Category: Detik.com Kesehatan

  • Video: Sering Review Skincare, Dokter Detektif Bakal Dipanggil BPOM

    Video: Sering Review Skincare, Dokter Detektif Bakal Dipanggil BPOM

    Video: Sering Review Skincare, Dokter Detektif Bakal Dipanggil BPOM

  • Video: BPOM Sita Kosmetik Ilegal Senilai Rp 8,9 M

    Video: BPOM Sita Kosmetik Ilegal Senilai Rp 8,9 M

    Video: BPOM Sita Kosmetik Ilegal Senilai Rp 8,9 M

  • Video: Banyak Produk Kosmetik yang Dikemas Ulang Dijual, Bagaimana Regulasinya?

    Video: Banyak Produk Kosmetik yang Dikemas Ulang Dijual, Bagaimana Regulasinya?

    Video: Banyak Produk Kosmetik yang Dikemas Ulang Dijual, Bagaimana Regulasinya?

  • Video: Kilas Balik Pencapaian WHO di Sepanjang 2024

    Video: Kilas Balik Pencapaian WHO di Sepanjang 2024

    Video: Kilas Balik Pencapaian WHO di Sepanjang 2024

  • Video: Manfaat Susu Tak Bisa Diganti Daun Kelor di Program Makan Bergizi Gratis

    Video: Manfaat Susu Tak Bisa Diganti Daun Kelor di Program Makan Bergizi Gratis

    Video: Manfaat Susu Tak Bisa Diganti Daun Kelor di Program Makan Bergizi Gratis

  • Sedih! Bayi Palestina Ini Meninggal Akibat Kedinginan

    Sedih! Bayi Palestina Ini Meninggal Akibat Kedinginan

    Sedih! Bayi Palestina Ini Meninggal Akibat Kedinginan

  • Tak Perlu Obat Kuat, 7 Cara Ini Bisa Bikin Paksu Lebih ‘Tahan Lama’ di Ranjang    
        Tak Perlu Obat Kuat, 7 Cara Ini Bisa Bikin Paksu Lebih ‘Tahan Lama’ di Ranjang

    Tak Perlu Obat Kuat, 7 Cara Ini Bisa Bikin Paksu Lebih ‘Tahan Lama’ di Ranjang Tak Perlu Obat Kuat, 7 Cara Ini Bisa Bikin Paksu Lebih ‘Tahan Lama’ di Ranjang

    Jakarta

    Bercinta bisa menjadi momen penting untuk meningkatkan keharmonisan pasangan suami istri. Oleh karena itu, memerhatikan kualitas dan durasi bercinta seringkali menjadi perhatian utama pasangan.

    Dikutip dari Healthline, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan durasi bercinta. Berikut ini beberapa di antaranya.

    1. Edging

    Edging merupakan sebuah teknik seksual ketika seseorang dengan sengaja menunda orgasme. Penundaan ini dilakukan dengan menghentikan semua bentuk rangsangan seksual ketika hampir ejakulasi.

    Tujuannya adalah meningkatkan intensitas kesenangan dan kepuasan sampai akhirnya mencapai klimaks. Dengan menunda ejakulasi, maka hubungan seksual bisa berlangsung lebih lama.

    Teknik ini biasanya juga digunakan untuk membantu orang dengan ejakulasi dini agar lebih mampu mengontrol waktu klimaks.

    2. Latihan Otot Dasar Panggul

    Otot-otot dasar panggul membantu menyangga kandung kemih dan ejakulasi. Latihan yang membantu memperkuat kelompok otot tersebut dapat membantu meningkatkan kemampuan suami dalam menunda ejakulasi.

    Salah satu bentuk latihan otot dasar panggul adalah dengan kegel. Latihan kegel dapat membantu memperkuat otot pubococcygeus yang selain baik untuk penis, juga baik untuk vulva pada wanita. Perlu dicatat latihan ini perlu dilakukan dengan komitmen yang konsisten sehingga memberikan hasil maksimal.

    Kepalkan otot tersebut selama 10 detik, lalu lepaskan. Lakukan setidaknya tiga set dengan 10 repetisi setiap hari.

    3. Masturbasi Sebelum Bercinta

    Masturbasi sebelum bercinta dapat mencegah ejakulasi dini. Ini dapat menjadi salah satu langkah tepat untuk memperpanjang durasi bercinta.

    Menurut sebuah studi kecil tahun 2019, para peneliti menemukan bahwa masturbasi pada pangkal penis dapat membantu Anda menunda ejakulasi.

