Category: Detik.com Kesehatan

  • Wanita Mengeluh Demam Dikira Flu, Ternyata Ada Benda Asing Nyangkut di Paru-parunya

    Wanita Mengeluh Demam Dikira Flu, Ternyata Ada Benda Asing Nyangkut di Paru-parunya

    Jakarta

    Seorang influencer di Rusia mengeluhkan gejala seperti demam dikira cuma sakit flu biasa. Namun, ternyata kondisi yang dialaminya jauh lebih buruk dan mengancam nyawanya.

    Kejadian ini dialami wanita bernama Ekaterina Badulina. Ia mengalami demam dan menggigil. Melihat kondisinya yang semakin buruk, ia khawatir jika dirinya terkena pneumonia.

    Wanita 34 tahun itu pun segera pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Penyebab penyakitnya akhirnya terungkap melalui hasil rontgen.

    “Ternyata dalam gambar tersebut, dokter melihat semacam pegas logam berukuran 5 x 16 milimeter, yang ada di paru-paru,” kata Badulina yang dikutip dari NYPost.

    Tim dokter menyimpulkan bahwa benda asing itu mungkin tertinggal dari prosedur medis yang sebelumnya dilakukan Badulina. Benda pegas itu diperkirakan masuk melalui aliran darah, sehingga tidak dapat dirasakan.

    Sebelumnya, Badulina mengalami tromboemboli atau penggumpalan darah pada pembuluh darah di kakinya saat usianya 27 tahun. Ia menjalani pemasangan 33 pegas yang sangat kecil di kakinya untuk melancarkan aliran darah.

    “Secara ajaib, saya berhasil selamat,” ungkapnya.

    Namun, cobaan berat itu muncul lagi ketika pegas tersebut muncul kembali beberapa tahun kemudian. Dokter mengatakan kepadanya bahwa ia bisa meninggal kapan saja karena lokasi kemunculan benda yang berbahaya di paru-parunya.

    “Mereka bilang saya bisa meninggal kapan saja,” tutur Badulina.

    Mendengar kemungkinan itu, Badulina berusaha bersikap tenang dan mengendalikan emosinya. Ia hanya terus berfokus dan optimis sampai benda tersebut bisa dikeluarkan dari paru-parunya.

    “Siapa pun bisa meninggal kapan saja. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka besok,” pungkasnya.

    (sao/suc)

  • 17 Negara dengan Konsumsi Mi Instan Terbanyak di Dunia, Indonesia Nomor 2

    17 Negara dengan Konsumsi Mi Instan Terbanyak di Dunia, Indonesia Nomor 2

    Jakarta – Mi instan menjadi salah satu makanan cepat saji yang disukai banyak orang di dunia. Dengan rasa yang beragam, harga yang terjangkau, dan cara penyajiannya yang mudah, mi instan seringkali menjadi pilihan makanan yang praktis.

    Masyarakat di beberapa negara mengkonsumsi begitu banyak mie instan, termasuk Indonesia. Negara mana dengan urutan pertama? Lalu, adakah batas aman mengkonsumsi mie instan?

    Daftar Negara dengan Konsumsi Mi Instan Terbanyak di Dunia

    Negara terpadat kedua di dunia saat ini, China mengkonsumsi sekitar 42 miliar porsi mie instan pada tahun 2023. Mengutip laman Visual Capitalist jika dikalkulasi, satu orang mengkonsumsi 30 porsi mie instan dalam setahun.

    Pada urutan selanjutnya ada Indonesia yang mengkonsumsi 14,54 miliar porsi. Menurut laman Business Day, jenis mie yang paling populer adalah mie goreng. Pada tahun sebelumnya, jumlah mie yang dikonsumsi sebanyak 14,3 miliar porsi.

    Setelah Indonesia, ada India dengan 8,68 miliar porsi mie yang penduduknya menyukai jenis mie sayur, dilanjutkan dengan Vietnam dengan 8,12 miliar porsi yang menjadikan mie menjadi makanan pokok. Jepang berada di urutan selanjutnya dengan 5,84 porsi.

    Amerika Serikat berada di urutan keenam sebagai negara dengan peringkat teratas dari luar Asia dalam daftar ini. Jumlahnya mencapai 5,1 miliar porsi.

