakan alat pelacak kebugaran selama seminggu. Data ini direferensikan terhadap kesehatan jangka panjang kelompok tersebut, selama periode tindak lanjut rata-rata 8 tahun.

    Median atau rata-rata waktu duduk peserta adalah 9,4 jam sehari, bila berada di 10,6 jam per hari, ada risiko yang ditemukan. Mereka yang duduk selama 10,6 jam memiliki risiko gagal jantung 40 persen lebih tinggi dan risiko kematian kardiovaskular 54 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang duduk lebih sedikit.

    Individu yang tidak berolahraga menjadi kelompok paling terdampak. Bahkan mereka yang rutin beraktivitas fisik 150 menit atau lebih per minggu, tapi duduk 10,6 jam sehari, tetap menunjukkan dampak kesehatan dengan 15 persen berisiko gagal jantung dan 33 persen berisiko kematian kardiovaskular.

    Hal ini menunjukkan betapa besarnya dampak terlalu banyak duduk pada kesehatan.

    Data yang dikumpulkan tidak cukup komprehensif untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara duduk dan masalah jantung utama. Tapi, ada cukup bukti di sini yang menunjukkan bahwa keduanya saling terkait.

    Meski begitu, peneliti menekankan aktivitas fisik atau olahraga tetaplah penting. Aktivitas apapun, bahkan yang kecil, tetap membantu meningkatkan kesehatan.

    “Menghindari lebih dari 10,6 jam per hari mungkin merupakan target minimal yang realistis untuk kesehatan jantung yang lebih baik,” tandasnya.

    (avk/naf)

  • BPOM Ungkap Wilayah-wilayah dengan Temuan Kosmetik Berbahaya Terbanyak 2024

    BPOM Ungkap Wilayah-wilayah dengan Temuan Kosmetik Berbahaya Terbanyak 2024

    Jakarta

    Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) kembali menyita ratusan ribu kosmetik ilegal dan mengandung berbahaya di penghujung tahun 2024. Setidaknya, dalam kurun waktu pemantauan Oktober hingga November 2024, ada sekitar 235 jenis kosmetik dengan total 205.400 pieces.

    Kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya ini ditemukan BPOM di 4 provinsi di Pulau Jawa, yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Nilai ekonomi dari total barang yang disidak nyaris mencapai Rp 9 miliar.

    Deputi Bidang Penindakan BPOM RI Irjen Pol Tubagus Ade Hidayat mengatakan ada beberapa wilayah dengan jumlah peredaran kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya paling banyak.

    “Yang terbanyak adalah yang demand-nya (permintaan) tinggi. Rata-rata di kota-kota besar. Makannya kemarin operasi dilaksanakan di Pulau Jawa, mulai Banten sampai Jawa Timur, karena permintaan di situ cukup tinggi,” kata Tubagus di Jakarta Pusat, Senin (30/12/2024).

    “Seperti Makassar, Surabaya, Jakarta, hampir semua (kota besar) kalau Jawa. Kalau di Jakarta sudah ditangani oleh Balai Besar POM di Jakarta,” lanjut dia.

    Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengatakan bahwa produk-produk kosmetik ilegal yang disita mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, pewarna K3, pewarna K10, rhodamin B, antibiotik, antifungi, hidrokinon, tretinoin, dan steroid.

    “Selain temuan kosmetik ilegal yang dijual paling banyak di media sosial, ada juga temuan sarana ilegal yang memiliki rumah produksi dengan meracik mencampur bahan sendiri, termasuk bahan terlarang,” kata Taruna.

    Beberapa merek produk kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya yang baru-baru ini disita Badan POM di antaranya Lameila, Aichun Beauty, WNP’L, Milla Color, 2099, Xixi, Jiopoian, Svmy, Tanako, dan Anylady.

    “Produk-produk tersebut didominasi berasal dari China, dan diikuti negara lain seperti Thailand, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan India,” tutup Taruna.

