Video: Persiapan Pemprov DKI Siapkan Makan Bergizi Gratis untuk Bumil-Busui
Category: Detik.com Kesehatan
-

HMPV Lebih dari 2 Dekade Lalu Ditemukan di Belanda
Video: HMPV Lebih dari 2 Dekade Lalu Ditemukan di Belanda
344 Views | Rabu, 08 Jan 2025 22:45 WIB
Human metapneumovirus (HMPV) belakangan ini jadi sorotan karena merebak di negara China. Seperti apa virus ini?
Dwi Putri Aulia – 20DETIK
-

Kenapa Tidur Terlalu Lama Membuat Kepala Pusing dan Tubuh Lemas?
Jakarta –
Selama liburan atau punya waktu senggang, mungkin banyak yang menghabiskan waktu hanya untuk memaksimalkan jam tidur. Nyatanya, bukan rasa puas dan segar yang didapat tapi malah tubuh jadi lemas dan kepala jadi pusing. Kenapa bisa?
Tidur memang jadi salah satu kebutuhan penting bagi tubuh untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Namun, tidur dalam waktu yang terlalu lama sering kali justru memberikan efek sebaliknya.
Banyak orang melaporkan merasa pusing atau tidak segar setelah tidur lebih lama dari biasanya. Tidur terlalu lama malah dapat mempengaruhi keseimbangan alami tubuh.
Hal ini menjadi tanda bahwa tubuh tidak mendapatkan kualitas tidur yang optimal, meskipun kuantitasnya berlebih. Selain itu, faktor lain seperti rendahnya kadar gula darah, dehidrasi, atau posisi tidur yang salah juga dapat memperparah rasa pusing setelah tidur terlalu lama.
Durasi Tidur
Kurang tidur bisa membuat tubuh lemas dan kepala pusing. Tapi kalau terlalu banyak tidur, juga bisa memberikan efek serupa. Normalnya, seseorang membutuhkan tidur selama 7,5 jam dalam sehari. Angka ini bisa bervariasi tergantung banyak faktor, termasuk kualitas tidurnya.
Carol DerSarkissian, MD, menyampaikan ulasan medisnya dalam laman WebMD, orang dewasa tidur antara 7-9 jam setiap malam. Jumlah tidur yang kamu butuhkan bervariasi bergantung pada usia, kondisi tubuh, tingkat aktivitas, kesehatan, dan gaya hidup. Misalnya, selama masa stres atau sakit, kamu mungkin butuh tidur lebih lama.
Dikutip dari Business Insider, seorang pakar tidur Dr Michael Breus menjelaskan kebutuhan tidur selama 7,5 jam merupakan rerata yang berlaku pada orang yang melewati 5 siklus tidur dalam semalam. Masing-masing fase berlangsung selama 90 menit, sehingga didapatkan total 450 menit alias 7,5 jam.
Nah, bicara soal kualitas tidur maka bukan cuma durasi yang diperhitungkan melainkan siklusnya. Dari kelima fase tidur, REM (Rapid Eye Movement) adalah fase ketika seseorang lebih sulit terbangun dibanding fase 1 dan fase 2. Sebaliknya, fase 3 dan fase 4 adalah fase ketika seseorang paling susah dibangunkan.
Penyebab Tidur Terlalu Lama Membuat Kepala Pusing dan Tubuh Lemas
Ketika kamu tidak mendapatkan cukup tidur REM, tubuh akan menghasilkan lebih banyak jenis protein tertentu yang merangsang sistem saraf, sehingga kamu lebih mungkin mengalami migrain saat bangun tidur.
Menurut Dr Breus, kelebihan waktu tidur selama 1-2 jam membuat seseorang terbangun pada fase yang normalnya lebih lelap. Dampaknya, orang tersebut terbangun dalam kondisi tidak bugar.
Siklus tidur ini sekaligus juga menjelaskan kenapa power nap alias tidur siang lebih efektif dilakukan dalam waktu singkat. Tidur siang terlalu lama membuat seseorang bangun pada fase yang lanjut, sehingga terkadang malah bikin pusing.
Berikut penyebab tidur berlebihan mempengaruhi kondisi tubuh yang kurang nyaman, dilansir dari artikel Healthline yang telah diverifikasi Deena Kuruvilla, MD:
1. Serotonin Terganggu
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidur berlebihan memiliki efek pada neurotransmitter di otak, terutama pada serotonin. Biasanya, serotonin membantu menjaga pola tidur alami yang diikuti tubuh, untuk tertidur dan bangun dengan cara yang menenangkan dan menyegarkan.
Tapi guna melakukan hal ini, sel-sel di otak yang disebut neuron harus memindahkan serotonin ke serangkaian reseptor, yang diprogram oleh gen. Serotonin memberi tahu reseptor ini untuk membuat kamu tertidur atau bangun.
Tapi kalau kamu kesiangan, maka akan mengganggu jalur saraf ini. Jika kamu tetap tidur bahkan setelah serotonin memberi sinyal kepada reseptor untuk membuatmu bangun, tubuh tidak lagi benar-benar beristirahat.
Tubuh mengira ia sudah bangun dan mulai membutuhkan nutrisi seperti makanan dan air, untuk memulihkan aliran darah dan aktivitas saraf di otak yang melambat saat tidur. Jadi jika kamu tidur lagi, ada kemungkinan akan mengalami sakit kepala akibat kekurangan nutrisi ringan dan dehidrasi.
2. Gangguan Tidur
Kamu juga mungkin menderita gangguan tidur seperti insomnia atau sleep apnea. Insomnia berarti meski kamu merasa sedang tidur, otak tidak memasuki fase tidur REM sepenuhnya. Padahal siklus ini merupakan bagian penting dalam tidur, untuk tidur nyenyak.
Sementara sleep apnea adalah gangguan pernapasan, yang mengurangi jumlah oksigen yang masuk ke otak saat tidur. Hal ini dapat mengganggu fase tidur REM dan menyempitkan aliran darah ke otak, sehingga sakit kepala terasa saat bangun.
3. Kecemasan
Ada hubungan kuat antara kecemasan dan gangguan sakit kepala seperti migrain. Penelitian telah menunjukkan bahwa kecemasan dan gangguan suasana hati lainnya seperti depresi, merupakan penyebab utama insomnia dan tidur berlebihan.
Nah itulah tadi penjelasan tentang penyebab tidur terlalu lama bisa membuat pusing dan lemas. Semoga membantu, ya!
(aau/fds)
-