    Selain AS, negara dari luar Asia lainnya ada Nigeria dengan konsumsi 2,98 miliar porsi. Berikut daftar lengkapnya mengutip World Instant Noodle Association:

    China/Hong Kong: 42,21 miliar porsiIndonesia: 14,54 miliar porsiIndia: 8,68 miliar porsiVietnam: 8,13 miliar porsiJepang: 5,84 miliar porsiAmerika Serikat: 5,1 miliar porsiFilipina: 4,39 miliar porsiKorea Selatan: 4,04 miliar porsiThailand: 3,95 miliar porsiNigeria: 2,98 miliar porsiBrazil: 2,55 miliar porsiRussia: 2,2 miliar porsiMalaysia: 1,64 miliar porsiNepal: 1,57 miliar porsiMeksiko: 1,55 miliar porsiMesir: 1,08 miliar porsiTaiwan: 910 juta porsiBatas Aman Mengkonsumsi Mie Instan?

    Menurut Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof Zullies Ikawati, Apt, sebenarnya tak ada aturan pasti berapa kali mi instan aman dikonsumsi dalam seminggu

    “Sebetulnya tidak ada aturan seperti itu karena mi itu sendiri kan sebenarnya karbohidrat, sama seperti nasi,” terang Prof Zullies, dikutip dari catatan detikcom. “Hanya saja kalau nasi dari padi, dari beras, kalau mi kan dari gandum. Tapi sama-sama karbohidrat,” tambahnya.

    “Nggak seperti obat sih, kalau obat kan 3 kali sehari ada dosisnya ya. Kalau mi itu saya kira nggak ada patokan, karena itu bahan makanan yang bisa kita makan sesuai keinginan kita,” jelas Prof Zullies.

    Meski begitu, disarankan untuk tidak terlalu sering makan mi instan. Hal ini karena ada kandungan pengawet dan bumbunya yang cenderung asin. Prof Zullies mengatakan, setiap orang harus mengenali tubuhnya masing-masing.

    Orang dengan riwayat hipertensi misalnya, bisa mengurangi bumbu mi instan yang digunakan atau mengganti dengan bumbu racikan sendiri. Prof Zullies juga menyarankan untuk menambah protein dan serat saat memakannya dibanding nasi, sehingga karbohidratnya tidak dominan.

    Selain itu, Ahli Kanker dari Siloam Hospital MRCCC Semanggi, dr Denny Handoyo Kirana, SpOnk-Rad mengatakan, kandungan mi instan yang beredar di pasaran sebetulnya cukup aman, karena ada izin dari BPOM. Namun, dr Denny juga menyarankan untuk tidak sering-sering mengkonsumsi mie instan.

    “Jadi kalau dimakan dalam jumlah yang cukup sesekali misalnya dalam seminggu satu atau dua, masih oke, tapi ya jangan pagi, siang, sore, makan mi instan,” jelasnya, menurut arsip detikcom.

    Sebelum mengkonsumsi mi instan, sebaiknya cermati dulu ingredients atau kandungannya. Setiap mi instan mempunyai kandungan natrium, MSG, dan angka kecukupan gizi yang berbeda.

    Dalam satu hari misalnya seseorang sudah makan dua porsi mi instan dengan kadar natrium 50 persen, maka dalam sehari itu tidak boleh lagi mengkonsumsi garam. Pada intinya, konsumsi cermat dengan melihat keseimbangan komposisi.

    “Kalau misalnya tulisannya di belakang kadar garamnya adalah 10 persen, artinya dari makanan lain dia masih boleh makan senilai 90 persen sisanya, jadi dilihat keseimbangan komposisinya,” pungkasnya.

    (elk/row)

  • Video Kaleidoskop 2024: Catatan Peristiwa dan Kasus Kesehatan

    Video Kaleidoskop 2024: Catatan Peristiwa dan Kasus Kesehatan

    Jakarta – Terdapat sejumlah isu, peristiwa, hingga program pemerintah di lingkup kesehatan yang terjadi di Indonesia hingga beberapa yang menjadi sorotan internasional sepanjang 2024. Berikut rangkumannya dalam Kaleidoskop Kesehatan 2024.

    (/)

  • Fakta-fakta Temuan 200 Ribu Kosmetik Ilegal Berisiko Picu Kanker

    Fakta-fakta Temuan 200 Ribu Kosmetik Ilegal Berisiko Picu Kanker

    Jakarta

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI kembali mengidentifikasi ratusan ribu pieces kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya. Dalam kurun waktu Oktober-November 2024 saja, BPOM menyita 235 jenis kosmetik berbahaya-ilegal dengan total sekitar 205.400 pieces.

    Kosmetik-kosmetik tersebut ditemukan di empat wilayah seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Ratusan ribu kosmetik tersebut ditaksir memiliki nilai ekonomi hingga Rp 8 miliar.

    Kepala BPOM RI Taruna Ikrar membeberkan beberapa brand atau merek kosmetik ilegal yang disita, di antaranya:

    LameilaAichun BeautyWNP’LMilla Color2099XixiJiopoianSvmyTanakoAnylady.