    (dpy/naf)

  • Awal Mula Pria 25 Tahun Kena Kanker Stadium 4, Bertahun-tahun Abaikan Gejala Ini

    Awal Mula Pria 25 Tahun Kena Kanker Stadium 4, Bertahun-tahun Abaikan Gejala Ini

    Jakarta – Dilan Patel, seorang pelatih kebugaran di Inggris menceritakan kisahnya mengidap kanker stadium empat ketika usianya masih 25 tahun tahun. Ia mengungkapkan ada gejala ‘memalukan’ yang ia alami sebelum didiagnosis kanker.

    Dilan menceritakan pada saat usianya masih 25 tahun, ia menjalani kehidupan seperti anak muda usia 20-an pada umumnya. Semuanya berubah sampai ia mengalami sebuah gejala yang tidak biasa.

    “Anda tidak akan percaya. Saya berusia 25 tahun, menjalani hidup seperti orang biasa muda lainnya, bekerja keras, olahraga, bergaul dengan teman-teman, dan mencoba mencari tahu masa depan saya,” kata Dilan dikutip dari Unilad, Senin (30/12/2024).

    “Hidup terasa normal. Saya tidak punya alasan untuk berpikir ada yang salah. Tapi kemudian sesuatu yang aneh mulai terjadi,” sambungnya.

    Gejala awalnya itu muncul pada suatu malam. Dilan terbangun di tengah malam dengan keringat yang tidak biasa. Pada saat itu ia mengira dirinya hanya kepanasan karena menggunakan selimut.

    Namun, kejadian itu berlanjut dan bisa terjadi 2-3 kali setiap malam. Situasinya bahkan berlanjut hingga berbulan-bulan hingga mulai mengganggu hidupnya.

    “Minggu berganti bulan dan keringat malam tidak berhenti. Kalau dipikir-pikir sekarang, ada tanda-tanda lain juga. Saya kelelahan sepanjang waktu, tetapi saya pikir itu karena saya bekerja berjam-jam,” ujar Dilan.

    Gejala ‘memalukan’ lain yang ia rasakan adalah rasa gatal di sekujur tubuh. Hal itu membuatnya harus selalu menyediakan losion kemanapun ia pergi. Pada saat itu ia mengira rasa gatal tersebut timbul dari masalah kulit kering.

    Selain berkeringat di tengah malam dan kulit gatal, Dilan mengaku juga mengalami benjolan di area leher.

    “Saya bahkan melihat benjolan di leher saya, tetapi saya pikir itu adalah otot saya yang tumbuh dari semua latihan saya di pusat kebugaran,” ceritanya.

    Gejala tersebut terus muncul selama 2 tahun terakhir. Karena kondisinya semakin memburuk, ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter.

    Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, ia didiagnosis mengidap kanker limfoma hodgkin stadium 4B. Pemeriksaan dokter juga menemukan ada lima tumor di tubuhnya, salah satunya ada di paru.

    Dilan mengaku begitu terkejut dengan diagnosis tersebut. Selama bertahun-tahun, ia memilih untuk mengabaikan gejala sepele yang ternyata menjadi tanda masalah besar pada kondisi kesehatannya.

    “Namun, tubuh saya telah ‘berteriak’ kepada saya selama hampir dua tahun. Jika ada satu hal yang saya pelajari dari pengalaman ini, itu adalah untuk memperhatikan tubuh Anda. Tanda-tanda dan gejala-gejala kecil itu? Itu karena suatu alasan. Jangan menunggu hingga terlambat,” tandasnya.

    (avk/naf)

  • Video: Kemenkes Pastikan Belum Ada Laporan Kasus Flu A dan HMPV di RI

    Video: Kemenkes Pastikan Belum Ada Laporan Kasus Flu A dan HMPV di RI

    Jakarta – Video sebuah rumah sakit di China yang kewalahan menangani pasien yang mengidap flu parah viral di media sosial. Pasien disinyalir mengidap virus Influenza A dan Human Metapneumovirus (HMPV). Kemenkes pastikan belum ada kasus tersebut di RI.