6 Pasar Hewan di Tulungagung Ditutup Imbas Virus PMK
Foto Health
ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko – detikHealth
Rabu, 08 Jan 2025 20:04 WIB
Tulungagung – Pemkab Tulungagung menutup enam pasar hewan yang ada di wilayah tersebut. Penutupan ini sebagai upaya mitigasi penyebaran virus penyakit mulut dan kuku (PMK).
-

Video: Incar Medical Tourism, IHC Bangun RS Internasional di Bali
Video: Incar Medical Tourism, IHC Bangun RS Internasional di Bali
-

Terungkap Lewat Studi, Orang Kesepian Lebih Rentan Kena Penyakit Jantung-Diabetes
Jakarta –
Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahaya kesepian jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga diabetes. Data yang ditemukan dalam penelitian tersebut mengungkapkan adanya hubungan antara kesepian yang berkelanjutan dengan beberapa kadar protein tertentu yang lebih tinggi dan terkait dengan penyakit dan kematian.
Secara umum protein adalah kandungan nutrisi yang penting untuk tubuh, namun ahli berpendapat ada beberapa jenis protein tertentu yang kadarnya harus dipantau. Beberapa di antaranya seperti GFRA1, ADM, FABP4, TNFRSF10A, and ASGR1
Menggunakan data UK Biobank yang dikumpulkan dari 42 ribu peserta, para peneliti mengukur kadar protein setiap individu, penanda penting dari banyak kondisi kesehatan, untuk memahami korelasi antara isolasi sosial dan kesepian dengan kesehatan mereka secara keseluruhan.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkontribusi seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, serta tingkat pendidikan, para peneliti menemukan 175 protein yang terkait dengan isolasi sosial dan 26 protein yang terkait dengan kasus kesepian.
Kadar yang lebih tinggi dari sebagian besar protein ini ditemukan pada peserta yang melaporkan isolasi sosial dengan 9,3 persen atau kesepian dengan 6,4 persen. Ini dikaitkan dengan peradangan, respons antivirus, dan sistem kekebalan tubuh.
“Kami menemukan sekitar 90 persen protein ini terkait dengan risiko kematian,” kata Dr Chun Shen dari Universitas Fudan China dikutip dari Daily Telegraph, Rabu (8/1/2024).
Studi ini juga melacak kesehatan seluruh peserta dalam kurun waktu 14 tahun. Mereka menemukan bahwa separuh dari jenis protein tersebut berkaitan dengan berbagai masalah.
Temuan ini memperlihatkan pentingnya menjaga hubungan sosial yang baik dan mengurangi kesepian untuk meningkatkan tingkat kesehatan secara keseluruhan.
“Yang perlu diperhatikan, lebih dari setengah protein ini secara prospektif dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, stroke, dan mortalitas selama tindak lanjut 14 tahun,” tulis peneliti.
“Saya pikir pesannya adalah bahwa kita harus mulai membuat orang menyadari bahwa itu (hubungan sosial) adalah bagian dari masalah kesehatan, baik untuk kesehatan mental dan kesejahteraan mereka tetapi juga untuk kesehatan fisik mereka, bahwa mereka harus tetap terhubung dengan orang lain,” jelas Profesor Barbara Sahakian dari Universitas Cambridge.
(avk/suc)
-