    Kandungan Kosmetik Berbahaya

    Kosmetik ilegal dan berbahaya tersebut diketahui mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, pewarna K3, pewarna K10, rhodamin B, antibiotik, antifungi, hidrokinon, tretinoin, dan steroid.

    Taruna menambahkan bahwa dari merek-merek kosmetik yang disita BPOM, tidak sedikit brand skincare yang memang sebelumnya telah berhasil diamankan pihaknya. Namun, kosmetik berbahaya tersebut masih saja ‘lolos’ dan beredar di pasaran.

    “Kok setiap penindakan selalu muncul-muncul lagi (brand yang sama)? Pertama, khusus untuk kasus ini bukan berarti BPOM tidak bertindak tegas, buktinya kami menyita, mengambil, memberikan hukuman,” kata Taruna saat konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (30/11/2024).

    Mengapa Kosmetik Ilegal Terus Muncul?

    “Intinya sesuai supply and demand. Saya melihat beberapa produk dibutuhkan dan banyak laku diinginkan masyarakat. Umumnya produk ini kan dipasarkan secara online, dan (pasar online) bukan kewenangan kami,” sambungnya.

    Taruna menambahkan bahwa pihaknya tidak memiliki kuasa penuh pada perdagangan elektronik, sehingga BPOM harus bekerja sama dengan pihak e-commerce dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

    “Jadi intinya, kenapa ini (merek sama) berulang-ulang (disita)? Bukan karena kami tidak bertindak. Tapi ada yang membutuhkan, ada yang menginginkan, ada yang mau membeli,” katanya.

    “Dan membelinya mayoritas secara online. Artinya produknya ini ada di beberapa negara, dan lewat sistem borderless sekarang ini, orang yang penting ada kartu kreditnya, mereka bisa bertransaksi,” tutupnya.

    (dpy/naf)

  • Cek Ketajaman Saraf Mata, 5 Kata Pertama Bisa Terwujud di 2025!

    Cek Ketajaman Saraf Mata, 5 Kata Pertama Bisa Terwujud di 2025!

    Asah Otak

    AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

    Selasa, 31 Des 2024 16:01 WIB

    Jakarta – Tahun baru sudah di depan mata, saatnya merenungkan lagi harapan-harapan hidup di masa depan. Boleh juga sambil cek ketajaman saraf mata.

  • Bikin Resolusi Sehat 2025? Ade Rai Bagikan Tipsnya Agar Konsisten Sampai Selesai

    Bikin Resolusi Sehat 2025? Ade Rai Bagikan Tipsnya Agar Konsisten Sampai Selesai

    Jakarta – Pergantian tahun kerap dijadikan momen untuk membuat resolusi hidup sehat. Namun, resolusi yang sudah dicanangkan di awal tahun seringkali gagal di tengah jalan.

    Semangat yang menggebu-gebu di awal seringkali mulai luntur di perjalanan. Terlebih apabila dampak kesehatan yang mungkin ditargetkan, seperti badan menjadi lebih langsing, tidak nampak dalam waktu yang cepat.

    Binaragawan Ade Rai membagikan beberapa tips yang bisa dilakukan agar masyarakat bisa tetap konsisten menjalankan resolusi sehat 2025 sampai selesai atau bahkan berlanjut. Ia mengatakan bahwa kunci dari konsistensi hidup sehat adalah memahami tujuannya.

    Ketika masyarakat memahami dengan benar apa manfaat olahraga dan mengapa tubuh harus bergerak, mereka dapat menjalankan olahraga dengan lebih fokus. Pemahaman ini membuat mereka juga tidak mudah terlena dengan kesehatan mereka, sehingga tetap mau berolahraga.

    Tak jarang, seseorang merasa tidak perlu menjalani hidup sehat karena merasa tubuhnya masih sehat. Padahal dampak kesehatan itu selalu datang belakangan.

    “Jadi nomor satu itu kan kalau bisa mengisi arti dan makna dari yang kita lakukan, kenapa sih saya olahraga, apa sih pentingnya kardio, apa pentingnya angkat beban, apa sih manfaatnya, kenapa harus atur makanannya,” kata Ade Rai ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (18/12/2024).

    Langkah selanjutnya adalah membentuk kebiasaan. Langkah ini mungkin akan menjadi yang paling sulit karena merubah kebiasaan memerlukan proses yang panjang.

    Menurut Ade Rai, membentuk kebiasaan diperlukan disiplin dan latihan secara rutin terus menerus. Oleh karena itu, ia memberikan satu metode yang mungkin bisa dilakukan untuk membentuk kebiasaan, yaitu dengan metode ‘Rule of 21’ atau ‘Aturan 21’.