    (/)

  • Kok Ada yang Bengkok, Bagaimana Sih Bentuk Normal Mr P? Dokter Urologi Bilang Gini    
        Kok Ada yang Bengkok, Bagaimana Sih Bentuk Normal Mr P? Dokter Urologi Bilang Gini

    Kok Ada yang Bengkok, Bagaimana Sih Bentuk Normal Mr P? Dokter Urologi Bilang Gini Kok Ada yang Bengkok, Bagaimana Sih Bentuk Normal Mr P? Dokter Urologi Bilang Gini

    Jakarta

    Bentuk dan ukuran dari penis atau ‘Mr P’ seringkali menjadi bahan pembicaraan sensitif. Pasalnya, setiap pria umumnya memiliki persepsi masing-masing terkait bagaimana seharusnya bentuk penis yang normal.

    Menurut spesialis urologi Rumah Sakit Umum Pusat nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Adhitama Alam Soeroto, SpU, mengatakan bahwa selama penis tersebut memiliki lubang kencing di ujung, menurutnya ini masih normal.

    “Kalau nggak di ujung (lubang kencingnya) berarti ada kelainan lokasi di saluran kencingnya,” kata dr Adhitama kepada detikcom saat ditemui di RSCM, Jakarta Pusat, Senin (23/12/2024).

    Terkait ukuran penis, dr Adhitama mengatakan bahwa panjang-pendek, atau besar kecilnya memang dipengaruhi banyak faktor.

    “Kami sebenarnya ada tabelnya gitu, kayak di ukuran berapa penis itu dibilangnya ukuran normal, sesuai usia. Kadang-kadang penis itu kecil banget, tapi sebenarnya, kalau dia masuk range, ya nggak masalah,” katanya.

    “Karena ukuran penis itu bervariasi, dari tiap orang, tiap ras, dan lain-lain. Jadi jangan disamakan ukuran penis orang Asia dengan orang di benua lain, tentunya tidak sama,” sambungnya.

    Kalau masih di bawah 15 derajat (bengkoknya) itu sebenarnya aman

    dr Adhitama Alam Soeroto, SpU – Dokter urologi

    Selain itu, penis normal adalah yang tidak ‘mendelep’ atau tersembunyi di bawah kulit perut, paha, atau skrotum. Pasalnya, kondisi ini dinamakan buried penis.

    dr Adhitama menambahkan bahwa setiap pria terkadang memiliki ‘penis bengkok’ saat mereka ereksi. Namun, ini masih bisa dikategorikan sebagai hal yang normal selama derajat bengkoknya masih dalam batas wajar.

    “Paling sering itu bengkoknya ke arah atas. Tapi (bengkok) ke kanan atau kiri sebenarnya nggak masalah. Kalau masih di bawah 15 derajat (bengkoknya) itu sebenarnya aman,” katanya.

    “Kalau bengkoknya udah di atas 30 derajat, baru kami akan menentukan apakah ini ada kelainan atau tidak,” sambungnya.

    NEXT: Perlukah dikoreksi?

    Simak Video “Sejumlah Penyebab Terjadinya Testis Tidak Turun pada Bayi”
    [Gambas:Video 20detik]

  • Direktur RS di Gaza Ditahan Israel! Ruang Faskes Dibakar, Layanan Medis Terhenti

    Direktur RS di Gaza Ditahan Israel! Ruang Faskes Dibakar, Layanan Medis Terhenti

    Jakarta

    Rumah sakit terbesar di Gaza utara berhenti beroperasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut upaya menyelamatkan banyak fasilitas medis bak berujung sia-sia.

    Serangan Israel ke Rumah Sakit Kamal Adwan telah membuat fasilitas tersebut tidak lagi bisa berjalan. Krisis kesehatan semakin parah di Gaza.

    “Serangan pagi ini terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan telah membuat fasilitas kesehatan besar terakhir di Gaza utara ini berhenti beroperasi. Laporan awal menunjukkan bahwa beberapa departemen utama terbakar parah dan hancur selama serangan itu,” kata Organisasi Kesehatan Dunia semalam di X, merujuk pada operasi Israel yang dimulai pada dini hari Jumat.