    4. Sunat

    Sunat merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memperpanjang durasi bercinta. Sebuah studi pada tahun 2015 menunjukkan banyak orang menemukan peningkatan kendali atas kapan mereka orgasme setelah disunat.

  • Susul Korsel-Jepang, Angka Kelahiran Vietnam Juga Anjlok Gegara Ini

    Susul Korsel-Jepang, Angka Kelahiran Vietnam Juga Anjlok Gegara Ini

    Jakarta

    Korea Selatan, Jepang, dan China menjadi beberapa negara di Asia yang mengalami masalah besar dalam penurunan angka kelahiran. Hal tersebut tampaknya juga mulai dialami oleh negara tetangga Indonesia, Vietnam.

    Angka kelahiran Vietnam anjlok ke titik terendah 1,91 anak per wanita. Ini menjadi tahun ketiga angka kelahiran di Vietnam berada di bawah tingkat ‘penggantian’ sebesar 2,0 atau jumlah minimal yang dibutuhkan agar suatu populasi dapat mempertahankan jumlah penduduknya dari generasi ke generasi.

    Wakil Menteri Kesehatan Vietnam Nguyen Thi Lien Huong menuturkan tren ini diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

    “Salah satu alasannya adalah sumber daya yang diinvestasikan oleh pemerintah pusat dan daerah tidak mencukupi untuk tugas kependudukan yang ada,” kata Huong dikutip dari SCMP, Selasa (31/12/2024).

    Kondisi ini sebenarnya sudah mulai membuat pemerintah Vietnam khawatir. Ketika angka kelahiran perlahan menurun, populasi mereka juga semakin menua.

    Untuk mengembalikan situasi, Vietnam sudah mulai membuat acara kencan untuk warganya serta penyebaran poster berisi propaganda untuk mendorong kaum muda memiliki lebih banyak bayi. Perubahan demografi dan tuntutan finansial memicu pergeseran ke arah orang-orang yang memilih untuk memiliki keluarga lebih kecil.

    Angka kelahiran rendah yang berkepanjangan dapat menyebabkan kekurangan tenaga kerja, populasi yang menua dengan cepat, dan tekanan pada jaminan sosial.

    Vietnam memiliki salah satu populasi yang menua paling cepat di dunia, menurut United Nations Population Fund (UNFPA). Orang yang berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,9 persen dari total populasi pada tahun 2019 dan angka ini akan meningkat menjadi lebih dari 25 persen pada tahun 2050, kata UNFPA.

    Selain itu, Vietnam juga tengah mempersiapkan rancangan undang-undang kependudukan untuk meningkatkan fertilitas, termasuk dukungan untuk pekerja yang memiliki anak kecil. Undang-undang itu juga mengusulkan revisi kebijakan disiplin untuk tidak lagi menghukum keluarga karena memiliki 3 anak atau lebih.

    Rancangan undang-undang tersebut diharapkan akan diserahkan ke Majelis Nasional untuk dibahas dalam sidang ke-10 pada awal tahun 2025, dengan pemungutan suara akan dilakukan tahun berikutnya.

    (avk/suc)

  • Pakar Bicara Kemungkinan Pandemi di Balik Lonjakan Penyakit Pernapasan China

    Pakar Bicara Kemungkinan Pandemi di Balik Lonjakan Penyakit Pernapasan China

    Jakarta

    ‘ Influenza A, rhinovirus, human metapneumovirus (HMPV), dan pneumonia mikoplasma menjadi jenis patogen penyebab penyakit pernapasan yang paling umum di antara kunjungan rumah sakit.

    Angka positif infeksi flu diperkirakan akan terus meningkat. Sementara angka infeksi rhinovirus dan kasus infeksi pneumonia mikoplasma yang umumnya menyerang anak-anak berusia lima hingga 14 tahun menunjukkan tren penurunan.

    Namun, tingkat positif virus pernapasan di kalangan balita berusia empat tahun ke bawah meningkat, demikian pula tingkat HMPV manusia di kalangan anak-anak berusia 14 tahun ke bawah.

    “Penyebaran penyakit ini sedang mencapai puncaknya dan akan bertahan pada tingkat tinggi selama dua bulan ke depan,” katanya Kepala Institut Nasional Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular CDC China, Kan Biao.

    Terkait hal itu, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman influenza A merupakan virus yang memang menjadi salah satu penyebab utama flu musiman dan bukan patogen baru.

    Virus ini, kata dia, sudah lama ada bersirkulasi dan endemik, bahkan sangat menular dan bisa memicu infeksi saluran pernapasan atas dan bawah.