    Caranya adalah menerapkan gaya hidup sehat seperti olahraga atau berhenti merokok selama 21 hari berturut-turut. Selama waktu itu, tubuh mulai beradaptasi, sehingga ketika masyarakat kembali ke kebiasaan lama tubuhnya akan ‘menolak’.

    “Selama 21 hari berturut-turut kita olahraga, maka ketika kita berhenti olahraga, tubuhnya malah lebih ke pengen olahraga dari pada nggak olahraga. Kalau misalnya 21 hari nggak sentuh rokok, maka pada saat itu badannya lebih senang tidak merokok daripada merokok,” ujar Ade Rai.

    Sebaliknya, Ade Rai mengingatkan bahwa kebiasaan buruk hanya membutuhkan waktu adaptasi selama 3 hari. Sehingga, sangat mungkin masyarakat kembali ke kebiasaan sebelumnya meski sudah menjalankan aturan Rule of 21.

    Oleh karena itu, kembali lagi ke poin pertama pentingnya memahami dalam menjalankan hidup sehat sehingga bisa lebih disiplin dalam menjalankannya.

    “Tapi kalau 21 harinya dipatah dengan akhirnya kita balik ke kebiasaan lama ya kebiasaan lama akan dengan sendirinya dengan menyenangkan. Karena kebiasaan buruk itu cuma butuh waktu 3 hari untuk beradaptasi,” tandasnya.

    (avk/up)

  • 5 Tahun Berlalu, Asal usul COVID-19 Masih Misteri! WHO Minta China Transparan

    5 Tahun Berlalu, Asal usul COVID-19 Masih Misteri! WHO Minta China Transparan

    Jakarta

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak China untuk membagikan informasi soal asal-usul COVID-19. Seperti yang diketahui, COVID-19 yang pertama kali ditemukan 5 tahun yang lalu itu membuat dunia lumpuh akibat pandemi.

    Setidaknya tercatat ada 7,1 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat virus tersebut. WHO meminta agar China dapat berbagi akses data soal COVID-19 agar pihaknya bisa memahami secara jelas asal-usulnya.

    “Kami terus meminta China untuk berbagi data dan akses sehingga kami dapat memahami asal-usul COVID-19,” kata pihak WHO dikutip dari SCMP, Selasa (31/12/2024).

    “Ini adalah keharusan moral dan ilmiah. Tanpa transparansi, berbagi, dan kerja sama antar-negara, dunia tidak dapat mencegah, dan mempersiapkan diri secara memadai untuk epidemi dan pandemi di masa mendatang,” sambungnya.

    Pihak WHO sebenarnya sudah sejak lama meminta China untuk membagikan semua informasi soal COVID-19. Namun, China bersikeras sudah memberikan semua data yang diperlukan dan menuding WHO mempolitisasi masalah tersebut.

    Beberapa minggu setelah klaster pertama infeksi COVID-19 muncul, China memberlakukan karantina wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap sekitar 11 juta orang di Wuhan dan beberapa wilayah lain.

    Pada bulan-bulan berikutnya, pemerintah di seluruh dunia mulai memberlakukan hal yang serupa. Aturan tersebut meliputi pembatasan penerbangan, perintah untuk tidak keluar rumah, hingga kewajiban mengenakan masker.

    Asal-usul COVID-19 telah menjadi masalah kontroversial dan penuh perdebatan karena adanya saling kritik dari China dan Amerika Serikat dalam cara masing-masing menangani pandemi. Ketegangan ini juga muncul akibat adanya dugaan bahwa virus ini berasal dari kebocoran laboratorium di Wuhan, yang secara tegas dibantah oleh China.

    Awal bulan ini, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dunia telah belajar banyak dari era COVID tetapi masih banyak yang harus dilakukan.

    “Jika pandemi berikutnya tiba hari ini, dunia masih akan menghadapi beberapa kelemahan dan kerentanan yang sama yang membuat COVID-19 bercokol lima tahun lalu,” katanya.

    “Namun, dunia juga telah belajar banyak dari pelajaran menyakitkan yang diberikan pandemi ini kepada kita, dan telah mengambil langkah-langkah signifikan untuk memperkuat pertahanan terhadap epidemi dan pandemi di masa mendatang,” tandas Tedros.