    “Rumah sakit itu telah diserang [berulang kali dan telah] dikepung sejak Oktober,” kata Margaret Harris, juru bicara WHO kepada CGTN.

    WHO telah mencatat lebih dari 50 serangan terhadap rumah sakit dan terus menyerukan seruan mendesak untuk melindungi petugas kesehatan serta rumah sakit, sejalan dengan hukum humaniter internasional, tetapi seruan ini tidak pernah digubris.

    “Sekarang, kami memahami bahwa mungkin masih ada pasien di rumah sakit, tetapi kami tidak tahu siapa yang merawat mereka. Setidaknya ada 25 pasien yang sakit kritis. Beberapa dari mereka menggunakan ventilator, dan kami benar-benar mengkhawatirkan keselamatan mereka,” tambahnya.

    Sebelum memulai operasi terbaru di dekat rumah sakit, militer Israel mengklaim pasukannya telah memfasilitasi evakuasi warga sipil, pasien, dan personel medis secara aman. Nyatanya, tidak demikian.

    WHO bahkan mengatakan masih ada sedikitnya 60 petugas kesehatan terkepung di rumah sakit.

    Kementerian kesehatan Gaza menyebut pasukan Israel juga menahan Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, Hossam Abu Safiyeh, bersama dengan beberapa anggota staf medis. Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan Abu Safiyeh ditahan bersama kepala Gaza utara, Ahmed Hassan al-Kahlout.

    Militer Israel tidak mengomentari penahanan tersebut. Ammar al-Barsh, seorang penduduk Jabalia berusia 50 tahun, bercerita serangan terhadap Kamal Adwan dan sekitarnya telah menghancurkan puluhan rumah di daerah tersebut.

    “Situasinya sangat buruk, tidak ada layanan medis, tidak ada ambulans, dan tidak ada pertahanan sipil di utara,” kata Barsh.

    “Tentara terus menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan dan rumah-rumah di sekitarnya, dan kami mendengar suara tembakan dari pesawat nirawak Israel dan tembakan artileri,” tambahnya.

    Pada hari-hari menjelang penyerbuan, Abu Safiyeh telah berulang kali memperingatkan tentang situasi rumah sakit yang genting, menyebut pasukan Israel akan terus menargetkan fasilitas tersebut.

    Sejak 6 Oktober tahun lalu, Israel telah mengintensifkan serangan darat dan udara di Gaza utara, dengan mengatakan tujuannya adalah untuk mencegah pejuang Hamas berkumpul kembali.

    “Kami tidak pernah melihat sesuatu yang tidak [berhubungan dengan] layanan kesehatan terjadi, tidak seorang pun yang menyuarakan kekhawatiran bahwa sesuatu yang lain mungkin terjadi,” kata juru bicara WHO.

    “Kekhawatiran yang dialami tim kami adalah bahwa staf bekerja terlalu keras, mereka kelelahan. Mereka tidak memiliki peralatan dan mereka terus-menerus dibombardir dan [telah] melihat rekan-rekan mereka terbunuh.”

    Militer Israel secara teratur menuduh Hamas menggunakan rumah sakit sebagai pusat komando dan kendali untuk menyerang pasukannya selama perang.

    Semua Ruang RS Dibakar

    Kementerian Kesehatan Gaza sebelumnya melaporkan Abu militer Israel telah membakar semua departemen bedah rumah sakit.

    “Ada banyak korban luka di antara tim medis,” tambahnya.

    WHO menegaskan kembali seruannya untuk gencatan senjata.

    “Permusuhan dan penggerebekan seperti itu merusak semua upaya dan dukungan kami untuk menjaga fasilitas itu berfungsi seminimal mungkin. Pembongkaran sistematis sistem kesehatan di Gaza merupakan hukuman mati bagi puluhan ribu warga Palestina yang membutuhkan perawatan kesehatan,” kata badan PBB tersebut.

    Pertahanan sipil Gaza juga melaporkan bahwa dalam serangan terpisah Israel di Gaza tengah, sedikitnya sembilan warga Palestina tewas pada hari Sabtu.

    Serangan Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 45.436 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil, menurut angka dari kementerian kesehatan daerah tersebut.