    “Gejala khas demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, kelelsahan,” katanya kepada detikcom, Selasa (31/12/2024).

    Dicky menyebut virus influenza A ini menjadi salah satu yang dipantau ketat dan diwaspadai lantaran memiliki potensi memicu pandemi jika varian barunya muncul dan menyebar luas di antara manusia.

    “Ini yang dikhawatirkan kalau bicara influenza A. Jadi dikatakan serius, serius sebetulnya. Namun saat ini pada level yang belum membahayakan atau belum meningkatkan kekhawatiran sebetulnya,” katanya lagi.

    Sementara HMPV merupakan virus pernapasan yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2001. Virus ini, kata Dicky, mirip atau sama dengan RSV atau Respiratory syncytial virus.

    Adapun HMPV ini kerap menyerang anak-anak. Namun bisa juga menyerang orang dewasa muda dan tua jika imunitasnya sedang turun.

    “Nah gejalanya hampir sama dengan semua jenis virus sebetulnya. Ada yang disebut dengan flu like syndrome itu, batuk demam, hidung tersembat, bahkan ada sedikit sesak napas. Nah pada kasus berat untuk HMPV ini bisa berkembang menjadi bronchitis dan pneumonia,” katanya.

    Sementara untuk potensi pandemi, Dicky mengatakan HMPV masih jauh atau sangat kurang memiliki potensi tersebut dibandingkan influenza A. Hal ini karena penyebaran HMPV lebih lambat dan tingkat keparahan penyakit umumnya juga ringan.

    “Nah kalau sampai ke Indonesia bicara dua penyakit ini ya tentu tetap ada kasus impor. Terutama melalui pelancong internasional atau pelaku perjalanan khususnya berarti dari Asia Timur itu,” tuturnya.

    “Namun dengan sekali lagi pengendalian perbatasan dan protokol kesehatan tentu risiko wabah besar bisa diminimalkan. Apalagi di Indonesia harusnya orang sudah mulai terbiasa untuk update atau booster imunitas dengan vaksinasi,” lanjutnya lagi.

    (suc/naf)

  • Pengidap Kolesterol Tinggi Boleh Ikut Bakar-bakar Tahun Baru Kok, Asal…

    Pengidap Kolesterol Tinggi Boleh Ikut Bakar-bakar Tahun Baru Kok, Asal…

    Jakarta – Momen malam pergantian tahun baru kerap dirayakan dengan semarak bersama keluarga. Salah satu aktivitas yang biasanya dilakukan adalah bakar-bakar dan pesta makan daging bersama sampai kenyang.

    Meski menyenangkan, hal ini menjadi risiko besar apabila seseorang memiliki masalah kolesterol tinggi. Jangan sampai, perayaan yang seharusnya menyenangkan, justru membawa penyakit untuk tubuh.

    Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH mengungkapkan orang yang sudah memiliki masalah kolesterol tinggi masih boleh ikut makan besar di malam tahun baru. Namun, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan agar tetap aman sampai perayaan selesai.

    Salah satunya adalah memerhatikan jenis daging yang dikonsumsi ketika bakar-bakar. dr Aru menyarankan masyarakat untuk mengganti daging merah dengan ayam tanpa kulit atau daging ikan karena lebih rendah kandungan lemak jenuh dan kolesterol.

    “Pilih daging ikan, ayam dan cara memasaknya juga sangat mempengaruhi. Hindari alkohol, minuman terlalu manis saat acara berlangsung diharapkan bukan saja kolesterol akan terkontrol tetapi gangguan metabolik lainnya seperti diabetes melitus dan asam urat akan terkontrol,” kata dr Aru ketika dihubungi detikcom belum lama ini.

    “Daging ayam memiliki kadar kolesterol lebih rendah dibanding sapi apalagi tanpa kulit,” sambungnya.

    Selain menggunakan pilihan sumber protein lain, dr Aru juga mengingatkan pentingnya menjaga porsi daging dan menambah asupan serat. Makanan tinggi serat bisa didapatkan dari sayur dan buah-buahan.

    Ia juga mengingatkan untuk tidak menambahkan minyak berlebih pada daging yang dimasak. Menurut dr Aru itu akan menambah kadar kolesterol dalam daging yang dimasak.

    “Kolesterol pada daging lebih tinggi jika digoreng dibandingkan direbus atau dibakar. Terutama bila menggunakan minyak dengan lemak jenuh. Sebaiknya gunakan minyak nabati seperti minyak zaitun. Garam juga harus diperhatikan terutama pada pengidap hipertensi,” tandasnya.

    (avk/up)