    (avk/naf)

  • Masinis Kereta Cepat Bunuh Diri Diduga Kesepian, Lompat di Kecepatan 299 Km per Jam

    Masinis Kereta Cepat Bunuh Diri Diduga Kesepian, Lompat di Kecepatan 299 Km per Jam

    Jakarta

    Masinis kereta cepat di Paris diduga bunuh diri lantaran melompat keluar kereta di tengah perjalanan dengan kecepatan 299 km per jam, pada malam Natal. Meski begitu, 400 penumpang yang berada di kereta cepat tersebut berhasil selamat lantaran sistem proteksi otomatis telah aktif.

    Artinya, kereta otomatis terhenti setelah tidak lagi menerima instruksi dari masinis. Di tengah kejadian tersebut, staf kereta cepat lain sempat menghubungi masinis kereta, Bruno Rejony, tetapi tidak merespons.

    Para pekerja sempat berasumsi pria 52 tahun tersebut jatuh sakit. “Kami benar-benar tidak dapat memahami apa yang telah terjadi,” kata seorang pekerja kepada media lokal, Le Parisien.

    “Tidak seorang pun membayangkan yang terburuk.”

    Diduga Kesepian

    Seorang inspektur tiket akhirnya mencoba membuka pintu masinis setelah 15 menit tidak ada respons apapun saat mengetuk pintu. Ia terkejut mendapati ruangan tersebut benar-benar kosong.

    Layanan medis darurat mencari jejak Rejony di rel selama dua jam. Sebuah pesawat nirawak inframerah akhirnya menemukan jasadnya beberapa jam setelah kereta berhenti.

    Pihak berwenang mengatakan mereka meyakini Rejony membuka pintu dan melompat keluar dari kereta saat bergerak sekitar pukul 9 malam sebagai tindakan bunuh diri. Menteri Perhubungan Philippe Tabarot mengatakan Rejony tengah mengalami berbagai masalah dalam kehidupan pribadinya.

    “Menjadi pengemudi TGV adalah karier yang sangat sepi. Anda tidak bertemu siapapun sepanjang minggu. Anda harus sangat kuat secara mental,” jelas seorang pengemudi mengatakan kepada Le Parisien.

    Ciri-ciri Keinginan Bunuh Diri

    Dikutip dari National Institute of Mental Health, ada tiga ciri utama seseorang akan mengakhiri hidup yakni mendadak menjauh dari teman, berpamitan, memberikan barang-barang penting, atau membuat surat wasiat.

    Dalam kondisi tersebut, seseorang kerap mengambil risiko berbahaya seperti mengemudi dengan sangat cepat. Mereka juga menunjukkan perubahan suasana hati ekstrem, atau bisa terlihat dari pola makan dan kebiasaan tidur. Makan maupun tidur lebih banyak atau sebaliknya, lebih sedikit.

    Bila menemukan kasus semacam ini, disarankan untuk menanyakan perasaan orang tersebut.

    “Membicarakan pikiran bunuh diri dengan seseorang biasanya tidak membuat mereka lebih mungkin untuk mengakhiri hidup mereka. Anda dapat membantu seseorang yang merasa ingin bunuh diri dengan mendengarkan, tanpa menghakimi mereka. Anda dapat mendukung seseorang untuk memikirkan pilihan lain untuk mengatasi perasaan mereka,” demikian saran pakar di jurnal NIMH.

    CATATAN: Informasi ini tidak untuk menginspirasi siapapun bunuh diri. Jika Anda memiliki pikiran untuk bunuh diri, segera mencari bantuan dengan menghubungi psikolog atau psikiater terdekat. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami tanda peringatan bunuh diri, segera hubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes Healing119.id.

    (naf/kna)

  • Menjamurnya Kosmetik dan Klinik Estetik Abal-abal

    Menjamurnya Kosmetik dan Klinik Estetik Abal-abal

    Jakarta – Nama Ria Agustina terseret dalam kasus praktik klinik kecantikan abal-abal. Influencer tersebut terindikasi menjalani klinik dan melakukan perawatan kepada pasien tanpa mengantongi surat izin praktik dokter.

    Tak punya latar belakang medis, Ria merupakan sarjana perikanan yang berbekal kursus estetik. Secara regulasi, jelas menyalahi Undang Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang mewajibkan surat izin praktik dan surat tanda registrasi dokter. Sertifikasi tambahan estetik juga hanya bisa diberikan pada dokter, melalui kursus yang terstandarisasi Kementerian Kesehatan RI.

    Bukan hanya izin praktik yang bermasalah. Belakangan, kepolisian juga menemukan serum dan kosmetik yang dipakai dalam klinik tidak berizin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI).

    Kasus Ria sebenarnya hanya satu dari sekian banyak temuan kasus perawatan estetik ilegal sepanjang 2024. Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar mengungkap, dalam setahun terakhir ada 267 klinik kecantikan di seluruh Indonesia yang melakukan pelanggaran atau memiliki produk tidak memenuhi ketentuan (TMK).