Pelawak Qomar Meninggal di Usia 64, Punya Riwayat Kanker Usus Besar
Jakarta –
Pelawak legendaris Indonesia Qomar meninggal dunia pada Rabu (8/1/2025) di usia 64 tahun. Hal tersebut dikonfirmasi oleh salah satu sahabatnya yang sesama pelawak, Jarwo Kwat.
Ia dikabarkan sempat mengidap kanker usus besar dan menjalani kemoterapi. Sebelum meninggal dunia, Qomar dirawat di RSUD Tangerang, Banten sejak 23 Desember 2024.
“Iya betul (Qomar meninggal), sore ini,” kata Jarwo dikutip dari detikPop.
Pada tahun 2021, Qomar sempat dirawat di rumah sakit namun dinyatakan sudah lebih baik dan bisa pulang ke rumah. Sampai 6 bulan yang lalu, Qomar kembali harus dirawat dan menjalani kemoterapi akibat masalah kesehatan pada ususnya.
Sang istri yang bernama Siti Maryam menuturkan suaminya itu sempat mengalami mual dan muntah, hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit.
“Jadi abah tuh kemarin tanggal 23 kemo kedelapan. Kata dokter livernya kena. Saat ini belum tahu, nunggu kabar (tindakan),” katanya saat itu.
Dikutip dari Mayo Clinic, kanker usus besar biasanya menyerang orang dewasa yang lebih tua, meskipun dapat terjadi pada usia berapa pun. Kanker usus besar terkadang disebut kanker kolorektal. Istilah ini menggabungkan kanker usus besar dan kanker rektum.
Banyak pengidap kanker usus besar tidak menunjukkan gejala pada awalnya. Gejala yang muncul kemungkinan bergantung pada ukuran kanker dan letaknya di usus besar. Gejala kanker usus besar dapat meliputi:
Perubahan kebiasaan buang air besar, seperti diare atau sembelit yang lebih sering.Pendarahan rektal atau darah dalam tinja.Ketidaknyamanan yang berkelanjutan di area perut, seperti kram, gas, atau nyeri.Perasaan bahwa usus tidak kosong sepenuhnya saat buang air besar.Kelemahan atau kelelahan.Penurunan berat badan tanpa alasan jelas.
(avk/kna)
-

Glenn Alinskie Kena Influenza A Sepulang dari China, Sempat Khawatir Idap HMPV
Jakarta –
Selebriti Chelsea Olivia mengungkap suaminya, Glenn Alinskie, dan putrinya, Nastusha, positif influenza tipe A. Keduanya terinfeksi penyakit tersebut sepulang liburan keluarga dari China.
“Pemandanganku. Tadi pas lagi anterin Glenn ke rumah sakit, Natusha di rumah demam 39 dan muntah dua kali,” ujar Chelsea, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Rabu (8/1/2025).
Ibu anak dua itu juga mengatakan sempat khawatir suami dan anaknya terjangkit hMPV, penyakit yang mewabah di China. Dokter meminta agar Glenn dan Nastusha menjalani tes swab lengkap karena mereka baru saja kembali dari China.
Chelsea sempat kaget saat dokter berkata jika suami dan anaknya positif hMPV, keduanya harus dirujuk ke rumah sakit pemerintah.
“Langsung pikiran aku kacau ke mana-mana.. Takut harus isolasi (seperti covid dulu) Nastusha nanti sendirian dll gimana..” tulisnya.
Setelah menjalani serangkaian tes dan pemeriksaan swab, Glenn dan putrinya dinyatakan positif infulenza A atau H1N1.
“Hasilnya Glenn & Nastusha positive Influenza A & HINI.. LANGSUNG LEGA. Aku tau virus ini sangat menular dan menyakitkan tapi at least mereka berdua masi bisa dirawat di rs ini dan aku bisa nemenin mereka full (tidak diisolasi),” sebut dia.
Dikutip dari laman Healthline, influenza tipe A adalah infeksi pernapasan yang menyebabkan penyakit flu. H1N1 adalah salah satu subtipe dari influenza tipe A.
Penyakit ini menyebar dari orang ke orang. Saat pasien yang terinfeksi batuk atau bersin, dropletnya akan beterbangan di udara.
Penularannya bisa terjadi ketika menghirup droplet tersebut. Seseorang juga bisa tertular infeksi ketika menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata.
Gejala umum infeksi tipe A bisa mirip dengan kondisi lain. Sementara dalam beberapa kasus yang lebih ringan flu dapat sembuh dengan sendirinya tanpa gejala yang signifikan, kasus influenza tipe A yang parah dapat mengancam jiwa.
Beberapa gejala influenza tipe A meliputi:
BatukPilek atau hidung tersumbatBersinSakit tenggorokanDemamSakit kepalaKelelahanMenggigilSakit badan
(kna/kna)
-