    (naf/kna)

  • Lonjakan Kasus Penyakit Pernapasan Bikin China Ketar-ketir, RS Sampai Kewalahan

    Lonjakan Kasus Penyakit Pernapasan Bikin China Ketar-ketir, RS Sampai Kewalahan

    Jakarta

    Otoritas pengendalian penyakit China sedang menguji coba sistem pemantauan untuk pneumonia yang tidak diketahui asalnya. Hal ini menyusul dari kasus beberapa penyakit pernapasan diperkirakan akan meningkat selama musim dingin.

    Para ahli mengatakan bahwa jenis flu yang dominan beredar di Beijing, China, pada musim flu ini adalah jenis influenza A H1N1, dengan mayoritas individu dengan fungsi kekebalan tubuh normal mampu pulih dengan sendirinya.

    Dokter departemen penyakit menular di Rumah Sakit YouAn Beijing, Li Tongzeng mengatakan, sejauh ini belum ada jenis baru penyakit infeksi saluran pernapasan yang teridentifikasi.

    “Infeksi individu dengan virus pernapasan dapat menimbulkan gejala yang berbeda-beda,” katanya, dikutip dari China Daily.

    “Pusing, sakit kepala, kelelahan, dan nyeri otot merupakan gejala umum penyakit infeksi pernapasan.”

    Meskipun gejalanya mungkin terasa lebih parah dibandingkan dengan infeksi pernapasan lainnya, Li mengatakan flu merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri. Kebanyakan individu dengan fungsi kekebalan tubuh normal dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu lima hingga tujuh hari.

    Orang lanjut usia, bayi, wanita hamil, dan pengidap obesitas dengan kekebalan tubuh rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi berat setelah tertular virus flu.

    Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China baru-baru ini juga merilis data pemantauan terbaru tentang penyakit infeksi saluran pernapasan di seluruh negeri, termasuk peningkatan infeksi human metapneumovirus (HMPV).

    Dalam periode 2-8 Desember 2024, sebanyak 40 wabah mirip flu dilaporkan, dan tingkat deteksi virus flu meningkat di provinsi utara dan selatan.

    Laporan pemantauan flu mingguan menyebutkan tren kenaikan yang berfluktuasi dalam tingkat positif HMPV di antara kasus berusia 14 tahun ke bawah.

    HMPV adalah virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut, terutama menyerang bayi, anak kecil, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, yang berpotensi menyebabkan bronkiolitis, asma, dan pneumonia.

    Tak hanya itu, baru-baru ini juga beredar video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah rumah sakit di China penuh diduga imbas kenaikan kasus penyakit pernapasan. Banyak anak-anak dilaporkan menunjukkan gejala seperti demam dan batuk.

    (suc/kna)

  • Mengenang Perjuangan Jimmy Carter Lawan Kanker, Jadi Inspirasi Dunia Kedokteran    
        Mengenang Perjuangan Jimmy Carter Lawan Kanker, Jadi Inspirasi Dunia Kedokteran

    Mengenang Perjuangan Jimmy Carter Lawan Kanker, Jadi Inspirasi Dunia Kedokteran Mengenang Perjuangan Jimmy Carter Lawan Kanker, Jadi Inspirasi Dunia Kedokteran

    Jakarta

    Mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dikenal secara global atas diplomasi dan kerja kemanusiaannya. Dunia kedokteran akan mengingatnya tidak hanya sebagai orang yang mengalahkan kanker yang menyebar di tubuhnya, tetapi juga sebagai orang yang paling berpengaruh dalam meningkatkan kesadaran akan pengobatan kanker mutakhir: imunoterapi.

    Bahkan orang yang belum pernah mendengar istilah itu biasanya tahu bahwa “obat Jimmy Carter”-lah yang membantu menyelamatkan hidupnya.

    “Pengobatan kanker Carter yang berhasil akan dianggap sebagai keajaiban hanya 15 hingga 20 tahun yang lalu,” kata Dr Adam Friedman, ketua dermatologi di Universitas George Washington.