    Laporan ini didapat dari pemeriksaan di nyaris seribu klinik kecantikan seluruh wilayah Indonesia. Meski sebetulnya ada penurunan temuan dibandingkan lima tahun terakhir, jumlah klinik yang diperiksa meningkat lebih dari 20 kali lipat dibandingkan lima tahun terakhir.

    Taruna menduga tren perawatan klinik kecantikan mulai semakin populer saat status darurat kesehatan global COVID-19 dinyatakan berakhir. Sejak saat itu, bisnis kecantikan terbilang semakin meningkat pesat.

    “Hal ini mendorong BPOM untuk memperluas cakupan pengawasan agar memastikan keamanan dan kualitas layanan klinik yang beroperasi di Indonesia,” beber Taruna kepada detikcom Selasa (24/12/2024).

    BPOM RI menindak tegas temuan produk yang tidak memenuhi ketentuan, khususnya pada klinik kecantikan ‘abal-abal’ yang semakin menjamur. Foto: Infografis detikcom

    Pesatnya bisnis kecantikan seperti yang disoroti Taruna sejalan dengan laporan riset ‘Beauty Consumer Behavior and Trend Report’ dari Insight Factory by SOCO. Pertumbuhan produk atau brand lokal terbilang signifikan bahkan meningkat hingga 49 persen dibandingkan pada 2015.

    Komposisinya bahkan nyaris setara dengan jumlah brand mancanegara. Tingginya pasar dan permintaan konsumen membuat banyak industri baru mampu bertahan.

    Hal ini dikarenakan literasi warga Indonesia dalam berbelanja produk kecantikan, utamanya kelompok milenial dan Generasi Z ikut meningkat. Gen Z menjadi kelompok usia terbanyak yang mengikuti perkembangan produk kosmetik baru, dibandingkan generasi lain.

    Misalnya, pada kategori perawatan tubuh, minat gen Z membeli body sunscreen mencapai 175 persen dibandingkan 106 persen pada milenial. Sementara pada kategori wewangian, pembelian parfum di kelompok gen Z meningkat 304 persen dibandingkan 160 persen pada milenial.

    Begitu pula dengan catatan pembelian make up misalnya cushion, gen Z mencapai 105 persen, sementara milenial ‘hanya’ 59 persen.

    Sayangnya, literasi tinggi terkait kosmetik aman tidak terjadi pada semua kelompok masyarakat. Terlebih, di luar pulau Jawa.

    Peredaran maupun pemakaian kosmetik dengan kandungan berbahaya banyak ditemukan di luar pulau Jawa. Hal ini diduga berkaitan dengan rendahnya literasi terkait kosmetik aman serta akses yang relatif lebih mudah.

    Walhasil, kosmetik yang didapat adalah ilegal. Ilegal bukan hanya produk yang diedarkan tanpa izin edar, tetapi produk terindikasi imitasi alias palsu. Tidak ada jaminan keamanan bila produk yang didapat distribusinya tidak jelas.

    “Temuan kosmetik ilegal selama enam tahun terakhir menunjukkan tren fluktuatif. Pada 2020, angka temuan turun drastis akibat perlambatan ekonomi dan pembatasan aktivitas selama pandemi. Namun, sejak 2021, angka temuan mulai meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi dan intensifikasi pengawasan BPOM,” terang Taruna.

    Pada 2023 misalnya, BPOM RI menindak 72 kasus kosmetik ilegal dengan total ekonomi fantastis mencapai Rp 30,4 miliar. Sementara sepanjang tahun hingga September 2024, ditemukan 76 kasus dengan kumulatif nilai ekonomi mencapai Rp 20 miliar.

    BPOM RI disebutnya berupaya untuk terus menekan penyebaran kosmetik ilegal. Pasalnya, dampak dari kosmetik ilegal tidak main-main.

    “Penurunan nilai keekonomian ini menunjukkan bahwa pembinaan terhadap pelaku usaha semakin efektif. Upaya BPOM seperti forum nasional pelaku usaha, kolaborasi lintas sektor, dan expo kontrak produksi kosmetik telah memberikan dampak positif dalam menekan peredaran produk ilegal,” sorot Taruna.

    Peredaran kosmetik ilegal masih banyak ditemukan, bahan yang digunakan relatif berbahaya, bahkan bisa memicu kanker. Foto: Infografis detikcom

    Dampak Kesehatan

    Dampak peredaran kosmetik ilegal tidak hanya merugikan konsumen secara materil, tetapi juga jelas mengganggu kesehatan kulit wajah.