Cara Minum Cuka Apel untuk Kesehatan dan Risiko Efek Sampingnya
Jakarta –
Cuka apel telah dikenal sebagai salah satu bahan alami yang menawarkan berbagai manfaat kesehatan.
Mulai dari membantu menurunkan berat badan hingga membantu gangguan pencernaan.Namun, untuk mendapatkan manfaat dari cuka apel, kita perlu mengetahui cara mengkonsumsinya. Untuk itu, simak penjelasannya di bawah ini.
Cara Terbaik untuk Minum Cuka Apel
Apple cider vinegar (ACV) atau cuka sari apel adalah sejenis cuka yang berasal dari sari apel yang difermentasi. Manfaat kesehatan yang diklaim dari jenis cuka ini adalah kandungan asam asetatnya.
Dikutip laman he University of Texas MD Anderson Cancer Center, menurut Ahli gizi kebugaran, Lindsey Wohlford, cuka sari apel dianggap aman jika dikonsumsi dalam jumlah kecil. Berikut adalah beberapa cara untuk minum cuka apel:
1. Encerkan Cuka Apel dalam Minuman
Mengutip laman, jika memilih untuk minum cuka apel, pastikan cuka diencerkan dengan cairan lain. Wohlford, menyarankan cuka apel tidak dicampur lebih dari satu sendok makan cuka sari apel ke dalam 8 ons air, teh, atau cairan lain. Jadi, jangan minum lebih dari satu porsi sehari.
2. Gunakan Dalam Memasak
Cuka apel juga bisa dikonsumsi sebagai tambahan makanan, cuka apel bisa digunakan dalam:
Saus salad.Saus.Bumbu perendam.Manfaat Cuka Apel
Dilansir laman WebMD, berikut merupakan manfaat minum cuka apel:
Membantu menurunkan berat badan.Membantu menurunkan gula darah.Membantu menurunkan kolesterol.
Di sisi lain, masyarakat juga minum cuka sari apel untuk tujuan yang belum banyak diteliti dan belum terbukti efektif. Beberapa kegunaannya cuka sari apel di antaranya:
Meringankan refluks asam.Membantu meningkatkan kesehatan rambut.Membantu menurunkan tekanan darah.Membunuh kuman.Meredakan eksim.
Penelitian yang mendukung manfaat kesehatan dari cuka apel masih dalam skala kecil. Sebagian besar juga hasilnya belum meyakinkan.
Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih banyak dan lebih besar lagi mengenai manfaatnya.
Dosis dan Waktu Terbaik Minum Cuka Apel
Manfaat kesehatan yang diklaim dari ACV dan jenis cuka lainnya disebabkan oleh bahan utamanya: asam asetat. Menurut tinjauan tahun 2016 oleh Anuar Samad, dkk, yang dimuat Sciencedirect, menemukan bahwa minum 15 ml atau 1 sendok makan asam asetat setiap hari, biasanya sudah cukup untuk melihat potensi manfaat kesehatannya bagi seseorang.
Namun, dosis minum cuka apel yang tepat bergantung pada kondisi yang ingin diobati seseorang. Oleh sebab itu, konsultasikanlah dengan dokter sebelum menambahkan cuka aprl ekstra ke dalam makanan mereka atau mengonsumsi dosis yang lebih besar untuk keperluan medis.
Pasalnya, ACV mungkin tidak cocok untuk orang dengan kondisi tertentu. Karena berpotensi berinteraksi dengan beberapa obat.
Efek Samping Minum Cuka Apel
Terdapat kekhawatiran mengenai keamanan dan potensi efek samping dari ACV. Mengutip laman Medical News Today, berikut adalah kemungkinan efek samping dari konsumsi cuka apel:
Iritasi kulit.Erosi email gigi (pengikisan jaringan keras yang menutupi gigi).Interaksi obat, seperti diuretik dan obat diabetes.
Terdapat kekhawatiran mengenai keamanan dan potensi efek samping dari ACV. Risikonya sebagian besar berkisar pada iritasi kulit dan erosi email gigi.
(khq/khq)