    ‘The Carter Effect’, begitu dia dijuluki, memunculkan era harapan baru bagi pasien yang biasanya tidak memiliki harapan.

    Pada tahun 2015, seseorang dengan melanoma metastasis tidak mungkin bertahan hidup lebih dari enam bulan, dan mungkin bahkan tidak enam minggu jika ia berusia 90 tahun. Carter pada saat itu yakin bahwa itulah takdirnya ketika ia mengumumkan pada bulan Agustus 2015 bahwa melanoma telah menyebar ke hati dan otaknya.

    “Saya menjalani hidup yang luar biasa,” kata Carter dalam jumpa pers saat itu. “Saya merasa bahwa itu ada di tangan Tuhan dan dokter saya, dan saya akan siap menghadapi apa pun yang akan terjadi,” tutur Carter.

    Ada banyak kemungkinan alasan mengapa Carter, yang meninggal pada hari Minggu di usia 100 tahun, bertahan hidup selama ini. Ia memiliki akses ke beberapa dokter kanker terbaik di dunia saat ia menjalani operasi dan radiasi.

    Ia juga mengungkapkan bahwa ia akan dirawat dengan imunoterapi yang relatif baru yang disebut pembrolizumab, yang dijual dengan nama Keytruda. Keytruda bekerja dengan memanfaatkan kekuatan sistem imun tubuh untuk menyerang sel kanker.

    American Cancer Society juga menyampaikan ucapan bela sungkawaatas meninggalnya mantan presiden Jimmy Carter. Organisasi itu juga mengenang bagaimana perawatan kanker Presiden Carter yang saat ini menyelamatkan banyak nyawa.

    “Sebagai pendukung luar biasa pendidikan dan pencegahan kanker di Amerika Serikat, Presiden Carter membantu mempercepat kemajuan melawan lebih dari 200 penyakit yang kita sebut kanker selama masa jabatannya,” kata Dr. Wayne A.I. Frederick, CEO sementara American Cancer Society dan American Cancer Society Cancer Action Network (ACS CAN).

  • BPOM Bakal Panggil Dokter Detektif, Tanya Motif di Balik ‘Cap’ Skincare Overclaim

    BPOM Bakal Panggil Dokter Detektif, Tanya Motif di Balik ‘Cap’ Skincare Overclaim

    Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI secara tegas akan memanggil para influencer yang saat ini aktif membuat konten terkait skincare. Termasuk ‘doktif’ atau dokter detektif yang kerap menguak kandungan skincare diduga overclaim.

    Sebagai informasi, doktif merupakan dokter kecantikan asal Surabaya yang sering membuat konten ‘membedah’ kandungan skincare di pasaran. Konten yang dirinya buat dibagikan ke masyarakat melalui media sosial TikTok.

    Dalam menguji produk skincare yang diulas, ‘doktif’ biasanya menggunakan SIG Laboratory dengan metode Ultra Performance Liquid Chromatography (UPLC).

    “Badan POM kami akan panggil dokter detektif untuk menanyakan motifnya. Apakah karena persaingan bisnis, atau motif lain kami tidak tahu, makannya kami (akan) panggil beliau,” kata Kepala BPOM RI Taruna Ikrar saat konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (30/12/2024).

    “Influencer-influencer ini akan kami panggil, tidak hanya satu tapi semua influencer. Bulan depan, awal Januari 2025 (akan dipanggil),” sambungnya.

    Menurut Taruna, setelah pemanggilan tersebut dan nantinya mengetahui maksud dan tujuan dari para influencer, ini akan bisa membantu Badan POM untuk menjalankan program mereka pada 2025.

    Terkait maraknya influencer kecantikan yang menilai dan mengelompokkan skincare overclaim atau terindikasi berbahaya, BPOM sendiri sebenarnya merasa terbantu.

    “Apakah merupakan saingan Badan POM? Badan POM tidak pernah merasa memiliki saingan,” kata Taruna.

    “Karena Badan POM merupakan satu-satunya lembaga yang diperintahkan Undang-Undang resmi untuk pengawasan ini,” sambungnya.

    (dpy/naf)