    Hal ini yang juga dialami Tya, seorang wanita yang berdi domisili Kalimantan Timur. Tya sempat viral karena membagikan kisah dirinya terkena okronosis melalui sebuah unggahan TikTok. Okronosis merupakan penyakit kulit dengan gambaran deposisi pigmen kebiruan pada wajah yang dipicu penggunaan hidrokuinon dalam krim pemutih ‘abal-abal’.

    Nyaris seluruh bagian wajahnya tampak berakhir ‘gosong’ pasca menggunakan kosmetik tanpa izin edar yang dia dapatkan secara bebas di marketplace. Kala itu, Tya mengaku hanya membelinya berdasarkan penilaian testimoni yang tertera dalam iklan penjualan produk.

    Tiba hingga satu sampai dua minggu pemakaian, perubahan drastis memang dialami Tya, tone atau warna wajah Tya saat itu menjadi sangat putih, padahal Tya sebenarnya memiliki wajah kuning langsat.

    Sampai pada akhirnya wanita berusia 30-an itu mengeluhkan efek jangka panjang di dua tahun pemakaian. Fatalnya, efek wajah hitam kebiruan di seluruh wajah terjadi setelah satu tahun perlahan berhenti memakai krim abal-abal tersebut.

    “Sampai muncul hitamnya itu sekitar satu tahun setelah mulai perlahan berhenti,” tutur dia, kepada detikcom, Minggu (16/7/2023).

    Setahun setelah menjalani pengobatan, detikcom kembali menghubungi Tya dan melihat bagaimana progres perubahan wajahnya. Kabar baiknya, perlahan warna asli kulit Tya mulai kembali terlihat, meski belum sepenuhnya pulih.

    “Selama setahun lebih ini aku cuma berproses dengan skincare dokter dan cuma satu kali treatment laser,” terang dia kepada detikcom Selasa (24/12).

    Dirinya tidak bisa melakukan banyak perawatan lantaran kulitnya terbilang masih sensitif. Dokter spesialis kulit I Gusti Nyoman Darmaputra SpKK, SubspOBK, FINSDV, FAADV, menyebut kemungkinan kondisi lain yang terjadi pada Tya adalah post inflammatory hyperpigmentation. Kehitaman setelah peradangan yang sering terjadi imbas iritasi penggunaan krim saat sering terkena sinar matahari.

    “Jadi bisa gelap seperti itu, dan membutuhkan waktu lama untuk penyembuhan,” terang dr Darma.

    dr Darma bahkan menyebut kerusakan lebih lanjut dari penggunaan krim abal-abal dengan tinggi kandungan hydroquinone dan merkuri bisa berupa sakit kepala, penurunan kesadaran, kejang-kejang, hingga gangguan fungsi ginjal.

    “Dia memang bukan obat untuk memutihkan, tidak ada dokter atau siapapun yang menggunakan itu kecuali penyalahgunaan,” jelasnya.

    Tya, salah seorang korban kosmetik abal-abal membagikan kisahnya di media sosial. Foto: dok. Pribadi Tya (dipublikasikan atas izin yang bersangkutan)

    Krim seperti yang didapat Tya sebetulnya tidak sepenuhnya dilarang. BPOM RI mengizinkan penggunaan kosmetik etiket biru, asallkan mendapat resep dokter.

    Hanya dokter yang bisa memberikan dosis atau kandungan tepat bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Sayangnya, peredaran kosmetik etiket biru tidak sesuai ketentuan, amat sulit diberantas.

    Berkaca dari catatan di periode 19 hingga 23 Februari 2024. Dari pengawasan selama lima hari saja, BPOM menemukan 51.791 pieces produk kosmetik tidak memenuhi ketentuan dengan nilai keekonomian mencapai Rp 2,8 miliar, banyak produk mengandung bahan terlarang, tidak sesuai ketentuan, tanpa izin edar, dan kedaluwarsa.

    Sulitnya memberantas peredaran kosmetik beretiket biru tidak sesuai ketentuan, juga sempat gaduh dikaitkan dengan adanya ‘mafia’ skincare dengan melibatkan orang dalam BPOM RI. Kepala BPOM RI kala itu langsung menepis anggapan yang ramai di media sosial.

    “Tekad kami, tekad saya, kepada BPOM RI, akan menuntaskan semuanya, tegak lurus dengan aturan kalau ada yang bermain kami tindak kalau ada ‘orang dalam’,” tutur Taruna.

    (naf/up)

  • Konsumsi Makanan yang Dibakar Picu Kanker, Benarkah?

    Konsumsi Makanan yang Dibakar Picu Kanker, Benarkah?

    Jakarta – Merayakan malam tahun baru identik dengan mengadakan pesta makanan, seperti membakar daging hingga jagung. Namun, terjadi perdebatan bahwa mengonsumsi makanan yang dibakar dapat menjadi salah satu faktor pemicu penyakit kanker.

    Kanker sendiri merupakan sebuah penyakit yang ditandai dengan adanya pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan abnormal di dalam tubuh. Sel kanker dapat tumbuh dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

    Lantas, benarkah mengonsumsi makanan yang dibakar dapat menjadi salah satu pencetus penyakit kanker?

    Dikutip dari Web MD, beberapa jenis makanan yang dimasak pada suhu tinggi, khususnya karbohidrat, seperti kentang atau roti, dapat melepaskan zat kimia yang dikenal dengan akrilamida.

    “Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan (memasak terlalu lama atau membakar makanan), Anda menciptakan karsinogen dalam makanan yang berpotensi membahayakan tubuh,” kata Neil Inyengar, MD, onkolog medis di New York City.

    “Saya akan menyebutnya hipotesis saat ini. Saya tidak yakin ini benar-benar terjadi,” imbuhnya.

    Para ilmuwan melaporkan bahwa pada hewan pengerat, kadar akrilamida yang tinggi, yang jumlahnya lebih banyak dari yang ditemukan dalam makanan, dapat menyebabkan terbentuknya tumor.

    Namun, penelitian pada manusia masih sedikit bukti terkait akrilamida dalam makanan dapat meningkatkan risiko kanker.

    Peneliti memeriksa sekelompok besar untuk melihat kaitan akrilamida dan kanker di bagian tubuh, termasuk prostat, kandung kemih, ginjal, dan usus, sebagian besar gagal untuk menemukan hubungan yang jelas.

    Pada beberapa kasus yang lain, bahkan saat hubungan potensial muncul, seperti antara akrilamida dan kanker ovarium, hubungan tersebut menghilang setelah menggunakan alat pengukuran yang lebih kuat, seperti mengamati kadar akrilamida dalam darah.

    Metode memasak daging, seperti mengasapi, memanggang, atau menggoreng, maka dapat melepaskan zat kimia lain yang disebut dengan amina heterosiklik dan hidrokarbon aromatik polisiklik.

    Seperti akrilamida, hewan pengerat yang terpapar zat kimia ini dalam kadar yang tinggi dapat mengembangkan tumor di berbagai organ. Namun, hubungannya pada manusia, buktinya tidak begitu jelas.

    Berikut ini adalah contoh lain makanan pantangan untuk menghindari kanker dikutip dari Healthline:

    Daging Proses

    Makanan daging proses seperti nugget ayam, sosis, hingga daging kornet kerap menjadi menu favorit masyarakat. Namun perlu diwaspadai, makanan sejenis ini meningkatkan risiko penyakit kanker.

    Hal ini bukannya tanpa alasan, proses pembuatan daging proses seperti penggaraman ataupun pengalengan dapat menciptakan zat karsinogen. Karsinogen merupakan zat yang dapat menyebabkan kanker.

    Makanan Goreng-gorengan

    Makanan gorengan banyak menjadi favorit banyak orang, khususnya di Indonesia. Terlebih di Indonesia banyak sekali makanan yang cara pengolahannya adalah dengan menggoreng.

    Makanan bertepung yang diolah dengan cara digoreng di suhu yang tinggi dapat membuat senyawa bernama akrilamida. Zat ini termasuk kandungan yang bersifat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker.

    Tak hanya kanker, bahkan makan goreng-gorengan juga dapat meningkatkan risiko diabetes dan juga obesitas.

    Gula dan Karbohidrat Olahan

    Makanan makanan dengan kadar gula yang tinggi atau makanan bertepung dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan juga obesitas. Kedua jenis makanan tersebut juga dapat meningkatkan risiko peradangan dan stres oksidatif.

    Hal ini dapat meningkatkan risiko untuk beberapa jenis kanker.

    Alkohol

    Beragam minuman beralkohol memiliki dampak besar dalam penyakit kanker. Ketika Anda meminum minuman alkohol, tubuh Anda akan berusaha memecah alkohol menjadi zat kimia Asetaldehida.

    Zat kimia tersebut dapat merusak DNA Anda dan dapat menghalangi tubuh Anda dalam melakukan perbaikan. Ketika DNA akhirnya rusak, maka sel-sel yang sebelumnya bertumbuh secara teratur akan mulai tumbuh di luar kendali dan menciptakan tumor kanker.

    Saksikan pembahasan lengkap hanya di program detikPagi edisi Selasa (31/12/2024). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

    “Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!”

    (vrs/vrs)